Title : Sweet Pea

Disclaimer : Katekyou Hitman Reborn by Amano Akira

Pairing : FonMammon

Warning : BL, typo(s), OOC, dan hal nista lain. Missing scene dari Merubah Takdir.

Hope you like it~

.

.

.

Varia HQ dirundung duka pagi itu, tak ada keributan yang luar biasa bagai tak pernah berhenti sepanjang waktu. Seongok tubuh tak bernyawa dibawa pulang oleh seorang hitman nomor satu di dunia, dan itu saja cukup membuat yang lain membungkam mulut dan mengatur persiapan pemakaman dengan pembicaraan sepenuhnya.

Acara pemakaman itu digelar di ruang utama Varia HQ. Bangku-bangku panjang berwarna coklat disusun semirip mungkin dengan desain yang digunakan di gereja, tamu yang diundang pun tak terlalu banyak namun semua menyiratkan rasa duka yang sama. Tubuh Mammon dibalut pakaiannya yang seperti biasa, lengkap dengan tudung panjang senada yang dipakai di kepalanya. Bunga lili putih ditaruh didalam peti di mana jasad sang ilusionis ditidurkan, kedua tangannya ditaruh di depan dada; ditangkupkan.

Semua yang hadir—para anggota Varia, Reborn, Aria—menunduk dalam, bungkam. Semua yang hadir di sana seakan dibawa ke masa lalu, terus mengenang memori akan si ilusionis yang sudah berlalu. Senyap terus mengisi ruangan itu, membiarkan semuanya digerogoti rasa bersalah, penyesalan, serta masa-masa yang telah termakan waktu. Hitam menjadi satu-satunya warna yang terlihat sepanjang penglihatan, satu warna yang menjadi perwakilan mereka akan kesedihan.

Krriiieeetttttt…

Suara decitan pintu kayu yang dibuka mengalihkan seluruh perhatian para hadirin, mereka menoleh ke belakang, memeriksa siapakah yang berani masuk pada saat itu tanpa—minimal—mengetuk lebih dulu.

Tap… tap…

Si pelaku pembuka pintu melangkah tak bersalah, seikat bunga lili putih dengan setangkai bunga berwarna merah muda kelam ditengahnya tergenggam erat ditangannya. Manik karamelnya terarah lurus menatap peti mati yang ditaruh di paling depan tepat di tengah ruangan. Pakaian tradisional Cina merah tak lagi membalut tubuhnya, sebaliknya, ia malah memakai sebuah pakaian formal dengan jas hitam kelam yang cukup persis dengan yang dipakai sebagian tamu yang hadir di sana.

"VOII! JANGAN MASUK SEENAK—"

DOR!

Reborn lebih dulu menembakkan timah panas ke dinding yang hanya berjarak satu jengkal dari tempat Squalo berdiri.

"Biarkan dia. Seharusnya kau berterima kasih akan kedatangannya," dengus Reborn sembari memasukkan kembali tangannya ke saku celana.

"Voi! Apa-apaan i—"

"—Berisik, Stronzo," desis Xanxus sembari melayangkan tatapan tak suka. Pemilik rambut perak panjang itu menutup rapat-rapat mulutnya, membiarkan sosok tadi terus berjalan tanpa mengganti ekspresinya. Langkahnya baru berhenti tepat di depan peti mati itu, namun ia tak melakukan apa pun dan hanya meneliti tubuh yang telah mendingin itu dengan tatapan sendu.

Sraaatt…

Fon meletakkan seikat bunga yang dibawanya ke dalam tangkupan kedua tangan Mammon yang tak memegang apa-apa, para tamu mulai saling bertatapan, bertanya-tanya siapakah dia yang bahkan tak memiliki sopan untuk mengetuk pintu dan langsung menaruh seikat bunga yang dibawanya di dalam genggaman dua tangan sang ilusionis yang memang tak memegang apa pun.

"Selamat siang, Mammon," sapa pria berkepang itu seperti biasa, meski Aria dan Reborn yang hadir di sana dapat merasakan duka dalam sapaan barusan.

"Kukira kau akan memakai apa di sini, rupanya jubah hitam itu yang melekat di tubuhmu. Tapi kau tetap cocok memakainya," kata sang angin. Suasana senyap kembali, memberi ruang bagi si pria Asia meneruskan obrolannya sendiri.

"Bunga merah muda kelam itu… saat aku melihatnya kupikir itu cocok untukmu, meski tak sama dengan warna violet seperti matamu…"

Belphegor mengangkat sebelah alisnya, orang ini pernah melihat warna mata sang ilusionis Varia? Mammon tak pernah cerita bahwa dia pernah menunjukkan wajahnya pada orang asing—bahkan pada Bos saja ditolaknya. Siapa dia?

Fon lalu berbalik, menjauhi peti mati. Namun baru beberapa langkah ia tersadar akan hal yang ia lupa lakukan. "Ah, aku lupa sesuatu."

Pria itu kembali mendekati peti mati, lalu menyibakkan tudung serta poni orang yang ia benci dan kasihi. Perlahan, badai itu mengecup dahi Mammon sayang, sekaligus dengan penuh duka dan penyesalan.

"Wo ai ni, Mammon," bisiknya pelan, meski itu mampu didengar beberapa orang yang bertempat paling depan. Fon kembali berbalik, meninggalkan peti mati itu dan keluar ruangan.

"Voi! Apa maksudmu tadi menembakku?!" bentak Squalo masih tak terima.

"Oi, Taichou, kau kenal orang tadi? Kurasa Mammon tak pernah mengatakan apa pun soal orang itu," cetus Bel sembari menaruh kedua tangannya di belakang kepala.

"Fon, pemegang pacifier berwarna merah, badai Arcobaleno," Aria mengatakan itu tanpa melihat pada siapa pun, bahkan pada pria fedora di sampingnya. "Kalian telah bertemu badai yang diperkuat oleh kabut Varia."

"O- oi! Jangan terlalu mendramatisir," sergah Bel.

"Mou~, aku bahkan tidak mengerti apa maksudnya," cetus Lussuria.

"Bunga berwarna merah muda kelam itu—Sweet pea," kali ini Reborn yang melanjutkan, "dalam hanakotoba, bunga itu berarti—"

"—'terima kasih untuk saat menyenangkan'."

.

.

.

Fon tengah bersandar di dinding, pemandangan taman depan Varia mungkin sudah cukup megah namun tetap saja tak mampu mengalihkannya yang masih dirundung duka. Lichi melompat ke bahunya, membuat pria Asia itu tersadar dari lamunannya. Sang angin mengelus puncak kepala hewan peliharaannya penuh kasih, meski itu tetap tak mengobati suasana hati yang terlanjur sedih. Bagai mengetahuinya, Lichi menatap pria itu dengan tatapan penuh simpati. Fon tersenyum pahit, ia kembali mengelus kepala monyet putih itu.

"Dia sudah tak di sini, Lichi," kata pria Asia itu pahit. "Dia sudah pergi."

Ah, memang buruk sekali kehilangan itu…

.

.

.

"Bagaimana?" tanyaku sembari membiarkan sang ilusionis yang telah menjadi arwah itu melihat pemandangan di mana orang terkasihnya tengah terluka.

Pria bertudung itu terdiam sejenak. "Muu, itu balasan untuknya. Dia juga membiarkanku hidup tanpa dirinya."

"Ya, ya, ya. Terserah padamu." Aku tertawa kecil sembari membalikkan badan. "Aku pergi dulu, Ilusionis."

Mammon tak bergerak sedikit pun dari posisinya, manik violet yang tersembunyi dibalik tudungnya memandang sendu si pria yang diam-diam juga dicintainya.

"Jangan kalah, Martial arts sialan," desis pemilik nama asli Viper itu. "Hanya karena kabut tipis sepertiku pergi darimu, tak berarti badai semacam kau bisa melemah."

Seusai berkata itu, sang ilusionis berbalik dan berjalan berlawanan arah. Setetes air mata turun dari pelupuk matanya, membasahi pipinya, dan akhirnya sosoknya pun menghilang.

'Ti odioTi amo, Sialan.'

.

.

.

END

.

.

.

A/N : HAHAHHAHAHAHAHAHAHA tolong saya lupa buat adegan ini dongs hiks yaudah saya post sendiri aja deh /plak. FON SIH RASAIN KAMU KENA KARMA SAMA SAYA HAHAHAHAHA /ditendang. Aduh sori berat ya yang udah baca Merubah Takdir tapi sama saya dikacauin sama Sweet Pea ini :" /plak.

Btw, sori ya kalo feels nggak ngena, OOC, tipo kelewat, dsb. Segala kritik, saran, komen, fg-an, dsb akan saya tampung~. Sampai jumpa di karya berikutnya~

-Salam-

Profe Fest