DISCLAIMER: I DO NOT OWN THE HUNGER GAMES.
Menjadi penguntit bukan sesuatu yang Gale Hawthorne pernah prediksi sebelumnya. Apalagi kalau menguntit si gadis Undersee. Namun, sebagian dirinya seolah bertindak di luar perintah otaknya. Kala itu Gale mengikuti intuisi. Dan sekarang ia menyesalinya, karena ia tak bisa melupakan kejadian yang dilihatnya. Seperti film yang terus berputar tiada henti. Ia masih mengingat malam terakhir di Distrik 4 sebelum ia dan Madge kembali pulang. Gadis itu menyelinap keluar dari hotel, mengaku ingin jalan-jalan sebentar. Gale bisa saja bersikap masa bodoh, namun Madge terlihat gusar malam itu. Secara aneh, Gale mengikuti Madge untuk alasan jaga-jaga. Ketika Madge menghentikan langkahnya di depan sebuah bangunan, Gale akhirnya sadar bahwa tujuan gadis itu adalah rumah sakit Distrik 4. Mengernyit, Gale tidak tahu apakah Madge sedang sakit atau ia ingin menjenguk seseorang. Rasa penasaran mendorong Gale untuk terus membuntuti Madge. Dan menghabiskan banyak waktu di hutan ternyata membantunya tidak ketahuan.
Ia mengikuti gadis itu masuk dan menyusuri lorong rumah sakit. Bau anyir menyeruak memenuhi penciumannya. Madge berhenti di depan sebuah kamar, tangannya memegang kenop pintu namun tidak membukanya—seolah ia ragu akan sesuatu.
Pada akhirnya Madge masuk juga ke kamar itu. Cukup lama Gale menunggu di luar; bersembunyi. Tidak tahu juga apa yang sebaiknya ia lakukan. Ia baru akan pergi ketika Madge keluar bersama seorang pria bertubuh jangkung dan kurus, Gale langsung tahu pria itu adalah ayah Madge.
Keduanya bercakap-cakap sebentar sedangkan Gale mencoba menangkap apa yang mereka bicarakan, dan itu tidak berhasil. Ayah Madge kembali masuk ke kamar meninggalkan si gadis sendirian mematung. Gale ingin mendekat, namun ia sadar itu bukanlah tindakan yang tepat. Dari kejauhan ia melihat Madge yang perlahan duduk di bangku panjang yang ada di depan kamar. Ia tahu gadis itu pasti menangis, dari caranya menutupi wajah dengan telapak tangannya. Ia tahu Madge mungkin berharap tidak ada yang menemukannya dengan kondisi seperti ini. Ia tahu Madge menyembunyikan sesuatu dan dia menangis karena dia tak bisa menyimpan sesuatu itu sendiri. Dan, ia juga tahu Madge tidak punya siapa-siapa untuk berbagi, dan bahwa Madge menyembunyikan lukanya, untuk dirinya.
Semua orang punya luka—Gale akhirnya mengakui itu. Ia mulai berpikir bahwa selama ini hanya dirinya seorang yang menjadi anjing tersesat dan terluka dan yang perlu dimengerti orang lain.
Betapa egois. Ketika bahkan ada segelintir orang yang bersikap tak ambil pusing dan dengan rapat menutupi luka mereka—membiarkannya kering sendiri.
Kemudian pandangannya jatuh pada Madge Undersee. Gadis itu sedang bersiap-siap di belakang piano, Gale bisa melihat kegugupan di matanya. Madge akan mencoba open-play malam ini, ia sudah latihan seminggu lebih.
Gale mendesah, menyilangkan kakinya di bawah meja dan menaruh kedua tangannya di lututnya, membenamkan dirinya pada kelab jazz tempatnya dan Madge menghabiskan makan malam. Selanjutnya, ia mencoba mereka ulang kejadian beberapa tahun ke belakang: ledakan di tambang, Hunger Games, Catnip, patah hati, pemberontakan, lalu kesendirian tak berujung. Beberapa luka yang ia miliki, dan yang sebagian besar belum sembuh. Kata orang waktu yang akan menyembuhkannya, baiklah, dan apabila sudah sembuh akankah luka itu hilang? Gale bukan berpikir tentang luka fisik—jika tentang itu maka obat-obatan dari Capitol pasti bisa melakukannya—tapi luka batin.
Maka Gale mendesah lagi, toh memang hanya itu yang bisa ia lakukan.
Gale kembali fokus pada Madge yang sekarang mengeluarkan partitur-partitur musiknya. Pikir Gale, gadis itu akan memainkan musik klasik, tapi ketika jemari Madge menekan tuts, Gale bisa mendengar nada familiar, ia tahu lagu ini, sebuah lagu karya solois jazz di peradaban sebelum sekarang. Madge kerap memasang lagu ini di kantor.
Gale terkesiap saat si gadis mendekatkan mulutnya ke mikrofon dan mulai menyanyikan lirik lagu itu. Gale, yang memang buta nada, tidak tahu apakah suara Madge sumbang atau tepat. Tapi, ia tahu Madge punya suara yang bagus.
Para pengunjung kafe tampak menikmati penampilan Madge dan beberapa terbawa suasana. Saat Madge selesai, tepuk tanagan riuh dan ia tersenyum malu-malu, menunduk memberi hormat, lalu menghampiri Gale, mengambil kursi di depannya.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Lumayan," jawab Gale
Kening si gadis berkerut, "Lumayan?" dia mengulang.
"Iya, lumayan."
Madge mengangkat bahu, "Oke."
"Tunggu—" Gale mencondongkan badannya lalu memasang seringaian mengejeknya. "Kau tidak berharap aku akan bertepuk tangan dan memujimu, 'kan?"
Madge terkejut, mencoba menyangkal kalau sebagian dirinya memang ingin membuat Gale terkesan, "Tidak."
"Benarkah?" tanya Gale.
"Terserahlah."
Gale terkekeh, "Undersee, kalau aku boleh jujur, suara Catnip jauh lebih bagus dibanding suaramu."
"Catnip?" si gadis mengkerutkan dahinya.
Merubah posisi duduknya, Gale tetiba gugup dan kelihatan tidak nyaman, "Uhm, maksudku Katniss."
"Oh," balas Madge. "Kau memanggilnya Catnip?"
Gale menggaruk tengkuknya, "Uhm, yeah, ada masalah dengan itu?"
"Tidak. Tiba-tiba aku kepikiran Katniss."
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Gale ragu-ragu.
Mendesah gadis di depannya menjawab, "Sudah berapa tahun aku tidak menemuinya? Dan bagaimana denganmu? Kupikir aku hanya rindu padanya."
Hati Gale mencelos dan untuk pertama kalinya ia membiarkan pikirannya mengembara pada sosok Katniss. Gadis yang diingatannya masih berusia tujuhbelas tahun. Karena ia belum pernah mengunjungi Distrik 12 setelah pemberontakan. Biasanya Gale akan mengutuk dirinya ketika ia mengingat Katniss. Biasanya ia akan pergi mencari pengalih perhatian untuk mencoba melupakannya. Tapi, sekarang ia bingung mengapa Madge bisa dengan mudah membuatnya mengingat Katniss.
"Mungkin enam atau tujuh tahun," kata Gale dengan suara serak. "Ak-aku belum pernah berjumpa dengannya lagi."
"Kau punya jadwal kunjungan ke sana pertengahan bulan ini, kau tahu?"
"Ya," ia mengangguk lemah, mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud Madge dengan 'ke sana'.
Melayangkan pandangannya ia melihat Madge mendesah panjang. Untuk satu atau dua alasan, ia juga ikut mendesah, seakan dengan begitu seluruh rasa sesak di hatinya akan menghilang.
"Undersee,"
"Hmm,"
"Ak-aku," ia mulai dengan tergagap. "Sepertinya aku tidak akan pergi ke Distrik 12."
Tatapan mereka bersibobrok. Biru bertemu abu-abu. "Maksudmu?" tanya Madge memberinya raut keheranan, satu alisnya terangkat dan ia mencondongkan badannya, menuntut penjelasan.
Mendesah untuk yang kesekian kalinya, Gale hanya mengangkat bahu lalu menunduk, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Madge. Tampaknya Madge Undersee tidak puas hanya dengan angkatan bahu. Jika hal itu bisa menjawab masalah maka ia tak akan repot-repot bertanya. Menegakkan bahunya, ia bertanya sekali lagi, "Beritahu aku, kenapa kau 'sepertinya' tidak bisa pergi?"
Gale mendengarnya lebih seperti perintah ketimbang pertanyaan. Kini, ia termenung memutar otak. Bagaimana ia harus menjelaskan padanya bahwa kembali ke duabelas sama saja dengan menonton tayangan ulang Hunger Games. Dan bagaimana pula gadis itu akan mengerti.
"Jangan buat aku berspekulasi, Gale," kata Madge menyela.
Oh, Tuhan, pikir Gale, mengapa gadis ini sangat menuntut dan tidak sabaran. Bukannya ia tidak mau menjawab atau apa, tapi Gale—kalau boleh jujur—amat sangat kebingungan harus jawab apa. Ia menyesal memberitahu Madge bahwa ia tidak akan ikut ke Distrik 12.
"Kau tahu tidak? Ada beberapa hal yang lebih baik tidak usah dikatakan, yang lebih baik tidak perlu dipertanyakan," kata Gale akhirnya, memilih langkah diplomatis untuk menyudahi konversasi secepatnya. Ia tidak ingin ditanya-tanya, dan ia tahu pasti figur Madge Undersee di depannya tidak akan mundur sampai ia mendapat apa yang dia mau.
"Hey," pekik Madge, melemparkan punggungnya bersandar ke sandaran kursi dengan pasrah. "Aku bahkan tidak punya petunjuk hal apa yang kau bicarakan. Jika yang kau maksud adalah perihal kau tidak mau ikut ke duabelas, maka itu hal yang harus dipertanyakan."
Gale memperhatikan saat Madge terlihat jengkel sampai ia tidak menghela napas dan menjeda kalimatnya. Itu malah membuat Gale makin terintimidasi dan frusrasi. Ia bukanlah orang yang gampang terbuka menceritakan permasalahan pribadinya pada orang lain. Ya, ini persoalan pribadi, persoalan hati, dan batin. Mungkin akan jauh lebih mudah kalau alasannya adalah masalah pekerjaan, semisal ia harus pergi ke tempat yang lain di waktu kunjungan ke duabelas. Tentu itu akan terdengar rasional dan masuk akal. Namun, sirkumstansinya tidak semudah itu. Apa yang akan dipikirkan Madge Undersee saat ia bilang bahwa sebenarnya ia takut kembali ke duabelas?
Bahkan memikirkan itu saja membuatnya mengutuk dirinya sendiri.
Ia mendesah berat lagi. Malam ini terasa begitu panjang.
"Hey, Gale!" Madge menjentikkan jari lentiknya di depan wajah Gale. "Tolong jawab, aku."
Dan ia mendongak juga, dengan malas-malasan. Ia lalu terkejut mendapati Madge yang melihatnya intens, dahinya berkerut, dan terlihat khawatir.
Ia benci mengakui ini, tapi sesuatu di dadanya bergemuruh. Ada urgensi untuk menceritakan semuanya pada Madge. Bukan seperti dirinya yang egois, sekarang ia merasa ingin menghapus raut khawatir dari wajah Madge, meski ia harus membongkar rahasianya sendiri.
Hell. Persetan dengan itu.
"Duabelas—" ia memulai. Suaranya parau dan ia terdengar rapuh. "—terlalu menyimpan banyak kenangan. Kau tahu, Undersee, aku yakin kau tahu apa saja yang telah terjadi di sana. Sebagian baik dan sebagian buruk. Aku... kupikir aku tidak akan... well, ini rumit. Namun, ak-aku—"
"Kau takut," Madge menyelesaikan kalimatnya tepat ketika ia merasa sesuatu tercekat di tenggorokannya.
Memainkan gelasnya, Gale melayangkan pandangannya ke berbagai arah. Ke mana saja asal jangan memandang dua iris biru yang seolah bisa mengikis cangkang pertahanannya. Sungguh, ia tidak memprediksi Madge akan mampu membacanya seperti sebuah buku terbuka.
"Kau takut kembali ke sana, bukan?" tanya Madge.
Ia bergeming.
"Hhhh," Madge Undersee mendengus. Ada nada sinis di situ. "Masih ingat saat kau menanyaiku ini itu, kenapa aku tidak bisa kembali ke Distrik 4, dan memaksaku untuk kembali ke sana? Ini seperti deja vu."
Ia masih terus bergeming tanpa repot-repot melihat Madge. Ia tahu tingkahnya tidak sopan, tapi lebih baik seperti ini daripada harus merasakan dadanya bergemuruh lagi. Berpikir keras, Gale kurang mengerti bagian mana dari situasi ini yang berdejavu dengan situasi yang mana.
"Kau menuduhku segala hal, membuat skenariomu sendiri, dan bersikap seolah permasalahanku sesepele merebus air," Madge menyambung lagi. "Dan kau bahkan membuatku menangis."
Satu alisnya naik dan Gale mengernyit, tiba-tiba sadar apa yang sedang dibicarakan oleh Madge. Jika ia tidak salah maka gadis itu merujuk pada malam sebelum mereka berangkat ke Distrik 2. Malam ketika Gale menemukan Madge pada kondisi rapuhnya. "Aku tidak membuatmu menangis. Kalau ingatanku tidak melenceng, aku yakin kau menangis sendiri."
"Well, bukan itu masalahnya. Tapi, apa kau sadar sebenarnya kita punya persoalan yang sama? Aku tidak bisa kembali ke Distrik 4, dan kau tidak bisa kembali ke Distrik 12."
"Apa poinmu, Undersee?" tanya Gale mulai jengah. Ia sadar sebetulnya apa yang dikatakan Madge, ia hanya tidak mau mengakuinya.
"Tidak ada," jawab Madge menggeleng. "Aku hanya ingin kau mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu."
"Oh, ya, aku ingat," ujar Gale, merasakan amarahnya mulai menjalar pelan-pelan. "Dan apa kau ingin mengejekku? Anak Walikota, kau tidak tahu apa-apa."
"Aku tahu, Gale, aku mengerti," Madge berkata dengan perlahan, mengunci tatapannya pada mata seorang Gale Hawthorne. "Karena aku tidak ingin kembali ke sana juga, jika aku bisa. Namun, kurasa aku lelah berlari ketakutan. Percayalah padaku, Gale, mungkin dari semua orang hanya aku yang mengerti."
"Dan apa gunanya kalau kau mengerti? Kau tidak bisa merubah keputusanku," Gale mendengus.
"Siapa yang mau merubah keputusanmu?" tanya Madge dengan dahi berkerut. "Kau adalah orang paling bebal yang pernah kukenal, jadi tidak ada gunanya mencoba mendebatmu."
Memutar bola matanya kesal, Gale berkata, "Bagus! Sekarang aku melarangmu untuk bertanya lagi."
"Bahkan satu pertanyaan tidak boleh?"
"Undersee!" Gale memekik.
"Oke, oke," Madge melempar tangannya ke atas. "Itu tadi termasuk pertanyaan, ya?"
Gale melotot. Madge Undersee terkekeh pelan. "Kau menyebalkan!"
Menyilangkan lengannya di dada, ia memperhatikan senyum kemenangan yang tersirat di wajah Madge. Gadis itu tersenyum dengan manis sambil memainkan ujung rambut pirangnya. Seketika Gale Hawthorne merasakan gemuruh itu lagi. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan pada beberapa orang di atas panggung.
"Jadi," kata Madge. "Aku baru tahu kalau Katniss bisa bernyanyi."
"Tidak pernah nonton Hunger Games, Undersee?"
"Tidak, aku tidak menonton acara itu," Madge menyahut.
"Luar biasa!" pekik Gale sarkastik kemudian menumpukan dagu di tangannya. "Ada apa dengan televisimu? Rusak?"
"Aku memang tidak tertarik dengan Hunger Games," Madge Undersee menjawab simpel.
Berdecak tak percaya, Gale akhirnya memberanikan diri memandang Madge. "Sekali pun tidak pernah?"
Madge menggeleng. "Aku tidak melihat inti dari acara itu, Gale, percaya atau tidak, tapi aku dan ayahku sudah tak menonton Hunger Games untuk bertahun-tahun."
"Tapi bagaimana dengan Katniss? Kalian teman kan? Kau tidak mau tahu bagaimana kondisinya selama di arena?"
"Kami berteman, meski tidak sedekat pertemananmu dengannya," sahut Madge. "Tapi bahkan tanpa menontonnya, aku bisa tahu bagaimana keadaan Katniss. Kau tahu, semua orang membicarakannya."
Gale mengangguk, walaupun ia belum bisa sepenuhnya mengerti Madge. "Kenapa?" tanyanya. "Kenapa ayahmu, maksudku, kenapa kalian tidak mau menontonnya? Maksudku, aku benar-benar tidak mengerti."
"Entahlah," Madge mengangkat bahunya lalu tersenyum getir. Matanya nampak kosong dan ia terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan. "Maksudku, kami sekeluarga—termasuk ibuku—tidak pernah membicarakan masalah Hunger Games. Ibuku, dia sakit-sakitan, sedangkan ayah terus-menerus mengurung dirinya di ruang kerja."
"Lalu?" tanya Gale.
"Lalu?" Madge mengulang. "Lalu aku tidak tertarik pada Hunger Games. Titik. Menontonnya sama saja seperti menyaksikan orang Capitol tertawa dan bersenang-senang di atas penderitaan seluruh distrik. Aku benci hal itu."
Terperanjat dengan jawaban Madge Undersee, Gale tidak berpikir sejauh itu. Selama ini ia selalu berpikir Madge adalah pendukung Capitol. Karena Madge hidup dengan sokongan Capitol, tentu saja itu semua karena posisi ayahnya sebagai wali kota. Tidak seperti Katniss, Madge Undersee bisa mendapatkan semua yang dia mau. "Tidakkah kau terlalu munafik?"
Gale bisa melihat tangan Madge terkepal di atas meja, menunjukkan buku-buku jarinya yang memutih. "Apa maksudmu, Gale?"
"Bayangkan begini," ia memulai. "Capitol menyediakan fasilitas hidup untuk keluargamu. Rumahmu mewah, kurasa kau punya penghangat ruangan di situ, dan Capitol membuatmu tetap hangat di musim dingin. Apakah tanganmu pernah kotor karena harus membersihkan rumah besarmu itu? Hmm? Kupikir tidak. Kalian menyewa orang untuk melakukan itu. Anak Wali Kota, kau sadar seberapa besar jasa Capitol dalam hidupmu? Dan, menambahkan satu poin lagi," Gale mencondongkan badannya. "Ibumu sakit-sakitan? Taruhan Capitol yang membiayai pengobatannya."
"Hentikan, Hawthorne!" Madge berteriak, hampir menggebrak meja. Gale tahu pasti ia marah atau setidaknya tersinggung. Tapi, Gale merasa dirinya hanya menyampaikan kebenaran. Dan tidak ada yang salah dengan itu.
"Kau harusnya berterimakasih pada 'mereka'" kata Gale dingin.
"Hentikan! Hentikan prasangkamu. Keluargaku—aku... kami tidak seperti yang kau pikirkan."
"Berikan aku penjelasan," kata Gale. "Yah, kalau kau memang punya."
Madge menggeleng keras. "Bukan aku yang meminta mereka memberikan semua hal itu. Aku tidak pernah berharap terlahir sebagai putri wali kota. Kau, prasangkamu, dan amarahmu—kau salah sasaran, Gale Hawthorne."
Madge mengatakan itu sambil tertunduk, seperti tak sanggup menatap Gale. Dan suaranya terlalu pelan, sehingga kedengaran seperti berbisik. Namun, Gale mendengarnya dengan jelas, kata per kata. Ia terdiam, menyerap kalimat Madge.
"Kami membenci Capitol, Hawthorne. Kami membencinya karena telah menyeret saudari ibuku ke arena Hunger Games, memaksa ibuku menyaksikan ajal orang terdekatnya sendiri."
"Mak-maksudmu dia—"
"Dia peserta."
Gale terdiam, "Dan di—"
"Dia mati, Gale. Tahun itu Haymitch pemenangnya."
"Apa yang terjadi dengan ibumu? Maksudku, dia sakit karena itu?"
Menghela napas berat Madge menjawab, "Kau benar. Ibuku depresi. Dia hampir gila tanpa bantuan morphling tiap harinya," ia tertawa hambar. "Dan kau—kau seratus persen benar, Gale. Kami tidak akan mampu membeli morphling jika bukan karena Capitol."
Kesadaran tentang latar belakang Madge Undersee yang sesungguhnya menghantam Gale dengan keras. Ia tidak ingin mengasihaninya, namun entah bagaimana ia merasa sedih. Ia menyesal telah berprasangka pada gadis itu. Dan karena ia akhirnya tahu siapa yang Madge kunjungi di rumah sakit Distrik 4.
Plus, ia mulai percaya perkataan Katniss dulu, bahwa Madgelah yang memberinya morphling sesaat setelah ia dicambuk si Thread.
Itu pasti Nyonya Undersee, pikir Gale. Pasti ia mengambil obat-obatan ibunya untuk diberikan pada Gale. Dan itu pasti Nyonya Undersee, alasan Madge tidak mau kembali ke Distrik 4.
Pikiran Gale berkecamuk hebat sekarang. Beberapa gambar berseliweran bebas di otaknya, tersusun menjadi mozaik yang belum sempurna.
Ia telah salah.
Ia tidak seratus persen benar.
Madge punya alasan kuat untuk membenci Capitol. Sama seperti dirinya yang membenci tirani itu karena telah merenggut Katnissnya. Lagipula, siapa yang sanggup untuk tidak membenci Capitol dan sistem mereka yang lebih dari bengis? Harusnya Gale sadar akan hal itu di tempat pertama dan bukannya melimpahkan amarahnya pada seseorang yang tidak bersalah.
Apa yang dikatakan Madge benar. Bukan permintaannya terlahir di keluarganya. Tidak juga ia meminta seluruh pemberian Capitol. Bahkan ia hampir tidak pernah menunjukkan gaun-gaun mewahnya kecuali untuk hari tertentu. Gale mengingat hal itu dan merasa bersalah setelahnya.
Mungkin Madge tidak seperti apa yang Gale pikirkan selama ini. Karena gadis itu selalu hidup di bawah bayang-bayang Katniss di pandangannya. Mungkin Gale harus mencoba membuka matanya lebih lebar kali ini, menghapus awan prasangka dari penglihatannya.
Ia mendongak, "Undersee," panggilnya pada gadis itu. Meski ia tak yakin dengan apa yang seharusnya ia lakukan, namun Gale merasa ia harus melakukan hal ini. Setidaknya sekali. "Madge," panggilnya lagi, dengan lebih lembut, mencoba menarik perhatian Madge untuk menatap matanya.
Gale tak berharap banyak—memang. Ia tahu mungkin Madge bahkan tidak mau melihat Gale lagi. Tapi di luar ekspektasinya, Madge menaikkan pandangannya, bersibobrok dengan mata Gale.
"Ada apa?" tanyanya pelan. "Jangan tanya apa-apa lagi, Gale. Penjelasanku sudah habis."
Meneguhkan niatnya, Gale menahan napasnya. "Maaf."
Gale tidak bisa membaca reaksi Madge selain ekspresi kebingungan di wajahnya. Ia tidak peduli. Ia melepaskan udara yang ditahannya, lalu melanjutkan, "Maaf. Setidaknya aku harus mengatakan itu, Madge. Maaf... karena—"
Lidahnya kelu seketika, seperti terpelintir dan terikat. Ia tak mampu meneruskan kalimatnya. Ia membiarkan kata-katanya menggantung.
Madge mematung, ekspresinya tidak bisa dibaca sekarang, seakan bertahan, meminta Gale menelan habis keegoisannya.
Kemudian rasa takut menjalari badannya. Gale takut ia sudah terlalu terlambat untuk dimaafkan. Mengunci matanya pada mata biru Madge yang menyiratkan sejuta arti, Gale berharap ia bisa melewati malam ini tanpa dihantui bayang-bayang mata biru itu dan bagaimana cara mereka tampak berkilau saat Madge tersenyum dan mengangkat rasa takut dari badannya. Ya. Madge Undersee tersenyum. Meski hanya sebatas senyum simpul. Tapi, akhirnya Gale bisa bernapas bebas sekarang. Di saat-saat seperti ini, mereka mengandalkan keheningan untuk berbicara.
Gale mengerti, bahwa Madge menyuarakan pengampunannya melalui keheningan.
Mereka—si bos dan sekretarisnya—mulai bisa jujur kepada satu sama lain. Aneh, memang, namun, keadaan menjadi jauh lebih baik. Mereka tidak tahu dan yang jelas tidak mau tahu bagaimana mereka akan membawa diri di kemudian hari. Dan bagaimana mereka akan memanggil status mereka sekarang.
Gale memiliki pemikiran ini semenjak hari ia meminta maaf pada Madge. Mungkin mereka bisa menjadi teman? Sekadar teman tentu tidak akan menyakiti mereka, bukan? Gale sadar berteman dengan Madge tidak akan serupa seperti berteman dengan Katniss. Ia tak bisa mengharapkan Madge untuk membicarakan perburuan dan kelinci mana yang bisa ditangkap.
Gale hanya berpikir bahwa tidak ada salahnya. Toh, karena pekerjaan, ia harus terjebak 24/7 bersama Madge. Bahkan sekarang ia mengizinkan Madge menginjak ruang kerjanya untuk pertama kali setelah berbulan-bulan Madge bekerja.
"Wali Kota Distrik 4 menghubungiku kemarin," kata Madge sambil melihat lembaran kertas di tangannya dengan pena hitam terselip antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Oh, ya? Dia bilang apa?" tanya Gale, sibuk dengan lembaran kertasnya sendiri.
"Dia setuju dengan kontrak yang kita tawarkan."
Senyum Gale mengembang, ia menoleh pada Madge meletakkan kertas-kertasnya di atas meja. "Itu bagus. Sekarang kita tidak punya hambatan lagi."
"Aku akan mengirim Tongs ke sana secepatnya," ujar Madge, menuliskan beberapa hal di buku agendanya. Setelah itu, ia kembali fokus pada pekerjaan awalnya.
Gale mengernyit kemudian bersandar di sofa, kakinya menyilang. "Sejak kapan kau yang memutuskan semuanya?"
Madge menyeringai, "Lalu, siapa yang harus kita suruh ke sana?"
Ia ragu-ragu, lalu menyenggol Madge di lengannya. "Aku."
Kali ini Madge memutar badannya menyamping hingga ia sepenuhnya menghadap Gale. Ia menatap laki-laki itu dengan alis yang terangkat, "Kau harusnya ke duabelas, Gale. Jadwalmu bentrok."
Gale menggeram, "Atur ulang! Kau kan sekretarisku. Masalah mengatur jadwal pasti bukan urusan besar kan?"
Madge menggelengkan kepala pirangnya. "Tidak bisa. Semua sudah kuatur dengan rapi, dan—" ia mengarahkan telunjuknya pada Gale. "—kau tidak boleh mengacaukannya."
Memutar bola matanya, Gale menyahut, "Mengapa kau selau melawan kemauanku?"
"Tidak. Aku tidak," tukas Madge.
"Hah?"
"Aku melakukan segala sesuatu sesuai prosedur. Aku melakukan pekerjaanku dengan baik dan benar. Aku tidak pernah mengikuti kemauanmu, apalagi melawannya. Jadi, sekarang Mister Gale Hawthorne, berhentilah merengek seperti bayi ingusan. Kau akan pergi ke Distrik 12."
"Bukankah sudah kubilang kalau kau tidak bisa merubah keputusanku," geram Gale, darahnya tiba-tiba mengalir lebih cepat.
"Keputusannya hanya ada satu, dan sudah kuucapkan sebelumnya: kau akan pergi ke Distrik 12."
Gale bersiap untuk membanting meja sekarang, "Aku tidak akan kembali ke sana, Undersee! Aku mencoba untuk menghindari tempat itu."
Madge terdiam. Gale sadar gadis itu kaget dengan amarahnya. Apa yang keluar dari mulut gadis itu kemudian terdengar pelan dan lembut, dan yang perlahan mampu menurunkan tensi kemarahannya.
"Ayo pergi bersamaku," katanya. "Tidak ada gunanya menghindar, dan tidak ada gunanya berlari. Tidakkah kau lelah? Cepat atau lambat kau akan lelah."
"Apa maksudmu?"
"Dengar," Madge mendekatkan badannya merapat kepada Gale, pandangan mereka sejajar, dan Gale tidak bisa melihat ke arah yang lain. Madge mengambil komando penuh atas dirinya. "Aku pernah mencoba menghindari Distrik 4, tapi akhirnya aku kembali ke sana juga, benar? Dan percaya padaku, itu tidak buruk-buruk amat."
Madge menaikkan tangannya menyentuh pundak Gale, "Entah kau berlari atau menghindar dari apa, kau tidak perlu menemuinya saat di sana."
"Bagaimana kau bisa yakin begitu, Undersee," tanya Gale skeptis, menyingkirkan tangan si gadis dari pundaknya. Entah bagaimana masih menatap Madge.
"Karena aku sudah lebih dulu mengalaminya," jawan Madge seraya mengembangkan senyumnya.
Mendengar itu Gale sedikit mulai berubah, meski masih ada rasa ragu di hatinya. Ia melunak, karena di satu sisi ia lega Madge akan ikut bersamanya.
"Memang kau tidak ada pekerjaan yang harus kau selesaikan, huh? Kenapa kau bisa ikut ke duabelas denganku?"
Gadis itu terkikik, terpaksa menutupi mulutnya supaya tidak tertawa kencang-kencang. Gale jengah melihatnya.
"Jika itu yang kau khawatirkan, maka kau konyol sekali."
"Tidak ada yang lucu, Undersee!"
"Memang tidak, aku hanya ingin tertawa. Wajahmu itu—"
Ia tertawa lagi.
"Hentikan!" teriak Gale. "Bukan karena aku sudah minta maaf padamu jadi kau bisa seenaknya menertawaiku!"
"Oke," kata Madge setelah berhasil mengontrol dirinya. "Begini, ya, Bos. Sadar tidak kalau kau mempekerjakan karyawan terbaik satu kantor? Kau tidak perlu takut aku akan melalaikan tugas sehari-hariku."
Ia tersenyum kecut lantas berkata, "Aku tidak sadar akan hal itu, tapi baiklah—"
"Baiklah apa?"
Gale terdiam, menunduk melihat tangannya di atas pahanya. "Aku akan pergi."
Dari sudut matanya ia tahu Madge sedang tersenyum sekarang, membuatnya mau tak mau mengangkat kepalanya. Karena ia baru tahu kalau senyum gadis itu menularkan euforia positif padanya, membuatnya seketika bahagia.
Lalu, hal berikutnya yang terjadi, Madge melarikan tangannya menangkup tangan Gale. Hanya itu pada awalnya, sampai ia menelusupkan jemarinya dengan sempurna di antara jemari Gale sendiri. Gale membatu—tidak menerimanya namun tidak juga menolaknya. Genggaman Madge terasa hangat—sama menularnya dengan senyumannya. Rasa hangat menjalari tubuhnya.
"Jadi, Bos," kata Madge setelah beberapa saat. "Bagaimana kalau kau mengajakku berburu di hutan Distrik 12?"
TBC
Thank you for reading. Please review, and let me know what you think! :))
