Pagi ini adalah pagi yang begitu menyebalkan untuk Ino. Masalahnya, ia harus bangun lebih pagi dari yang biasanya. Baru saja waktu menunjuk pada pukul 7 pagi, ia dibangunkan dengan suara ketukan pintu yang cukup kencang dan teriakan seorang perempuan yang ia sudah sangat kenali, siapa lagi kalau bukan Temari.

Seperti biasanya, Ino mencoba membuka kedua matanya, memposisikan dirinya duduk bersila di atas tempat tidur dan mulai mengumpulkan seluruh nyawa dan juga kesadarannya.

Namun, beberapa kali kedua matanya hendak tertutup kembali, ia segera mencoba untuk bangun karena ia tidak mau diteriaki oleh Temari. Segera ia beranjak dari tempat tidur, membereskan dan merapihkan tempat tidur. Bergegas menuju kamar mandi, lalu selesainya ia masih menggunakan handuk dan mengambil baju yang sering ia kenakan, lalu mulai merias tipis wajahnya dan mengeringkan rambutnya.

Ia tahu bahwa memang hari ini ia harus bangun pagi untuk segera mengerjakan riset bersama dengan Gaara. Sudah selama beberapa hari ini, Ino dan Gaara melakukan riset tersebut dengan lamban dan menghasilkan sedikit sekali data. Shikamaru yang menyadari hal itu langsung memberitahu Temari, pastinya Temari langsung menegur Gaara dan Ino.

Selesai merapihkan segala kebutuhannya untuk riset kali ini, Ino langsung bergegas menuju kebun kaktus dan rumah kaca herbal yang tak jauh dari kebun kaktus tersebut.

Suasana desa masih sepi, aktivitas belum terlalu nampak pada jam 7 pagi ini. Sunyi juga masih dirasakan di kebun kaktus, karena belum ada satupun orang yang bekerja. Tidak ada pekerja kebun, bahkan tak terlihat Gaara.

Masih sepi begini... apa yang akan dikerjakan kalau begini. Gaara dimana?

Pikir Ino dalam hatinya. Ia memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam rumah kaca herbal yang berisikan berbagai tanaman obat. Ia tidak tahu apakah rumah kaca tersebut terkunci atau tidak, tapi semoga saja tidak terkunci. Dan benar saja, ketika ia mencoba membuka, pintu rumah kaca tersebut terbuka. Sejenak, ketika ia memerhatikan isi dari tanaman herbal tersebut, ia menjadi kangen dengan toko bunga miliknya dan ayahnya yang sedang ada di Konoha. Ia rindu akan wangi bunga segar, warna warni bunga yang ada di toko bunga tersebut, serta guru Kurenai dan Guru Kakashi yang sering membeli bunga.

Berbeda dengan Konoha, Suna begitu berbeda. Sejauh mata memandang hanya terdapat bangunan polos berwarna coklat senada dengan hamparan pasir. Cuaca yang begitu panas di siang hari namun di malam hari bisa sangat dingin sekali. Sehingga Ino kadang tidak mengerti kenapa ada yang bisa tahan dalam kondisi tersebut.

Sekitar 20 menit Ino berkeliling, tiba - tiba saja Gaara datang dengan raut wajah yang begitu menyedihkan. Rambut Gaara yang lebih berantakan daripada sehari-hari, serta kantung mata yang begitu lebar dan tebal yang membuat Ino kaget dan bingung akan apa yang Gaara lakukan semalaman.

" Gaara! Kamu kenapa? Kamu terlihat begitu kelelahan." Tanya Ino yang begitu khawatir akan kondisi Gaara, ini pertama kalinya Ino melihat Gaara yang seperti ini.

" Tak apa. Aku hanya tidak bisa tidur semalaman." Jawab Gaara dengan suara yang terlihat letih dan serak.

" Ya ampun Gaara, kalau begitu kamu bisa beritahu kepadaku lewat Temari saja kalau riset kali ini kita lakukan mulai siang hari? Kamu jadi bisa istirahat dulu." Ino semakin cemas dengan kondisi Gaara.

" Tidak. Kalau mulai dari siang, sama saja seperti kemarin - kemarin. Proses riset kita akan semakin lamban." Gaara tetap teguh dalam pendirian untuk melanjutkan riset di pagi hari.

" Tapi Gaara, aku sudah terbiasa mengerjakan risetku sendiri kok, lagipula hasilnya pasti tetap aku berikan padamu, tenang saja. " Ino juga tetap ingin Gaara beristirahat dulu di rumah.

" Ini tugas kita. Aku tidak mungkin membiarkanmu mengerjakannya sendiri. Aku harus bertanggung jawab juga. "

" Hmmm baiklah. Bagaimana kalau kamu beristirahat selama 30 menit disini. Akan kutemani kok, aku janji akan membangunkanmu tepat 30 menit, lalu kita akan mulai mengerjakan riset. Bagaimana?" Ino tetap mencari jalan agar setidaknya Gaara mau untuk istirahat dulu.

" Tapi aku tidak ma-"

" Sudah ikuti apa kataku saja! Daripada kamu mengerjakan riset dengan tidak fokus yang malah membuat hasil riset jadi berantakan dan mengulang dari awal. Kamu mau ya kita mengulang dari awal semua riset ini?" Ino memotong perkataan Gaara yang belum sempat terselesaikan. Ino terlalu jengah dengan Gaara yang tidak mau dibilangin untuk istirahat. Ino sangat cemas dengan Gaara yang seperti itu.

" Baiklah. Hanya 30 menit saja." Gaara akhirnya mengikuti kata Ino.

" Sini " Ino berjalan ke arah suatu sofa yang simpel yang cukup untuk 4 orang dan segera duduk disana sambil penepuk sisi sebelahnya yang kosong, menandakan untuk Gaara ikut duduk disana.

Gaara lalu mengikuti Ino, dan entah mengapa Gaara malah menyandarkan kepalanya di paha Ino dan tidur terlentang di atas sofa layaknya anak kecil yang tidur dengan bantal paha ibunya. Tak beberapa lama, Gaara terlelap.

Ino yang menyaksikan Gaara terlelap tersebut hanya tersenyum manis melihat wajah Gaara yang begitu tenang, polos, dan nyenyak. Ia tak tahan untuk tidak mengelus rambut Gaara yang acak-acakan. Sehingga Ino dengan lembut mengelus rambut Gaara sambil tersenyum.

Gaarapun juga merasakan kenyamanan walaupun dalam posisi tersebut. Tak pernah dalam hidupnya ia melakukan hal seperti ini bahkan berani melakukannya kepada seorang perempuan.

Namun... makin lama Ino juga ikut terlelap dengan keadaan sunyi yang begitu mendukung kondisi mereka berdua saat ini.

Jam 10.00 pagi

Pada jam seperti ini, semua orang memang sudah sibuk berlalu lalang untuk bekerja dan melaksanakan aktivitas mereka sehari - hari. Sama juga seperti para pekerja kebun dan rumah kaca herbal, para pekerja mulai berdatangan untuk memulai pekerjaan mereka. Tapi, mereka mulai berpandang - pandangan ketika melihat pemandangan di dalam rumah kaca herbal tersebut yang begitu romantis di mata mereka. Para pekerja juga tidak berani menganggu kondisi sang dua joli tersebut dan memilih untuk berusaha bekerja tanpa membuat keributan untuk tidak mengganggu.

Kankuro yang kebetulan lewat kebun kaktus dan memang ada urusan sebentar dengan salah satu pekerja tanaman herbal untuk membuat racun dalam Karasu miliknya, juga melihat seorang Gaara dan Ino yang terlelap bersama - sama dengan tenang di dalam rumah kaca herbal tersebut. Maka dengan secara sengaja... Kankuro masuk dan berteriak.

" Aaaaaarggghhh! Bagaimana ini? Bagaimana iniiii?" Kankuro berteriak sekencang mungkin.

Gaara dan Inopun tersentak dan terbangun dari tidur sejenak mereka dengan teriakan Kankuro barusan.

" A-Ada apa sih?! Ribut sekali?" Ino bertanya dengan bingung sedangkan Gaara hanya diam saja dan memerhatikan sekeliling.

" Tidak apa - apa Ino, aku hanya ada masalah sedikit saja. Gaara, kurasa masalahku kali ini menyangkut padamu. Ikut aku sebentar. Ino tunggu disini dulu ya. " Dan dengan itu Kankuro serta Gaara keluar bersama-sama dan pergi ke salah satu ujung kebun kaktus yang sepi dari pekerja kebun.

" Gaara. Kau gila ya?" Suara Kankuro mulai meninggi menandakan emosinya sedang naik.

" Apa?" Gaara hanya bertanya balik dengan singkat.

" Apa yang kau pikirkan sih? Kau itu anak dari kazekage Suna! Janganlah kau tidur berduaan saja dengan seorang perempuan dari desa lain di tempat terbuka seperti itu! Mau rusak namamu? Kalau memang namamu menjadi buruk aku juga tidak peduli. Tapi bagaimana dengan Ino? Bisa saja ia langsung dipulangkan ke Konoha dan dimarahi oleh hokage? Pikirkan itu baik - baik Gaara. " Setelah puas memarahi Gaara, Kankuro segera pergi.

" Kau terlalu berlebihan." Jawab Gaara singkat dengan senyum sumringah dan tidak peduli apakah sang kakak mendengarnya atau tidak. Gaarapun kembali ke dalam rumah kaca herbal.

" Ino, lebih baik kita mulai sekarang saja melanjutkan riset kita."

Gaara dan Inopun kembali melakukan rutinitas keduanya bersama -sama seperti biasanya. Mereka meneliti pasir - pasir yang ada, tiap bunga yang bisa tumbuh kuat dan beradaptasi dengan suhu dan temperatur yang panas, dan tidak jarang keduanya menemukan jalan buntu tiap penelitian. Mereka berdua juga sering kali mengulang semua penelitian dari pertengahan membuat energi otak mereka terkuras.

" Maaf " Kata itu tiba - tiba keluar dengan begitu saja dari mulut Ino.

" Untuk apa?"

" Tadi... aku ikut ketiduran dan kita akhirnya bangun jam 10 pagi. " Ino merasa bersalah dan berbicara sambil menunduk.

" Tidak apa. Lagipula aku sekarang lebih baik dari yang tadi pagi. Terima kasih Ino. " Gaara berkata sambil memberikan senyuman kecil kepada Ino yang membuat Ino menjadi salah tingkah sendiri melihat senyuman Gaara tersebut.

" Kamu memang ngapain saja semalaman?" Ino kembali bertanya kepada Gaara.

" Kan aku sudah bilang, tidak ada apa-apa." Gaara hanya menjawab dengan seadanya, dan memang benar Gaara sering mengalami kesulitan dalam tidur.

Keduanya mengerjakan riset hingga larut malam. Setelah Gaara mengantar Ino kembali kamarnya, Gaara lalu kembali juga ke rumah.

Gaara's POV

Tertidur di pangkuannya tak kusangka bisa senyaman itu. Membuatku ingin terus berada di sampingnya. Selama ini kucoba berbagai cara agar bisa tertidur. Tapi mengapa begitu mudahnya aku terlelap di pangkuannya? Kurasakan lega dan perasaan yang melambung tinggi ketika kubersamanya. Ino seperti memiliki magnet tersendiri dalam dirinya.

End of Gaara's POV

" Jangan melamun terus oi Gaara "

" Hn. " Gaara hanya membalas singkat perkataan Temari tersebut.

" Ku dengar pagi ini kamu melakukan adegan romantis bersama Ino ya?"

" Tidak. "

" Lalu? Apa benar kamu tidur di pangkuan Ino di dalam rumah kaca?" Temari bertanya sambil menyelidik.

" Kankuro ya."

" Yap. Saat pulang tadi siang, dia tak berhentinya marah - marah. Aku sampai tak tahan mendengarkan celotehan Kankuro." Raut wajah Temari juga menunjukan kekesalan pada Kankuro.

" Apa iya ayah akan marah? Apa perlakuanku tadi pagi itu akan membahayakan Ino?" Tanya Gaara yang jujur masih khawatir dengan teguran Kankuro kepadanya di kebun kaktus. Mungkin Gaara tidak peduli jika ayahnya marah kepadanya, tapi ia takut jika Ino kembali mendapatkan teguran kembali. Dan Ino terpaksa harus kembali ke Konoha dan tidak melanjutkan risetnya tersebut. Gaara tidak akan bisa membuat perempuan yang ia sayangi pergi begitu saja.

" Maksudmu? Aku tidak mengerti." Temari bingung dengan apa yang Gaara katakan.

" Kankuro tadi bilang... Tidak jadi. "

" Sudahlah, sejak kapan sih ayah akan memikirkan kita? Yang pasti jangan sampai menganggu pekerjaannya dan kita akan aman aman saja. " Temari berbicara dengan begitu santainya sambil bergegas menuju kamarnya, lalu ia berhenti dan membalik badan ke arah Gaara.

" Gaara, besok aku dan Shikamaru ingin mengajakmu ke suatu restoran. Ajak Ino ya? Rahasiakan ini dari Kankuro. Aku malas berurusan dengannya. Jam 7 malam kita ketemuan di depan kebun kaktus saja. Jangan lupa memakai baju yang sopan dan rapih, kalau bisa suruh Ino pakai dress. No shirt or t-shirt also no skirt or hot pants."

" Hn. Baiklah." Gaara hanya berkata sambil menganggukkan kepalanya.

" Awas kalau kamu sampai lupa memberitahunya." Temari langsung kembali memutar badannya dan masuk ke dalam kamar.