Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU. OOC. typo (^_^;)

SQUARE

Bagian III

-Engagement-

Hinata membuka matanya perlahan. Suara kicauan burung dan hangatnya sinar matahari pagi menyentuh kulitnya yang dingin. Matanya mengerjap sembari berusaha mengangkat beban tubuhnya untuk bangun. Dipandanginya setiap sudut kamarnya dengan tatapan hampa. Selalu sama, sepi.

Hari itu seperti hari-hari biasa lainnya. Ia awali paginya dengan mandi, kemudian sarapan, lalu berangkat ke kampus dengan mobil Ford hitamnya. Ketika sampai di kelasnya, ia menyapa sekilas teman-temannya, kemudian mengambil tempat duduk di sudut belakang. Setelah kuliah selesai, ia keluar paling cepat menolak ajakan karaoke dari teman pirangnya kemudian pergi ke perpustakaan universitas meminjam beberapa buku, lalu kembali ke apartemennya. Ya, selalu biasa. Tak ada arti.

Sepi selalu menjadi temannya. Tidak banyak hal yang dilakukannya untuk mengusir rasa sepi hatinya. Ia bahkan semakin akrab dengan rasa dingin dan sunyi. Baginya yang paling penting adalah bagaimana caranya Ia dapat menyelesaikan kuliahnya dengan baik, membuat ayahnya bangga. Tak ada lagi Hinata pemalu yang wajahnya selalu bersemu merah tatkala sedang gugup. Hinata kini lebih banyak bercanda dengan diam. Wajahnya yang putih semakin pucat hampir sewarna dengan matanya yang redup. Hidup baginya tak berwarna lagi.

Matahari yang dulu selalu dirindukannya tak ada di London, tempat dimana sekarang ia berada. Bahkan orang yang paling dihormatinya, orang yang meminta dan mengirimnya ke daratan ini tak pernah pula memandangnya. Sudah dua kali ulang tahunnya Hinata rayakan sendiri tanpa orang-orang yang ia harapkan ada di sisinya. Hanya Neji-nii yang menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun.

Akan tetapi tahun ini terasa berbeda. Secercah cahaya mulai masuk ke hidupnya yang gelap ketika Neji, sepupunya menelepon. Hinata sangat senang setiap kali Neji menelepon. Walaupun ia tahu Neji sibuk mengurusi perusahaan mereka, tetapi niat baiknya untuk sekedar tahu kabar Hinata dapat membuat gadis itu yakin bahwa ia masih bisa bertahan. Neji membawa kabar yang tiba-tiba dan tak terduga. Kakak sepupunya itu akan datang ke London bersama pamannya, ayah Hinata. Hinata terkejut, apa yang membuat ayahnya ingin menjumpainya. Pikiran-pikiran buruk mulai bersarang di kepalanya. Apakah hasil kuliahnya tidak memuaskan? Akhirnya setelah sepekan merasa was-was, Hinata dibuat sangat terkejut dengan merasakan kasih sayang nyata seorang Hiashi yang tak pernah diduganya.

'Aku merindukanmu, Nak'

Kalimat singkat itu mencampakkan dengan kasar pikiran-pikiran buruknya mengenai Hiashi. Ya, hanya kalimat pendek itu. Sederhana.

Kebahagiaan tak dapat lagi Ia sembunyikan ketika Hiashi kembali menjumpainya setelah sebulan. Hiashi mengajaknya menghadiri grand launching Akatsuki Company, hal yang tak pernah Ia lakukan dulu. Ya, dulu apabila ada yang perlu dihadiri oleh Hyuuga, Hiashi lebih memilih untuk mengajak Neji. Hinata tak pernah tahu mengapa Ia tidak diajak, yang Hinata tahu Hanabi tidak diajak karena Ia masih kecil. Akan tetapi sekarang berbeda, kini ia telah diakui sebagai seorang Hyuuga. Inilah yang selalu dinantikannya. Benarkah?

.

.

Uchiha sasuke.

Hinata bertemu pria itu di sebuah ballroom hotel mewah di London. Pertemuan yang tak terduga itu kembali memunculkan ingatannya mengenai hal yang seharusnya telah ia lupakan dari dulu. Namikaze Naruto.

Kebetulan. Itu yang Hinata percaya.

'Kau... gadis yang selalu memandangi Naruto, kan?'

Bertemu dengan seseorang yang kau kenal di masa lalu berarti membuka semua kisah masa yang ingin kau lupakan. Kisah-kisahnya berputar seperti film hitam putih berdengung yang bising di kepalamu. Memaksamu mengingat. Namun, tanpa Hinata sadari kehadiran Sasuke memberi makna lain dalam hidupnya yang sepi.

Satu pertanyaan di kepala Hinata. Bagaimana Uchiha Sasuke mengetahui bahwa Ia selalu memandang Naruto?

Berawal dari ajakan makan malam dari Fugaku sehari setelah pesta meriah Akatsuki Company. Kini kedua keluarga itu sedang makan malam di taman belakang kediaman Uchiha di London. Taman itu telah disulap layaknya pesta kebun mini lengkap dengan lampu warna-warni serta daging panggang yang menggugah selera. Hinata tampaknya menjadi orang yang paling sibuk diantara mereka, menata meja makan bersama beberapa pelayan Uchiha. Ia satu-satunya Hawa diantara kedua keluarga. Keluarga Uchiha dan Hyuuga sama-sama kehilangan sosok wanita bernama Ibu. Hinata duduk di kursi yang terletak diantara kakak beradik Uchiha.

Permintaan Hiashi.

Itachi dengan senang hati memulai percakapan.
"Sasuke bilang kalian satu sekolah dulu,"

"London tempat yang menarik, setiap kali kesini Sasuke tak pernah melewatkan kesempatan untuk menjelajahi situs sejarah. Ya kan Sasuke?"

"Benar kan, Sasuke?"

Itachi menjadi banyak bicara malam ini.

Hinata sering menoleh ke Sasuke.

.

.

Yang Hinata rasakan saat ini adalah angin hangat menyapa pipinya. Setelah makan malam di taman belakang kediaman Uchiha, ia merasa sepi perlahan pudar. Ia mulai akrab dengan Itachi yang menurutnya seperti Neji, hangat tapi datar. Pria Uchiha itu banyak menjanjikan kesenangan untuk Hinata. Setiap kali Hinata berkunjung untuk bertemu Itachi yang memang tinggal di London, menangih janjinya mengajak Hinata jalan-jalan atau sekedar menemani makan, Itachi hampir selalu dipastikan tidak bisa menemani Hinata dan meminta Hinata pergi bersama Sasuke. Hinata kemudian tahu bahwa Sasuke juga kuliah di London.

Awalnya Hinata merasa canggung. Sasuke bukan teman bicara yang menyenangkan. Ia lebih banyak diam dan hanya bergumam ketika ditanya. Gumamannya selalu 'Hm'. Hinata tidak bisa mengartikan mana 'Hm' yang berarti iya dan mana yang berati tidak. Hinata selalu merasa tidak bisa berteman dengan orang seperti Sasuke. Namun sepertinya ia salah.

Waktu membuat Hinata terbiasa dengan sikap Sasuke. Canggung yang selama ini ia rasakan setiap kali bersama pria itu perlahan mulai menghilang. Hanya menyadari bahwa ada orang yang berjalan disampingnya dan mendengarkan setiap cerita sederhana yang ia bagi rasanya sudah cukup. Ia tak ingin meminta lebih lagi. Sasuke dan Hinata semakin sering bertemu ketika keduanya diperkenalkan sebagai perwakilan Hyuuga dan Uchiha di Akatsuki Company. Mereka memang masih kuliah, tapi keduanya berbakat di bisnis.

Kebetulan. Lagi?

Seperti yang Fugaku dan Hiashi katakan, mereka memang tidak lagi mengurus Akatsuki. Saham perusahaan milik mereka kini diwakili oleh Hinata dan Sasuke. Hinata menjadi semakin dekat dengan Sasuke karena itu. Gadis itu menganggap kebersamaannya dengan Sasuke di Akatsuki suatu kebetulan yang menyenangkan. Setidaknya ia tidak perlu terlalu tegang menghadapi orang-orang penting di Akatsuki, karena ada Sasuke di sampingnya. Sasuke tidak mengatakan apa-apa, pria itu tidak membantunya berbicara dengan para direktur Akatsuki tapi bagi Hinata itu cukup. Ia hanya butuh seseorang didekatnya.

Akan tetapi, dua tahun berikutnya kebetulan yang Hinata percayai itu ternyata tidak benar-benar ada. Tiba-tiba Hiashi mengatakan bahwa Ia ingin Hinata bertunangan dengan salah satu putra Uchiha, tanpa ditebak, pria itu tentu saja Sasuke. Hinata bingung apakah ia akan menerima tawaran ayahnya itu. Ia merasa nyaman dekat dengan Sasuke, tapi apabila kedekatan mereka disatukan dengan ikatan pertunangan, ia tidak tahu harus senang atau tidak. Hinata yakin ia menyukai Sasuke, tapi rasa sukanya itu tidak bisa disamakan dengan rasa sukanya pada Naruto. Baginya Sasuke adalah sosok yang mengisi hidupnya yang sepi. Sosok itu bisa saja digantikan oleh orang lain, karena jauh di dalam hatinya, hanya Naruto yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Lalu apakah ia akan menolak permintaan Hiashi kali ini?

Jawabannya, tidak.

Tentu saja, karena Hinata selalu ingin memenuhi semua keinginan ayahnya.

.

.

Neji hanya bisa mendesah mengetahui keputusan adik sepupunya tersebut. Terkadang Ia merasa Hiashi adalah sosok ayah kejam yang selalu memaksakan kehendaknya pada Hinata. Tapi kalau dipikir lagi, Hiashi sebenarnya tidak pernah memaksa, Ia sebenarnya memberikan pilihan pada Hinata, namun Hinata memilih untuk selalu menyetujui apa yang Hiashi perintahkan padanya.

'Merepotkan sekali', pikir Neji.

Dan yang membuat Neji tak habis pikir lagi adalah Uchiha Sasuke juga menyetujui pertunangan tersebut.

Pertunangan itu akan diresmikan di Tokyo.

.

.

.

Malam dingin di bulan Desember.

Sebuah hotel mewah berbintang tujuh yang berada di pusat kota Tokyo menjadi saksi sebuah perhelatan akbar akhir tahun. Penyatuan dua keluarga kaya dan terhormat di Jepang. Tak bisa dipungkiri, layaknya sebuah royal wedding, semua mata tertuju pada kedua pasangan ini, pasangan sempurna. Begitu yang dpikirkan semua orang.

Seolah tak ada habisnya, deretan mobil-mobil mewah mengantri untuk mendapatkan tempat parkir. Sebuah ballroom luas telah disulap menjadi ruangan megah dengan gradasi ungu pucat dipadukan dengan warna putih yang manis. Di setiap sudut tersusun rangkaian-rangkaian bunga cantik. Acara pertunangan itu dimulai setengah jam lagi.

Di suatu ruangan VIP lantai lima, Hinata telah siap dengan gaun cantik berwarna gading dan buket bunga ditangannya. Sekali lagi dipandangnya dirinya di cermin besar di sudut ruangan. Sempurna! Itu yang dipikirkannya. Sebentar lagi ia akan resmi menjadi tunangan Sasuke. Ia harap kenyamanan yang diberikan Sasuke selama ini bisa tumbuh dan menjadi cinta yang terus berakar di hatinya. Hinata merasa inilah awal dari kisah cinta yang tak pernah ia rasakan dulu. Hinata mematung seketika. Tiba-tiba ia merasa ingin bertemu Sasuke. Hinata ingin ke tempat Sasuke, itu yang dipikirkannya. Senyum terlukis di wajah cantiknya. Segera diraihnya pintu.

"Hinata-sama, Anda mau kemana? Sebentar lagi acara akan mulai," terdengar teriakan dari pelayan yang membantunya bersiap.

Hinata menggeleng.

"Sebentar saja," senyum jelas terlihat diwajahnya.

.

.

Ruangan privasi Sasuke adalah ruangan VIP lain di lantai enam. Hinata cukup menuju lift dan menekan tombol enam. Tak sampai semenit ia telah berada di depan pintu yang memisahkan dirinya dan calon tunangannya. Menurut tradisi, mereka hanya boleh bertemu ketika acara pertunangan dimulai. Akan tetapi Hinata tampaknya tidak ingin repot dengan tradisi tua itu. Baginya melihat sekilas wajah Sasuke sebelum peresmian hubungan mereka akan membantunya mengurangi kegugupan. Hinata meraih gagang pintu, sengaja tidak mengetuk, langsung Ia putar pegangan tersebut. Baru saja ia akan menyebut nama Sasuke, pemandangan ganjil terpampang dimatanya. Tampak dengan jelas oleh Hinata tangan besar Sasuke meraih seorang gadis ke pelukannya. Gadis tersebut membalas pelukan Sasuke, membenamkan kepalanya ke dada Sasuke. Hinata masih bisa mendengar apa yang dikatakan gadis itu.

"Aku merindukanmu, Sasuke-kun..."

.

.

.

.

.

'Bagiku tak ada kisah cinta...'

Suara itu menggema di kepala Hinata.

.

.

.

.

TBC..

Yosh! Saya update lagi nih..

Arigatou, buat yang udah review, seneng banget deh bisa dapat review. Buat saya semangat nulis lagi, hehe..
Sedikit mau balesin review..
Untuk pairing, sebenarnya dari awal saya udah nentuin pairingnya bakalan siapa, tapi terlalu dini saya kasih tau sekarang. Jadii, tetap baca terus ceritanya ya dan review lagi..

Lalu, sesuai dengan judul fanfic ini, kalau Hinata suka Naruto yang suka Sakura yang suka Sasuke, trus Sasuke jadinya suka Hinata, kah? Hm... Apakah bisa sedikit terjawab di chapter yang ini? #hohoho
Let's see in next chapter!

But, review please... :D