Thanks for
~ yeppeunyeoja
~ ssonghye
Added TAORIS, KAISOO
amateur, typo(s), weird, slash
ENJOY READ IT!
Chanyeol masuk ke Seoul National University of Arts setelah nenunda kuliahnya selama 4 tahun dan hebatnya nilai-nilai sekolah menengahnya juga memuaskan (GAK/) dan hasil wawancaranya bisa dikatakan seperti seorang pengacara handal.
Baru sebulan chanyeol belajar di universitas ternama di Korea itu, ia sudah menarik banyak perhatian mahasiswa lain.
"MWO? Jongdae-ya! Kau kenal Park Chanyeol?"
tanya seorang pria berambut hitam dengan mata besarnya yang hampir keluar saat menyebutkan nama PARK CHANYEOL
"Yeah i know him so well. Kenapa?"
"Kenapa kau tidak cerita padaku ? O M G ! Park chanyeol is the most handsome guy i never seen before. Oh ya, aku dengar dia itu pintar, benarkah?"
"Ada apa dengan mu kyungss?!"
Jongdae yang sedari tadi menengarkan celotehan kyungsoo secara tiba tiba dia ingin muntah dan tersedak oleh salivanya sendiri, saat mendengar beberapa kalimat yang bertentangan dengan pendapatnya tentang chanyeol.
"Aku baik-baik saja kok! Satu hal yang perlu kau rahasiakan, jangan pernah kau ceritakan ini pada KIM JONGIN!"
ucapnya seraya mengancam akan membunuhnya dengan bola matanya yang akan berubah menjadi samurai.
"Park chanyeol? Who is he?"
Di suasana mencekam celetukan baekhyun dengan poker face nya, membuat kyungsoo menganga dan menatap tajam baekhyun.
"...Kau ini manusia asal planet mana? Sampai tidak pernah mendengar nama PARK CHANYEOL"
Kyungsoo membelalakkan matanya
Jongdae tampak malas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lontarkan kyungsoo. Sementara, baekhyun menyumpal telinganya dengan earplugs yang di sambungkan dengan i-pod pink nya dan membesarkan volumenya hingga full, mencoba untuk tidak mendengarkan blabbing dari mulut Do Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya~"
mulutnya terkunci rapat, ketika mendengar teriakan dengan suara berat seseorang berkulit tan di atas sebuah gedung di lantai 2, sambil melambaikan sebelah tangan.
"Yessss... My blackie baby!" Balas Kyungsoo sambil melambai ke arah Jongin dengan malas.
"Tunggu disana!"
Teriak Jongin lagi dan berlari menghilang
Entahlah sepertinya Do Kyungsoo sudah mulai bosan dengan Kim Jongin, cinta pertamanya sejak duduk di sekolah dasar. Hanya karena kemunculan seorang pria raksasa di universitas nya Park Chanyeol, ia adalah orang yang berani-beraninya mencoba menggantikan posisi Kim Jongin di hati suci milik seorang pria mini sedikit bungkuk. Untungnya jongin tidak mengetahui hal ini, so Kyungsoo dapat dengan bebas mendekati Chanyeol. Selagi jongin tidak jalan bersamanya dan jika pun ketahuan ia pasti hanya bilang "Dia teman baik ku sekarang" sambil berbisik pelan di telinga pacar hitam sexy nya (limited di Korea). Anehnya dengan mudah jongin percaya begitu saja karena dibisikan itu, kyungsoo menyelipkan ciuman oleh bibir love shape nya di daun telinga jongin yang membuatnya sedikit menggeliat.
Chanyeol berjalan seorang diri menyusuri koridor sambil mengendong gitar kesayangannya di punggung lebarnya. Tak sedikit wanita yang menatapnya hingga terjatuh bahkan tertubruk dinding.
Ponselnya terus berdering, ia tidak memperdulikannya karena keadaan terlalu ramai untuk mengangkat telepon. Hingga pitamnya memuncak karena suara berisik dan getaran yang di hasilkan ponselnya membuat geli pahanya.
Chanyeol berjalan ke arah toilet dan meraih ponsel 5 inch nya, di balik saku celana panjang levis hitamnya.
"HEY! APA SUSAHNYA MENGANGKAT TELEPON?"
Teriak seorang pemuda di balik ponsel dengan suara yang berat, bercampur aksen amerika mix china yang khas.
"APA? Kau siapa?"
tanya chanyeol tampak linglung sambil menaikan satu alisnya. Bagaimana tidak? Ia tidak pernah menyimpan nomor tersebut di dalam kontaknya dan tiba-tiba berbicara kasar dengan aksen yang aneh baginya
"Hei.. BODOH! Kau tidak mengenal suara merdu ku?"
Suaranya mulai mereda namun sarkas
"I swear! I don't know!"
"Cepat lah datang ke bar biasa! Aku tidak tau harus bagaimana?! Tao terluka, kami membutuhkan mu!" ucap pria di balik telepon itu, tidak menanggapi sumpah chanyeol
"Bar biasa?" Wajah chanyeol tampak semakin seperti orang bodoh, berjalan kearah kelasnya sambil bicara dengan seseorang di balik ponsel hitam metaliknya
"Ya di Incheon!" Decitnya
"Hah.. Apa namanya?"
"Sepertinya sesuatu terjadi lagi pada otak bebal mu"
"HEI! I'M SERIOUS" suara beratnya mencoba mencapai 4 oktaf
"La Dolce Vita Bar"
Jawaban singkat dari pria yang tidak memberitahukan namanya dan mematikan sambungan teleponnya.
Chanyeol menjauhkan ponselnya dari telinga besarnya sambil menatap layar ponselnya dengan tatapan ingin ribut.
Sesungguhnya chanyeol tidak terlalu menanggapi perkataan pria tersebut, sepertinya orang itu benar-benar butuh bantuan, tapi ia tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh pria itu? Benar-benar tidak dapat dipahami oleh otaknya, sekalipun ia cerdas (/-/). Ia berfikir kalau orang itu salah memencat nomor di ponselnya atau dia seorang psikopat atau seorang mafia atau ... dengan cepat ia melupakan kejadian tadi.
Baru saja ia sampai di rooftop roomnya ketika akan membuka pintu, ponselnya berdering hingga membuat jantungnya ingin lompat.
"SHIT!" gerenyitnya
Dengan santai ia mengangkat teleponnya dengan menggeser lock touch nya ke kanan.
"Yes hello?"
"Sekarang sudah jam berapa? Aku menunggu mu sejak tadi siang!
Harus berapa gelas wine lagi yang harus aku minum!"
"Kedengaran, kau yang tadi siang ya? Lebih baik kau pulang ke rumah dan minum susu!"
"WHAT THE F*CK?! Kau masih tidak ingat aku? Oh dear GOD! How low your IQ?!
WU YI FAN! Masih tidak ingat? Kalau begitu bagaimana dengan ACE KRIS?"
Pria yang mengaku bernama Wu Yi Fan atau Ace Kris atau siapa lah itu?! Suaranya terdengar sangat marah, chanyeol dapat merasakan semprotan saliva di balik teleponnya yang menghujani telinga super lebar miliknya.
"Mungkin besok aku akan kesana, itu pun jika aku ingat. Lihat lah jam! Tidak sopan, menelpon seseorang yang tidak di kenal selarut ini!"
Chanyeol mematikan teleponnya dan masuk ke dalam rooftop room miliknya.
Chanyeol terbangun 3 jam sebelum fajar menghangatkan wilayah Korea. Ia bangun lebih awal karena kepalanya terasa sakit, yang ia pikirkan saat itu adalah minum obat dan pergi tidur lagi hingga rasa sakitnya mereda.
.
.
.
Pagi ini chanyeol terlihat bersemangat dan sehat seperti biasanya, dia selalu berhasil mengejutkan jongdae dengan suara berat menakutkannya. Jongdae masih belum bisa menangkis rasa kagetnya ketika chanyeol mengejutkannya, padahal hampir setiap hari ia selalu melakukan hal itu.
"YA!" teriak jongdae geram dengan detak jantung yang tidak karuan.
"Kau ini bodoh atau dungu?! Bagaimana jika aku terkena serangan jantung?"
derunya seraya akan memakan pita suara chanyeol
"Bukan kah itu bagus untuk kesehatan jantung? Jantung pun butuh olahraga pagi, rupanya kau masih belum terbiasa dengan hal ini"
Chanyeol tertawa keras, melihat jongdae yang terkejut hampir mati.
"Dasar bodoh!" jongdae menatap chanyeol dengan tajam
"Ayo cepat berangkat! Kau tau kan bus pagi akan penuh setelah jam 8 nanti" chanyeol mencoba mencairkan amarah jongdae
Kampus masih tampak lengang. Chanyeol dan jongdae menyempatkan untuk sarapan di kantin kampus. Chanyeol memesan sepotong kimchi-bulgogi sandwich ukuran jumbo, jongdae memesan makanan yang sama hanya saja ukurannya masih normal.
"Baekhyeona~" sapa jongdae sambil melambaikan tangan kanannya ke arah baekhyun di ujung kantin
Chanyeol melihat kearah jongdae hendak memarahinya karena berteriak sangat keras saat makan. Tapi kehadiran baekhyun dapat menerka amarahnya, sandwich nya terjatuh di atas piring bulat, mulutnya terbuka lebar dengan sandwich yang masih belum di kunyah oleh gigi besarnya.
Baekhyun menghampiri jongdae lalu menepuk pundak kirinya, sambil tersenyum anggun dan duduk di samping kiri jongdae. Mata chanyeol tak berkedip melihat sesosok yang pernah ia temui di kereta dan berhasil menarik perhatiannya hanya dengan satu senyuman.
"Chanyeol! Park chanyeol! BODOH! DUNGU! IDIOT!" Jongdae terus memanggil dengan julukan kasar untuk membuatnya sadar dari lamunan indahnya
Jongdae tidak mengerti apa yang terjadi pada chanyeol? Tiba-tiba dia menunjukan wajah bodohnya di hadapan mereka (baekhyun jongdae) dengan mulut tersumbat salad, dengan tatapan mengarah tepat ke Baekhyun. Sungguh itu hal yang paling bodoh, Memberikan kesan yang buruk pada diri baekhyun tentang Park Chanyeol, yang katanya pria paling populer di universitas ini. Bahkan, jongdae pun tidak mengetahui hal itu lebih tepatnya tidak peduli dan tidak penting.
"Dia park chanyeol?
Kenapa orang bilang kalau he is handsone, smart, cool or whatever lah?!"
Baekhyun meringis dengan tatapan super jijik melihat chanyeol dan beranjak dari bangku
Sampai akhirnya jongdae memukul keras kepalanya karena kantin semakin ramai, ia malu makan sebangku berhadapan dengan orang dungu satu ini.
Mata besarnya berkedip berkali-kali untuk menyadarkan dirinya. Ketika chanyeol tersadar ia tidak melihat mereka berdua di hadapannya lagi, ia menjaga image di depan wanita di sekitarnya dengan berdiam duduk sambil memakan sandwich jumbonya yang tinggal sepotong.
.
.
.
.
.
Hari semakin gelap, chanyeol menunggu jongdae di depan kelasnya. 5 menit setelah jam selesai jongdae tak kunjung keluar, chanyeol masuk ke dalam kelasnya tapi ia tidak menemukan si pendek itu.
Mata besarnya menangkap bokong yang lebar, ia berfikir pernah melihat bokong itu, lalu pemilik bokong itu melihat kearahnya
"Kau yang tadi pagi kan? Park Chan...yeol?"
"I..ya" chanyeol terbata-bata menjawabnya
"Kau kesini mencari jongdae?"
"I..ya"
Detup jantung chanyeol tidak karuan, ia tidak mengira dapat berbicata empat mata dengan seseorang yang ia sukai, sejak di kereta malam itu.
"Tadi sekiar 2 jam sebelum jam pelajaran habis, dia izin pulang lebih cepat, ayahnya terserang penyakit jantung" jelas baekhyun sambil memasukan buku-buku ke dalam tas coklat mininya.
"Benarkah? Kenapa dia tidak memberitahu ku?" Matanya membesar, mulutnya dapat lancar berbicara karena shock
"Seharusnya aku memberi tahu mu lebih awal, tapi karena aku tidak tahu kelas mu dimana? jadi aku ragu dan aku berfikir untuk menunggu mu di kelas"
Jelas baekhyun, yang ternyata suka memerhatikan chanyeol selama menunggu jongdae di depan kelasnya, tapi bodohnya chanyeol tidak pernah sadar dan baru tahu kalau ia adalah teman sekelas jongdae. Bahkan jongdae tidak pernah cerita apapun tentang Baekhyun, kelihatannya mereka sudah bertemam sejak lama. Baekhyun lebih suka keluar kelas paling terakhir, jadi chanyeol tidak pernah melihatnya.
"Malam ini kau mengantikan jongdae untuk menemani ku ke kedai ramen di dekat rooftop room kalian"
"kau siapa? Seenaknya saja!" Jawabnya ketus, entah ia dapat keberanian dari mana berbicara seperti itu
"Oh ya, aku byun baekhyun" ia menghela nafas sambil menjulurkan tangan super girly nya.
Chanyeol tidak menjabat tangannya, karena dia tidak suka orang yang melakukan hal semaunya saja.
"Tapi jongdae yang memintaku melakukan hal apapun yang aku mau pada mu"
"maksudnya apa? Di kira aku siapanya dia?"
"Dia bilang kau sahabatnya bahkan lebih dari itu, bagaimana kau mau?"
Chanyeol tidak bergeming selama beberapa menit, dia pikir jongdae malu mengakui chanyeol sebagai temannya. Hatinya berseri mendengar hal itu.
"Oh...sudah pukul 7 malam, lebih baik kita bergerak lebih cepat!" Chanyeol berjalan lebih dulu sementara baekhyun melihat punggungnya yang lebar dan kakinya yang jenjang dari belakang.
.
.
.
Suasana kedai ramen terasa lebih hangat karena Chanyeol datang bersama Baekhyun. Kedai ramen malam itu benar-benar sangat sepi entahlah tak seperti biasanya, mereka seperti sepasang kekasih dimana sang pria (Chanyeol) telah memesan tempat terlebih dahulu demi kenyamanan sang kekasih.
"Rumah mu dimana?" tanya Chanyeol sambil mengaduk ramennya dengan kedua sumpit di tangan kanannya
"di Mapo" jawabnya sambil mengunyah ramen yang masih panasnya dengan imut
"Sekarang saja sudah pukul 9 malam dan kau belum menghabiskan ramen kedua mu"
"Benarkah?" baekhyun menatap mata chanyeol dengan mata tanya
Chanyeol menunjukkan jam tangan hitam sportnya di pergelangan tangan kirinya pada baekhyun, sambil sedikit melirikan mata dengan gugup ke arahnya.
"Kalau begitu aku akan meginap di rooftop room jongdae"
"Apa kau selalu melakukan itu?" dengan santai chanyeol malahap mie ramen pedasnya
"Hugh... Melakukan apa maksud mu?" Baekhyun tersedak kuah ramen pedasnya karena pertanyaan dari chanyeol yang kiranya mencurigai dirinya melakukan hubungan di batas teman dengan jongdae
"hah.. maksudku menginap di rooftop room jongdae" chanyeol menyodorkan segelas air putih padanya
"Aku pikir apa?! Eumm.. tidak sering sih, terkadang saja" ia mencoba mengatur ekspresi wajahnya
"Tapi aku tidak pernah melihat mu disana"
"Sungguh? Coba kau ingat-ingat lagi"
"Aku tidak dapat mengingat secepat itu"
"Ternyata dia bodoh, kalian semua salah mengira dia pandai!" batin Baekhyun mencibir
.
.
.
Baekhyun membuka pintu rooftop room dengan sepotong kunci yang telah diberikan jongdae padanya. Jongdae lebih percaya menitipkan segala barang yang penting maupun tidak penting pada Baekhyun dibandigkan Chanyeol, karena menurutnya Chanyeol adalah tipikal orang yang dapat melupakan segala hal dengan cepat, Jongdae selalu menganggap Chanyeol itu bodoh karena wajahnya yang selalu menampilkan gigi dewa kuda dan kebiasaannya yang aneh bahkan diluar pemikiran orang normal.
Baekhyun sudah masuk ke dalam rooftop room milik Jongdae, semetara Chanyeol baru selesai menaiki anak tangga. Ia berhenti sejenak di depan pintu kamar milik Jongdae yang malam ini di akan di tempati oleh Baekhyun. Mata besarnya tampak sedang mencari sesuatu, gerakan matanya terhenti di sepasang sepatu merah muda mini yang terletak tepat di depan pintu kamar milik Jongdae.
Chanyeol naik pitam dan tanpa berfikir panjang ia membuka pintu kamar Jongdae tanpa bermisi.
"YAAAAAAAAA!" sontak Baekhyun berteriak dengan keras yang membuat gedang telinga Chanyeol ingin pecah
Baekhyun berlari menuju pintu dan menutupnya dengan keras hingga menghasilkan seperti suara ledakan kenalpot anak motor alay.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Baekhyun gasp di balik pintu, sambil menutupi dada putih susunya yang rata dan perut yang sedikit menggelembung berlipat.
"Kau... sedang bersama siapa di dalam?" wajahnya tampak semakin bodoh bercampur sedikit kemesuman setelah melihat tubuh bagian atas Baekhyun tanpa seuntai kain apapun.
"Aku sendirian! Lain kali ketuk pintu dahulu!" Baekhyun geram
"MAAF! Aku pikir kau bersama seseorang, baiklah! Selamat malam~"
Chanyeol beranjak pergi masuk ke dalam rooftop room miliknya.
Sungguh chanyeol refleks melakukan hal tadi, ia hanya ingin memuaskan batin jahatnya untuk memaki orang yang sudah memutuskan senar gitar kesayangannya. Chanyeol tidak habis pikir pemilik sepatu merah muda mini itu adalah Byun Baekhyun. Ajaibnya chanyeol dapat mengingat kejadian itu lagi, seseorang yang telah menjatuhkan gitarnya bahkan sampai senarnya putus dan dengan santai berkata maaf tanpa membungkuk, lalu pergi melewati hadapannya dengan anggun.
Saat kejadian itu ia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena ia tidak mengenakan contact lens nya, di tambah posisi orang itu (Baekhyun) membelakangi cahaya sehingga bentuk wajahnya hampir tidak terlihat sama sekali karena penerangan yang minim.
Review nya ya... Jangan lupa!
Buat masukan kalo ada kata-kata yang aneh, nanti aku perbaikin ^^
Sorry aku buat OOC gitu, nggak terlalu banyak OC nya
Btw ini
Still in progress
THANK YOU ;)))))
