"—Karena Eren Jeager jelas milikku."

Rivaille masih bilang Eren milik—DAFFFUUUUUKKKK! Sejak kapan Eren jadi milik Rivaille?! Disuguhi uang segede kotoran titan juga Eren menolak mentah-mentah! HARAM BUNG!

"—A-Apaaa?!"

Pekikan Eren menjadi lagu di seluruh pojok markas Recon Corps pagi itu.

Err…

..

.

. Selamat ya Eren! Sudah jadi pacar Rivaille di dunia serba terbalikmu!

"MAKAN AKU TITAAAAAAAAAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNNNNNNNN!"

.

.

.

Milk Vanilla? Um! Chapter 2

Disclaimer © Isayama Hajime

Warnings! BL, Yaoi, Romance, humor (gagal), Typos (yang nggak jera hinggap di fanfic saya) dan OOC! (parah)

Fanfic ini resmi milik saya, karena bahasa amburadul dan seenak jidat-Connie EYD nggak saya pake

Dan… selamat membaca!

.

.

.

Kepala Eren sekarang benar-benar berat. Tidak, mungkin ini yang paling parah dari sebelumnya.

—Melihat Connie suka kentang? Oke, Eren masih bisa terima. Mikasa memusuhinya? Bisa jadi. Atau kalau nanti ia bakal melihat Mayor Irvin memakai baju balet warna pink, Eren masih bisa tertawa cekakakan.

Tapi tapi… —tapi INIIII?! —Dianggap milik Rivaille sama sekali tidak membuat Eren berteriak kesenangan. Iya lah! Eren masih normal, mbak!

"Eren, kenapa memegangi kepalamu? Kau disleksia?"

Oh. Andai Eren bisa mengidap penyakit mental yang baru disebut Rivaille tadi, Eren rela sekarang. Dimakan titan sekarang juga Eren ikhlas.

"… —tidak apa-apa, Heichou…"

Matanya masih seperti berbayang. Ya ampun, dan apa-apaan sekarang ini? Rivaille berdiri tepat di hadapannya, memandangnya khawatir dengan muka teplonnya, menyentuhkan dahi Rivaille sendiri dengan dahi Eren.

—Ya, dahi ketemu dahi. Jantung Eren sudah skot jump seratus kali.

"Bukan demam, hm?"

Jantung Eren lupa caranya bekerja saat itu juga.

"Ugh… terlalu… dekat, Heichou."

Tangan Eren bergetar, mencoba mendorong tubuh tegap –boncel- Rivaille perlahan. Eren tak pernah menyangka tubuh Korporalnya akan semaskulin ini.

—Wangi sekali kan, Eren?

Eren menggeleng keras. OGAAAHHH!

Beruntungnya, Rivaille segera mengambil selangkah mundur. Eren dapat melihat Rivaille hanya mengendikkan bahu.

"Tidak sakit. Kalau begitu, cepat temui Hanji."

Eh?

"—Eh?!"

—Kok rasanya de javu begini yah?

"Hanji, di labolatorium bawah. Sudah, cepat saja jalan."

Nah loh, Rivaille korporalnya itu bahkan menambahkan dengan tendangan lagi. Jangan-jangan… nanti Hanji akan memberinya minum susu, dan bisa membuatnya kembali ke dunia normal?

Iya nih?!

—Eren berharap sih begitu.

"Ba-baik, Sir!"

Eren segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan. Masa bodoh dengan perutnya yang belum sempat terisi, Eren mau secepatnya kembali melihat kehidupan normalnya.

Bagus! Bagus! Selamat tinggal Connie Si Pemakan Kentang! Selamat tinggal Armin Penendang Pantat! Selamat tinggal semuaaa!

—Dan selamat tinggal Korporal gila! Ha-Ha!

—Oh, Eren Jeager, untung Rivaille Heichou-mu itu tidak dapat mendengar jeritan batinmu barusan. Kalau tidak, mungkin wajah awesome uke-mu itu sudah tertempel sol sepatu.

Brak!

Begitu pintu kayu di ruang bawah tanah itu terbuka, Eren sudah memasang wajah berbinar dengan nafas ngos-ngosan. Terlalu excited dengan bayangan akan kembalinya hidup indahnya.

"Mayor Hanji!"

"EREENNNNN!"

Untuk kedua kalinya, Eren dipeluk seseorang secara tiba-tiba.

"Mana susu vanilla-nya, Mayor?"

"Mana Rivaille-mu, Eren?"

"Susu yang bisa mengembalikan dunia normal saya, Mayor!"

"Iya! Rivaille yang bisa membuatmu jadi tsundere itu, Eren!"

Sama-sama berkilat senang, sepertinya dua makhluk Tuhan ini sama sekali tak mendengar satu sama lain. Cuma menyerukan kebutuhan pribadi.

"Saya ingin segera kembali ke dunia nyata, Mayor!"

"Aku juga ingin melihatmu memeluk Rivaille seperti kemarin, Eren!"

Dan telinga Eren yang buluk baru konek akan pembicaraan mereka berdua yang tak nyambung. Apalagi masalah Rivaille dan dirinya barusan. APAAN TUH?! … PE-LUK?!

"Ano… Mayor…"

"AAH! Kenapa kemarin kalian tidak langsung ciuman di depan mataku?! Kenapa musti masuk ke kamar sih?! Jangan-jangan kalian melakukan 'ITU-ITU' yaaa?! Boleh minta video-nya?! Akan kubeli kok! OKE?!"

Eren jelas melihat liur menetes di ujung bibir Mayor-nya itu.

Ini maksudnya… —Hanji di dunia serba terbalik ini suka melihat hubungan sesama jenis? Ma-Mayor Hanji itu suka melihat Rivaille dan Eren skinship?!

—Cobaan macam apa lagi ini.

Tangan Eren menghentikan gerakan Hanji yang menggoyang-goyangkan bahu Eren maju-mundur. Entah, sebentar lagi itu bahu sengklek dari tempatnya.

"—Mayor!…"

"Eh? Ada apa? –kenapa memasang muka serius begitu? Kau serius mau memberiku videonya, Eren?! Video Rivaille merape-mu ganas dan men— hftttpfts—"

Oalah, tangan Eren sekarang membekap mulut atasannya yang nyerocos tanpa titik. Rupanya otak Eren sudah terlalu stress hingga berani melakukan tindak kekerasan pada atasan seperti ini.

"SUSU! SAYA MAU MINUM SUSU, MAYOR HANJIIII!"

"—Eh?"

Kali ini telinga Hanji yang buluk dan budek?

"Saya… saya…" Eren bingung, entah mau menjelaskan darimana dan bagaimana. "—Itu, kemarin Mayor memberi saya susu Vanilla. Setelah meminum itu, entah kenapa, semuanya berubah Mayor. Armin… -Mikasa… -Jean… dan Heichou! Semuanya jadi aneh, Mayor Hanji! Bahkan Anda!"

Akhirnya! Akhirnya Eren bisa mengeluarkan semua unek-unek di dalam kepalanya.

Hanji diam sesaat.

Sepertinya sih berpikir.

"Aku… memberimu susu ya, kemarin?"

Eren mengangguk.

"Rasa vanilla, dan semuanya… berubah?" Hanji mengulang penjelasan Eren.

"Yap, Mayor!"

"—OH!"

Satu tepukan tangan, dan hati Eren rasanya berbunga-bunga sekarang. Terima kasih, terima kasih karena sebentar lagi Mayor Hanji akan memberi penawar obat dalam susu-nya yang membuat Eren berdelusi dan—

"Jadi obat PERANGSANG-nya berhasil?! Kau dan Rivaille anu-anu, kan?! Berapa ronde? Berapa?!"

—Oh.

Makan Eren sekarang saja deh, Bean, Sawney.

"JADI ANDA TIDAK INGAT KEJADIAN KEMARIN?! SAAT ANDA BILANG ANDA PERGI DULUAN KARENA MAU MENGEJAR KUPU-KUPU LALU SAYA MINUM SUSU DARI ANDA DAN BESOKNYA RIVAILLE HEICHOU BERKATA SAYA MILIKNYA DAN MENEMPELKAN KENING DI JIDAT SAYA LALU JANTUNG SAYA BERDETAK KENCANG, ANDA TIDAK INGAT?!"

—Eren, paru-parumu kuat banget bicara sebanyak itu. Keren deh.

"… Eren kau—… mabuk?"

Pemuda setengah titan itu menjambak rambutnya. Frustasi sekali uy!

"Bagaimana caranya untuk kembali ke dunia normal saya, Mayoorrrr?!" jerit Eren, suaranya jelas sangat terdengar nelangsa.

—Malang kau nak.

"Apa aku harus memanggil… -kekasihmu, Rivaille? Mungkin bisa membantu?"

Senyum innocent Hanji, lima jari.

Dan Eren membenturkan jidatnya ke dinding.

—Iya, bener kok. Eren bener-bener menghantupkan dahi ke tembok batu di ruangan itu. Siapa tahu bisa sadarkan diri dari kepribadian Hanji yang lebih ngeri. Bukan Titanfreak lagi, ini sih RivaiErenfreak.

DUKKK!

"EREN!"

—Nah loh, sekarang mata Eren berkunang-kunang dan pandangannya menggelap. Rasanya seperti akan pingsan.

—Iya, kekerasan sih jedotinnya ke tembok, pingsan kan jadinya.

Bruk!

Gelap.

.

.

.

"Bagaimana cara membangunkan kerbau tidur ini, Hanji?"

Suara… —Rivaille heichou ya?

"Keuhehehe. Bagaimana kalau begini?"

—Suara… Mayor Hanji?

"APA-APAAN KAU HAN— !"

Loh, kok rasanya dahi Eren jadi hangat ya?

Mata Eren yang tadi tertutup, kini mulai secara perlahan membuka. Kepalanya benar-benar pusing, seperti sudah tidur dua hari dan baru bangun kali ini.

"—Uuh…"

Eren memegangi kepalanya. Sakit, masih.

"Eh? Sudah bangun? Nah, berhasil kan, Rivaille?"

Mata Eren mengerjap beberapa kali. Ia masih berusaha mencari kesadaran penuh. Pandangannya yang kabur mulai jernih.

Ya, ia bisa melihat leher jenjang seseorang.

Juga rahang yang tegas.

Ditambah sehelai cravat putih yang berada tepat di depan matanya.

—Ah, cravat itu kan, benda kesukaan Rivaille Heichou yang melilit di lehernya seperti dasi itu kan?

Rivaille… Rivaille…

.

—Berarti… .—Ini yang ada tepat di depan wajahnya Sir Rivaille?! DEMI APAAAH?!

"Heichou!"

Eren mendorong bahu Rivaille agar menjauh. Refleks.

…—Ini… dahinya hangat karena Rivaille barusan menciumnya?

Ci- CIUUUMMM?!

"Tch! Apa-apaan mendorongku tadi, Hanji sialan?"

"… Hehehe..."

Hanji yang nyengir lebar.

—Mata Eren mengerjap.

Dan Rivaille yang mendengus kesal.

—Mengerjap, sekali lagi mata Eren melakukan pemulihan.

"Jadi Eren, sudah kembali ke dunia normal, eh?"

Normal? Dunia… —normal? Otak Eren memproses ulang ucapan Hanji barusan.

Dan mata Eren langsung membelalak.

"Aku sudah kembali?!"

"—Yep!"

Eren tersenyum lebar. Sangat lebar. Ia bahkan sudah bangkit dari ranjangnya dan memeluk tubuh atasannya –Hanji— dengan perasaan luar biasa bahagia.

"SAYA SUDAH KEMBALI MAYOR HANJII!"

Eren berteriak kegirangan di dalam pelukan Hanji. Aduh, ini sinetron sekali, Ren.

"Iya, Eren, kau sudah kembali."

Hanji melepas pelukan –maut- Eren dan memandang Eren penuh binar.

"Jadi… bagaimana mimpi di dunia terbalikmu? Ceritakan padaku ya."

.

.

.

Dengan satu anggukan terakhir, Eren mengakhiri cerita panjang lebar tentang dunia aneh yang baru ia alami pada Hanji dan Rivaille. Hanji mendengarkan secara menyeluruh, khidmat dan seksama, sedangkan satu makhluk ceb—iya deh iya, satu makhluk MAHA tinggi di sampingnya hanya mendengarkan sekenanya sambil mendecih.

Rivaille sepertinya sangat risih.

"Jadi… —disana aku menganggap kau sebagai kekasihku?"

Sangat. Risih. Eren sempat melihat kaki Rivaille seperti ingin menyiapkan kuda-kuda tendangan maut saat Eren menceritakan bagian Rivaille menjadikan Eren sebagai hak miliknya.

"I-iya, Heichou…"

"—Tch. Dasar bodoh."

Eren mencelos.

—Iya, iya, Eren tahu kok situ orang sempurna! Pinter, putih, tampan, cekatan, hebat, wowow plus menawan. Tapi tetep cebol, kan? Eren lebih tinggi, kan?

—Rasa-rasanya Eren ingin menjeritkan ucapan batinnya barusan. Tapi Eren masih sayang gigi yang baru tumbuh kemarin.

"Berarti eksperimenku berhasil! Yosh!"

Hanji berdiri sambil tepuk tangan sendiri. Bangga sekali sudah menelangsakan hidup bawahanmu, Mbang Hanji.

"A-ano… Mayor, bisa jelaskan kenapa saya bisa bermimpi seperti itu? Apa memang karena minuman yang Mayor berikan kemarin?"

"IYEP!"

"Jelaskan, Hanji." Rivaille. Memandang tajam.

"Iya, iya, rilekskan otot matamu itu, Rivaille. Jelek sekali," kritik Hanji. Tak sayang gigi Mayor satu ini, batin Eren.

"—Tch."

"Nah, jadi Eren, akan kujelaskan sejelas-jelasnya oke?!"

"Tidak. Perlu. Panjang. Lebar. Titanfreak."

Mulut Eren sudah akan membuka, tapi Rivaille sudah memotong ucapannya.

Hanji memajukan bibirnya. "Oke, oke. Jadi nama minuman itu 'Larutan Pembalik Mimpi'. –Ah, memang namanya masih belum keren. Kalau kalian punya usul nama yang bagus, beri tahu aku ya!"

Rivaille dan Eren memutar mata bersamaan mendengar ucapan Hanji. –Ya ampun, muter mata barengan, kalian jodoh sekali.

"Jelaskan saja fungsi minuman itu, Hanji."

Mulut Hanji maju dan membentuk angka tiga melihat respon datar Rivaille.

"Sesuai namanya, kan. Setiap kau bermimpi, kau akan memimpikan dunia yang terbalik dari kenyataan. Keren kan?!"

Hanji mengacungkan jempol ke depan wajah Eren Rivaille. Oh, bocah sekali.

"Ano… memang, kegunaannya untuk menumpas Titan apa ya, Mayor?" tanya Eren sambil menatap Hanji bingung.

Rivaille ikut memandang Hanji. Tatapan membunuh, tapinya. "Ya. Apa gunanya?"

"Agar nanti semua titan bisa tidur nyenyak! Kurasa selama ini mereka pasti mimpi buruk kalau terus-terusan tidur di luar, beralaskan rumput dan berselimut langit malam. –Aah, kasihannya. Jadi mereka bisa dapat istirahat yang cukup. Bagus, kan?!"

Sekali lagi, acungan jempol dari si kuncir kuda kepada dua pria di depannya.

Dan kali ini, hanya suara 'kh' dari mulut si kont- ah, iya iya, Si Tinggi Menjulang Rivaille.

"Jeager."

"Eh? Ya, Sir?"

"Bisa siapkan setumpuk kayu bakar dan tiang besar di lapangan depan?"

"…—Untuk?"

"Membakar daging Mayor kita dan menyantapkannya ke Titan botak. Siapa tahu rambut titan bisa tumbuh akibat nutrisi manusia tanpa gender semacam dia."

Dan Hanji diam sejenak.

"Aah~ Rivaille, kau bisa saja yah…"

—Oh, maso kah dia?

.

.

.

"Eren, kenapa makanmu sedikit sekali?"

"Ugh. Yah… a-aku tidak mood makan sih," jawab Eren sekenanya, dengan cengiran bocah untuk Mikasa yang barusan bertanya.

Setelah di-interogasi oleh Hanji dan Rivaille pagi tadi, Eren segera pergi ke ruang makan mengisi perutnya yang keroncongan. Dan sekarang disinilah Eren Jeager, bersama anggota Recon Corps seumurannya. Dunia normalnya.

"Tadi kau kesiangan ya, Eren? Kok bisa?" kali ini Armin bertanya, sambil mengemut sendok makannya. –Uuh, kyun-kyun sekali.

"I-iya. Semalam… mimpi buruk."

IYA! Mimpi buruk BANGET Armin! Setiap ingat dirimu menciumkan sepatu boot itu ke perut tanpa otot seksi ini, rasanya masih nyeri di ulu hati, Min!

—Oh, Eren mau berteriak tiga oktaf pada sahabat manisnya ini.

"Sialan, kau tidak dihukum heh. Tadi padahal aku dan Sasha juga kesiangan, tapi Rivaille Heichou menyuruhku lari keliling lapangan sampai Sasha mau berhenti mengemut kentang. –Kampret, tuh anak cinta banget sama karbo coklat campur tanah pula!" Connie ikut nimbrung, sambil sedikit mengurut kakinya. Kram.

"He-he… He…"

Sebenarnya Eren ingin tertawa sekarang. Tapi melihat wajah Connie, entah kenapa bayangan teman botaknya yang sedang menggerayangi tubuh kentang meluncur ke dalam otaknya.

—Ugh, jadinya ia cuma bisa tertawa garing macam barusan. Mimpinya itu benar-benar merepotkan.

"Mimpi… sialan… susu… Hanji... edan…"

"Eren, kau sedang merapal mantera?" Armin mengangkat alis.

"Ehm, ti-tidak," Eren mengibaskan tangan kanannya. "—cuma santet cadangan untuk Mayor Hanji," tambahnya, mencicit.

—Yaah, siapa tahu sumpahan dari dalam hati Eren yang terdalam bisa membunuh satu orang tak ber-gender itu kan?

.

.

.

"SIR! Ta-tapi… itu… tidak mungkin, kan?"

"Jeager. Aku selalu serius, bukan?"

"I-iya sih. Tapi…Sir, yang barusan Anda katakan itu, sa-saya jelas tidak bisa melakukannya," Eren menjawab secara jujur.

"Kau hanya perlu membaringkan diri di ranjang. Mudah."

"Ta-tapi Sir…"

"Sekarang."

"—U-uh," Eren memberengutkan bibirnya.

Eren bangkit dan mendudukkan pantatnya di ranjangnya sendiri. Rasanya benar-benar tidak masuk akal dengan apa yang baru saja atasannya itu perintahkan.

"Berbaring, Jeager. Kau tahu aku sudah sendiri sudah tidak kuat, kan?" Rivaille membuang wajahnya ke samping. "—Tch."

"He-heichou sendiri tidak kuat. A-apalagi saya Sir!"

"Itu masalahmu, Bocah."

Ya Shadis Botak! Rivaille sungguhan Maso ya?!

"S-sir…" Eren masih mencicit ketakutan.

"Cepat. Jeager."

"T-tapi... —TAPI SAYA TIDAK MUNGKIN SEENAKNYA TIDUR KALAU NANTI MASIH BISA MIMPI BURUK AKIBAT MINUMAN MAYOR HANJI, SIR!"

—Oalah, takut tidur gegara efek susu vanilla Hanji toh. Dikira daritadi mau ehem-ehem-an.

"Cepat tidur atau aku akan menyumpal mulut lebarmu dengan sandal kelinci kesukaan Irvin, JEAGER!"

Dan BLAM! Sikap tak berperi-kepintuan Rivaille lenyap bersama sosok Rivaille yang pergi dari kamar Eren.

Nyawa Eren lenyap juga. Lenyap semua.

Setengah lenyap akibat suara debaman pintu Rivaille yang super kenceng.

—Setengah lagi, akibat teriakan Rivaille padanya. Dia tidak menyangka… —Mayor Irvin punya sandal kelinci yang sepertinya berwarna pink.

Cocok sekali untuk Irvin yang macho kan, Eren? –Iya, jawab aja iya.

"Uuh… begadang saja ya mungkin?"

Eren bergidik ngeri. Bisa saja kan nanti dia bermimpi Christa angkat besi dengan celana super sempit ala atlet?!

Ho-oh, lagi-lagi Eren merinding.

.

.

.

.: TBC :.

A/N : Uwaaahh~ nggak nyangka fanfic ini bakal diterima dengan hangat! WOW! WOOWW~ /joget-joget sendiri

Thanks to OurieChrome (Ahaha, towel-an Anda pada Heichou bikin saya ngikik! Hehe, awalnya saya bingung ini musti Oneshoot ato Chapteran loh u,u. dan review Anda! Saya sukaaa!), Kim Arlein 17 (Iya, itu mbang Hanji berjasa loh buat Eren ketemu Rivaille yang seductive, kekke~ Makasii udah review yah!), Nacchan Sakura (makasih buat pemberitahuan typos saya yah! Membantu sekali! Dan, hahay, itu kata-kata 'ehn'nya bikin saya jadi mikir yang engga" juga u.u tehee), Adelia-chan (Huaaaa! Saya suka caps Anda yang jebol! Ituh ide Anda tentang bang Irvin, Dot Pixis dan Shadis boleh saya pake buat chap 3 nanti? /sogok pake sikatgigi –bekas- Rivaille), Mir-acleKim (yepyep! Anda benar! Minuman Hanji emang biang keladinya!), Azure'czar (Uwaaaa! Review Anda yang panjang sangat menyemangati loh! Itu itu.. Aduh, nggak bisa bayangin Connie yang ehem-an sama Potato-chan, kyaha! Dan makasih karena mau menginvasi kotak review saya! /hughug) p.s : saya bayangin Anda lari pontang-panting /entah kenapa /tehee), sessho ryu (Iya, yang minum abang Eren doang, jadi disini ceritanya si Eren mimpi buruk dunia kebalik gegara minuman Hanji. Reviewnya makasih ya!), dan Sora Tsubameki (Wooow, mencari kesempatan buat nyium mbak Annie nih! /ikut dund! /plakplak. Gehehey, bang Rivaille emang pedo, suka sama daun muda. Makasih buat reviewnya yah!).

/Yep, entah kenapa ini ucapan makasih jadi panjaangggggg sekali, macam pidato Irvin u.u

Makasih buat semua yang sudah Review! Review Anda semua bener-bener jadi toksin buat saya! Saya cinta kaliaannn! /peluk satu-satu /dihantam reader asal peluk

Okeh, jadi apakah sudah jelas kenapa Eren bisa ada di dunia mimpi? Ahahaha, berterima kasihlah pada minuman Hanji, Eren. Kau bisa merasakan bagaimana rasanya jadi uke seorang Rivaille~

Dan mimpi Eren nanti rencana saya sih akan berlanjut. Kalau reader sekalian punya ide apapun buat OOC chara nanti, tolong berikan ke saya ya! Ide saya sudah mampet ini!

Dan –lagi- saya rencananya bakal update tiap minggu, jumat ato sabtu /info ngga penting~

Jadi, jadi, OOC!Hanji itu seorang fujoshi akut!

Jadi, jadi, OOC!Connie itu potato-fetish!

Jadi, jadi, OOC!Armin itu sadistic!

Jadi, jadi, Rivaille itu tampann sekaliiii!

Jadi,jadi…. Berkenan meninggalkan Review? u,u