Reality Like a Fantasy
a Seirin-centric fanfiction
Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki
Tidak ada keuntungan finansial yang diperoleh penulis dari fiksi ini
"Baiklah, sudah siap semua, kan?"
Saat ini, klub basket Akademi Putri Seirin sedang berkumpul di depan sekolah mereka. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, mereka akan mengadakan training camp bersama beberapa sekolah lain. Entah karena Riko suka jalan-jalan atau kenapa, penginapan yang menjadi tujuan mereka berada di sebuah gunung nun jauh di sana, yang hanya bisa dicapai menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan estimasi perjalanan sekitar enam jam.
"Sudah, pelatih!" seru kesebelas orang gadis itu berbarengan. Tentu saja mereka sudah siap, karena Riko sudah mewanti-wanti mereka dari semalam untuk jangan sampai kelupaan suatu apa. Ada sekitar dua puluh email dari sang pelatih di telepon genggam mereka masing-masing yang berisi berbagai peringatan dan perintah untuk membawa ini dan itu, juga agar mereka tidak ada yang terlambat pagi harinya.
Kagami, yang saat ini tengah mengunyah hotdog dengan damai, menoleh ke arah pelatih mereka. "Ngomong-ngomong," ujarnya dengan mulut penuh. "Kenapa kita mesti pakai seragam?"
"Kagami, itu makanan ditelen dulu!" jerit Furihata sambil berjengit. Dasar Kagami, unladylike sekali.
Riko nampak tidak peduli dengan fakta bahwa Kagami berbicara dengan mulut penuh makanan. "Itu syarat yang diberikan oleh pemilik penginapan," ujarnya santai. "Terus entah kenapa kayaknya bapak-bapak yang tempo hari mengangkat telepon dariku waktu aku memesan tempat senang sekali sewaktu tahu kalau sekolah kita, yang kubilang padanya adalah sekolah perempuan, bakal menginap empat hari tiga malam di sana... bapak itu terdengar kayak om-om senang gitu deh. Pokoknya kita harus hati-hati."
Semua yang hadir di sana bergidik ngeri.
"Tenang saja, tidak akan ada yang bisa mengganggu gadis-gadis kecilku yang manis selama ada aku!" teriak Kiyoshi penuh semangat, lagaknya seperti seorang ayah yang overprotektif terhadap anak-anak perempuannya. Barangkali tidak sadar kalau dia sendiri juga perempuan.
Tapi tidak bisa dipungkiri kalau mereka semua memang menawan. Kiyoshi dan Kagami, meski tinggi semampai tidak seperti perempuan normal, tampak anggun dengan kaki mereka yang panjang ramping dan ada kesan enerjik diberikan oleh dandanan mereka yang agak serampangan. Keduanya juga sama-sama menggulung lengan baju mereka. Kiyoshi membiarkan rambutnya yang sedikit melewati punggung itu terurai, sedangkan Kagami mengikat rambutnya asal.
Di sisi lain, Koganei, Izuki dan Furihata justru tampak modis. Koganei menjepit poninya dan mengikat dua rambutnya dengan rapi. Ia juga menambahkan sedikit aksesoris pada dirinya berupa gelang mungil dan kalung pendek. Izuki membiarkan rambut hitamnya terurai lembut. Dandanannya rapi, kontras sekali dengan Kiyoshi apalagi Kagami, dan memberinya kesan sebagai wanita cerdas. Ia memakai kaus kaki tinggi yang sedikit melewati lutut, menyisakan sebagian kecil pahanya terekspos dan menampakkan kulit putihnya yang mulus. Furihata tampak manis dengan rambutnya yang panjang sepunggung dibiarkan tergerai dan sweater berwarna cokelat gelap di atas seragam sekolahnya. Maklum, soalnya Furihata tidak tahan dingin.
Sisanya hanya memakai seragam mereka ala kadarnya, terlalu malas untuk menambahkan ini dan itu. Sepertinya kebanyakan dari mereka sudah terlalu menikmati kebebasan bertutur kata, bersikap dan berpenampilan selama mereka menyamar menjadi laki-laki. Hyuuga sangat menyesali kenyataan bahwa ia tidak bisa lagi makan sambil mengangkat satu kaki. Tapi sepertinya Kagami tetap akan bersikap selebor sebagaimana ia biasanya. Barangkali anak satu itu perlu diberi bimbingan khusus tentang bagaimana cara bersikap seorang lady.
Sekarang mereka sudah ada di dalam bus menuju tempat latihan. Perjalanan mereka akan memakan waktu yang cukup lama, jadi untuk orang yang kurang tidur (seperti Kagami) bisa memanfaatkan keadaan untuk menutup mata. Yang bersangkutan kini sudah terlelap dengan bersandar pada Kuroko, yang tampak menderita karena dijadikan bantal oleh Power Forward andalan mereka.
"Entah kenapa kok aku deg-degan ya," ucap Tsuchida tiba-tiba, memecah keheningan yang sudah berlangsung cukup lama. Izuki menelengkan kepalanya ke kiri, ucapan temannya barusan tidak bisa ia pahami.
"Deg-degan kenapa?" Hyuuga menyahut dari barisan depan, matanya tetap terkonsentrasi pada buku mengenai sejarah Jepang yang tengah ia baca.
"Yah... soalnya ini kan pertama kalinya kita bertemu sapa dengan orang-orang dari klub basket sekolah lain dalam mode 'normal'."
Konsentrasi Hyuuga langsung pecah saat itu juga.
Koganei, yang duduk di barisan belakang, langsung berteriak penuh antusias dengan tangan kanannya masih memegang konsol game. "Tidak apa-apa, kok, Tsucchi! Biarkan mereka semua terpesona dengan kecantikan kita!"
Mitobe buru-buru menarik Koganei untuk kembali duduk di kursinya, sambil menatap si gadis dengan pandangan yang hanya Tuhan dan Koganei yang bisa mengartikan. Koganei kembali duduk dengan pipi menggembung.
"Sudahlah, tidak usah terlalu memusingkan hal itu," ucap Kiyoshi sambil mengibaskan tangannya. "Dibawa enjoy saja~"
Sementara yang lain mencoba untuk menerapkan kata-kata Kiyoshi barusan untuk tidak terlalu memikirkan reaksi sekolah lain melihat penampilan mereka semua (terkecuali Kagami yang masih terlelap di pangkuan Kuroko—si gadis surai biru memindahkan kepala si gadis surai merah ke pangkuannya lima menit lalu karena ia capek dan Kagami itu berat), Fukuda tampak bingung melihat kapten mereka. Orang yang dimaksud wajahnya merah dan jika dilihat dari matanya yang kosong menatap langit, pikirannya sudah melayang entah ke mana. "Um, kapten, kau tidak apa-apa?"
"Oh, Hyuuga sih paling-paling memikirkan cowok mana yang mau digodanya nanti. Mungkin dia bakal mulai menggoda orang di pagoda terdekat."
"Izuki, buruan mati sana."
"Ah, dia baik-baik saja, tuh."
Fukuda memutuskan untuk tidak berkomentar lebih lanjut.
.
.
"Uwah, tempat ini terpencil sekali, ya..."
Perjalanan panjang mereka akhirnya selesai juga. Di hadapan klub basket Seirin itu kini berdiri sebuah bangunan besar mirip kuil yang merupakan tempat tinggal mereka selama empat hari ke depan. Bangunan itu dikelilingi oleh hutan dengan pohon-pohon yang tinggi menjulang. Mitobe berpikir kalau seandainya ada orang hilang di hutan itu sepertinya tidak akan pernah kembali lagi. Seorang lelaki paruh baya dengan tampang mencurigakan muncul dari pintu utama, nampaknya beliau adalah orang yang menurut Riko harus diwaspadai dengan segenap jiwa dan raga. Dan, melihat wajahnya yang menampakkan senyum mesum, tampaknya orang ini memang berbahaya.
"Selamat datang di penginapan saya. Wah, kalian semua cantik-cantik dan manis-manis, ya."
Furihata rasanya ingin pulang sekarang juga. Kalau begini sih, mendingan mereka menyamar sebagai laki-laki saja. Persetan dengan segala prosedur menyamar yang merepotkan, yang penting bisa menghindari pandangan si bapak yang tampak ingin memangsa mereka semua.
"Ah iya, terima kasih juga sudah menerima kami," ujar Riko seraya membungkuk sopan. Di belakangnya, Kiyoshi dan Hyuuga sudah berjaga-jaga, takut kalau bapak-bapak paruh baya dengan tampang mencurigakan ini tiba-tiba menyerang pelatih mereka yang berharga. "Oh iya, kalau boleh tahu, sekolah apa saja selain kami yang menginap di sini?"
"Totalnya ada enam sekolah ditambah kalian, yang lain sudah sampai duluan. Kalian tahu Kaijou, Shuutoku, Touou, Yosen dan Rakuzan, kan?"
...ini takdir, ya?
Pemilik penginapan kemudian membimbing mereka masuk ke dalam, menuju sebuah ruang besar yang nampaknya semacam tempat berkumpul dan bersantai. Ruangan tersebut amat berisik, mereka bahkan bisa mendengar suara-suara para siswa dari sekolah lawan itu dari jarak cukup jauh. Kuroko sayup-sayup mendengar suara Kise yang berteriak minta ampun pada Kasamatsu, dan suara Miyaji yang mengancam akan melempari Midorima dan Takao dengan nanas. Kiyoshi agak yakin ia mendengar kraukkrauk-Murochin-potatochipsnya-habis-ya-nyamnyam dari dalam sana.
Kunci kamar diberikan pada Riko sebelum si pemilik penginapan permisi sambil meminta maaf karena tidak bisa mengantar mereka masuk ke ruang besar itu serta tidak bisa menunjukkan langsung letak kamarnya dikarenakan satu dan lain hal. Siswi-siswi Seirin menghela napas lega, akhirnya bapak ini pergi juga.
Dengan jantung berdebar keras karena takut membayangkan reaksi orang-orang yang ada di dalam ruangan ketika melihat mereka (termasuk Riko karena dia juga was-was), klub basket Seirin mengawasi pintu ruangan yang dibuka dengan cepat oleh pelatih mereka.
Ketika orang-orang dari sekolah berbeda itu melihat Riko berdiri di ambang pintu, suasana hening mendadak.
"Ah, itu pelatihnya masih cewek, kok. Satsuki, kamu bohong, ya?"
"Dai-chan bego! Yang aku maksud itu kan mereka semua cewek, bukannya mereka semua crossdress!"
"Ah, ternyata yang jadi bahan pembicaraan beneran datang," ujar Wakamatsu dari salah satu sudut ruangan. Di sebelahnya tampak Imayoshi dan Susa sedang bermain gaple. Lho, kenapa dua orang itu juga ada di sini? Bukankah mereka sudah berhenti dari klub basket? Ah sudahlah, itu tidak penting.
Takao muncul dari balik punggung Midorima. "Oh, Seirin! Eh, kenapa cuma ada pelatihnya? Yang lain mana?"
Riko, yang baru menyadari kalau tidak ada satupun yang ikut masuk bersamanya, melongokkan kepalanya keluar hanya untuk mendapati teman-temannya yang lain tengah meringkuk di samping pintu dengan wajah tegang. Sungguh Riko tidak bisa berkomentar apa-apa melihat sikap anak-anak asuhnya yang biasanya penuh semangat dan tidak takut apapun itu. Ia menoleh kembali ke arah serombongan pemuda yang tengah duduk santai bersama di dalam ruangan besar yang sampai sekarang fungsinya masih belum diketahui dengan jelas.
"Maaf ya, sepertinya mereka sedang menyiapkan mental."
"Aku ada di sini, kok."
"GYAAA!"
Dan seperti biasa, hawa keberadaan Kuroko yang sama sekali tidak terasa membuat semua orang kaget bukan kepalang. Si gadis dengan rambut biru muda sepundak itu entah sejak kapan sudah berdiri di sebelah seniornya yang ternyata juga kaget. Tubuhnya yang sejak awal memang mungil tampak lebih mungil lagi di mata para lelaki. Mungkin ini semua efek dari seragam sekolah yang dikenakan Kuroko saat ini. Riko berharap tidak ada pedofil di sekitar sini, karena tampaknya Kuroko memenuhi semua kriteria yang om-om pedo ingini. Semoga saja om-om senang yang jadi pemilik penginapan mereka itu bukan lolicon level tinggi, tapi yang pasti orang itu harus tetap diwaspadai.
"Kurokocchi, kau tampak manis sekali, ssu!"
"Sudah lama sekali aku tidak melihatmu dengan dandanan wanita, Tsuya."
"Hmph. Reaksi kalian semua berlebihan, nanodayo."
"Kurochin, kamu kok kayaknya tambah pendek, ya?"
"Tsuya-chan memang selalu menawan~"
"Satsu, aku serius nggak ngerti sama isi kepalamu. Kukira selama ini kamu normal."
Seperti kata Midorima, reaksi para pemuda lain selain Kiseki no Sedai yang ada di ruangan itu (pelatih mereka sedang berada entah di mana mengurusi entah apa) bisa dibilang berlebihan. Mata mereka terbelalak lebar dan entah ada berapa pasang mata yang menatap Kuroko dengan seksama. Kuroko sampai tidak enak sendiri, dan mundur beberapa langkah ke belakang seniornya yang mulai memasang tampang seram. Tepat pada saat itu, seorang gadis dengan tinggi 180cm masuk dengan wajah tak ramah.
"Oi, berhenti memandangi Kuroko!"
Yak, siapa lagi kalau bukan Kagami.
"Kuroko itu bukan tontonan, jangan dipelototi sampai sebegitunya dong," timpal Kiyoshi yang masuk setelah Kagami sambil tersenyum canggung, yang kemudian merangkulkan lengannya di sekeliling leher Kuroko dengan protektif. Setelah itu, satu per satu anggota klub basket Seirin pun akhirnya masuk ke dalam ruangan. Agaknya mereka semua tak rela Kuroko jadi tontonan semua orang. Salah sendiri, pakai acara sembunyi-sembunyi segala.
Kini Kiseki no Sedai juga ikut kaget. Akashi nyaris menjatuhkan cangkir tehnya. Murasakibara malah sudah menjatuhkan makanannya.
"I-itu beneran Bakagami...?"
"Nah kan! Aku tidak bohong!"
Yang lain sudah kehabisan kata-kata saking kagetnya.
...kecuali Himuro.
"Ya ampun Taiga, lagi-lagi rambutmu kau ikat sembarangan begitu. Kalau Alex tahu bisa-bisa dia ngamuk, lho."
Berbagai pasang mata beralih menoleh ke arah Himuro yang tengah memasang tampang kurang senang. Ia tidak rela melihat Kagami yang tidak begitu peduli terhadap penampilannya, padahal adiknya itu kan manis. Agaknya ia tidak terlalu memusingkan fakta bahwa ternyata teman-teman Kagami juga sama gendernya dengan si gadis dengan tinggi semampai. Sudah terlalu banyak hal aneh terjadi di dunia ini, contoh konkritnya adalah bahwa ada orang dengan tinggi dua meter dengan hobi makan snack tapi tidak juga kena diabetes hidup di dunia.
"Oi Himuro, kau sudah tahu kalau Kagami itu perempuan?!"
"Ya iyalah."
"Rasanya dunia sudah gila..."
Kasihan, sepertinya hati mereka tidak siap untuk menerima semua ini.
Hyuuga menghela napas panjang. Baru juga sampai sudah seheboh ini, bagaimana nanti ke depannya?
"Sudah ya kagetnya," ujarnya dingin. "Oi semuanya, kita taruh barang dulu di kamar."
"Siap, kapten."
Sang kapten berambut hitam langsung berjalan cepat menuju kamar mereka dengan Riko mengekor di belakangnya. Yang lain hanya bertukar pandang, sebelum kemudian menyusul mereka berdua.
Setelah keduabelas gadis itu menghilang dari pandangan, Moriyama langsung jatuh terkapar.
"Oi, Moriyama! Kenapa lagi kamu?!"
Dengan tangan bergetar, Moriyama mencengkeram dada kirinya, sambil memasang wajah memelas yang tampak meminta bantuan. "Bagaimana mungkin aku tidak menyadari kecantikan mereka semua terutama seorang gadis dengan rambut hitam berkilau dan mata elang yang tajam... sungguh aku ini benar-benar seorang yang bodoh..."
Di suatu sudut di penginapan terpencil itu, seorang Izuki Shun bersin mendadak.
"...iya kamu memang bodoh kok. Makasih udah mau sadar."
Kasamatsu tampak tidak mau ambil pusing, sepertinya.
"Jadi... jadi kita semua kalah oleh gadis-gadis manis itu? Para pria dengan kekuatan di atas rata-rata?"
"Jangan lebay."
Okamura memandang Fukui dengan wajah terpukul. Yang bersangkutan hanya memalingkan wajah dengan cuek.
Namun, perkataan sang gorila ada benarnya juga. Ketika kenyataan bahwa mereka semua kalah oleh sekumpulan anak gadis (yang bisa dibilang lebih perkasa daripada mereka) benar-benar sepenuhnya masuk ke otak masing-masing, seisi ruangan langsung sunyi dan beberapa ada yang malah depresi. Seperti Aomine, contohnya, yang masih ngotot tidak percaya bahwa Kagami itu perempuan, hingga akhirnya Momoi memukulnya tanpa ampun di kepala agar ia menerima kenyataan.
Dan begitulah, siang itu berlalu dengan damai.
see you next chapter!
Halo, makasih buat yang sudah baca, review, fav dan follow X3 imajinasi saya liar banget ya...
Nah, udah mulai keliatan kan pairingannya? Sebenernya saya udah nyusun sih dari awal, siapa dengan siapa, walaupun nggak terlalu di-spotlight tapi bakal ada nanti suatu saat (?) chapter yang isinya romance semua. Tapi jangan tanya kapan, soalnya saya juga nggak tau ~w~ /digusur
Buat BakaFujo, Calico Neko dan Unknownwers, KITA SEHATI AHAHAHA /diagila/ /dibuang/ yah pokoknya berarti ada dua pairing yang udah pasti ya. Buat yui-yutikaisy, luwita-marshanugroho (maaf ya nama kalian saya ubah tanda pemisahnya, soalnya kalo pake titik nggak bisa) dan Seithr-Kairy yang ngarep ada AkaKuro, hummm saya rencananya AkaFuri sih, kalo cuma hints doang gapapa? rarateetsuuyaa, itu udah saya kasih beberapa deskripnya ya, entar kapan-kapan mungkin saya gambar beneran terus jadiin cover fic ini deh uhukkalosayarajinuhuk. Untuk IoDwi, kisafuuma, Seijuurou Eisha-chan, UseMyImagination, yuzuru dan ViettaOnyxLV, makasih udah review, ini udah saya lanjutin XD
Sampai jumpa chapter depan! \o/
