Thanks For :
yeppeunnuna
Ssonghye
SyJessi22
baekxixixi
didinsoo
ritaanjani4
(Oh iya sorry di chapter sebelumnya ada beberapa username yang salah ketik) /bow/
typo(s), boys love
ENJOY READ IT!
/
Chanyeol sangat senang bisa berteman dengan Baekhyun yang tak lain adalah sahabat terbaik Jongdae. Ia sering mengingat kejadian di dalam kereta itu, seseorang yang tampak mungil sedang bernyanyi dengan merdu di gerbong kereta tujuan Busan-Seoul. Chanyeol masih ingat ketika itu ia naik kereta tersebut dari Osan. Sedangkan, baekhyun baru naik dari Bucheon dengan jaket coklat tebal dengan bulu di kupluk dan sekitar pergelangan jaketnya.
"Bagaimana kalau nanti malam kita ke kedai ramen?"
"TIDAK! AKU SIBUK" jawab jongdae dengan cepat, sambil memanyunkan sedikit bibirnya
"Okay aku yang teraktir" chanyeol melipat kedua tangannya di depan dadanya, sambil tersenyum aneh melirik jongdae
"Baiklah! Pukul 8 malam bagaimana?"
"Eh tunggu! Harusnya aku yang menentukan waktunya!" Bela chanyeol sinis
"Terserah lah, lewat atau kurang dari itu aku tidak bisa datang"
"Baiklah!" Chanyeol mengalah
"Ada apa dengan mu tiba-tiba mentraktirku dinner?"
"eum... Sebagai tanda terima kasih saja sih tepatnya"
"Oh tapi hanya mentraktir ramen saja itu tidak cukup untuk membalas semua kebaikan ku selama ini"
Chanyeol tidak berkata sejujurnya, sebenarnya ia mentraktir Jongdae karena ia teman baik Baekhyun dan karenanya ia dapat kenal bahkan berteman juga dengan Byun Baekhyun.
Setelah pulang dari rumah kyungsoo sehabis latihan vokal, Jongdae tidak langsung pulang ke rooftop house nya dan pergi ke kedai ramen karena janji yang dibuat Chanyeol tadi pagi. Ia memakan semangkuk besar berisi ramen pedas yang masih panas, cocok untuk malam first snow di sebuah kedai ramen mini di sudut kota Seoul yang dingin.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran chanyeol. Beberapa menit kemudian handphone 5inch jongdae berdering sebentar, tanda pesan masuk.
~Aku menunggu mu sudah 1 jam di bar!~
Hanya sebuah pesan singkat membuat jongdae benar-benar sangat marah.
Apa yang sedang ia bicarakan? Bagaimana bisa chanyeol merubah tempat seenaknya saja tanpa sepengetahuannya?!
Setelah semangkuk ramen besar sudah dilahap bersih olehnya, Chanyeol baru memberi tahukan hal ini. Jongdae dendam karena harus membayar ramen berukuran jumbo itu sendiri, padahal baru tadi pagi chanyeol berjanji akan meneraktirnya di kedai ramen dekat rumah atap mereka malam ini.
Kali ini jongdae mencoba untuk bersabar. Namun, tetap saja ia tidak sudi menatap pintu kamar chanyeol yang lampunya masih menyala, padahal sudah pukul 11 malam.
Tubuhnya dibiarkan terbaring di atas lantai dengan jaket tebal yang masih melekat di tubuh pendeknya, untungnya suhu di dalam kamarnya tetap hangat di malam sedingin ini.
Ia benar-benar lelah harus berjalan kurang lebih 3 kilometer menuju bar favorit mereka, di suhu 3 derajat celcius, karena uang cash nya sudah habis untuk membayar ramen jumbo. Ketika sampai di bar tubuh jongdae memanas hingga dapat membakar seluruh isi bar, ia tidak menemukan chanyeol disana bahkan ia sudah mencari di seluruh ruangan dalam bar tersebut. Yang membuatnya semakin murka ia harus kembali ke rumah atapnya sepanjang 3 kilometer sendirian, di hujani salju-salju, dan kedinginan.
Berkali-kali ia menghubungi nomornya tapi sudah tidak aktif, padahal baru beberapa jam setelah Chanyeol mengirimkan pesan singkat itu.
"PARK CHANYEOL!
KAU HARUS MEMBAYAR INI SEMUAAA!"
Teriak jongdae dari kamarnya yang pasti akan terdengar oleh chanyeol, karena batas ruangan mereka hanya di lapisi oleh papan kayu yang tebalnya hanya 10 cm
Tidak ada jawaban dari chanyeol, jongdae mengeserkan tubuhnya mendekati papan perbatasan untuk mendengar suara-suara di baliknya. Tidak terdengar suara apapun hanya kesunyian bercampur suara hembusan angin.
"HEI PARK CHANYEOL!
ARE YOU ALREADY GO TO HELL?!"
teriak jongdae sambil menendang-nendang papan perbatasan itu
(FLASHBACK)
Chanyeol berfikir untuk tidak masuk kuliah dulu hari itu, sakit kepalanya kambuh. Namun, kali ini ia merasakan kepalanya terasa sangat teramat sakit.
Chanyeol meneguk obat sakit kepala melebih dosis yang dianjurkan di balik bungkus obatnya. Ia merasa kantuk dan tertidur dengan pulas di lantai tanpa alas apapun. Mungkin ia terlalu lelah karena jadwal kuliahnya dan harus latihan bersama jongdae dan kyungsoo, setiap sepulang dari universitas di studio milik kyungsoo yang cukup jauh dari rooftop house nya. Setiap harinya ia bersama jongdae harus naik kereta bawah tanah, padahal kyungsoo bersedia meminjamkan mobilnya dan kim jongin sebagai sopir sekaligus pacarnya untuk mengantar mereka kembali ke rumah. Tapi mereka selalu menolak, sebenarnya ada maksud lain kyungsoo mengajak latihan di studio miliknya dan meminjamkan mobil plus sopir tersayangnya, yang tak lain karena Park Chanyeol.
Chanyeol hanya tertidur beberapa jam sebelum jongdae kembali ke rooftop house dari universitas. Ketika ia bangun dari tidur cantiknya, sungguh Chanyeol tidak mengerti apa yang dia lakukan di dalam ruangan sekecil ini? Ia memandang risih melihat keadaan sekitarnya.
Chanyeol mengambil jaket tebal berwarna abu-abu yang tersangkut di balik pintu, ia pergi menuju halte bus setelah membeli satu tiket tujuan Incheon.
.
.
.
.
.
.
Siang itu Jongdae tidak melihat chanyeol di seluruh gedung universitas mereka, padahal tadi pagi ia melihatnya bahkan sempat dan selalu mengejutkannya. Jongdae benar-benar sedang disibukan oleh latihan vokal untuk mengisi pensi tiap tahunnya yang di selenggarakan setiap bulan april, bersama kyungsoo dan seharusnya ada chanyeol sebagai penggiring gitar. Jongdae mencari Chanyeol di kelasnya dan bertanya pada salah satu temannya dan ternyata benar saja dugaan Jongdae, ia tidak masuk kuliah hari itu. Kyungsoo tau kalau Chanyeol tidak masuk ke kampus hari itu dan membuatnya sedikit malas untuk latihan tanpanya. Tapi tetap berlatih.
Sementara, Baekhyun memutuskan untuk bernyanyi mengiringi Yixing menari. Yixing terus meminta baekhyun bernyanyi untuknya di pensi nanti, sampai-sampai ia membuatkan makanan yang super enak agar baekhyun memenuhi permohonannya.
(END FLASHBACK)
Pagi ini terasa semakin dingin, jongdae tidak melakukan pemanasan seperti biasanya, ya memaki chanyeol adalah hal yang rutin ia lakukan, setiap pertama kali membuka pintu pasti muncul sesosok raksasa berwajah tolol dengan rambut curly nya.
"HEI RAKSASA KERITING!"
Jongdae mengetuk kamar chanyeol cukup keras untuk membangun a giant baby di dalamnya, yang masih tertidur lelap di atas kasur lipat hangat.
"DUMBASS!"
Tangannya menarik gagang pintu kamar chanyeol yang dibiarkan tidak terkunci.
Kamarnya tampak berantakan dengan kasur lipat beserta selimutnya yang di biarkan begitu saja dan seuntai underware berwarna hitam di atasnya terpapar jelas. Memang bukan hal yang aneh chanyeol sudah bangun sepagi ini, tapi menjadi tidak biasa, jika chanyeol tidak mengejutkan jongdae ketika pertama kali ia membuka pintu.
Seharian ini jongdae benar-benar merasa tidak lengkap kalau belum memaki chanyeol, tepat di depan wajahnya, sambil menyemprot saliva secara sengaja di setiap katanya. Sepertinya jongdae benar-benar tengah merindukan karibnya yang berambut curly, dengan suara berat bass khasnya dan tubuh raksasa yang dapat sewaktu-waktu dapat menginjak jongdae hingga mati, hanya dengan satu kaki.
Sepulang kuliah jongdae masuk ke kamar chanyeol tanpa permisi, untuk memastikan apa dia sudah pulang atau belum? Letak barang-barang di kamarnya masih sama dari sejak tadi pagi. Sudah ratusan kali jongdae menelfon dan mengirim pesan ke nomor chanyeol, namun nomornya masih tidak aktif sejak hilangnya malam itu.
.
.
.
.
.
"Jongdae? Apa kau sakit? Sudah 5 hari kau tidak masuk kuliah"
"Ya hanya sedikit demam, tidak apa-apa"
"Baik sepulang kuliah nanti aku kesana. Bubay~"
Baekhyun menutup teleponnya. Ia berfikir tidak biasanya jongdae tidak masuk kuliah selama ini biasanya hanya 1 hari.
"YA TUHAN! JONGDAE! Pandai sekali kau berbohong! Apa kau sudah minum obat? Atau kau belum sama sekali pergi ke dokter?"
Baekhyun menatap iba melihat sahabatnya demam setinggi ini, hingga punggung telapak tangan ingin terbakar ketika menyentuh dahi Jongdae "Bagaimana sih kau ini? Aku ingin membeli obat di apotek tapi bagaimana dengan mu?- tunggu dimana raksasa bodoh itu?"
"Sudah lah biarkan saja ini hanya demam biasa dan entahlah aku tidak tau dia kemana sudah 2 minggu ini aku tidak melihatnya"
Jongdae berbaring di kasur lipat putih hangatnya, menatap langit-langit kamar kecilnya dan Baekhyun tengah duduk di sampingnya sambil sibuk memeras kain yang di celupkan ke dalam air dingin untuk mengompres dahi Jongdae
"Maksud mu? Dia hilang atau gimana? Pantas saja aku tidak penah melihatnya lagi belakangan ini. Dia punya ponsel kan?"
"Punya tapi percuma saja nomornya sudah ku hubungi dan masih tidak aktif sejak hari pertama ia menghilang"
"Kau menghawatirkannya? Sehingga kau jatuh sakit seperti ini?
"Aku tidak...hanya khawatir dia itu bodoh tentang arah jalan. Tapi tidak mungkin aku sakit karena mengkhawatirkannya, mungkin aku terlalu lelah latihan vokal setiap pulang kuliah"
"Jadi kau pikir dia tersesat. Baiklah kalau kau tidak mau mengakuinya"
Jongdae melirik baekhyun dengan tatapan tanya
1 bulan berlalu chanyeol masih belum kembali ke rooftop room nya, jongdae selalu meluangkan waktunya untuk mencari seseorang yang sudah ia anggap saudara sendiri, setiap pulang kuliah jongdae berkeliling ke setiap sudut kota Seoul. Jongdae never know where's chanyeol come from? mungkin dia berasal dari suatu planet yang sangat sangat sangat sangat jauh dari bumi.
"Apakah ada sesuatu terjadi padanya?
Kenapa dia tidak memberi tahu ku?
Aku di anggap apa selama ini olehnya?
Aku pikir dia benar-benar melupakan ku
Aku pikir kami teman, APA AKU TIDAK BERGUNA LAGI UNTUK SI ANAK JERAPAH ITU?!"
-STILL IN PROGRESS-
Review nya ya don't forget! ^^
Keep reading ya, thank you~
