Dan Rivaille bangkit dari tidurnya. Kembali berdiri dan beranjak dari ranjang tidur Eren. Merapikan rambut raven-nya dengan sebelah tangan –sedang tangan yang lain masuk ke dalam saku celana panjangnya.

"—Tugas?"

"Ya. Tugasku—"

Dan mencium kening Eren. Terlampau lembut.

"—Membuat bocah setengah titan sepertimu jatuh cinta padaku."

EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHHHHHH?!

Tolong tolong! —Eren butuh tambahan otot jantung karena sudah disfungsi sekarang!

"—Ah, pipimu merah lagi."

Mengacak-acak rambut Eren –lagi. Hobi ya mas?

"—Dasar bocah."

.

.

.

KENAPA SENYUMAN TIPIS RIVAILLE BISA BIKIN DADA EREN BERDETAK KENCAAAANNGGG?!

.

.

.

Milk Vanilla? Um! Chapter 4

Disclaimer © Isayama Hajime—om kece yang masih nggak mau nikahkan Eren sama Rivaille di SnK walau sudah saya sogok sama Susu Pembalik Mimpi milik Hanji

Warnings! Sudah pasti karena saya fujo-akut, berkontet—eh, salah, berkonten BL, YAOI, dan semacamnya, OOC! (zuver—farah), DLDR ya u.u

Dan… —MAAPP! Kemaren saya lupa balas review semuanya! Argh! /tepokjidat. Iya, Author emang pikun parah banget –entah ini efek nilai uts yang membara kemarin /nyengir /ngeles

Jadi saya sudah memastikan disini saya tidak akan lupa lagi membalas T_T Author newbie ini emang ceroboh naujubillah~

—Ya sudahlah, coret curhatan gaje saya diatas barusan. Yang penting… Selamat Membaca! ^^

.

.

.

.

"Selamat malam, Eren."

"—Ma-malam juga, he—heicou," Eren menyembunyikan setengah wajahnya di balik selimut.

Rivaille tersenyum. –Duh, manis banget nih dua bocah.

Blam.

Pintu tertutup.

"—Dunia mimpi? Dunia nyata? —hm…"

Rivaille terlihat bergumam sesaat.

Tangan pria bermata hitam keabuan itu sendiri masih terpaku pada gagang pintu kayu kekasihnya—ah, tidak, Rivaille pikir itu masih pernyataan sepihak saja— entah walau sudah lewat beberapa menit dirinya mengucapkan selamat malam dan menutup pintu itu, dan dia tetap berdiri disana. Mematung.

Lalu Rivaille menghela nafas. Sangat pelan dan halus.

—Apa barusan wajahnya yang menunduk itu terlihat seakan dibebani karung kentang se-ton Connie?

… Kenyataan bahwa Eren yang tidak –belum— menyukainya itu –sangat miris, ya?

.

.

.

Mata Hanji memandangi sebuah lampu tembok yang baru ia lewati, dan berakhir menatap pintu kayu eboni di depannya. Membukanya dan bibirnya sudah menyiapkan senyuman nakal bak Smile Titan. –Sifat yang memang sejak awal dimiliki sang Genderless saat nabrak Rahim Mama-nya dan hinggap di bumi.

"RIVAI—"

Entah setan terlalu kurang kerjaan yang menghinggap ke tubuh Mayor pony-tile hair kita ini sampai bisa menghentikan teriakan yang dapat mengguncang hati para titan. –Err, kan para titan horror sendiri sama peneliti ini, tiap dijadikan bahan penelitian pasti aja akhirannya mati semua tuh titan.

—Ah, untuk sekarang lupakan hal itu kembali ke hal yang dapat membuat Hanji berhenti melengking barusan.

Dan jawabannya ada di hadapan mata Hanji sendiri.

Sosok Rivaille di dunia nyata –korporal super sekseh berbadan okeh bermata kece dan bertinggi sebiji kedelai tempe—yang duduk di dekat ranjang anak buahnya. Eren Jeager.

Pandangan Rivaille memang tajam, tapi tangannya sendiri sedang menggenggam selimut sang anak buah setengah monsternya.

—Benar-benar pemandangan langka.

Aah~ jadi ini yang namanya orang jatuh cinta? Hanji memegangi pipinya sebagai korban ke-moe-an tersirat Rivaille barusan.

"—Rivaille, makan ini dulu. Kau tahu kan faktor penyebab kontet itu salah satunya jarang makan, bukan?" Hanji menyodorkan sebaki penuh makanan ke meja di samping Rivaille.

"…"

Hanji memutar matanya. "Aku tidak menyangka cuma gegara bocah ini tidur, kau malas kemana-mana."

"Aku cuma menjaganya. Dia bawahanku."

'Bawahan tersayang sih, iya. Dasar bogel nggak bisa ngomong gamblang,' Hanji pengen deh nyuci otak Rivaille.

"—Terus? Kenapa setengah harian ini disini-sini saja? Kalau ada Kolosal Titan melempar upil ke dinding Sina kau pasti tak tahu deh,"

"—Sigh. Bodoh."

Hanji mengangkat tangannya –menyerah. "Baiklah~ kalau memang mau Eren bangun dari tidurnya, kenapa tidak mencium dahinya lagi, hm?"

Lalu Mayor itu berbalik dan pergi. "—Aku duluan, yah."

Blam. Pintu ditutup.

Mata keabuan Rivaille tetap lurus.

—Ahh, ini Rivaille heichou kita di dunia asli, loh~ Jadi kenapa Si Bontet-Tanpa-Tanding ini terlihat… —galau? Hm hm?

"—Tch."

—Duh. Jangan-jangan Rivaille bisa dengar ucapan sentilan setan barusan.

"—Bangun. Bocah."

Hey Carlaaa~ berbahagialah! Anak lelaki polosmu baru saja dicium Rivaille loh! –Nggak tanggung, di bibir.

—Iya, di bi-bir. Nggak perlu pasang muka mupeng gitu.

Ahaha. Apa barusan Rivaille berharap ciuman di bibir itu sihir yang bisa membangunkan Eren? –Apa otak realistis Rivaille sudah sengklek sebelah?

.

.

.

.

"—Bangun. Bocah."

Sebuah kehangatan di bibir dan dada Eren, membuat mata bocah emerald hijau berkilau itu langsung membuka.

—Barusan itu… apa?

Eren memegangi kepalanya. Berusaha mengingat.

—Oke, dia ingat tadi malam Rivaille datang, lalu ia menceritakan keluh-kesahnya, Rivaille mencium dahinya, Eren moe-moe-an, lalu ia tidur.

..

..

… —Berarti ini dunia nyata?

Dengan sekali gerakan, Eren bangkit dan keluar kamar. Tak ada siapa-siapa? Bukannya kemarin ia bangun dengan cara dicium di dahi oleh Rivaille yang asli?

—Hee, Eren, ngarep dicium Rivaille lagi, kan?

"HOI! Bocah!"

"Heich—"

Pria berambut pirang di depannya melempar sebuah kertas besar. "Ini data misi nanti. Berkumpul jam sembilan. Jangan telat atau mau kubuat Keith Shadis menyodokmu."

Armin… —barusan itu Armin Arlert yang memanggilnya bocah dan membuat gulungan perkamen coklat menohok wajah penuh liur tidur Eren. Ditambah lagi ucapan terakhir Armin sedikit ambigu.

Ini… —masih mimpi?

"Kenapa aku belum kembali?"

—Sedikit perasaan janggal menghampiri Eren. Seharusnya sih dia tak suka dengan keadaan dirinya yang tidak bangun dari mimpi macam ini. Tapi…

—Setengah hatinya sendiri tidak bohong kalau dia sedikit—bersyukur.

"AAAAAAAAAAHHH! Masa bodoh aku suka dunia mimpi atau nyata! Mending cepetan mandi daripada Keith Shadis menyodok—" Bibir Eren terhenti, tak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri.

—Ih, merinding.

"…-ku."

Ini kenapa ambigu banget sih kata-katanya?!

.

.

.

Eren baru saja mematikan air kamar mandi, memasang handuk di lingkar pinggang, dan membuka pintu kamar mandi saat langkahnya terhenti akibat pemandangan Ya-Tuhan-Ini-Mau-Nyiksa-Apa-Lagi.

"AAAAAAAAAARRRRRRRRGGGHHHH!"

Pipi Eren merona hebat di balik kedua telapak tangannya.

Bagaimana kalau Anda, yang masih super polos dan pelontos—otaknya—secara tiba-tiba disuguhi pemandangan seluruh anak cowok di Recon Corps yang bugil di kamar mandi. Akan berteriak ketakutan seperti Eren barusan, kan?

—Dan sepertinya Eren tidak ingat, kamar mandi Recon Corps kan memang macam ini. Cuma bersekat di bagian shower dan terbuka di bagian kamar ganti baju. Alhasil, yah, selamat menikmati otot-otot para Prajurit yang sedang memasang kolor dan kaos.

"—Eren kenapa? Kayak cewek mau dihamilin aja," Connie Springer berbicara.

"Malu lihat perut buncit Jean, kali," Armin angkat bicara.

"—Ya ampun! Perut ini awesome, Armin!" elakan Si Kirschtein.

"Gaya nutup muka-nya uke banget. Jadi pengen grepe-grepe," dan ini… entah, ucapan tokoh tak lulus sensor ganteng kali.

"Hehe, Eren! Pacaran yok!" –dan lagi.

BUMM! BRAAKKK!

Lalu dua buah debaman super terdengar.

"SIAPA YANG BERANI BILANG SEPERTI ITU, HAH?!" –Oh, suara Annie Leondhart dari kamar mandi cewek di sebelah. –Loh, pendengaran wanita manis ini tajam sekali ya?

"OH. Bisa ucapkan kalimat 'pacaran' tadi? SIAPA, HAH?!" dan ucapan yang lain lagi.

"—!"

—Hehe, kali ini suara dari dalam kamar mandi cowok sendiri. Sebuah ucapan penuh tekanan dari prajurit ter-ceb—eh! ter-hebat maksudnya. Yap, lihatlah saja Heichou kita yang sedang membuka pintu kamar mandi dengan satu kaki –dan meinn got! Cuma dengan handuk putih di pinggang sodara-sodara!

"…"

"—siapa tuh tadi yang ngomong?" Marco menyikut Reiner.

Semua tetap kicep.

.

.

.

Hari ini pengawasan Titan-Titan dilakukan Recon Corps di seluruh bagian Ragako, distrik selatan dari dinding Maria, sehingga membuat mereka baru bisa kembali ke markas setelah senja. Beruntunglah hari ini satu orang satu kuda, dikarenakan wilayah pengawasan yang luas.

Eren sendiri terus menghela nafas lega. –Setidaknya jantungnya bisa istirahat dari debaran abnormal yang ditimbulkan sang Heichou akhir-akhir ini.

"Baik. Semuanya! Kalian bisa istirahat langsung di markas, atau ingin ke Maria's festival malam ini," ucapan Irvin barusan mengakhiri perjalanan misi hari itu.

—Festival? Dahi Eren berkerut bingung.

"Ayo jalan-jalan, Eren! Kita kencan ya!" suara Annie yang riang menyambut Eren begitu ia memasukkan kuda ke dalam distal.

"—Haish, setidaknya tidak usah seberisik ini, Annie. Para ketua pasti sedang istirahat."

Eren menggaruk pipinya. "—Ehehe. Bo-boleh saja."

"YEIIIYYY!" Annie segera memeluk Eren. Senang.

..

"—Oi. Memang kau sudah minta izin padaku?"

Duuh, suara ini lagi. –Tuh kan, jantung Eren langsung push-up lari pontang-panting padahal baru dengar suara dalam barusan.

"Biarkan Eren bersama kami malam ini! Bo-gel!"

—O-oh, Annie pasti sangat sayang Eren sampai berani menggantung nyawa sekarang ini. Nah tuh, lihat, seringai setan sudah muncul di bibir tipis Rivaille kan.

"Eren milikku, Leondhart."

"MILIKKU, Kecambah."

"Kau tak punya hak, Pirang."

"Begitu juga denganmu, Belah Tengah."

Sudah ada kilatan petir chidori dari anime sebelah yang melingkupi tatap vertical dari dua orang terkuat Recon Corps. Tambahkan Mikasa ke dalamnya dan mungkin akan jadi tatapan Kamehame-nya anime sebelah juga.

"Ss-Sudahlah. Tidak usah bertengkar, —ya?"

Sebagai pihak netral, Eren mencoba melerai. Sedangkan Jean? –Oh, bocah pemberani itu sudah lebih dulu menyelamatkan diri di balik bokong kudanya.

"Heichou, biarkan saya bersama teman-teman saya. Untuk malam ini saja."

Eren memohon. –Hei, memangnya Rivaille bisa apa kalau sudah seperti ini? Nih anak manis banget kan, Bang?

"—Tch."

—Aaah, kekalahan Rivaille memang pandangan anak anjing habis kehujanan milik Eren barusan.

Jadi Rivaille memilih menghembuskan nafas dan mengalah. "—Baiklah. Kau selalu menang, Eren."

Sebuah cengiran muncul di wajah manis Eren. "Ehehe. Terima kasih, Heichou!"

—Hei, Rivaille sangat suka senyum ala bocah milik kekasihnya ini. MAK! INI BOLEH DIPUNGUT NGGAK ANAKNYA?

Annie segera merangkul Eren dan membungkuk hormat pada Rivaille. –Heh? Jadi anak manis lagi ya, mbak Annie?

"Terima kasih, Heichou! Ayo bersenang-senang, Erenn~"

Eren mengikuti tubuhnya yang sudah diseret Annie dan –Jean, yang sudah berani keluar dari persembunyian. Eren sedikit geli melihat kedua temannya ini, tapi yah, kapan lagi bisa bersama dua musuhnya ini, kan?

Dan tanpa sebab Eren menoleh ke belakang.

—Menemukan Rivaille yang berdiri tegap dan tersenyum tipis. Ia sedikit membuka bibirnya –mengucapkan sesuatu tanpa suara.

'Selamat bersenang-senang,'

Ah. Eren bisa menangkapnya.

—Jadi ia mengangguk senang.

"Um!"

Rivaille senyum.

—Eh eh! Eren tertegun.

Rivaille yang wajahnya ditimpa sinar rembulan itu cakep banget, ya?

—Oh Bunda, tolong tampar logika Eren yang kalah sama perasaan ini. Jangan, —Eren nggak mau jatuh cinta sama cowok dulu.

.

.

.

Mata Eren benar-benar berbinar sekarang.

Lihatlah semua kesenangan, canda-tawa dan segala hiruk-pikuk di festival hari ini. Bukannya apa, Eren memang belum pernah melihat malam yang meriah di dalan dinding. Semasa hidupnya di habiskan untuk memikirkan Titan di luar, kan?

"Ahaha! Jean! Topeng ini cocok untukmu, loh!"

Annie datang dengan membawa sebuah topeng Titan Moe. –Hee, jadi contoh muka titan juga diperjual-belikan sekarang?

"Sialan kau, Annie."

Dan tangan Annie menyeret keduanya. "—Hehe, ayo kita tangkap ikan emas pakai jaring. Siapa tahu berhasil dapat satu."

Mereka bertiga segera menuju lapak permainan ikan mas. Ada beberapa anak kecil terlihat mencoba menangkap ikan-ikan di dalam kolam kecil buatan dengan jaring tipis. –Ternyata cukup sulit, jaring Jean saja terus-terusan robek akibat pergerakan ikan yang akan ditangkap.

"Ugh…" –Butir keringat segede jagung muncul di dahi Jean.

Dan Plup! Ikan tercebur.

"—Yaah… Jean memang bego!" Annie menepuk keras kepala belakang Jean.

"WOI! Ini anak bisa manis cuma sama Eren aja ya?!"

"—Memang!" Annie merangkul pundak Eren.

Eren hanya tertawa dan beralih kembali fokus pada jaring ikannya.

Matanya mengarah pada satu ikan mas kecil berwarna oranye-putih, ia menggulung sedikit lengan kaus-nya, mencoba konsentrasi. –Oke, bisa… bisa… bisa…

Slap!

"EREN! KEREENNN!"

"WAH!"

Eren berhasil memasukkan satu ikan mas incarannya ke dalam kantong plastik.

"Aku… bisa! Hehe!" dengan senyum lima jari, Eren memperlihatkan hasil kerjanya pada Annie dan Jean.

"Lagi! Lagi! Lagi!"

.

.

.

Dengan senang, Eren mengikuti langkah kedua temannya –di dunia mimpi, nih—menyusuri seluruh lapak di jalanan. Tangannya sendiri menenteng dua kantong plastik berisi ikan mas, bahkan ia bisa memberi satu lagi ikan pada Annie. –Eren jadi punya cita-cita jualan lemari –eh? nggak nyambung loh, Ren.

Matanya kembali menyisir.

Ada takoyaki. Ada penjual lentera. Ada boneka besar. Ada anak secebol Rivaille main gundu. –Aah, ramai sekali.

—Dan ada Mikasa Ackerman bersama bocah manis Armin Arlert.

Jadi Eren membelokkan langkahnya.

"—Hai!"

Dua pasang mata langsung menyorot tajam. –Hoi, Eren kan baru salam, sudah pasang pandangan mau nelanjangin aja nih.

"Ada apa, hah?" Armin mengalihkan pandangan –jengah.

"Ini!"

Dengan sekali gerakan, dua kantong plastik berisi ikan mas Eren berpindah tangan.

Mikasa mendelik. "—Apa ini? Ikan mas, huh?"

"Untuk kalian! Kenang-kenangan. Siapa tahu nanti efek susu Mayor Hanji habis, jadi aku tidak bisa kembali, kan?"

Dan Eren melangkah menjauh. "Sampai ketemu ya!"

"…"

"…"

Armin dan Mikasa hanya mematung.

'Bocah aneh…'

Mata Armin dan Mikasa terus memperhatikan punggung bocah berambut kayu –musuh mereka itu— diantara hiruk-pikuk –dan masih dengan pandangan bingung. Mereka hanya tak habis pikir, apa maksud ucapan Eren. Ucapannya tidak masuk akal, jangan-jangan anak itu mabuk?

Dan… Syut!

—Eh? –Loh?

Eren Jeager menghilang.

Mikasa dan Armin tegang.

"—EEEHHH?! Kemana bocah itu?!" Mikasa memperhatikan baik-baik. –Iya, bocah super berisik itu padahal barusan masih terlihat lima meter dari mereka, kan?

Armin memegang tangan Mikasa. "Dia… —bisa teleportasi—?"

"—KEREN YA!"

Mikasa jawsdrop. Armin itu selain pintar, —bisa imajinasi ya?

.

.

.

—Hei hei, jadi dimana remaja berambut coklat bermata emerald berwajah imut dan bermulut manis itu?

.

.

.

.:TBC:.

.

.

.

Dan... TERIMA KASIH BUAT YANG UDAH REVIEW DARI CHAP AWAL SAMPE AKHIR! dan SELAMAT DATANG pembaca baru! ^^ semoga chap ini memuaskan u.u Gomenn, maap karena kayaknya Riren disini nggak sebanyak kemarin.

Ah, kayaknya sebentar lagi fic ini bakal saya tamatin, entah chap depan atau beberapa chap lagi. yang pasti nggak nyampe 10 chap.

Okee~ saatnya bercuap-cuap!

Kanna Ayasaki (Gyahaha! Selamat datang di dunia terbalik Eren! Abang Rivaille emang udah ganteng dari dulu loh /toelpantat heichou /slap. Itu masa' iya si Eren disuruh nggak bangun-bangun? Haha /sodorin obat tidur sebaskom /Eren:EMOH WOY! /oke, lupakan, Ren.)

Evil Red Thorn (uwaah, namanya kece /entah kenapa /kece! . Hehe, pada suka digombalin Rivaille nih? Kyahaha~ saya juga!)

wihdai (Salam kenal jugaa! Haha, silent reader? Wah, saya dulu juga! /apainingumbaraib /tepokkepala)

Nacchan Sakura (Sadis? Saya suka Eren kena tekanan batin, itu fetish saya /tampar-sekali-lagi. –Susu Hanji? Ntar saya tanyakan ke mbang Hanji /siapin kentut Sawney buat sogokan)

Burung Biru (errr… Kaa-san? Bagus. Makasih. Makasih. Makasih. Makasih. Makasih. Dst. Lanjutkan Kaa-san!)

Mir-acleKim (Kyahaa~ oke, Irvin pake bedak saya kemarin /demiapabedakauthorbedakbayi /tulisan apa ini? /timpuk)

Garekinclong (—Digituin? Kok bahasanya ambigu sekali? –Ehehe, saya juga mau jadi Eren sekali u.u dan harapan Anda di terakhir ITU loh! Eren sama Rivaille HOMOOO~ /narisalsa)

Adelia-chan ( Ahahaha semoga tugas Rivaille tercapai ya! –anda… jatuh cinta dengan Bang Rivaille? Dari dulu loh dia sudah menawan~ /authorganjen /luarrbiasa. AAGH! Saya suka caps anda jeboll! Dan saya tidak ngira ini fic bisa sedih? Kalau koplak sih iya /nyengir)

Sora Tsubameki (/sodorin tisu. Nggak tau kok bisa fic ini bikin Anda nangis /baca chap3 lagi /dibagian mananya? Ini isi fanfic nista semua /nyengir/lagi. Hati saya juga meleleh gegara Rivaille~ Tenang, saya suka caps jebol andaaa~)

hollow concrete (eke juga ikut senang anda suka nih fanfic ^^ dan Rivaille emang pedobear! Hihihi /elus cravat /ini apa lagi coba)

Yupyup! TERIMA KASIH buat yang Review, Fav dan Follow! ^^~

/p.s : oiya, mau nanya. buat pengaturan account di ffn, itu Annonymous Review musti di-on atau off kan? Saya newbie yang tak tahu apapun itu apa /ini bahasa apa coba

SAMPAI KETEMU DI CHAP DEPAAN! /nebar susu Vanilla Hanji-san