DISCLAIMER. Masashi Kishimoto

WARNING. AU OOC typo (^_^;)

.

.

Happy Reading

II

..The Meeting..

Di suatu ruangan di sebuah gedung bertingkat 15, seorang pria madya berdiri di dekat jendela sambil memandang langit sore yang memancarkan cahaya jingga yang indah. Ia sedang menanti seseorang untuk menemaninya menghabiskan malam sunyinya yang biasa. Orang yang ditunggu bukanlah orang biasa tentunya, apabila itu benar, tidak mungkin bisa membuat seorang Uchiha Fugaku menunggu. Ia melirik kopi panas yang berada di meja kecil dekat jendela, meraihnya dan mengesap aromanya kemudian ketukan pelan terdengar dari luar pintu. Fugaku berbalik dan mendapati asistennya, Zabusa berdiri di depan pintu yang terbuka,

"Tamu Anda sudah datang, Uchiha-sama," sambil membungkung mempersilahkan orang yang dibelakangnya melaluinya.

Seorang pria paruh baya dengan siluet tegap dan dingin, Hyuuga Hiashi.

.

.

Sesuatu yang berbeda datang dari keributan beberapa karyawan yang baru saja turun menuju lobi utama gedung Uchiha Corp. Bagaimana tidak, suasana senja di lobi yang harusnya diisi oleh candaan khas karyawan yang hendak pulang harus terhenti oleh karena sekumpulan pria tegap memakai setelan jas hitam, kacamata hitam dan sesuatu yang menempel di telinga mereka. Mereka berjalan beriringan bersama seorang pria tegap lainnya dengan setelan jas hitam yang terlihat lebih mewah di pusat pergerakan mereka. Para karyawan yang terkejut saling memberitahu rekannya bahwa orang yang sekarang tengah terlihat menuju lift itu adalah Hyuuga Hiashi, Pemilik Hyuuga Corp. Para karyawan bertanya-tanya apa yang menyebabkan seorang Hyuuga berkunjung ke gedung Uchiha? Bukankah selama ini Hyuuga dan Uchiha tidak pernah saling bersentuhan? Keduanya memiliki ranah bisnis yang berbeda. Hyuuga di bidang elekronik dan Uchiha di bidang otomotif.

Hiashi bisa merasakan pandangan ingin tahu dari orang-orang yang ditemuinya di lobi Uchiha. Ia datang ke sini bukan tanpa alasan. Hal penting yang membuatnya mengunjungi Fugaku adalah melanjutkan pembicaraan mereka seminggu yang lalu ketika Ia dan Fugaku berpapasan di sebuah rapat tahunan tertutup Akatsuki Company, sebuah perusahaan garment dimana keduanya memiliki saham yang sama besarnya.

Seperti sekarang, waktu itu mereka berdua pergi ke ruangan tertutup lainnya, berdiri di depan jendela sambil mengesap kopi masing-masing.

"Kau masih mengurus ini, Fugaku?" kata Hiashi membuka pembicaraan mereka. Fugaku menoleh sekilas, kemudian memandang langit yang mulai jingga.
"Ini yang terakhir, Hiashi," masih menatap langit ia melanjutkan, "Nanti, kau takkan bertemu aku lagi disini,".

"Ini juga yang terakhir bagiku," Hiashi menjelaskan tanpa ditanya, sukses membuat perhatian Uchiha teralih dari langit jingga ke mata pucat milik Hiashi.
Hiashi kemudian mengesap kembali segelas kopi yang ada ditangannya, gantian menatap langit.

"Kudengar kau punya dua orang putra"

"..."

"..."

"Bukankah kau punya dua orang putri?" Fugaku merespon pernyataan Hiashi dengan pertanyaan. Matanya yang kelam menatap mata bulan Hiashi. Senyap tapi penuh arti.

Itu, sehari setelah Hiashi mengunjungi Hinata di London.

.

.

Sebulan setelah Hiashi dan Fugaku bertemu, Hinata dibuat terkejut lagi oleh kehadiran ayahnya di London. Belakangan Hinata tahu bahwa ayahnya ke London untuk menghadiri grand launching produk terbaru dari Akatsuki Company. Semua pemegang saham diundang untuk menghadiri pesta tersebut dan tentu saja Hinata diminta untuk ikut juga.

Hinata telah siap di ruang tamu apartemen mewahnya. Ia mengenakan gaun hitam selutut sederhana tapi elegan. Bagian bahu gaun tersebut dilapisi renda bunga yang transparan dengan lengan terbuka, kemudian bagian pinggangnya dihiasi pita berwarna emas. Gaun itu sangat cocok untuk Hinata. Ia menggerai rambut indigonya yang telah mencapai bahu kemudian menyematkan bando tipis yang sewarna dengan gaunnya dengan hiasan permata kecil di sudutnya. Hinata memperhatikan penampilannya di cermin, harusnya sempurna pikirnya sambil tersenyum. Ia tidak ingin mengecewakan ayahnya. Fakta bahwa Hiashi mengunjungi Hinata sebulan yang lalu membuat gadis itu bahagia bukan kepalang. Setidaknya perasaan bahwa ayahnya sengaja menjauhkannya dari orang-orang yang dicintainya terbukti tidak benar. Bahkan Hiashi mengatakan bahwa ia merindukan Hinata, suatu kata yang tidak pernah dibayangkan Hinata keluar dari mulut Hiashi.

Setibanya di hotel tempat pesta meriah itu diadakan, Hiashi dan Hinata langsung disambut oleh beberapa pelayan yang segera menunjukkan ruangan tempat pesta berlangsung. Sebuah ballroom megah dipilih sebagai tempat berlangsungnya acara tersebut.

"Jii-san,"Neji menghampiri paman dan sepupunya ketika keduanya baru masuk.

"Nii-san, kau juga disini? Kapan kembali dari New York? Kenapa tidak mengabariku?" Hinata melemparkan pertanyaan tanpa memberi kesempatan pada sepupunya untuk menjawab. Ia sudah terkejut atas kedatangan ayahnya sekarang keterkejutannya ditambah oleh kehadiran Neji.

Neji merasa geli dengan sikap adik sepupunya itu, ia bisa merasakan keterkejutan sekaligus kebahagian dari pertanyaan Hinata. Neji kemudian mengelus puncak kepala Hinata sambil tersenyum pada gadis itu.

"Kau rindu padaku, ya?" godanya.

Hinata merasakan wajahnya panas, kemudian langsung memeluk Neji menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Se-sebulan yang lalu, Nii-san hanya sebentar bahkan tidak mengucapkan sampai jumpa padaku", rengek Hinata. Ia benar-benar senang melihat Neji. Neji satu-satunya orang yang mengerti dirinya. Dihadapan Neji, Hinata bisa menjadi dirinya, bisa melepas topeng tegar kesepian yang selama ini ia kenakan.

"Maaf, aku agak sibuk," kata Neji sambil mengusap-usap puncak kepala Hinata. Ia bukannya tidak mau menemani Hinata beberapa hari akan tetapi Ia memiliki urusan dengan pamannya, membicarakan sesuatu yang Hinata belum boleh tahu.

"Hiashi,"

Suara berat dari seorang yang berada tak jauh dari keluarga yang tengah melepas rindu ini. Hinata melepaskan pelukannya dari Neji lalu memandang orang yang berjalan ke arah mereka.

"Kalian baru datang? " tanya pria itu.

.

.

Hinata kini berada di dekat jendela besar memandangi pemandangan malam hari kota London dari ketinggian. Ayahnya sedang berbincang dengan Uchiha Fugaku, pria yang tadi menyapa mereka. Disamping mereka ada Neji dan Uchiha Itachi, orang yang baru dikenalnya sebagai putra sulung Fugaku.

"Minum?"

Hinata dikejutkan oleh sesosok pria lain yang baru dikenalnya. Pria itu tinggi dengan rambut dan mata yang hitam pekat. Ia memakai setelan jas hitam yang mewah. Uchiha Sasuke.

"Te-terima kasih," kata Hinata lalu mengambil gelas yang berisi cairan berwarna merah yang ditawarkan Sasuke. Ia menunduk sesekali mencuri pandang pada pria tersebut. kemunculan Sasuke yang tiba-tiba seolah membuka kembali kenangan Hinata tentang masa SMA yang telah berlalu, kembali sekelebat warna matahari kembali memenuhi otaknya.

"Aku tak tahu kau seorang Hyuuga,"Sasuke membuat Hinata menyadari tempatnya.

Hinata menoleh, ada ekspresi bingung dimatanya.

"Kau... gadis yang selalu memandangi Naruto, kan?"

.

.

.

TBC

Huaaaaa... segaja publish 2 chap sekaligus, degdegan. hope u like it.

BTW, saya newbie disini. mohon bimbingannya para senpai.. (^_^) hehe..

mind to review? please..