WARNING. typo (^_^;)

Disclaimer. Masashi Kishimoto

Bagian IX

-Square-

.

.

.

Aku tak tahu mana yang lebih sulit...

Membuatmu mencintaiku atau membuatmu melupakannya...

.

.

.

Sasuke's POV

Flashback

.

.

Part I

Musim semi di hari penerimaan murid baru KHS. Masa-masa membosankan kembali lagi. Kuhela napasku sambil memandang pemandangan yang terus bergerak mundur. Jenuh, semua terlihat sama saja.

Mungkin masa senior high school akan membosankan seperti junior. Ada beberapa hal yang menyebabkan itu. Salah satunya penyebabnya adalah aku yang tidak diizinkan membawa mobil sendiri. Salahkan Itachi, karena menurut baka aniki itu aku masih anak-anak, dan Otou-san dengan mudahnya menerima saran Itachi seperti biasa, benar-benar membuatku kesal. Sehingga akhirnya aku harus terima duduk di jok belakang dengan Zabusa sebagai supirku. Saran Itachi lagi, aku tahu. Zabusa, asisten pribadi Otou-san jadi supirku? Dasar baka-aniki, dia kira aku mau apa? Membawa kabur mobil ini?

"Sebentar lagi sampai, Sasuke-san" kata Zabusa melirikku dari kaca depan.

Tidak perlu, pikirku. Aku tak tertarik.

Mataku kemudian menangkap sebuah mobil di depan kami yang tiba-tiba berhenti. Sebuah mobil porsche keluaran terbaru yang belum dijual di Jepang. Dari pintu belakang kulihat seorang gadis keluar sambil berbicara pada orang yang mengemudiakan mobil porsche tersebut. Kemudian Ia menutup pintu mobilnya dan berjalan buru-buru. Kuperhatikan pakaian yang digunakannya, seragam sekolah yang sama sepertiku. Langkahnya bergerak mundur dari pandangan mata kelam milikku. Kenapa dia berhenti disini? Bukankah KHS masih beberapa meter lagi? kuperhatikan wajah teduhnya dan rambut pendek yang berkibar menampilkan warna misterius yang menenangkan. Ungu, atau.. biru?

Acara penerimaan murid baru ditutup oleh kata sambutan dari murid yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian masuk, Uchiha Sasuke, aku. Bagian yang tidak perlu itu sukses membuatku menjadi fokus dari berbagai pasang mata yang melihat. Wajahku dan Uchiha adalah kombinasi yang menghasilkan magnet.

Setelah acara formal selesai semua anak kelas satu menuju lorong kelas dan melihat nama-nama yang tertulis di setiap pintu kelas, pembagian kelas, ritual biasa lainnya ketika menjadi murid baru. Aku tidak setuju untuk ikut berdesak-desakan dengan murid kelas satu lain, lebih menikmati berjalan lambat.

Brukk...

Seorang murid jatuh tak berapa jauh dari tempatku berdiri. Kulihat rambutnya yang pendek berwarna gelap, gadis yang sama dengan yang kulihat tadi pagi. Dia terjatuh karena segerombolan anak kelas satu lainnya yang berjalan cepat menuju kelas masing-masing.

Mungkin menyenangkan bila kubantu berdiri.

"Kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria di hadapan gadis itu. Rambutnya yang kuning aneh dengan mata biru menghampiri gadis itu, menawarkan tangannya untuk membantu gadis tersebut berdiri, lalu ia berikan senyum yang tidak mungkin kumiliki.

Rasa senang itu hilang.

Gadis itu memandang pria kuning sekilas, lalu cepat-cepat menunduk. Kulihat bibirnya bergerak-gerak tak bersuara. Mungkin ia ingin mengucapkan terima kasih.

"Ayo Naruto!" kata seorang lain di depan mereka, cukup mengagetkan gadis berambut pendek.

"Kita belum tahu kelas kita dimana!" katanya berbalik membuat rambut pinknya melambai.

Gadis berambut pendek itu menyingkir, memberikan akses pada pria kuning untuk lewat. Tanpa menoleh lagi, si kuning mengacuhkan usaha sia-sia gadis berambut pendek untuk berterima kasih.

Pemandangan itu terasa menarik di mataku, hingga tanpa sadar aku berjalan terus sampai melewati gadis yang masih menunduk sesekali mencuri pandang pada si kuning, bisa kulihat matanya yang beriris lavender dan wajahnya yang merah padam.

Mungkin dia sedang demam.

Aku anak kelas satu terakhir yang masuk ke kelas. Ketika tiba di depan pintu segera kuedarkan pandanganku ke segala arah, mengacuhkan tatapan menyebalkan dari beberapa orang, mencari tempat duduk yang kosong. Ada bangku kosong disebelah seorang yang berambut kuning. Aku mengenalinya sebagai pahlawan si gadis rambut pendek. Ia tersenyum lebar melihatku dan segera mengenalkan dirinya sebagai Namikaze Naruto. Aku hanya mengangguk menanggapi perkenalannya. Tidak terlalu berminat, sebenarnya.

Uchiha Sasuke, balasku sekenanya.

Perkenalan yang mungkin akan kusesali.

Setelah itu tak disangka saja, pria kuning yang bernama Naruto itu mengikrarkan dirinya sebagai temanku. Rasa tidak nyaman yang awalnya kurasakan setiap kali melihatnya perlahan menghilang. Dia berisik dan suka tertawa lebar, tak cocok denganku yang menghargai ketenangan. Tapi harus kuakui berkatnya masa SMA yang kukira membosankan kini tidak terbukti.

Seiring dengan dekatnya aku dan Naruto, untuk pertama kalinya aku membiarkan seorang gadis masuk dalam comfort zone-ku yang tak lebih lebar dari orang lain. Haruno Sakura, satu-satunya gadis yang bisa dekat denganku, berbicara, bahkan menyentuh. Aku membiarkannya memasuki daerah aman yang kuciptakan.

Kebersamaan kami bertiga terjalin begitu saja. Seperti susunan puzzle yang disatukan, membentuk cerita lain yang lebih berwarna dari hidupku yang biasa. Bersama mereka berarti harus beradaptasi dengan teriakan dan tawa, beradaptasi dengan warna-warna cerah yang mereka pancarkan. Aku bisa menyesuaikan diri dengan hal itu, bahkan cenderung tertarik, seperti petualangan baru yang tetapi, bagaimanapun juga aku terlahir dengan warna gelap.

Dibandingkan kebisingan aku lebih menghargai ketenangan. Dibandingkan pelangi, aku lebih menyukai mendung. Seperti bayangan, akan kelihatan ketika cahaya bersamanya, akan tetapi bayangan perlu menyembunyikan diri di balik pekatnya malam, karena gelap adalah tempatnya berasal.

.

.

Tepat semester baru kelas dua, Sakura menyatakan perasaannya padaku. Aku terkejut lebih kepada ia mengatakannya, bukan karena perasaannya. Gadis itu sepertinya tidak peduli dengan perasaan Naruto-Dobe yang jelas-jelas menaruh hati padanya. Ia mengatakannya ketika Naruto tidak bersama kami waktu itu . Tangannya menyentuh punggungku kemudian meremas kemeja yang kugunakan. Bisa kudengar isakannya.

Aku tidak suka ini.

"Kenapa?" tanyanya ketika aku tidak membalas pernyataan cintanya.

"A-apa Sasuke-kun menyukai orang lain?"

"..."

Ia makin terisak ketika aku tidak menjawab pertanyaannya.

"Aku tidak pe-pernah melihatmu dekat dengan gadis lain..."

Gadis lain?

Benar, tidak pernah ada gadis lain yang dekat denganku.

"Tidak" jawabku tenang, walaupun sebenarnya tidak.

"Bisakah...?" katanya terputus, berharap aku menangkap maksudnya. Dapat kurasakan cerah dari suaranya.

Aku tidak mencintainya...

"Aku akan membuatmu mencintaiku, Sasuke-kun," katanya.

Aku hanya diam, tidak memiliki alasan lain untuk menolaknya.

Ia gigih.

Dia salah satu orang yang kuizinkan masuk ke dalam hidupku.

Mungkin nanti aku bisa menerimanya.

.

.

.

Aku bertemu gadis berambut pendek itu lagi.

Gadis bermata lavender. Aku sudah tahu sebutan untuk warna rambutnya, indigo. Hal yang kemudian kusadari adalah wajah gadis itu selalu merah, terkadang hanya tipis tapi sering merah padam setiap kali aku melihatnya. Apa demannya belum sembuh juga?

Yang kusadari berikutnya adalah gadis itu sering memandangi Naruto. Wajahnya akan memerah seketika melihat Dobe. Apa yang dilihatnya dari si Dobe itu? Apa ia masih belum berhasil mengucapkan terima kasih karena Naruto menolongnya dulu?

Aku tidak tahu siapa namanya. Aneh memang, mengingat kami satu sekolah. Ia seperti sihir yang tiba-tiba muncul lalu sekejap menghilang dan setiap kali aku melihatnya, pandangannya selalu tertuju pada Naruto. Sesuatu yang kusadari kemudian adalah mataku selalu mencari-cari gadis bersurai indigo itu.

Dengan sedikit perjuangan, aku mengetahui Ia di kelas 2D. Namanya cantik, Hinata. Mengingatkanku pada matahari pagi yang hangat. Namun, setiap kali melihat wajahnya, yang terbayang adalah cahaya bulan di langit malam, seperti ada dua sisi dalam dirinya. Dua sisi yang selalu ada di sepanjang hari. Dia seperti teka-teki yang sulit, namun tidak bisa ditolak.

Untuk pertama kalinya, aku ingin mengenal seseorang.

.

.

Tanggal 24 Desember, musim dingin terakhir di masa SMA.

Aku, Naruto, dan Sakura pergi ke departement store yang berada di pusat perbelanjaan Tokyo, membeli kado natal. Aku tidak tertarik, tapi melihat Sakura yang bersemangat dan tarikan paksa dari Dobe, aku pun mengikuti mereka ke ke tempat itu. Menyebalkan, tapi aku tidak menyesal.

Aku bertemu lagi dengannya.

Bersama dengan temannya yang berambut pirang, mereka sedang asyik melihat-lihat pernak-pernik khas cewek. Aku berjalan menuju sisi lain dari rak yang penuh dengan benda feminim tersebut. Jarak kami hanya dibatasi oleh satu rak yang dipenuhi pernak-perik feminin lainnya. Suara mereka terdengar jelas oleh telingaku.

"Kau ingin aku belikan ini?" tanya gadis bersurai pirang itu padanya.

Samar kudengar suara tawanya yang ringan, lembut.

"Kalaupun ingin, aku tidak bisa memakainya, Ino-chan,"

Kenapa? Aku penasaran.

"Rambutku kan pendek, mana bisa pakai ikat rambut ini. Mungkin aku harus menunggu sampai tiga tahun lagi agar rambutku panjang dan bisa diikat dengan karet rambut cantik ini," katanya.

Tak terdengar suara gadis pirang itu. Di tengah keheningan yang tercipta, otakku memproses perbincangan kedua gadis itu, satu hal yang kuketahui bahwa gadis berponi itu menyukai hal sederhana.

"Kau ingin memanjangkan rambutmu?"

"Ya..."

Terlalu sederhana.

Setelah mereka berdua pergi, entah apa yang membawa kakiku menuju tempat kedua gadis itu sebelumnya, memandang benda yang dipegang gadis tadi. Apa menariknya hadiah natal seperti ini? Bukankah setiap gadis menginginkan benda-benda yang berkilau? Mungkin dia berbeda, ketika aku teringat kembali di suatu hari di musim semi, melihatnya terburu-buru keluar dari mobil mewahnya. Tidak ingin terlihat, tidak ingin mencolok.

"Hoi, Teme! Sudah ketemu?" kata Naruto mendekatiku, menyadarkanku dari lamunan.

"Apa?" ekspresinya heran melihatku yang terus memandang benda itu, hampir menyentuh.

"Sakura tidak akan suka benda itu, dia kan tomboy, Teme" kata Naruto.

Bukan.

"Lihat kesana saja," ajaknya, menarikku menjauh dari tempat itu.

Setelah mencari-cari sampai sejam, kami pun akhirnya menemukan benda-benda yang akan dihadiahkan sebagai kado natal. Sakura dan Naruto terlihat puas dengan hadiah pilihan mereka, tapi tidak denganku.

"Kenapa Sasuke-kun?" tanya Sakura, menyadari kegundahanku.

Mataku meraih sosok berambut indigo yang sedang berdiri di meja kasir. Ada dorongan kuat yang tak kukenal menarik kakiku untuk melangkah lagi ke dalam toko. Sebuah ikat rambut berwarna ungu pucat terlintas di kepalaku.

"Ada yang ketinggalan," kataku pada Naruto dan Sakura, mengacuhkan pandangan heran dari keduanya.

Saat itu aku yakin, aku tak lagi menjadi diriku.

.

.

.

Dua tahun setelah lulus SMA, tanpa terduga aku bertemu lagi dengannya.

Di sebuah ballroom hotel di London. Ternyata Ia bagian dari keluarga Hyuuga, putri sulung Hyuuga. Rambutnya kini telah mencapai bahu, jadi dia benar-benar ingin memanjangkan rambutnya, heh?

Hal yang paling kusesali adalah, mengapa aku baru mengetahuinya sekarang? Otou-san sering menyebut Hyuuga sebagai rekan bisnisnya di Akatsuki, bahkan kepala keluarga Hyuuga merupakan orang yang telah lama dikenal Tou-san, belum bisa dibilang teman atau sahabat, namun mereka sering melakukan kerjasama bisnis.

Perasaan senang itu datang lagi. Perasaan yang sama ketika aku ingin menolongnya yang terjatuh di koridor sekolah. Tidak ada Dobe disini hanya dia dan aku, namun terasa ada yang berbeda darinya. Kemana warna lavender indah di matanya? Matanya pucat seperti kedua laki-laki Hyuuga lain.

"Kau... gadis yang selalu memandangi Naruto, kan?"

Aku tidak tahu pembicaraaan apa yang tepat di awal. Hanya sesuatu yang berhubungan dengan Naruto terlintas di kepalaku. Otakku terasa tumpul melihatnya lagi, ada raut terkejut dan sedih di wajahnya ketika aku menyebut nama si Dobe itu. Tertegun, seharusnya aku tidak mengatakan itu.

Setelah bertemu dengan keluarga Hyuuga di ballroom hotel itu, Otou-san mengatakan bahwa Ia akan mengundang mereka lagi di kediaman kami di London. Tidak ada ekspresi di wajahku tapi hatiku bergemuruh. Menyenangkan rasanya bisa bertemu dengannya lagi. Otou-san hanya mengatakan itu lalu meninggalkanku dan Itachi. Ketika aku akan berbalik ke kamarku, Itachi tersenyum penuh arti kepadaku.

"Kau senang, Sasuke?" tanyanya menyeringai.

Aku hanya memandangnya sekilas tidak berniat menjawab pertanyaannya. Terkadang aku benci Itachi menjadi kakakku.

Keesokan harinya, tiga orang Hyuuga datang ke kediaman kami. Pertemuan malam itu hanya acara barbeque santai. Tapi bagiku tidak. Tentu saja karena kelakuan Itachi yang membuatku ingin mencincangnya saat itu juga. Ia sengaja menyebut-nyebut namaku di depan Hinata.

Semenjak itu, Hinata sering berkunjung ke rumah kami. Selama dua tahun ia hidup sendirian di London, tak heran ada raut bahagia di wajahnya setiap kali ia berkunjung. Dapat kurasakan kesepian yang melanda dirinya sebelumnya, seandainya aku tahu lebih awal kalau Ia juga kuliah di London, mungkin aku bisa sedikit menghiburnya.

Setiap kali datang, Hinata selalu mencari Itachi, Ya, dia lebih lepas berbicara dengan Itachi. Baka aniki itu memang lebih tahu menyenangkan wanita daripada aku yang cenderung pendiam. Akan tetapi, otakku dapat menangkap bahwa Itachi selalu membuat celah agar aku bisa dekat dengan Hinata. Ia sering sengaja mengundang Hinata, berjanji akan mengajaknya jalan-jalan. Ketika Hinata datang dengan wajah ceria, ia dengan tega mengatakan bahwa ada urusan penting yang harus dikerjakannya dan meninggalkan Hinata untukku, padaku.

Hinata bagiku seperti misteri yang tak terpecahkan. Ia terlihat lemah dari luar tapi aku bisa merasakan bahwa ia kuat dengan caranya sendiri. Bertahan dengan tekanan keluarga, melawan ketidaksukaannya pada bisnis. Aku bisa merasakannya, wajahnya masih memerah walau tak sama seperti saat Ia menatap Naruto dulu. Entah sejak kapan, hatiku ingin melindunginya.

Ia terlihat cangggung bersamaku. Terkadang ia memandangku, namun ketika kuarahkan mataku ke matanya, ia cepat-cepat menghindar. Butuh waktu untuknya nyaman bersamaku dan kebersamaan kami di Akatsuki mempercepat proses tersebut. Ia mulai terbuka padaku, menceritakan pengalamannya, dan membiarkan bibirnya melepas tawa, kepadaku. Terkadang Ia bertanya tentang teman-temanku sewaktu sekolah. Otak jeniusku dapat menangkap bahwa Ia sedang mencari tahu tentang seseorang di masa lalunya, sahabatku, Naruto.

Tidak tahu, kubilang.

Sampai kapan ia akan memikirkan si Dobe itu?

.

.

Otou-san berkunjung ke London di sela-sela jadwal rapatnya di Berlin dan Roma. Suasana makan malam yang biasanya hening terganggu oleh suara berat Otou-san yang tiba-tiba.

"Putri sulung Hyuuga akan menjadi bagian dari keluarga Uchiha," kata Otou-san tanpa menghentikan kegiatan makannnya, seolah-olah membaca berita di koran sore.

Kata-kata Otou-san tidak berpengaruh pada Itachi, ia hanya mengangguk, sedangkan sendok yang kugenggam telah terlepas beberapa saat yang lalu. Perkataan Otou-san yang tiba-tiba membuatku tersadar mengenai hal-hal yang terjadi sebelumnya, mulai dari perkenalan dengan keluarga Hyuuga di ballroom hotel, Akatsuki, dan sampai saat ini. Aku tersadar bahwa semuanya menuju satu titik temu. Penyatuan Hyuuga dan Uchiha. Pertanyaannya adalah siapa?

Menyadari tidak ada respon yang terdengar dari kedua putranya, Otou-san melayangkan pandangannya bergantian padaku dan Itachi. Ia menghela napas,

"Tapi aku masih belum tahu siapa diantara kalian yang akan menjadi bagian dari Hyuuga,"

Itachi tersenyum kecil, entah apa maksud dari senyumnya. Aku memandangnya dengan wajah datar seperti biasa, namun dapat kurasakan detakan cepat di dadaku. Seperti ada ribuan gelembung di aliran darahku, denyut cepat kurasakan di setiap nadiku. Ini tidak bagus! Peluang Itachi lebih besar.

"Kulihat Hinata lebih dekat denganmu, Itachi,"

Otou-san juga berpendapat sama.

"Ya, dia mem–"

"Apa Hinata tahu hal ini?"tanyaku memotong perkataan Itachi.

Otou-san terdiam sejenak, memalingkan wajah datarnya kepadaku.

"Kurasa Hinata belum tahu, Hiashi masih menunda untuk memberi tahu hal ini pada Hinata," kata Otou-san menjelaskan.

"Berarti Hinata belum tentu setuju?" tanyaku entah pada siapa.

Ia akan setuju, Hiashi yang akan menjaminnya," jelas Otou-san.

Itachi juga Otou-san kembali melanjutkan makannya, dan dalam diam aku berjanji akan menjadikan Hinata milikku. Namun, perasaan cemas muncul tak terduga, perasaan akan kehilangan. Tidak diragukan lagi, ada kemungkinan besar Hinata menolak. Gadis itu menyukai Naruto, bagaimana mungkin ia menikah dengan orang yang tidak dicintainya?

.

.

.

Di suatu musim dingin akhir tahun, Neji Hyuuga datang ke London memberitahukan bahwa Ia ingin membuat kejutan untuk ulang tahun Hinata. Itachi menyambut gembira rencana itu dan meminta kami semua untuk menyiapkan pesta kejutan itu. Sehari sebelum ulang tahun Hinata, Itachi mengajakku untuk membelikan sesuatu untuk Hinata.

"Kita bisa pergi bersama, Sasuke," katanya.

Sebelumnya aku akan mengiyakan ajakan Itachi, namun sesaat kemudian ada yang terlintas di benakku. Suatu benda yang kusimpan di laci meja kamarku di Tokyo. Sebuah ikat rambut berwarna ungu pucat. Kubeli tiga tahun yang lalu.

"Kenapa Sasuke? Kau sudah menyiapkan hadiah untuk Hinata?" tanya Itachi dengan ekspresi tenang yang menghanyutkan. Aku tidak ingin tertangkap basah sekarang.

"Ayo pergi, Nii-chan," kataku mengabaikan senyum lebar Itachi yang tercipta.

Ulang tahun Hinata dirayakan pada malam hari di tanggal 27 Desember. Ia bahagia. Senyum tak lepas dari wajah cantiknya. Ia buka satu-satu kado yang diberikan padanya, juga kado-kado yang sengaja dikirimkan langsung dari Jepang. Sebuah kotak berukuran sedang dari ayahnya dan bungkusan besar dari adik perempuannya, juga terselip sebuah kotak mungil berpita.

Kotak kecil itu menyembunyikan ikat rambut berwarna ungu pucat dengan garis-garis hitam serta bulu berwarna gading yang menambah kesan cantik pada benda mungil itu. Aku tahu, karena benda itu kubeli tiga tahun yang lalu, tergoda pada janjinya untuk membiarkan rambutnya panjang agar bisa ditempeli benda sederhana itu.

Wajahnya terkejut tapi terlihat senang.

Sayangnya, ia sangka kado itu dari temannya...

"Aku ingin telepon Ino-chan dulu," katanya seraya bangkit dari sofa empuk yang didudukinya.

"Aku ingin mengucapkan terima kasih atas kadonya,"

Terkadang, menunda kebenaran itu lebih bijak daripada membiarkannya menjadi rumit...

"Nanti saja, aku sudah lapar!" kubilang. Mataku memerintahnya untuk tetap duduk.

Ia terdiam, lalu dalam diam menyetujui usulku.

Maaf, mungkin belum saatnya kau tahu...

.

.

Sudah dini hari ketika kulangkahkan kakiku menuju ruang tengah tempat kami mengadakan pesta. Neji sudah kembali ke New York beberapa jam yang lalu dan menitipkan Hinata untuk menginap di rumah kami.

Saat memasuki ruang tengah yang masih penuh dengan sisa-sisa pesta, Mataku dikejutkan oleh sosok Hinata yang ada disana, tertidur dengan wajah polos di sofa. Tidak seharusnya ia tidur disini, pikirku. Kudekatkan tubuhku padanya, menikmati pemandangan indah yang tersaji di hadapanku. Mataku mengagumi segala yang ada pada dirinya, kemudian terpaku pada bagian lembut berwarna merah muda di wajahnya. Tanpa sadar wajahku kini telah mendekat pada wajah miliknya. Terkena gravitasi pada bibir ranum yang menggoda. Kusentuh bibirnya dengan bibirku, menyamakan temperatur diantara keduanya, menyatukan rasa manis miliknya di bibirku. Ia masih terlelap, tak mencegahku untuk berhenti.

Tanganku lalu meraih tubuhnya lebih dekat, memperdalam tindakan sepihak yang kulakukan. Ini harus dihentikan, namun tubuhku tak lagi mengenal otak.

"Ehm..."

Suara itu pelan namun dalam sekejap mampu menyadarkan tubuhku yang durhaka. Kulepaskan wajahku dari Hinata, memandang ke arah suara yang mengganggu. Uchiha Itachi berdiri dengan angkuh dan seringai. Menyadarkanku untuk tak menghindar lagi.

Aku tertangkap basah mencintai Hinata.

Yang terjadi berikutnya sesuai dengan rencana Itachi.

Otou-san setuju bahwa akulah yang akan menjadi bagian dari Hyuuga. Paman Hiashi juga tidak mempermasalahkan hal ini, ia lebih memikirkan persetujuan dari putrinya. Dan Hinata tidak menolak, dia sangat patuh pada ayahnya, memilih mengindahkan keinginannya sendiri. Terkadang aku merasa bahwa alasannya untuk berada di sisiku tidaklah kuat. Patuh pada ayahnya tidaklah mengikat Hinata lebih lama bersamaku. Hal yang bisa membuatnya tetap tinggal adalah hatinya yang harus kumiliki seutuhnya. Kekhawatiranku bertambah karena kutahu masih ada sosok pria lain dihatinya, Naruto.

Pertunangan kami diresmikan di Tokyo, permintaan dari Hyuuga.

.

.

.

.

Part II

Suatu perasaan asing yang hangat kuterima dengan lapang masuk ke dalam dadaku. Desiran darah terasa hidup ketika kuyakinkan bahwa yang terjadi hari itu adalah nyata. Hinata akan benar-benar menjadi milikku.

Di tempatku, tak lekang oleh ingatan akan wajahnya yang merona ketika tahu akulah yang akan mendampinginya, menemani hari-harinya.

"Sa-suke-kun," lirihnya hati-hati.

Suaranya yang lembut dan pipi merona cantik membuatku yakin bahwa Ia menerima semua yang disiapkan untuknya. Jadi, tidak perlu ada kata, kan?

Dapat kurasakan senyum bahagia darinya ketika tiga hari sebelum pertunangan, kami menaiki pesawat pribadi Uchiha dari London ke Tokyo. Duduk bersebelahan namun ia tak kunjung menoleh padaku. Malu adalah hal yang kusesali darinya. Namun, senyum tipis lepas begitu saja dari bibirku. Perasaan ini membuatku ringan sekaligus takut, Aku masih merasakan hal ini belum cukup. Sesuatu yang ada di Jepang bisa merubah apapun.

Aku memang tidak setuju penyatuan ini dilaksanakan di Jepang. Alasan utamaku adalah ketakutan yang selalu menyelinap seperti pengkondisian klasik. Jepang selalu mengingatkanku pada pandangan malu-malunya kepada Naruto. Tidak mungkin mencegah Naruto datang ke acara pertunangan, tapi mencegahnya bertemu Hinata adalah mungkin.

Namun, aku melupakan satu hal...

Sakura.

Ia menemuiku di ruang privasi lantai enam beberapa menit sebelum pertunanganku berlangsung. Mengungkapkan kerinduan dengan memelukku seerat yang dia bisa. Tubuhnya bergetar ketika menyebut namaku. Memang tidak semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya, namun satu pelukan mungkin bisa membuatnya mengerti.

Mungkin.

'Kenapa?'

'A-apa Sasuke-kun menyukai orang lain?'

'Aku tidak pe-pernah melihatmu dekat dengan gadis lain...'

'Bisakah...?'

Aku telah mencintai gadis lain...

.

.

Hinata tidak bertemu dengan Naruto ketika acara pertunangan berlangsung, tapi aku melihat sesuatu yang tidak biasa di wajahnya. Ia terlihat pucat dan lebih banyak menunduk. Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu. Tiba-tiba hal buruk terlintas di benakku, Ia berubah pikiran, tidak ingin ada pertunangan. Hal itu mungkin saja, mengingat Tokyo selalu membuatnya terkenang dengan orang-orang di masa lalunya. Sejak awal aku tahu pertunangan ini bukanlah ikatan yang kuat. Bayangan Ia akan meninggalkanku selalu berkelebat ketika tersadar bahwa hatinya belum kumiliki seutuhnya. Mungkin aku curang, mengikatnya dengan pertunangan.

"Sasuke-kun..." suaranya memanggilku setelah kusadarkan bahwa Ia telah lama menunduk.

"A-apa kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Apa maksudnya? Seharusnya aku yang bertanya kan?

Mengalihkan pembicaraan adalah yang kuinginkan saat ini. Menyapa tamu kemudian menjadi alasan yang kupilih untuk menghindarinya mengatakan hal yang selalu ada dipikiranku, hanya masalah waktu. Tergantung kemauannya menerimaku menggantikan pria lain yang sejak dulu ada di hatinya.

"Sasuke-kun, aku ingin bicara," katanya menghentikan pergerakanku, menarik ujung jas hitam yang kukenakan.

Sungguh, apabila pembicaraan itu berujung pada keinginannya untuk membatalkan pertunangan, bisa kupastikan bahwa akulah orang pertama yang akan menolaknya. Namun, matanya yang sendu membawaku menuntunnya menuju sudut ruang ballroom yang dihiasi bunga lavender beranting besar.

Setelah berada di sudut ruangan, dimana semua orang mungkin tidak memperhatikan, Hinata menatapku dengan pandangan yang sulit kuartikan. Belum sempat ia mengatakan hal yang ingin diutarakannya ketika sebuah suara seakan membelah dadaku.

"Hoii, Teme...!"

Hinata bagiku seperti hal berharga yang ingin kusimpan sendiri. Tidak ingin dilihat, terutama untuk orang yang tidak pernah memberi harapan padanya. Dengan gerakan spontan kudekatkan tubuhku ke Hinata, menutupi tubuhnya agar tak terlihat oleh orang yang dari dulu dipandanginya. Kutarik lengannya, menjauh dari langkah Naruto yang mendekat.

Hinata tidak boleh bertemu Naruto.

.

.

Waktu yang kupunya terlalu sempit untuk sekedar mengingatkan Hinata bahwa sekarang Ia adalah milikku. Dan seringnya sesuatu yang tak terduga datang tiba-tiba. Beberapa hari setelah pertunangan di Tokyo, aku harus segera kembali ke London menyelesaikan urusan yang tertunda dengan Akatsuki, sebelum akhirnya bergabung dengan Akatsuki di Jepang bersama Hinata.

Nagato – terlihat di London, salah satu direksi Akatsuki yang seharusnya berada di Jepang. Ia memandangku layaknya kawan lama dan mengatakan dengan santai bahwa Ia menyerahkan kursinya di Jepang pada adik sepupu kecilnya,

Namikaze Naruto.

Saat itu juga, aku langsung meminta Zabusa, menyiapkan jet pribadi Uchiha untuk terbang ke Jepang, mengindahkan urusan di London yang seharusnya kukerjakan. Setelah tiba di gedung Akatsuki, tanpa memedulikan baju kemeja yang tak rapi, dan dasi yang menggantung malas, aku berlari secepat mungkin menuju ruang pertemuan di lantai dua belas. Mencari sosok perempuan berambut indigo. Tapi terlambat, pertemuan mereka tak dapat lagi kucegah.

Hinata berdiri dengan mata yang menahan tangis, menatap pria yang menarik lengannya.

"Hinata!" panggilku.

Wajahku tetap datar, tapi hatiku bergemuruh hebat. Berani-beraninya Naruto menyentuh Hinata-ku.

Hinata berpaling ke arah suara yang memanggilnya. Ada ekspresi lega yang kudengar ketika Ia menyebut namaku. Naruto yang menyadari keberadaanku langsung melepaskan tangannya dari Hinata, bertanya basa-basi mengenai keberadaanku di Jepang. Bukankah sudah jelas? Mencegahmu bertemu dengan Hinata.

Naruto terlihat kesal dengan sikapku, tentu saja karena aku juga kesal dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Berkat Naruto, Hinata kembali pada sosoknya yang dulu, menunduk kemudian memandang malu-malu kepada Naruto, ditambah lagi sikap Naruto yang masih tidak menyadari keadaan. Hinata beringsut ke belakangku, mencoba mencari perlindungan dari sosok pria yang menyilaukan matanya. Hinata di dekatku tapi matanya menuju Naruto.

Jadi, keberadaanku selama ini tidak ada arti, ya?

"Kau tidak memberi tahuku kalau kau di Akatsuki," kataku pada Naruto.

Naruto hanya menjawab pertanyaanku dengan cengiran yang sama seperti sepupunya, Nagato ketika kutanya pertanyaan yang persis sama. Tidak tahukah, bahwa aku menginginkanmu pergi dari sini?

"Hei, bagaimana kalau kita makan siang bersama?" kata Naruto akhirnya menyerah pada keheningan yang menjelajah diantara kami bertiga.

Hanya bertiga mungkin akan membuatku terpaksa menikmati pemandangan yang tak kuinginkan. Butuh sesuatu untuk mengalihkan pandangan Hinata dari Naruto. Hinata harus sadar bahwa ia tidak bisa mengharapkan Naruto selamanya. Dan aku ingat seseorang.

"Boleh saja..."

"...tapi, ajak juga Sakura..."

Mungkin aku pria jahat.

.

.

Semua terasa asing ketika kami berempat makan bersama untuk yang pertama kalinya. Hinata lebih banyak menunduk sedangkan ada aroma canggung yang menguar dari Sakura dan Naruto. Namun Naruto nampaknya lebih bisa mengalihkan perasaan itu dengan membuat dirinya paling berisik. Sudah menjadi keahliannya.

Ada sebuah momen dimana Naruto memperlihatkan keakrabannya dengan Sakura. Itu wajar mengingat mereka telah bersama sejak lama ditambah lagi perasaan Naruto pada Sakura yang juga tidak berubah sejak dulu.

"Kalian makin akrab saja," kataku pada mereka, mencoba menyadarkan Hinata bahwa ia tidak mungkin mengharapkan Naruto lagi. Aku disini, tidak bisakah kau lihat?

Mata Hinata memandang sedih ke arah Naruto dan Sakura, mencerna sesuatu diantara keduanya. Namun suara Sakura yang menyebut namaku segera menyadarkannya untuk kembali menunduk. Sakura menggeram, memandang tajam ke arahku sembari meyiratkan luka di wajahnya.

Segiempat ini terlalu rumit.

Aku menyetujui permintaan Sakura untuk bertemu lagi ketika ia mengirimkan sebuah pesan ke ponselku. Kami lalu bertemu di dalam mobilku yang masih terparkir di basement gedung Akatsuki. Di dalam mobil, hanya keheningan yang tercipta ketika kukatakan kenyataan yang sebenarnya, bahwa Hinata mencintai Naruto. Sakura terdiam cukup lama sebelum ia keluar dari mobil. Dari kerut di dahinya kulihat ekspresi terkejut dan tekad yang sama kuatnya. Seringnya, kegigihan Sakura buta pada kenyataan. Ia masih belum menyadarinya. Aku yang mencintai orang lain.

Setelah bertemu Sakura, kediaman Hyuuga adalah tempat yang ingin segera kutuju. Menemui kepala keluarga Hyuuga menjadi tindakan cepat yang kupilih. Percepatan menuju pernikahan harus dibicarakan sekarang juga. Namun sebelumnya, aku menghubungi Otou-san untuk mendukung usulanku. Otou-san belakangan ini cukup mudah bekerja sama terutama mengenai Hinata. Ia setuju ketika kupakai namanya sebagai orang yang meminta pernyatuan Uchiha dan Hyuuga dipercepat.

Ketika makan malam di kediaman Hyuuga, paman Hiashi menyampaikan hal itu pada Hinata, Ia terkejut, tentu saja. Bahkan hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia memandangku seolah meminta alasan, namun aku tidak ingin memandangnya saat ini. Tolong, jangan menolak, harapku.

Beberapa hari setelah itu, aku kembali berkunjung ke kediaman Hyuuga dan menjemput Hinata untuk berangkat ke kantor bersama. Kupikir ada baiknya kalau aku lebih sering bersamanya selama Naruto juga ada di Akatsuki. Hinata lebih banyak menunduk, tidak berusaha menciptakan pembicaraan seperti yang biasa ia lakukan. Semenjak Hinata bertemu lagi dengan Naruto, ia lebih banyak berbicara dalam diam. Kutahu masih sulit baginya untuk membuat pilihan. Tapi bukankah pilihannya hanya satu, bersamaku. Naruto tidak mungkin memberikan kebahagian padanya. Pria itu tidak mungkin membalas perasaannya, karena telah ada seseorang di hatinya. Bisakah kau berikan hatimu padaku, Hinata?

Setelah sampai di Akatsuki, kami menaiki lift VIP yang khusus untuk petinggi Akatsuki. Ketika akan masuk ke dalam lift, Hinata kehilangan keseimbangan pada kakinya. Dengan sigap aku menangkap tubuhnya. Lalu terkena magnet miliknya lagi, tanpa kusadari. Bagian dari dirinya selalu menarikku untuk mendekat, layaknya dua kutub yang berlawanan. Keegoisan membuatku menahannya bersamaku sedang aku tahu dimana hatinya tergantung. Lengan yang melingkari tubuhnya adalah tanda bahwa aku tidak ingin melepasnya. Rengkuhan itu hanya sebentar ketika pintu lift terbuka lagi menyambut tamunya.

Bisakah kau rasakan, Hinata?

.

.

Kupikir semuanya akan berlalu begitu saja, seperti musim dingin yang segera berganti menjadi musim semi yang hangat. Memberikan kepastian akan hubungan yang tak kuat. Begitu pula pertemuan dengan Naruto juga harapan dari Sakura. Gadis bersuarai merah muda itu memintaku untuk bertemu dengannya lagi. Kukira ia mengerti diriku. Namun kabar yang kuterima darinya membuatku sadar bahwa cinta itu bukan tentang ikatan yang terlihat dari luar, namun hati yang menerima. Sakura memintaku untuk yang kesekian kalinya, memberi kesempatan pada hatiku untuk menerima dirinya.

"Hyuuga-san menemuiku,"

"Dia mengatakan akan memutuskan pertunangan denganmu,"

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku ketika Sakura mengatakan hal itu, namun tubuhku serasa kaku merespon kalimat yang sangat tidak kuinginkan itu. Segera kulangkahkan kakiku menjauh dari tubuh dekat Sakura. Sebelum jarinya meraih lenganku, deringan ponsel yang kutahu dari Otou-san, mengabarkan hal yang persis sama dengan yang dikatakan Sakura.

"Sasuke-kun!" Sakura mencoba menghentikan langkah cepatku dengan tenaganya yang telah lemah karena air mata. Sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi padaku.

Kali ini air matanya tidak lagi membuatku ragu. Aku, dari dulu telah mencintai gadis lain, bahkan sebelum Sakura menyatakan perasaannya padaku.

Kali ini, biarkan aku mengatakan hal yang seharusnya telah lama kusampaikan,

.

.

Aku mencintaimu sejak dulu...

Hinata...

.

.

.

.

Sasuke's POV End

Flashback End

-TBC-

well, saya telat update..
gomen :(
cukup susah buat ngebujuk Sasuke mengakui perasaannya. :D
Thanks for read, review,fav n follow..
Feel apreciated..

Last, how is it?