Disclaimer. Masashi Kishimoto

. typo

Bagian X

-Hello for Ending-

.

.

.

.

"Sulitkah?"

"..."

"Aku mencintaimu..."

"...sejak dulu"

.

.

Dan, Sasuke pergi.

.

.

Hinata kembali merasakan nyawa di tubuhnya ketika punggung Sasuke tidak terlihat lagi dari jarak pandangnya. Otaknya mencerna satu-satu kalimat Sasuke yang menyambar bagai kilat, masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kakinya terasa berat hanya untuk melangkah, namun perlahan-lahan Hinata mulai mengerti, memahami setiapa inci yang terjadi dalam kisahnya. Ya, ternyata ia ada dalamnya, bersama Sasuke, kisahnya terpatri di sana.

Sasuke menyatakan bahwa ia memiliki perasaan pada Hinata bahkan sejak dulu, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Hinata sebelumnya. Selama ini Hinata beranggapan bahwa ia tidak memiliki kisah cinta. Ia hanya menjadi penonton, menatap punggung pria yang dicintainya. Tapi kini semuanya jelas, bahwa selama ia menatap punggung Naruto, ada pria lain yang menanti agar ia berbalik dan mengetahui ada pria lain yang telah menunggunya.

Hinata dulu selalu berpikir bahwa Sasuke mencintai gadis lain, tidak menginginkan pertunangan dengan dirinya. Namun sekarang ia menyadari,

Sasuke menantinya.

Di tengah kesadaran yang kian nyata Hinata mulai mencari sosok yang hilang beberapa saat yang lalu, sosok yang berarti dalam hidupnya.

"Sasuke-kun!"

.

.

Sasuke menyusuri koridor panjang yang menghubungkan rumah utama keluarga Hyuuga dengan taman belakang yang dipenuhi kuncup bunga. Banyak yang berkelebat di kepalanya menuntut untuk diselesaikan namun ia hanya mempercepat langkah kakinya, ingin segera keluar dari semua yang membuat sesak. Sasuke sudah tahu, bahkan sejak awal ia sudah mengantisipasi segalanya, namun semuanya terasa berbeda dan asing ketika ia tiba pada waktunya, Hinata memilih tidak melupakan Naruto.

Warna hijau memanjakan mata Sasuke ketika ia telah sampai di taman bunga Hyuuga. Di tengah warna hijau yang menenangkan, ia hela napasnya agar sesak yang ada di dadanya berkurang, sedikit. Taman hijau indah nampaknya tidak bisa melenakan langkah dan mata Sasuke. Pria raven itu setia untuk berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di seberang taman. Setelah sampai di depan mobilnya, ia dikejutkan pada deru mobil lain yang menuju ke arah taman. Setahunya, hanya orang-orang tertentu yang bisa langsung masuk ke taman Hyuuga.

Mobil itu berwarna putih mengkilap dan Sasuke tidak mengenali pemilik mobil itu. Namun untuk apa peduli? Bukankah Hyuuga sudah berlalu dari kehidupannya? Meninggalkannya.

Sasuke masih terpaku di depan mobilnya ketika mobil putih itu berhenti tepat di dekat mobil hitamnya, lalu memunculkan beberapa orang yang menjadi penumpang.

Hyuuga Hiashi.

Sasuke berkedip sekali.

Uchiha Fugaku.

Sasuke berkedip sekali lagi, ingin tahu.

Ia melihat segala pergerakan sosok pria yang begitu dikenalnya turun dari mobil dan bergabung dengan Hyuuga Hiashi, pria itu kemudian menyadari ada sosok lain disana lalu seakan terkejut dengan kehadiran Sasuke.

Kebersamaan Hiashi dan Fugaku mungkin terlihat biasa bagi orang lain, namun tidak bagi Sasuke. Ia merasa terkhianati oleh Ayahnya yang dengan santainya masih bisa berbincang dengan Hyuuga Hiashi, pria yang baru saja memisahkan dirinya dengan tunangannya, Hinata. Walaupun begitu, pemandangan ganjil bagi matanya itu tak bisa membuat langkah kaki Sasuke berhenti. Melarikan diri dari tempat itu merupakan pilihan yang menarik baginya, segera ia buka pintu mobil miliknya.

"Kau mau kemana Sasuke?' tanya Fugaku yang menyadari pergerakan Sasuke.

"Sasuke-san, nona Hinata dimana?" tanya seseorang yang tiba-tiba bergabung dengan kepala keluarga Hyuuga dan Uchiha.

Hatake Kakshi muncul sebagai perusak suasana dingin yang Sasuke ciptakan.

Pertanyaan itu polos, namun terdengar seperti sindiran di telinganya. Hatinya belajar sensitif hanya karena mendengar nama putri Hyuuga itu.

"Kau belum bertemu Hinata?" tanya Fugaku curiga.

Terpojok adalah perasaaan yang didera Sasuke saat pertanyaan demi pertanyaan ditujukan padanya. Hei, ia korban disini.

"Aku buru-buru," kata Sasuke pada akhirnya. Tangannya dengan cepat meraih pintu mobil hitamnya lalu mulai menghidupkan mesinnya.

Kelakuan Sasuke tersebut membuat derajat emosi Fugaku naik seketika. Ia melirik Hiashi, seolah membujuk pria Hyuuga itu memaklumi sikap keras Sasuke. Sedangkan Hiashi sendiri tanpa dimintapun agaknya telah lebih dahulu memaklumi sikap Sasuke. Ia hanya mengangguk membalas tatapan membujuk dari Fugaku.

"Sepertinya mereka tidak 'bertemu', Hiashi-sama, Uchiha-sama," ucap Kakashi di antara kedua pria datar tersebut.

Ucapan Kakashi itu menyadarkan Hiashi dan Fugaku dengan apa yang telah terjadi pada anak mereka. Niat awal keduanya adalah memastikan bahwa Sasuke dan Hinata telah menemukan kesalahpahaman yang terjadi dan memulai cerita baru diantara mereka. Namun kepergian Sasuke yang terburu-buru serta ketidakhadiran Hinata menyadarkan mereka keduanya kesalahpahaman itu tidak terselesaikan.

"...-Kun!" terdengar suara sayup dari arah koridor panjang membuat para pria berhenti sejenak, lalu mulai mencari ke arah suara. Kecuali, si Uchiha muda.

"SASUKE-KUN...!" suara itu makin jelas, suara Hinata.

Uchiha Fugaku yang mendengar hal itu segera melangkahkan kakinya menuju Uchiha muda yang telah bersiap menjalankan mobilnya, tahu bahwa ia mungkin bisa memberi kesempatan pada kedua anak muda itu untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada. Namun tidak sampai tiga langkah, kakinya terhenti akibat tarikan pada lengannya.

"Biarkan mereka menyelesaikannya," kata pria pemilik mata bulan pucat.

Fugaku menatap mata pucat Hiashi tajam, namun langkahnya yang berhenti menandakan bahwa Ia menyetujui pendapat kepala keluarga Hyuuga tersebut. Bagi Fugaku yang menghargai kebenaran dan kecepatan, ketenangan Hiashi merupakan hal baru yang masih belum bisa diterimanya. Terkadang ia berpikir bahwa sifat mereka yang bertolak belakang ini dapat memicu kesalahpahaman. Kesalahpahaman yang hanya bisa diselesaikan dengan kata. Sayangnya, mereka adalah keluarga elit yang kurang menghargai fungi mulut untuk berbicara.

Akan tetapi Fugaku melupakan satu hal, diantara mereka ada yang bukan Hyuuga ataupun Uchiha. Kakashi berdiri dengan nama Hatake. Bagi orang cerdas seperti Kakashi, tidak butuh waktu lama untuk menyadari situasi yang terjadi. Bagi pria yang lebih berpengalaman dari Sasuke, Kakashi tahu pasti bahwa sesuatu yang terjadi diantara mereka perlu diluruskan daripada hanya dibiarkan.

Kakashi berdiri menghalangi laju mobil Sasuke. Tidak seperti pahlawan yang berdiri di tengah jalan dengan tangan yang direntangkan, Kakashi hanya memegang ujung kap mobil Sasuke dengan sikap cueknya yang biasa. Sasuke yang melihat ulah Kakashi otomatis kesal. Hari ini Kakashi sudah beberapa kali menyulut emosinya. Mata hitam Sasuke menatap tajam ke mata kakashi, namun gerakan kepala Kakashi yang menunjuk arah koridor membuat Sasuke otomatis melepas pandangan tajamnya pada pria itu. Koridor yang dilihat Sasuke perlahan tapi pasti memunculkan seorang gadis yang tengah berlari dengan surai indigo yang melambai.

Seketika gemuruh menggetarkan tubuh Sasuke.

.

.

Hinata mengatur napasnya ketika ia berada di ujung taman, bergabung bersama ayahnya dan Fugaku, sedangkan pria yang dipanggilnya, Sasuke masih setia di dalam mobilnya menatap Hinata dengan padangan ingin tahu yang tidak biasa. Dari matanya Sasuke melihat wajah Hinata yang memerah karena berlari dan rona merah itu pun kian bertambah karena suatu bisikan yang datang dari Fugaku Uchiha yang tak lain adalah ayah Sasuke.

Gemuruh itu semakin menggetarkan hati Sasuke, bisikan Fugaku pada Hinata seperti dorongan tak kasat mata yang membuatnya perlahan membuka pintu mobilnya, walaupun masih ada keraguan dari getaran di tangannya. Hinata yang melihat pergerakan Sasuke seolah mendapat kejutan listrik yang membuat hatinya ikut bergemuruh. Mata mereka saling pandang ketika kaki seolah berjalan sendiri, mendekat.

Para orang tua ditambah pria Hatake perlahan-lahan menghilang dari panggung yang seakan tercipta dari kaki yang semakin rindu untuk bertemu.

"Mari kita lanjutkan minum teh," kata Hiashi pada udara hampa di depannya, diikuti anggukan setuju dari Fugaku dan Kakashi. Mereka pergi seolah pahlawan yang memberikan udara segar pada tokoh utama.

Kaki Hinata berhenti tepat dua meter dari Sasuke. Ia kembali mengatur napasnya sedangkan Sasuke masih setia berdiri di tempatnya. Menunggu.

Setelah dirasa napasnya mulai teratur, Hinata mendongak lalu menatap mata hitam Sasuke dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia berusaha mengeluarkan suara namun lidahnya terasa kelu dan bibirnya bergetar, tidak ada kata yang keluar darinya. Sebagai gantinya, air mata sudah dulu jatuh tanpa bisa dihentikannya.

Sesak.

"Sa-suke-kun..." panggilnya.

"S-sasu-k-kun..." Hinata mulai terisak.

"A-Aku..."

Rasanya semua perasaannya terlalu penuh sehingga sangat sulit baginya menumpahkan hal yang ia rasakan selama ini. Terlalu banyak rasa, terlalu banyak pertanyaan namun segalanya terasa cukup hanya dengan memanggil nama Sasuke berulang-ulang.

Disisi lain, Sasuke masih ragu dengan apa yang terjadi dan mengapa Hinata berdiri dengan isak tangis dihadapannya. Ada perasaan senang yang membuncah tatkala melihat Hinata yang masih terisak memanggil namanya juga ada rasa takut bahwa tangis itu tidak ditujukan untuknya. Dengan perlahan dan hati-hati Sasuke mendekati Hinata membawa tangannya menuju dagu gadis Hyuuga itu. Ketika Hinata mendongak dan mata mereka bertemu, saat itulah Sasuke paham bahwa semuanya sama, perasaannya juga Hinata. Mereka tidak saling bicara namun untaian kata seakan tercermin dari mata yang menatap. Seakan tak cukup, Sasuke membawa tubuh Hinata ke pelukannya.

"Aku mencintai Sasuke-kun..."

Akhir yang diharapkan Sasuke...

.

.

.

.

"Kau sudah menerimanya?"

Sakura mendongak pada arah suara yang menyapa telinganya. Ia berikan senyum hampa pada pria tersebut lalu kembali memperhatikan benda berwarna hitam dengan gradasi ungu yang sedari tadi ditatapnya.

"Hm..." dengusnya. Tak berminat menjawab pertanyaan dari dari pria tersebut.

Pria yang tak lain adalah Namikaze Naruto itu kemudian duduk menghadap pada gadis bersurai merah muda tersebut. Tangannya yang kekar dan panjang merampas benda yang sedari tadi dipandangi Sakura lalu meletakkannya di meja yang menjadi perantara keduanya. Sakura yang terkejut dengan gerakan Naruto segera memberikan pandangan tidak suka pada pria itu, namun tatapan Naruto yang seolah menembus hatinya membuat ekspresi kesal di wajahnya perlahan melunak bahkan sendu.

"Sedari awal aku memang tidak bisa mendapatkan hati Sasuke-kun,"

"..."

Tidak ada jawaban dari Naruto, ia hanya menunggu Sakura melanjutkan ceritanya.

"Aku selalu percaya diri bahwa aku adalah satu-satunya gadis yang dekat dengannya. Aku yakin bisa mendapatkan hatinya walaupun kutahu ia hanya menganggapku sebagai sahabat. Kupikir perasaannya bisa berubah," Sakura berhenti sejenak lalu mendesah.

"Tapi, ternyata..."

"Mungkin kau tidak memperhatikan Sakura-chan, tatapan Sasuke berbeda pada Hinata-chan." kata Naruto menambahkan.

Sakura terdiam kemudian mengangguk lemah, ia pun sebenarnya tahu hal itu, akan tetapi ia berusaha mengabaikannya. Ia menyadarinya ketika mereka berempat makan bersama untuk yang pertama kalinya. Ia sempat memperhatikan raut wajah datar Sasuke ketika bersama Hinata. Lalu ketika ia mengatakan pada Sasuke bahwa Hinata ingin membatalkan pertunangan mereka. Sakura bersumpah, baru pertama kali ia melihat ekspresi marah dan sedih di wajah Sasuke karena seorang gadis. Saat itu Sakura sadar bahwa Sasuke benar-benar mencintai Hinata. Ya, bagi orang yang tidak begitu mengenal Sasuke tentunya tidak bisa membedakan ekspresi yang tercipta pada wajah datarnya. Namun bagi Sakura dan Naruto yang telah mengenal Sasuke sejak lama tahu betul bahwa ada yang berbeda dari sahabat mereka itu.

"Kau akan datang kan?" tanya Naruto pada Sakura. Mencoba menghilangkan rona sedih di wajah gadis itu. Ia tahu Sakura masih kecewa, namun ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihannya.

Sakura menggeleng, namun senyum tercipta di bibirnya. Ya, ia harus tegar.

"Untuk apa aku datang ke pernikahan pria yang tidak menghargai pesonaku!" katanya dengan tangan di pinggang, memperlihatkan ekspresi tidak senang.

Naruto terkejut seketika melihat ekspresi Sakura. Rasanya sudah lama ia tidak melihat Sakura yang galak seperti ini. Ada rasa kagum sekaligus takut melihat sosok Sakura yang seperti itu. mengingatkannya pada masa SMA-nya yang penuh dengan teriakan dan pukulan Sakura padanya.

"Aku ada pasien hari ini, ayo pergi Naruto!" kata Sakura sembari mengambil minumnya lalu menghabiskannya dalam sekali tegukan.

Naruto yang melihat Sakura seperti itu, hanya mengangguk canggung lalu mengikuti gadis itu pergi dari taman tempat mereka bertemu.

Bunga-bunga bermekaran, burung-burung bernyanyi gembira menyambut kehadiran musim semi yang hangat. Daun-daun mulai tumbuh dari ranting-ranting pohon kurus menciptakan warna ceria yang indah. Hei, tak lupa bunga Sakura yang mulai mekar. Walaupun harus melewati musim dingin yang membuat beku, Naruto yakin musim semi tahun ini akan berbeda. Perasaan kecewa dan sedih akan digantikan oleh perasaan baru yang lebih indah dari sebelumnya. Ya, ia yakin pasti akan ada kebahagiaan pada setiap akhir cerita.

"Tunggu Sakura-chaaann...!"

"Tidak menyangka mereka akan menikah ya, mengingat hal-hal yang baru terjadi," kata Naruto ketika mencapai Sakura.

Sakura memandang penuh tanya pada pada pria berambut kuning jabrik itu,

"Apa?"

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa Hinata-chan menyukai orang lain, aku penasaran dengan nasib pria itu," kata Naruto terlihat geli.

Sakura terbelalak. Benar, ada satu hal penting yang belum diketahui Naruto sedangkan orang lain mengetahuinya. Agaknya sedikit keterlaluan memberi tahu Naruto namun Sakura tiba-tiba merasakan perasaan senang kalau ia memberi tahu Naruto hal yang tidak diketahuinya sedang orang lain tahu.

"Kau ingin kuberitahu sebuah rahasia, Naruto?" kata Sakura dengan pandangan yang sedikit horor.

"A-Apa?" tanya Naruto hati-hati.

"Tentang orang yang disukai Hyuuga-san, kau benar-benar tidak tahu siapa orangnya?" tanya Sakura lagi.

"Beritahu aku," katanya tak sabar.

"Dia pria payah yang tidak peka juga agak bodoh," kata Sakura seenaknya.

'Siapa, siapa?" tanya Naruto semakin tidak sabar.

"Kau, BODOH!" kata Sakura sambil memukulkan benda berwarna hitam bergradasi ungu pucat itu ke kepala Naruto, pita emasnya lepas di kepala Naruto.

"Aku bersyukur Hyuuga-san melupakanmu. Rasanya percuma mencintai orang yang tidak peka juga bodoh," kata Sakura sambil berlalu.

Perlu beberapa detik bagi Naruto untuk mencerna perkataaan Sakura. Namun perlahan tapi pasti ia mulai menyadarinya, entah kebodohannya atau ketidaktahuannya. Memorinya berputar pada pertemuannya beberapa waktu yang lalu dengan Hinata, meminta gadis itu untuk melupakan pria yang disukainya dan tetap bersama Sasuke.

"Kau tahu siapa orang yang kusukai?"

"Aku tidak tahu, dan tidak ingin tahu tentang orang itu..."

'Kalau Teme tahu, aku mungkin dibunuh,'

.

.

.

"Jadi dia belum mengatakannya juga?"

Hinata hanya menggeleng pelan karena pertanyaan yang diajukan padanya itu.

"Kau harus paksa dia, Hinata. Kalau tidak, sampai matipun ia tidak akan mengatakannya!" kata pria berambut hitam panjang pada Hinata.

Hinata yang telah mendengar ucapan itu beberapa kali hanya bisa menggeleng sekali lagi, kali ini diikuti rona tipis yang kian kentara. Ia meremas-remas jarinya sendiri, merasakan perasaan gugup yang tak hilang sejak tadi juga perasaan malu setiap kali mengingat bagaimana ia berusaha mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tidak juga dijawab oleh seseorang yang dicintainya.

"Sasuke-kun sepertinya tidak suka kalau aku menanyakanya, Itachi-nii."

Itachi hanya mendengus menanggapi jawaban Hinata, calon istri adiknya. Terkadang ia merasa adiknya itu tidak cocok dengan gadis pemalu yang tidak suka memaksa seperti Hinata. Menurutnya, Sasuke lebih cocok dengan gadis agresif yang suka menggoda. Tapi, hati tidak bisa dipaksa, kan...

"Dia hanya malu, Hinata." kata Itachi sebal.

Tapi, bukankah tidak ada kata malu dalam kamus seorang Uchiha Sasuke?

Kalau dikata malu, sebenarnya Hinata-lah yang malu. Ia selalu merasa gugup setiap kali bertemu dengan Sasuke, kemudian Hinata selalu dipaksa-paksa oleh Itachi bahkan Neji kakak sepupunya untuk menanyakan tentang perasaan Sasuke pada dirinya, lalu ketika ia menanyakannya dengan susah payah menahan gugup, Sasuke dengan cuek tidak menjawab pertanyaan itu.

Yang Hinata ketahui, Sasuke telah menyukai dirinya sejak dulu, namun hanya sebatas itu saja. Mengenai mengapa dan bagaimana-nya Hinata tidak tahu sama sekali. Tidak hanya Itachi dan Neji yang penasaran, Hinata sebenarnya juga ingin tahu, akan tetapi sang tersangka tidak juga mau membuka suara.

"Sudah waktunya, Hinata."

Hyuuga Neji berdiri dengan setelan jas resmi berwarna hitam di ambang pintu, menginterupsi percakapan Hinata dan Itachi.

Hinata yang terkejut dengan kehadiran Neji kemudian dengan kikuk berdiri dari tempat duduknya. Namun gerakannya yang ceroboh membuatnya menginjak ujung gaun putih yang dikenakannya sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Untungnya, ada Itachi yang siap menyangga tubuhnya.

"Ma-maaf Itachi-nii" kata Hinata malu.

"Hm.. hati-hatilah, ini hari penting kan?" kata Itachi seraya menuntun Hinata keluar dari ruangan itu, menuju Neji yang telah menunggu mereka berdua.

"Hiashi ji-san sudah menunggu di sana," kata Neji ketika mereka bertiga berjalan menuju tempat yang dituju.

Hinata hanya mengangguk pada Neji. Hari ini ia sangat gugup, namun kegugupan itu membuatnya tidak bisa berhenti membuat senyum. Sebentar lagi, ya sebentar lagi...

"Hinata, pastikan kau memaksa anak itu untuk mengatakannya," kata Itachi setengah berbisik di telinga Hinata hingga membuat gadis itu sedikit terlonjak.

"Kalau ia tidak mau, katakan bahwa kau tidak akan menikah dengannya," kata Itachi lagi dengan seringai tipis.

Rona merah di wajah Hinata membalas seringai dari Itachi.

Mereka tiba di belakang ballroom. Di sana sudah menanti sosok lelaki madya dengan setelan jas resmi yang menawan. Ketika menyadari kehadiran Hinata ia menampilkan senyum yang belum pernah dilihat Hinata sebelumnya. Senyum itu menyiratkan kebahagiaan dan kelegaan di saat yang sama. Di samping pria itu berdiri seorang gadis yang mirip dengannya melambaikan tangannya pada Hinata dengan senyum yang lebih cerah dari matahari.

"Selamat, Onee-chan!" kata Hanabi masih dengan senyum lebar.

"Kau siap Hinata?' kata pria madya yang tak lain adalah Hyuuga Hiashi.

"Ya, Otou-san," Hinata menyambut uluran tangan ayahnya. Membiarkan ayahnya membawanya kepada pria yang akan bertanggung jawab atas dirinya kelak. Ada kesedihan di mata Hiashi saat membawa putri sulungnya pada pria yang telah menunggu di balik tirai, namun ia yakin ini juga merupakan kebahagiaannya untuk putrinya. Dalam hati Hiashi berdo'a agar putrinya selalu diberikan kebahagiaan dalam hidupnya kelak.

"Sasuke sudah menantimu..."

.

.

.

Pesta pernikahan pasangan Uchiha dan Hyuuga dilaksanakan pada musim semi di sebuah hotel mewah berbintang tujuh. Ruang ballroom telah disulap layaknya taman penuh bunga. Di sudut ruangan, ranting-ranting pohon yang penuh dengan bunga berwarna-warni. Dinding ruangan ditutupi oleh kain berwarna merah muda pucat dengan berbagai bunga kecil disematkan di sekitarnya, menghadirkan nuansa musim semi yang kentara. Ditengah ruangan yang sedikit lebih tinggi, disulap layaknya singgasana untuk kedua pengantin. Karpet berwarna merah yang berada di tengah ruangan seolah membelah ruangan megah itu menjadi dua. Di dekat singgasana pengantin tersebut berdiri sosok pria jangkung dengan jas hitam resmi. Tak ada ekspresi dari wajah pria itu, namun aura sekitarnya mengatakan bahwa ia sedang menunggu seseorang dari tirai yang berada di ujung satunya.

Tak berapa lama, Hyuuga Hiashi muncul sambil mengamit lengan seorang gadis cantik berbalut gaun pengantin yang berwarna putih yang indah. Senyum malu-malu diperlihatkan gadis itu ketika sang ayah membawanya untuk menemui pria berambut raven yang telah menunggu di ujung karpet satunya. Degup jantung cepat memandakan kegugupan yang berusaha disembunyikannya. Namun, ketika mereka telah mencapai sang pria dan tangan keduanya disatukan, rona merah tak bersembunyi lagi dari pipi gadis itu. Rasanya, ia ingin meledak saat itu juga.

Di lain pihak, sang pengantin pria bermarga Uchiha terlihat tenang, seolah-olah ini bukan hal baru yang yang dialaminya. Oh, bagaimana pintarnya ia menyembunyikan perasaannya.

Mereka mengucapkan janji sehidup semati, lalu saling menyematkan cincin. Pendeta kemudian mengizinkan mempelai pria mencium wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Namun, alih-alih mencium pria itu hanya memeluk sang wanita erat, membuat tamu yang datang terheran-heran.

"Sa-suke-kun?" bisik Hinata.

Hanya suara 'hm' yang keluar dari bibir Sasuke.

"Kenapa tidak mencium?" bisik Hinata lagi, merasa canggung pada berpasang-pasang mata yang memandang heran ke arah mereka berdua.

Sasuke menyeringai, perlahan diangkatnya kepalanya memandang Hinata namun tangannya yang berada di tubuh wanita itu tidak kunjung lepas.

"Kau yang minta..."

Dengan gerakan tiba-tiba Sasuke mendaratkan bibirnya pada bibir Hinata. Memberikan sentuhan yang membuat mata-mata disekitar mereka berdecak, merasa iri dan malu disaat yang sama.

Setelah melepaskan bibirnya dari bibir Hinata, Sasuke memeluk gadis itu lagi seolah-olah Hinata adalah barang berharga yang sejak dulu diinginkannya.

"Waktu hari pertama masuk sekolah, aku melihat seorang gadis tergesa-gesa turun dari mobilnya menuju sekolah. Walaupun mobilnya bisa berhenti di depan pintu gerbang, tapi ia tidak memilih hal itu. Sejak saat itu tanpa kusadari, aku mulai memperhatikannya dan ingin mengenalnya. Mencintainya,"

"..."

"Kau ingin tahu kenapa aku mencintainya?"

Hinata tidak menjawab, wajahnya makin tersembunyi dalam dekapan Sasuke.

"Sebenarnya aku juga tidak tahu," Sasuke jeda sejenak, melepaskan pelukannya dari tubuh Hinata. Tangannya mencari wajah Hinata yang terus menunduk, lalu membawa wajah gadis itu mendekat lagi ke wajahnya. Mata mereka bertemu.

"Bisa beritahu aku?"

Mungkin, itu adalah waktu yang tepat untuk Hinata meledak.

.

.

.

.

Seseorang tolong ingatkan Sasuke, pesta pernikahannya belum selesai.

-FIN-

Special thanks:

altadinata, Fujimoto Aya, Luluchai10, rini andriani uchiga, NatsuFurusawa, cecil hime, via, jejechan, arsenal, HinataHyuuga8, Fullbuster Rikudou Sennin, Cerawitch, Fitria Toushiro, Rini Andriani Uchiga, Syuchi Hyu, Hyou Hyouichiffer, , hinatauchiha69, himenaina, re, Guest(ada beberapa), kensuchan, uchiha feltson, avrillita97, , .777, kirigaya chika, chan, Uchiha Hinahime, Hirano Lawliet, , nara tobi, Dark Side, , Yume Guran, kensuchan, Kazuki Hanako, Fressia Athena, Samael D'Lucifer, Kyoutaro, Zei, Jubeichanssie, permanentt (I Love ur review ;D), Ay shi Sora-chan, Luluchai10, znnisa, ookami child, Hani chan1, BommiePark24, HanAra, corn flakes, TheOnyxDevil, rarachan89, , , himenaina, ringohanazono6, salwakimura, ffanytiffany, demikooo, miwa, Suzumiya, n, ayu031994, Hyuuga Qinata (review kamu buat saya tak bisa berkata apa2, you've got my mind... haha :D), no name, ai chan, .777, Chikuma Yafa unlogin, putchy-chan, lily hime, hakeriouss, Restyviolet, Hinata Kazumi Hyuuga, .7, MR, aprilia yasir, aili165, Inolana WillowShimmer , girl, Uchiha Itaara, HiSa Pyon, uchihyuu nagisa, virda, sachi, , Zoccshan, Pxuztad, ntnm, Zoe, anyone, Bhiri, dwi2, Bee Hachi, Tanpa Nama, Saus Kacang, aindri961, Dewa perang, Durara, Who, K, fujisawa suzuchan, naruhinaholic, sayciesalamiena, virda, nana, gummy, uchiha kussy, Ichaa, Febri Feven, Chikuma Yafa-DamselFly , Eysha CherryBlossom, Mr. Xavier, ShinRanXNaruHina, indigohimeSNH, ravenpink, Yukori Kazaqi, Miwa03, Eternal Dream Chowz, Inolana WillowShimmer, Me Yuki Hina, SH niita4, Uzumaki Shizuka, almira-chan,

Terima kasih sudah mengikuti SQUARE, mohon maaf untuk segala keterbatasan saya; ide cerita, tulisan, update dan semuanya. Maaf juga apabila ada nama yang lupa saya sebutkan, saya selalu berterima kasih untuk semua yang sudah membaca, me-review, fave dan follow ff ini.

Bye~