Maafkan saya atas apdet yang lama. Udah, males bacot/dilempar sandal/

Disclaimer: Vocaloid belongs to Crypton Future Media and Yamaha.


Fragmented

.

(A Vocaloid fanfiction by nabmiles. I take no profit from this fanfic.)

.

Chapter 2

Kadang, Rin melihat satu bintang paling terang di langit malam. Dengan kerjap cahaya terindah dan terbesar, memamerkan sinarnya pada dunia. Kelap-kelip bintang di sekitarnya meramaikan bintang terang itu seakan tidak mau kalah, menghasilkan pendar indah melukis celah dingin langit.

Rin selalu menyukai momen-momen di mana hanya ada dia dan bintang. Berdiri di balkon kamarnya berteman secangkir coklat panas, menengadah mengamati langit yang tak pernah kehilangan eksistensinya. Dia selalu menyukai itu; berdiri berdampingan dengan bentang langit hitam berhiaskan bintang-bintang.

Bintang bagi Rin adalah cahaya; sebuah pemahaman yang sudah melekat di benak gadis itu sejak kecil—ibu yang berkata padanya. Bintang memberimu penerangan, menunjukkan jalan yang ingin kau lalui, menghangatkan bongkahan hatimu. Dan Rin setuju. Melihat pendar cahaya benda langit itu, dia dapat merasakan kedamaian tersendiri menelusup dalam hatinya, memberi kehangatan.

Dulu, dia dan Rinto menikmatinya bersama-sama. Berdiri di balkon yang sama, berbagi coklat panas yang sama, mengamati hal yang sama. Membicarakan hal yang sama dan tertawa bersama pula. Eksistensi mereka sebagai saudara merekatkan dua pribadi dengan satu kesamaan: bintang.

Kala malam hari sewaktu mereka kecil, begitu memenuhi tenggat waktu belajar, duo kakak beradik yang sangat mirip itu akan berlari ke dapur. Menghasilkan derap langkah dari kaki-kaki kecil mereka sepanjang perjalanan, membawa senyum geli orangtua mereka yang melihat. Rinto akan masuk melalui ambang dapur duluan disusul adik perempuannya, berikut omongan (atau mungkin perintah) untuk mengambil gelas. Sementara Rin berusaha menggapai gelas putih bergagang itu di rak paling atas dengan kursi, Rinto membuka lemari penyimpanan untuk mengambil sekardus kecil minuman kesukaan mereka; coklat. Bubuk coklat itu beraroma vanili dan kakao yang enak, terbungkus rapi dalam lipatan-lipatan kardus bungkusan. Jemari Rinto meraihnya, mengguncang sedikit untuk memastikan keberadaan bubuk minuman itu. Seulas senyum sumrigah terulas kemudian.

Rin melompat turun dari kursi biru itu, membawa dua buah gelas yang dengan susah payah berhasil diambilnya dari rak ke meja dekat Rinto. Antusias mengamati kakaknya menuang bubuk harum ke dasar gelas yang saling bertumbukkan satu sama lain itu.

"Hei, Rin, kita pakai satu gelas saja, nanti boros," Rinto mengangkat mulut plastik bungkusan coklat itu, menghentikan pergerakan bubuk-bubuk coklat.

"Satu? Tapi nanti kita rebutan, kak!" Rin menyanggah sembari menghampiri kompor, membuka tutup panci tempat mereka merebus air beberapa waktu lalu.

"Ya jangan sampai. Berbagi, itu yang kakak adik biasa lakukan, kan? Ayo, kita coba saja!"

Kali pertama mereka berbagi minuman favorit di gelas yang sama ditandai dengan Rin yang memecahkan gelas tadi ketika berusaha mengembalikannya ke rak. ("Sudah okaasan bilang, kalau tidak sampai taruh di rak bawah saja!") Kegiatan membuat coklat mereka terpaksa digantikan acara membersihkan lantai dari pecahan gelas.

"Sudah! Sudah beres, bu!" teriak Rin setelah sekian menit berlalu. Plastik hitam untuk menaruh pecahan gelas di pojok ruangan diikatnya baik-baik—daripada kena marah ibu lagi. Mereka melanjutkan membuat coklat panas dengan titah memakai sandal di dapur semalaman itu.

Suara air yang mendidih terdengar dari dalam panci, mengganggu keasyikan dua kakak beradik pirang madu itu dalam permainan sambung kata mereka. Rin melompat dari kursi, menghampiri kompor dan membuka tutup panci—disusul suara berkelontang tutup aluminium tersebut jatuh ke lantai. Rinto menertawai kecerobohan adiknya yang memegang tutup panas tersebut langsung tanpa kain, kemudian membantu sang adik yang sibuk mendinginkan jari-jari mungilnya di pancuran air kran.

Air panas tertuang. Bubuk coklat diaduk. Segelas coklat panas telah jadi. Sorakan Rinto dan Rin menghiasi dapur untuk beberapa saat—karena itu merupakan kali pertama mereka membuat coklat sendiri. Biasanya ibu yang membuatkan setelah mereka selesai belajar. ("Bu, kita mau buat sendiri, ya!"—"Ayah, ibu! Coklat kita sudah jadi!"—"Kita buat sendiri, lho!")

"Aku yang bawa!"

"Aku saja!"

"Kakak ngalah, dong!"

"Kau itu adik, menurut saja!"

"Nggak mau! Pokoknya Rin yang bawa!"

—untungnya, keributan itu segera selesai dengan Rinto yang mengalah. Rin menyambar gagang gelas itu sambil tersenyum penuh kemenangan dan berlari kecil menuju tangga. Naik ke lantai dua rumah mereka, menuju ruang keluarga di tingkat itu.

"Rin, jangan lari! Coklatnya bisa tumpah—tuh kan! Harusnya aku yang bawa!"

Lagi, mereka terpaksa berhenti untuk mengelap tumpahan coklat gara-gara si adik. Rinto menjulurkan lidah mengejek Rin yang harus mengembalikan lap ("Tapi bu, tumpahnya cuma sedikit. Cuma berapa tetes itu! Lagian kenapa kakak tidak ikut—"—"Bersihkan, yang menumpahkan juga kamu.") sementara ia berlari duluan menaiki tangga dengan gelas di tangan. Tapi, ia berhenti di tengah jalan. Ia pikir akan lebih asyik menuju ruang keluarga bersama-sama. Maka, ketika derap langkah Rin terdengar kembali, ia tersenyum pada adiknya. Rin ikut tersenyum, merasa senang kakak laki-laki satu-satunya itu menunggunya. Bersama, mereka menaiki anak-anak tangga dengan langkah kecil dan membuka pintu ruang keluarga.

Ruang keluarga itu bercat oranye kekuningan, bertatakan satu set sofa, meja kecil, serta televisi. Karpet melapisi lantai. Mereka berdua menghampiri jendela kaca besar sebagai penghubung dengan balkon, Rin membukanya dan langsung menghampiri pagar pembatas. Iris azurenya berbinar antusias kala bertatapan dengan tirai malam di atas. Mereka ada di sana; kumpulan bintang. Menyebar ke berbagai penjuru, mengumbar keindahan.

Rinto menyusul—ia harus hati-hati daripada menumpahkan coklatnya di karpet (salah-salah ia bisa disuruh mencuci karpet itu sendirian—kenyataannya, mana mungkin ibu dan ayah berbuat sebegitu kejamnya pada anak mereka, kan? Mencuci segelar karpet sendirian untuk seorang anak umur tujuh tahun? Duh Rinto, ibumu tidak sejahat itu, kok). Dia berdiri di samping sang adik sambil ikut menengadah. Membawa bentang langit hitam dalam pandangan, berserak bintang-bintang kesukaan mereka yang mengisi celah dingin langit. Anak itu meniup coklatnya dan meneguk sedikit. Uh, masih panas.

"Bintangnya bagus ya, kak," Rin berkata. Pelan, tapi ceria. Helai-helai pirang madu mereka mengambang dihembus angin malam yang bertiup pelan. Pita putih yang membandana rambut sebahu Rin ikut bergoyang, serupa dengan poni mereka yang menggesek dahi dengan lembut.

Rinto mengangguk. "Iya, lebih banyak dari kemarin." Ia meneguk coklatnya lagi.

"Minta, kak."

Rin menerima gelas putih itu di jemari mungilnya, mengamati sesaat permukaan coklat panas yang memantulkan rupa wajahnya. Aroma vanili dan bubuk kakao terhidu hidung si anak perempuan. Ia meniup-niup sebentar dan meneguk, merasakan manis pahit yang kompleks di lidahnya, mendapat satu kehangatan saat cairan itu turun mengaliri kerongkongan. Rona merah menghiasi pipinya, efek dari rasa hangat yang didapat. "Coklat kita enak, kak."

"Iya dong, yang bikin siapa dulu?"

"Ih, kita kan buat barengan!" seru Rin tidak terima.

"Apanya? Kamu kan cuma mengambil gelas, mau bantu menakar malah numpahin bubuknya! Itu bukan bikin namanya!"

"Kok begitu?!"

"Yang menakar bubuk kakaonya aku, yang menuang air panas juga aku. Kamu apa? Memecahkan gelas, menumpahkan bubuk, menumpahkan coklat yang sudah jadi… nah lho, tumpahnya sampai dua kali!"

"Eh, ngarang! Yang menuang air panas tuh aku, kak! Enak saja!"

Rinto baru ingat kalau Rin yang menuang air panasnya—walau sempat membuat gaduh gara-gara tutup yang berkelontang jatuh itu. "Tapi aku yang menakar bubuk! Yang mengaduk juga!"

"Itu karena kakak monopoli sendoknya!"

"Siapa suruh nggak ambil sendok? Jadi, yang paling banyak bikin ya aku, dong."

"Ya enggaklah! Coba kalau nggak ada air panas, bukan coklat namanya!"

"Kalau nggak ada bubuk kakao, juga bukan coklat namanya!"

"Apa, sih. Menakar bubuk kan gampang!"

"Menuang air juga gampang!"

"Lebih gampang menakar bubuk!"

"Menuang air!"

"Bubuk!"

"Air!"

"BUBUK!"

"AIR!"

"Semua gampaaang."

Sekonyong-konyong sebuah suara berat memotong perdebatan dua pirang madu. Mereka kompak menoleh ke sumber suara. Ayah mereka, Leon, berdiri di ambang jendela penghubung balkon dan ruang keluarga, berjalan santai menghampiri anak-anaknya. "Gampang, semua gampang. Kenapa mesti ribut?"

Rin dan Rinto berpandangan. Iya, ya, kenapa harus ribut? Cuma masalah menuang air dan menakar bubuk kakao, kan?

Huh, jelas-jelas menakar bubuk lebih mudah, Rin merengut.

Tapi menuang air lebih gampang, pikir Rinto.

Leon terkekeh melihat kakak beradik itu diam dalam pikiran masing-masing. Ia ikut berdiri di sisi pagar pembatas, membagi jarak Rin dengan Rinto. "Sudah, sudah. Gencatan senjata, oke? Lihat, bintangnya sedih dicuekin."

Mendengar kata bintang dari mulut ayah mereka, kontan duo pirang itu kembali menoleh pada langit. Tetap sama; pendar-pendar menakjubkan itu masih di sana, melukis langit dengan gemerlapnya. "Kalian suka bintang?"

"Ya!" sahut Rin dan Rinto kompak.

"Kenapa?"

"Cahayanya kemilau!"

"Sinarnya bagus!"

"Haha, oke oke," Leon mengusap rambut Rin dan Rinto. Kembali mendongak pada langit. "Coba kalian bayangkan. Di bawah langit ini, ada berjuta-juta orang yang melihat bintang yang sama. Melihat langit penuh bintang ini juga. Hebat, kan? Orang-orang yang tidak saling mengenal, bahkan belum pernah bertatap muka, berada di bawah naungan langit yang sama. Melihat langit yang sama dengan kalian. Disatukan oleh indah pemandangan langit penuh bintang ini. Pernah memikirkan itu?"

Rin dan Rinto mencerna perkataan ayah mereka, memikirkan ucapan sang ayah baik-baik.

"Iya juga," sahut Rinto. "Ayah benar."

"Iya!" Rin menyahut semangat. "Hebat sekali!"

Leon tersenyum lembut, sekali lagi mengacak helaian pirang kedua anaknya. "Omong-omong, mana coklat kalian? Ayah mau coba."

Rin tersadar. Gelas yang masih ada di genggaman mungilnya ia ulurkan pada sang ayah. "Ini, hasil kerja—"

"—kita berdua!" Rinto menyela dengan nada riang. Rin mengerling kakaknya, menyunggingkan senyum lebar tanda ia setuju. Perselisihan tidak penting barusan sempurna terlupakan dari pikiran polos mereka.

Leon meraih gelas putih bergagang itu dari jemari Rin, memperhatikan coklat lembut yang memenuhi ruang gelas. Aroma vanili dan coklat lembut memenuhi indra penciuman. Didekatkannya bibir gelas itu pada mulut, menyesapnya pelan. Enak. Hangat. "Hmm, enak! Kalian pintar!" Dua kakak beradik itu langsung mengadu telapak tangan mereka gembira. "Ternyata kalian bisa bikin sendiri. Kenapa tidak dari dulu?" Dan cengiran sempurna menghias wajah Rin serta Rinto. Benar juga. Mereka pikir membuat coklat itu sulit, tapi ternyata mudah!

Sesuatu melesat cepat. Bercahaya, meluncur membelah kelamnya langit. Ekor mata Rin menangkap kilatan itu dan secepat kilat mencari sumber cahaya panjang yang barusan dilihatnya. Sebuah… sebuah bintang—

"—eh, bintang jatuh!" teriakan Rinto mendahuluinya. "Whoa! Bintang jatuh! Ayah, ada bintang jatuh! Rin, bintang jatuh!"

"Iya! Buat permohonan, kak!"

Sementara Rin dan Rinto heboh mencondong-condongkan badannya di pagar pembatas, Leon ikut mengamati langit. Benar, selintas cahaya memanjang baru saja terlihat, melesat meninggalkan berkas putih yang memudar perlahan-lahan. Tapi, cahaya itu masih terlihat sebelum benar-benar menghilang ditelan bayang gedung lain. Kakak beradik pirang itu menjulurkan leher panjang-panjang demi berusaha melihatnya lagi.

"Sudah hilang," Rin mendesah kecewa.

"Iya," Rinto menimpali. "Tapi walau sebentar, bintang jatuh ternyata indah sekali!"

"Iya!" Rin menyetujui. "Ekornya panjang, bercahaya lagi."

"Apa yang kalian minta?" Leon mengangkat alis, memindai kedua pasang azure anak-anaknya. "Sesuatu yang baik, kan?"

"Tentu saja!" Rinto menjawab cepat. "Aku meminta supaya kita bisa melihat langit seperti ini bersama-sama lagi! Bersama ayah, dan juga Rin!"

Rin membulatkan mata menatap sang kakak. "Eeh? A-aku juga membuat permohonan seperti kakak. Berharap supaya aku, kakak, dan ayah bisa berkumpul sama-sama di balkon ini lagi, melihat bintang ditemani coklat panas yang enak! Kali ini ditambah ibu!"

Mendengar ucapan anak-anaknya itu, Leon tertawa lepas. Sejujurnya, ia pun sempat menggumamkan harapan serupa. Betapa dunia sangat kecil. Mungkin, karena ikatan keluarga yang kuat? "Oh ya? Ayah juga berharap begitu."

"Eeh? Yang benar?" Rin dan Rinto berpandangan. "Berarti, mungkin saja ini pertanda permohonan kita akan terkabul!"

"Permohonan apa?" tiba-tiba satu suara bergabung. Mereka bertiga menoleh ke belakang, melihat ibu mereka yang berdiri di ambang bingkai kaca di belakang.

"Sejak kapan ibu di situ?"

"Ibu telat! Bintangnya sudah jauh!"

"Kenapa?" sosok berfigur ibu dari kakak beradik itu berjalan mendekat. "Ada yang seru, nih?"

"Tadi ada bintang jatuh, bu!"

"Iya, hebat sekali! Ekornya panjang dan bercahaya!"

"Ibu telat sih, siapa suruh di bawah terus!"

Leon tersenyum lembut pada perempuan itu. "Kau terlambat, Lily," katanya pada sosok bersurai pirang panjang itu. "Kami melihat bintang. Bintang jatuh lewat, dan kami membuat permohonan yang sama."

"Permohonan yang sama?" Lily mengerutkan kening. "Tiga orang? Sama semua?"

"Iya!" cetus Rin. "Supaya kita bisa berkumpul sama-sama melihat langit—"

"—yang bertabur bintang!" Rinto menyelesaikan. Lily tersenyum hangat, mendadak merasa bangga sekaligus terharu. Ia berjalan menghampiri dua anak yang berbagi darah yang sama dengannya itu. "Oh, ya? Hebat. Permohonan yang bagus!"

Leon tersenyum, mengacak lagi helaian pirang yang memahkotai kakak beradik nyaris serupa itu, berpindah ke sisi Rinto sedang Lily menempatkan diri di sisi Rin. Mereka meletakkan tangan mereka di punggung kedua anaknya, memberi gestur melindungi pada kedua buah hati. Menengadah menatap langit yang tetap indah selayaknya di atas diikuti oleh Rin dan Rinto. Bersama-sama mengamati bentang indah langit malam itu, memorinya dalam benak sebagai kenangan bersama. Hangat mengisi rongga hati mereka. Seulas senyum terukir menghias empat orang dalam ikatan keluarga tersebut.

"Ya, ayo kita lihat bintang bersama-sama lagi. Seperti ini, seterusnya."

"Jika aku dapat mengulang waktu, aku ingin kembali ke waktu itu. Berempat, bersama kakak, ayah, dan ibu. Berkumpul bersama di balkon, menatap bentang langit bertabur bintang yang sama."

.

"...jika aku dapat mengulang waktu…"

.

TBC


Yak, edisi flashback (bisa dibilang). Lebih panjang ya? Saya enjoy banget bikin family-nya di situ-w- Terima kasih sudah membaca. Yuk ah, gimana pendapat readers? Reviewnya ditunggu, berpendapatlah sebebas anda tentang fic ini!

[Makasih banyak buat RosaTheHimeRose (yeps udah apdet), Kiriko Alicia (oya? kita senasib! tos dulu dong! tapi sekarang udah enggak, kan? udah ujan, udah lama pula-w-d B-berkelas tinggi? U-uh, saya coba sederhanain ya, semoga terasa hehe), Kurotori Rei (haha, makasih ya. iya nggak ya? kita lihat saja, makanya ikuti terus ceritanya ;)/KOK PROMOSI/), serta Alena Chornicles (iya, kemarin itu baru chapter satu sih, jadinya emang belum jelas-w- Cenderung kayak prolog malah. Udah saya kasih catatan di chapter itu. Pergola? Kamu cari gambarnya aja di internet, pasti banyak) yang sudah berbaik hati mereview! Review kalian support banget buat saya huks.]