"Saya… tidak mau ada di dunia ini… —Mau kembali saja,"

Lalu Eren berlari pergi.

Dan mata Rivaille tidak percaya.

—Bocah itu… menangis?

"Eren!"

"Tunggu!"

Mikasa dan Armin bangkit dan keluar aula untuk mengejar Eren.

Dahi Rivaille berkerut. –Kenapa? Kenapa Eren tidak—suka?

Ah. Rivaille heichou kita yang terkuat itu jadi mengerti rasa sakit di dalam dada. Tuh, tangannya saja mencengkeram dada kemeja putihnya.

Nyeri yang aneh menyerang Rivaille setiap mengingat ucapan Eren.

Eren… —lebih suka dunia mimpinya.

—Sabar yah, mas Rivaille.

.

.

.

.

.

Vanilla Milk? Um! Chapter 6

Disclaimer! © semua tokoh SnK milik Isayama Hajime seorang –yah, bagi-bagi lah coba ke saya om u,u /maunya /tabok

Tapi Fic ini aseli seratus persen punya saya ya

Warnings! Fanfic ini penuh Boys Love, Yaoi dkk, bahasa amburadul semau author, EYD yang terabaikan, dan OOC tingkat parah. Tolong siapkan kantong muntahan /keuhehe

Dan… Selamat membaca! ^^

.

.

.

Seekor kurcaci tak tahu

Apa salahnya dia kalau menyukai sosok pohon Elk

Bahwa Si Kurcaci suka dengan hijaunya warna daun

Bahwa ia lupa,

Mereka beda spesies.

Memang mau bagaimana keadaan keluarganya nanti?

Berbadan cebol dan berambut ranting?

Kenyataan memang manis sekali

.

.

.

Mata kelabu gelap Rivaille terus menatap ke bawah. Memandangi ubin batu jalanan perumahan warga yang diterangi lampu jalanan dari atas atap. Tangannya masih terulur ke sana, kearah jalanan tepat dimana lelaki mata emerald-nya jatuh dan menghilang.

Ya. Eren Jeager memang selalu menghilang dan kembali ke dunia nyata. Pergi dari dunia mimpinya.

Sedikit senyum miris muncul di sudut bibir Rivaille.

Padahal baru saja ia memeluk bocah-nya, melakukan apapun seakan dunianya hanya ada pada bocah titan itu –tapi, yah, hidup Rivaille memang hanya ada pada sinar kehijauan di mata Eren—tapi sekarang, Eren sudah kembali lagi. Ke dunia nyatanya.

Hilang meninggalkan Rivaille sendirian di dunia mimpi. Tidak bisakah Eren hanya hidup disini saja? Di dalam awan mimpi bersama Rivaille yang mencintainya?

"—Sial!"

Setengah wajah Rivaille tertutup bayangan –ia menundukkan kepala entah untuk apa.

—Ah, sepertinya untuk bersembunyi. Jelas terlihat seberkas air bening turun di pipi Rivaille. –Hey, si kapten hebat milik Recon Corps dunia mimpi ini menangis?

"Eren—"

Suara dalam Rivaille terdengar kembali. –Sedikit sengau dan serak.

"—Apa kau mencintaiku? Atau mencintai sosokku di dunia nyatamu?"

Membayangkan Eren yang tertawa bersama sosoknya di dunia lain –entah kenapa membuat Rivaille dunia mimpi kita menggalau seketika.

Di dunia sana, Rivaille asli tak pernah mengatakan bahwa ia menyukai Eren. Tak pernah mengajak Eren berjalan berdua dan membeli boneka beruang coklat. Tidak pernah memeluk tubuh Eren dan menenangkannya.

Bukankah tidak adil kalau dirinya di dunia mimpi ini tidak boleh mendapatkan Eren?

"S-saya… —ugh—Ini… mimpi saya. Ini… —cuma terjadi di dalam kepala saya. Tidak—… nyata,"

Ucapan Eren terulang di dalam kepala Rivaille, dan Rivaille tahu ia sudah kalah dari awal.

Rivaille—

…—Dia tidak bisa memaksa Eren untuk terus hidup dalam dunia mimpinya, —kan?

—Duuh, jangan nangis lagi, bang Rivaille. Sadar nggak kalau ada berapa macam virus dalam ingus yang keluar dari hidung situ?

.

.

.

DUK!

"Aw!"

DUK!

"—Ugh! Aku. Tidak. Mau. Menangis!"

Seberkas luka gores terlihat timbul di dahi Eren. Ia sudah berkali-kali memukulkan kepalanya di batang pohon, dan menghasilkan luka yang pastinya terasa perih.

Tapi dada Eren terasa lebih perih. Sangat… sakit.

"—Kh! Aku tidak mau menangis! Jangan menangis, Eren buodooh!" pemuda eboni coklat itu mengepalkan tangannya kencang, dan—

DUK!

—Lagi-lagi menciumkan jidatnya dengan batang kayu. –Duh, Eren, lihat deh itu kayu keras, loh.

"AAAAAAAARRGGGGHHHHH!"

Eren menjambak rambutnya kesal. Menyalurkan perasaan jengkelnya supaya berhenti mengeluarkan airmata. Tapi nyatanya, air asin tetap mengalir dari ujung kelopaknya, bercampur dengan tetesan darah yang mengalir dari dahinya.

Tidak bisa kembali ke mimpimu.

Tidak ada lagi dunia terbalik untukmu. Tidak ada lagi muka bodoh anggota Recon Corps. Tidak ada lagi titan dengan bakul buah.

Tidak ada lagi Rivaille yang tersenyum di bawah kembang api.

Tidak akan ada lagi.

"DASAR BOGEL BODOOOOHHH! TIDAK BERTANGGUNG JAWAABBBB! AIRMATAKU TIDAK MAU BERHENTI, CEBOOLLLLLL!"

Sepertinya Eren benar-benar frustasi. Lihat tuh, menyalahkan orang yang ada di dunia lain padahal dia-nya yang nangis. Nggak tahu Rivaille di dunia mimpi juga galo ya, Ren?

"Heichou… Rivaille heichou…"

Eren sadar, biarpun seribu kali ia memanggil nama itu, biarpun bibirnya berbusa dan lidahnya tergigit seperti Auruo dengan menyebut nama itu, lelaki itu tidak akan pernah datang.

Rivaille yang ia harapkan tidak akan muncul di depan matanya sekarang. Kemudian memeluknya, mengucapkan kalimat kasar tapi menenangkan, atau mengeluarkan gombalan maut yang bisa mengubah tangis Eren menjadi semburat merah muda dengan mudah.

—Ah, Eren benar-benar sudah gila. Bukannya dulu dia teriak ogah untuk menjadi homo? Nah, sekarang?

–Memang kena karma ini bocah.

.

"Aku… mau bertemu denganmu —Rivaille. Kumohon…" genggamannya mengerat.

.

"Kapan kau kembali …—Eren?" tetesan air mata kembali jatuh.

.

.

.

BRAAKKK!

Sebuah kursi terbang. Dan jidat Irvin menegang.

"Rivaille—"

BRUKKK! BAKKK! PRAANG!

Kali ini ada meja panjang yang terbelah jadi dua. Muka Irvin makin nggak nyante.

"Rivaille, tolong—"

CTARR! BUAAGH! PRAKK PRAKK!

Dan sebuah tendangan menghancurkan jendela besar. –Ah, lihat Irvin, ada tas kotak berwarna-warna bling-bling yang terbang keluar jendela juga, loh.

Kesabaran Irvin sudah musnah.

"RIVAAAIIILLLLE! BERHENTI MENGHANCURKAN BARANG MILIK MARKAS, KONTET! DAN—YA TUHAN! ITU KOTAK ALAT TULIS TERLENGKAPKUU! JANGAAN DIBANTING KELUAR TOLOOOOONGG!"

Irvin berteriak penuh nada nelangsa. Kasihan sekali, uang tabungan setahun penuhnya yang baru ia belanjakan untuk alat kerja lengkap sudah jadi hamparan benda pecah di rerumputan di luar markas—jatuh bebas dari ruangan Irvin di lantai tiga.

Sedangkan Rivaille yang sedang dalam pandangan mata laser mematikan itu tidak menggubris Irvin, malah sudah mengarahkan tinjuan ke lemari pakaian Irvin.

—Sepertinya, mood Rivaille sudah ada di ujung tanduk—dan itu semua cuma gara-gara ngeliat air mata bocah setengah titan-nya barusan.

Iya, tadi Rivaille lihat Eren nangis sambil jedukin kepala di pohon belakang markas, dan itu bikin Rivaille jadi macam beruang di kasih balsem super panas di pantat.

Mengerikan sekali.

BRAAKKKK!

"AAAAAAAAAARRRGHHH! LEMARIKUUUUUUUU!"

—Sepertinya Author sedang melakukan tes kesabaran tingkat tinggi buat Irvin hari ini.

.

.

.

Ini sudah hari keempat untuk Eren tidak tidur dengan nyenyak. Kepalanya terasa berat, dengan kantung mata di bawah kelopak. Ditambah kenyataan bahwa tidak tidur nyenyak sama dengan tidak bermimpi, membuat Eren makin uring-uringan.

Sebenarnya Hanji tidak menyuruhnya untuk menegak antidote ramuan pembalik mimpinya, tapi nyatanya Eren tetap tidak bisa kembali ke dunia terbalik. Eren sudah mencoba berbagai cara, seperti dengan merilekskan tubuh sebelum tidur, mandi terlebih dahulu, pijat, bahkan Armin membuat lagu klasik seharian penuh agar Eren dapat tidur.

Tapi nihil. Sama sekali tidak berhasil.

Jadi, tidak ada tidur. Tidak ada Annie yang memeluk. Tidak ada Ibu dan Ayahnya. Tidak juga dengan Rivaille.

Hanya ada—

"Uwow! Lipatan mata panda-mu bertambah hitam, ya, Eren! Hahahaha!"

Rasanya tangan Eren sudah mengepal untuk meninju bibir monyong Jean yang asal bicara sekarang juga, tapi kondisi fisik kurang tidur Eren membuat ia mengurungkan niat.

"Sudahlah, Eren, tidak usah mendengarkan ucapan Jean," sang malaikat Armin menyelamatkan mood membunuh Eren barusan.

—Jean, seharusnya kau berterima kasih pada Armin. Tonjokan setengah titan Eren itu cukup untuk merontokkan setengah jumlah gigimu.

Dan entah kenapa, Jean langsung nyengir. "Ehehe, maafkan aku, Armin."

Mata Eren memicing tajam.

WOI WOI! Ini yang tadi diejek kan Eren, kenapa nih kuda minta maafnya ke Armin, hah?!

—Ow ow, aura membunuh dengan tonjokan Eren kembali bangkit.

"Hoi KUDA! Minta maaf itu seharusnya pada—"

"Rivaille heichou memanggilmu, Eren. Dia ada di ruangannya tadi," suara Connie yang menginterupsi menyelamatkan Jean untuk kedua kali. Mungkin Jean sedang beruntung hari ini.

Mendengar teriakan Connie, Eren berjalan di koridor –meninggalkan Jean dan Armin di ruang makan—dan mengekor si botak bersinar.

Eren mengambil langkah sejajar bersama Connie, sedikit perasaan jengah menghampirinya. Ia sedang badmood akibat kurang tidur, dan bertemu Rivaille yang maha galak itu bukan obatnya.

—Heeh, obatnya itu Rivaille yang suka godain situ bocah manis, kan? Iya kan, Eren?

Sibuk dengan pikirannya, Eren baru sadar ia sudah berdiri di depan pintu kayu coklat super kinclong –dengan sosok Connie yang sudah berjalan berbalik.

"Kau tidak ikut masuk, Connie?"

Connie bergidik ngeri. "Tidak perlu. Melihat wajah heichou yang seperti masa PMS itu tidak menyenangkan. Juga yang dipanggil kan dirimu saja, Eren," ucap Connie dengan nada malas, ditambah postur gerakan mengangkat tangan.

Eren membuang nafas –kesal.

Tangannya mengangkat, dan mengetuk pintu beberapa kali.

Tok Tok Tok!

"Siapa?"

"Eren Jeager, heichou."

Diam sesaat.

"—Oh. Masuk, Jeager."

Hati Eren sedikit mencelos. Mengingat biasanya suara kasar dan dalam ini memanggil namanya secara langsung, bukan dengan embel-embel marga.

"Saya masuk Heich—"

BUUAKK!

"ARGHHH!"

—Eren bisa melihat satu giginya copot dan menggelinding di lantai.

"Kenapa menendang sa—"

BUUKKK!

—Satu lagi organ putih berdarah terlepas dari gusi Eren.

"HEICH—"

BRAAKKK!

Dan kali ini pintu kamar atasannya yang baru Eren tutup itu menjadi korban tendangan maut nan menawan. Sudut mata Eren bisa melihat dengan jelas retak besar di pintu kayu –tempat ia merapatkan tubuh ketakutannya.

—Kayaknya Rivaille melupakan sejenak potongan gaji dari Irvin untuk perbaikan pintu nanti. Yang penting melampiaskan amarah dulu.

"Jegaer."

Brak!

Rivalle menatap mata Eren dalam, menghimpit tubuh Eren diantara pintu dan tubuhnya. Satu lengannya ia gunakan untuk menggebrak pintu di belakang Eren –setengah centi meleset mungkin sudah berubah sasaran jadi menggebrak dan merusak telinga kanan Eren.

"Y-ya –Heichou?" Eren cuma berani mencicit.

"Lihat aku."

Dengan segenap sisa keberanian –dan gigi—yang ia punya, Eren menegakkan kepalanya. Menatap langsung pada mata elang pembunuh yang hanya lima senti dari matanya.

"Kau banyak melalaikan tugasmu sebagai anggota Recon Corps, Jeager."

"Be-benarkah, Heichou?"

"Kau membuatku malu. Kau ada di bawah pengawasanku, tapi kau banyak melupakan kewajibanmu."

"Ma-maafkan sa—"

Satu jari Rivaille terangkat.

"Pertama, tidak menyelesaikan tugas membersihkan atap markas."

"Saya—"

Dan dua jari terangkat.

"Tidak membersihkan kandang kuda."

"Tapi—"

Lalu jari ketiga—

"Lupa menata laporan milikku dua minggu ini."

"Heic—"

"Tidak mencuci selimutku."

"—?"

" Tidak membuat kopi untukku dua minggu ini selama kau tidur pulas—"

"?!"

"—Melupakan tugasmu menyapu kamarku. Tidak membawa cucianku ke bagian pencucian, tidak menyiapkan baju gantiku, tidak membawakan makan malam saat aku lembur, tidak—"

—Entah sudah jari keberapa, Eren malas menghitung.

Karena ubun-ubun Eren mendidih. Sangat. Panas. Dan—

"SAYA INI ANAK BUAH ATAU PEMBANTU ANDA SIH SEBENARNYA, HEICHOU?! ATAU SAYA SUDAH ANDA JADIKAN BUDAK ANDA SENDIRI?!"

Dia memekik keras. Hal yang sangat patut diberi tepuk tangan karena berani berteriak pada Si Maha Hebat Rivaille.

Alis Rivaille tetap datar.

"Kau… —ketiganya."

YA SHADIS SUKA MINUM SUSU COKLAT KENTAL MANIS! Bagaimana Tuhan bisa tega memberi Eren atasan se-sadis ini?

"Duduk disana, Jeager. Aku akan memberimu daftar tugas yang sudah lalai kau kerjakan dua pekan ini."

—Rivaille seriusan? Eren tidak habis pikir kenapa Heichou-nya bisa se-teladan ini hanya untuk mengkonfirmasi semua tugas Eren.

Oke, Eren menurut. Dia memilih untuk segera duduk manis, menegakkan tubuh, menyiapkan telinga baik-baik pada semua omelan Rivaille sore ini.

Beberapa lama, Rivaille kembali dari meja kerjanya, membawa secarik kertas perkamen nan panjang yang –oh, tahu apalah isinya. Mungkin Rivalle juga akan menambahkan hukuman dari semua kelalaiannya.

Dan Rivaille duduk di hadapan Eren, dengan sebuah meja panjang membatasi keduanya.

Eren menyiapkan telinganya.

"—Jeager, kau—berubah jadi panda? Ada apa dengan mata bodohmu itu, —hah?"

—Duh, kalau mau tanya keadaan mata, nggak usah nambahin kata 'bodoh' segala deh, Heichou. Eren tahu diri kok dari lahir IQnya nggak sebrilian situ.

"I-ini… saya tidak bisa tidur, Heichou." Jawaban jujur, seperti biasa.

"—Oh?"

Rivaille mengangkat sebelah alisnya. "—Kau benar-benar memikirkan dunia mimpimu hingga seperti itu?"

Eren mendesah berat. "Mungkin menurut Heichou saya terdengar konyol. Tapi –yah, memang saya menyukai tempat itu."

"Dimana? –Ah, maksudku, di bagian mana kau suka dunia mimpi anehmu itu, Jeager?"

Eren memandang langit-langit.

"Sangat banyak sebenarnya, Heichou. Disana, saya tidak perlu repot-repot memikirkan titan yang akan menyerang dinding. Kedua orang tua saya masih hidup. Thomas, Petra-san, Auruo-san, semua pasukan tetap utuh. Tidak ada yang perlu di takutkan lagi. Semuanya benar-benar baik. Dan saya—"

Suara Eren terhenti. Bibirnya mengatup kembali –tanpa menyelesaikan ucapannya lagi.

"—Dan kau?" Rivaille memandang intens. Sangat terlihat menuntut Eren untuk menjawab.

Ah, sebenarnya Rivaille sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh bocah bawahannya ini. Ia sudah benar-benar tahu, dan ia sadar rasa ganjil di dalam dadanya akan kembali terasa jika ia mendengar jawaban langsung dari Eren.

Tapi, entahlah. Bibir Rivaille bergerak sendiri untuk menanyakan kelanjutannya.

"Sa-saya… benar-benar menyukai Rivaille Heichou di dunia mimpi saya."

—Heei, dada Rivaille terasa nyeri lagi. Apa ada yang tahu kenapa jantungnya seperti teremas kuat? Rivaille tidak kena stroke mendadak, kan?

"—Oh."

Menahan sekuatnya –dan Rivaille memang benar-benar kuat—ia hanya mengeluarkan respon singkat. Sebenarnya tangan Rivaille mencengkeram kuat-kuat kertas perkamen di genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih, tapi –yah, Rivaille tidak menampakkan emosinya seperti biasa.

Benar-benar menyebalkan mengingat ucapan Eren barusan.

"Apa kau—mau kembali?"

Sebuah senyum simpul muncul. "Sangat ingin."

—Dan sakit di dada season dua muncul lagi di tubuh Rivaille.

"Mau kubantu untuk tidur nyenyak agar bisa kembali ke dunia mimpimu, Jeager?"

Mata Eren berkilat senang. "—Eh? Heichou bisa membantu saya? Bagaimana caranya?"

Sudut bibir Rivaille melengkung sarkas. Dan tangannya mengepal.

"It hal yang… —sangat mudah."

BUAAKKKKKK!

Tubuh Eren limbung dan jatuh di atas sofa Rivaille. Matanya berputar-putar dengan sedikit busa di bibir –ah, jangan lupakan satu gigi putih yang kembali menggelinding mengenaskan di ubin lantai Rivaille.

Secara uraian singkat, Eren pingsan akibat jab kiri Rivaille di perutnya.

"—Tch! Bocah sialan!"

Rivaille memandangi tangannya yang masih mengepal –bukti nyata bahwa ia baru saja memukul telak perut bawahan manisnya.

Namun sinar kemarahan Rivaille yang baru saja muncul setiap mengingat betapa Eren merindukan mimpunya langsung menghilang, tergantikan dengan sorot mata yang meredup.

"—Kau tak tahu seberapa bodohnya dirimu, Jeager?"

Tangan putih pucat Rivaille terangkat. Menyentuh pipi Eren dengan lembut dan sayang.

Dan seumur hidupnya, itulah pertama kalinya Rivaille berlutut menenggelamkan wajah di lekuk leher pemuda –Eren Jeager.

"Aku sangat mencintaimu, Bocah."

Baiklah. Biarkan Eren untuk tidur nyenyak malam ini, Rivaille.

.

.

.

"—Kau tak tahu seberapa bodohnya dirimu, Jeager?"

—Eh?

"Aku sangat mencintaimu, Boc—"

Tubuh Eren tersentak keras.

Tersentak keras? Tentu saja iya, bayangkan saja sebuah tendangan maut nan menawan yang seperti sudah meretakkan tulang pinggul aduhai Eren sekarang.

"AAH! CEPAT BANGUN ATAU KUKUTUK TUJUH TURUNANMU BERWAJAH CHRISTA BERCAMPUR SAWNEY, JEAGERR!"

—Itu siapa pula yang punya niatan ngutuk sebagus itu? Kutukannya keren, tuh.

Eren Jeager terbangun. Total.

"Argh!"

Dan pukulan di paha kembali membuat tubuhnya biru-biru.

—Oalah, Armin Arlert lagi toh yang tadi ngucapin kutukan super-serem itu. Kaki kanan Armin bahkan masih ada di atas paha Eren sekarang.

Tapi –God bless! Ini dunia mimpi kebalik. Eren berhasil kembali.

—Ah, lihat, bunga-bunga sudah berterbangan di sekeliling tubuh Eren. Wangi sekali.

"Pagi, Armin!" Eren mengangkat tangan dan menepuk pundak sahabat kepala brilian di depannya. Tidak peduli lelaki itu sudah membubuhkan lebam biru di paha kanannya.

Eren tidak peduli. Yang penting Cuma satu; bahwa dia kembali.

Tubuh Eren sendiri sudah bangkit dari ranjang dan mengapit handuk berwajah titan, mengambil langkah lompat-lompat-kecil-bahagia-sekali dan pergi meninggalkan Armin yang membeku diam di kamar.

Itu si Eren… —senyumnya creepy sekali.

.

.

.

.

"SELAMAT PAGI RECON CORPS~!"

Setangah dari koloni ketombe di rambut nan kinclong Irvin Smith seperti sedang dibawah gonjang-ganjing neraka yang dipercepat—rasanya teriakan barusan sudah bisa membangunkan spesies makhluk terkecil sekalipun.

Eren sedang bahagia—sangat.

Lalu tambahkan kata kuadrat, super ataupun plus plus, maka hasilnya sama dengan wajah blo'on dengan senyum gigi bersinar mentari pagi –Entah, mungkin bocah titan ini mau ikut audisi odol seperti yang sudah dilakukan Irvin terlebih dahulu; iklan sampo rentengan.

"Ada apa denganmu hari ini, Jeager? –Kau ulang tahun?" Irvin mulai membuka sesi tanya jawab –karena objek pikirannya kini ada di sampingnya, mengantri makanan dengan creepy smile titan.

"Bisa jadi, Mayor. Saya seperti sudah lahir kembali. Empat hari tidak tidur tanpa mimpi indah ini sudah seperti memangkas setengah umur hidup saya. Saya tidak tahu apa jadinya saya kalau belum kembali melihat Ketua Shadis menyodok bokong Jean ataupun Connie yang menanam kentang bersama Bean. Itu berat sekali."

"…"

"Bisa gunakan kata yang lebih sederhana?"

"Saya bahagia seperti Reiner yang sedang joget balon dan Bertholdt mengikuti lomba Scouting Idol, Sir. Apa Sir tidak merasakan kesejahteraan merakyat di setiap hembusan angina pagi bersama kicau burung pagi ini, Sir?"

Ngek!

Irvin tak mengerti ucapan dari bocah ini ataupun kata 'ngek' barusan. Dia tentara bangsawan –ngek tidak ada di kamus bahasa Inggris—dan ia belum pernah belajar bahasa monyet ataupun katak.

—Memangnya siapa sih yang bilang ngek itu bahasa hewani, Bang Irvin?

"…"

"Mayor?"

"—E-eh? iya?"

"Tolong geser. Saya mau ambil selai stroberi disitu."

Kerja bagus, Eren Jeager. Bagus banget buat ngomong kayak gitu sambil masang pout di bibir yang peach sambil gigit telunjuk dengan teramat manis.

Dan lihatlah wajah Mayor Irvin hebat kita sekarang. Bego sekali mukanya, wow.

Selai terkutuk!—Wuiih, Irvin ternyata bisa mengumpat dalam batin.

Mayor ini tidak pernah menyangka remaja lelaki berambut eboni ini akan begitu kawai kalau menggigit jari telunjuknya macam ini—dan hello Irvin, Eren tidak ada maksud menggoda di depan Anda!—itu cuma ekspresi yang biasa ia gunakan disaat kepengen berat.

Keringat dingin Irvin muncul segede buah semangka.

—Ia rasa ia perlu melakukan creambath tujuh kali dengan air tanah di sesi terakhir –cara mutakhir untuk menghilangkan segala pikiran kotor bahwa Eren bukan sedang mengemut jemari, tapi sesuatu yang besar, kaku dan—agh! Kokoro Irvin sudah megap-megap!

Seseorang! Bagaimana Mayor tercerdas ini bisa sebegitu horny? Cuma gegara emutan jari remaja loh!

"Irvin. Bisa geser? Aku mau ambil saus cabe Habanero didepanmu. Move. Please."

Blar Blar!

Kilatan mata tajam di belakangnya membuyarkan semua adegan R18 di kepala Irvin –berganti adegan pembunuhan terbaru dengan memasukkan cabe terpedas itu lewat pusar seseorang yang tampan, Irvin contoh mudahnya.

"O-Ooh, Ri-Riivaille? Err… Ya, silahkan. Aku cukup dengan nasi ini. Aku akan pergi."

Sebelum genderang perang dibunyikan, Irvin memilih mengambil langkah lebar menjauhi meja prasmanan makanan. Meninggalkan Rivaille yang mempersiapkan sol sepatu untuk tendangan menawan lainnya –dan Eren yang meraup sesendok besar selai stroberi dengan polos.

—Entahlah, bagaimana Irvin bisa seterlambat ini menyadari keimutan bocah itu setelah harimau ganas paling kuat di Recon Corps sudah menyetempel dahi Eren atas hak miliknya.

Milik Rivaille. Seorang.

—Sabar saja ya, Irvin, masih banyak berondong di kamp yang bisa disabet. Armin Arlert, misalnya?

Lupakan.

"Eren."

"—Eh? heichou?!"

Mata Eren berbinar, membulat, membesar.

"Saya dari tadi mencari Anda! Mau sarapan bersama? Anda sedang tidak sibuk, kan?" Eren memasang wajah berharap.

Kini pikiran eroge muncul di kepala Korporal muda. –Kenapa semua begitu terangsang akan pesona Eren pagi ini?

"…"

"Heichou? Mau sarapan bareng tidak?"

"A-aah… T-tentu saja."

Heei, sejak kapan Rivaille bisa gagap?

.

.

.

Alis seberat tubuh Armor titan milik Rivaille sedikit terangkat. Matanya yang tajam –makin fokus—dan dagunya bertopang sebelah tangannya.

Bisa dibilang, itu wajah Rivaille kalau bingung. –Jangan kira dia sedang diare atau telat bulanan.

"Eren."

"Hm-mm?" dijawab Eren dengan mulut penuh roti isi.

Rivaille bimbang –jadi menanyakan atau tidak. "Kau… —di dunia nyatamu, terjadi sesuatu? Kenapa segembira ini –eoh?"

Suara Rivaille di dunia mimpi dan nyata memang sama; sedatar telanan. Tapi sikapnya saat bicara, jauh beda.

—Lihat saja, kini Rivaille di dunia mimpi sedang mengangkat tangannya dan membersihkan remah roti campur selai di sudut bibir Eren. Drama Korea sekali, Saudara-saudara.

Pipi Eren memerah seketika.

"Ti-tidak terjadi apa-apa, kok." Suaranya mencicit, menahan malu.

"Kalau begitu, kenapa tumben sekali mengajak sarapan satu meja? Otakku masih ingat setiap bangun dari dunia nyata, kau tidak pernah mau berduaan denganku. Sudah jatuh cinta padaku, —hm?"

Plok Plok Plok! Tolong berikan Rivaille tepuk tangan karena berhasil membuat pipi Eren semerah udang asam manis!

"—hmm, manisnya," Rivaille mencubit ujung hidung Eren yang memerah. Rivaille tidak menggombal, Eren yang malu-malu sekarang memang sangat manis.

"He-heichou," Eren cuma bisa mencicit lagi dan menggigit sendok. Dirinya sudah benar-benar belok dengan perlakuan macam ini. Seperti biasa, ia menundukkan kepala menyembunyikan rona merah di pipi.

"Ada apa, Eren?"

"—!"

Plop ploop~ dengarlah suara kembang api di hati Eren sekarang! Jarak wajah lima senti seperti ini membuat Eren kelimpungan sendiri.

"—Ada apa?"

"To-tolong agak… menjauh, Heichou. Yang lain bisa melihat kita." Tangan Eren agak mendorong bahu Rivaille mundur –sepertinya duduk di meja makan berhadap-hadapan begini merupakan hal yang musti dihindari di lain hari.

Rivaille mendengus dan mengacak rambut Eren. "Biar saja mereka melihat. Itu bisa jadi peringatan untuk mereka, kalau kau ini milikku."

—Haah, Rivaille tidak habis pikir, kenapa rambut Eren bisa touchable begini? Lembut sekali.

"Apa kau tidak suka kalau aku blak-blakan begini, Eren?"

Wajah Eren mendongak. "Ti-tidak."

"—Lalu?"

"Sa-saya cuma… takut. Karena saya jadi kembali memikirkan dunia nyata saya lagi."

—Oke, Rivaille mulai nggak suka sama topik pembicaraannya. Hati Rivaille cekat-cekot lagi. Kata Eren ditambah dunia nyata itu jadi tombak di dada Rivaille. Nyesek sekali.

"Memang kenapa dunia nyata-mu –heh?"

Eren menghentikan kunyahannya. "Sudah lama semenjak saya minum susu vanilla Mayor Hanji, jadi mungkin efeknya ini akan segera berakhir. Saya juga tidak tahu sih habisnya kapan, tapi bisa saja kan ini bakal jadi terakhir kalinya saya di—"

Ah. Tenggorokan Eren sakit mendadak.

"—Eren? Kau oke?"

Eren meremat roti isi di genggamannya. Dan sebuah senyum memaksakan timbul di wajahnya.

"Ah, saya—tidak apa-apa."

Dahi Rivaille terangkat. "Lalu kenapa tidak lanjutkan ceritamu tadi?"

Gluk.

"Adalalatmasuktenggorokansaya! He-he-he," Eren ketawa gagu.

Rivaille cengo. Mungkin Eren memang sedang tidak enak badan hari ini?

"Ah, Eren."

"—Ya, heichou?"

Rivaille memainkan sendok makannya sambil menahan untuk tersenyum.

"Nanti setelah ekspedisi—" Rivaille kembali membersihkan remah roti di pipi Eren, "—mau ikut aku sebentar? Jalan-jalan, —hm?"

Senyum lebar langsung menghiasi wajah Eren.

"Um! Saya mau, Sir!"

—Aah, mata hijau bersinar Eren memang warna kesukaan Rivaille. Apalagi kalau ditambah deretan gigi di bibir yang tersenyum itu. Zuver manis.

"—Bagus. Cepat habiskan makanmu. Sebentar lagi kita berangkat. Apa kau mau mampir ke rumah orang tua-mu sekalian?"

Eren sudah kehabisan kata-kata kecuali mata berbinar.

"Anda—ah, saya benar-benar menyukai Anda, Heichou! Terima kasih!"

Telinga Rivaille pengang.

Sebentar dulu. Tolong ulangi ucapan yang baru masuk ke telinga Rivaille tadi.

Anda—ah, saya benar-benar menyukai Anda, Heichou!

Benar-benar menyukai Anda…

…—Menyukai… Anda…

Suka… Heichou—

AAAAAAAAAAAAAAARRRGGGHHH!

Ada yang punya nomor telepon rumah sakit? Siapapun? –Ini Abang Rivaille mau beli tabung oksigen untuk paru-parunya yang mengempis ini, tolong! Bocah di depannya ini baru aja bilang suka, Bung! Manis sekali!

"…"

"—He-heichou?"

"Hm-m?"

Eren menunjuk hidungnya. "—Err, ada darah di hidung Anda."

Demi tabung gas tiga kilo-an ijo yang nggak sebagus ijo mata Eren! Kenapa ada darah nyasar di hidung Rivaille?

—Bagus deh, Bang Rivaille. Anda mimisan cuma karena liat senyum ala bocah TK gebetan Anda. Gimana keadaan fisik Anda kalau sampai ngebayangin adegan erotis di ranjang bareng nih bocah unyu?

—Nah nah, darahnya makin banyak tuh, Rivaille Heichou.

.

.

.

"Yo! Eren! Sudah mengecek kondisi titan di pos ke-lima?"

Eren melihat kuda Connie mendekat ke arahnya –berlari sejajar dengan kudanya dengan santai.

Eren mengangkat ibu jarinya dengan sebelah tangan. "Yep, semua tugasku sudah selesai. Bagaimana denganmu, Connie?"

"Tentu saja sudah. Bahkan sepertinya aku masih punya waktu untuk bergaul dengan semua kentang rebus dalam kantong jaketku ini," jawab Connie sambil menepuk dadanya yang agak menyembul—tahu saja Eren itu apa.

"Bukannya Mayor Hanji melarangmu membawanya?"

"Heish, yang penting tidak ketahuan, kan?" mata Connie berkedip jahil. Dan kudanya berlari mendahului Eren.

"—Aku duluan, Eren! Aku mau bercumbu dengan semua Potato-chan di dalam dekapanku ini~!"

Telinga Eren budek semua. Eren yakin ia dengar kata 'cumbu' dan 'potato-chan' walau ucapan Connie tertelan angin.

—Benar-benar Mas Connie satu itu. Mau ngisi biodatanya pasti ribet, nulis hetero seksual bukan, nulis homo seksual juga bukan. Potato seksual?—jelas.

"Connie benar-benar mengerikan," suara perempuan terdengar dari arah samping Eren. Sasha Brauss—sedang mendengus dengan menggembungkan pipi.

Eren menjaga laju kudanya sambil menoleh. "Memangnya Connie kenapa?"

"Dia yah—menjengkelkan, —eh, Eren! Awas ada—"

BAKKK!

Eren pingsan, deh.

.

.

.

Jadi… —Eren bakal balik ke dunia nyata, nih? Dia kan belum ngucapin salam perpisahan ke Rivaille sambil dipeluk dan dibawah bulan purnama yang romantis gitu. Terus dahinya di kecup, pipinya dibelai, bibirnya dicium, badannya digrepe-grepe, dan berakhir di ranjang dengan hot-nya.

—Eh?

Itu barusan Rivaille yang ngetik. Mezum banget situ, Bang.

.

.

.

.:TBC:.

A/N :

AAAAAAAAAAAARRGHHHH! Sudah berapa lama Author telat nge-update? Sudah berapa lama Author kena penyakit males? Sudah berapa lama Eren diperkosa Rivaille? /salah fokus

Oke, Author sadar ini telat banget. Author juga sadar ini chapter gagal banget. Entah, jiwa nulis fanfic author lagi minggat kemana, kerjaannya males mulu u.u dan rasanya ini fic alurnya berasa ngebosenin?

GOMENASAAIIII! /bow

Dan di chap ini, gomen—lagi—karena klimaksnya belum ada. Rencana saya sih, bakal dimunculin di chap depan, bisa jadi juga chap depan udah saya end ini fanfic

Tapi bener-bener MAKASIIH buat yang sudah menyempatkan diri memberi saya makan lewat DoujinR18—eh, salah, maksudnya lewat Review, Fav dan Follow. Itu semua bener-bener jadi nasi Authou buat nulis ini fanfic! AAH! MAKASIIH BANYAAAKKKK! /kecup satu-satu /ditonjok reader

Entah, bakal jadi apa saya tanpa Reader semua :D

Thanks to :

Petra Kindness Ral, uchiha hani namikaze, hollow concrete, Miracle-ren, Ray Bellatrix, dame dame no ko dame ku chan, yuki amano, Harumi Ryosei, Sora Tsubameki, Rei2501, Nacchan Sakura, Kiyomi Hikari, devilojoshi, yuzuru, huangangelin, burung biru, Mademoiselle Z, AikoShimazaki, Hydrilla, Usagi-kun, OurieChrome, Chijou Akami.

Dan buat uchiha hani namikaze di chap4 kemarin! ^^ juga yang udah nge-favs atau follows fanfic abal saya ini! ^^

Sampe ketemu di chap depan!

Lockalocka.

Dan… Berkenan untuk Review? ;)