Disclaimer. Masashi Kishimoto
AU. OOC. typo (^_^)
Happy reading
Bagian VI
-Choice-
"Apa maksudmu, Sakura?"
Naruto tidak mengerti maksud perkataan Sakura. Sasuke tidak menolak Sakura? Maksudnya bagaimana? Walaupun Sasuke sudah memiliki tunangan, pria itu tetap memberikan harapan pada Sakura, begitu?
"Maafkan aku, Naruto..."
"Aku tidak pernah memberitahumu, bahwa sebenarnya aku telah menyatakan cinta pada Sasuke waktu SMA," kata Sakura menatap tajam mata Naruto.
Naruto tidak menampakkan wajah terkejut atas pernyataan Sakura. Ya, dia memang sudah menduga bahwa Sakura telah menyatakan cintanya pada Sasuke.
"Dia tidak menolakku, dia tidak menyuruhku untuk melupakannya. Aku hanya butuh waktu untuk meyakinkannya bahwa aku adalah orang yang tepat untuknya."
Sakura tidak ragu mengatakan hal itu pada Naruto. Ini baru awal, pikirnya. Mulai sekarang ia ingin Sasuke hanya melihatnya saja.
Naruto membuka mulutnya hendak membalas perkataan Sakura. Namun lidah miliknya terasa kelu mendengar bahwa Sasuke tidak berusaha menghentikan perasaan Sakura.
"Aku ingin Sasuke hanya melihatku sa – "
"Itu tidak mungkin Sakura! Bagaimana dengan Hyuuga Hinata? Kau tidak memikirkan perasaan gadis itu?" kata Naruto menghentikan perkataan Sakura.
Sakura berbalik, mengeratkan pegangan pada tasnya, tanpa menoleh pada Naruto ia berucap,
"Hyuuga-san mencintai orang lain..."
"...bukan Sasuke-kun,"
.
.
.
"Sasuke-kun, kenapa ada disini?" tanya Hinata sambil mengamati sosok Sasuke yang mendekatinya.
"Apa aku tidak boleh kesini?" tanya Sasuke dingin.
"Dimana kamarku?" tanyanya lagi, sama sekali tidak berusaha ramah.
"Di-di atas," Hinata tergagap, menunjuk kamar tamu yang ada di lantai dua.
"Sasuke-kun darimana?" tanya Hinata langsung.
Hinata tidak tahu kekuatan dari mana yang membuatnya menanyakan pertanyaan itu pada Sasuke. Dadanya berdebar karena menunggu jawaban dari Sasuke. Ia sudah tahu jawabannya, tapi relung hatinya mengharapkan bahwa jawaban Sasuke tidak sama dengan apa yang dipikirkannya.
Mengetahui kenyataan yang menyakitkan bukanlah hal yang diharapkannya kali ini. Sudah cukup hatinya menerima hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Sasuke menoleh malas ke arah Hinata,
"Sakura..."
"Aku menemui Sakura," katanya jujur.
Ia pergi menaiki tangga. Meninggalkan Hinata yang terpaku.
Kejam.
.
.
Hinata kembali ke kamarnya. Menumpahkan segala asa yang tak sesuai dengan pintanya. Beginikah takdir cinta yang diberikan padanya?
Masih jelas diingatannya Naruto yang tersenyum lembut pada sosok gadis bersurai merah muda juga pelukan hangat Sasuke pada gadis yang sama.
Kenapa Ia harus berada diantara ketiganya? Kenapa ia harus dilibatkan pada kisah mereka sedang dirinya tidak memiliki peran disitu. Ia hanya penonton, tapi Ia harus merasakan sakit seperti ini.
Ia sudah rela tidak mendapatkan cinta pertamanya, tapi kenapa Ia juga harus kehilangan seseorang yang telah menjadi tunangannya? Pria itu memang bersamanya, tapi hatinya telah dibawa oleh orang lain.
Air mata Hinata tumpah di bantal yang menjadi satu-satunya sandarannya. Ia semakin kuat memeluk bantal itu seakan benda tersebut bisa menenangkan hatinya.
Apa yang harus Ia lakukan?
.
.
.
Hinata memandang makanan yang tersedia di meja makan panjang berwarna coklat yang terletak di ruang makan luas kediaman Hyuuga. Ia meraih tempat duduknya yang biasa menantikan ayahnya untuk makan malam bersama.
Tak biasa Ayahnya melewatkan waktu makan malam. Berpikir ayahnya takkan bergabung untuk makan malam, Hinata inisiatif untuk memulai sendiri makan malamnya sampai suara langkah kaki terdengar memasuki ruang makan.
"Otou-san,"
"Sasuke-kun?"
Hiashi diikuti oleh calon menantunya, Sasuke bergabung bersama Hinata di meja mekan. Hinata yang masih dalam posisi terkejutnya tak melepas pandangannya dari Sasuke. Ia tak melewatkan setiap gerakan Sasuke di hadapannya, pria itu menarik kursi yang selalu kosong di samping ayahnya. Ada rasa senang ketika tahu Sasuke akan makan malam bersama mereka.
"Hinata?"
"Ah... Ya, Otou-san?" kata Hinata. Menemukan lagi kesadarannya.
Hinata tidak melihat kilat geli di mata ayahnya. Sedangkan Hiashi telah sepenuhnya sadar apa yang terjadi pada putrinya.
"Tidak perlu terkejut begitu, kan?" ucap Hiashi seakan Hinata melakukan hal yang salah.
Hinata melanjutkan makan dalam diam.
"Aku telah bicara dengan Fugaku, Sasuke juga telah setuju..."
Hinata menegakkan kepala lalu memandang pemilik suara itu.
"Pernikahan kalian akan dilaksanakan musim semi ini,"
Itu, sekitar tiga bulan lagi.
Hinata terkesiap, ekspresi terkejut jelas terpatri di wajahnya. Terlalu cepat, pikir Hinata. Bagaimana mungkin Ia bisa melakukan pernikahan sedang hatinya tidak menentu.
"Tapi Otou-san, apa itu tidak terlalu terburu-buru?" tanya Hinata lalu melirik Sasuke yang sedang makan seolah meminta penjelasan, namun Sasuke sepertinya lebih berminat pada makan malamnya.
"Kurasa tidak. Musim semi adalah waktu yang tepat untuk menikah. Cuaca akan cerah dan bunga sakura bemekaran dimana-dimana. Apa kau mau menunggu musim semi setahun lagi?" tanya Hiashi dengan nada perintah pada Hinata.
Hinata ingin menolak tapi mulutnya serasa terkunci, ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menolak keinginan ayahnya. Terlebih lagi, Sasuke telah setuju. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran pria itu.
.
.
.
Mobil Range rover melaju kencang di antara salju yang masih turun di awal bulan Januari. Sang pengemudi fokus pada jalanan yang dilalui mobilnya tanpa mempedulikan seorang gadis yang berada di sebelahnya.
Gadis itu hanya menatap jalanan dengan mata menerawang. Berbagai hal berputar di kepalanya, dan sumber masalah utamanya adalah pria yang sedang mengendarai mobil disampingnya, Uchiha Sasuke. Hinata benar-benar tidak paham dengan pola pikir Sasuke. Bukankah pria itu mencintai Sakura? Lalu mengapa masih ingin menikah dengannya?
Hinata ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan Sasuke tentang Sakura juga tentang dirinya sendiri. Namun ketika Ia hendak menanyakannya, perasaan takut menguasai hatinya. Ya, Hinata takut apabila hal yang dikatakan Sasuke tidak sesuai dengan keinginannya. Ia takut Sasuke terang-terangan mengatakan bahwa pria itu memang mencintai Sakura, Ia takut Sasuke meninggalkannya. Ia butuh seseorang di sisinya dan orang itu adalah Sasuke, pria yang telah bersamanya beberapa tahun ini.
Tanpa Hinata sadari hatinya kini telah dipenuhi oleh Sasuke.
Setelah sampai di Akatsuki Company, Sasuke dan Hinata mencapai lobi lalu menuju lift VIP. Ketika pintu lift terbuka Sasuke masuk duluan disusul oleh Hinata. Namun langkah kakinya tidak seimbang karena ujung sepatunya tersangkut di pintu lift yang mulai menutup. Hinata merasa melayang spontan Ia menutup mata, bersiap jatuh.
Pintu lift tertutup.
Hinata merasakan sebuah lengan kekar menopang berat tubuhnya. Ketika ia akan membuka mata, dirasakannya sebuah lengan lain merengkuh tubuhnya untuk mendekat ke pemilik lengan tersebut. Hanya sebentar ia merasakan lengan tersebut sebelum pintu lift terbuka lagi menjemput penumpang lain dari lantai yang berbeda.
"Oh?"
Seorang pria berambut kuning bernama Deidara berhenti di depan pintu lift diikuti oleh tiga pria lain, para direksi Akatsuki.
"Wah, pagi-pagi seperti ini sudah ada pemandangan bagus," cerocos Deidara lalu menerobos masuk ke lift diikuti oleh tiga pria dibelakangnya.
"Selamat pagi, Uchiha-san, Hyuuga-san" katanya lagi dengan senyum lebar yang lebih terlihat sebagai ejekan.
Hinata menunduk, sedangkan Sasuke hanya mendengus sebal. Mereka berdua tidak menyadari kehadiran Naruto yang sejak tadi memandangi mereka.
.
.
Hinata memasuki lantai sepuluh gedung Akatsuki Company. Ketika sampai di ruangannya, Hinata langsung meneguk air mineral yang ada di kulkas kecil di sudut ruangan. Namun, apa yang coba Ia hilangkan tak mau pergi begitu saja.
Panas di wajahnya.
Hinata menyadari bahwa belakangan ini ia terus memikirkan Sasuke. Jujur saja, pikirannya mengenai pria itu bukan tentang hal yang menyenangkan. Sama sekali tidak! Hatinya selalu sakit setiap kali ingat Sasuke, terutama mengenai hubungannya dengan Sakura.
Saat ini pun sama, sentuhan Sasuke membuatnya sakit, bukan karena tubuhnya yang dipeluk begitu kuat akan tetapi hatinya yang berdebar kala mengingat kejadian itu. Debaran itu sakit karena terlalu kencang, juga sakit karena Ia tahu lengan itu pernah memeluk wanita lain.
Hinata meneguk lagi air mineral yang tersisa di gelasnya. Cuaca pagi ini terasa panas baginya.
.
.
Hinata melirik jam tangannya, sudah waktunya makan siang. Pantas saja perutnya dari tadi meronta minta diisi. Hinata kemudian meng-klik tombol sleep di layar laptopnya, lalu merapikan berkas-berkas yang sedang dikerjakannya. Segera diraihnya tas tangan miliknya dan berjalan menuju pintu. Sebelum tangannya meraih gagang pintu, pintu tersebut tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok yang sedang tersenyum lebar.
"Namikaze-san?" Hinata terkejut bukan main.
"Hinata-chan sudah makan siang, belum?" cengir Naruto.
"Mau makan bersamaku?" katanya lagi setelah melihat gelengan kepala Hinata.
Serasa dihipnosis, Hinata hanya mengangguk dan mengikuti Naruto.
Setelah tiba di suatu restoran yang tak jauh dari kantor mereka, Naruto langsung memesan beberapa menu yang tersedia. Hinata hanya mengiyakan apapun yang ditawarkan oleh Naruto. Setelah makanan datang, Naruto segera menyantap hidangan tesebut diikuti oleh Hinata.
"Bagaimana rasanya, enak?" tanya Naruto dengan mulut penuh makanan.
Hinata hanya mengangguk sambil menikmati makanannya. Pipi yang merona dan perut lapar bukan kombinasi yang menyenangkan.
"Jangan malu-malu, Hinata-chan. Makan saja sepuasnya. Aku traktir!" kata Naruto sambil menunjuk-nunjuk makanan di atas meja dengan sendoknya.
'Te-terima kasih, Namikaze-san." ucap Hinata lalu memandang Naruto sekilas.
"Eh, kau terlalu formal, Hinata-chan. Panggil saja aku Naruto," jeda sejenak.
"Atau, Naruto-kun juga boleh." goda Naruto.
Hinata menutup mulut dengan tangannya, tidak yakin bisa memanggil Naruto seakrab itu.
"..."
"Kenapa diam saja? Ayo panggil aku Na-ru-to-kun!" godanya lagi. Entah kenapa merasa senang melihat wajah merona wanita di depannya. Sekarang Naruto tahu kalau wajah Hinata memerah karena malu, bukan demam.
"...-kun," gumam Hinata. Wajahnya menunduk.
Naruto menunggu.
"Na-namikaze-kun! Namikaze-kun saja," gumam Hinata sekali lagi.
"Ehh!"
.
.
"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu, Hinata-chan." ucap Naruto setelah mereka menyelesaikan makan siang.
Hinata mendongak, menunggu Naruto menyampaikan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku tidak pintar basa-basi, Hinata-chan. Jadi aku akan bertanya langsung padamu," kata Naruto memandang Hinata dengan napas tertahan.
Hinata masih menunggu.
Naruto menghela napasnya, sejurus kemudian Ia katakan apa yang menjadi beban pikirannya sejak beberapa hari ini.
"Apa kau mencintai Sasuke?"
Hinata terdiam, cukup lama. Pertanyaan Naruto terasa menjebak di telinganya. Baginya hal itu bukan seperti pertanyaan akan tetapi terdengar sebagai suatu pilihan. Mengiyakan atau tidak hasilnya sama saja, tidak ada pengaruhnya bagi Hinata Ia akan tetap dipeluk oleh perasaan sakit yang menyesakkan.
"Apakah pertunangan kalian seperti pertunangan pada umumnya... ehm, ma-maksudku memang karena kalian saling mencin –
"Apa maksudmu, Namikaze-san?" potong Hinata.
"Apa yang ingin kau ketahui?"
Naruto melihat tatapan tak biasa dari gadis dihadapannya. Tak seperti sebelumnya, mata pucat itu memandang mata biru milik Naruto dengan tatapan menusuk dan... luka. Naruto tidak sejenius Sasuke juga tidak pintar seperti Sakura tapi Ia tahu jawaban dari pertanyaannya di mata Hinata.
Naruto mendesah, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengutarakan maksud hatinya.
"Aku akan egois, Hinata-chan. Aku mencintai Sakura-chan dan aku ingin Ia bahagia..."
"...bersamaku."
"Aku yakin bisa membuatnya bahagia. Walaupun Ia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, tapi aku yakin perasaannya akan berubah. Aku sudah bersabar sekian lama, kalau aku menyerah disini kesabaranku akan sia-sia," kata Naruto lagi.
"Ma-maksudmu?" tanya Hinata ragu-ragu. Tidak menyangka Naruto mengatakan hal ini. Ia pikir Naruto memintanya untuk melepaskan tunangannya pada gadis itu.
"Aku ingin Sakura hanya melihatku, aku tahu Ia sudah lelah mengejar Sasuke walaupun Ia tidak mengakuinya. Jadi, kumohon tetaplah di sisi Sasuke sedangkan aku akan berada di sisi Sakura sampai Ia menyerah dan melihatku.
Brak!
Kedua tangan Hinata menghantam meja di depannya. Ia menggeram dan bahunya bergetar. Kesabarannya telah habis sampai disini. Cukup! Ia tidak ingin terlibat lagi dengan segitiga mereka. Ia juga lelah, bukan hanya Sakura. Hatinya sakit tapi tidak ada yang menyadari. Jangan kira hanya Naruto atau Sakura yang merasakan sakit karena cinta yang tidak terbalas. Bagaimana dengan dirinya selama ini? Bukankah kisahnya lebih menyakitkan? Ia bertahun-tahun mencintai seorang pria, tidak pernah diketahui bahkan ia hanya bisa memandang punggung pria itu. Lalu, ketika ia sudah mulai membuka hatinya untuk pria lain, pria itu ternyata juga tidak mencintainya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, kedua pria itu mencintai gadis yang sama. Bukan dirinya. Ia tidak pernah benar-benar dicintai.
"Aku tahu kau tidak mencintai Sasuke," ucap Naruto.
"Kau mencintai orang lain..."
"Tapi apakah kau rela melepaskan orang yang selalu di sampingmu demi mengejar orang lain yang belum tentu mencintaimu?" kata Naruto lagi.
Kalimat itu seperti duri yang menusuk hati Hinata. Sakit, tapi tidak bisa dilepas.
Hinata melangkah, mengambil tasnya kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Naruto. Air mata kini jatuh di pipinya.
"Kau tahu siapa orang yang kusukai?" katanya lamat-lamat dengan suara bergetar.
"Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu tentang orang itu..."
Tanpa perintah air mengucur deras dari kedua mata Hinata.
Ia pergi...
.
.
.
.
.
.
-TBC-
Makasih buat semua yang udah review. maaf klu aku nggak balas satu2, tapi aku selalu baca review-an readers. Semua review selalu buat aku semangat untuk ngelanjutin ff ini.
Oiya, sebenarnya aku juga gak tega buat Hina-chan menderita di ff ini, tapi itu semua kan tuntutan skenario #hehe... Yang jelas ff ini bakalan happy ending kok.. :D
trus, hurt nya dapat gak? Aku berharap readers gak bingung sama alur cerita ini..
okehh akhir kata, review, please..
