Title: A Man's First Love
Rating: NC 21/Yaoi
Cast: Jung Yunho, Kim Jae Joong, Han Hyo Joo, Go Ara
Genre: Drama romance , Angst
Author:blueberrymilkshake aka Fujoshinta aka Dee
Requested and idea story: Yunjae_married aka Lia aka Yunjaekisses
disc; cerita milik saya, Yunjae saling memiliki
A/n: Ini FF mohon maaf bila ada kekurangannya. Begini, saya muslim jadi tidak tahu tentang ajaran Kristen, mohon kalau nanti ada salahnya pada bagian Kekristenan disini, tolong beritahu yang ditulis ini ada salah dimananya, oke. Dan juga disini ada nama Panci, Jin Botol, dan Kondom itu sebenernya adalah nama julukan seniorku di Teater dan juga Ketua UKM Hipala di kampusku dulu. Aku jadi pengen masukin aja biar keliatan nyata gtu karakternya ^^
chapter 1
Acara Ulang Tahun kampus
Hari ini cuaca Seoul sangat tak bersahabat bagiku. Air yang turun dari langit bagaikan bidadari yang sedang menangis meraung, membuat udara dingin mewarnai wajah kota yang kucintai ini. Aku kini tengah berdiri didepan jendela apartemen di mana riak-riak air hujan yang mengalir di jendela membuatnya berembun. Itu artinya, begitu dingin cuaca di luar sana, hingga mampu membuat kaca jendela apartemen menjadi buram dan berembun. Aku pun menghela nafas panjang, uap air yang berasal dari pernafasanku itu pun menempel pada kaca jendela, menambah kacanya makin memburam akibat embun uap air dari nafas yang keluar dari mulutku bercampur dengan uap dingin diluar.
"Oh Tuhan, kapan hujan akan berhenti?"
Segera Kualihkan mataku dari jendela kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 10:00 AM. Dengan penuh kepastian aku tahu, perkuliahan jam pertama sudah berakhir dari tiga puluh menit lalu. Hatiku yang gundah semakin bertambah gelisah sekarang. Apakah seorang Kim Jae Joong harus absent lagi hanya hujan biasa seperti ini? Ini sangat menjengkelkan. Kehilangan satu pembelajaran yang di terangkan oleh dosen di satu perkuliahan, merupakan satu kerugian besar.
Dengan langkah gontai aku pun beranjak dari tempatku berdiri menuju sofa ruang tamu, menghempaskan tubuh ini diatas sofa lembut tersebut sambil menunggu hujan berhenti tak salah juga bukan? Rupa-rupanya tubrukan kecil tubuhku dengan sofa membuat dua buah bantal kecil yang terletak dikiri dan kanan terjatuh kelantai. Udara dari AC apartemen bercampur dengan udara dari luar membuat temperatur udara ruangan apartemen tempat aku tinggal ini lebih dingin dua kali lipat.
"Dingin sekali!"
Seketika itu juga tubuhku bergetar, bulu roma di sekitar tengkuk dan lenganku berdiri. Haish…Padahal temperature AC sudah kupasang sangat rendah yaitu 24 derajat celcius, kenapa dingin masih saja tak hilang di ruangan yang tidak besar ini?
Cepat kusambar remote control AC yang terletak begitu saja pada meja ruang tamuku dan segera saja ku pencet tombol off secepat mungkin namun, udara dingin masih saja merajai ruangan ini. Aku sedikit kesal lalu berdiri dari posisiku yang tengah dalam posisi sangat enak, beranjak dari sofa menuju stalker pemanas ruangan yang terletak disebelah tungku api. Lagi-lagi aku harus menyalakannya! Padahal dengan sangat jelas pemanas listrik ini biasanya bekerja pada musim salju datang, namun aku menggunakannya hanya karena hujan biasa yang notabene nya tak ada dingin yang membuat tubuh membeku! Sepertinya pasrah untuk menyalakan stalker listrik pemanas ini lagi untuk kesekian kali adalah jalan satu-satunya. Tanganku memencet On stalker pemanas ruangan tersebut, seketika ruangan apartemen yang tadinya dingin untuk kapastitas tubuhku yang jauh dari keadaan orang-orang lainnya ini menjadi lebih hangat, setidaknya itulah yang kurasakan.
Aneh kenapa hanya dingin seperti ini aku harus memasang pemanas listrik yang seharusnya bekerja pada musim dingin tiba? Jawabannya adalah karena tubuhku ini dari kecil memang tidak bersahabat dengan cuaca dingin. Cuaca dingin meski hanya hujan, tubuh ini akan dengan cepat merespon cepat udara dingin yang tentu dengan pasti membuat ku bergetar menggigil kedinginan, tulang sendi terasa ngilu bagai tertusuk ribuan jarum, bibir membiru, kulit disekitar persendian pada bagian lutut memerah dan membengkak. Bila sudah seperti itu, yang bisa aku lakukan hanya meringkuk dalam selimut tebal yang hangat. Sungguh merepotkan bukan?
Aku berjalan menuju kamar dan mengambil bedcover yang ada diatas tempat tidur ukuran king size, kuputuskan meringkuk bermalasan di sofa panjangku saja mengingat pakaian yang kukenakan sekarang adalah yang biasanya kupakai untuk kekampus. Bila aku harus memilih tidur di kasur empuk berpegas itu, bisa-bisa aku akan melupakan untuk berangkat kekampus lantaran merasa nyaman dan hangat disana. Sesampai di sofa panjang ku dengan segera aku merebahkan tubuh ini lagi. Kuselonjorkan kedua kaki, bedcover ku rentangkan menutupi dari mata kaki yang tadi terasa dingin hingga pangkal leherku.
Mencium aroma wangi sabun yang melekat di bedcover bergambar bunga musim semi yang cerah dan ceria membuatku setidaknya tenang. Bedcover adalah salah satu perlengkapan penghangat untuk melawan musuh besarku yaitu musim dingin. Bila bertanya berapa banyak aku memiliki bedcover, isi lemariku lebih banyak benda itu ketimbang pakaian untuk musim dingin. Aku sering membelinya dimall selepas acara gereja atau kegiatan KKK di kampus seperti kebaktian, dan bernyanyi kidung doa pujian kepada Tuhan, biasanya aku mengajak mampir pacarku Hyoo Jyo menuju mall yang menjual perlengkapan bed room, mall itu memang selalu menjual barang yang kubutuhkan itu dengan harga cukup miring. Untuk hal satu ini pacarku Hyo Jyo sering sekali berkomentar bila aku tengah sibuk mencari-cari sprai indah dan bedcover dengan harga super murah itu.
"Buat apa Oppa membeli bedcover dan sprai terus-terusan begini? Oppa memang mau koleksi bedcover ya? Bukankah kemarin baru membeli? Yang ada di dalam dilemari sudah lebih dari cukup, Oppa! Yang disediakan oleh omonim juga sudah banyak."
Begitulah komentar Hyo Joo bila aku tengah berbelanja bedcover, tak ketinggalan ia mengerucutkan bibir mungilnya itu. Demi Tuhan ia terlihat sangat manis dengan bibir seperti itu. Bila sudah seperti itu aku sedikit cemberut dan memasang aksi tak jadi membeli, walau pada akhirnya aku tetap membeli barang itu. Memangnya siapa yang suka memiliki alergi dingin aneh seperti yang ku idap ini? Aku membeli juga untuk kebutuhanku sendiri? Untuk perang melawan hari-hari seperti ini.
Bila ditanya bagaimana rasanya memiliki alergi dingin yang disandang sejak kecil, tentu saja sangat mengesalkan. Sewaktu masih kecil, aku hanya bisa memandangi teman sebayaku yang bermain-main lempar bola salju atau membuat orang-orangan salju diluar sana sambil tertawa lebar, tetapi aku hanya bisa berdiri memandangi semua itu lewat kaca bening rumahku. Dimataku suasana di luar sana sepertinya sangat menyenangkan dan aku ingin bergabung dengan mereka. Jiwa dalam diriku yang masih kanak-kanak di kala itu, acap kali memberontak dan melanggar apa yang di pesankan oleh orang tuaku meski itu berbahaya pastinya akan diterjang juga.
Begitulah jiwa anak-anak, bila di larang maka rasanya seakan seperti di suruh saja. Hari itu, aku mencoba untuk tidak mengindahkan larangan Umma untuk keluar rumah di hari bersalju. Lama-kelamaan melihat teman sebaya bermain di luar sana membuatku terbujuk untuk ikut bermain. Namun, tak lama aku keluar menginjakkan kakiku di lapangan bersalju bermain dan tertawa-tawa bersama mereka, tiba-tiba tubuhku menjadi menggigil dan serasa ingin mati saja. Rupa-rupanya saat itu aku hanya menggunakan sweter tanpa menggunakan perlengkapan musim dingin seperti yang dipakai teman-teman lain. Sungguh pemikiran anak kecil yang sangat sederhana yang berpikir bahwa memakai sweter didalam rumah saja bisa membuat tubuh tetap hangat, maka dengan menggunakan hal sama yakni sweter diluar rumah dengan cuaca bersalju seperti itu mungkin tidak apa-apa. Itulah pemikiran anak-anak yang sederhana, hal berbahaya semacam itu dianggap tidaklah seberbahaya yang dikatakan orang.
Akan tetapi, menggunakan pakaian sweter yang tak setebal kulit domba di hari bersalju sama saja bunuh diri dan untuk aku yang tak menurut pada orang tua, satu kejadian itu bagaikan sebuah pelajaran yang amat sangat berarti untuk hidupku. Dinginnya salju yang terasa menusuk hingga ke sum-sum tulang, rasa ngilu, kaku seakan tubuh ini tak bertenaga, tak ingin lagi aku merasakan semuanya. Andai waktu itu aku tidak segera diberi pakaian hangat, dan segera di bawa ke rumah seorang bapa pendeta yang sedang lewat disana, mungkin sekarang tidak ada aku disini. Sejak hari itu aku berjanji pada diri ku sendiri tak pernah membantah apa kata orang tuaku, dan menurut padanya. Karakter dan kepribadian yang penurut, seperti itu terbawa hingga aku dewasa, menjadikanku seorang yang sangat berjiwa lurus kata banyak orang yang mengenalku. Hal ini tentu saja disebabkan tak ingin lagi kejadian yang hampir merenggut nyawaku pada saat itu terulang kembali.
Bunyi telephone yang berdering diruang tengah membawaku kembali dari kenangan masa kecilku. Aku bangkit dari sofa dengan sedikit malas dan melangkahkan kaki seraya berlari kecil menuju telephone ku berbunyi.
"Yoboseyeo,"
"Oppa..!" Terdengar suara manja seorang wanita dari seberang sana. Dan tak usah ditebak lagi siapa yang menelphone. Aku hanya bisa tersenyum mendengar suara kekasihku itu. Pasti ia tengah khawatir sebab aku tidak ada di kampus sekarang.
"Hyo Joo ya.., wae yeo?"
"Oppa tidak berangkat kekampus? Bukankah briefing masalah perayaan ulang tahun universitas Shinki diadakan jam 10:00 AM pagi ini? Semua para ketua UKM diharuskan mengikuti rapat hari ini bukan?"
Aku menepuk pelan dahiku, teringat akan surat edaran yang diberikan oleh ketua BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa) perihal acara ulang tahun Universitas Shinki yang akan diadakan beberapa hari lagi. Disurat edaran tersebut memang tertulis wajib untuk para ketua UKM mendatangi acara rapat tersebut. Ku tatap hujan yang masih deras diluar sana lewat kaca jendela apartemenku. Aku mendecakkan lidahku, otakku bagai tengah berpikir keras. Seoarang yang memiliki tanggung jawab dan dedikasi memimpin kegiatan kemahasiswaan terutama KKK tak mungkin mangkir dari acara rapat yang di buat oleh badan tertinggi kemahasiswaan bukan? BEM dan BLM memegang kuasa tertinggi selain Dosen maupun Rektor di kampus. Sepertinya aku harus berangkat menerjang hujan dan juga rasa dingin ini meski pada akhirnya nanti aku akan sangat terlambat sampai ditujuan kurang lebih 30 menitan. Satu-satunya solusi ketidak hadiran 30 menit itu adalah ada seseorang yang menggantikan waktu kosongku.
"Disini hujan Hyo Jyo ya~, deras sekali. Bisakah kau dan Junsu untuk menggantikanku untuk sementara? Aku usahakan untuk datang kekampus disaat jam perkuliahan ke 3 nanti. Aku akan bersiap-siap! Bagaimana?" Jam ketiga perkuliahan berarti jam 11:00 AM, semoga saja pada jam itu rapat masih berlangsung.
"Oppa..Kalau begitu jangan memaksakan diri bila masih hujan. Nanti …"
"Gwenchanayo.., Aku tak apa-apa. Pakaian hangatku masih ada. Alergi dinginku tidak akan kambuh hanya karena hujan seperti ini."
Aku memotong pembicaraan Hyoo Jyo dengan cepat. Yah aku kurang lebih mengerti perasaannya. Ia pastinya tak ingin aku memaksakan diri sehingga melupakan alergi dingin sialan ini! Hyo Jyo adalah tipe gadis yang sungguh protektive! Namun, ia tak meninggalkan aku setelah tahu tentang alergi dingin ini, sungguh puji pada Tuhan Yesus dan para santo-santo sucinya. Inilah sebab kenapa aku memantapkan hubungan kami meski ada sesuatu dihatiku yang mengatakan belum siap akan tetapi, menyematkan cincin dijari manisnya tanda ia kelak menjadi istriku telah kulakukan. Tepat setahun kami berpacaran bulan lalu, aku memintanya menjadi tunanganku.
Setelah ia menjadi tunanganku, kami berdua mengikuti berbagai rangkaian kegiatan pra nikah yang biasanya diadakan oleh Gereja Santo Carolus nama tempat gereja kami, seperti pembaptisan pasangan pra nikah, menguji kemantapan hati pasangan pra nikah pun sering sekali kami ikuti. Kata Bapa Pendeta, rangkaian temu konsuling ini berfungsi untuk mempererat hubungan pernikahan pasangan itu nantinya. Hal ini biasanya di konsuling kan pada semua pasangan muda mudi yang akan menikah. Ada beberapa yang tidak lulus konsuling ini, mengingat konsuling ini tidaklah mudah. Sebagian dari mereka ada yang gagal seperti putus di tengah jalan karena tidak tahan dengan ujian tersebut, ada pula yang tidak lulus konsuling di tahap akhir lantaran tidak ada kesiapan hati dan merasa tidak cocok sama lainnya.
Aku dan Hyo Jyo tentu saja lulus dari tingkat dasar dan sekarang kami menunggu rangkaian konsuling pra nikah ini untuk terakhir kalinya, yang akan diadakan satu bulan kedepan. Tetapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang mengganjal dihati bahwa seharusnya aku tak lulus uji diawal dan aku semakin takut akan konsuling yang akan ada sebulan kemudian ini! Aku tahu betul bahwa pernikahan itu adalah sacral, satu seumur hidup hingga maut memisahkan, Tuhan tak mengizinkan umat Kristiani yang sudah berjanji di depan altar gereja melanggar sumpah janji pernikahan oleh karenanya temu konsuling sangat dibutuhkan.
Akan tetapi apakah aku salah bila sampai sekarang tak menemukan apa itu yang mengganjal disudut hatiku. Anehkah perasaan ini? Yang kulakukan sekarang hanya perbanyak doa saja untuk mendapatkan pencerahan dan juga kesabaran akan segala perasaan mengganjal itu sebelum temu konsuling bulan depan.
"Baiklah..Aku percaya Oppa. Kalau begitu, aku akan menghubungi Junsu untuk menemani ke rapat BEM dan BLM daripada dari pihak UKM KKK tidak ada yang datang."
"Ah ne..gomamoyo Hyoo Jyo ya~,"
"Ne oppa"
Sambungan telephone dari Hyoo Jyo terputus dengan cepat aku menuju kekamar dan mengambil kunci mobil diatas meja nakas, lalu menuju pelataran mobil yang masih ada di dalam kondomium ini. Udara dingin menyergapku ketika berada di parking area, namun tak kuindahkan. Satu-satunya yang terpikir di benakku sekarang adalah bagaimana bisa sampai ke kampus secepatnya.
End Pov
No POV
Jae Joong akhirnya sampai di kampus tepat lima belas menit dari ia berangkat dari apartemen tadi. Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik dan teratur diparkiran kampus, dan tak lupa mengunci mobil accord nya itu, ia bergegas berlari menuju lantai dua gedung selatan dimana terdapat ruang serba guna yang dimiliki oleh Kampus Shinki tentu saja. Ruang serba guna ini biasanya di pakai untuk seminar-seminar yang berhubungan dengan perkuliahan seperti untuk seminar bahasa, seminar budaya, seminar marketing dan lain sebagainya. Ruan serba guna di pakai tergantung dengan kebutuhan acara, dan sekarang ruangan itu dipakai untuk rapat BEM dan BLM. Jae Joong melihat kearah jam tanganya, ia menjadi cemas sekarang. Dalam benaknya terpikir bahwa saat ini pasti rapat tengah berjalan kurang lebih dua puluh menit. Ia hanya berharap masih dapat mengikuti rapat ini meski Hyo Jyo dan Junsu sudah ada disana dari awal berlangsungnya rapat, namun tidak etis rasanya bila ia tidak mengikuti jalannya rapat itu juga. Apalagi ia terkenal pintar dan tak pernah membolos. Hari ini saja, ia berencana akan mengikuti kuliah jam terakhir guna mengganti ketidak hadirannya di jam pertama kuliah karena hujan pagi tadi. Kebetulan jam terakhir perkuliahan, dosen yang mengajar dan mata kuliahnya sama dengan perkuliahan ia pagi tadi yang tak sempat di ikuti. Jadi, ketidakhadirannya tadi tak bakal dihitung absent.
Ketika Jae Joong tengah menapak naik ke tangga pertama lantai satu terdengar suara nyaring seperti orang berdebat dari lantai dua, membuat ia menghentikan langkahnya sejenak di tangga kedua. Suara itu adalah milik seorang pria yang ia tahu adalah ketua dari Himpunan Pecinta Alam Universitas Shinki Jung Yunho. Tak perlu ia tebak, siapa yang tidak mengetahui dan mengenal pria playboy itu di kampus Shinki. Sebelum mengetahaui pria bernama Jung Yunho itu, desas-desus tentangnya begitu santer di Universitas ini. Tadinya ia tak ingin ambil pusing dengan gosip-gosip tersebut. Sebagai orang yang beragama, percaya sesuatu hanya dari gosip tanpa tahu pribadi orang yang bersangkutan sangatlah tak baik apalagi ini berhubungan dengan nama baik seseorang.
Tetapi sejak hari dimana ia pernah mengirimkan langsung proposal berisi tentang peminjaman property Hipala untuk keperluan retret organisasi KKK nya membuat ia percaya gosip itu. Waktu itu ia melihat Yunho ketua Hipala tersebut tengah berciuman mesra dengan wanita yang bernama Tiffany di secretariat Hipala. Perasaan enek tiba-tiba menyerangnya saat itu. Yah, bagaimanapun semua yang ia lihat adalah urusan pribadi Yunho. Namun bagi Jae Joong, itu adalah sebuah tingkah laku yang tak pantas dilakukan oleh dua orang yang belum terikat tali pernikahan. Menurutnya, apa yang di lakukan Yunho sangat mengganggu ketentraman kampus Shinki, mencoreng harkat martabat wanita, pembawa dosa untuk anak-anak domba yang putih bersih menuju kubangan dosa hitam pekat dan yang lebih dari itu semua yaitu merusak mata nya yang tak terbiasa melihat hal-hal itu. Hubungan percintaan Jae Joong dengan Hyo Jyoo selama ini hanya berkisar cium kening ataupun hanya berpegangan tangan, pria yang menjunjung teguh agamanya.
"Kenapa kau tidak bilang Panci ya~ kalau ada rapat BEM dan BLM? Kenapa kau tak memberikan surat edaran itu kemarin dan baru mengatakannya sekarang!" Ujar Yunho setengah berteriak pada sekretaris UKM Hipala bernama Go Ara atau yang biasa dipanggil 'Panci' itu. Ia tak habis pikir sekretaris UKM Hipala Go Ara, yang terkenal ulet dan cekatan harus melupakan hal penting semacam ini. Apalagi ini terbilang rapat BEM dan BLM yang sangat penting juga buat Yunho, masalah rapat tahunan ulang tahun Universitas Shinki adalah salah satu pendulang emas bagi seorang pengedar dan pemakai narkoba seperti dia. Seperti tahun-tahun biasa nya Universitas Shinki akan mengadakan lomba dan bazar, ini merupakan tangkapan besar untuk Yunho menjual pil-pil pembawa uang itu. Terbukti ia sukses besar tahun kemarin, membuatnya yakin tahun inipun ia akan mendulang emas dari pekerjaan yang beresiko itu. Yah, beberapa bulan ini ia mengalami penurunan penjualan dan membuatnya banyak berhutang pada Bandar pemasok tempat ia membeli barang-barang tersebut. Barang-barang itu lebih banyak ia pakai sendiri dan dibagikan pada wanita yang tidur dengannya, ia berpikir dengan memberi obat itu pada awal dengan gratis, wanita-wanita itu akan menjadi langganan tetap sebagai pembelinya. Disamping sebagai budak seks nya tentu saja.
"Hei…, jangan salahkan aku Kondom ya~! Kemarin kau terlalu asyik dengan wanita yang akan kau pacari entah ia wanita ke berapamu! Bukankah kemarin aku sudah berusaha meminta waktumu sedikiiiit saja! Tapi nyatanya kau tak mengindahkan dan tetap asyik memagut bibir wanita itu? Bahkan kau mengusirku!"
Ara mendebat Yunho, dan melipat kedua tangan didada. Terlihat sekali ia tak mau kalah tentang hal ini. Ara adalah salah satu gadis yang menyukai Yunho. Gadis ini menyukai Yunho sejak pertama kali melihat pria itu tengah performa tentang UKM Hipala yang ekstrim itu saat ospek. Dalam mata Ara saat itu, performa Yunho terlihat sangat menawan ketika Yunho memanjat tembok yang ditempeli batu-batu kecil.
Demi Tuhan yang agung, saat Yunho berada di atas ketinggian itu ia bagai melihat sosok malaikat Michael tengah melayang diatas sana. Ketika ia tahu bahwa pria tampan yang ia rasa bagai malaikat Michael ini adalah playboy, ia berusaha mengambil hati pria itu dengan cara berbeda dengan gadis yang di pacari Yunho selama ini, yakni ia mendaftar sebagai calon anggota UKM Hipala. Lagipula ia juga menyukai tantangan, jadi tak terlalu sulit ia beradaptasi dengan olahraga ekstrim ini. Tapi ia rupanya salah, didalam UKM Hipala ada sebuah peraturan yang tidak memperbolehkan sesama anggotanya berpacaran. Bila dilakukan, maka sangsi nya adalah keluar dari UKM Hipala. Peraturan ini ia ketahui ketika diklat Alam, di Gunung Hallasan di Pulau Jeju. Sudah sangat terlambat untuk keluar dari UKM Hipala, mengingat diklat alam tentu saja ujung-ujungnya adalah pembaiatan sebagai anggota baru adalah pasti.
"Tapi kau bisa menghubungi ponsel ku atau apalah." Yunho tetap dengan pendiriannya, tak mau di salahkankan oleh sekretaris UKM Hipala ini atau yang ia sebut Panci. Bagaimanapun ia tak merasa salah akan hal ini, atau lebih tepatnya ia tak ingin di salahkan meski ia sebenarnya jelas-jelas salah.
"Haish! Ya~…Kondom Oppa, kau tahu kan berita bahwa aku baru saja kehilangan ponsel. Bagaimana aku harus menghubungimu? Lagipula, aku sudah menunggu di secretariat tadi pagi sebelum perkuliahan jam pertamaku mulai, akan tetapi kau tidak datang pagi ini. Padahal yang kutahu pagi ini kau ada jam kuliah bukan?"
Yunho kehilangan kata-kata dan berdiam diri sejenak. Ia teringat pagi tadi ia tidak masuk perkuliahan jam pertama lantaran tengah melakukan aktivitas pagi bersama wanita barunya, Kwon mengulang mata kuliah Prosa di semester lima, sehingga ia sekelas dengan Ara yang sekarang duduk di semester lima. Untuk Yunho sendiri, ia sebenarnya mahasiswa tingkat akhir. Mahasiswa semester akhir jadwal kuliahnya lebih sedikit dibandingkan yang tingkat semester bawah, oleh karenanya semester akhir memang diperbolehkan mengambil mata kuliah semester bawah untuk memperbaiki nilai yang menurut mereka perlu diulang. Yunho termasuk mahasiswa yang mengulang disebabkan nilainya yang sedikit kurang terutama di mata kuliah Prosa, mata pelajaran yang tidak terlalu disukainya.
Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan mata kuliah tersbut, tetapi nilainya banyak sekali yang kurang. Apalagi, ia sudah lebih melewati lebih empat tahun kuliah padahal ia hanya mengambil gelar Sarjana Strata satu dan itu ditempuhnya sudah tahun keenam sekarang. Semua itu karena ia terlalu sering selalu tebar pesona dengan juniornya di kampus. Selain ia terkenal sebagai playboy, ia terkenal juga sebagai mahasiswa abadi dikampus Shinki.
"Akh…Sudahlah, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi."
Ujar Ara menutup pembicaraan. Ara yang kesal terhadap Yunho pun beranjak pergi dari tempat ia berdiri dan menuju tangga. Dengan langkah cepat ia berjalan menuruni tangga dilantai dua menuju lantai satu, meninggalkan Yunho yang tengah menggigit bibir menahan amarahnya. Meskipun ponsel miliknya tak hilang pun belum tentu Yunho menjawab langsung sambungan telephone nya, sebab sudah pasti pria itu sibuk menelphone kekasih-kekasihnya yang tak terhitung atau tengah bercinta mungkin. Pernah Yunho tengah bercinta dengan kekasihnya yang tidak tahu keberapa itu, tapi Ara mengenali bahwa suara desahan wanita itu seperti milik Jessica. Bagaimana dia tahu bahwa orang itu adalah Jessica? Beberapa jam sebelum ia menelphone Yunho kala itu, wanita itu dibawa oleh Yunho ke sekretariat Hipala.
Melihat gadis itu berlalu Yunho sadar, seharusnya ia tak marah dan kasar pada gadis itu. Akan tetapi kemarahannya pada orang-orang yang sekarang duduk di dalam ruang rapat itulah yang membuatnya kasar pada gadis itu, semua itu dianggapnya sangat lumrah. Karena terlambat beberapa menit, mereka tidak memperbolehkan ia dan Ara masuk. Yunho kurang lebih tahu penyebab ini semua. Hipala dan ketua BEM dan BLM memang sering berselisih paham terutama masalah dana kemahasiswaan yang memang hak untuk UKM yang baru saja terjadi beberapa bulan lalu. Padahal proposal dalam pengambilan dana waktu itu cukup jelas murni untuk UKM sebab saat itu akan ada pembaiatan anggota baru di gunung Hallasan, dipulau Jeju.
Disaat itu mereka memang sedikit di persulit oleh BEM, BLM dan juga Puket 3. Puket 3 adalah ketua harian dibawah ketua Umum, Lee Soo Man. Gerak kampus Shinki semua memang berasal dari Yayasan SM, jadi bila dana belum di jatuhkan ke kampus Shinki maka Puket 3 tidak bisa memberi dana kepada seluruh organisasi kampus. Susah memang bila semua harus dari Yayasan, namun beberapa rumor beredar bahwa Yayasan sudah menjatuhkan dana kepada Kampus Shinki. Lalu siapa yang salah dalam hal ini? Yayasan SM ataukah Kampus Shinki? Hal inilah yang menjadi perdebatan antara Yunho dan juga ketua BEM dan BLM yang bernama Park Jung Su atau yang kerap kali di panggil Lee Teuk oleh sebagian orang. Yunho benar-benar mengkritik cara kerja organisasi ini. Meski ia bodoh dalam pelajaran namun ia adalah pemuda yang sangat cakap dalam keorganisasian semacam ini.
Ara yang menuruni tangga sampai di mana Jae Joong berhenti menapak anak tangga dan dikarenakan gadis itu terlampau kesal dengan sikap Yunho, ia tak melihat Jae Joong yang tengah berdiri di anak tangga kedua, lantai satu itu. Ia pun menyenggol bahu Jae Joong hingga pria itu mengaduh kesakitan sebab tulang selangkanya terkena gesper tali baju kodok yang dikenakan gadis itu.
"Akh…, Cheungsanghamnidha," Ujar Ara sambil menundukkan kepala, sedang Jae Joong yang telah di senggol oleh gadis itu dengan sopan tersenyum tipis. Lagipula orang yang sudah menyenggolnya meminta maaf, sebagai hamba Tuhan yang baik, tak ada kata lain selain memaafkan bukan? Meski ia merasakan sakit, tersenyum adalah obat. Salah satu ayat dalam Bible berisi bila kau di tampar dengan pipi kanan, maka berikan pipi kirimu. Jae Joong memang berusaha untuk selalu mengamalkan isi bacaan di Alkitab itu untuk kehidupannya.
"Gwenchanayo." Mendengar lawan bicaranya yang ia senggol mengatakan tidak apa-apa, Ara yang menundukkan kepala karena takut orang yang ia senggol marah, kini merasa lega dan perasaan takutnya menguap begitu saja. Ara pun mengangkat pelan kepalanya dan melihat langsung orang yang ia senggol. Ketika melihat orang itu, ia seperti mengenal pria itu. Aha…Ia ingat!
"Oppa dari organisasi UKM KKK ya?" Tanya Ara ketika otaknya menstimulasi mengingat siapa orang yang tengah ia senggol. Ia seperti mendapatkan bagai mendapat pencerahan angin dari suraga yang dapat menyelesaikan segala masalahnya yang baru saja terjadi di lantai dua tadi bersama ketua Hipala si Jung Yunho 'Kondom' oppa.
"Apa Oppa juga telat masuk rapat yang diadakan BEM dan BLM?" Tanya Ara antusias, mungkin ia bisa mendapatkan info rapat melalui orang ini. Meskipun tidak ada hak istimewa dalam UKM, tetapi bilamana UKM yang di pimpin oleh Jae Joong bisa membantu dan memberi solusi akan pertengkaran bersama Kondom Oppa di atas tadi, apa salahnya? Bukankah sesama UKM membantu itu sering dilakukan, mengingat tak banyak juga mahasiswa Shinki yang tidak hanya mengikuti satu UKM saja.
"Hmm ya saya memang telat…Tetapi, sudah ada yang menggantikan didalam sana, apakah ada sesuatu yang terjadi tadi diatas? Tadi terdengar kau sedang berselisih paham dengan ketua mu?" Akh..mianhae, bukan maksud…"
"Tak apa Kim Jae Joong Oppa! Yunho Oppa hanya kesal karena kami tidak diperbolehkan masuk ke rapat saja. Lagipula suaranya memang sangat keras tadi, meskipun oppa tak bermaksud menguping juga pastinya kedengaran sampai sini. Oh iya...Berhubung kita bertemu disini saya boleh minta bantuan oppa sedikit?"
"Bantuan?"
"Iya… Begini oppa, bisa saya meminta bantuan bila nanti rapat selesai untuk memberitahukan isi rapat BEM dan BLM itu. Bisa tidak?" Ujar gadis itu penuh harap. Jae Joong terdiam sejenak, ia juga tak yakin dapat membantu gadis ini sebab ia juga terlambat, meskipun di dalam sana Junsu dan Hyo Jyo tengah menggantikannya ia bisa saja bernasib sama dengan gadis ini dan ketua Hipala tersebut.
Tak lama Yunho yang baru saja sampai di lantai satu akan berdebat dengan Ara lagi, tapi ketika melihat orang yang tengah berbincang dengan gadis sekretaris Hipala itu, Yunho mengurungkan niatnya memarahi. Ia tahu orang itu adalah ketua KKK, Kim Jae Joong. Yunho tak kenal akrab, namun sebagai ketua organisasi kemahasiswaan Hipala setidaknya mereka pernah bertemu, berbincang-bincang sekedar untuk kepentingan UKM. Kepentingan itu misalkan seperti beberapa bulan lalu, dimana UKM KKK mengadakan retret kegiatan social penduduk kurang mampu. Saat itu mereka kekurangan tenaga juga beberapa property yang hanya dipunyai oleh UKM Hipala. Oleh karena itu beberapa anggota Hipala saat itu ada yang mengikuti acara retret itu untuk membantu ketua alim itu. Melihat Ara begitu serius berbicara dengan Jae Joong ia hanya memandangi di anak tangga ke 4 dari Jae Joong dan Ara berbicara.
Bagi Yunho, ia sangat tidak cocok bila berbicara dengan orang yang alim dari KKK macam Kim Jae Joong itu. Bukan karena ia tak suka pada orang-orang dari UKM KKK namun, Kim Jae Joong ketua UKM KKK itu terkenal sangat alim di kampus Shinki. Tak ada yang tidak mengenal pria alim itu, orang yang membuat ia jengah saja. Entahlah, ia tak suka melihat orang yang menurutnya 'sok alim', sebab pasti pandangannya rendah terhadap diri Yunho dan ia tak suka itu.
Semua itu memang berawal ia pernah tertangkap mata berbuat yang menurut pria alim itu adalah 'dosa' membuat ia sedikit tak menyukai pria sok alim berwajah mirip wanita itu. Walau demikian, meski ia tidak menyukai ketua nya bukan berarti ia tak suka berkawan dengan anggota KKK lainnya. Yoochun atau Jin Botol nama julukannya yang merupakan anggota Hipala sering mengikuti Persekutuan Doa setiap hari Jum'at yang dimana kegiatan itu isinya bernyanyi kidung doa. Persekutuan Doa ini sebenarnya boleh diikuti seluruh fakultas di kampus Shinki dan itu artinya bebas untuk seluruh UKM yang ada. Kegiatan itu di ko'ordinir oleh pria itu, seseroang yang menurut Yunho susah untuk diajak bergaul lebih akrab.
"Bagaimana oppa, mohon bantuannya yah? Bisa?" Ara tiba-tiba membungkukkan badannya 90 derajat membuat Jae Joong sedikit gelagapan menerima perlakuan itu. Baginya gadis itu tak harus melakukan hal itu sebab walau bagaimanapun seorang Kim Jae Joong sangat menghargai wanita. Ladies First selalu menjadi pedomannya.
"Ya.. Panci, tak usah kau menundukkan kepala bila ia tak mau!" Yunho membuka suara juga akhirnya, membuat Jae Joong menengadah melihat kearah Yunho yang berdiri angkuh itu, sedangkan Ara yang membungkuk terlihat sedikit ketakutan. Jae Joong pun semakin mendesah penuh kasihan ketika melirik Ara yang sedikit ketakutan. Memang Yunho yang seperti itu dapat membuat siapa saja ketakutan, tapi tidak untuknya. Jae Joong hanya takut pada Tuhan, Yunho hanyalah manusia sama sepertinya. Ingin ia berteriak kepada pria itu untuk lebih sopan terhadap wanita. Tetapi tidak ia lakukan. Jae Joong tak habis pikir, dari manakah pesona pria angkuh dengan aroganis tinggi ini memikat para gadis dan dengan cepat mematahkan cinta yang tengah bersemi di hati mereka.
"Akan ku bantu. Kalau begitu, aku permisi dulu!" Jae Joong pun menapaki tangga melewati Yunho tengah berdiri angkuh di tangga.
"Kau tak perlu membantu bila memang kau tak bisa." Jae Joong berhenti dan menoleh kearah Yunho dan tersenyum.
"Tak usah khawatir, bila seseorang perlu bantuan maka akan ku bantu sebisaku."
Setelah berjalan menapaki tangga hingga ia berada di lantai dua tanpa menoleh sekalipun kebelakang. Sedangkan Yunho membuang nafas keras sampai pipinya menggembung dan bibirnya berbentuk huruf O.
"Seharusnya kau tak perlu meminta bantuan pria itu. Kau bisa meminta bantuan Jin Botol atau siapa saja, tak perlu dengan dia!"
"Sudahlah Kondom oppa! Bagiku sekarang siapa saja yang membantu tak masalah. Aku malas berdebat, sekarang lebih baik kita ke kantin. Aku lapar! Bertengkar denganmu membuat perutku yang keroncongan minta segera di isi."
Sekali lagi Ara berjalan mendahului Yunho, saat ini yang dipikirkannya adalah bagaimana mengisi perutnya yang kelaparan sembari menenangkan hati yang kesal. Tubuh Yunho tercium bau aroma tubuh Sunbei nya yang bernama Kwon Boa. Sungguh ajaib tak ada kissmark ditubuhnya, berarti wanita itulah yang di terlalu banyak disentuh olehnya. Walau demikian ia tak terlalu cemburu sebab ia tahu persis, tak pernah ada gadis yang benar-benar mampir di hatinya. Salah satu hal yang membuat nya lega sedikit. Dia masih memiliki waktu..waktu yang cukup panjang untuk mendapatkan Yunho. Masih banyak waktu!
TBC
Bagaimana? Ada yang bisa menebak kearah mana cerita ini? Ahahahhaha. Yang jelas karena bocor itulah, aku mengganti prolog dengan menghilangkan seseorang yang tengah duduk di sebuah pusara dengan memakai pakaian pastur. Iya, diawal emang aku mau buat ff ini dengan salah satunya death chara. pengen sekali doang aku buat cerita sad ending. Tadinya aku mau buat Mami Jae akhirnya jadi pastur terus papi Yun meninggal di bunuh gitu, Mami yang ga bisa menikahi Hyo Joo itu jadi pastur lah. alasannya sih kalau jeli bisa di lihat di chapter ini. dan Ya...gegara seseorang yang nyelutuk "eh itu Ff kan akhirnya Yunho nya mati" dan seseorang yang merupakan reader setia FF ini menjadi kecewa dengan bilang "yeah, Unnie aku ga mau baca lagi akh. padahal itu yang paling pengen aku baca"
Dan...untuk endingnya kepaksa aku RUBAH. masalah ENDING nya bagaimana NANTINYA, aku akan serahkan pada kalian.
see youu... mian, ga sempet edit-edit. Kalau suka, akan aku Update sampai chapter 2C ( yangchap 2C ini belum ada di blog ya) Chap 2 emang aku bagi dengan 3 part. Lalu Chap 3 emang NC sih, cuma mau aku edit-edit lagi. Akan tetapi, aku mau nulis Just Us, jadi tar maybe akan gantian sama Just Us. Tergantung sih kalian mau yang mana dulu. aku kan tergantung sama reader, minatnya yang mana ^^. Kalau lebih suka yang ini akan aku cepetin update. kalau suka yang Just Us maka yang itu dulu. Aku mah terserah reader mau gimana ^^
