"—Aku duluan, Eren! Aku mau bercumbu dengan semua Potato-chan di dalam dekapanku ini~!"
Telinga Eren budek semua. Eren yakin ia dengar kata 'cumbu' dan 'potato-chan' walau ucapan Connie tertelan angin.
—Benar-benar Mas Connie satu itu. Mau ngisi biodatanya pasti ribet, nulis hetero seksual bukan, nulis homo seksual juga bukan. Potato seksual?—jelas.
"Connie benar-benar mengerikan," suara perempuan terdengar dari arah samping Eren. Sasha Brauss—sedang mendengus dengan menggembungkan pipi.
Eren menjaga laju kudanya sambil menoleh. "Memangnya Connie kenapa?"
"Dia yah—menjengkelkan, —eh, Eren! Awas ada—"
BAKKK!
Eren pingsan, deh.
.
.
.
Jadi… —Eren bakal balik ke dunia nyata, nih? Dia kan belum ngucapin salam perpisahan ke Rivaille sambil dipeluk dan dibawah bulan purnama yang romantis gitu. Terus dahinya di kecup, pipinya dibelai, bibirnya dicium, badannya digrepe-grepe, dan berakhir di ranjang dengan hot-nya.
—Eh?
Itu barusan Rivaille yang ngetik. Mezum banget situ, Bang.
.
.
.
Vanilla Milk Chapter 7
Disclaimer © Isayama Hajime; orang jenius yang tega memberi umur remaja-akhir buat abang Auruo dan umur tua buat si ganteng heichou
Warnings! Fanfic ini berisi BL, Yaoi dkk, Typos! Dan OOC! Tingkat tak tertolong
Fanfic aseli bikinan saya
Happy Reading! ^^
.
.
.
.
—Jadi, bagaimana bisa Eren pingsan dan menimbulkan suara BAKK keras barusan?
Salah Eren yang mengobrol sepanjang jalan pulang ekspedisi—dan bocah ini tidak melihat ada sebatang pohon tepat di depannya. Epic sekali, mata Eren sudah berputar-putar bersama bintang imajiner dan jatuh dari kuda tanpa kesan elegan.
"Eren?! Kau tidak apa-apa?!"
Sasha yang tanggap segera menghentikan kudanya dan menghampiri kuda Eren. –Baru akan menepuk-nepuk pipi Eren—dengan maksud mengembalikan kesadaran Eren nih—tapi Sasha gagal melaksanakannya.
Iya. Gagal—
—Karena sudah ada tubuh-tubuh lain yang mengerubungi si setengah titan yang pingsan itu. –Siapa aja?
"Eren! Bangun! Kumohon sadarlah sayang!" –Jean Kirschtein.
"My GOD, Beibh! Kau kenapa?!" –Kali ini suara panik dari Auruo Bossard.
Dan ada yang mengguncang-guncang tubuh lemas Eren.
"JEAGER! JEAGER! BANGUN! Nafas buatan! Anak ini butuh nafas buatan! –Oh, aku pintar memberi nafas buatan! –Permisi yaa!"
—Kali ada Bang Irvin—yang nyebut-nyebut nafas buatan padahal dianya sendiri yang cari kesempatan dalam kesempitan. Mulia sekali niatan dirimu Mayor Irvin.
Sedangkan Sasha sudah tertendang dari kerumunan dan membentur pohon—yang sama—dan kejedot. Ikut pingsan. Dan tak ada satupun yang menghiraukan.
Puk puk puk. Sudah banyak jomblo ngenes yang mengerubungi—dengan alasan membangunkan Eren padahal mau grepe-grepe—tubuh Eren seperti barang diskonan. –Mumpung bocahnya lagi tidak sadar, dan macan garang bermuka gepeng telanan itu ada di bagian ekspedisi Barat.
—Benar-benar mencari kesempatan.
"Ereen!"
"Bangun!"
"—He-hei! Jangan memajukan bibir Anda, Mayor! Eren tidak butuh nafas buatan!"
"Kirschtein! Kau tidak tahu betapa gawatnya keadaan ini?! Dia butuh!"
Si Irvin tetep nyolot pengen nyosor. Sedang tangan Jean sudah menahan tepat di lubang hidung Irvin agar Mayor jones itu tidak mencuri ciuman di bibir Eren.
"—Minggir Kirschtein! Tanganmu—meinn gott! Kesucian lubang hidungku!"
Irvin menepis tangan Jean—namun tangan lelaki lain sudah menahan kembali wajahnya. –Tangan super besar Berthdolt yang entah sejak kapan sudah ada disitu bersama sahabatnya, Reiner.
Bethdolt menambah keramaian. "Saya lebih hebat dalam hal ini, Mayor! Paru-paru saya besar!"
Reiner tak mau kalah. "Minggir, Berth! Dadaku besar! Aku lebih bagus!"—sambil memegangi dada ala biaragawan.
—Duh, siapa yang bisa menghentikan kekacauan ini?
"Mayoor!"
"Berth!"
"Kirschtein! Bisa lepaskan jarimu itu tidak sih?! Dua jempolmu sudah masuk ke dalam satu lubang hidungku, TOLONG!"
Kali ini hari penuh uji kesabaran untuk Mayor Irvin dunia mimpi.
.
.
.
"Hachiiih!"
Sosok Irvin dunia nyata menggosok-gosok hidungnya. Cuaca sedang cerah—kenapa dia bisa bersin tiba-tiba? Aneh sekali.
"—Eh, Rivaille?"
Sosok tentara terkuat yang berjalan beberapa langkah di depan Irvin itu berhenti. Kemudian mengangkat wajahnya dari setumpuk lembaran kertas di tangannya dan menengok ke belakang.
"Ada apa, Irvin? Kalau tanya sapu tangan—tidak. Milikku terlalu higienis untuk ingusmu itu."
Tiga kedutan besar muncul di dahi kinclong Irvin.
Irvin cuma bisa mengibaskan tangan. "Tidak. Aku hanya mau tanya, kemana kadet setengah titan ya? Aku belum ada melihatnya seharian ini."
—Ooh, maksud Mayor kadet bernama Eren Jeager itu? Yang sedang tertidur lelap dengan lebam di pipi—dan kehilangan tiga gigi—di atas ranjang sahabat boncelmu itu?
Aah, ada bunga-bunga muncul di belakang Rivaille begitu ingat betapa manisnya wajah bocah yang sedang tertidur itu. Cantik sekali.
"—Hei, Rivaille?"
Eh.
"Aku tidak tahu bocah itu ada dimana. Memang kenapa kau menanyakannya segala? Tidak penting, Irvin," Rivaille berbohong dan sok tidak peduli.
—Halaah, padahal bilang saja situ cemburu, Bang.
Irvin mengangguk. "—yah, hanya heran saja, biasanya dia sudah berkicau paling keras."
Mereka berdua kembali melanjutkan jalan di koridor markas.
Irvin memerhatikan sekelilingnya. Semilir angin awal musim gugur mulai tercium, membawa hawa dingin dan menenangkan. Sangat tidak terasa musim panas sudah akan berakhir.
"Musim gugur itu identik dengan kata romantis, kan, Rivaille?"
"Lalu kenapa? Kau mau menyatakan cinta padaku? Mau melihat neraka cepat-cepat?"
Rivaille menjawabnya tanpa nada dan ekspresi. Juga tanpa memandang wajah Irvin yang sudah pucat pasi.
Mata Irvin berputar malas. "Tidak—tidak. Cuma, aku baru sadar di sekeliling kita banyak anak buah yang sedang bermesraan," lanjut Irvin dengan mengedarkan pandangannya.
Rivaille mengalihkan arah matanya mengikuti Irvin; lepas dari kertas tugas di tangan menuju sekeliling koridor yang mereka lewati.
Dan pandangan di sekeliling mereka ternyata sangat menyakitkan mata dan batin.
—Pertama, ada Jean dan Armin yang mengobrol di pagar koridor; obrolannya tidak terdengar, tapi dua ketua itu bisa melihat bagaimana tangan Armin beberapa kali merapikan poni Jean dan Jean yang mengacak rambut Armin.
Lalu—
Ah, ada Reiner dan Bertholdt yang tidur-tiduran di hamparan rumput hijau di luar koridor, membayangkan bentuk awan sambil tertawa tergelak; so sweet sekali.
—Juga ada Sasha-Connie yang berbagi makanan di bawah pohon ek, saling mengejek makanan maupun kelakuan. Tapi—
—Semua tetap membuat Rivaille dan Irvin nyesek drastis. Apa bocah-bocah itu tidak sadar ada dua om-om jarang dibelai tanpa kasih sayang yang ngenes disitu? Dimana hak asasi untuk para tetua jomblo yang patut ditegakkan?
Tanpa sadar Rivaille merobek kertasnya—dan Irvin menggigit bibir sampai berdarah.
Sakit sekali, ya Mas?
"Rivaille, kurasa aku harus pergi." Irvin menepuk pundak Rivaille dan berbalik arah jalan.
Dahi si kontet berkerut. "—Kemana?"
"Memastikan Ilmuwan Recon Corps yang fetish Titan itu tidak digoda lelaki lain."
Hati Rivaille nge-krak makin parah. Ternyata Irvin sendiri sudah punya pasangan
"…"
"RIVAILLEE~~!"
Kini ganti hati Irvin yang terbelah dua. Dia tahu ini suara Hanji, tapi kenapa musti nama Rivaille yang disebut?
—Dan memang benar. Sosok si ponytail coklat itu menepuk pundak Rivaille dari belakang, sangat ingin diberi pelajaran karena membuat Rivaille makin pendek disamping Hanji.
Hanji mulai berkicau, "Eren Jeager sedang ada dimana, ya? Aku mau memberinya antidote minuman kemarin."
Antidote? Untuk minuman pembawa mimpi indah sialan Eren Jeager itu? Tidak ada dunia mimpi Eren lagi, nih?
Ah, surga ternyata ada di dunia. Mood Rivaille yang awalnya buruk kini mulai bangkit kembali. Tapi, yah, jangan berharap kalau Rivaille akan berdendang ria sambil melompat kecil-kecil bahagia—tidak, kilatan senang sudah cukup untuk ruang ekspresi Rivaille seumur hidup.
Kalau berpose bocah TK macam itu mau ditaruh dimana harga dirinya sebagai 'tentara paling dipuja dan ditinggikan' se-kamp militer? Impossible, yaw.
Oh, diam-diam Rivaille narsis juga.
—Dan juga sepertinya Rivaille belum sadar maksud kata sanjung 'ditinggikan' tadi dipakai orang-orang untuk menyatakan sentimeter tubuh korporal yang tak bisa memanjang.
"Ehem!" Irvin pura-pura batuk. "Bisa berhenti merangkul bahu dia? Ada bahu yang lebih lebar dan tegap disini," kata Irvin sambil mengangkat pundaknya—memperlihatkan bahu atletis plus penuh pangkat berlapis.
"Bahu yang lebih lebar? Jadi maksudmu bahuku ini pendek?"
—Mungkin Irvin lupa dua fakta dunia. Ah, pertama —Rivaille sedang PMS. Bisa dilihat dari meng-kuadratnya ketajaman mata elang Rivaille pagi ini. Ayolah, mengingat Eren menangis itu masih membuat dada Rivaille cekit-cekit.
Dan fakta kedua, bahwa Rivaille anti dengan kata pendek, cebol, bogel, taoge ataupun kedele. Mungkin itu alasan Rivaille selalu membuang susu kedelai dan memilih susu ASI—atau ASE? Semoga semua tahu maksud singkatan Rivaille barusan.
"Sudahlah, Rivaille," Hanji mungkin mencoba melerai—eoh tumben?
"—Semua orang juga tahu kok kalau pundak dan tubuhmu itu makin mengkerut setiap harinya. Tinggimu itu makin menciut ya, kan?"
—Ralat ralat. Kesalahan besar kalau mengatakan Hanji mau melerai. Mengompori perang dunia sih, iya.
"—?!" Rivaille melotot –nggak nyante.
Irvin cuma bisa nyengir cengo—maksud awal perkataannya pertama tadi padahal untuk Si Hanji tapi malah si cebol yang kesindir.
Jadilah dia menahan tubuh Rivaille yang akan meledakkan seribu tendangan. "Maaf—salahku. Tadi kau tanya apa, Hanji? Tentang Jeager—hm?"
Hanji menepok jidat. "Ah! Iya, Eren! Dimana dia sih—Rivaille? Kau culik –huh?" Hanji mendelik tajam.
Rivaille menggeleng. "Tidak. Aku tidak menculiknya. Bocah itu cuma ketiduran di kamarku, Titanfreak."
"Hoo, padahal kukira kau akan menculik dan memperkosanya—"
Alis Rivaille terangkat sedikit. Bagaimana Hanji bisa tahu apa rencana awalnya tadi?
"—Kalau begitu, tolong berikan ini pada Eren nanti. Aku khawatir kalau-kalau obat itu menimbulkan efek samping."
Hanji, please deh, minuman vanilla itu nyata sudah berefek samping yang fatal kok—fatal banget buat jantung dan hati Rivaille yang serasa keiris.
Rivaille mendengus dan menerima tabung raksa mungil dari tangan Hanji dan berjalan keluar koridor. "Baiklah—akan kuberikan obat ini, dan silahkan lanjutkan kencan kalian siang ini."
Thank God! Irvin melambaikan sapu tangan penuh haru pada Rivaille hari ini.
"Kencan?" Hanji memiringkan kepala.
Irvin akan membuka mulut, "Iya, kencan kit—"
"Wah! Bagaimana Rivaille bisa tahu kalau aku sedang mengadakan kencan dan pesta teh bersama adik Sawney-Bean? Ya ampun, aku segera harus kembali ke sana!"
Dan Hanji berlari pergi menjauhi Irvin dengan senandung riang.
Meninggalkan seorang Mayor besar penghancur titan—yang nyawa-nya sudah melayang melewati kerongkongan.
Dafuk-nya dunia ini, Mamah.
.
.
.
.
Eren mengerjapkan matanya beberapa kali—menyesuaikan datangnya cahaya yang mengenai indera penglihatannya dan berusaha untuk bangkit dari kubur—hehe, bukan kok, bangkit dari tidur.
Kepala Eren sedikit berputar, pusing.
"Baik-baik saja, Eren?"
Sebuah tangan memegang dagunya, membuat iris hijau berkilau Eren bertemu dengan iris hitam bening tepat di depan wajahnya.
"E—eh, Heichou?"
Rivaille mengelus poni coklat Eren, memperhatikan luka gores yang timbul akibat tertabrak pohon; penyebab Eren pingsan dan dikerumuni lelaki jomblo se-kamp. Beruntungnya, cuma dengan datangnya sosok Rivaille dengan cutter blade di tangan, semua lelaki itu kabur; oh iya, termasuk Si Irvin yang walaupun notebene-nya atasan.
"Masih pusing—hm? Dimana saja yang sakit?"
Menerima kekhawatiran dari seorang korporal Rivaille seperti sekarang ini, Eren tersenyum manis. Inilah alasan kenapa dunia mimpi jadi sangat indah—bahwa ada seseorang yang secara nyata mencemaskannya dan bisa menjadi tempat bersandar Eren sebentar.
—Tolong, biarkan Eren tinggal di dunia ini lebih lama.
"Tidak ada yang sakit kok, Heichou," Eren menggenggam tangan Rivaille yang tadi mengelus pipinya—merasakan kehangatan tubuh Rivaille disana dan memejamkan mata; seakan menikmati bagaimana tanga itu bisa menjadi penghilang kesakitan Eren.
"—Kalau ada Rivaille heichou seperti ini, saya akan selalu baik-baik saja."
Sebuah tangan lain mengelus helai surai Eren.
"Baguslah," Rivaille menahan tangan Eren di genggamannya—mendekatkan wajah Eren dan mengecup bibir itu; lembut dan singkat.
Sederhana.
"Mau istirahat lagi?" Rivaille melepas tangannya dari pipi Eren dan menepuk bantal.
Eren memandang sekeliling. Kalau dilihat dari perabotan, mungkin ini kamar Rivaille karena begitu rapi dan bersih. Beberapa rak buku ada di depan ranjang besar yang kini ia duduki, sebuah meja kerja berisi bertumpuk kertas yang entah apa. Sebuah ruangan sederhana yang disinari cahaya jingga mentari senja dari kaca-kaca jendela besarnya.
Ini pertama kalinya Eren ada di kamar Rivaille dunia mimpi, tapi rasanya Eren merindukan ini semua. Aneh, ya?
"Heichou tadi siang—bukannya janji mengajakku jalan-jalan? Ke Shiganshina, kan? Mau mengajakku kemana saja, kan?" kini Eren kembali memusatkan pandangannya pada sosok Rivaille yang merapikan alat kesehatan sisa mengobati Eren sendiri tadi.
"Memangnya siapa yang bilang kalau kau boleh jalan-jalan setelah semua keributan di ekspedisi tadi?"
Eren memberengut. "Tapi Heichou kan sudah berjanji pada saya. Lagipula tadi saya cuma tidak sengaja menabrak pohon dan pingsan, kok."
Rivaille menghentikan pekerjaannya dan menatap Eren lurus-lurus.
"Kau memang hanya pingsan, Eren. Tapi aku terlalu cemas kalau kau tidak bisa kembali ke dunia ini lagi."
Ah.
Ini… perasaan sakit ini lagi. Eren tidak suka mendengar kata-kata seperti ini.
Tangan Eren mengerat; menggenggam selimut putih. "Siapa bilang saya tidak bisa kembali? heichou tidak usah khawatir, saya tidak akan kemana-mana kok."
Dengan sekuat mungkin, Eren memasang senyuman. Memastikan pada Rivaille bahwa dia akan selalu disini.
Kalau tiba-tiba ia kembali ke dunia nyata, apa rasanya akan lebih sakit? Bagaimana nanti Eren akan mencari genggaman tangan sehangat Rivaille disini?
"—Hn,"
Rivaille menghela nafas panjang. "Oke. Aku percaya. Cepat ambil jaket karena diluar sepertinya dingin."
Mata Eren berkilat senang.
"Kita jadi jalan-jalan?!" Eren memekik senang—dan secara refleks menarik tubuh Rivaille lalu memeluknya. Menenggelamkan wajahnya dan menghirup aroma khas Rivaille sambil terus bergumam bahagia.
"—Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih, Heichou,"
Rivaille mengelus punggung bocah titan manisnya ini.
"Sudahlah, ini cuma jalan-jalan Eren. Tidak ada yang istimewa. Sekarang, pakai ini."
Dengan telaten, Rivaille memasangkan jaket tebal pada tubuh Eren. Merapikan rambut Eren, mengaitkan semua kancing jaketnya, hingga menggendong Eren di dalam rengkuhan tangannya.
Sedangkan Eren kaget bukan main.
"E-EH?! Kenapa menggendong saya begini, Heichou?!" wajahnya sudah semerah tomat rebus.
Rivaille cuma tersenyum misterius seperti biasa. "Kau baru bangun, jadi aku tidak mau kelinci manis ini terlalu lelah. Biarkan seperti ini—ya?"
Suara bertanya yang terlalu lembut, membuat Eren hanya menyembunyikan semburat merah di pipinya dengan memeluk tubuh bidang Rivaille lebih erat.
Bridal style seperti ini cukup memalukan, tapi bisa merasakan wangi tubuh dan hangat seorang Rivaille, Eren rasa ia lebih menyukainya.
"U-uhm. Terserah heichou saja."
"Anak baik," Rivaille menjaga keseimbangan tubuh Eren dalam pelukannya, dan berdiri di ujung jendela tinggi kamarnya.
"—Pegangan kuat-kuat, Eren. Angin pantai di sore hari akan cukup kencang hari ini."
.
.
.
.
Pintu kamar kayu besar itu terbuka perlahan. Terlihat sosok Rivaille di dunia nyata masuk ke dalam ruangan yang didominasi oleh warna putih; ranjang besar putih, keramik putih, dinding putih, jam dinding sewarna; hampir seluruh bagian kamarnya memiliki warna putih.
Langkah kakinya berjalan perlahan menuju ranjang besar di sudut kamarnya; tepat di samping jendela-jendela besar yang membiarkan sinar matahari senja di lembayung langit menguar masuk ruang pribadinya.
Tangannya sendiri sedang menggenggam sebotol cairan berwarna kebiruan—ramuan Hanji, yang akan ia berikan pada Eren sekarang.
—Meminumkannya sekarang? Tentu saja.
Masa bodoh kalau bocah ini protes nanti.
Toh, Hanji tadi bilang untuk meminumkannya kepadanya—Dan baguslah, karena Rivaille sudah terlalu muak mendengar ocehan bocah ini soal dunia mimpi. Soal tidak ada titan, keluarga yang lengkap, Auruo yang hidup, jatuh cinta, semuanya benar-benar membuat Rivaille ingin menghancurkan sesuatu.
Terlalu menyebalkan.
Setelah meminum antidote ini, Eren Jeager tidak akan bisa kembali ke dunia impian indahnya. Jadi tidak ada curhatan dadakan, tidak ada rasa ganjal melilit dada Rivaille setiap melihat bocah ini tersenyum membicarakan semuanya.
Rivaille memang benci Eren. Benci senyuman Eren. Suara tertawanya yang ultrasonik. Dia benci karena bukan dirinya sebagai alasan Eren untuk bisa tertawa se-bahagia itu.
—Ah, tangannya mencengkeram kuat lagi karena menahan sakit hati.
"Jeager. Bangun—"
Tangan Rivaille yang terulur untuk menepuk pipi putih Eren berhenti—mengambang di udara.
Ia dapat melihat, Eren Jeager sedang tersenyum dalam tidurnya. Sangat bahagia.
Bagaimana senyum bodoh ini bisa menimbulkan hangat dan perih secara bersamaan dalam hati Rivaille seperti ini?
"—Khh,"
Rivaille mengusap wajahnya—frustasi.
Benarkah dia harus menghapus dunia mimpi indah Eren? Bagaimana kalau anak ini menangis lagi? Mengeluarkan air mata sampai terisak seperti kemarin? Mengingatnya saja sudah membuat Rivaille menggigit bibir.
Terlalu sulit.
"Jeager,"
Jemari Rivaille bergetar. Tangannya yang tadi menghampa dalam udara kini bergerak terlalu perlahan. Begitu takut kalau ia menyentuh wajah damai ini, begitu takut akan membangunkan Eren dari tidurnya. Begitu takut seperti akan merusak kaca porselen mahal yang berkilau cantik.
Ia takut kalau Eren akan membencinya nanti.
Sangat.
"Aku harus bagaimana—Jeager?" Rivaille berbisik lirih.
Ia mendekatkan wajahnya pada lelaki yang tertidur ini. Menyentuhkan bibirnya di dahi bocah remaja ini. Merasakan wangi apel menyerbak masuk indera penciumannya—sangat khas seorang Jeager.
Ia terlalu mencintai sosok ini. Bagaimana ia bisa tega membuat bocah ini menangis lagi? Bagaimana ia bisa tahan melihat air mata itu lagi? Bagaimana—
"—Bagaimana caranya agar kau bisa melihatku—Eren? Bagaimana?"
Setetes air bening jatuh bebas dari kelopak ber-iris hitam itu. Menetes jatuh—pada pipi bocah yang terlalu ia cintai ini.
Dan bisik doa Rivaille terdengar lirih dalam kesunyian.
"Kumohon. Sekali saja. Lihat aku disini—kumohon,"
Dan isakan itu tidak berhenti.
.
.
.
.
Deru angin lembap menerpa ujung pantai—terus menderu hingga menyentuh kulit wajah Eren Jeager yang begitu menikmati hawa pantai pertamanya. Lembap bercampur udara asin, membuat Eren tersenyum.
—Ah, jadi begini rasanya menghirup angin laut?
"Datang ke pantai seperti mendatangi kerajaan saja. Wajahmu ini terlalu kesenangan," Rivaille menyentil dahinya—memang menggelikan untuk melihat Eren Jeager yang bertelanjang kaki merasakan desir ombak.
Eren hanya tertawa. "Ini kan pertama buat saya, Heichou. Tidak usah mengejek seperti itu."
Rivaille mendengus. "Baiklah. Setelah dari sini, kita ke Shiganshina. Tepat setelah matahari terbenam—oke?"
"Yes, Sir!" Eren memasang sikap penghormatan dan tertawa.
"Dasar Bocah!" Rivaille terkekeh dan mengacak rambut Eren. Melihat bocah ini tertawa seperti ini, entah bagaimana bisa memberikan kebahagiaan lain bagi Rivaille—seperti sulap.
"Eren—"
"Hm?"
"—Kalau nanti kau pergi, aku pasti akan merindukanmu."
Tch.
Eren menggigit bibirnya.
"Jangan membahas hal seperti ini, Heichou. Saya tidak akan pergi kemanapun," Eren menahan diri. Matanya kemudian mengerling, "Heichou mau perang air?" dan kemudian menyipratkan air laut ke arah Rivaille sambil tertawa kekanakan. Eren cuma mau mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa sekarang kau tidak suka membicarakan dunia nyatamu, Eren?"
Dada Eren mencelos. Kenapa Rivaille terus berbicara hal-hal memuakkan seperti ini sekarang? Seharusnya—mereka bersenang-senang saja dan melupakan semua. Eren—tidak suka ini.
Dan Eren terus menatap air laut yang menggerus pasir di sekeliling kakinya. "Tidak, kok. Saya memang sedang ingin main air. Siapa yang bilang saya tidak suka bicara tentang dunia nyata?"
Nada bicara ketus—Rivaille sadar.
"Lalu kenapa tidak menatap mataku sejak tadi, Eren—?"
Tangan Rivaille menggenggam pergelangan Eren kuat. "—Kenapa tidak jujur saja padaku? Kau tahu sendiri kan, aku akan mendengar semua permasalahanmu."
Rivaille bisa merasakan tangan Eren bergetar dalam genggamannya. Mata Eren sudah berkaca-kaca, menahan bulir air bening jatuh begitu saja.
Mata kemilau hijau Eren bertemu dengan mata Rivaille. Dari bola mata beningnya, terpantul jelas bagaimana teduh wajah Rivaille saat ini.
Rivaille yang tersenyum padanya. Seseorang yang menggenggam tangannya erat. Mengusap pipinya lembut. Sosok—yang tidak akan ia temui di dunia nyata sekeras apapun Eren mencari.
Tidak ada.
Tidak ada yang bisa menggantikan sosok sempurna ini.
"Sa-saya—"
Rivaille tersenyum lembut. "Keluarkan saja semuanya padaku, Eren. Aku pendengar yang baik."
Eren sudah tidak tahan.
Kenapa Rivaille malah hanya tersenyum? Kenapa Rivaille juga tidak memilih untuk bersenang-senang bersama Eren? Kenapa malah membuat Eren ingin memuntahkan semua perasaan takutnya?
Eren takut. Eren takut untuk kembali dan berpisah. Eren terlalu takut untuk tidak melihat senyuman yang ada di depannya ini.
Eren takut kehilangan Rivaille disini.
"Kenapa saya tidak boleh ada disini saja, Heichou? Kenapa saya dan Anda harus terpisah? … Ke-Kenapa saya—harus jatuh cinta pada Anda? Saya—tidak mau kembali. Saya sungguh—… tidak mau… kembali,"
Pertahanan Eren sudah berakhir. Airmatanya meleleh. Isakannya menguat. Dadanya sudah terlalu sakit.
Sedangkan Rivaille tetap tersenyum. Mengelus kepalanya pelan.
"Hiks… Saya suka dunia ini. Tidak ada titan yang memangsa kami. Tidak ada yang harus mati. Ti—tidak ada lagi ingatan bahwa Ibu saya menjadi mayat di lambung titan. Tidak ada—Sir Rivaille yang hanya menatap tajam pada saya. Saya—saya—"
"—Saya benar-benar tidak mau kembali! saya—terus memohon… tidak mau—kembali, hiks."
Eren mencengkeram kemeja putih Rivaille kuat-kuat. Menjadikan badan Rivaille sebagai topangannya.
Dia sudah tidak peduli, kalau ia terlihat lemah. Tidak peduli, kalau orientasinya berubah.
Tidak. Peduli.
Eren sudah terlalu—
"Saya—sangat… sangat… mencintai Anda—suka—Heichou,"
Dada Rivaille teremat. Mendengar semuanya dicampur isak tangis seperti sekarang membuat tubuhnya serasa dihujam ribuan tombak.
Untuk kali ini—
—Rivaille ikut menangis bersama Eren.
Tetes airmata keduanya jatuh—menghambur di dalam riak gelombang kecil yang melewati celah kaki mereka.
Menangis—rasanya amat sakit.
"—Tch! Siapa yang bilang cuma kau yang berharap seperti itu, Bocah?!" tangan Rivaille menarik wajah Eren.
Mempertemukan sinar kehijauan di mata remaja itu dengan raven hitamnya. Dan keduanya sama-sama meneteskan bulir-bulir airmata.
—Aah, kenapa Rivaille tetap terlihat tampan saat menangis?
"Dasar bodoh! Aku lebih mencintaimu, Shitty-brat. Aku lebih—banyak berharap akan dirimu, Eren."
Bahu Eren bergetar. Ia—tidak pernah menyangka akan melihat bagaimana seorang Rivaille bisa terlihat begitu lemah seperti sekarang.
Rivaille menangis. Menyandarkan dahi pada pundaknya.
"Aku mau kau lebih lama disini. –Lalu seperti yang kujanjikan, kita punya anak. Kalau—kau mau punya rumah di pantai, kalau mau bermain air laut setiap hari—akan kutemani. Aku—sudah terlalu banyak harapanku, Eren! Aku juga tidak mau kau kembali!"
Rivaille sama seperti Eren—mereka sama-sama tidak kuat menampung kesakitan itu sendirian.
"Siapa yang bilang aku tidak mau kau tetap disini-hah? Aku mau mengajakmu ke festival dan melihat kembang api—setiap tahun. Aku akan membawamu melihat salju. Menikmati hembusan angina di padang. Semua hal yang tidak ada di dunia nyatamu—aku akan membawamu kesana. Aku berjanji—akan membahagiakanmu selamanya."
Rivaille sadar, pandangannya memudar akibat tetesan airmata.
Tapi ia juga sadar—tubuh Eren Jeager sudah mulai menjadi bayangan. Mulai kabur—memudar semakin cepat.
—Tidak. Rivaille mohon ini bukan saatnya sosok Eren akan pergi meninggalkan dunia mimpinya. Kalau Eren memang akan kembali, Rivaille mohon jangan sekarang.
Jangan dulu. Terlalu sakit.
"Tapi aku—mau kau melanjutkan hidupmu di dunia nyata. Aku mohon—kalau disana, kau pasti bisa bahagia. Disana—kau—musti tahu kalau aku… tetap akan mencintaimu —Eren."
Eren tidak menyadari, tubuhnya sekarang benar-benar hanya berupa bayangan tipis.
Sehingga ia tidak mengerti, kenapa sekarang Rivaille melepas pelukannya dan mengambil satu langkah mundur.
Rivaille tersenyum padanya. Melepaskan genggaman tangan mereka—yang terkesan begitu berat.
"—Hati-hati disana, —Eren."
Dan dunia-nya langsung memudar.
.
Kini sang Pohon ek kembali ke hutan tropisnya,
.
Kini—tidak ada lagi kurcaci perayu gombalnya,
.
Kini Pohon Ek—benar-benar kesakitan. Seluruh jaringan tubuhnya—
.
"—Hati-hati disana, —Eren."
—hanya terus mengulang pesan terakhir sang Kurcaci super kontetnya.
.
.
.
.
Rivaille merasakan tangan digenggamannya bergerak. Ia sadar—tadi bukan cuma perasaannya.
Eren Jeager—terbangun dari mimpinya. Dengan isak tangis.
"… hiks… u-ugh… hiks—"
Mata Rivaille berkedip beberapa kali. Tubuhnya kaku karena tidur dengan posisi duduk—yang tidak nyaman sekali, dan makin parah saat mendengar suara isakan lirih ini.
Eren—menangis lagi.
"Jeager—"
Panggilan Rivaille tadi hampir seperti hanya berupa bisikan mendesis.
Tangannya akan membelai surai coklat Eren—namun terhenti.
Sepertinya, ia tidak pantas untuk menyentuh tubuh remaja ini.
"Hiks…—ke-kenapa?—Rivaille… aku—tidak suka disini…"
Rivaille sadar—bukan dirinya lah yang Eren ucap barusan. Bukan dirinya yang kini cuma berani duduk di samping ranjang dan hanya terus memperhatikan betapa menyakitkannya bocah ini terisak.
Perih—Rivaille sudah meringis pedih.
"Jeager,"
—Lagi, cuma panggilan lirih.
"—Saya mau… tetap bersama Heichou… —kenapa? Kenapa—musti kembali?" ujung mata Rivaille dapat melihat betapa kerasnya cengkeraman Eren pada selimut hingga membuat buku-buku tangannya memutih.
Rivaille dunia nyata, sangat tidak suka ini.
"Jeager—"
"Saya tidak suka—tempat ini… mau kembali… hiks—"
"—tolong. Berhentilah menangis."
Rivaille menggigit bibirnya erat. Perih. Perih sekali.
.
.
.
Eren sadar, kalau ada Rivaille nyata yang terus duduk menungguinya setelah ia bangun.
Dia sadar kalau Rivaille tetap menahan tangannya untuk mengelus kepalanya. Eren juga sadar, kalau sejak tadi Rivaille memanggil namanya.
Tapi Eren membutakan matanya. Ia menulikan pendengarannya.
Ia membeku-kan kenyataan.
Eren—tidak suka disini.
Kepalanya serasa berputar hebat. Matanya sakit karena terus mengeluarkan air mata. Tubuhnya terlalu lelah. Tapi bayangan Rivaille lain menelisik memorinya. Mengobrak-abrik keadaan hatinya. Meninggalkan toreh lukisan terindah di dalam sanubarinya.
"—Karena Eren Jeager jelas milikku."
Suara dalam itu berdengung konstan di dalam pikirannya.
"Aku harus memegang kendali kuda, Eren." –memori Eren masih merekam jelas, saat pertama kalinya dia sekuda dengan makhluk kontet itu.
"Wajahmu merah ya? –Manis sekali." –masih ingat, bagaimana caranya membuat wajah Eren memerah dengan mudah.
"—Eren,"
"Aku mencintaimu."
—Ia masih ingat saat bibir sarkas itu mengucapkan kata cinta padanya.
"—Kau mau menikah denganku?"
—Juga wajah tampannya saat tertimpa cahaya kembang api di malam festival. Semuanya terlalu—
"—Sakit… ini terlalu menyakitkan, Heichou."
Eren benar-benar mengasihani dirinya sekarang.
Baru saja ia kembali dari dunia mimpi, nyatanya ia sudah begitu merindukan sosok itu. Padahal baru saja ia mendengar Rivaille disana mengucapkan kalimat perpisahan—Eren sudah ingin memeluk tubuh itu lagi.
Perpisahan… memang tidak pernah menyenangkan.
Rivaille… Rivaille…
Eren—
"To-tolong, Heichou… buat saya kembali ke mimpi…" tangannya yang pucat memegang lengan Rivaille dunia nyata yang duduk di sebelahnya.
Genggaman tangan ini… terasa berbeda. Sangat.
Dan Eren memandang ke wajah korporal muda-nya.
"Ku-kumohon… sekali ini saja—buat saya kembali. Saya mau—kembali. Cuma itu. Walaupun cuma sekali—saya mohon. Saya—"
Tangan Eren yang bergetar menahan tangis kini membawa tangan Rivaille untuk menyentuh bagian dadanya. Tepat di hatinya.
"Disini… benar-benar sakit…"
Udara Rivaille sudah diserap habis. Paru-parunya gagal fungsi.
Ia bersumpah—rasanya sesesak penyakit bronkitis. Dadanya teremat habis.
Eren memohon padanya. Memohon untuk kembali pergi—tanpa pernah melihat bekas aliran airmata di pipi Rivaille kini.
"—mau kembali… saya…Cuma mau itu—"
PLAK!
Sebuah tamparan keras menghasilkan warna merah menyala di pipi Eren.
Mata Eren membuka lebar. Rasa sakit menganganya makin terbuka.
—Kenapa—Rivaille menamparnya?
Bagaimana bisa? Kenapa—
"Dasar bodoh!"
Kemudian tamparan kedua kembali menyerang wajahnya.
"—Kh! Seenaknya saja kau mengatakan ingin kembali? Tidak ada prajurit semanja dirimu. Kau yang terburuk!"
Eren meremat selimut putihnya. Lihat. Rivaille di dunia nyata tidak pernah bisa membaca keinginan Eren. Dia tidak bisa mengerti apa isi pikiran Eren. Dia tidak bisa.
"Itu karena Heichou tidak pernah merasakan sakit yang saya rasakan!"
Plak! Tamparan yang lainnya.
—Andai Eren tahu, hati Rivaille tertohok tajam setiap tangannya menyakiti Eren. Andai dia tahu—bahwa Rivaille bisa merasakan kesakitan yang sama sekarang ini.
"Tch."
Rivaille mendengus keras. "Kau melupakan alasanmu untuk hidup?"
Kini tangannya menjambak rambut Eren.
"Lupa bagaimana mayat Ibu-mu mati di tenggorokan titan-rupanya? Amnesia dengan semua teman-temanmu yang membutuhkanmu disini-hah?! Kau mau meninggalkan kebebasan yang ingin kau capai itu-hah?! Jawab aku, Jeager!"
Dengan kalimat Rivaille barusan—Eren barulah seakan tertampar kuat hingga kembali sadar.
Ibunya. Mikasa… Armin… Dinding tinggi menjulang itu… dunia kebebasan di luar sana…
Bagaimana dirinya bisa melupakan semua itu?
"Ma—maafkan… saya…" Eren menundukkan kepalanya.
Ia menggigit bibirnya kencang. Airmatanya tidak mau berhenti mengalir—apa matanya sudah tidak bisa diajak kompromi?
Ia mau membunuh titan. Ia mau bertemu Rivaille. Ia mau kebebasan. Ia mau dunia mimpinya juga. Kepalanya serasa berputar. Kalimat-kalimat itu terus terngiang di otaknya—terus terulang dan terulang.
Ibu. Teman-teman. Rivaille. Dinding utuh. Mayat Marco. Pertengkaran Petra-Auruo. Festival. Kembang api—
Puk.
Sebuah tangan menepuk kepala Eren. Terasa… lembut.
"Baguslah kau sudah sadar apa yang harus kau pertahankan—shitty brat."
Rivaille berbalik. Akan berjalan pergi—namun berhenti dan kembali memandang Eren.
Dan mencium bibir pemuda manis itu singkat.
"Aku akan berusaha—sebaik mungkin untuk jadi pengganti Rivaille-mimpi mu itu."
Dan dia pergi.
Meninggalkan Eren di ranjang dengan semburat merah.
Lalu tangan yang memegangi bibirnya.
…
—Rasanya ciumannya… sama.
.
.
.
Cinta itu sesuatu yang sederhana
Jika kau tidak mampu membuatnya bahagia
Maka kau cukup membuatnya bisa tertawa
.
.
.
.
Seminggu kemudian…
"Hei—Connie, sudah dengar berita belum?"
"Berita apaan? Paling juga cuma masalah Mikasa keren ataupun Armin manis itu—tipikal dirimu, Jean."
"Ck! Bukan tahu!"
"Lalu apa? Mayor Hanji dapat pacar dan Rivaille heichou tersenyum hari ini? Aku malas dengar berita murahanmu—kecuali kalau kau mengatakan kedua hal itu tadi."
"—Bagaimana kau bisa tahu?"
"Maksudmu?"
"Rivaille heichou benar-benar tersenyum hari ini!"
OHOK!
"Kau bercanda?!"
"Sama sekali tidak, Connie bodoh! Aku melihatnya! Dia berjalan melewati koridor sambil membicarakan misi berikutnya dengan Eren—aku tidak sengaja lewat disamping mereka—tapi sumpah! Bibir seberat pantat titan abnormal itu terangkat sepersekian milimeter! Korporal tersenyum selama mengobrol dengan bocah titan itu!"
"Sungguhan?!"
"Iya!"
"Korporal tanpa emosi itu—kan?!"
"Hu'uh!"
"Korporal yang suka marah dan super masa PMS itu?!"
"Iya—eh, Connie itu orangny—"
"Yang senyum itu Si Heichou yang galak berwajah sadis bagai kecambah mengkerut akibat kekurangan kasih sayang yang seakan mengatakan oh-Eren-sebenarnya-aku-tsundere-akut itu tersenyum—?!"
BRAAAKKK!
"Maaf, Springler. Aku bukan jenis dari bakal biji."
Dua gigi copot langsung.
Jean cuma mangap kuda.
"—Ah iya, Kirschtein. Tolong katakan pada semua pasukan Recon Corps, Eren Jeager itu—milikku."
Jean sudah mangap kuadrat.
.
.
.
Cinta itu… memang sederhana—kan?
.
.
.
FIN~
A/N:
…
…
…YA AMPUN INI JARI NULIS APAAAA?! ENDING MACAM APA INI?! /jambak rambut /lari panik/
Gomenasai minna! /bow/ Locka juga ngga tau gimana buat ending yang pas. Ini percobaan fanfic chapter pertama jadi—yah, begitulah.
Terima kasih banyak buat yang sudah membaca ini fanfic dari awal sampai akhir. Juga pembaca baru-setengah baru—pokoknya semuanya makasih yaa! /tebar cravat/
Dan—ada yang nanyain sekuel? Entar ya—Locka masih diserang sama neraka ujian -.-
Mungkin karena ujian itu kali yah—Locka jadi ngelantur bikin ending? /nak /alasan banget kau.
Okay—saatnya berterima kasih kepada :
Tsumiki-nyan, hollow concrete, Hoshiko-na, Miracle-ren, Azure'Czar, Kim Arlein 17, Nacchan Sakura, AkaneMiyuki, radixcoffe, Zane Zavira, Adelia-chan, Harumi Ryosei, Kiyomi Hikari, Usagi-kun, yuzuru, syalalauyee, NaruFrau, Frozen Ice Cream, Hoshigami Sheia, K(yangreviewduakali;)makasih) , Guest, yuzueiri, diandulac, JellyP, LunaArcelEolia.
DAN! Buat yang fav! Follow! Dan semua reviewan dari chapter satu sampe habis, MAKASIH! ^^
Lockalocka.
