"Uuh… begadang saja ya mungkin?"
Eren bergidik ngeri. Bisa saja kan nanti dia bermimpi Christa angkat besi dengan celana super sempit ala atlet?!
Ho-oh, lagi-lagi Eren merinding.
.
.
.
Milk Vanilla? Um! Chapter 3
Disclaimer © Isayama Hajime
Warnings! BL, Yaoi dan cecurutnya, Humor (gagal bertebaran), Typos (oke, ini pasti ada /tehee~), OOC! (sangat nistah) dan DLDR!
Okeh?
—Oh iya, fanfic ini aseli punya saya karena tulisan saya yang khas kehancurannya u.u
Dan… silahkan dibaca ya!
.
.
.
Ini sudah putaran kedelapan belas Eren membolak-balikkan tubuhnya, mengitari ranjang kamarnya dengan perasaan gundah gulana. Dan tolong jangan tanya kenapa cowok manis bermata safir hijau ini bisa keliatan macam remaja telat datang bulan, penuh aura kecemasan.
—Iya, cemas bakal mimpi aneh lagi kan, Ren?
"Uuh…"
Eren menggelengkan kepalanya keras. Berusaha menyadarkan diri dari kantuk yang mulai menyerangnya.
Tidak, Eren musti kuat! Eren nggak boleh tidur dulu! Jangan! Tatakae Eren!
—Batin Eren menjerit penuh semangat, sedangkan mata Eren sudah menutup setengah.
Pluk pluk!
Tangan putih Eren memukul pipinya sendiri, berharap cara ini bisa dipakai untuk menghilangkan efek ngantuk setengah watt-nya.
Biarkan saja matanya merah. Biarkan saja ada kantung seperti panda di bawah kelopaknya. Biar saja kepalanya sudah sangat berat dan tergoda aroma bantal.
—Iyalah! Daripada ntar mimpi ketemu Berthlodt main drama musikal bareng Reiner main opera sabun, Eren lebih milih pilihan yang awal.
Ujung mata emerald Eren bisa melihat ranjang empuknya seakan memiliki wajah yang mengejek. Uuh, Eren sudah berniat begadang nih.
Tidur saja Eren… Suara imajinasi menyerang bocah setengah titan itu.
Enggak enggak! –Eren menggeleng kencang.
Masa nggak ngantuk sih? Kan siang tadi udah nggak bobo, iya kan?
EMOH! OGAH! NO WAY! Diam lu ranjang kapuk! –sekarang Eren menendang kasur tak bernyawa itu.
—Pelampiasan ke sembarang benda nih anak.
"—Eren?"
Eh? –siapa?
Eren memutar tubuhnya ke belakang, menemukan sosok Armin Arlert manis yang memegang segelas likuid putih bernama susu di atas sebuah baki.
—Bulu kuduk Eren otomatis berdiri. Efek dari trauma sama susu putih.
"Armin? Ada apa?"
Armin tersenyum lembut sambil meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja kecil di samping tempat tidur sahabatnya itu.
"Seharian ini, sepertinya kau kurang enak badan. Jadi, yah, siapa tahu ini bisa sedikit membantu."
Ucapan lembut. Jangan lupa dengan senyuman ikhlas. –Oh, malaikat sekali dirimu, Nak Armin.
"—Hoo, kalau begitu, terima kasih."
Armin menggaruk tengkuknya. "Um. Kalau begitu, selamat malam."
"Um!"
Eren meraih gelas susu buatan Armin. Ini kan buatan Armin, pasti aman wal'afiat kan?
Gluk gluk gluk.
Seperempat, setengah, hingga nyaris habis cairan manis vanilla itu masuk melewati kerongkongan Eren. Hampir habis, hingga—
"Oh iya, Eren. Nanti baki-nya letakkan di kamar Mayor Hanji ya. Tadi yang memberi susunya Mayor,"
OHHHOOOOOOOOEEEEKKKKKKKKK!
—A-atasannya itu lagi?! Ini nanti susu putihnya ditambahi ramuan apa lagi?!
"AP—"
Syuut~
Seketika mata Eren menutup sempurna, dan tubuhnya merosot jatuh di atas ranjang. Dengan dengkuran lembut dari bibirnya, tentu saja.
Sedang Armin yang cuma menongolkan kepalanya di pintu kamar, diam sesaat.
"—Oh. Eren biasa minum susu sebelum tidur ya? Pantas tadi seperti orang insom. Mayor Hanji tahu itu ya?"
Maigott Armin, apa dirimu tak mendengar suara kekehan nista dari kamar atasan berambut coklat ponytail di atas? Itu susu pasti sudah dikasih apa-apa deh.
"Selamat tidur, Eren," –Armin menutup pintu.
… Dan Hanji tertawa mesum dari kamarnya sendiri.
"—Semoga mimpi diperkosa Rivaille, Eren."
—Oh iya, tangan Hanji memegangi sebuah botol kecil. Tulisannya sih—…
…'Obat Tidur Super-Efektif'.
.
.
.
"Nnggh…"
Bukan desahan ya, ini cuma suara Eren baru bangun.
"Pagi, Eren!"
Pirang… pirang… Armin?
"Annie! Sudah acara meluk-memeluknya, Eren sudah bangun."
Mirip suara kuda, berarti Jean.
—Dan Annie memeluknya?
Oh.
Dunia kebalik lagi toh.
Eren cuma bisa facepalm. Udah sesuai prediksi Eren kok.
"Iya iya, Jean! U-uh!"
Annie melepas pelukan 'salam-selamat-pagi'nya dari Eren dan membiarkan pemuda berambut kayu manis itu untuk bangun dari posisi berbaringnya.
"Pagi, Annie. Ugh –Pagi, Jean."
Memang berat sih mengucapkan salam pada rival sejati.
"Pagi, Eren!"
"Pagii~"
Dan rasanya belum terbiasa gitu dapat senyuman lebar lima jempol kaki sepagi ini.
Eren bangkit dari ranjangnya. Mengambil handuk yang menggantung di belakang pintu kamarnya. Dan demi Pixis nari kecak, ini handuknya sejak kapan bergambar Titan The Pooh?
"Aku mandi dulu ya, Jean, Annie."
—Mencoba hidup normal di dalam mimpi abnormal. Eren mencoba.
Selamat datang, dunia mimpi indahku, —Eren menangis dalam batin.
.
.
.
Sebuah kedutan muncul di dahi Eren.
"Mbang Hanjiii~ Mbang Hanji, orang terlanjur kayaa—"
Dua kedutan segede jagung kembali muncul.
"Mbang Hanjiiii~ Mbang Hanji…"
Dan hidung yang kembang-kempis ikut meramaikan keadaan wajah Eren sekarang.
—SUMVAHH! Ini kenapa Bertdholt musti nyanyi di dalam kamar mandi anak cowok sih?! Pencemaran suara tahu! BISIIINGG!
DOK DOK DOKKKK!
"Berisik berisik!"
Dengan semangat Tatakae-nya, Eren menggedor-gedor dinding pembatas shower yang berada di sampingnya. Arah sumber bunyi laknat berasal.
"—Oh? Eren ya?!"
"Iya! Kenapa, hah?"
"—Nyanyi bareng, yok!"
MAMA SHADIS PAKE SEMVAK MERAH DI DEPAN TITAN MOE! Anak tinggi menjulang ini mengerti privasi saat mandi dan ucapan sabar ada batasnya tidak sih?!
"—Nng, Eren? …Eren?"
"Berthdolt."
"Iya?"
"Lagi sabunan nggak?"
"Eh? Iya, memang kenapa?"
"BISA NGGAK PINJEM SABUNNYA BUAT NUTUP TELINGA?! PENGEN BUDEK SEKALI AJA NIH!"
…
Hening sejenak.
"Wah!"
"?"
"Eren, ternyata lubang telingamu sebesar itu yah! Keren!"
Mau gigit penutup toilet deh rasanya.
.
.
.
Siang itu, setelah sarapan di aula besar, semua pasukan Recon Corps berkumpul di ruangan rapat dan menyiapkan strategi untuk misi berikutnya. Sebuah ruangan luas dengan meja-meja panjang, hampir mirip dengan aula besar, namun terkesan lebih tertutup dan kaku.
Jean terlihat menguap lebar, menunggu para atasan datang memang membosankan.
Ia melirik Eren yang duduk disampingnya.
Jean sadar, Eren terlihat sangat malas. Biasanya anak ini penuh semangat berkoar-koar, kan? Apa jangan-jangan—
"—Kau berantem sama Rivaille heichou?"
Eren batuk-batuk seketika.
"Apa-apaan itu, hah?!"
Alis Jean naik sebelah. "Loh? Kan beliau kekasihmu. Tidak salah, kan?"
Eren membuang muka, ogah-ogahan. Ditambah dengan rentetan kata hewan yang meluncur, entah untuk siapa. Yang pasti telinga Jean sempat mendengar kata 'titanfreak' didalam rapalan Eren.
"Reiner!"
Mata Eren berputar.
Ada Christa, Ymir, Berthdolt dan Reiner di barisan duduk kedua di depannya. Sepertinya sih mereka bertengkar. –Ah, paling-paling juga saling memperebutkan Christa.
Ymir vs Reiner.
—Itu sih kalau di dunia nyata, Eren Jeager uke-forevaa. Ingat Anda ada dimana.
"Jangan menganggu Ymir lagi, bisa tidak sih?! Ymir terlalu baik untuk mengatakan tidak padamu. Dia padahal risih, tahu?!"
Teriakan Christa.
Telinga Eren berkedut setengah. Seharusnya dewi Christa tidak bisa teriak—
…—kan?
"Ch-Christa. Sudahlah… Reiner kan cuma sekedar menyapa kita." Suara lembut Ymir terdengar menimpali.
Oh MAMAMIA. Jiwa raga Eren sudah lelah dengan ini semua. Lelah, Mama.
"TUH! Ymir saja tidak keberatan kalau aku ada disini, Christa." Suara Reiner terdengar.
Buk!
Lebaman biru muncul di pipi Reiner seketika. Sakit kah nak dipukul seorang malaikat Christa?
—Pengennya sih Eren tanya begitu ke Reiner.
"Diam saja kau, berisik!"
"Sudah sudah," Bertdholt mencoba menengahi. "Jangan berkelahi. Dilarang loh! Berjudi juga dilarang."
—Ini nyambung-nya darimana, Bang?
"Sudah pernah dengar lagu ini, kan?"
—Dan Berthdolt mulai membuka mulutnya.
Mata Eren membulat. Horror.
"JUD—"
"STOOOOOPPPPPPP!"
Dengan cekatan, Eren meraih kentang di tangan Connie yang ada di sebelah kirinya dan –hup! Masuk ke mulut Berthdolt dengan sempuran. Three point shoot!
"POTATO-CHANNNN!"
Jeritan penuh derita Connie yang sekarang menggema.
Tubuh ala monkey-king Connie segera melompat, terbang menuju tubuh tinggi Berthdolt di depannya. Mencoba menyelamatkan sosok kekasih penuh gizi pengisi perutnya itu dari jilatan bibir mengerikan monster Berthdolt.
—Nak Connie, kau keseringan nonton film action deh.
"Potato-chanchan-KUUU~"
Sepertinya Connie sudah tak peduli bahwa kentangnya itu masih berbekas liur Berthdolt, dan malah menimang-nimangnya dengan penuh kasih.
"—Cup cup cupp… Papa disini untukmu."
Otak Eren koma sebelah! Tolong koneksinya lambat sekali ini!
Dengan lungai, Eren berdiri dan beralih dari tempatnya duduk. Menuju bagian pojokan di sudut ruangan. Sepertinya dia memang butuh tempat untuk menetralkan pikiran.
"Christa makin garang saja, —ya?"
Sebuah suara yang Eren kenal. Tapi bukankah… seharusnya pemilik suara ini sudah—
"—Ma-Marco?"
Sungguh. Marco sungguh-sungguh ada di samping Eren, duduk bersandar dinding di lantai, sama sepertinya. –Bagaimana bisa?
"Iya, Eren. Kenapa memasang muka kaget begitu? Seperti aku sudah mati dimakan titan saja," ucap Marco sambil geleng-geleng.
Ini… —nyata, kan?
Sebuah senyuman lebar langsung menghiasi wajah Eren.
"MARCO!"
Refleks, ia memeluk tubuh temannya ini. Bertemu Marco lagi! Ya ampun, kalau Jean asli bisa masuk ke mimpi ini, Eren tidak tahu akan bagaimana wajah kuda-nya terkejut.
"Uh, Eren. Pe-pelukanmu… terlalu kencang, ugh."
Pelukan maut. Apalagi Eren sedang bahagia begitu.
Jadi Eren melepas pelukannya dan menatap Marco berbinar. "As-ta-ga… Ternyata mimpi ini tidak buruk-buruk amat."
"—Mimpi?"
Eren mengibaskan tangannya. "—tidak, tidak. Aku cuma asal bicara kok tadi."
Menjelaskan bahwa dunia ini cuma dunia mimpi Eren, itu hal yang mustahil.
"—Jadi, bagaimana kabarmu? Kau sehat, kan?"
Kerutan di dahi Marco makin bertambah. "Padahal kita kemarin pagi juga bertemu, loh. Kau… sakit, eh?"
Tidak. Eren tidak akan sakit kalau tahu bahwa semua temannya yang telah meninggal akan kembali hidup seperti ini.
Semuanya. Seperti dulu lagi.
Lengkap.
"—Aah, indah sekali," Eren memejamkan matanya.
Marco duduk sedikit menjauh. "Anak ini benar-benar sakit."
.
.
.
"Jadi, tugas kita akan menjaga bagian barat laut Shiganshina. Perhatikan semua titan, apa mereka berperilaku normal atau tidak."
Penjelasan singkat Rivaille ditanggapi anggukan patuh dari semua anggota Recon Corps. Rivaille menatap puas dan melanjutkan ucapannya.
"Setiap kuda akan dinaiki dua orang. Kita tidak butuh membuang tenaga semua kuda hanya untuk mengawasi mereka. Dan di luar Irvin akan menjelaskan rute perjalanannya. Mengerti?"
"Yes, SIR!"
Semua pasukan Recon Corps berdiri dan keluar dari ruang rapat. Berjalan beriringan dalam rombongan besar menuju gerbang luar markas.
Eren menatap sekelilingnya. Memang sungguhan, semua anggota masih lengkap seperti dulu. Thomas, Marco, mereka yang sudah mati kini hidup. Aah, sejak kapan Eren menikmati hidup serba terbaliknya ini?
—Iya sih, mulai menikmati. Sebelum kau melihat atasan yang satu ini, nak Jeager.
"Okeh, semua orang sudah berkumpul kan?"
Suara Irvin yang sangat dikenal Eren menggelegar diantara hiruk-pikuk itu. Mata hijau Eren bisa melihat, tubuh tegap sempurna Irvin berdiri di depan pasukan bersama Hanji, Mike dan Rivaille. Bahkan Eren dapat melihat Petra, Erd, Ghunter dan Auruo yang berdebat kecil di belakang Rivaille.
Tuh! Ada yang hidup lagi kan! –Eren memekik girang, menahan diri untuk tidak memeluk semuanya seperti saat ia bertemu Marco tadi.
"Semua kuda sudah dipersiapkan. Cari teman sekuda kalian, dan tunggu instruksi dariku selanjutnya."
Setiap orang mulai sibuk menoleh kanan-kiri, mencari teman.
"—Oh ya, satu lagi."
Suara Irvin kembali terdengar.
"—Jangan sampai kelelahan dalam misi ini. Ini hanya pengawasan. Tapi aku juga tidak mau ada yang sembrono dan melalaikan tugas. Pokoknya, SUSUME yaaww~"
ASDJKGFDJKTITANMOECIUMTITANFAUZIKARENADISELINGKUHI NSMILETITAANNNN!
—KEDIPAAAANNNN! EREN BERANI SUMPAH POCONG TADI MATA IRVIN MENGEDIP MANIS! APA LAGI INIIIIIIHHH?!
"…—Eren. Kenapa mukamu pucat pasi begitu? Kebelet pipis?"
Jean bertanya bingung.
Ah, iya.
Eren mau pipis di lubang hidung Irvin.
.
.
.
Mata Eren memutar jengah. Sudah hampir lima belas menit ia menyaksikan Jean dan Annie berteriak satu sama lain, meributkan siapa yang akan satu kuda dengan Eren.
—Aduh, Eren pusing sendiri.
"Sudah, Jean, Annie. Daripada kalian terus-terusan ribut, aku cari teman yang lain. Kalian satu kuda saja ya."
"Ehh?!" teriakan protes.
Kemudian pandangan Eren menyisir sekeliling.
—Hmm… ada Armin. Tapi dilihat dari betapa garangnya anak satu itu, sepertinya Eren tidak akan satu kuda. Bisa-bisa malah ditendang ke deretan gigi titan malah.
Oh, ada Mikasa di ujung sana. Batin Eren berteriak girang.
—sebelum melihat tatapan laser mematikan dari Mikasa, yang kemudian memilih satu kuda dengan Armin.
—Oh iya, mereka kan rival kalau disini. Eren lupa.
Hm hm, Marco? Anak itu sudah sama Thomas.
Connie? Bertengkar hebat dengan Sasha. Meributkan apakah membawa dua karung kentang rebus di sisi kanan-kiri kuda diperbolehkan. Dan Sasha jelas menolak, katanya alergi umbi-umbian.
Jadi… sama siapa nih?
..
.. —Jiiit~
"Ugh,"
Eren menyesal memandang ke segala arah tadi, soalnya sekarang matanya bertemu dengan sepasang mata hitam tajam yang sudah duduk menunggangi kuda di samping kuda Irvin-Mike.
Dan jari telunjuk makhluk Tuhan paling boncel itu terangkat. Bergerak memerintahkan agar Eren mendekat.
"A-ada apa, Heichou?"
Eren sudah berada di samping kuda Rivaille.
Dan apa-apaan seringaian ITU?! Seneng ya karena bisa lebih tinggi dari Eren kalau ada di atas kuda begitu?!
"Naik. Bocah."
Badan Eren bergidik ngeri.
Tangan Rivaille menepuk punggung kuda –tepat di depan duduknya.
"—Du-duduk disitu?"
"Iya. Apalagi kalau bukan, Eren?" Rivaille mendengus keras. "Kau kekasihku. Bukannya normal kalau begini?"
Dan tubuh Eren tiba-tiba terangkat. Entah bagaimana –atau entah sekuat apa Rivaille sebenarnya- karena bisa mengangkat badan Eren sehingga terduduk di depannya.
Lalu tangan Rivaille memegang kendali kuda. Membuat tubuh tegapnya seakan mendekap Eren dari belakang.
Eren menahan nafas kuat-kuat. Ini kenapa jantungnya ikut kerja abnormal?!
"U-ugh… agak menjauh, he-heichou," cicit Eren dalam dekapan Rivaille.
"—hm? Apa?"
"Ini… —terlalu dekat," Eren yakin wajahnya sudah seperti direbus sekarang.
Rivaille menyeringai. "Aku harus memegang kendali kuda, Eren."
Suara dalam Rivaille yang terdengar begitu dekat dengan telinga Eren membuat degup jantung Eren makin menggila. Ia memegangi dadanya, mencoba mengontrol organ dalamnya yang nakal.
"I-Iya sih… Ta-tapi…"
"Ssst. Semuanya sudah mulai berjalan."
Aduuuh, ini kenapa suara kece sekali sih?!
Plop! Pipi Eren memanas dengan cepat.
"Uuh…," desisnya.
Lalu sebuah tangan mengacak rambutnya –lembut.
"Wajahmu merah ya? –Manis sekali."
UWAAAAAAAAAAAHHH! JANTUNG EREN SUDAH COPOT MAAAAAKK!
.
.
.
Eren memandangi seluruh rumah-rumah bergaya pedesaan yang tersusun rapid an menimbulkan kesan nostalgia pada Eren. Suara hiruk-pikuk pasar yang tadi sempat mereka lewati, anak kecil yang berlarian diantara gang sempit, dinding Maria yang berdiri kokoh, semua ini memang kampong halaman Eren.
Sama persis seperti sebelum hancur dalam genggaman Titan.
"—Mungkin ini hanya persepsiku, Eren. Tapi, apa kau memang sangat senang hari ini?"
Pertanyaan Rivaille membuat senyum Eren makin manis.
"Saya memang senang bisa kembali ke kampung halaman saya, Heichou." Jawaban jujur, Eren bahkan tak tahu kenapa ia bisa berkata sebenarnya pada korporal mudanya.
"Seperti sudah lama tidak kemari, heh? Selama apa kau tidak pulang kampung?"
—Tidak, Eren memang tidak bisa berkata tak jujur pada Rivaille. Entah bagaimana.
"Lima tahun sejak Shiganshina diserang, Heichou. Saya sangat merindukan tempat ini."
Dan Rivaille hanya tersenyum tipis. Teramat tipis.
—Kenapa Rivaille tidak kebingungan dengan perkataan Eren? Bukankah seharusnya ia bingung karena di dunia ini dinding Maria tak pernah diserang?
Bagaimana—?
"Setelah ekspedisi nanti—" Rivaille sedikit menggantungkan ucapannya.
"—mau mampir ke rumahmu? Ibumu pasti merindukanmu."
Eren tak tahu harus bisa sebahagia apa lagi.
"Ba-baik, Heichou. Terima… —uh, kasih."
—Lagi, hati Eren berdesir aneh.
"… Sama-sama, Eren."
—Kalau Rivaille memanggil nama kecilnya, rasanya bisa senyaman ini ya?
.
.
.
Pernah membayangkan Titan memakai baju petani, —iya, baju yang itu, kemeja kotak-kotak, celana pendek selutut, dan topi jerami di kepala, pernah?
Karena kalau mungkin dibayangkan, hasilnya akan sama persis seperti yang Eren lihat sekarang.
"—A-ano, jadi Titan sekarang… bekerja membantu pertanian kita? –Mayor?"
Irvin menoleh pada Eren dengan dahi mengkerut. –Oh, tangannya sendiri memegang sebuah bedak tabur anti-radiating.
"Sudah dari dulu, Eren," Irvin kembali menepuk-nepuk pipi putih cemerlangnya dengan bedak. "—Uuh, sinar matahari bisa menimbulkan bercak kemerahan di kulit. Mau pakai ini juga? Merk bagus loh."
Kali ini dahi Eren yang berkedut. "—Tidak perlu, Mayor."
Kali ini Irvin menoleh kanan-kiri. "Tidak ada yang melihatku memakai bedak kan, Eren? Nanti image-ku sebagai pemimpin pasukan bisa rusak."
DARI AWAL UDAH RUSAK KOK OMMM! Eren menelan ludahnya –kelu.
"T-tidak ada… —kok."
"Baguslah," kemudian Irvin berdiri dari duduknya. Dan memasang wajah gagah pangeran seperti biasa.
"Semuanya! Istirahat selesai, kita lanjutkan ke bagian utara Shiganshina!"
"SIAP, SIR!"
Eren sweatdrop. Ini kepribadian Mayor-nya hebat sekali berubahnya.
Jadi, oke, Eren akan menjelaskan tugas sesungguhnya dari Recon Corps di dunia terbalik ini. Recon Corps sih memang masih bertugas sama, mencari kejayaan umat manusia. Tapi karena disini Titan jadi buruh tani manusia –bukan makhluk buas walaupun tubuhnya masih segede gaban- jadi Recon Corps punya andil dalam menjaga kestabilitasan kemakmuran para Titan di seluruh wilayah, baik Maria, Rose dan Sina.
—Oh, lihat. Bean dan Sawney barusan lewat sambil membawa sebakul apel di punggung. Dan.. –uh oh, apa Sawney berambut ikal tadi itu? Mengikuti fashion yang ada, ya?
Pokoknya Eren sudah tak habis pikir.
Laporan selesai.
.
.
.
Setelah ekspedisi siang itu selesai, Eren dan rombongan kembali ke jalan pulang markas Recon Corps. Semuanya masih terlihat segar bugar –ya iyalah, cuma jagain Titan manen buah aja kok.
Perlahan, Eren merasakan kuda yang dipandu korporal muda-nya ini melambat dan berbalik arah.
"… —Eh?"
"Ke rumahmu, Eren. Ingat?"
Oh iya, lupa.
Tak lama, mereka sudah sampai pada undakan batu di depan rumah Eren. Sinar mentari sore membuat Eren makin merindukan tempat ini. Terakhir kali Eren lihat, rumah ini sudah hancur dengan sosok Ibunya, Carla, yang mati didalam kunyahan titan, bukan?
Ah, kenapa ada setitik air mata di sudut matanya?
"Sangat rindu rumah, ternyata."
Rivaille, sekali lagi, mengusap surai coklat mahgoni Eren. "—Kalau memang kangen rumah, bilang saja padaku, Bocah."
Eren menyeka ujung matanya. "—U-um.."
"Menangis? Sudah bocah, ternyata cengeng juga ya?"
Dan… ups! Rivaille mencium pipi Eren!
"Childish. Tipe kesukaanku."
Syuuuuut~ selamat Rivaille! Anda berhasil membuat Eren jadi kepiting rebus lagi!
Eren memegangi kedua pipinya. "—He-heichou…,"
"Sudah. Ayo masuk."
Tangan Rivaille mengajak tangan Eren untuk melangkah. Bergandengan.
… —YA AMPUN! Bisa-bisa Eren beneran belok kalau gini caranya!
—Kan emang mau saya begitu, Ren. Mengertilah.
.
.
.
Malam itu, Eren benar-benar seperti hidup.
Makan malam bersama Ayahnya, Ibunya, —juga Rivaille- sambil bercengkerama seperti biasa. Bahkan Eren sudah lupa kapan ia bisa mendengarkan omelan Carla yang super panjang lagi, melihat Grisha belajar menenun ala ibu-ibu –untuk bagian ini Eren tertawa sampai menangis.
Keluarga. Eren bisa merasakan kehangatan keluarga lagi setelah lima tahun ini.
"Heichou,"
Rivaille yang awalnya akan menutup pintu kamar ruang bawah tanah Eren dan pergi itu berhenti. "…Apa?"
"Ma-mau mendengarkan saya sebentar?"
Mata Rivaille berputar. "Aku mengantuk, Bocah."
"Ta-tapi…"
Rivaille mengangkat satu tangannya –menahan ucapan Eren. "Tapi, oke. Aku tidak bisa menolak apapun kemauan Bocah ingusan sepertimu."
—Bang Rivaille, sadarlah kalau sekarang Anda ini macam seme yang sangat T-O-P. Oke, ucapan boleh sarkas, tapi… —uh, hati Eren kyun-kyun kan jadinya.
Tubuh Rivaille ikut berbaring di ranjang Eren, mengarah pada Eren sambil menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. Pandangannya sendiri tidak lepas dari Eren. Tajam mematikan.
"Cepat cerita."
Eren tersentak. Apa barusan ia sempat terpukau dengan sosok Rivaille? –Ahaha, efek susu Hanji mungkin… —ya?
—Tsundere sekali kau, nak.
"A-aku… tapi, apa Heichou akan percaya?"
"—Hm?"
"Ce-ceritanya ini… sedikit tidak masuk akal."
Rivaille menggerakkan dagunya. "Cerita saja."
Eren menarik nafas dalam-dalam. –Oke, sadar Eren, sadar. Kau masih normal dan nggak bakal nge-humu sama korporalmu ini, kan? Otak Eren berusaha membuatnya bangun.
Dan Eren mulai bercerita. Baiklah, biarkan saja nanti korporalnya ini akan tertawa atau malah menendangnya hingga pinggulnya patah, yang penting Eren cuma mau menumpahkan semua keluhannya.
"Jadi… —sebenarnya dunia ini hanya dunia mimpi saya. Rivaille heichou, Mikasa, Jean, Armin, semuanya yang ada disini cuma delusi dari minuman buatan Mayor Hanji di dunia nyata saya. Sebenarnya saya sendiri bingung, kenapa saya musti menceritakan ini pada Heichou. Ta-tapi…"
Mata Eren meredup. Bahkan suaranya ikut mengecil.
"… —Tadi sore, saat Heichou mengajak saya kembali ke rumah. Di-di dunia yang nyata… keluarga saya sudah tidak ada. Titan memangsa manusia, menyerang dinding dan merusak semuanya. Karena itu… —uuh…"
Sebaris air mata mengalir di pipi Eren. Kenapa airmata musti keluar segala sih?! Eren makin terlihat seperti cewek disini.
"—A-apa boleh saya menikmati keadaan dunia ini? Disini, saya masih memiliki keluarga. Ta-tapi… ini kan… cuma khayalan saja, bukan?"
Eren menertawai dirinya sendiri. Sejak kapan cerita ini jadi mellow begini?
Terlalu lama berada di mimpi ini sepertinya membuat otak Eren ikut bekerja abnormal.
"… Oh."
Wajah Eren mendongak. Menatap Rivaille yang hanya mengangkat kedua alisnya pada Eren.
"Cuma itu? Kukira kau akan bercerita kalau kau ingin punya keluarga denganku."
MASYA SHADIS SI PEMAKAN BELIINGGG! Ini orang habis serius cerita kenapa tanggapannya malah kayak begini hah?!
"—Lalu kau ingin punya anak, dua atau tiga. Perempuan atau laki-laki. Punya rumah di tepi pantai atau di pegunungan. Menghabiskan hari tua bersamaku—"
WOY WOY WOOIII! Kenapa Rivaille ngoceh nggak jelas gini?! Boleh sumbat pake gulungan rambut Sawney?!
"Ternyata cuma cerita macam ini. –Tch."
Rivaille menenggelamkan wajahnya di balik surai coklat Eren. Sedangkan si pemilik cuma dapat menahan batin yang mau meledak.
"Katakan padaku, Eren. Bagaimana sosokku di dunia nyatamu?"
"Eh?!"
"Jawab saja."
Eren langsung patuh. "E-eh… Heichou masih seperti biasa sih, berkata-kata pedas dan bertubuh… —kecil."
Ada tatapan tajam dari sampingmu, Eren!
"—Ta-tapi dengarkan jawaban saya dulu—" Eren mencoba menahan amarah sang korporal yang sensitif dengan kata 'kecil', 'pendek', terlebih 'kontet'.
"—Kalau di dunia nyata, heichou dan saya tidak berpacaran. Bahkan Heichou sangat kasar pada saya."
Rivaille bergumam kecil. "Oh? Kalau begitu, berarti kau tidak menyukaiku, baik disini atau di kenyataan?"
Eren mengangguk. "Iya." Polos.
"Baiklah. Berarti tugasku disini cuma satu."
Dan Rivaille bangkit dari tidurnya. Kembali berdiri dan beranjak dari ranjang tidur Eren. Merapikan rambut raven-nya dengan sebelah tangan –sedang tangan yang lain masuk ke dalam saku celana panjangnya.
"—Tugas?"
"Ya. Tugasku—"
Dan mencium kening Eren. Terlampau lembut.
"—Membuat bocah setengah titan sepertimu jatuh cinta padaku."
EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?!
Tolong tolong! —Eren butuh tambahan otot jantung karena sudah disfungsi sekarang!
"—Ah, pipimu merah lagi."
Mengacak-acak rambut Eren –lagi. Hobi ya mas?
"—Dasar bocah."
.
.
.
KENAPA SENYUMAN TIPIS RIVAILLE BISA BIKIN DADA EREN BERDETAK KENCAAAANNGGG?!
.
.
.
.: TBC :.
A/N : Fieew~ akhirnya update juga chap 3 fanfic ini. Okeh, disini ada adegan RivaiEren. Aaakh! Ini pertama kalinya saya bikin romance Riren! Apa berhasil? Bagus kah? Amburadul? Maksa kah? IYA! Aaakh /jambak rambut sendiri
Yep, dan maaf kalau chap ini nggak memuaskan. Tapi saya emang sudah puas menistakan karakter mereka /ketawa nista /ditimpuk reader
Nah, jadi disini Bang Irvin udah keluar. Buat ide reader yang lainnya, pasti bakal saya buat di chap depan u.u /psst, ada yang sadar lagu apa yang dinyanyikan Bang Bertdolt? Itu lagu Bang Jali yang saya nistakan loo~ /apa coba? /slapslap
Dan… Terima kasih buat! Sora Tsubameki, Adelia-chan, Azure'czar, Kim Arlein 17, Nacchan Sakura, Mir-acleKim, gigintama, Burung Biru. Dan buat yang fav! Adelia-chan, Carmelina Gabriella, Kim Victoria, Mir-acleKim, Nacchan Sakura, OurieChrome, Raina94, dame dame no ko dame ku chan, kurooohh. Dan yang ngefollow! sessho ryu, BaKamiko003, LunaArcelEolia, Moyahime, Raina94, Rychizuu, Sora Tsubameki, dame dame no ko dame ku chan, gigintama, hollow concrete, l00.00l.
Ah, gomen kalau ada namanya yang ketinggalan. Huwaaa~ review, follow dan fav reader semua MAKASIIIIHHHH BANYAAKKKKK YAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHH! /pinjem mic-Bertdholt /slap-lagi-
Sekali lagi, MAKASIH YAH! /lambaikan tangan rivaille
Dan unn… berkenan meninggalkan review? u.u
