Ini lanjutan chapter kemarin yaa:D Read and Reviews, gomawooo^^
Title: Still
Author: murni Song Hyemi
Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Do Kyungsoo
Xiao Luhan
Oh Sehun
Member EXO lain sesuai jalan cerita^^
WARNING!
Maaf kalo ada typo yang berserakan(?), oh iya ff ini genderswitch (GS) ya, sebenernya mau bikin yaoi soalnya saya itu fujoshi hehe, tapi nanti-nanti aja deh, soalnya saya rasa cerita ini bakalan jadi aneh kalo dibuat yaoi :D
.
.
3 tahun kemudian.
"Kyungie baby, kau kenapa sayang?" tanya Chanyeol khawatir. Dari tadi pagi Kyungsoo mengeluh pusing dan badannya lemas. Tubuhnya tidak menerima makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya. Selalu dimuntahkan. Akibatnya tubuh Kyungsoo lemas tak berdaya seharian.
"Tidak apa-apa, chagiya. Aku hanya tidak enak badan." Ujar Kyungsoo. Ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.
"Kita ke rumah sakit saja, ya? Aku sangat khawatir padamu. Kau belum makan apapun hari ini," balas Chanyeol.
"Tidak, tidak usah, sayang. Aku baik-baik saja. Kau pergilah ke kantor, pekerjaan menunggumu" ucap Kyungsoo.
"Tidak, aku tidak akan masuk kerja hari ini. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Tidak ada penolakan, sayang. Aku mencintaimu" tandas Chanyeol yang ternyata ampuh untuk membuat Kyungsoo menurut padanya.
Setelah bersiap-siap, Chanyeol menggendong Kyungsoo yang lemah menuruni tangga dengan bridal style karena ia tahu Kyungsoo terlalu lemah untuk itu. Ia tidak mau mengambil resiko Kyungsoo jatuh dari tangga karena tidak sanggup menuruni tangga. Ia tidak mau hal itu terjadi. Ia terlalu mencintai Kyungsoo sampai-sampai ia tidak rela Kyungsoo terluka sedikitpun. Ia terlalu mencintai Kyungsoo sampai-sampai ia menganggap hidupnya hanyalah tentang Kyungsoo. Ia terlalu mencintai Kyungsoo sampai-sampai ia melupakan Baekhyun. Ia melupakan cinta pertamanya yang saat ini sedang berusaha mati-matian untuk melupakannya.
.
.
.
Setelah sampai di rumah sakit, Kyungsoo langsung dibawa oleh suster ke ruang ICU, sementara Chanyeol mengurus administrasi terlebih dahulu. Setelah semuanya selesai, ia berjalan ke arah ruang ICU sesuai petunjuk petugas rumah sakit dan menunggu istrinya sambil berjalan mondar-mandir di depan pintu. Tingkah Chanyeol sudah seperti suami yang menunggu istrinya melahirkan, tetapi Kyungsoo saat ini tidak sedang melahirkan. Dalam hati sebenarnya ia berharap Kyungsoo tengah mengandung anaknya saat ini karena gejala-gejala yang dialami Kyungsoo mirip dengan gejala wanita hamil yang sering ia lihat di televisi dan cerita dari teman-temannya.
Saat pintu terbuka dan seorang dokter keluar dari ruangan tempat Kyungsoo diperiksa, Chanyeol dengan segera menghampiri dokter tersebut. Dari nametag di dada kirinya, terdapat nama Kim Jong Dae.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter? Apakah istri saya sedang hamil saat ini?" tanya Chanyeol sumringah. Ia tidak sabar untuk menjadi seorang ayah saat ini, tetapi melihat wajah dokter Kim yang jauh dari kata bahagia, Chanyeol langsung terdiam.
"Maafkan saya harus mengatakannya pada Anda, Tuan. Mungkin saat ini anda sudah sangat menantikan hadirnya keturunan Anda, tetapi mungkin hal itu tidak dapat terjadi, Tuan." Ujar dokter Kim sedih.
"Memangnya kenapa, dokter? Apa yang terjadi dengan istri saya? Katakan dokter, jangan membuat saya bingung," balas Chanyeol. Sungguh ia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya saat ini.
"Istri anda, nyonya Park Kyungsoo, mengidap penyakit kanker rahim. Stadium akhir." Jelas dokter Kim singkat. Terdapat raut kesedihan yang mendalam di wajah Chanyeol begitu mendengar perkataan dokter Kim.
"A..apa, dokter? Tidak mungkin! Istri saya menunjukkan gejala-gejala wanita hamil. Tidak mungkin istri saya mengidap penyakit kanker rahim, dok! Lagipula jika istri saya mengidap penyakit itu dan sudah stadium akhir, kenapa baru sekarang gejalanya terlihat?" tanya Chanyeol. Sungguh, ia sangat panik saat ini. istrinya, yang baru tiga tahun dinikahinya, ternyata mengidap penyakit seperti ini. Yang ia tahu, kanker adalah penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan. Harapan hidup pengidap penyakit kanker sangat kecil, apalagi ketika sudah berada pada stadium akhir. Chanyeol tidak sanggup jika harus kehilangan Kyungsoo dalam waktu dekat.
"Apa maksud anda gejala wanita hamil adalah muntah-muntah dan tubuhnya lemas? Sebenarnya itu bukan gejala, tetapi bentuk penolakan tubuh istri anda terhadap sel-sel kanker yang berkembang di rahimnya. Hal-hal seperti itu biasanya sudah terlihat pada stadium awal, tetapi mungkin istri anda tidak menganggapnya serius, sehingga pada stadium akhir baru terdeteksi jika istri anda mengidap penyakit kanker rahim ini. Jalan satu-satunya adalah operasi pengangkatan rahim, tetapi itu beresiko istri anda tidak akan dapat mengandung selamanya. Baik Tuan, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan saya, jika anda butuh penjelasan mengenai istri Anda, Anda dapat menemui saya di ruangan saya. Istri Anda sudah dapat ditemui di dalam. Saya turut prihatin dengan keadaan istri anda," jelas dokter Kim sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol.
Setelah mempersiapkan dirinya untuk bertemu Kyungsoo, ia memasuki ruang ICU dan mendapati Kyungsoo yang berbaring lemas. Menyadari kehadiran suaminya, Kyungsoo langsung tersenyum pada Chanyeol dan menunjuk kursi di sebelah tempat tidurnya. Mengerti maksud Kyungsoo, ia langsung duduk di kursi yang tadi ditunjuk Kyungsoo. Chanyeol tersenyum sedih menatap Kyungsoo. Kyungsoo heran melihat ekspresi yang ditunjukkan Chanyeol padanya dan bertanya, "kenapa, sayang?"
"Tidak apa-apa. Kau membutuhkan sesuatu? Katakan saja padaku, sayang" balas Chanyeol.
"Aku tidak membutuhkan apa-apa. Jangan tinggalkan aku, Chanyeollie." Ujar Kyungsoo.
"Aku tidak akan meninggalkannmu," ucap Chanyeol. Kaulah yang akan meninggalkanku, sambung Chanyeol dalam hati.
"Apa kata dokter tadi?" tanya Kyungsoo kemudian.
"Tidak ada apa-apa. Kau baik-baik saja, kau hanya kelelahan. Jangan melakukan pekerjaan rumah tangga terlalu keras. Kita mempunyai banyak pembantu kenapa kau masih saja bersikeras melakukannya sendiri?" tanya Chanyeol.
"Aku bosan jika tidak melakukan apa-apa di rumah. Aku tahu kau berbohong, Yeol. Katakan yang sesungguhnya padaku. Apa yang terjadi padaku? Aku berhak tahu karena ini menyangkut tubuhku. Ayolah, sayang, katakan padaku apa yang terjadi?" desak Kyungsoo. Chanyeol yang merasa tidak tega pada Kyungsoo akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau pandai sekali menangkap kebohonganku, chagiya. Sebenarnya, kau mengidap penyakit kanker rahim stadium akhir. Jalan satu-satunya untuk menyembuhkan penyakitmu adalah dengan operasi pengangkatan rahim, tetapi kemungkinan selamat sangat kecil dan resiko kematian jauh lebih besar. Jika kau selamat dalam operasi itu, maka kita harus mengubur keinginan kita untuk mempunyai keturunan, sayang. Bahkan harapan hidup setelah operasi juga tidak akan lama, sekitar empat sampai lima tahun saja" Jelas Chanyeol sedih.
"Be...benarkah? Kumohon jangan lakukan operasi itu. Aku yakin aku bisa bertahan hidup lebih lama tanpa operasi." Ucap Kyungsoo sedih. Sebagai istri, ia merasa gagal karena tidak dapat memberikan keturunan untuk Chanyeol. Chanyeol sangat mencintai anak-anak dan sejak lama ia memimpikan dapat menggendong anaknya, mengajari anaknya mengendarai sepeda, dan ikut panik saat melihat anaknya menangis karena terjatuh dari pohon atau menjahili Kyungsoo bersama anaknya. Namun sekarang harapan itu sirna sudah begitu mendengar kenyataan yang sangat pahit.
"Kapan aku bisa pulang?" tanya Kyungsoo kaku.
"Secepatnya, mungkin besok." Jawab Chanyeol. Setelah itu mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Sebaiknya kau beristirahat, sayang. Aku mencintaimu." Ucap Chanyeol sambil menidurkan Kyungsoo lalu mencium kening Kyungsoo. Setelah itu Chanyeol pergi ke luar untuk membeli kopi dan muffin di kantin rumah sakit. Saat sedang menunggu pesanannya, ia teringat seseorang. Baekhyun. Mungkin Baekhyun dapat meringankan penderitaan Kyungsoo saat ini, setidaknya Kyungsoo dapat sedikit melupakan kesedihan soal penyakitnya ini, mengingat Kyungsoo sangat senang jika bertemu Baekhyun. Chanyeol langsung merogoh kantong untuk mengambil handphone-nya dan menekan tombol-tombol untuk menghubungkannya dengan Baekhyun.
.
.
.
Rumah Baekhyun.
Saat ini Baekhyun sedang mengobrol dengan Luhan. Tiga tahun telah berlalu saat ia datang ke pesta pernikahan Chanyeol dan Kyungsoo. Tiga tahun pula ia telah berjanji untuk melupakan Chanyeol namun ternyata ia selalu melanggar janjinya. Banyak sekali hal-hal yang mengingatkannya pada Chanyeol, tempat-tempat yang dulu sering ia datangi bersama Chanyeol, bahkan sudah lebih dari sepuluh tahun dan Baekhyun masih mengingatnya dengan baik.
Luhan dan Sehun juga sering mengenalkannya dengan banyak pria, mereka semua baik, hanya saja Baekhyun masih saja belum mendapat pengganti Chanyeol untuk mengisi hatinya. Ia masih merasa hatinya cukup walau hanya dengan mengingat-ingat bagaimana dulu ia dan Chanyeol pertama kali bertemu, pertama kali berbicara sampai pertama kali Chanyeol mengutarakan perasaannya pada Baekhyun. Mungkin saat ini kau sedang berbahagia dengan Kyungsoo, Yeollie, pikir Baekhyun.
Namun di tengah-tengah acara mengobrol dengan Luhan, tiba-tiba handphone Baekhyun berbunyi. Ketika ia melihat siapa yang meneleponnya, ia langsung terdiam. Luhan yang melihat ada yang tidak beres dengan sahabatnya langsung mengambil handphone Baekhyun dan melihat siapa yang menelepon. Chanyeol.
"Mau diangkat tidak?" tanya Luhan.
"Entahlah, aku bingung." Jawab Baekhyun.
"Angkat saja, siapa tahu penting. Ini," balas Luhan sambil memberikan kembali handphone milik Baekhyun.
"Hhh, baiklah. Sebentar ya." Jawab Baekhyun.
"Halo, ada apa meneleponku, Chanyeol?" sapa Baekhyun. Luhan yang duduk di hadapannya menunggu sambil membaca majalah untuk menghilangkan kebosanan.
"Saat ini tidak, memangnya kenapa?" tanya Baekhyun lagi.
"..."
"Baiklah, ke mana aku harus datang?"
"..."
"Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?"
"..."
"Kyungsoo? Baiklah aku segera ke sana."
Pip. Bunyi handphone dimatikan.
"Ada apa, Baekhyunnie?" tanya Luhan bingung melihat ekspresi Baekhyun yang khawatir setelah ditelepon Chanyeol. Apalagi tadi Baekhyun menyebut rumah sakit.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang, Chanyeol bilang ia membutuhkan aku sekarang. Menurutmu aku harus datang ke sana, tidak?" tanya Baekhyun ragu.
"Memang ada apa?"
"Istrinya, Kyungsoo sedang sakit keras. Chanyeol meminta tolong padaku untuk menghibur Kyungsoo. Bagaimana ini?" tanya Baekhyun lagi.
"Tanyakan pada hatimu. Jika kau merasa sanggup untuk datang, maka datanglah. Jika kau merasa tidak sanggup, jangan memaksakan dirimu. Kau berhak untuk memilih yang terbaik untuk hatimu tanpa harus selalu memikirkan perasaan orang lain, Baekhyunnie."
"Baiklah aku akan datang. Kau sudah menelepon Sehun untuk memintanya menjemputmu?"
"Sudah, barusan. Kau pergilah, biar aku menunggu Sehun di sini. Kyungsoo pasti menunggumu."
"Apa tidak apa-apa kalau aku meninggalkanmu sendirian? Aku jadi merasa tidak enak padamu, Lulu." Tukas Baekhyun.
"Tidak usah memikirkanku, Baekkie. Pergilah, aku yakin aku tidak akan hilang hanya karena berada sendirian di rumahmu, hehe. Aku akan menghubungimu begitu Sehun sampai agar kau tenang, bagaimana?" Kata Luhan. Baekhyun memang perlu lebih diyakinkan untuk hal-hal semacam ini.
"Baiklah, aku pergi dulu. Annyeong!" seru Baekhyun kemudian melesat keluar untuk mencari taksi yang akan membawanya ke rumah sakit.
"Semoga kau menemukan pria yang lebih baik, Baekhyunnie. Aku menyayangimu. Sangat menyayangimu." Ucap Luhan seorang diri.
.
.
.
Seoul, Rumah sakit.
Baekhyun sudah sampai di rumah sakit tempat Kyungsoo dirawat. Kemudian ia menelepon Chanyeol untuk menanyakan di kamar mana Kyungsoo berada. Setelah itu, ia langsung berjalan menuju kamar Kyungsoo. Baekhyun mengetuk kamar Kyungsoo dan ia sedikit terkejut saat melihat Chanyeol membuka pintu.
"Baekhyun! Akhirnya kau datang, ayo silakan masuk saja." Ujar Chanyeol senang.
"Ah ya, baiklah." Jawab Baekhyun singkat.
"Siapa yang datang, Yeollie?" tanya Kyungsoo.
"Seseorang yang dapat menghiburmu, sayang." Jawab Chanyeol.
"Siapa?" tanya Kyungsoo lagi, bingung.
"Hai, Kyungsoo." ujar Baekhyun sambil tersenyum manis.
"Baekhyunnie! Aku tak menyangka kau datang! Apa kabarmu?" tanya Kyungsoo senang. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Baekhyun akan datang untuk menghiburnya.
"Baik, bagaimana kabarmu? Merasa lebih baik?" tanya Baekhyun sambil memeluk Kyungsoo.
"Aku merasa jauh lebih baik setelah bertemu denganmu. Ayo duduk, Baekhyun." Jawab Kyungsoo sambil membalas pelukan hangat Baekhyun. Ia pun mempersilakan Baekhyun untuk duduk.
"Ah ya, maaf kalau pertanyaanku menyinggungmu, Kyungsoo. Sebenarnya kau mengidap penyakit apa? Kalau itu menyakitkan hatimu, lebih baik tidak usah dijawab." Tanya Baekhyun heran. Karena Chanyeol hanya mengatakan ia membutuhkan Baekhyun untuk menghibur Kyungsoo yang sedang sakit keras tetapi tidak menyebutkan di telepon penyakit apa yang Kyungsoo idap.
"Ehm..baiklah. Aku mengidap penyakit kanker rahim, Baekhyun. Stadium akhir." Jawab Kyungsoo murung.
"Jeongmal? Maafkan aku membuatmu sedih, Kyungsoo. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kau tahu? Semakin sering kau memikirkan penyakitmu, maka penyakit itu tidak akan hilang dari tubuhmu." Hibur Baekhyun.
"Benarkah? Baiklah, aku tidak akan memikirkan penyakit ini lagi, hehe. Terima kasih sarannya, Baekhyunnie." Jawab Kyungsoo. Nada suaranya berubah ceria.
"Jadi kapan kau diperbolehkan pulang oleh dokter?" tanya Baekhyun kemudian.
"Tadi dokter berkata besok pagi. Maukah kau menemaniku sepanjang hari, Baekhyun?" tanya Kyungsoo penuh harap.
"Tentu saja, aku akan menemanimu. Lagipula sekarang aku sudah memiliki pegawai di toko bungaku, jadi aku bisa meninggalkan toko sementara sampai kau benar-benar sembuh, Kyungsoo-ya." Tukas Baekhyun.
"Terima kasih, kau memang yang terbaik, Baekhyun-ah." Puji Kyungsoo.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Chanyeol sigap langsung berjalan menuju pintu. Ternyata suster yang mengantarkan makan siang untuk Kyungsoo. Begitu melihat makanannya, Kyungsoo langsung menutup mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda bahwa ia tidak mau memakan makan siangnya.
"Kyungsoo, kau kenapa? Ayo makan, ini terlihat enak sekali!" seru Baekhyun.
"Tidak Baekhyunnie, aku yakin pasti makanan ini rasanya hambar. Semua makanan dari rumah sakit memang begitu."
"Sayang, makanan dari rumah sakit memang rasanya seperti itu karena tidak memakai penyedap rasa. Tapi itu bagus untuk kesehatanmu, sayang." Ujar Chanyeol kemudian.
"Tidak mau, Yeollie. Rasanya tidak enak." Balas Kyungsoo.
"Kyungsoo-ya, kalau kau tidak mau makan, maka kau tidak akan cepat sembuh. Begini saja, kalau kau sudah keluar dari rumah sakit maka Chanyeol akan membelikan makanan apa saja yang kau inginkan, iya kan Chanyeol?" tanya Baekhyun memastikan.
"Benarkah, sayang? Kau akan melakukannya?" tanya Kyungsoo.
"Hm, tentu saja. Aku akan membelikan makanan apapun yang kau inginkan begitu kau pulang dari rumah sakit."
"Baiklah, aku akan menghabiskan makanan ini, hehe" jawab Kyungsoo. Tingkahnya sudah seperti anak kecil. Tetapi Chanyeol merasa lega, setidaknya Kyungsoo mau makan dan minum obat itu sudah cukup baginya. Kalaupun ia harus menghabiskan hartanya untuk membahagiakan Kyungsoo, ia rela. Sekali lagi, ia terlalu mencintai Kyungsoo. Ia terlau mencintainya sampai-sampai ia tidak mengingat bagaimana hidupnya dulu bersama orang yang bahkan jaraknya tidak lebih dari 30 sentimeter di sebelahnya. Baekhyun.
Setelah memastikan Kyungsoo telah menghabiskan makan siangnya dan meminum obat dan sekarang sedang tertidur, Baekhyun pamit pulang pada Chanyeol. Ia berjanji besok pagi ia akan menemani Kyungsoo dari rumah sakit, ikut sampai ke rumah Chanyeol dan Kyungsoo, lalu menemani Kyungsoo sampai Kyungsoo tertidur di malam hari, setelah itu pulang. Berkali-kali Chanyeol berterima kasih pada Baekhyun yang telah mengembalikan semangat hidup Kyungsoo.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
