Disclaimer. Masashi Kishimoto.
Warning. AU, OOC, typo (^_^)
Happy reading
Bagian VIII
-Secret-
.
.
.
"39 derajat," kata seorang wanita yang memakai jas putih.
Wanita itu kemudian meletakkan kembali termometer yang dipegangnya ke dalam tas dokternya.
"Istirahat yang cukup dan jangan malas makan, Hinata," kata dokter itu sambil membereskan peralatannya.
"Arigatoo, Shion-san," kata Hinata pada dokter itu.
"Kenapa kau bisa sakit?" tanya Shion.
Hinata hanya tersenyum lemah. Shion memandang mata pucat milik Hinata lalu menghela napas gusar.
"Jaga kesehatanmu!" kata wanita yang dipanggil Shion itu ketus.
Hinata kembali tersenyum lemah memandang kepergian Shion, dokter keluarga Hyuuga yang telah dikenalnya bertahun-tahun. Wanita itu memang cukup galak dan ketus terutama mengenai masalah kesehatan para anggota keluarga Hyuuga. Bahkan Hiashi pernah terdiam akibat nasehat panjang lebar mengenai kesehatan yang diberikan Shion.
Setelah kepergian Shion dari kamarnya, Hinata mulai memejamkan matanya namun tak sampai semenit matanya tertutup, pintu kamarnya dibuka kembali.
Hyuuga Hiashi berdiri di ambang pintu.
Pelan ia mendekati Hinata yang terbaring lemah di ranjang. Hinata menyadari kehadiran ayahnya tapi terlalu lemah untuk membuka mata. Selain itu, saat ini Ia belum ingin bertatap mata dengan ayahnya karena pertemuannya dengan Hiashi di ruang kerjanya kemarin malam. Ia merasa canggung karena mengingat kejadian itu sekaligus malu karena jatuh sakit karena hal itu juga.
Usapan lembut dirasakan Hinata di keningnya. Tangan besar ayahnya terasa hangat dan nyaman sehingga membuat Ia tergoda untuk tidur. Hiashi memandang Hinata yang mulai terlelap kemudian memutuskan bangkit dari tempat duduk di samping ranjang Hinata dan mengecup kening anak perempuannya itu.
"Cepat sembuh," bisiknya.
.
.
.
Hinata tidak ingat sudah berapa lama Ia tertidur, namun rasanya Ia tertidur cukup lama sampai sentuhan-sentuhan dingin menyeka kening dan lehernya. Dibukanya matanya, tampaklah sesosok berambut pirang yang sibuk mengelap keringat di sekitar leher dan keningnya. Awalnya Hinata berpikir dokter Shion masih belum pulang dan menemaninya di kamar, namun ketika ditatapnya kembali sosok itu Hinata yakin bahwa sosok itu bukan Shion.
"I-Ino-chan?"
"Hai," cengir lebar menghiasi wajah cantik Ino.
Hinata tidak percaya dengan matanya, berkali-kali ia kerjapkan matanya namun sosok yang ia lihat tetap sama. Gadis bersurai pirang yang Ia rindukan.
"Ino-chaaann..." teriak hinata lalu melompat ke pelukan Ino.
"Kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sekarang tinggal di Kyoto?" tanya Hinata.
Seingatnya setelah mereka lulus SMA Ino pindah ke Kyoto dan kuliah disana.
Ino hanya tersenyum geli, ternyata Hinata tak berubah, masih sama seperti dulu.
"Ayahmu. Orang suruhan ayahmu tiba-tiba datang ke rumahku dan memintaku mengunjungimu disini. Huh, dasar orang kaya!" sebal Ino tapi dengan wajah bahagia.
Setelah itu kamar luas Hinata dihiasi oleh candaan dan tawa dari mereka berdua. Mereka banyak bercerita tentang kejadian-kejadian yang terjadi saat mereka SMA. Bagi Hinata kehadiran Ino yang tiba-tiba seperti oasis di tengah padang pasir. Rasanya semenjak Ia kembali ke Tokyo, momen bersama Ino adalah yang paling bahagia. Hinata sampai-sampai lupa kalau ia sedang sakit dan terus menerus berbagi cerita dengan Ino dan sampailah Ia pada cerita yang berusaha Ia lupakan. Namun Ino ada disini bersamanya. Hinata pun tak sungkan menceritakan segala curahan hatinya pada Ino. Ya, hanya Ino teman yang Ia miliki.
Ino hanya mendengarkan cerita Hinata tidak ada bantahan ataupun pertanyaan darinya. Ia pun sebenarnya tidak menyangka bahwa pertunangan Hinata akan berlangsung seperti ini. Padahal seingatnya Hinata cukup terdengar bahagia ketika Ia menelepon Ino untuk mengabarkan berita pertunangannya. Ya, selama ini mereka hanya berbagi kabar melalui telepon, dan ini adalah pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya setelah lulus SMA.
Tak terasa, sore telah datang dan Ino harus kembali ke Kyoto. Sebenarnya Ino ingin menemani Hinata lebih lama lagi akan tetapi Ia harus masuk kerja keesokan harinya. Oleh karena itu mau tak mau ia harus kembali. Walaupun Ino kembali ke Kyoto dengan heli pribadi milik Hyuuga Corp namun tetap saja Ia harus pulang hari itu juga.
Hinata mengantar Ino sampai di depan pintu rumah megahnya. Ino berusaha mencegah Hinata karena angin sore bisa membuat demam Hinata kembali naik. Namun Hinata tidak mengindahkan saran Ino dan tetap mengantar temannya itu sampai ke depan rumah. Ino masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan teras lengkap dengan supir berambut hitam licin yang sudah dikenal Ino sejak SMA.
Setelah pamit kepada nonanya, supir keluarga Hyuuga itu pun mulai menjalankan mobil Ferrari Enzo berwarna merah milik Hanabi yang sengaja ditinggalkannya. Hanabi juga tidak keberatan Gai, supir mereka membawa mobil itu. Ino pun melambai-lambai pada Hinata yang dibalas dengan senyuman oleh gadis bersurai indigo itu. Baru beberapa saat mobil merah itu melaju Hinata tiba-tiba teringat sesuatu.
"Ino-chan terima kasih kadonya, yaa!" teriak Hinata.
Kado yang diberikan Ino setahun yang lalu. Sebuah ikat rambut manis berwarna ungu pucat dengan garis-garis hitam dan bulu berwarna gading yang lembut. Benda yang diinginkan Hinata tiga tahun sebelumnya.
Ino tidak begitu mendengar apa yang dikatakan Hinata. Ia mengerinyit namun senyumnya masih mengembang, setelah cukup jauh dan tidak melihat Hinata lagi Ino pun tersadar.
"Kado apa?" tanyanya pada diri sendiri.
.
.
.
Kabar pembatalan pertunangan Hyuuga dan Uchiha sampai di telinga Fugaku ketika ia diundang minum teh di gedung Hyuuga di suatu sore. Fugaku sama sekali tak menyangka kabar pembatalan itu keluar dari mulut Hiashi, calon besannya. Hiashi menyampaikan kabar itu dengan wajah tenang sambil mengesap tehnya. Hiashi seperti mengabaikan wajah terkejut Fugaku dengan tidak memberitahu pria separuh baya itu alasan putrinya menolak melanjutkan pertunangan yang seharusnya berujung pada pernikahan.
"Kau masih tidak ingin memberitahukanku alasannya?" tanya Fugaku sekali lagi.
Hiashi meletakkan cangkir tehnya. Memandang mata gelap Fugaku yang berkilat tajam. Ada rasa ingin tahu yang membuncah dari mata hitam yang tidak berekspresi milik orang dihadapannya itu. Hiashi tahu karena Ia pun sama, ingin penjelasan dari Uchiha.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu, Fugaku" ucap Hiashi.
"Maksudmu?" tanya Fugaku lagi, sekarang Ia dibuat bingung oleh pemilik Hyuuga Corp ini.
Hiashi menghela napas kemudian meraih kembali cangkir tehnya, menghabiskannya dalam sekali hesapan.
"Kalaupun penyatuan bisnis ini tidak berhasil melalui ikatan pertunangan antar pewaris, aku tidak keberatan. Kita bisa pakai rencana lain." ucap Hiashi memandang tajam ke mata Fugaku.
"..."
"Aku tidak ingin menambah kesalahan pada putriku. Ia sudah lama bersabar karena permintaanku, jadi sekarang giliranku yang mengikuti keinginannya,"
Fugaku tidak sabar,
"Tunggu Hiashi! Jadi maksudmu Hinata tidak menginginkan pertunangan ini?"
"Sasuke-lah yang memutuskan pertunangan ini, Fugaku. Walaupun Ia tidak menyatakan langsung pada Hinata, tapi putriku tahu bahwa Sasuke sebenarnya tidak menginginkan pertunangan ini,"
"Apa?" Fugaku terbelalak. Ia hampir bangkit dari kursi nyamannya. Namun wajah tenang Hiashi menyadarkannya bahwa ada yang Ia lewatkan disini, sesuatu yang tidak Ia ketahui sedang Hiashi mengetahuinya. Jadi, Fugaku menunggu. Ia kembali ke kursi nyamannya berusaha mengimbangi ekspresi tenang milik Hyuuga.
"Sasuke mencintai orang lain, bukan putriku..." ucap Hiashi masih dengan wajah tenangnya, seolah-olah hal itu sudah sering terjadi.
Set.
Fugaku kini telah berdiri sempurna di depan Hiashi. Ternyata darah Uchiha-nya tak bisa mengimbangi sikap tenang milik Hiashi. Matanya melebar dan mulutnya bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu yang sulit diucapkan.
"Seharusnya kau tahu, Fugaku. Sasuke-lah yang sejak awal tidak menginginkan pertunangan ini," tambah Hiashi.
"I-ini tidak mungkin," lirihnya pelan.
"Hinata-lah yang mencintai orang lain," ucap Fugaku lagi, menatap mata Hiashi dengan ragu. Tunggu, ada apa ini?
Hiashi melirik tajam pada sosok Fugaku seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Benarkah?"
Fugaku lalu mengambil poselnya dan menyentuh angka-angka di ponselnya, menelepon seseorang.
.
.
.
Hinata memandang rerumputan yang tumbuh cantik di taman belakang rumahnya. Ditemani Hatake Kakashi, sekretaris ayahnya mereka berdua duduk sambil minum teh di patio minimalis lengkap dengan pemanas, mengingat suhu sore hari di bulan Januari itu masih cukup dingin. Tak biasa Kakashi datang tanpa Hiashi, namun penjelasan Kakashi yang mengatakan bahwa Ayah Hinata itu sedang bertemu seseorang membuat Hinata mengerti dan heran di saat yang sama.
'Siapa?'
"Aku diminta untuk menemani Hinata-sama minum teh," kata Kakashi mengalihkan matanya dari buku yang sedari tadi dibacanya.
"Hmm," kata Hinata pelan. Demamnya sudah turun tapi tubuhnya masih terasa lemah.
"Bagaimana Akatsuki, Kakashi-san?" kata Hinata mengalihkan pembicaraan. Sudah tiga hari Ia tidak masuk kantor.
"Uchiha-san bisa mengatasinya," kata Kakashi tenang.
"Sa-Sasuke-kun?" ucap Hinata bergetar. Ada yang berdetak kuat ketika Ia mengucapkan nama itu.
Hinata tidak masuk kantor selama tiga hari dan tidak memberi kabar apapun pada Sasuke. Terbersit pertanyaan di kepala Hinata, 'Apakah Sasuke tidak mengkhawatirkannya?' Seketika itu juga Hinata ingat permintaannya pada Ayahnya. Mungkin Otou-san sudah menyampaikan keinginannya untuk membatalkan pertunangan mereka pada keluarga Uchiha.
Hinata mengeleng-gelengkan kepala, yang membuat Kakashi bingung melihatnya. Mana mungkin Sasuke khawatir padanya, barangkali Sasuke tidak peduli atau malah senang karena dengan begitu Ia bisa dengan bebas bertemu dengan Sakura.
"Ada apa Hinata-sama?" tanya Kakashi yang heran karena Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya tadi.
'Tidak apa-apa Kakashi-san," kata Hinata cepat namun rona merah perlahan tapi pasti muncul di kedua pipinya.
Ponsel Kakashi yang ada di atas meja bergetar. Dilihatnya kontak yang ada di display ponsel tersebut,
Hiashi-sama calling...
"Moshi-mosh..ya... hm... baik, Hiashi-sama..." jawab Kakashi pada orang yang meneleponnya.
"Otou-san? Ada apa?" tanya Hinata ingin tahu ketika Kakashi mematikan percakapannya dengan Hiashi.
"Mungkin akan ada yang datang, Hinata-sama,"
Hinata menatap Kakashi curiga.
Mulut Hinata membuka hendak mengatakan sesuatu pada Kakashi namun detik berikutnya mereka berdua tersentak oleh deru mobil yang mengarah ke taman belakang kediaman Hyuuga. Hinata menanti dan menerka siapakah orang yang datang. Di lubuk hatinya Ia berharap 'orang itu' yang datang.
Terlihat mobil Range rover hitam berhenti di depan taman belakang. Dari cara parkirnya Kakashi tahu bahwa orang yang ada di dalam mobil itu tergesa-gesa, seperti ada yang dikejarnya. Ketika pintu depan mobil tersebut terbuka Kakashi melihat surai raven yang melawan gravitasi. Detik berikutnya Kakashi melihat wajah nona Hyuuga yang duduk disebelahnya memerah.
"Sa-Sasuke-kun," cekatnya. Hinata merasakan panas di wajahnya. Ia gelisah. Orang inikah yang dimaksud Kakashi?
Sasuke menatap lurus pada Hinata, seakan tidak ada apapun kecuali dirinya dan Hinata. Namun Sasuke harus sadar bahwa ada Hatake Kakashi di sana. Sebelum Sasuke mencapai Hinata pria jangkung itu telah lebih dahulu menghadang Sasuke dan menghalangi langkahnya menuju Hinata.
"Sasuke-san," panggil Kakashi sopan.
Sasuke mendengus sebal,
"Aku kesini bukan untuk bertemu denganmu, Hatake," ucap Sasuke tegas.
"Aku ada perlu dengan nonamu," kata Sasuke lagi.
Kakashi tertawa kecil, memandang geli pada Uchiha muda itu.
"Tapi aku diminta Hiashi-sama untuk menjaga nona. Aku takut ada orang jahat yang menculik nonaku," jawab Kakashi.
"..."
Wajah Sasuke tetap datar, namun ada kilatan di mata hitamnya. Kakashi tahu pria tersebut tidak senang dengan ucapan Kakashi walaupun begitu Kakashi tertawa lagi, kali ini lebih keras. Sedangkan kepala Hinata yang berada di belakang Kakashi mencoba mencari celah untuk melihat pria stoic berambut gelap yang mencarinya itu.
"Hinata," panggil Sasuke.
Hinata serasa membeku, disaat bersamaan Kakashi menggeser tubuhnya memberikan akses pada Hinata untuk memandang Sasuke, namun gadis itu kemudian menunduk tak berusaha memandang wajah tampan pemuda Uchiha.
"Ikut aku!" ucapnya menarik tangan Hinata.
Hinata merasakan ringan pada tubuhnya karena tarikan Sasuke. Ia ikuti pria itu kemudian menoleh ke arah Kakashi sejenak seolah meyakinkan dirinya bahwa Ia akan aman bersama Sasuke. Kemudian yang dilihat Hinata adalah senyum kecil di wajah Kakashi.
"Hati-hati," katanya pada Hinata masih dengan senyum kecil yang misterius.
Hinata mencelos. Apa yang akan terjadi padanya?
Sasuke membawa Hinata menyusuri koridor yang menghubungkan taman belakang dan rumah utama. Setelah yakin tidak ada yang melihat mereka Sasuke berhenti dan melepaskan genggamannya di tangan Hinata. Sedangkan Hinata sendiri entah sejak kapan air mata telah mengalir di pipinya.
"Jelaskan padaku, kenapa kau tiba-tiba membatalkan pertunangan ini?" tanya Sasuke tiba-tiba. Ia perlu tahu alasan Hinata secepatnya.
"..."
"Jawab aku, Hinata!" Sasuke tak lagi menyembunyikan wajah tenangnya seperti yang Ia tampilkan pada Kakashi.
"E-eto... A-aku," Hinata tidak bisa mengeluarkan kalimatnya namun air mata mengalir deras di pipinya. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara dengan Sasuke, bahkan saat ini sepatu Sasuke serasa lebih menarik daripada wajah pria itu.
"Apa ini karena Naruto?" tanya Sasuke lagi.
"Kau masih belum bisa melupakannya?"
Hinata tersentak, tapi terlalu takut memandang Sasuke. Wajahnya terus tertunduk.
"..."
Tidak ada hubungannya.
Seketika yang terdengar adalah teriakan Hinata kala Sasuke mendorong tubuhnya menempel ke dinding koridor. Sakit, itu yang Hinata rasakan. Kedua lengan Sasuke berada di samping kepalanya, membuatnya mau tak mau menatap Sasuke.
"Jawab aku!" perintah Sasuke tapi dengan suara lirih. Matanya memandang mata bulan pucat milik Hinata.
Hinata sebenarnya tidak ingin menjawab tapi Ia tahu Sasuke tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu jawaban dari Hinata, alasannya. Hinata takut mengakui alasan sebenarnya Ia membatalkan pertunangan mereka. Tapi sikap Sasuke yang seperti ini membuat Hinata bertanya-tanya, mengapa? Apa Sasuke khawatir? Tidak ingin ada pembatalan?
Tidak.
Hinata tahu diri. Dia ingat bahwa Ia tidak pernah ada dalam kisah Sasuke. Sasuke hanya orang yang akan berlalu dari hidupnya, seperti banyak orang lain yang pernah ditemuinya. Sasuke memiliki kisah sendiri bersama gadis sakura, bukan dirinya. Sasuke mungkin lebih baik bila tidak di sampingnya.
Hinata tidak ingin masalah ini diperpanjang lagi, Ia ingin berhenti.
Dan, Hinata mengangguk.
Menyetujui pernyatan Sasuke.
Mata Sasuke melebar, tidak menyangka jawaban itu yang dipilih Hinata. Perlahan ditariknya kedua tangannya yang mengunci Hinata. Ia mendecih lalu menjauhi Hinata.
"Sulitkah?" tanya Sasuke yang kini telah memunggungi Hinata.
"..."
Hinata tidak paham.
"Aku mencintaimu..."
"...sejak dulu"
Dan, Sasuke pergi.
.
.
.
.
.
.
-TBC-
Buat yang belum tahu ttg kado yang dimaksud Hinata, bisa baca ff 'Present' sidestory of SQUARE.
Next chap bakalan full ttg Sasuke. Jadi yahh, finally Sasuke confesses his feeling..(kemana aja lu saskeyyy!) :D
Thanks buat readers yang udah ripiu, follow, n fave.. Hontouni arigatoo..
See ya..
