Disclaimer. Masashi Kishimoto.
Warning. AU. OOC. typo (^_^)
Minnaaaa...
Saya update lagi nih..#lambai2 sambil loncat2..
Arigatoo buat yg udah review, dan makasih juga buat udah nge-follow n nge-fave fic ini..
Seneng buanget dah... :D
Oke tanpa ba bi bu lagi..
This is it..
Bagian V
-Triangle-
.
.
.
Setelah pertemuan dengan jajaran direksi Akatsuki selesai, Hinata langsung buru-buru meninggalkan ruangan rapat dan sukses mengindahkan panggilan Kakashi. Ia ingin segera pergi dari tempat itu, menghindari matahari yang selama ini ada dihatinya. Tunggu, kenapa dihindari? Bukankah sosok itu yang selalu dirindukanya? Hinata kini mempertanyakan itu pada dirinya sendiri. Bukankah ini kesempatannya untuk bisa dikenal oleh seorang Namikaze Naruto? Berbicara dengannya, memandang matanya, dan dirasakan kehadirannya oleh pemuda yang dulu hanya bisa ditatapnya dari jauh. Tapi, tunggu... Ya tunggu dulu, kenapa Hinata menghindar?
Langkah buru-buru Hinata dihentikan oleh tarikan kuat pada lengannya. Hinata menoleh dan terkejut. Matanya kini dimanjakan oleh warna biru cerah yang membuatnya sesak. Teringat akan luka dan kerinduan yang selama ini Ia pendam. Tak pernah Ia menyangka akan bertemu pria ini lagi. Hinata menunduk, berusaha menyembunyikan matanya yang telah berkaca-kaca.
"Hinata!"
Seseorang dari arah lain memanggilnya, suara itu terasa familiar di telinga Hinata, segera Ia palingkan wajahnya ke arah pemilik suara itu. Sesosok pria tinggi dengan rambut hitam mencuat ke atas berdiri disana. Matanya yang hitam dan tajam memandang Hinata dengan tatapan terkejut dan lega di saat yang sama.
"Sa-Sasuke-kun..." cekatnya.
Sasuke berdiri tak jauh dari mereka. Lengan kemejanya digulung sampai ke batas siku dan dasinya mengantung tak rapi.
Naruto yang juga melihat Sasuke segera melepaskan tangannya dari lengan Hinata, keterkejutan tercetak di wajahnya. Sasuke yang mendekat ke arah keduanya membuat Naruto bergidik, merasa tidak enak karena menyentuh tunangan sahabatnya sedangkan Hinata, perasaannya berkecamuk. Di satu sisi Ia merasa senang karena pada akhirnya Naruto melihatnya bahkan menyentuh lengannya, sesuatu yang hanya bisa Ia khayalkan. Tapi di sisi lain, Ia merasakan kelegaan ketika mengetahui Sasuke tidak jauh darinya.
"Bukannya kau masih di London?" tanya Naruto basa-basi.
Sasuke tidak menjawab hanya ada ekspresi datar di wajahnya. Sedangkan Hinata mulai menenggelamkan kepalanya, tidak ingin terlibat dengan pembicaraan kedua sahabat itu.
"Kau dingin sekali, Teme! Kau bahkan tidak menyambutku ketika aku datang ke acara pertunanganmu," katanya lagi.
Kesal dengan sikap Sasuke, Naruto lantas mengalihkan pandangannya ke Hinata.
"Hei, kenalkan aku Namikaze Naruto. Aku sebenarnya datang ke pertunanganmu tapi kita belum sempat berkenalan," kata Naruto sambil tesenyum lebar menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tangannya menunggu jabatan dari Hinata.
"Hi-Hinata," jawab Hinata pelan tanpa berusaha memandang apalagi membalas jabatan tangan Naruto. Ia merasakan aliran darah berkumpul di wajahnya.
Naruto heran, kemana perginya nona Hyuuga yang terlihat angkuh ketika memasuki ruang rapat tadi. Tanpa sadar Naruto membungkungkan kepalanya mendekati wajah Hinata melihat apakah gadis itu baik-baik saja.
"Hei wajahmu merah, kau demam ya?" katanya polos.
Hinata makin menunduk, aliran darah di wajahnya semakin menjadi.
"Hentikan Naruto,"
Suara dingin milik Sasuke membuat Naruto kembali berdiri tegak, merasa bersalah untuk yang kedua kalinya.
"Kau tidak memberi tahuku kalau kau di Akatsuki," Sasuke mengalihkan pembicaraan.
Naruto memandang heran ke arah Sasuke, kemudian dengan cepat berubah menjadi lega, Ia kira Sasuke akan memperingatkanya agar tidak berbicara dengan tunangannya. Di sisi lain, Hinata beringsut ke belakang Sasuke seolah meminta perlindungan.
"Ahh itu... Sebenarnya aku juga baru masuk. Nagato memintaku mengurus Akatsuki, baru sebulan aku disini," cengir Naruto. Nagato adalah salah satu direksi Akatsuki Company yang juga kakak sepupu Naruto.
Hening.
"Hei, bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku traktir. Anggap saja sebagai hadiah pertunangan kalian," kata Naruto memecah hening diantara mereka.
Baik Hinata dan Sasuke tidak menjawab. Hinata terlalu malu mengeluarkan pendapatnya terutama dihadapan Naruto sedangkan Sasuke kelihatan sedang menimbang-nimbang ajakan Naruto.
'Boleh saja... Tapi, ajak juga Sakura..."
Itu suara Sasuke.
.
.
.
Dan sinilah mereka.
Sebuah restoran Italia dengan nuansa biru lembut sebagai warna dasar wallpapernya. Sebuah meja kayu minimalis berbentuk persegi yang terletak di sudut dekat jendela menjadi saksi pertemuan mereka berempat untuk yang pertama kalinya. Hinata duduk di samping Sasuke yang duduk di dekat jendela, sedangkan Naruto tepat di hadapannya lalu Sakura berada di samping Naruto. Pertemuan itu terasa canggung, bahkan oleh Naruto yang biasanya selalu bisa mencairkan suasana. Hinata lebih sering menunduk, Sasuke memandang ke luar jendela, Sakura fokus pada makanannya, dan Naruto menjadi satu-satunya orang yang aktif menggunakan mulutnya untuk berbicara dan makan. Terlalu semangat, Naruto sampai menjatuhkan garpunya.
"Dasar, Naruto..." suara Sakura pertama kalinya, terdengar geli lalu membungkukkan tubuhnya guna mengambil garpu yang terjatuh.
"He-eh... Gomen, Sakura-chan". Tangan kiri Naruto menggaruk kepalanya dan tangan kanannya mengambil garpu dari tangan Sakura. Tersenyum lebar.
Hinata menegakkan kepalanya memandang pemandangan di hadapannya. Naruto dan Sakura terlihat serasi. Pikiran Hinata kembali pada saat Ia SMA dulu. Ketika ia diam-diam memandangi Naruto yang diam-diam mencuri pandang pada Sakura. Sakura adalah gadis yang selama ini ada di hati Naruto. Bahkan sampai sekarang, perasaaan Naruto tidak berubah. Hinata dapat melihatnya dari pandangan intens Naruto kepada Sakura.
"Kalian makin akrab saja," Sasuke menginterupsi adegan Naruto dan Sakura.
Sakura dan Hinata terkesiap, sedangkan Naruto salah tingkah.
"Apa kalian pacaran?" tanya Sasuke lagi.
"Sasuke-kun!"
Sakura hampir berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya merah dan jari-jari tangannya mengepal kuat. Dalam hati, Sakura merutuki pria raven tersebut. Bisa-bisanya Ia berkata dengan santainya sedang pria itu mengetahui siapa sebenarnya yang ada di hati Sakura. Tidakkah Sasuke tahu Ia sangat tersiksa dengan hubungan mereka ini, terlebih lagi Sasuke sekarang sudah bertunangan.
Sakura menghadap Hinata, tersenyum canggung, "Aku ke toilet dulu," katanya membawa tas dan meninggalkan jas dokternya.
Hinata mengangguk. Seiring dengan perginya Sakura, keadaan diantara mereka bertiga tetap sama, bahkan terasa asing bagi Naruto yang telah lama mengenal Sasuke. Tak ada dari ketiganya memulai pembicaraan sedangkan Hinata mulai bergumul dengan pikirannya sendiri.
Sekarang Hinata mulai paham hubungan diantara ketiga sahabat itu. Hubungan mereka tidak hanya dilandasi oleh persahabatan melainkan juga perasaaan cinta yang rumit. Ia sejak dulu tahu bahwa Sakura adalah satu-satunya gadis yang disukai Naruto. Naruto yang ceria sangat terbuka mengutarakan perasaannya terhadap Sakura. Sedangkan Sakura, walaupun terlihat mengacuhkan Naruto, Hinata yakin gadis itu menghargai perhatian yang diberikan Naruto padanya.
Akan tetapi Sakura juga gadis yang dicintai Sasuke...
Deg.
Hinata tidak ingin mengakui kenyataan ini, tapi semua terlihat jelas. Sasuke mungkin saja memang mencintai Sakura.
Tiba-tiba Hinata merasa bukan tempatnya berada disini, bahkan sejak awal seharusnya ia memang tidak berada di antara mereka bertiga. Sasuke, Sakura, dan Naruto telah memiliki kisah yang tidak ada Hinata di dalamnya. Kedatangannya hanya sebagai pengganggu diantara ketiganya, merusak skenario yang telah terbangun.
Pikiran-pikiran Hinata kemudian diganggu oleh suara getar ponsel Sasuke yang terletak di atas meja, tepat di sebelah tangan Hinata. SMS. Hinata melirik dari sudut matanya, ada nama 'Sakura' di tampilan ponsel itu. Sasuke mengambil ponsel tersebut membaca pesan yang ada di dalamnya kemudian mengetik beberapa huruf. Tidak ada ekspresi yang bisa ditangkap Hinata dari wajahnya.
'Apa yang dikatakan Sakura pada Sasuke?' Hinata bertanya dalam hatinya. Gadis itu sengaja ke toilet untuk mengirim pesan pada Sasuke. Apa yang ingin mereka bicarakan tanpa diketahui orang lain?
'Ehh... Hinata-chan, dulu kau sekolah dimana?" tanya Naruto tiba-tiba.
Hinata diam sejenak. Tersadar dari pikiran-pikirannya.
"A-ano... A-aku, se-sebenarnya satu sekolah denganmu Namikaze-san," katanya sambil menunduk, malu dan terkejut di saat yang sama. Naruto memanggilnya 'Hinata-chan'.
"APA?" Naruto mengaga. Ia sungguh tak mengira kalau Hinata satu sekolah dengannya.
"Jadi kau sudah mengenal Sasuke sejak SMA?" tambahnya lagi.
"Ti-tidak, aku mengenal Sasuke-kun ketika kuliah – Ta-tapi aku kenal kalian. Kalian populer..." katanya cepat-cepat.
Naruto tertawa.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak pernah melihatmu, Hinata-chan. Ahh... kalau saja dulu aku tahu ada gadis secantik dan semanis dirimu, aku akan mengejarmu dan kupastikan kau takkan bertunangan dengan si Teme ini" Naruto tertawa lagi.
Hinata makin menundukkan kepalanya, kalau bisa Ia ingin pingsan.
Tak berapa lama, Sakura kembali dari toilet. Ia mengambil jas dokter yang ada di sandaran kursinya.
"Maaf semuanya, aku ada janji jadi aku duluan, ya..." kata Sakura sambil meletakkan jas dokter di lengannya.
"Eh, Sakura-chan mau kemana? Mau kuantar?" kata Naruto sambil ikut berdiri.
"Tidak usah Naruto, tidak jauh..." katanya.
"Hyuuga-san, aku permisi dulu, lain kali kita bertemu lagi, ya..." Sakura tersenyum pada Hinata lalu membungkukkan badannya.
Hinata merasakan canggung dari gestur Sakura, tapi Ia tetap membalas senyum gadis itu seraya membungkukkan badannya seperti Sakura.
Sakura menatap Sasuke, tidak ada ucapan sampai jumpa pada pria itu. Sakura tersenyum lagi pada Hinata dan Naruto kemudian melambaikan tangannya.
"Jaa nee..."
.
.
.
Naruto berjalan menuju parkiran. Banyak hal yang ada dipikirannya saat ini. Ia tidak menyangka ajakan makan siang bersama Sasuke dan tunangannya yang diperkiraan berjalan lancar dan menyenangkan harus berakhir dengan kecanggungan diantara mereka, ditambah lagi kehadiran Sakura membuat suasana menjadi semakin tidak nyaman.
Yang menjadi beban pikiran di kepala Naruto adalah gadis yang bernama Hinata, tunangan Sasuke. Naruto penasaran tentang apa yang dipikirkan gadis itu mengenai persahabatan yang tercipta antara Ia, Sakura, dan Sasuke. Apakah gadis itu menangkap ada hubungan lain selain persahabatan diantara mereka? Apapun itu Naruto berharap Hinata tidak salah paham terutama pada Sakura karena walaupun Sakura menyukai Sasuke, gadis itu harus bisa terima bahwa Sasuke telah memilih gadis lain sebagai pendampingnya.
"Ahh... kepalaku pusing!" teriak Naruto. Kebanyakan berpikir membuat kepalanya sakit, belum lagi masalah di kantor yang juga harus dipikirkannya.
Ketika sampai di tempat parkir, Naruto melihat mobil Range rover hitam yang sedang menyala. Ia mengamati lebih seksama dan yakin bahwa mobil itu milik Sasuke. Ternyata Sasuke masih di kantor, pikirnya. Baru saja ia ingin mendekati mobil itu, matanya membulat seketika karena seorang gadis yang baru keluar dari mobil tersebut.
"Sakura?"
Mobil hitam itu melaju kencang ke arah pintu keluar area parkir. Di saat yang sama Sakura berjalan ke jalan khusus pejalan kaki yang berada di tepi, namun ia terkejut mendapati sosok pria yang tengah berdiri menghadangnya.
"Naruto?"
.
.
Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang tidak bisa dibilang sunyi tidak menjadi penghalang untuknya mencapai tempat yang ingin Ia tuju. Selalu ada kemudahan bagi orang-orang seperti dirinya.
Tidak lebih dari 15 menit Sasuke telah berada di depan gerbang kediaman Hyuuga. Para penjaga yang mengetahui kehadiran Sasuke pun segera membukakan gerbang otomatis untuk calon anggota keluarga Hyuuga itu. setelah memarkirkan mobilnya di garasi luas dekat taman bunga, Sasuke kemudian berjalan ke pintu utama yang segera dibukakan oleh dua penjaga Hyuuga. Ketika baru masuk ke dalam rumah mewah itu, Ia langsung disambut oleh ekspresi terkejut dari seorang gadis bermata pucat.
"Sasuke-kun?"
.
.
"Kau bersama Sasuke?" tanya naruto langsung.
"Jadi kau pergi untuk bertemu Sasuke, begitu?" Naruto tak lagi menahan emosinya. Ia benar-benar marah sekarang.
"Kami hanya mengobrol di dalam mobil – sudah Naruto, aku harus pergi ke rumah sakit lagi," kata Sakura cepat tanpa memandang Naruto yang berdiri di depannya.
Naruto yang sudah tidak sabar dengan sikap Sakura langsung membiarkan tangannya mencegah gadis itu pergi. Cengkraman tangannya mampu membuat Sakura meringis kesakitan.
"Apa? Apa yang kau inginkan Sakura?"
"..."
Sakura hanya diam. Naruto menggeram kesal. Gadis ini benar-benar keras kepala. Ia telah berulang kali mengingatkan Sakura bahwa Ia tidak mungkin mengharapkan Sasuke lagi.
"Demi Tuhan! Sasuke sudah bertunangan, apalagi yang kau harapkan darinya?"
"Ia tidak bisa menerimamu! Berhentilah menyakiti dirimu sendiri, Sakura! Tidakkah kau lelah dengan semua ini? Sasuke tidak pernah MEMANDANGMU! teriak Naruto.
"KAU SALAH! teriak Sakura lebih keras.
"Kau salah Naruto," katanya lagi dengan suara rendah yang tiba-tiba, lebih terdengar seperti gumaman.
" Sasuke dia..."
"... tidak pernah menolakku..."
.
.
.
.
-TBC-
So, how?
Review please.. :D
