Bagian VII

-Decision-

.

.

.

Hinata kembali ke kantor menaiki taksi yang menjemputnya di depan restoran tempat ia makan siang dengan Naruto. Di dalam taksi, ia tidak repot menghentikan air mata yang jatuh di pipinya. Ia biarkan air mata itu jatuh, menangis sejadi-jadinya.

Ia menangis bukan karena Naruto yang tidak tahu dan tidak ingin tahu tentang siapa orang yang dicintai Hinata dulu, akan tetapi lebih karena permintaan Naruto padanya.

Tanpa Naruto minta pun ia akan mempertahankan Sasuke di sisinya, tapi apabila Sasuke tidak mengiginkan hal itu, apa Hinata harus memaksa?

Dia Hyuuga Hinata.

Ia sosok yang selalu mengalah. Ia lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ya, dia orang yang seperti itu, terlalu baik. Orang baik sering terluka kan?

Kalau ia tetap mempertahankan Sasuke di sisinya ada sosok yang tersakiti, seorang gadis yang terus mengejar Sasuke. Sasuke sendiri juga akan tersakiti, kalau pria itu memang mencintai Sakura maka Hinata akan melepaskannya. Biarlah, biarlah dirinya yang terluka.

Masih terisak, ia meminta supir taksi berbalik arah.

"Tolong ke Rumah sakit pusat Tokyo,"

.

.

"Jangan lupa obatnya diminum ya, Chiyo baa-san," Sakura tersenyum pada seorang wanita tua, pasiennya yang sedang menjalani proses penyembuhan karena operasi jantung seminggu yang lalu. Tanpa Sakura sadari, seseorang terus memperhatikannya kemudian membuka suara,

"Kau kelihatan tidak sehat dokter Sakura," kata Matsuri, orang yang memperhatikan Sakura. Ia merupakan salah satu keluarga Chiyo baa-san.

Chiyo baa-san yang sudah hampir sebulan berada di rumah sakit adalah salah satu pasien tanggung jawab Prof. Tsunade. Sakura yang merupakan asisten Prof. Tsunade tentunya sering mengunjungi wanita renta itu dan mengecek kesehatannya secara berkala. Hal itu juga membuat ia dikenal oleh keluarga Chiyo baa-san terutama Matsuri yang hampir setiap hari menjaga Chiyo baa-san. Karena pertemuan yang sering terjadi itu membuat Matsuri mengetahui ada yang berubah dari dokter muda bersurai pink itu.

"Ah, tidak apa Matsuri-san, belakangan ini aku memang sering piket malam sehingga kurang tidur," kata Sakura sambil tersenyum.

"Oh," Matsuri hanya ber'oh' ria.

Setelah itu Sakura pamit pada Matsuri dan Chiyo baa-san untuk kembali ke ruangan dokternya. ia lirik jam tangannya sekilas dan baru sadar bahwa jam makan siang telah lewat lebih dari 2 jam yang lalu.

Belakangan ini Sakura memang kurang tidur dan jam makannya juga tidak teratur. Sebagai seorang dokter Ia paham betul pentingnya kesehatan akan tetapi pekerjaan membuat Ia terkadang melupakan kesehatannya sendiri.

Karena tidak ingin membuat derita pada lambungnya, Sakura pun berbalik menuju kantin untuk makan siang. Ia mempunyai waktu 2 jam untuk kembali melanjutkan tugas jaganya. Selain itu Prof. Tsunade juga memintanya sebagai pendamping operasi hati seorang pasien jam 8 malam nanti, oleh karena itu Ia harus memastikan kondisi tubuhnya fit sebelum tugas-tugasnya malam ini.

Setelah tiba di kantin, Sakura mengambil makan siangnya dan memakannya dengan cepat. Ia ingin memanfaatkan waktu kosongnya untuk tidur di ruangannya. Ketika sedang asyik makan, mata Sakura menangkap sosok gadis berambut gelap panjang, setelah diperhatikannya sekali lagi, Ia yakin sosok itu adalah Hyuuga Hinata, tunangan pria yang dicintainya.

Awalnya Sakura ingin mengabaikan saja kehadiran Hinata, mungkin Ia ada keperluan di rumah sakit. Namun setelah melihat Hinata yang seperti mencari orang mau tak mau Sakura menghampiri gadis itu. Ia ada firasat Hinata mencari dirinya.

"Hyuuga-san,"

Hinata yang mendengar seseorang memanggil di belakangnya segera menolehkan kepalanya dan menemukan Sakura disana, orang yang ingin ia temui.

"Apa kabar," kata Hinata basa-basi.

"Apa Haruno-san ada waktu? Bisa kita bicara sebentar?" tanya Hinata sekali lagi.

Benar kan?

Walaupun sudah menduga, namun rona keterkejutan tetap muncul di wajah cantik Sakura. Ia tercengang, dalam hati Ia bertanya ada kepentingan apa Hyuuga Hinata menemuinya? Jelas terlihat olehnya mata Hinata yang sembab dan raut wajahnya yang sendu. Perasaan bersalah tiba-tiba hinggap di hati Sakura. Ia yakin sesuatu yang ingin dibicarakan Hinata berhubungan dengan Sasuke. Yah, Sakura tahu cepat atau lambat gadis itu akan mempertanyakan hubungannya dengan Sasuke.

Sakura mengajak Hinata ke ruangannya yang berada di lantai dua rumah sakit pusat Tokyo. Perjalanan mereka ke ruangan Sakura diwarnai perang dingin tak bersuara. Mereka berdua paham benar apa yang sedang terjadi walaupun tidak ada dari keduanya membuka suara. Kedua gadis itu sibuk dalam pikirannya masing-masing.

Setelah sampai di ruangannya, Sakura mempersilahkan Hinata duduk di kursi yang berhadapan dengan dirinya, posisi mereka dihalangi oleh sebuah meja kerja berwarna biru.

Entah mengapa Sakura merasa canggung, padahal tempat mereka bertemu adalah ruangan miliknya sendiri. Mata Sakura berkali-kali menghindari tatapan intens dari Hinata. Sadar tak ada gunanya membuang waktu, Sakura kemudian menghela napas dan menutup matanya sejenak lalu mengunci mata gadis Hyuuga di matanya.

Mereka bertatapan.

Cukup lama.

"Haahh..." Sakura menghela napas lalu menyandarkan bahunya ke punggung kursi miliknya. Tak ada gunanya bersitegang, pikirnya.

"Kau tahu Hyuuga-san, mungkin Tuhan sedang tertawa melihat kita, "kata Sakura pada akhirnya. Ada senyum hampa bibirnya.

Ucapan dan senyum Sakura perlahan mengendorkan ketegangan otot wajah Hinata. Sebagai gantinya ia pun menyandarkan bahunya pada punggung kursi, mereka telah mengetahui posisi masing-masing, tak ada yang perlu disembunyikan lagi.

"Tuhan menghubungkan kita seperti gambar ini," kata Sakura sambil mengambil bolpoin di kotak pensilnya dan menggambar di sebuah kertas kosong sebuah gambar persegi.

"Ini Naruto, aku, Sasuke-kun dan Hyuuga-san," kata Sakura lagi sambil meunjukkan setiap sudut dari gambar persegi itu.

"Garis-garis pada persegi ini menghubungkan kita sebagai orang yang mencintai dan dicintai.

Hinata cukup terkejut karena Sakura pun tahu bahwa Ia menyukai Naruto, tapi rasa terkejutnya tidak dibutuhkan disini, ada sesuatu yang lebih penting.

Dahinya berkerut memandang gambar yang dibuat Sakura, menandakan bahwa gambar itu tidak sesuai dengan pendapatnya. Ia tidak yakin hubungan mereka bagaikan persegi itu. Bagi Hinata, dirinya adalah sebuah titik di luar segitiga milik Sasuke, Sakura dan Naruto. Kalaupun Sakura mengibaratkannya hubungan mereka seperti gambar persegi, maka persegi itu tidak pernah sempurna membentuk sudut yang sama.

"Kalau begitu Haruno-san, seharusnya garis yang menghubungkan aku dengan Sasuke adalah garis dengan warna lain dan digambar dengan terpaksa," ucap Hinata.

"..."

"Tidak ada garis yang benar-benar menghubungkan kami berdua," lanjut Hinata.

"..."

"Pertunangan kami hanya sebuah keindahan semu," sambungnya lagi.

Hinata menunduk. Ia harus tegar, tidak mungkin menunjukkan wajah sendu pada gadis ini. Gadis yang memiliki hati orang yang ia cintai, dulu.

Ya, dulu...

Tapi juga, orang yang Ia cintai saat ini.

Sekarang...

Yang Ia harapkan bisa memberikan cinta baru untuknya.

Ternyata hanya mimpi belaka.

"Aku tidak ingin terikat dengan orang lain yang tidak mencintai diriku, oleh karena itu aku ingin dia bersamamu, orang yang Ia cintai, dan..." Hinata menghela napas. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan gadis itu.

"Aku akan membatalkan pertunanganku dengan Sasuke..."

.

.

.

Sakura memandang wajahnya yang basah oleh air keran wastafel yang ada di kamar mandi khusus dokter. Dipandanginya wajahnya di cermin, seperti memikirkan sesuatu. Lima belas menit lagi waktu jaganya akan dimulai. Rencananya untuk tidur sejenak terusik oleh kedatangan Hyuuga Hinata yang tak terduga. Ia hanya sebentar berbicara dengan wanita bermata pucat itu dan itu berhasil membuat rasa kantuk yang menghilang.

Sakura teringat kembali percakapannya dengan Hinata, sungguh tak terduga gadis itu ingin memutuskan pertunangannya dengan Sasuke. Sungguh berani! Ini tentu menjadi berita baik utuk seseorang yang mencintai Sasuke seperti dirinya. Akan tetapi Ia masih tidak percaya seorang nona Hyuuga seperti Hinata akan melakukan hal tersebut. Tentu saja batalnya pertunangan Uchiha dan Hyuuga akan menjadi berita heboh yang aka berdampak pada disorotnya kehidupan pribadi keluarga kaya tersebut sehingga memunculkan spekulasi bahwa pertunangan mereka hanya pertunangan bisnis.

Semua orang tentu berpikir demikian. Karena sangat jarang para konglomerat seperti keluarga Hyuuga dan Uchiha tidak mengambil keuntungan dari sebuah ikatan yang menyatukan keluarga mereka dengan keluarga lain. Tentunya mereka juga memeras otak agar ikatan tidak hanya menyatukan dua hati akan tetapi juga dua bisnis.

Begitulah kehidupan mereka. Terlihat indah tapi penuh kebohongan.

Hinata tidak mengatakan alasan sebenarnya Ia memutuskan pertunangan dengan Sasuke. Awalnya Sakura bingung kenapa Hinata memberitahukan hal ini padanya namun belakangan Ia paham bahwa gadis itu megetahui perasaannya pada Sasuke. Yang mebuat Sakura lebih terkejut Hinata mengatakan bahwa Sasuke menyukai dirinya, menyukai Sakura.

Sakura tentu saja senang karena pada akhirnya ia boleh mencintai Sasuke dan terus berusaha mencapai hatinya. Namun rasa kasihan dan bersalah muncul di hati Sakura di saat yang sama. Kasihan karena Hinata kehilangan tunangannya dan merasa bersalah juga karena ia merasa seperti mengambil sesuatu milik orang lain. Dengan kata lain, gadis itu rela kehilangan orang yang seharusnya ditakdirkan untukknya demi kebahagiaan Sakura yang bisa dikatakan sebagai rivalnya.

Namun sebenarnya, ada satu hal lain yang mengganggu Sakura, tak lain tak bukan adalah Uchiha Sasuke sendiri. Beberapa hari ini pria itu agak sulit dihubungi. Terakhir kali ia bertemu dengan Sasuke adalah setelah makan siang mereka berempat bersama Naruto dan Hinata.

Saat itu ia sengaja mengirim pesan pada Sasuke untuk bertemu dengannya. Mereka berdua akhirnya bertemu di parkiran dan mengobrol di mobil Sasuke karena pria sedang buru-buru. Dan saat itulah Sakura tahu bahwa pertunangan Sasuke tidak didasari oleh cinta karena menurut Sasuke, Hinata menyukai orang lain, dan orang itu adalah Naruto.

Sakura berpikir sejenak, bukankah kalau memang seperti itu, ini akan menjadi ending yang bahagia? Hinata memutuskan pertunangannya dengan Sasuke karena tidak ada cinta diantara mereka berdua. Hinata mencintai Naruto dan Sasuke,

Pria itu mencintai Sakura, 'dirinya...'

Dengan begitu persegi ini akan berakhir bahagia, kan? Sekarang tinggal Hinata dan Naruto yang memulai kisah mereka. Ya, inilah akhirnya!

Lalu mengapa wajah Sasuke terlihat sendu waktu itu?

.

.

.

Hinata memandang daun pintu berwarna coklat tua yang berdiri kokoh di lantai satu kediaman Hyuuga. Tak terasa sudah empat tahun berlalu sejak terakhir kali Ia masuk ke ruangan itu, ruangan kerja Hiashi. Pemilik Hyuuga Corp. Saat mengetuk pintu tersebut jantung Hinata berdetak lebih cepat namun tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak ragu, tidak seperti waktu Ia diminta menemui ayahnya di ruangan itu dulu.

"Masuk,"

Suara berat dan dingin terdengar dari dalam ruangan. Hinata menelan ludah kemudian memutar pegangan pintu tersebut. Ia berjalan mantap.

Hiashi melirik Hinata dari sudut matanya. Dihentikannya tarian jari di keyboard komputernya dan memandang heran pada anak gadisnya. Tidak pernah Hinata masuk ke ruang kerjanya tanpa diminta seperti ini.

"Boleh aku duduk, Otou-san?" ucap Hinata, setelah menyadari bahwa Ayahnya tidak memberikan tanda-tanda untuk menyilahkan ia duduk.

"Hm, duduklah,"

Hinata mengambil kursi yang berada di balik meja kerja Hiashi. Berhadapan dengan ayahnya, mengingatkan Hinata pada bimbingan skripsi dengan dosennya dulu, terasa tegang dan panas. Setelah menyamankan dirinya di tempat duduk itu, Hinata memandang mata pucat yang sama dengan miliknya.

Hinata mengambil napas.

"Otou-san ingat tidak dulu saat Otou-san memintaku untuk belajar aikido ketika umurku 5 tahun?"

Hiashi mengangguk. Ia tahu Hinata belum ingin menyampaikan maksudnya yang sebenarnya jadi Hiashi masih akan menunggu.

"Saat itu Otou-san tahu bahwa aku sebenarnya tidak suka belajar aikido. Tapi Otou-san tetap memaksaku melakukannya. Akhirnya aku terus belajar dan akhirnya cidera sehingga membuatku tak bisa berjalan normal selama satu bulan. Saat itu..."

"Itu karena kau berusaha terlalu keras bahkan memaksa tubuhmu padahal kau tahu tubuhmu tidak begitu kuat," Hiashi memotong ucapan Hinata. Ia sangat ingat bagaimana Ia dengan keras menyuruh Hinata belajar aikido. Hiashi tahu Hinata tidak berbakat dengan olahraga fisik tapi Ia yakin Hinata bisa melakukannya. Terakhir ia tahu bahwa Hinata benar-benar memaksakan tubuhnya untuk latihan aikido yang membuat tulang kakinya bergeser. Sebuah cidera yang sangat berat untuk anak berusia 5 tahun.

Hinata mengangguk pelan kemudian menatap ayahnya tajam,

"Otou-san tahu hal itu tapi tetap tidak mencegahku,"

Hiashi diam. Memang benar dirinya tidak mencegah Hinata. Ia ingin Hinata kuat, tapi melihat Hinata yang cidera membuatnya sadar bahwa hal yang dilakukannya adalah salah. Penyesalan selalu belakangan.

"Kejadian itu terjadi lagi saat aku kuliah, Otou-san! Kau tahu aku tidak menyukai bisnis, tapi kau memaksaku mempelajarinya. Aku berusaha terlalu keras untuk belajar bisnis sampai-sampai aku tidak memiliki teman selama beberapa tahun aku kuliah. Aku menghabiskan waktuku di perpustakaan, meminjam beberapa buku untuk kubaca di apartemen. Aku hanya berharap kalau aku lebih rajin, aku bisa menyamai orang lain yang menyukai bisnis. Aku ingin membuatmu bangga padaku." suara Hinata berubah tinggi membuat Hiashi terdiam.

Mata Hinata menghangat. Bisa Ia rasakan air mata mulai mengaliri pipinya.

Ia melanjutkan,

"Dulu aku selalu bisa memaksakan diriku untuk melakukan sesuatu dan aku selalu berhasil melakukannya walaupun terkadang ada hal yang harus aku korbankan. Namun sekarang Otou-san, aku menyerah aku tidak bisa lagi memaksa untuk berusaha melakukan hal yang kau inginkan karena aku tidak bisa mengubah hal itu."

"..."

"Saat belajar aikido aku merubah badanku untuk lebih tahan pada segala bentuk serangan dan bantingan. Saat aku belajar bisnis aku merubah ketidaksukaanku pada hal itu, aku harus belajar lebih giat dan tidak punya teman. Aku masih bisa bertahan dengan hal itu. Namun sekarang Otou-san, walaupun aku berusaha mengubah sesuatu, sesuatu itu tidak akan berubah aku tidak bisa, Otou-san..." isak Hinata.

Hiashi tercengang. Pelan-pelan Ia bertanya,

"Apa yang berusaha kau ubah?"

"Ha-Hati," Hinata menunduk.

Hati seseorang.

"Aku tidak bisa mengubahnya walaupun aku berusaha melakukan hal itu. Aku tahu aku tidak bisa walaupun aku memaksa karena hatinya tidak bisa kukuasai. Hatinya tidak bisa kumiliki..."

"Wa-walaupun selama ini aku di sisinya, te-tetap saja aku tidak bisa memiliki hatinya, walaupun aku dan dia telah memiliki ikatan tetap saja... te-tetap saja..."

Hinata mulai tersedak...

"Ka-karena itu Otou-san, a-aku me-meminta token karena usahaku, se-sebagai hadiah karena kegigihanku dari du-dulu. To-tolong kabulkan permintaanku,"

"Apa?" tanya Hiashi lirih.

"Batalkan pertunanganku dengan Sasuke,"

Hiashi terkesiap. Tidak menyangka Hinata akan meminta hal itu padanya. Anak perempuan yang selalu tersenyum manis dihadapannya telah bersimbah air mata dengan wajah memilukan. Mungkin inilah wajah Hinata yang sebenarnya. Inilah yang tersembunyi dari topeng tegar yang selama ini ia gunakan. Anaknya, Hyuuga Hinata telah begitu lama memendam perasaan pilu karena permintaan seorang Hiashi, ayahnya. Hiashi sebenarnya menyadari ia sering meminta Hinata melakukan hal yang tidak disukainya dan ia tahu Hinata tidak akan menolak permintaannya tersebut. Anak perempuannya itu akan melakukan apa yang Hiashi minta sebaik mungkin yang tak jarang membuat dirinya berusaha mati-matian dan selalu memaksakan diri serta menyakinkan dirinya bahwa ia bisa memenuhi permintaan Hiashi.

Namun Hiashi benar-benar tidak menyangka Hinata menginginkan pertunangan dengan Uchiha dibatalkan, padahal seingatnya Hinata terlihat senang beberapa hari sebelum pertunangan mereka, tidak terlihat seperti orang yang dipaksa bertunangan. Padahal Hiashi sedikit berharap pertunangan ini bisa menebus kesalahannya pada Hinata, tapi ternyata...

"Kenapa?" Hiashi memberanikan diri untuk bertanya di tengah isakan Hinata.

"Di-dia mencintai orang lain." gumam Hinata pelan.

Tangis hinata pecah. Ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya sungguh pedih mengingat semua yang telah terjadi. Keputusan untuk mulai mencintai Sasuke ternyata membuatnya sakit bahkan lebih sakit daripada cinta tak terbalasnya terhadap Naruto.

Hiashi bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri putrinya yang sedang terisak. Ia remas pelan bahu mungil putrinya. Berusaha memberi pegangan pada Hinata. Hinata kemudian memegang lengan hangat ayahnya, berharap hatinya lebih ringan untuk mencurahkan segalanya.

"Kau mencintainya?" Hiashi bertanya hati-hati.

"..."

Hinata tidak menjawab tapi Hiashi menemukan jawabannya dari tangis hinata yang makin kuat dan pegangan erat dilengannya. Hiashi menarik tubuh Hinata dalam pelukannya.

"Tenanglah..." bisik Hiashi. Suaranya terdengar dingin tapi terasa hangat.

"A-aku bukan Hyuuga, Otou-san..." lirih Hinata di bahu ayahnya.

Hiashi mengelus lembut rambut Hinata. Ia menghela napas,

"Kau tetap Hyuuga Hinata..."

"...putriku..."

Cahaya bulan menjadi saksi curahan hati seorang anak perempuan pada ayahnya untuk yang pertama kalinya.

.

.

.

.

-TBC-

Yoshh... saya update lagii.. Terima kasih buat reader semua yang sudah menambahkn ff ini jd list fave kalian dan makasih juga buat yg selalu setia me-review SQUARE. Hontouni arigatooo... :-D

Sepertinya SQUARE mulai ketahuan endingnya ya? Hehe.. aku speechless bgt sama readers yg mencoba nebak ending ff ini. Well... maybe right maybe wrong hehe #dilemparsandal...

Okeh.. akhir kata ripiu plis :-)