Eren Jeager menghilang.
Mikasa dan Armin tegang.
"—EEEHHH?! Kemana bocah itu?!" Mikasa memperhatikan baik-baik. –Iya, bocah super berisik itu padahal barusan masih terlihat lima meter dari mereka, kan?
Armin memegang tangan Mikasa. "Dia… —bisa teleportasi—?"
"—KEREN YA!"
Mikasa jawsdrop. Armin itu selain pintar, —bisa imajinasi ya?
.
.
.
—Hei hei, jadi dimana remaja berambut coklat bermata emerald berwajah imut dan bermulut manis itu?
.
.
.
Discaimer Isayama Hajime –om, plis, sekali ini dengarkan permintaan hati saya untuk ngawin larikan RivaEren dan JaenArmin :D
Fic nistah ini milik saya seorang guna wadah keblingsatan saya mencintai seme tercintah Rivaille! Dan mamih Eren! XD
Warnings! Dalam fic ini banyak BL&Yaoi (concern), Typos (efek mata burem), bahasa EYD buatan author sendiri, OOC! Nggak ketulungan, dan DLDR u.u
Selamat membaca!
.
.
.
Surai coklat eboni yang terlihat lembut itu tersibak lemah akibat pergerakan angin malam di sekitarnya. Terkadang bayangan pepohonan menutupi tubuhnya, lalu berganti dengan gemerlap cahaya bulan –terus begitu selama tubuhnya berpindah.
—Err… yah, itu memang tubuh Eren Jeager yang berpindah akibat gendongan seseorang.
Jadi apa yang menyebabkan Eren bisa menghilang begitu saja?
—Terima kasih atas kehebatan manuver seorang lelaki yang sedang mendekap tubuhnya kini, hingga bisa seakan menculik Eren dari festival tanpa bekas.
Dan dari wangi tubuhnya saja, Eren sudah tahu siapa yang menggendongnya bridal style sekarang ini.
"Heichou! Tolong turunkan saya! Ini berbaha—ugh!"
Plak!
Lolongan panjang Eren terputus akibat tamparan dahan pepohonan yang mereka lewati. –Cih, bagus sekali korporalnya ini. Terbang pakai 3D manuver lewat hutan segala. Ini daritadi muka Eren kesepak ranting, woi!
"Heichou!"
Dan sebuah laser pembunuh menatap Eren tajam. "—Diam saja, bocah cerewet!"
Eren menggembungkan pipi.
—Aah~ manisnyaaa.
"Tapi heichou, kalau begini saya bisa masuk angin! Manuver Anda terlalu kencang, heichou! Sa–ugh!"
Plak plak!
Dan tamparan ranting yang lainnya.
–Oke, mungkin pepohonan jadi wakil Rivaille untuk menghentikan ocehan dari bocah manis dalam gendongannya kini.
Setelah beberapa menit Eren diboyong di udara, akhirnya mereka berhenti tepat di atas dahan pohon raksasa. Dan pastilah tahu apa yang dilakukan Eren begitu sadar tubuhnya sudah lepas dari pelukan Heichou-nya.
"R-Rivaille heichou! Kenapa tiba-tiba membawa saya?! Festivalnya belum—"
"Diam, Eren."
"—!"
—Oh Hanji yang jenius, tolong bantu Eren menghitung jumlah detak jantungnya sekarang juga. Bagaimana organ terpenting dalam hidupnya harus selemah ini saat Rivaille sedekat ini dengannya?
Dekat. Ini sih terlalu dekat.
Tangan Eren menahan pundak tegap Rivaille yang bersandar pada tubuhnya. Dagu Rivaille sendiri menempel di bahunya, mengalirkan perasaan hangat dan ganjal di seluruh pori-pori tubuhnya. Eren… —super deg-degan, nih!
"Kumohon. Biarkan dulu seperti ini," Suara dalam Rivaille kembali terdengar.
"U—um…"
Eren cuma bisa mengangguk.
Ia dapat merasakan dekapan tangan Rivaille di pinggangnya. Merasakan hangat nafas Rivaille melewati telinganya. Mendengar detak jantung Rivaille yang tenang dalam dadanya.
Eren… tidak berkutik.
—Sebagai pengalihan, Eren memandang ke arah lain dan berusaha mencairkan suasana.
"Ke-kenapa mengajak saya tiba-tiba, Heichou? –saya kan… kaget," Eren memajukan bibirnya beberapa senti.
Terdengar Rivaille bergumam, "Tidak apa-apa. Aku kesal melihatmu seharian ini tidak bersamaku."
Deg!
—ADOOOHH! Pipi Eren memanas dengan cepat! Tolong carikan kompresan!
"—Ta-tapi… heichou kan bisa bicara langsung pada saya. Ti-tidak usah pakai acara culik-culikan segala."
Rivaille terkekeh. Dan Eren tertegun.
—Ini Rivaille kalau tertawa kok ganteng banget sih?! –Eren belum mau jadi homo Toloong!
"… —He-heichou?"
"Itu karena si Pirang itu akan menahanmu lagi," Rivaille mendecih. "—sialan si Kuning itu."
—Heee~ jadi Rivaille cemburu?
Eren tertawa. "Hehe, ternyata Heichou bisa jengkel juga ya?"
Lawan bicaranya hanya mendengus sambil makin menenggelamkan kepalanya di dalam lekukan leher Eren.
"—Eren,"
"Ya, heichou?"
"Aku mencintaimu."
Jreng jreng! Tubuh Eren bekerja abnormal lagi! Rasanya hangat sekali dada Eren sekarang ini!
"—U-uh… a-aku tahu, kok."
–Dan Eren mengalihkan pandangan, kebiasaan barunya kalau malu seperti sekarang ini.
"—Bagaimana denganmu?"
"—Saya?!" telunjuk Eren mengarah pada dirinya sendiri.
"Iya, bocah."
"Sa-saya—…"
Ayo Eren, cepat deklarasikan orientasi seksualmu yang sudah berubah kea rah yang lebih baik itu!
"…—tidak tahu."
—Heeeh, dasar setengah titan lamban. Padahal suka tapi lambat banget sadarnya.
"—Tch,"
Kali ini kedua tangan Rivaille mengelilingi tubuh Eren. Membawa tubuh bocah di depannya untuk makin memeluknya.
Untuk beberapa saat, keheningan mengelilingi mereka. Suara angin malam yang memainkan rambut gelap Rivaille membuat wangi tubuh korporal yang –oh, fangirl pada kepengen—menyergap masuk ke indera penciuman Eren.
Dan Eren pasrah –ia menenggelamkan wajahnya yang memerah ke dalam lekukan leher sama seperti yang Rivaille lakukan padanya.
Posisinya… —terlalu nyaman.
"Ayo kencan."
Suara barusan menghapus sunyi diantara mereka.
Mata Eren membulat penuh. "—A-apa?!"
"Ayo kita kencan. Malam ini saja."
Rivaille mendesah kesal sambil mengalihkan pandangan. –Jangan sampai bocah hyperaktif dalam pelukannya ini sadar sedikit nada gugup dalam kalimatnya.
—Aah, Rivaille tsundere, tumben.
"…"
Dengan pelan, Eren menganggukkan kepalanya.
"Bo-boleh saja."
Seketika garis bibir Rivaille melengkung tipis.
"Terima kasih, —Eren."
—Uuh, wangi tubuh Rivaille sepertinya bakal jadi wangi kesukaan Eren, deh. Dipeluk lama-lama begitu enak kan, Eren?
Kali ini Eren tidak bisa mengelak. Rivaille yang bersandar di bahunya memang membuat senyum manis mengukir indah di wajah manisnya.
—Haah… rasanya mau menghentikan waktu sebentar saja.
.
.
.
"—Err… heichou?"
"Hm?"
Eren menggigit bibirnya. Setengah kesal, setengah gemas.
"Apa kita tidak bisa kencan secara normal saja? Memangnya kenapa kita harus memakai topeng seperti ini? Ini— ugh,"
Eren tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Terlalu sibuk menahan rapalan nama-nama hewan yang keramat diucapkan di depan korporal mudanya.
Tangan Eren sendiri sudah sangat gatal untuk tidak melepas topeng yang ia pakai. –Juga sedikit iri dengan topeng milik Rivaille.
Mereka kembali ke festival, tapi –oh terima kasih korporal bontetcebolzuper itu, menyuruhnya memakai topeng dengan alasan malas ada yang sadar keberadaan mereka.
'Aku malas kalau si Pirang itu menyeretmu pergi lagi. Jadi pakai saja itu dan tidak usah cerewet!'
ULAT BULU SUKA MAKAN ORANG BOGELL!
Ini. Tidak. Adil.
—Jelas, lah!
Rivaille tetap kelihatan oke-ganteng-naujubilah dengan topeng putihnya yang dihiasi berlian-berlian imitasi kecil di lingkaran mata. –Sumpah, kece banget itu topeng yang cuma nutupin dahi sampai mata kanan Rivaille.
—Lah Eren?!
Dia kedapatan topeng yang… —ghh, entah harus bilang apa. Topeng wajah badut dengan pipi gembul dan mata bulat. Jangan lupa rona bulatan merah dan senyuman bodoh ditopengnya.
—INI KETIDAK-ADILAN! Kenapa Eren tidak boleh memakai topeng kece macam Rivaille?! Sungut Eren rasanya sudah mau menumpahkan semua sumpahan santet untuk makhluk kontet di sebelah.
Pluk.
"Eren, —kau tetap manis pakai topeng ini. Tenang saja."
HUWAAAAAAAAAAAAH! Sumpahan Eren sudah ber-transformasi menjadi panas tubuh yang meningkat dan mengumpul di wajah.
"—He-heichou! Saya ini laki-laki, jadi tidak mungkin manis. Tolong tukar topeng ini dengan yang normal saja."
Rivaille mengangkat bahunya, santai. "Tidak mau. –Ah, apa kau mau beli gulali disana?"
ASDJFGHJKL #$%^&*&^%$#?!
Kepala Eren rasanya berat untuk kembali mengeluarkan rentetan kata menolak kalau Rivaille malah mengalihkan pembicaraan seperti barusan.
"Iya. Terserah Heichou saja deh," Eren mengangkat tangan –menyerah.
Dan gerakan Rivaille berikutnya benar-benar di luar dugaan.
Rivaille menempelkan bibirnya yang tak tertutup topeng pada bulatan merah di pipi topeng yang Eren pakai.
—Atau lebih sederhananya lagi, Rivaille cium pipi Eren secara tidak langsung.
"Heichou!"
Ini kalau ada yang lihat gimana WOY?! Mereka lagi di festival yang ramai ini!
"—Ah. Aku jadi mau makan gulali juga. Gulali warna coklat manis dan bermata hijau. –Kau tahu dimana gulali seperti itu, hm—Eren?"
Plop plop ploop~ Eren tidak tahu Rivaille bisa berucap semanis ini!
Rivaille mengacak-acak rambut Eren. Sadar kalau bocahnya ini sudah merona super di balik topeng.
—Rivaille cuma menjalankan tugasnya, kok. Tugas supaya bocah ini jatuh cinta padanya, kan?
Aah, yang penting doakan saja semoga Rivaille berhasil.
"Jadi kau mau beli apa, Eren?" Rivaille kembali memusatkan dunianya pada sosok Eren.
Berhasil kembali mengendalikan jantungnya yang gila mendadak, Eren memutar pandangannya ke sekeliling.
"—Pesta kembang api?"
—Eeh, ditanyain mau beli apa ini anak malah baca poster yang sekelebat mereka lewati.
"Oh. Itu—" Rivaille menyeruput minuman yang baru dibelinya –sembari membawa tangan Eren ke dalam genggamannya. Keadaan festival makin ramai, takut saja kalau anak polos ini lepas dari pandangan dan hilang.
—Oalah, Rivaille kan tidak bisa hidup tanpa Eren.
"—Kembang api, permainan cahaya yang meledak di langit. Kau tidak tahu itu?"
Eren menggeleng seperti anak anjing imut.
"Acaranya tengah malam nanti. Kita akan menonton itu, tenang saja," Rivaille mengayunkan genggaman tangan mereka sekali –meyakinkan bocah ini.
"—Di dunia nyatamu, tidak ada kembang api?"
Sedikit memiringkan kepalanya, Eren mencoba mengingat. "—Saya tidak pernah ingat ada kata-kata itu. Setahu saya, yang diledakkan di langit hanya tembakan kode formasi yang berwarna merah, hijau, dan hitam itu."
Ya ampun, Ren, hidupmu memang cuma seputar kata 'hajar' dan 'titan' saja ya.
.
.
.
Sudah dua jam lebih mereka mengelilingi seluruh bagian festival, dan sekarang mereka berada di atas atap rumah penduduk untuk melihat kembang api dengan lebih mudah –pemanfaatan 3D manuver secara tidak elit.
Tangan Eren sendiri sudah menenteng banyak benda, mulai dari permen coklat sampai boneka beruang hasil permainan tembakan jitu Rivaille di salah satu lapak tadi.
Eren memperhatikan belanjaannya dengan mata berbinar. Sudah seperti muka fujo diberi doujin se-lemari penuh.
"Heichou, —ini tadi namanya, apa?"
Rivaille menoleh. "Teddy bear. Kau sudah menanyakannya hampir setiap menit, Bocah."
"—Habis, namanya sulit diingat."
Melepas topeng yang ia gunakan karena mereka sudah keluar dari areal festival, Rivaille memandang bingung. "—Sulit? Bukankah lebih sulit menyebut nama teman-temanmu?"
"Eh? Siapa?"
"Si Botak pemakan kentang itu."
"Connie? Connie Springer?"
Rivaille menjentikkan jemarinya. "Ya. Springler atau Springmiller itulah. Namanya membelit lidah."
"Namanya mudah dilafalkan, kok," Eren mengerutkan dahi. "—Bukannya nama yang paling ribet itu milik Heichou, ya? Saya bahkan tidak pernah tahu marga heichou."
"Marga itu tidak penting kurasa," Rivaille mengendikkan bahu.
Eren mendengus. "Itu penting sekali, heichou. Kalau suatu saat nanti saya akan menikah dengan Heichou, marga saya setelah itu ap—"
—Ups! Kebablasan. Eren ternyata sudah kebelet kawin.
Dan seringai muncul di bibir Rivaille.
"—Hoo, menikah? Kau sudah berpikiran sejauh itu, Eren?"
Ah-ah, Eren bingung mau menyembunyikan semburat merah muda di wajahnya. –Eh? Sejak kapan topengnya terlepas dan berada di tangan Rivaille?!
"Wajahmu yang malu itu memang selalu manis, ya, Eren?"
AARGHH! HIDUNG ANNIE MANCUNG DICIUM JEAN MAKAN KOLOR BAPAK PIXISSS! Kenapa Rivaille musti memajukan wajahnya hingga hidung mereka bisa bersentuhan seperti ini?!
"He-heichou… saya.. –salah bicara—"
"—Kau mau menikah denganku?"
Blar!
—Itu bukan suara SFX waktu Eren berubah jadi Titan, yah. Itu cuma suara kembang api –sekali lagi, kembang api— dan bukan juga suara kentut Shadis.
Tapi, yah—
–Suara ledakan keras kembang api di langit sepertinya tetap tidak bisa menutupi suara Rivaille barusan. Bahkan rasanya kalimat Rivaille terus mendengung dalam telinga Eren.
"A-anda… —serius?"
Eren dapat melihat pancaran warna-warni kembang api dari sudut matanya, namun sepertinya mata Eren tidak mau kompromi. Sudah terlanjur masuk ke dalam pandangan raven di hadapannya.
"Aku selalu serius. Jadi… –menikah denganku?"
Sebenarnya itu lebih terdengar seperti ucap perintah dari Rivaille.
—Tapi Eren sendiri sudah tidak punya kesempatan untuk menjawab. Rivaille sudah keburu mencuri start dengan mencium belah bibir Eren.
Sangat lembut. Rivaille hanya menempelkan bibirnya, tanpa nafsu dan paksaan. Sesuatu semanis ini malah membuat Eren makin—
—makin cinta, kan, Ren? Jatuh cinta sama orang ganteng macam Rivaille aja kok bingung banget sih.
Setetes air asin meluncur begitu saja di pipi Eren.
—Eh?
"—Eren? Kenapa –menangis?"
Dia bisa melihat wajah setengah kebingungan Rivaille.
—Ah, Eren sendiri bingung. Kenapa bisa air matanya keluar? Ini otak sama mata kok kerjanya nggak barengan sih?
"S-saya… —ugh—Ini… mimpi saya. Ini… —cuma terjadi di dalam kepala saya. Tidak—… nyata," Eren mengusap pipinya, namun air matanya malah menderas.
—Aduh, tolong berhentilah keluar airmata! Eksistensi-mu tidak dibutuhkan di saat Rivaille ada di depan Eren seperti sekarang!
Tapi Eren tetap melanjutkan kata-katanya.
"He-heichou yang menyukai saya… –I-ini… tidak sungguhan terjadi. Sa-saya… -ugh—"
Sebuah jemari menghapus jejak air mata Eren. Mencoba menenangkan dengan sebuah senyuman.
"—Saya tidak mau bangun dari mimpi gila saya ini, Heichou!"
Dan biarkan isakan Eren keluar bebas. Eren sudah tidak peduli. Ia hanya makin mengeratkan genggaman tangannya pada kedua lengan Rivaille di hadapannya.
"Sa-saya… tidak mau—"
"—Ssst,"
"… Saya—"
Eren merasakan hembus nafas Rivaille dalam surai coklatnya. Ia dapat merasakan kehangatan tubuh Rivaille melindungi tubuhnya yang bergetar –menahan tangisan.
"Tidak mau… —berpisah dengan heichou,"
"—Aku tahu."
"Tidak mau. –Saya… tidak mau. Ba-bagaimana ini –Heichou? … Bagaimana—"
Rasa sakit di ujung tenggorokan dan dada Eren menyerang begitu saja. Rasanya… —sangat sakit untuk kembali bangun dari mimpi.
—Ah. Mendengar isakan Eren seperti ini, dada Rivaille serasa teriris.
"Sesuatu yang terjadi di dalam kepalamu, belum tentu tidak nyata. Kau percaya aku kan, Eren?"
Rivaille mengulurkan jari kelingkingnya. –Oke, demi sang pacar ia mau melakukan hal-hal childish bin absurd yang OOC macam sekarang.
"—Uhm."
Eren menautkan jari kelingkingnya.
"Bersihkan ingusmu. Kau tidak tahu ada berapa banyak bakteri dan virus penyakit disitu?" Rivaille mengusap hidung dan pipi Eren dengan sapu tangan putihnya.
—Aah, jadi nggak higienis lagi deh sapu tangannya. Tapi— biarin dah, hitung-hitung pengorbanan kan, Rivaille.
"—Ukh, biar saya saja yang mengelap, Heichou."
Cup~
"EEEEEEEHHHHHHHHHH?!"
—Rivaille… mencium kelopak mata dan ujung hidungnya.
—Meinn Gott MAMAH! KENAPA KORPORALNYA MELAKUKAN ADEGAN DRAMA KEPADANYAAA?!
"—Heich—!"
Tubuh Eren tersentak kaget. Dan –duh Tuhan, otak Eren yang konslet lupa kalau dia lagi ada di atas atap rumah orang. Jadinya yah—
BRUK! –Jatuh deh si Eren dari atap rumah orang.
"EREN!"
—Uwow! Rivaille bisa teriak sodara-sodara!
"Aaaw!"
"…"
"—Eren?!"
Eren membuka matanya. Sosok Mikasa Ackerman yang langsung menatap ke dalam wajahnya. –Ini… EREN DISELAMATKAN MIKASA PAKE GAYA BRIDAL STYLE?! –KEMANA HARGA DIRI EREN SEBAGAI LELAKI SEJATI?!
—Ren, inget deh. Situ padahal abis nangis di dalam pelukan Rivaille sambil membicarakan rencana-hidup-lima-tahun nanti bersama Rivaille. Masih haruskah ngejaga kehormatan seorang lelaki tulen?
"Eren?! Kau tidak apa-apa?!"
Kini sebuah suara lain.
"—Armin?"
Terlihat Armin menghembuskan nafas lega. "—Kukira kau kenapa-kenapa."
Dahi Eren kedut setengah.
—Armin barusan… khawatir padanya? Nggak salah, nih?
"—Tch!"
Lalu Eren mendongak ke atas. Ada Rivaille yang menatap tajam ke arahnya.
"BOGEL! APA MAKSUDMU MELEMPAR TUBUH EREN DARI ATAP, HAH?!" Teriakan maut Mikasa terdengar menggema.
Dan mata Eren baru sadar. Ini sudah tidak malam, bahkan dirinya bukan berada di tengah-tengah perumahan penduduk, tapi di markas Recon Corps di bawah pancaran sinar mentari pagi.
—Loh? Kok Eren bisa pindah lokasi gini?
"—Aku cuma mencoba cara baru untuk membangunkan kerbau itu. Dan ternyata berhasil, kan?" Rivaille berkata dengan tangan bersedekap, kemudian meluncur dari atap Recon Corps dengan mudah.
Tinggal Eren, Mikasa dan Armin sendirian disana.
"Sialan kontet itu! Menjatuhkan tubuhmu dari atas atap? Neraka akan segera melahapnya," Mikasa mengeluarkan aura hitam yang membuat Eren dan Armin bergidik ngeri.
"Su-sudahlah, Mikasa. Toh tindakan heichou bisa membuat Eren bangun kembali, kan? –Syukurlah kau tidak luka karena refleks Mikasa sangat hebat, Eren."
Armin membantu Eren berdiri. Dan hati Eren sedikit mencelos sakit.
Ini dunia nyata.
—Dan apa-apaan itu tadi?! Rivaille yang ASLI membangunkannya dengan cara membuang tubuhnya dari atap setinggi LIMA BELAS METER?! MAU BIKIN BADAN ANAK BUAHNYA PENYET YA?!
Oh. Emosi Eren sudah di ambang batas.
"—Eren?"
"…"
"—Kenapa menggigit tanganmu begitu? –lapar?"
Oh gott Armin, itu Eren mau jadi titan biar bisa nelen lelaki setinggi taoge yang sudah hilang entah kemana itu, loh.
.
.
.
"EREEEN!"
Sebuah suara yang khas menggema bagai lolongan di tengah aula makan. Semua mata yang ada disana jelas langsung terpaku pada satu makhluk ajaib yang melolong tadi, wanita-atau-pria ber-pony tail coklat dengan kacamata yang berjalan melompat-lompat sambil menebar bunga-bungaan. –Entah, mungkin mau bikin efek latar sendiri.
"Eren, ada Mayor Hanji, tuh."
Connie menunjuk kepada Mayor Hanji yang sudah berjalan mendekati mereka. Eren sedikit mengerutkan dahi.
"Ada apa, Mayor?"
Hanji berusaha menahan senyuman super lebar dengan menggenggam ujung seragamnya. Matanya berbinar. Karena apa?
Karena satu botol misterius di dalam jaketnya.
Dan karena ia bisa melihat Rivaille yang menahan senyum di ujung ruangan. –Ah, Hanji tahu walaupun katanya Rivaille tidak peduli tapi nyatanya tetap perhatian sama bocah unik bermata hijau di depannya ini.
"Ada kabar bagus!" Hanji mencengkeram kedua bahu Eren.
—Oke, setengah diri Hanji yang cowok itu kuat sekali ternyata. Bahu Eren kram semua.
"—A-apa itu, Mayor?"
"Sebenarnya aku sudah menyelesaikan ini dua hari yang lalu, tapi ternyata kau tertidur sampai dua hari. Jadi baru hari ini aku bisa memberikannya padamu. Aku juga belum mendapat nama yang cocok untuk kali ini, tapi aku—"
"Bisa langsung ke intinya saja, Mayor Hanji?" Eren memutar mata jengah.
Duh, ini Mayor paling-paling juga mau nambah daftar ramuan untuk tubuh Eren. Minuman yang kemarin saja belum hilang efeknya.
Sedang Rivaille yang menggoyang-goyangkan pant—eh, lain kok—cangkir kopi dari kejauhan berusaha untuk membaca raut wajah Eren.
—Ah, bocah itu pasti akan suka dengan ramuan baru Hanji, Rivaille bertaruh diam-diam.
"Aku sudah membuat obat penawar susu pembalik mimpi kemarin, Eren! Aku hebat, kan? Kece, kan? Kau tahu, membuatnya pada awalnya cukup sulit karena bahan-bahannya sulit ditemukan. Bahkan rumusnya cukup sulit, tapi yah, kau tahu sendiri aku ini hebat. Jadi aku bisa menyelesaikan obat penawarnya dengan—"
Telinga Eren berhenti berfungsi.
Kepala Eren kosong.
Berhasil? Membuat penawar? Jadi artinya sama saja dengan Eren yang tidak akan bisa kembali ke dunia mimpi, kan?
—Tidak mungkin.
Rasanya dada Eren diremat begitu keras sekarang.
Eren berusaha tertawa. Tapi yang keluar dari bibirnya hanya tawa sumbang.
"Hahaha… Ma-mayor sedang bercanda? Penawar? Ha-ha… I-itu… Cuma lelucon, kan?"
Kenapa Eren tidak suka saat Hanji bilang ada antidote untuk ramuan kemarin?
–Kenapa… —air mata Eren mengalir?
"Sa-saya… tidak… —hiks… mau,"
Eren menahan. Tapi tenggorokannya makin perih. Rasanya sangat tidak enak.
"Saya… tidak mau ada di dunia ini… —Mau kembali saja,"
Lalu Eren berlari pergi.
Dan mata Rivaille tidak percaya.
—Bocah itu… menangis?
"Eren!"
"Tunggu!"
Mikasa dan Armin bangkit dan keluar aula untuk mengejar Eren.
Dahi Rivaille berkerut. –Kenapa? Kenapa Eren tidak—suka?
Ah. Rivaille heichou kita yang terkuat itu jadi mengerti rasa sakit di dalam dada. Tuh, tangannya saja mencengkeram dada kemeja putihnya.
Nyeri yang aneh menyerang Rivaille setiap mengingat ucapan Eren.
Eren… —lebih suka dunia mimpinya.
—Sabar yah, mas Rivaille.
.
.
.
.
.
.:TBC:.
Uwaaah! Akhirnya bisa update lagi! Ya ampun! Author sudah kelewat deadline, dua minggu! Meinn gott, GOMEN karena sangatsangat telat publishnya. Saya yang sudah di ujung masa sekolah ini banyak ulangan, tugas dan lainnya, jadi maap karena telat update.
Okeh, sudah telat update, ini chapter kayaknya gagal dimana-mana.
Saya emang nggak pernah nyoba nulis fic ada adegan sedihnya, jadi hasilnya –yah… amatiran macam ini.
Apa romance-nya udah kerasa? Apa dapat feel-nya? Apa gagal total?
TT_TT
/jedutin dahi.
Tapi pastilah MAKASIH banget buat semua yang sudah review, fav dan follow! Saya cinta kaliannn! /hughug /tebarsusuHanji
Uwoh! Sudah kayak heroin deh review-an semuanya buat saya! Ah, salam kenal juga buat reader baru!
Oke, waktunya cuap-cuap membalas review! ^^
Azure'czar ( ohoho~ makasi udah review! kyahaha, telat satu chap? Semoga suka sama ceritanya yah!) Adelia-chan (ehehe, apa pertanyaan Eren yang ngilang kemana sudah terjawab? ^^ ahahaha, oke! Saya selalu suka banjir caps. Dan… ehehe, kayaknya kalau panjang, author ini tidak bisa janji. Soalnya –yah, masih amatir/tehee~ yep! Makasih yah! /sungkem bareng) hollow concrete (ehehe, Eren emang dari lahir sudah lucu dan imut loh~ /teol dagu eren. Uwooh! Di-raep? Rivaille takut ditendang Irvin karena napsuan sama bawahan sendiri tuh. Makasih ya!) Mir-acleKim (hahai! Kyahaha, saya juga suka adegan di kamar mandi /tos. Dan semua pertanyaannya, apa sudah terjawab semua di chap ini? Makasi ya!) Sora Tsubameki (makasih atas reviewnya! /ikut senam ya iyalah. Aaah~ saya terharu anda yang dapat feel di fic ini /padahal author nggak pernah dapat feel /oke, author sengklek /lupakan /tehee~) Nacchan Sakura (hehe, padahal saya nggak berpikir sampe kesitu masalah persahabatan Eren, kebanyakan mikirin OOC sih, tehee~. Yep! Makasih atas reviewnya Nacchan-san!) Evil Red Thorn ( hehe, Rivaille emang suka nyosor duluan ;). Kyahaha, iya Eren emang milik ipaille seorang. Makasih reviewannya yah!) Burung Biru ( eh? Huwooo~ kaa-san bakal jadi fujo! /senam ya iyalah /apadeh. Oke! Makasih reviewnya ya, kaa-san!) Harukaze Sora ( selamat datangg! ^^ iyep, Eren emang diculik genderuwo ganteng! /ditendang. Semoga fic nya menghibur ya!) Tsumiki-nyan (Sippo! Makasih reviewnya! Di chap ni Eren sudah bangun, kan? ^^ ehehe, gomen, tapi ini Armin nggak jadian sama Mikasa, cuma sebatas temen aja. Makasih ya!) Yamazaki Koharu (ahaha! MAKASIH!) Kujo Kasuza Phantimhive ( yep! Makasih ya! Makasih juga buat info anonymous readernya, membantu banget! ^^)
Okee~ semoga semua nggak kecewa sama chap ini u.u gomen kalau ada nama yang ketinggalan u.u
Sampe ketemu di chap depan! \^o^/
Lockalocka
