Ini lanjutan chapter kemarin yaa:D Read and Reviews, gomawooo^^

Title: Still

Author: murni Song Hyemi

Cast:

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Xiao Luhan

Oh Sehun

Member EXO lain sesuai jalan cerita^^

WARNING!

Maaf kalo ada typo yang berserakan(?), oh iya ff ini genderswitch (GS) ya, sebenernya mau bikin yaoi soalnya saya itu fujoshi hehe, tapi nanti-nanti aja deh, soalnya saya rasa cerita ini bakalan jadi aneh kalo dibuat yaoi :D

.

.

Rumah sakit.

Pagi itu Baekhyun sudah sampai di rumah sakit tempat Kyungsoo dirawat. Ia sampai di rumah sakit pukul setengah tujuh pagi karena Kyungsoo diperbolehkan pulang sekitar pukul sembilan pagi.

Saat Baekhyun memasuki kamar Kyungsoo yang sedang sarapan disuapi Chanyeol. Ia sedikit cemburu saat melihatnya, namun ia tersadar kembali saat menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa di sini. Saat melihat Baekhyun, Kyungsoo terlihat lebih ceria.

"Hai Baekhyun! Aku sangat senang kau datang" ujar Kyungsoo gembira.

"Berarti kau tidak senang saat bersamaku tadi, chagiya?" tanya Chanyeol kekanakan. Pertanyaan bodoh yang Baekhyun dengar pagi ini, hey, wanita gila mana yang tidak senang berdua dengan Chanyeol? Wanita yang seumur hidupnya tidak pernah mengenal Chanyeol pun akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Chanyeol. Bagaimana tidak? Chanyeol tinggi, tampan dan direktur perusahaan besar.

Baekhyun yang delapan tahun tidak bertemu Chanyeol saja masih memiliki perasaan mendalam padanya, yang pada akhirnya saat ia bertemu dengan Chanyeol dalam posisi yang menyakitkan. Dilupakan dan ditinggalkan untuk orang lain. Berat memang, tapi nyatanya ia masih hidup sampai sekarang. Ia belum minum 30 butir obat sakit kepala atau berjalan sambil memejamkan mata di tengah jalan raya atau hal bodoh lainnya untuk mengakhiri hidupnya karena patah hati. Ia masih hidup. Masih bisa melihat senyum manis Chanyeol yang menyakitkan dan tawa malu-malu Kyungsoo karena rayuan Chanyeol. Ia masih bisa melihatnya walau hatinya tak menginginkannya. Ia masih bisa memalsukan senyumnya di depan Chanyeol dan Kyungsoo walau sebenarnya ia bisa saja menangis dan menceritakan semuanya di depan mereka. Tapi tidak. Baekhyun tidak seperti itu untuk mengutarakan perasaannya. Ia lebih suka tersenyum di depan orang yang menyakitinya lalu memutar lagu sedih dan menangis sampai ingin mati di rumahnya. Seorang diri. Kadang ditemani Luhan, tapi itu tidak banyak membantu. Biasanya ketika Luhan berkunjung ke rumah Baekhyun, Baekhyun akan menangis sendirian karena merindukan Chanyeol dan Luhan akan pergi ke kulkas Baekhyun untuk menghabiskan isinya. Ketika Luhan sudah selesai melakukan "pekerjaannya", maka ia akan kembali ke kamar Baekhyun dan mendapati Baekhyun yang tengah menunggunya dengan mata bengkak khas orang yang selesai menangis. Baru setelah itu Luhan memberikan nasihat-nasihatnya pada Baekhyun. Biasanya sebelum Luhan menyelesaikan ceramahnya, biasanya ia sudah tertidur lebih dulu karena kekenyangan. Lalu Baekhyun menyusulnya. Begitulah persahabatan mereka. Manis, bukan?

"Tentu saja aku menyukainya, sayang. Aku selalu menyukai momen kita berdua. Hanya saja aku dan Baekhyun 'kan sama-sama perempuan, jadi aku bisa lebih memahami perkataannya daripada perkataanmu." Balas Kyungsoo.

"Baiklah, tidak apa-apa asalkan kau bahagia, sayang. Aku pergi dulu ke kantin rumah sakit. Aku belum makan sesuap nasi pun dari kemarin. Baekhyun, tolong jaga istriku yang cerewet ini selama aku pergi haha" ujar Chanyeol sambil berlalu pergi.

"Hhh dia itu selalu begitu" ujar Baekhyun pelan namun ternyata Kyungsoo dapat mendengarnya, walau hanya samar-samar.

"Kau berkata apa, Baekhyunnie?" tanya Kyungsoo.

"Hah? Oh itu, aku tadi berkata bahwa kau beruntung sekali memiliki suami yang humoris seperti Chanyeol. Ya, aku tadi berkata seperti itu, hehehe" ujar Baekhyun. Hampir saja ketahuan, batin Baekhyun lega.

"Oh... Hahaha iya memang, aku beruntung sekali memilikinya. Ia temanku dulu waktu kuliah di Amerika. Untung saja aku menemukannya di antara ribuan siswa Harvard," kenang Kyungsoo.

"Ya, kau beruntung sekali, Kyungsoo-ya ." Kau beruntung sekali dapat membuat Chanyeol melupakanku, tambah Baekhyun dalam hati.

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dokter Kim, yang selama ini merawat Kyungsoo datang dan mengatakan bahwa Kyungsoo sudah boleh pulang. Setelah dokter Kim keluar dari kamar Kyungsoo, Kyungsoo langsung tertawa bahagia. Ia sangat menantikan momen ini, ketika dokter membolehkannya pulang. Kemudian ia teringat lagi pada janji Chanyeol untuk membelikannya makanan apa saja ketika ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

"Baekhyun! Aku senang sekali akhirnya aku bisa pulang ke rumah." Ujar Kyungsoo bahagia.

"Akhirnya! Tapi tetap saja begitu sampai di rumah kau harus beristirahat total dan tidak boleh kelelahan. Kau harus berada di atas tempat tidur selama 24 jam, mengerti?" tukas Baekhyun.

"Yah, padahal setelah ini aku ingin menagih janjiku pada Chanyeol." Jawab Kyungsoo.

"Janji? Janji apa?" tanya Baekhyun.

"Janji untuk membelikanku makanan apa saja begitu aku pulang dari rumah sakit." Jawab Kyungsoo.

"Memangnya kau ingin makanan apa?" tanya Baekhyun lagi.

"Aku ingin ramen pedas. Sudah lama aku tidak memakannya, Baekhyunnie." Jawab Kyungsoo lagi.

"Apa? Mana boleh kau memakannya Kyungsoo-ah. Kau ini masih dalam perawatan dokter. Lagipula ramen mengandung banyak penyedap rasa. Itu tidak baik untuk kesehatanmu saat ini." jelas Baekhyun.

"Ayolah, Baekhyunnie, aku ingin makan makanan itu sekali saja. Ayolah..." rajuk Kyungsoo.

"Tetap tidak boleh, Kyungsoo-ya. Aku tidak mengijinkanmu. Chanyeol juga pasti tidak mengijinkan. Pedulilah pada kesehatanmu." Jawab Baekhyun.

"Heung, baiklah. Maafkan aku, ne." Kata Kyungsoo kemudian.

"Nah, begitu. Jangan seperti itu, Kyungsoo. Itu bukan salahmu." Balas Baekhyun.

Tak lama kemudian Chanyeol datang.

"Soo baby, bagaimana keadaanmu?" tanya Chanyeol.

"Aku baik-baik saja, Chanyeollie. Dokter bilang aku sudah boleh pulang." Jawab Kyungsoo lesu.

"Syukurlah, lalu kenapa wajahmu ditekuk seperti itu hm?" tanya Chanyeol heran.

"Tidak.." jawab Kyungsoo. Chanyeol sudah tahu kalau Kyungsoo menjawab seperti itu pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Kyungsoo yang tidak ingin diketahui Chanyeol. Jadi ia langsung bertanya pada Baekhyun.

"Baek, ada apa dengan Kyungsoo?"

"Kyungsoo, boleh kuceritakan pada Chanyeol?" tanya Baekhyun pada Kyungsoo. Ia merasa tidak enak pada Kyungsoo jika menceritakannya langsung pada Chanyeol tanpa meminta izin pada Kyungsoo.

"Ya, katakan saja, Baekhyunnie." Jawab Kyungsoo kemudian.

"Jadi begini, kau ingat kan kau pernah berjanji pada Kyungsoo untuk membelikannya makanan apapun yang Kyungsoo inginkan saat ia diperbolehkan pulang dari rumah sakit?" tanya Baekhyun pada Chanyeol.

"Ya, tentu saja aku mengingatnya. Apa yang salah, Baekhyun? Kyungsoo tidak ingin dibelikan makanan? Kau menginginkan apa, sayang?" tanya Chanyeol pada Baekhyun dan Kyungsoo bergantian.

"Kyungsoo masih ingin dibelikan makanan, tapi ia minta dibelikan ramen pedas." Tukas Baekhyun.

"Apa? Tentu saja tidak boleh, sayang. Kau kan masih dalam perawatan dokter. Lagipula makanan itu tidak sehat. Apa tidak ada makanan lain yang kau inginkan, hm?" tanya Chanyeol lagi pada Kyungsoo.

"Hm, sebenarnya aku juga mau sandwich tuna yang ada di restoran favorit kita. Aku selalu ingin memesannya tapi lupa. Apa aku boleh memakannya?" tanya Kyungsoo penuh harap.

"Sandwich tuna? Tentu saja sayang, aku akan mengurus dulu administrasi perawatanmu, lalu kita pergi ke restoran favorit kita. Setelah itu kita pulang karena kau harus beristirahat, arraseo?" tanya Chanyeol.

"Ne, arraseo." Jawab Kyungsoo. Saat ini suasana hatinya kembali membaik karena dibolehkan membeli sandwich tuna sebagai pengganti ramen pedasnya.

"Baekhyun, kau ikut ya? Akan kutunjukkan restoran favoritku dan Chanyeol. Bagaimana? Makanannya enak-enak. Nanti kupesankan makanan favorit kami juga untukmu, bagaimana? Mau ya?" tanya Kyungsoo pada Baekhyun. Sebenarnya Baekhyun malas karena artinya ia harus melihat adegan bermesraan antara Chanyeol dan Kyungsoo di depan matanya. Siapa yang akan tahu kalau nanti ternyata adegan-adegan di drama yang sering Luhan tonton di rumahnya akan ia lihat secara live dengan mata kepalanya? Entah itu adegan Chanyeol yang membersihkan sudut bibir Kyungsoo karena Kyungsoo yang makan dengan berantakan, atau adegan suap-suapan antara Chanyeol dengan Kyungsoo, atau malah mereka berciuman di depan matanya. Sungguh Baekhyun tidak sanggup melihatnya. Ayolah, kau tidak akan pernah melupakan perasaanmu pada orang yang kau cintai meskipun itu sudah lama sekali. Tapi demi menjaga perasaan Kyungsoo, akhirnya ia mau. Entah ada apa di balik tatapan dan cara bicara Kyungsoo. Sepertinya setiap orang langsung luluh begitu melihat tatapan penuh pengharapan serta kata-kata manja milik Kyungsoo.

"Baiklah, aku mau. Tapi jangan lama-lama. Kau 'kan harus beristirahat." Ujar Baekhyun.

"Siap!" Balas Kyungsoo bersamaan.

Tidak lama setelah itu Chanyeol kembali dari mengurus administrasi perawatan Kyungsoo.

"Sayang, apa semuanya sudah siap?"

"Sudah, Chanyeollie. Ayo kita berangkat" ujar Kyungsoo senang.

"Baik aku akan membawakan tasmu. Hati-hati sayang turun dari tempat tidur. Kau masih belum terlalu sehat." Tukas Chanyeol.

"Iya, aku mengerti, sayang." Balas Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya, kau kugandeng saja, ya? Aku tidak tega melihatmu berjalan lemas seperti itu." Tawar Baekhyun.

"Boleh, terima kasih, Baekhyunnie." Balas Kyungsoo.

Setelah itu mereka pergi dari rumah sakit, dengan Chanyeol menyetir, di sebelahnya ada Kyungsoo dan di belakang ada Baekhyun dengan tas yang berisi baju Kyungsoo. meskipun Kyungsoo hanya menginap dua hari dan satu malam di rumah sakit, namun tas pakaian Kyungsoo berisi pakaian untuk satu minggu penuh. Tanyakan saja pada Chanyeol yang bingung harus membawa apa. Selain itu Chanyeol juga membawa seluruh alat kosmetik Kyungsoo. Akhirnya ketika sampai di rumah sakit, Chanyeol seperti desainer tampan yang membawa baju untuk model yang akan berjalan di atas catwalk. Begitu sampai di kamar Kyungsoo, Chanyeol dengan gaya tidak warasnya bertanya "Sayang, apa ini cukup?" tentu saja Kyungsoo merasa bahwa suaminya memang tampan, ia memang beruntung mendapatkannya tapi tidak dengan kemampuannya mengira-ngira berapa pakaian yang tepat dan alat kosmetik yang sebaiknya dibawa untuk orang yang dirawat inap di rumah sakit selama dua hari satu malam. IQ Chanyeol dan IQ Kyungsoo hanya terpaut sedikit tapi mengapa perbedaannya semenakjubkan ini?

Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di restoran favorit Chanyeol dan Kyungsoo.

"Sepertinya sudah lama sekali kita tidak lagi ke sini, Yeollie." Ucap Kyungsoo.

"Ne, chagiya. Sudah lebih dari tiga tahun, sepertinya." Balas Chanyeol.

Baekhyun diam saja mendengar percakapan mereka. Sebenarnya, ia pun juga ingin punya tempat favorit antara ia dengan kekasihnya. Dengan Chanyeol sudah tidak mungkin, mungkin dengan pria lain? Entahlah. Sampai saat ini pun Baekhyun masih bingung dengan perasaannya pada Chanyeol. Ingin melupakan, tetapi perasaannya mengatakan bahwa suatu saat nanti mereka pasti akan bersama. Entah kapan. Ingin terus mengingat, terlalu menyakitkan. Dalam setiap doanya, ia selalu menyelipkan nama Chanyeol di dalamnya.

Tetapi di depan matanya saat ini yang ia lihat adalah Chanyeol, Chanyeol-nya yang mencintai Kyungsoo. Chanyeol-nya yang menyayangi Kyungsoo. Chanyeol-nya yang tidak ingin Kyungsoo terluka. Baekhyun berpikir waktu Chanyeol mengatakan perasaannya pada Baekhyun, itu benar-benar perasaan cinta yang mendalam. Benar-benar dari hati. Namun pada akhirnya Baekhyun selalu tersadar bahwa saat itu usia mereka masih terlalu muda untuk disebut cinta sejati.

Saat itu umur Baekhyun dan Chanyeol masih 14 tahun ketika mereka bertemu untuk pertama kali, 15 tahun ketika Chanyeol memberanikan diri berbicara pada Baekhyun saat acara sekolah, 16 tahun saat Chanyeol menyatakan perasaannya pada Baekhyun, 17 tahun ketika Chanyeol berlari bahagia ke arah Baekhyun dan memeluk Baekhyun sambil berteriak-teriak "Aku diterima! Harvard aku datang!" berulang-ulang, sekaligus menjadi saat yang paling membingungkan untuk hubungan mereka. Namun yang saat ini ia lihat bukanlah Chanyeol yang berkata bahwa ia tidak akan meninggalkan Baekhyun, namun Chanyeol yang berkata pada Kyungsoo, istrinya bahwa bangunan di depan mereka adalah restoran favorit mereka. Mungkin dulu Chanyeol tidak serius mengatakan cinta padanya, mungkin saja sebenarnya Chanyeol ingin hidup bebas tanpa harus mengabari Baekhyun ia sedang apa, di mana dan bersama siapa. Namun ia tidak ingin mengecewakan Baekhyun. Tanpa sadar air mata Baekhyun perlahan menetes dan akhirnya membasahi seluruh pipi Baekhyun. Biarkan saat ini ia lupa dengan siapa ia berada dalam satu mobil sekarang. Baekhyun tidak sanggup lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia tidak cukup kuat untuk menyadari bahwa selama ini, senyum yang ia tampilkan hanyalah senyuman palsu. Sungguh, ia rindu masa-masa dulu bersama Chanyeol. Atau setidaknya ia rindu masa-masa menangis sampai ingin mati di rumahnya. Atau apapun yang mengingatkannya pada Chanyeol yang membuatnya menangis keras. Ia butuh menangis. Bukan seperti ini. Saat ini hatinya menyuruhnya menangis, namun akalnya menolak itu. Ia bukan aktris hebat, ia bukan pembohong besar. Maka saat ini, di tempat yang salah, ia meruntuhkan pertahanan hatinya. Suatu saat nanti, Baekhyun harus jujur pada Chanyeol dan Kyungsoo. Ia tidak peduli walau setelah mengatakan yang sejujurnya ia akan mati. Baekhyun siap. Kalau perlu, sebelum takdir membiarkannya mati, maka ia yang akan membunuh dirinya sendiri.

Ketika Kyungsoo menoleh untuk mengajak Baekhyun turun dari mobil menyusul Chanyeol yang sudah duluan, ia terkejut bukan main. Yang ia lihat bukan Baekhyun yang biasanya, yang ceria di matanya. Yang ia lihat adalah Baekhyun yang wajahnya basah oleh air mata. Yang penuh kesedihan. Yang penuh keputusasaan. Yang...jujur. Selama ini memang Kyungsoo melihat Baekhyun selalu penuh senyum. Namun, ia tidak melihat ada kejujuran di sana. Ia selalu merasa ada yang disembunyikan. Tapi kali ini tidak. Ada kelelahan di sana.

"Baekhyun...kau tidak apa-apa? Mengapa menangis? Mau menceritakan sesuatu?" tanya Kyungsoo.

"Aku, tidak apa-apa, Kyungsoo-ya. Sungguh." Jawab Baekhyun.

"Sungguh? Ini, bersihkan dulu wajahmu. Berdandanlah, itu ada tas kosmetik milikku." Balas Kyungsoo sambil menyerahkan tempat tisu pada Baekhyun.

"Terima kasih, Kyungsoo." balas Baekhyun singkat sambil menerima tisu pemberian Kyungsoo. Setelah membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata, ia mulai berdandan sesuai saran Kyungsoo. Setelah merasa penampilannya lebih baik, ia menyetujui ajakan Kyungsoo untuk keluar dari mobil dan menyusul Chanyeol.

"Lama sekali kalian, ayo duduk. Kalian sudah kupesankan makanan tadi." Kata Chanyeol.

Setelah itu mereka bertiga makan dalam keheningan yang menyiksa. Mereka tidak bersedia memulai pembicaraan sampai acara makan selesai.

"Ayo kita pulang." Sampai akhirnya Chanyeol memecah keheningan saat dilihatnya Baekhyun dan Kyungsoo memang tidak berniat berbicara.

Malamnya, saat Baekhyun dan Chanyeol memastikan bahwa Kyungsoo sudah tertidur, Baekhyun pamit pulang pada Chanyeol. Awalnya Chanyeol menawarkan diri untuk mengantar Baekhyun, namun Baekhyun menolak dan memilih untuk pulang sendiri naik taksi.

Lalu Chanyeol memasuki kamar mereka, kamar Chanyeol dan Kyungsoo untuk pergi tidur. Setelah mencium kening Kyungsoo dan membetulkan letak selimut Kyungsoo, Chanyeol pergi menyusul Kyungsoo ke alam mimpi. Namun ternyata Kyungsoo tidak benar-benar tidur. Setelah memastikan bahwa Chanyeol sudah tertidur pulas, Kyungsoo beranjak menuju lemari pakaian Chanyeol. Sejak melihat Baekhyun menangis siang tadi, Kyungsoo merasa ada yang tidak beres antara Baekhyun dan Chanyeol. Ia merasa kalau Baekhyun menyimpan memori yang mendalam bersama Chanyeol. Itu terlihat dari binar matanya ketika melihat Chanyeol. Namun entah apa yang terjadi pada Chanyeol, ia seakan melupakan Baekhyun.

Setelah mengobrak-abrik isi lemari Chanyeol, akhirnya Kyungsoo menemukan sebuah notes kecil bertuliskan Chanyeol's Diary. Kyungsoo merasa bahwa buku ini yang akan memberi jawabannya, maka dari itu ia membacanya. Ketika membuka halaman awal buku itu, sudah ada nama Baekhyun di situ. Jelas ia kaget membacanya. Yang ia tahu, Chanyeol dan Baekhyun tidak memiliki hubungan apa-apa. Di sana tertulis bahwa hari itu Chanyeol bertemu dengan seorang wanita yang menarik perhatiannya. Imut, menggemaskan dan membuat siapapun akan terus terngiang dengan wajahnya. Chanyeol tahu nama wanita itu Baekhyun namun ia tidak tahu apakah Baekhyun memiliki perasaan yang sama terhadapnya.

Lembar-lembar berikutnya berisi bagaimana Chanyeol mati-matian menyimpan perasaannya pada Baekhyun. Ia tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk mengajak bicara, apalagi berkenalan dan akhirnya menyatakan perasaannya pada Baekhyun. Ia cemburu saat melihat Baekhyun berbicara dengan lelaki lain. Ia ingin menghampiri Baekhyun saat ia duduk sendirian di kantin sekolah mereka dan bagaimana salah tingkahnya Chanyeol saat Baekhyun memergokinya tengah menatapnya saat kelas Baekhyun sedang mengikuti kelas olahraga. Saat itu Chanyeol melihat Baekhyun berada di lapangan bersama teman-temannya dan Chanyeol yang cerdas memanfaatkan momen itu untuk menatap Baekhyun barang sebentar saja. Ia berpura-pura meminta izin ke toilet dan di perjalanan dari kelas Chanyeol menuju toilet memang melewati lapangan. Saat berjalan melintasi koridor sekolah yang menghadap langsung ke arah lapangan, ia berjalan selama mungkin. Saat sampai di toilet ia tidak melakukan apa-apa dan langsung kembali ke kelasnya. Namun saat melewati lagi koridor sekolah, ia akan kembali melambatkan jalannya hanya untuk melihat Baekhyun.

Akhirnya Kyungsoo berada pada halaman di mana saat Chanyeol harus meninggalkan Baekhyun karena impiannya kuliah di Harvard. Di sana tertulis bahwa Chanyeol sangat berat meninggalkan Baekhyun. Namun ia juga tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk menuntut ilmunya di universitas impiannya itu. Baekhyun akhirnya mengalah pada cita-cita Chanyeol. Ia merelakan kepergian Chanyeol ke Amerika. Lalu sebagaimana adegan di film-film yang sering Baekhyun dan Chanyeol tonton saat berkencan, di mana pemeran perempuan menangis saat harus melepaskan kepergian kekasihnya di bandara. Tanpa terasa air mata Kyungsoo mulai menetes dan membasahi buku harian Chanyeol saat membaca halaman ini.

Lalu Kyungsoo sampai pada halaman ketika ia mengenal perempuan yang mulai mengisi hari-harinya. Perempuan yang selalu mengingatkannya untuk mengerjakan tugas, makan, dan sering menemani Chanyeol berjalan-jalan saat liburan. Dialah Kyungsoo. Di buku itu juga tertulis kalau ia mulai mencintai Kyungsoo dan akan melupakan Baekhyun. Ia pikir mungkin Baekhyun sudah lelah menunggunya dan mempunyai kekasih baru, maka tak ada salahnya jika Chanyeol juga melakukan hal yang sama. Chanyeol mulai menghapus nama Baekhyun di kontak ponselnya. Menghapus Baekhyun dari hati dan pikirannya, dan perlahan menggantinya dengan nama Kyungsoo. Do Kyungsoo.

Sampai akhirnya ketika mereka lulus kuliah dengan predikat cum laude. Saat itu Chanyeol dan Kyungsoo sudah bertunangan. Kyungsoo selalu memaksa Chanyeol untuk menikahinya. Chanyeol yang sangat mencintai Kyungsoo akhirnya bersedia untuk menikahi Chanyeol, tepat setelah 2 tahun kepulangan mereka ke Korea. Saat itu Chanyeol sudah menjadi direktur perusahaan besar. Hidupnya berkecukupan dan diinginkan setiap orang. Air mata Kyungsoo mengalir deras dan membasahi kedua pipinya. Ia merasa begitu berdosa pada Baekhyun. Kyungsoo merasa bahwa ia adalah orang terjahat di dunia, yang menghancurkan hubungan Chanyeol dan Baekhyun. Bodohnya ia malah bersahabat dengan Baekhyun yang artinya Baekhyun harus berpura-pura tidak mengenal Chanyeol. Tapi apakah Chanyeol benar-benar tidak mengenali Baekhyun? Yang Kyungsoo lihat, sikapnya terhadap Baekhyun biasa-biasa saja. Tidak seperti orang yang melihat mantan pacarnya yang sudah lama tidak ia temui. Kyungsoo ingat. Besok adalah ulangtahun pernikahannya dengan Chanyeol. Besok, usia pernikahan mereka genap empat tahun. Ia harus berpisah dengan Chanyeol dan mempersatukannya kembali pada Baekhyun. Sudah cukup penderitaan yang Baekhyun alami. Lagipula ia merasa bahwa umurnya tidak akan lama lagi. Besok malam adalah waktu yang tepat untuk melakukan semuanya. Sekarang yang harus ia lakukan adalah kembali berpura-pura tidur dan berpura-pura semuanya baik-baik saja sampai besok malam. Tidak boleh ada seorang pun yang bisa mencegahnya saat ini.

.

.

.

.

TBC

.

.

.