Minnaaa... #lambai2
Saya update lagi nih..
Saya sengaja buat note di atas sebelum readers baca ff ini.
Pertama, saya mau ngucapin arigatoo gozaimas buat yang udah pada nge-review, maap gak bisa dibalesin satu2, tapi saya tetap mencoba nge-jawab yang bisa saya jawab. Hehe...
Kedua, untuk pairing dari awal saya emang udah merencanakan SasuHina. Awalnya saya pengen buat cerita ini mengalir aja biar nanti readers tahu sendiri pairing-nya di akhir. Tapi, setelah saya pikir dan saran dari review juga, akhirnya saya bocorin juga main pairingnya. Saya nggak mau mengecewakan readers yang punya ekspektasi pairingnya bukan SasuHina. Jadi, buat readers yang udah terlanjur baca dan kurang srek sama main pairingnya silahkan di-back aja dan saya berterima kasih sudah mau baca ff saya ini.
Finally, yang masih mau tahu kelanjutan cerita ini, monggo langsung cap-cus aja... :D
Happy reading...
Disclaimer : Masahi Kishimoto
AU. OOC. typo (^_^)
Uchiha Sasuke x Hinata Hyuuga
Bagian IV
-Someone fromThe Past-
.
.
.
Haruno Sakura.
Nama gadis itu.
Sakura tersenyum dipelukan pria yang sangat dirindukannya. Hari ini mereka bertemu lagi dengan situasi dan tempat yang tidak pernah dibayangkannya. Pertunangan Sasuke. Akan tetapi gadis beruntung yang mendampingi pria itu bukan dirinya. Walaupun begitu, ada sedikit kelegaaan di hatinya, Sasuke tidak menolaknya. Ya, masih sama seperti dulu.
Sasuke kemudian melepaskan pelukannya dari Sakura. Gadis itu masih tersenyum memandang mata hitamnya.
"Kau tidak mengharapkan aku datang, Sasuke-kun?" katanya tetap memandang Sasuke.
Sasuke hanya diam, jarinya menyentuh pipi Sakura kemudian menjauh, berjalan menuju jendela.
Sakura memandangi penampilan Sasuke saat ini. Pria itu semakin tampan dengan jas hitam yang dikenakannya. Garis rahangnya memperlihatkan bahwa pria itu berbeda dari waktu mereka terakhir bertemu.
"Sasuke-kun!" suara Sakura mengeras.
"Acaranya sudah mau mulai,"
.
.
.
Acara resmi pertunangan sepasang pria dan wanita dari keluarga koglomerat Uchiha dan Hyuuga berlangsung secara meriah. Setelah acara resmi berakhir, orang-orang yang datang lebih bebas menunjukkan keantusiasan mereka menghadiri pesta ini. Hinata, sang Ratu Semalam kini duduk di kursi utama. Di jari manis kirinya telah tersemat sebuah cincin cantik bermata berlian, bukti bahwa gadis itu telah terikat dengan seorang pria. Pria tersebut tepat berada di sebelahnya. Uchiha Sasuke.
Sebagai seorang yang bertunangan seharusnya ia memasang wajah penuh senyum, akan tetapi Hinata lebih banyak menundukkan kepalanya. Ia hanya tersenyum ketika ada yang mengucapkan selamat, setelah itu ia akan kembali menunduk. Ayahnya yang duduk tak jauh darinya berkali-kali melirik gadis itu, ada gurat khawatir di wajahnya.
.
.
"Ada apa?" suara Sasuke yang tiba-tiba menyadarkan Hinata.
Hinata hanya menoleh memandang Sasuke, kemudian ia menggelengkan kepalanya kembali menunduk. Berbagai pertanyaan kini mengggantung di kepalanya. Mengapa Sasuke bersama gadis lain tepat di hari pertuangan mereka. Mengapa Sasuke memeluk gadis itu? Apakah Sasuke memiliki orang yang dicintainya? Atau apakah Sasuke terpaksa bertunangan dengannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berputar di kepala Hinata. Ia ingin tahu apa yang Sasuke pikirkan. Benar, selama ini walaupun sering bersama Sasuke, Hinata tidak pernah benar-benar tahu apa yang dipikirkan pemuda itu. Sasuke lebih senang berbincang dengan pikirannya sendiri. Akan tetapi ada satu jawaban yang diyakini Hinata. Hati Sasuke sudah ada yang memiliki.
"Sasuke-kun," Hinata membuka suara.
"A-apa kau tidak apa-apa?" katanya takut-takut. Ia merasa mengerti Sasuke, pria itu memiliki orang yang dicintai, tapi harus berpisah.
Sasuke menoleh, ia ragu gadis ini mendengarnya. Kenapa dia bertanya balik?
"Maksudmu?" tanya Sasuke tajam. Matanya menatap lekat mata pucat milik gadis di sampingnya. Berusaha memahami apa yang dipikirkan gadis itu.
Sebaliknya, Hinata malah terkejut. Sulit baginya mengartikan pandangan intens Sasuke. Tak pernah ia menghadapi situasi dimana Sasuke menatap seperti itu. Hinata merasakan detakan kencang di dadanya. Ia kemudian menunduk lagi.
"A-anoo.. ti-tidak, hanya...," tiba-tiba gagapnya muncul setelah sekian lama. Ia tidak tahu mengapa tatapan Sasuke membuatnya menjadi tidak bisa mengutarakan apa yang mengganjal hatinya.
Hening.
"Aku ingin menyapa tamu yang datang," kata Sasuke seraya berdiri. Kalau Hinata ingin membicarakan tentang pertunangan, maka sebaiknya ia pergi. Itu yang dipikirkan Sasuke.
Hinata mengerti. Hatinya tiba-tiba merasa sakit mengetahui bahwa Sasuke memilih untuk mengorbankan kebahagiaannya demi nama keluarganya. Hinata yakin, inilah hal yang membuatnya nyaman bersama Sasuke. Hal ini karena mereka memiliki kepedihan dan kesepian yang sama. Mereka ingin eksistensinya diakui. Mereka ingin kehadirannya dirasakan.
Lalu sekarang bagaimana? Mereka telah terikat.
"Tunggu, Sasuke-kun..."
.
.
.
"Kau dari mana saja Sakura-chan?" tanya seorang pria berambut blonde sambil mengamati langkah lunglai Sakura yang mendekatinya.
"Kau tidak kelihatan saat acara utama." katanya lagi menambahkan.
"Aku ada urusan sebentar, Naruto," menatap pria itu sekilas, kemudian beralih ke meja yang penuh dengan aneka minuman. Mengambil satu, lalu meneguknya sampai habis.
Naruto memandang Sakura sambil tersenyum. Gadis ini kelelahan, pikirnya. Bagaimana lagi, hampir sepanjang hari Sakura menghabiskan waktunya di rumah sakit pusat kota Tokyo. Berkat prestasinya, selama masa praktek kerja sebagai dokter ia telah menjadi asisten pribadi Prof. Tsunade, seorang ahli bedah terkenal di Tokyo.
"Nee.. Sakura-chan, ayo kita memberikan selamat pada Sasuke," kepala Naruto berputar mencari sosok sahabatnya tersebut. Kursi utama yang seharusnya menjadi singgasana Sasuke telah kosong sejak tadi.
Sakura mengganggukkan kepalanya.
"Sakura-chan, kau kenal dengan tunangan, Sasuke?" kata Naruto sambil berlalu.
"Tidak... Tapi rasanya aku pernah lihat, dimana ya?" kata Sakura memegang kepalanya. Berusaha mengingat.
"Benarkah? Aku malah tidak pernah lihat gadis itu".
"Tapi... dia manis, Sakura-chan... Cocok dengan si Teme," kata Naruto sambil tersenyum lebar.
Sakura terdiam, ia mengangguk pelan kemudian menunduk. Mati-matian Ia menjaga air matanya agar tidak tumpah. Sudah cukup, pikirnya. Ia tidak mau lagi menangis di depan Naruto karena Sasuke. Selama Sasuke tidak ada di sisinya, ia selalu berusaha tegar dan menunjukkan wajah ceria di depan naruto. Ia memang senang Naruto selalu di sisinya, tapi perasaan cinta pada Sasuke tidak pernah hilang. Apalagi, ketika sebelum acara di mulai, Sakura sengaja menemui Sasuke melepas rindu sekaligus memastikan kembali perasaan Sasuke padanya. Dan semua seperti yang diharapkannya, Sasuke masih sama. Ia masih punya harapan.
'Maaf, Naruto...' gumam sakura dalam hati.
Sebaliknya, Naruto berpikir walaupun Sakura selalu terlihat ceria seperti biasa, gadis itu tidak pernah bisa melupakan Sasuke, pria yang dari dulu dicintainya. Sedangkan bagi Sakura, dirinya hanyalah hanyalah sahabat. Terkadang Naruto merasa bahwa hidupnya tidak adil. Ialah yang selama ini berada di samping Sakura, menjadi sandarannya saat ia menangis, menemaninya saat Ia kesepian, tetapi Naruto tetap saja tidak bisa memiliki hati Sakura.
Sekarang keadaaannya seperti ini. Sasuke telah memiliki gadis lain. Sakura tidak punya harapan lagi dan yang Naruto inginkan adalah tetap berada di samping Sakura, tetap menjadi sandarannya. Sampai sakura benar-benar menyerah pada perasaannya terhadap Sasuke. Ya, Sakura harus menyerah, bahkan seharusnya dari dulu. Sasuke hanya menganggapnya sebagai teman.
.
.
"Sasuke-kun, aku ingin bicara," Hinata menarik ujung jas Sasuke.
Sasuke memandang Hinata, kemudian bergerak melalui kerumunan orang-orang di sekitar mereka menuju tempat yang lebih sepi. Hinata kemudian mengikuti pemuda itu.
Mereka berdua kini berada di balik rangkaian bunga lavender yang berada di sudut ballroom. Orang-orang mungkin tidak melihat mereka, karena rangkaian bunga itu cukup besar dengan ranting-ranting coklat berlampu yang cantik tapi lain soal apabila ada orang yang sengaja mencari mereka.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Sasuke dengan nada mengintimidasi seperti biasa.
Hinata yang sudah terbiasa dengan nada suara Sasuke itu tidak bergeming. Ia tetap memandang mata hitam tunangannya.
.
.
Naruto sibuk memutar kepalanya ke berbagai arah mencari seorang pria yang sangat dikenalnya. Kerumunan manusia yang sumringah menghadiri pesta ini membuatnya harus susah payah mencari Sasuke ditambah lagi ukuran ballroom yang sangat besar. Di belakangnya Sakura berjalan mengikuti Naruto. Ia sebenarnya tidak berniat mencari Sasuke. Toh, ia yakin sekarang Sasuke bersama tunangannya entah sedang apa.
Naruto telah sampai di ujung ballroom, ia menolehkan kepalanya ke rangkaian bungan besar yang berada di sudut, sekitar lima belas meter dari tempatnya berada. Ada seorang pria disitu. Rambut hitamnya mencuat ke atas. Siapa lagi yang mempunyai model rambut aneh seperti itu. 'Nah, itu dia', kata Naruto dalam hati lalu tersenyum. Sasuke kelihatan sedang mengobrol dengan seseorang, Naruto sekilas melihat helaian indigo yang tersanggul rapi di kepala orang yang sedang mengobrol dengan Sasuke itu. Tunggu, bukankah itu tunangannya?
"Hoii, Teme...!"
Naruto mempercepat langkahnya agar segera menghampiri Sasuke. Sasuke yang dipanggil tidak menoleh. Ia terlihat maju mendekati lawan bicaranya, menutupi helaian indigo yang tadinya terlihat oleh Naruto. Mereka kembali ke keramaian.
"Sasuke...?" Naruto memandang bingung. Menghentikan langkah.
"Dia tidak dengar, ya?"
.
.
.
Kediaman Hyuuga yang terletak tak jauh dari pusat kota Tokyo tampak sepi seperti biasa. Pagarnya yang tinggi menjulang seakan menunjukkan kedudukan keluarga ini. Di sebuah kamar luas di lantai dua, seorang gadis bermata pucat duduk di depan cermin hias sambil menyisir rambut indigonya yang telah mencapai punggung. Mata indahnya menerawang. Ia kembali teringat hal yang terjadi di hari pertunangannya yang telah berlangsung seminggu yang lalu. Masih jelas di memorinya saat tangan tunangannya meraih seorang gadis ke pelukannya. Siapa gadis itu? Hinata hanya melihat surai merah muda yang melambai seiring dengan tarikan Sasuke.
Tiba-tiba sebuah ketukan menyadarkan Hinata.
"Hinata-sama, Hiashi-sama menunggu nona untuk sarapan," kata pelayan di balik pintu.
"Baik," Hinata langsung buru-buru meletakkan sisir di meja hias memperhatikan lagi wajahnya di cermin kemudian berlari ke arah pintu. Ia tidak ingin ayahnya menunggu.
Setibanya di ruang makan, Hinata melihat ayahnya sedang meminum kopinya sambil membaca buku.
"Ohayo, Otou-san," sapa Hinata sambil duduk di kursi yang telah disiapkan oleh pelayannya.
Hiashi mengalihkan perhatiannya dari buku, menatap Hinata,
"Ohayo," katanya sambil terseyum sangat tipis. "Bagaimana tidurmu?" tanyanya.
"A-aku tidur nyenyak, Otou-san," kata Hinata canggung. Masih belum terbiasa dengan sikap ramah Hiashi.
"Hm... Ayo kita makan," ajak Hiashi.
Selanjutnya tidak ada percakapan lagi.
Dalam keheningan yang tecipta itu Hinata menyadari hidup ayahnya di Tokyo tidak jauh berbeda dengan dirinya di London. Hinata memandang ruangan dengan meja makan panjang mereka. Matanya tertuju pada kursi di samping kanan Hiashi yang telah sepuluh tahun absen dari orang yang seharusnya duduk disitu, Okaa-san, juga kursi di sebelah kiri Hinata yang biasa ditempati Hanabi telah setahun kosong karena bungsu Hyuuga itu masuk sekolah elit khusus putri yang mengharuskan ia tinggal di asrama. Apakah ayahnya itu sering makan seorang diri? Hinata bertanya pada dirinya sendiri.
"Hinata," panggil Hiashi.
Hinata menoleh ke arah ayahnya. Mereka baru saja selesai sarapan.
"Ya, Otou-san." Jawab Hinata.
"Bagaimana perasaaanmu setelah bertunangan," tanya Hiashi tiba-tiba.
Hinata terkesiap. Ia tidak siap dengan pertanyaan apapun mengenai pertunangan, terlebih bayangan Sasuke yang sedang berpelukan kembali menyapa memorinya. Alhasil gagap mulai menguasainya.
"Ah... Ano... ehh, biasa saja, Otou-san," katanya berusaha tersenyum.
"Biasa saja?" Hiashi terdengar heran.
"Kau tidak senang?" tanya Otou-sannya lagi.
Hinata makin tergugu, ia benar-benar tidak ingin ayahnya berpikir bahwa dirinya tidak bahagia dengan pertunangan itu. Walaupun kini disadarinya bahwa hatinya terasa sakit ketika melihat Sasuke berpelukan dengan wanita lain dan tidak ada penjelasan dari mulut pria itu. Hinata belum sempat bertanya karena Sasuke menariknya kembali ke keramaian ketika mereka berada di sudut ballroom dekat rangkaian bunga lavender.
"Bu-bukan be-begitu Otou-san... Aku se-senang. Senang sekali," bohong Hinata.
Hening.
Hiashi memalingkan wajahnya dari Hinata. Putrinya yang satu ini memang tidak pernah pandai berbohong. Hiashi tidak tahu apa yang menyebabkan Hinata berbohong padanya. Sehari sebelum pertunangan berlangsung, anak gadisnya itu terlihat antusias, tidak terlihat seperti orang yang dipaksa bertunangan. Tetapi, setelah acara pertunangan berlangsung, Hinata malah terlihat muram dan sedih. Hiashi merasakan ada hal lain yang terjadi di tengah pertunangan Hinata dan Sasuke.
"Sudah selesai?" Hiashi memecah keheningan yang tercipta sebelumnya. "Jangan lupa hari ini ada pertemuan dengan direksi Akatsuki," kata Hiashi beranjak dari kursinya.
Hinata kembali ke kamarnya meraih berkas-berkas yang tersusun rapi di meja bulat kecil di samping tempat tidur. Ia rebahkan tubuhnya ke kasur kemudian membolak-balikkan helaian-helaian kertas yang berisi laporan perkembangan Akatsuki Company yang di Jepang. Kedua keluarga Hyuuga dan Uchiha sepakat bahwa Hinata dan Sasuke akan menetap kembali di Jepang dan mengurus Akatsuki Company yang ada di Jepang. Namun hari ini hanya Hinata yang bisa mewakili perusahaan Hyuuga, Sasuke sebagai Uchiha tidak bisa hadir karena sehari setelah pertunangan mereka Sasuke langsung kembali ke London, menyelesaikan urusan perusahaan yang tertinggal. Hinata tak tahu kapan Sasuke kembali.
.
.
Gedung Akatsuki Company di Tokyo ternyata lebih megah dari yang ada di London. Gedung ini terdiri dari dua puluh lantai, sedangkan di London hanya lima belas. Hinata kini tengah berada di lift menuju lantai dua belas bersama sekretaris ayahnya, Hatake Kakashi. Pria berambut perak itu tampak rapi dengan jas hitam yang digunakannya. Lift kini telah berhenti di lantai dua belas. Kakashi menuntun Hinata menuju ruangan tempat pertemuannya dengan jajaran direksi Akatsuki di Jepang. Hinata sebenarnya cukup tegang dengan pertemuan ini. selain karena ini adalah pertemuan pertamanya, hal lain yang cukup mengganggunya adalah ketidakhadiran Sasuke di sisinya. Tanpa Hinata sadari Ia mulai bergantung pada pria itu.
Dua orang pelayan yang berada di depan pintu suatu ruangan mempersilahkan Kakashi dan Hinata masuk sambil membuka kedua sisi pintu bersamaan. Orang-orang yang berada di ruangan itu kemudian berdiri membungkuk ketika melihat Hinata memasuki ruangan. Ada sekitar enam orang disana, Hinata tidak bisa melihat wajah mereka, hanya warna rambut mereka yang mencolok menarik perhatian Hinata. Merah bata, biru, dua orang berambut perak, dan dua orang lagi berambut kuning. Mereka kemudian menegakkan badan sehingga Hinata lebih jelas memandang mereka. Hinata memandang satu-satu wajah orang-orang itu sambil tersenyum. Namun senyumnya hilang ketika memandang pria yang berada di kursi paling jauh darinya. Warna rambutnya yang identik dengan sinar matahari, matanya yang indah layaknya langit biru. Hinata mematung seketika. Suara tawa lebar terngiang di telinganya.
'Tidak... jangan begini,' jeritnya dalam hati. Nyaris pingsan.
Pria yang dipandangi Hinata itu sebaliknya tersenyum lebar sambil mengangguk.
Hinata tiba-tiba teringat Sasuke.
.
.
.
-TBC-
Nah, Loh?
Review, please... :D
