Title: A Man's First Love

Rating: M

Cast: Jung Yunho, Kim Jae Joong, Han Hyo Joo, Go Ara

Genre: Drama

Chap: 2A/?

Author: Blueberrymilkshake

Request and idea story: Yunjae_married aka yunjaekisses aka Lia

Disclaimer: Yunjae saling memiliki, tulisan punya saya dengan storyline dari Lia ketika saya openTake Request dari Forum TVXQ Indo

WARNING: YAOI YUNJAE, MATURE. Tolong bersikap terbuka untuk menyikapi cerita ini. Mohon di baca dengan sangat kepala dingin dan bacalah dengan pemikiran terbuka. FF lama Tahun pembuatan 2010.

Chapter 2A

Persiapan, Diskusi, Gunung Bhukan

Jae Joong berada di depan pintu serba guna tempat dimana tengah berlangsung rapat BEM dan BLM. Baru kali ini ia merasakan kegugupan luar biasa untuk masuk ke dalam ruagan rapat resmi keorganisasian seluruh UKM untuk kampusnya seperti ini. Berkali-kali ia menarik nafas lalu mengeluarkan perlahan untuk mengusir kegugupan itu, pompaan jantung yang lumayan cepat sepersekian detik rasanya penuh dengan oksigen dan beban berat serasa men. Keringat dingin mulai mengucur di dahi dan pelipis. Sial..! Tangan kanannya padahal sudah berada di knob pintu dan tangan kirinya juga sudah siap mengetuk akan tetapi perasaannya masih di dera ketakutan dan gugup luar biasa seperti ini.

Haish..Semua ini disebabkan ketua UKM Hipala dan sekretarisnya yang tak dapat masuk ke dalam ruangan ini. Terbayang dalam benaknya bagaimana bila ada anak yang telat memasuki rapat BEM dan BLM di pandang sinis oleh Lee Teuk. Ketua BEM dan BLM ini sebenarnya dikenal sangat baik dan murah senyum namun jangan di tanya bila hal ini berkaitan dengan rapat ataupun pekerjaan sebagai ketua BEM dan BLM, orang ini bisa berubah sangat menyeramkan, apalagi bila disebelah pria itu ada wakil ketua bernama Kim Heechul yang terkenal berwajah manis namun bisa sangat galak di waktu seperti ini.

Sebenarnya pemandangan di tolak yang terjadi pada ketua UKM Hipala ini kerap kali terjadi menimpa UKM tersebut. Hal ini pasti berhubungan dengan masalah pengambilan dana kemahasiswaan beberapa waktu lalu yang cukup membuat kampus di badan UKM ricuh, awal muasal memang berawal dari ketua Hipala itu. Untuk satu ini Jae Joong sependapat dengan sikap Yunho saat itu. Akh..tidak juga, tapi semua UKM juga sependapat. Dengan pandangan Yunho dalam bersikap tegas mengambil dana kemahasiswaan untuk kelangsungan organisasi mahasiswa yang memang bergerak dalam bidang kreativitas tersebut. Keberanian ketua Hipala kala itu, cukup membuat UKM yang lain dapat maju dan berani mengutarakan unek-unek mereka yang selama ini memang mereka tekan, menyimpan segala pertanyaan dan kemarahan sendiri. Sikap UKM Hipala itu cukup berpengaruh keseluruh UKM untuk protes terhadap lembaga mahasiswa Universitas Shinki agar dana kemahasiswaan cepat diturunkan demi kelangsungan organisasi yang memang paling bersumbangsih untuk menarik mahasiswa baru. Tak dapat di pungkiri memang, UKM merupakan salah satu penarik siswa SMU memasuki Universitas Shinki disamping menawarkan beragam macam fakultas dan juga fasilitas lengkap kampus tersebut. Dalam acara kampus expo tahunan biasanya UKM merupakan tolak ukur para siswa dan siswi untuk melirik sekolah terbaik dari yang terbaik. Universitas memiliki setidaknya beragam macam UKM terbaik yang bisa di banggakan seperti dari bidang olahraga. Namun kampus Shinki terkenal dengan UKM Dancing dan UKM olah Vocal yang cukup banyak mereka biasanya menjadi penari-penari latar boyband terkenal dan juga penyanyi tentu saja.

"Akh..., kenapa gugup seperti ini?" Ujarnya sambil mengurut dada dimana jantung yang berdetak kencang itu tak dapat berkompromi dengan baik. Dua perdebatan pendapat muncul di dalam kepalanya mencoba menjadi yang utama. Akankah ia tetap di luar atau masuk ke dalam ruang serba guna ini? Pasalnya, ia tak pernah lupa atau telat dalam keadaan penting yang berhubungan dengan rapat kemahasiswaan. Walaupun Hyoo Jyoo dan Junsu berada didalam, tetap saja perasaan takut tak diterima seperti kedua orang tadi oleh ketua dan wakil BEM dan BLM bermain-main menggelitik di kepalanya. Tapi sepertinya ia harus menghilangkan perasaan takut ini sebab tadi Jae Joong sempat berjanji akan membantu gadis dari UKM Hipala tersebut dalam memberi rincian isi rapat hari ini bukan? Janji tetaplah janji.

Bila ada yang bersalah akan keterlambatan Jae Joong maka semua itu disebabkan penyakit sialan itu. Bila ia tidak terlalu fokus untuk berpikir bagaimana bisa berangkat kuliah esok pagi di mana hujan membasahi bumi sejak ia akan melelapkan diri dalam tidur malamnya, maka hal sepele ini tak mungkin telat masuk kuliah lalu melupakan acara penting ini.

Hari berhujan membuat isi kepala nya berfokus dengan satu titik saja yakni bagaimana ia bisa melewati rasa dingin mendera di musim gugur. Saat musim gugur seperti ini derajat celciusnya kedinginan di Korea bagi Jae Joong begitu menusuk tulang sebab bila ia terus merasa dingin maka yang harus di lakukan adalah tidur bermalas-malasan di kasur berpegas nya di temani oleh bed cover yang hangat. Bukan di karenakan ia suka bermalas-malasan seperti itu, penyakit alergi dingin nya memang membuat tak bisa melakukan kegiatan di luar. Jae Joong harus menjaga suhu kamarnya selalu berada dalam keadaan normal, atau kalau tidak ia akan sangat menderita.

Oleh karena itu Jae Joong menjadi lebih waspada dan siaga di bulan-bulan riskan seperti ini. Seperti di tahun-tahun lalu di mana pada bulan memasuki musim gugur, biasanya curah hujan derajat celcius selalu tak menentu. Jae Joong biasanya lebih berhati-hati dengan keadaan cuaca tak menentu seperti sekarang. Apalagi bulan depan sudah akan memasuki musim salju yang harusnya cuaca akan lebih dingin dan berada di minus hampir minus nol derajat celcius.

Jae Joong tak ingin merasakan hal yang seakan hidup ini berakhir seperti saat ia masih kecil dulu terulang kembali. Untuk mengatasi dingingnya hujan saja pakaian yang ia kenakan sekarang sudah cukup membuat orang melihat menjadi gerah sendiri. Di kampusnya sekarang cuaca tengah terang benderang dengan sinar panas menyengat kulit. Akh...Andai Jae Joong tahu hujan ini tak merata di semua tempat ia pasti memilih menghantam hujan lebih awal dan berangkat kuliah saja sejak sedari pagi. Mungkin dengan begitu rapat BEM dan BLM ini ia tak harus mengalami keterlambatan dan ia tak harus menghadapi ketakutan tak penting yang sekarang tengah menyerang dirinya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, waktu tak bisa di putar balikkan sesuka hati.

Tak terasa, ia telah berdiri berdiri di depan pintu ruang serba guna BEM dan BLM tempat berlangsung rapat kurang lebih lima belas menit sejak kedatangannya. Jae Joong pun sampai pada jawaban bahwa ia memutuskan untuk membuka saja pintu ini namun bunyi getaran di ponsel nya membuat ia sedikit terkejut dan membuat tangannya yang sudah bersiap memutar knob pintu dan berniat untuk mengetuk terhenti. Jae Joong pun berjalan mundur dari arah ia berdiri di depan pintu hingga ujung belakang sepatunya menyentuh tembok pagar palang pembatas kampus. Dengan cepat ia merogoh kantung jaket tebalnya dan mengambil ponselnya. Di liat di layar screen LCD ponselnya nama Hyo Joo tertera di sana.

Disaat jari- jemari tangannya yang dengan lincah membuka pesan singkat itu Jaejoong dikejutkan dengan suara pintu di buka membuat ia secara refleks mendongakkan kepala. Tak hanya satu, dua orang saja yang terlihat akan keluar dari pintu yang tadinya tertutup rapat itu. Mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan dan memegang kursi ketua UKM seperti sebut saja ketua UKM Dancer Hankyung, UKM Teater Kim Kibum, UKM Paduan Suara Yeeshung mulai keluar satu persatu dari pintu tersebut. Raut wajah mereka terlihat tak senang apalagi Hankyung yang memandangi dirinya dengan wajah lelah. Ada apa sebenarnya dengan mereka semua? Jae Joong jadi sedikit bertanya-tanya dalam hati membuat isi sms Hyo Joo yang sedang ia buka terlupakan sejenak. Apakah ada sesuatu yang menyebabkan mereka tak suka dengan hasil rapat hari ini? Bisa jadi seperti itu sebab bazar itu untung-untungan dalam memilih tempat stand yang bagus dan cukup di sukai pengunjung.

"Jae Joong oppa!"

Seorang gadis berteriak dari arah dalam ketika melihat Jae Joong tengah bersandar pada tiang pagar lantai dua gedung serbaguna ini. Jae Joong yang tengah melamun memikirkan apa yang sedang terjadi pada ketua-ketua UKM itu segera mencari suara yang tengah memanggilnya. Terlihat kepala lelaki itu tengah menengok ke kiri dan ke kanan mencari suara merdu kekasih yang tengah memanggilnya

"Disini oppaa!"

Jae Joong akhirnya menemukan jari-jari lentik sang kekasih tengah melambai di udara, seakan menyuruh untuk masuk kedalam. Dia pun tersenyum dan membalas lambaian itu. Jae Joong pun memasuki ruang serba guna itu dengan langkah biasa namun entah kenapa membuat siapa saja berada di sekitarnya kagum. Mungkin jawabannya terdapat pada pribadi pria itu yang begitu sangat santun, membuat siapa saja menjadi segan terhadapnya. Sebenarnya segala yang menjadi dasar dari ketakutan itu tak harus terjadi! Kalau pun ia masuk dengan segala kesopanan yang di punyainya, tak ada satu orang pun akan mencela pria itu.

"Rapat nya sudah berakhir oppa. Aku baru saja mengirim sms untuk memberitahukan padamu kalau rapat hampir selesai" Hyo Joo berucap ketika Jae Joong sudah sampai di sebelahnya dan Junsu.

"Baru saja aku akan membacanya'"

"Hmm.. Rupanya begitu."

Hyo Joo mengerucutkan bibirnya membuat ia terlihat manis di mata Jae Joong. Senyum itu memang paling ia suka. Rasanya hangat bila melihat senyum itu. Bagaikan mentari yang bersinar indah memancarkan pelangi setelah hari berhujan!

"Apakah ada masalah dalam acara ulang tahun Universitas Shinki kali ini?"

Jae Joong berubah serius kali ini. Melihat air muka para ketua UKM tadi sepertinya ia tahu ada beberapa masalah tengah terjadi. Jae Joong berharap bahwa itu bukanlah masalah tentang pembagian stand yang tak adil.

"Pihak yayasan menginginkan acara ulang tahun universitas tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak ingin kita mengadakan Bazar lagi untuk tahun ini."

"Lantas apa? Padahal persiapan sudah jadi dan tinggal melaksanakannya bukan?"

"Itulah masalahnya Hyung."

Junsu membuka tas ransel nya dan mengambil kertas yang berisi kegiatan yang begitu berbeda dilakukan oleh Universitas Shinki itu yang di duga oleh Jae Joong tengah dibagikan saat rapat komite tadi. Jae Joong sedikit mengernyitkan dahi tak mengerti dengan isi kertas. Junsu menghembuskan nafas lelah ketika di lihatnya Jae Joong sedikit enggan membaca kertas yang ia beri.

"Kita akan berkemah 3 hari. Karena jurusan kita banyak maka di bagi 3 team 3 gunung. Satu di gunung Bhukansan Seoul, satu di Gunung Hallasan di pulau Je Ju dan satu lagi di gunung Seongjusan yang ada di Chungcheong Selatan. Kita mendapatkan Gunung Bhukansan dan anggota team tertera dalam kertas itu. "

Junsu menjelaskan dengan pelan dan membuat Jae Joong terkejut setengah mati. Dengan cepat ia membuka lipatan kertas dan membaca kertas yang telah di beri oleh Junsu. Sungguh ini memang sangat berbeda dengan apa yang terjadi tiap tahun.

"A..A-apa!"

"Begitulah oppa dan coba kau lihat tanggalnya yang tertera dalam kertas itu."

Jae Joong membaca lagi dan matanya membulat melihat bahwa tanggal tersebut adalah tiga hari dari kecemasan dalam raut wajah Jae Joong. Baru kali ini ia menangani hal seperti ini atau bisa dikatakan tak berpengalaman berkemah mengingat umma nya dulu selalu melarang pergi berkemah di sebabkan cuaca gunung tak baik untuk alergi dingin yang ia idap. Apakah tidak ada masalah nantinya di gunung tersebut? Apalagi satu team dengan...

"UKM Hipala, UKM dance, dan UKM pemandu sorak!"

Terkejut ketika melihat isi kertas yang di beri oleh Junsu dan membaca UKM apa saja yang tergabung dalam team Gunung Bhunkansan. Oh…Tidak ada masalah untuk keorganisasian namun pertanyaannya adalah apakah mereka semua bisa bekerja sama? Masalahnya sangat jelas bahwa mereka team yang tak cocok. Dua diantaranya mungkin Jae Joong sangat cocok mengingat ia mengenal baik ketuanya yang sering ikut Persekutuan Doa dan mereka juga satu jurusan dengannya. Tapi untuk ketua dari Hipala?

Selama ini team work untuk Hipala yang paling solid adalah UKM Teater! Tapi UKM Teater malah mendapatkan ke gunung Hallasan di Je Ju. Jae Joong tak habis terpikir kenapa ketua BEM mengharuskannya bekerja satu team dengan UKM yang menurut Jae Joong sangat bertolak belakang dan memisahkan dua UKM solid tersebut dengan team berbeda? Sekarang pikiran Jae Joong hanya untuk menemui ketua Hipala dan para anggotanya membicarakan permasalahan ini. Kebetulan juga tadi mereka membutuhkan info rapat. Akan tetapi gadis bernama Go Ara tidak memberitahukan di mana ia harus menemuinya!

"Ada satu lagi..pihak UKM lainnya menginginkanmu dan ketua Hipala yang mengatur jalannya perkemahan hyung."

Sekali lagi Jae Joong mencelos mendengar perkataan Junsu. Well..sepertinya dia benar-benar harus ikut perkemahan kali ini. Terlihat wajah Hyo Joo yang memandanginya dengan khawatir. Tentu saja ia tahu bahwa Jae Joong alergi dingin, sehingga cuaca pegunungan adalah musuh terbesarnya. Tapi...Jae Joong pernah bercerita begitu sangat inginnya dia pergi kegunung sesekali. Sebagai tunangan Jae Joong, Hyoo Joo tak ingin membatasi ruang gerak Jae Joong meski ia begitu khawatir.

Sepertinya kekhawatiran Hyo Joo terbaca oleh Jae Joong. Sekarang waktunya ia bersikap kuat, bukan sebagai seorang laki-laki lemah yang takut dengan dingin. Semua pasti bisa diatasi dengan pakaian yang hangat. Yah..semua pasti tak terjadi apa-apa. Jae Joong pun terpikir dengan anak-anak Hipala. Mungkin dari mereka ia bisa mengetahu informasi lebih baik tentang cuaca pegunungan Bhukan. Bukankah tadi mereka juga membutuhkan infomasi tentang rapat ini?

"Junsu, kau kenal dan dekat dengan anggota Hipala bernama Park Yoochun yang selalu mengikuti Persekutuan doa setiap Jum'at itu bukan?" Tanya Jae Joong yang sangat tidak ingin menemui Jung Yunho sebagai ketua Hipala tersebut. Tapi dia perlu berbicara, mengingat janji dengan Go Ara tadi. Janji haruslah di tepati bukan?

"Aku memang mengenalnya hyung, tapi aku tak dekat dengannya! Memang ada apa dengan pria itu?"

Ada nada penekanan bahwa Junsu tak suka di katakan dekat dengan pria bernama Park Yoochun itu. Alasannya Yoochun itu sangat aneh menurutnya, apalagi dengan jidatnya yang menyamai lapangan bola itu.

"Ahni..bukan maksudku mengatakan kau dekat, hanya ingin bertanya apakah kau tahu dia biasanya sering terlihat di mana dengan teman-teman Hipalanya selain di sekretariat mereka?"

"Kalau itu aku tahu oppa. Mereka sering terlihat di caffe Rainbow milik SoRi ahjumma." Sahut Hyo Joo membuat Jae Joong sekarang melirik ke arah kekasih sekaligus tunangannya itu

"Baiklah...Hyo Joo, aku minta agar kau dan Junsu untuk menemui ketua UKM dance dan UKM pemandu sorak membicarakan perkemahan ini. Aku akan ke Caffe Rainbow mencari anak-anak dari UKM Hipala untuk membicarakan apa-apa yang harus di lakukan untuk perkemahan ini. "

Jae Joong segera beranjak pergi ke caffe Rainbow untuk membicarakan perkemahan ini meninggalkan dua orang disana yang tentunya dengan tugas masing-masih telah didapat. Yah..Jae Joong tahu persis bahwa pasti kedua ketua UKM lainnya tak ingin bertemu dengan ketuanya mengingat teman-temannya itu pernah bercerita bagaimana pria bernama Jung Yunho itu membuat pacar-pacar mereka bertingkah aneh kalau berada satu tempat dengan lelaki penebar pesona, begitu mereka berujar. Walau tak ingin, ini sudah keputusan rapat maka ia harus menjalaninya!

Suasana Caffe Rainbow saat ini sangat ramai dengan mahasiswa dan mahasiswi hampir seluruh jurusan tumpah ruah di dalamnya. Ara gadis berkuncir kuda yang tengah membawa makanan di nampannya terlihat kesusahan berjalan menuju tempat duduk di mana ada Yunho tengah menyeruput jus sirsaknya dan kawan-kawan sesama UKM Hipala lain tengah memakan camilan keripik pedas yang berada di meja paling pojok caffe. Setelah perjalanan yang menurut gadis itu cukup panjang ia pun sampai di tempat duduk Yunho dan beberapa teman UKM Hipala. Suara keras nampan di letakkan di meja ,membuat Yunho memandang gadis di depannya yang kini memandangi isi nampan dengan wajah haru.

"Gadis rakus..! Ujar Yunho sambil menyeringai mengolok ketika melihat Ara menyumpit entah bermacam-macam sayur dan lauk pauk yang Yunho sendiri tak suka tengah berada diatas mangkuk kecil milik gadis itu.

"Ya..'Kondom hyung'... kau seperti baru tahu saja kalau Ara memang rakus hahhaha.." Celutuk Jang Geun Seuk sambil tangan kanan mengambil camilan kripik pedas sedang tangan yang bebas menghisapkan rokok ke mulutnya. Yunho dan kawan-kawan memilih tempat terpojok di dinding cafe sebab daerah ini memang diperuntukkan untuk yang merokok seperti mereka.

"Hei..Yunho ah hati-hati dengan jus sirsakmu bila tak ingin di ambil olehnya. Amankan se-ge-ra! Hahahha.." Tambah Jae Jin sambil bercanda memegangi jus Apel, ayam goreng dan kentang gorengnya! Kontan saja gadis itu menjitak keras kepala Jae Jin yang duduk berhadapan dengannya sambil memberengut kesal.

"Sewot saja kalian. Aku ini sedang kelaparan, apalagi nanti sore kita akan ada latihan panjat tebing untuk memberi pengajaran anak-anak semester baru yang baru saja resmi menjadi anggota tetap. Apakah kalian berdua lupa?"

Yunho mendecakkan lidahnya mendengar jawaban sekretaris Hipala saja ia tak akan lupa dengan tugas memberikan praktek memanjat setelah materi dalam tiga minggu ini telah di berikan pada anggota baru itu. Hal inilah yang menyebabkan telat datang hari ini ke kampus. Tidak bisa bermain dengan bebas dengan wanita yang baru saja ia kencani dua hari lalu, oleh karena itu bercinta nya di rapel pagi hari tadi sebab, hubungan dengan wanita tak lebih dari seminggu dalam kamusnya tak boleh kekurangan moment. Yunho menyeruput jus sirsaknya kembali, tak lama suara riuh rendah wanita terdengar di telinganya tengah mencicit pelan seakan tengah melihat seorang yang sempurna selain dirinya! Padahal dari tadi ia hanya mendengar bisikan kagum melihat otot bisepnya yang bersembunyi di kaus lengan panjang, atau mengagumi wajah tampannya!

Dengan matanya yang cukup awas, Yunho mencoba mencari sosok pria mana yang berhasil membuat mata para gadis teralih darinya. Saat ia melihat ke arah dinding kaca yang transparan matanya menangkap sosok pria yang membuat ia jengah sekali lihat. Pria alim itu, Kim Jae Joong sepertinya berjalan ke arah kantin. Ckckck..seharusnya dia tak usah datang saja. Melihat pria itu membuat emosinya tiba-tiba menjadi naik saja ia emosi sekarang! Mengingat permintaan tolong Ara di tangga tentang rapat BEM dan BLM dan sekarang mencuri pandangan gadis-gadis darinya.

Hei..apakah ini terlihat ia tengah cemburu di sebabkan kalah pesona? Katakanlah saja begitu! Coba lihat pandangan wanita-wanita yang awalnya berada pada satu titik, yakni pada meja yang menjadi tempat duduknya bersama para teman Hipala? Sekarang sebagian wanita tengah beralih menatap penuh bunga-bunga cinta pada sosok pria alim yang menurut Yunho salah dilahirkan sebagai pria disebabkan wajah kelewat perempuan sekali!

Setahunya pria itu sudah memiliki tunangan yang menurut Yunho sangat di bawah standar, sungguh di bawah level! Wanita tunangan Kim Jae Joong itu tidak cukup untuk dikatakan sebagai wanita oleh Yunho namun kenapa bisa terpilih menjadi tunangannya? Apakah karena pribadi santun dan alim yang juga melekat pada wanita itu yang membuat keduanya bertunangan? Yang jelas, menurut Yunho mereka adalah pasangan yang paling membosankan untuk di lihat oleh matanya!

Kim Jae Joong sekarang terlihat tengah bingung, kepalanya menoleh ke kiri dan kekanan seperti mencari sesuatu ketika berdiri di depan pintu masuk caffe. Seketika mata pria itu tertumbuk pada meja Yunho dan pria itu tersenyum atau apakah Jae Joong tengah tersenyum dengan Ara yang kebetulan duduk di sebelahnya dan tengah melambaikan tangan kearah pria tersebut? Sepertinya benar sebab suara cempreng Ara tengah berteriak seakan tengah merusak gendang telinga Yunho!

"Disini oppa! Kemari...!" teriak Ara lantang ketika sekretaris Hipala itu melihat orang yang di mintai bantuan tentang rapat BEM dan BLM telah datang berdiri di depan caffe yang berada di area perkuliahan mereka. Kontan sekarang para wanita menatap kembali ke Ara seakan iri sebab selama ini Jae Joong selalu kemana saja di temani oleh tunangannya, itu yang di ketahui oleh semua orang selama ini. Bila ia tengah sendirian seperti sekarang pasti ada tugas sebagai ketua KKK yang tengah di tangani pria itu. Jae Joong berjalan cukup cepat sambil membawa selembar kertas yang diduga oleh Yunho selebaran dari rapat BEM dan BLM, pria itu datang dengan senyum mengembang ke meja mereka.

"Anyeonghaseyeo yorobuen. Mian kalau kedatanganku mengganggu sebentar. Ara sshi, ini yang tadi di bahas dalam rapat BEM dan BLM. Silahkan untuk di baca" Ujar Jae Joong dengan sopan dan tersenyum pada semua yang duduk di kursi panjang dari kayu itu. Tangannya terulur kearah Ara yang tengah duduk di kursinya. Ara mengambil kertas yang di ulurkan Jae Joong padanya.

"Gomawo Jae Joong oppa. Nanti aku baca setelah makan atau Yunho oppa, kau baca saja dulu kertas ini sekarang" Ara menyerahkan kertas itu ke arah Yunho yang tengah meneguk jus sirsaknya. Yunho memelototi sekretaris Hipala itu. Sumpah ia seharusnya tak ikutan berada di caffe ini bersama gadis ini dan kedua orang yang merupakan seksi peralatan panjat tebing untuk Hipala, Jang Geun Seuk dan Lee Jae Jin.

"Ku harap kalian semua membaca sekarang. Ada perubahan rencana dalam acara ulang tahun universitas. Aku ingin mendiskusikan dengan kalian semua disini. Bisakah?" Ujar Jae Joong dengan serius membuat semua yang duduk di meja terkejut dan saling bertatap-tatapan. Tak biasanya ada perubahan rencana ulang tahun universitas beberapa tahun terakhir ini. Yunho menjadi serius sekarang, sebab kalau ada perubahan maka akan sulit untuknya menjajakan bisnis narkoba kecil-kecilaanya di kampus ini. Yunho sudah lumayan lama menjadi pemakai dan pengedar untuk teman-teman yang sudah bejat dari awal tentu saja. Tapi karena mereka temannya, tak jarang barang itu dikonsumsi bersama, dan tentu juga ada yang berhutang dulu. Membuat Yunho sedikit merugi. Sekarang ia belum mendapatkan sanksi dari big bos nya, tapi dia harus mendapatkan pelanggan baru selain kawan dan wanita-wanita yang tidur dengannya!

"Akh..duduklah Jae Joong oppa. Sepertinya ini sangat penting sekali. Yunho oppa, bisa kau bergeser kemari biar Jae Joong oppa bisa duduk di sebelah kananmu?"

Yunho membelalakkan matanya kearah Ara yang menyebalkan sekali hari ini. Kalau begitu, Jae Joong akan duduk di sebelahnya bukan di sebelah wanita itu? Apa-apaan huh! Kenapa harus begitu? Akh..tiba-tiba Yunho teringat dengan kejadian dimana ia pernah mencium teman kencannya dulu dan Jae Joong melihatnya. Lagi-lagi masalah kealiman. Damn it! Apakah berdekatan dengan wanita begitu membuat pria itu merasa berdosa? Bukankah tunanganya itu juga wanita? Yunho sedikit mencoba bangkit dari tempat duduknya saja. Dia mulai merasa mood nya yang buruk makin saja bertamabh di karenakan orang yang sama.

"Aku pergi saja ya!"

"Maaf Jung Yunho-sshi, tapi ku harap kau ada disini untuk kita saling berbicara sebagai sesama ketua UKM. Tak ada yang berpengalaman di bidang ini selain kau dan semua anggota Hipala jadi ku mohon kesediaan kerjasamanya." Jawab Jae Joong memohon untuk kesediaan Yunho duduk kembali sambil telunjuk mengarah pada kertas yang di pegang Ara. Yunho sedikit berpikir tentang kalimat tak berpengalaman di bidang itu. Sepertinya masalah ini sedikit rumit. Yunho pun mendesah nafas panjang. Kalau berbicara masalah sebagai ketua UKM Yunho hanya bisa melupakan ketidak nyamanan dan ketidak senangannya duduk disini. Bagi Yunho, bila ini masalah tentang UKM maka sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua untuk saling berbicara dan berdiskusi. Jae Joong juga tak ingin pastinya berlama-lama juga duduk disini.

Yunho mengambil kertas yang di letakkan di meja oleh Ara dan membacanya. Kening Yunho terlihat berkerut, manik mata terlihat bergerak kesamping kiri kanan dengan cepat ketika membaca rangkaian kalimat di sana. Terbaca oleh Jae Joong dari ekpresi itu sama tak suka dan terkejut dengannya ketika pertama kali ia membaca isi bacaan yang tertera di dalam kertas itu.

"Jadi kampus akan mengadakan kemah di beberapa gunung di Korea selatan dan UKM KKK satu team dengan Hipala? Sedang waktu pelaksanaan tiga hari dari sekarang ?" Jae Joong mengangguk mengiyakan pertanyaan Yunho.

"Wajib untuk para mahasiswa dan mahasiswi semua jurusan. Dan team kita mendapatkan gunung Bhukansan. Teman-teman UKM yang menjadi team, menginginkan pihak UKM KKK dan Hipala yang menyusun perencanaan. Jadi aku kemari sekalian ingin membicarakan dengan kalian semua."

Yunho meletakkan kertas di meja dan mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja setelah kalimat panjang Jae Joong selesai. Salah satu kebiasaannya bila tengah berpikir hal rumit seperti ini. Kontan Geun Seuk yang akan memasukkan keripik pedasnya ke dalam mulut berhenti memasukkan kedalam mulut dan sekarang duduk dengan rapi. Jae Jin berhenti mengunyah ayam goreng dan kini memperhatikan ketua Hipala itu, sedang Go Ara meletakkan sumpit nya dan membuka resliting tas mengeluarkan buku dan alat tulis untuk mencatat. Tak ada waktu untuk makanan saat ini, meski perutnya keroncongan ini berhubungan dengan Yunho, seseorang yang diam-diam ia sukai bila tengah mengeluarkan ide.

Semua sudah tahu kalau Yunho tengah mengetuk-ngetuk jari dan bertampang seperti itu, maka tugas tengah memanggil mereka semua. Apalagi baru saja mereka mengetahui bahwa kali ini bukan bazar yang dilakukan untuk menyemarakan ulang tahun universitas akan tetapi berkemah menuju gunung Bhunkansan yang terkenal dengan jalan bukit terjal bila ingin sampai menuju puncak, juga terkenal dengan pemandangan dan panorama indah, tak jarang menjadi objeck wisata tersendiri buat para wisatawan asing. Tapi yang menjadi pertanyan, sekarang ini tengah musim gugur, apa yang berada dalam otak para petinggi mengharuskan mahasiswa pergi berkemah?

"Jae Jin dan Geun Seuk, kau bersama anggota baru agar menyiapkan peralatan tebing dan kemah kita untuk di berangkatkan ke gunung Bhukansan. Bilang kepada mereka bahwa kita menunda praktek panjat untuk perubahan acara ulang tahun universitas. Lalu kau Panci..., buatlah surat perizinan yang di rangkap untuk kehutanan dan pariwisata gunung Bhukansan. Mungkin kau bisa kerja sama dengan orang-orang dari UKM Jae Joong shi~. "Ujar Yunho berpikir cepat. Pekejaan ini sebenarnya memang pas untuk dia namun biasanya yang melakukan urusan seperti kerja lapangan sebagian di bantu dengan anak Teater. Sekretarian Teater yang terdekat dengan Hipala sehingga terkadang diklat yang di lakukan oleh Teater, dari pihak Teater biasanya ikut di hari terakhir mereka akan mensahkan anggota baru.

"Akh ne, dari pihakku sudah ku organir untuk melakukan beberapa hal. Kau bisa menemui Han Hyo Jyo Ara sshi~."

"Bagus. Kita harus sistem kerja cepat. Aku yakin pihak universitas belum meminta izin pihak kehutanan dan pariwisata di gunung Bhukansan. Oh iya Panci, sekalian buat kertas pengumuman untuk di pasang di mading apa-apa saja yang harus di bawa ke gunung Bhunkansan." Yunho sekarang diam dan membaca kembali dengan teliti apa-apa yang mungkin ia lewatkan untuk acara ini.

"Apakah sudah hyung? Kami akan segera melaksanakannya." Tanya Jae Jin padanya membuat Yunho mendongak ke arah anggotanya itu.

"Aku rasa sudah cukup sebab masalah surat untuk perizinan orang tua aku rasa nanti sudah dibagikan di kelas kita masing-masing! Kalian boleh melaksanakan tugas tadi." Semua orang mengangguk dan segera beranjak bangkit dari duduknya meninggalkan makanan mereka begitu saja kecuali Jae Joong. Pria itu ingin menanyakan medan dari gunung Bhunkansan seperti apa. Meski tadi ia mendengar bahwa ketua Hipala itu mengatakan akan membuat pengumuman yang harus di bawa oleh mereka apa saja di perkemahan, tetap saja ia ingin tahu seberapa dingin cuaca gunung Bhunkansan.

"Maaf Yunho shi~" Yunho yang tengah terpikir diam, sedikit terkejut ketika Jae Joong yang ia pikir sudah beranjak dari tempat duduk masih ada di samping kanannya. Pria itu pun menoleh dengan malas-malasan menghadapi wajah orang satu ini. Bukan ia benci, tapi ia sebenarnya tak ingin berurusan lebih jauh dengan pria itu kecuali tentang kepemimpinan mereka dalam perkemahan atau dalam hal urusan UKM.

"Ada yang ingin kau tanyakan berkaitan dengan gunung Bhukansan atau perkemahan ini?" Jae Joong menganggukkan kepala dengan sopan membuat Yunho mengambil bungkus rokok yang tinggal sebatang milik Geun Seuk. Tadi ia meminta sebatang dan belum ia hisap rokok itu. Biasanya ia akan mencampur ganja di dalamnya agar lebih terasa enak. Namun di sebabkan Jae Joong merupakan anak sok alim yang paling sangat di hindarinya, ia tak mengeluarkan ganja itu. Yunho tak ingin berurusan dengan pihak kampus terkait masalah obat atau tanaman terlarang hanya sebuah pelaporan dari seorang pria sok alim macam Jae Joong.

"Aku...Aku ingin bertanya tentang medan gunung Bhukansan itu seperti apa." Jae Joong bertanya dengan hal sepele dengan serius membuat Yunho ingin tertawa saja. Seorang pria dewasa yang tinggal di Korea tak pernah mengetahui bagaimana medan gunung Bhukansan? Gunung itu padahal memiliki panorama indah dan sering di kunjungi oleh warga Korea di saat musim semi sebab pohon-pohon plum merah , bunga sakura yang terkenal di Jepang juga tumbuh disana. Sehingga seperti hal nya orang-orang dari negara matahari terbit itu yang menamakan hanami, orang Korea juga menamakan hal sama dalam melihat gugurnya bunga musim semi tersebut.. Bahkan bukankah gunung Bhukan pernah masuk dalam acara stasiun televisi ternama di Korea dalam bidang kepariwisataan di Korea selatan tepatnya ibukota Seoul?

Dan dalam Gunung Bhukansan sebelum menjadi objeck wisata seperti sekarang ini, perbukitannya sangat terjal dan lumayan curam. Ditunjukkan dengan banyak sekali pembangunan pendopo pada bukit yang jalannya berundak-undak atau di buat seperti tangga setiap mereka akan berjalan menuju tempat wisata gunung Bhukan. Walau di buat pembangunan seperti itu, negara Korea tidaklah mengeruk semua gunung untuk pembangunan wisata, ada beberapa lokasi yang memang di peruntukkan untuk berkemah dan lokasi inilah yang akan menjadi tempat melaksanakan ulang tahun perkuliahan kali ini.

Oleh sebab lokasi yang diperuntukkan untuk perkemahan adalah hutan berbukut-bukit, perizinan dengan pihak dinas perhutanan kota Seoul sangat di perlukan, inilah alasan kenapa Yunho menyuruh Geun Seuk dan Jae Jin pergi ke lokasi untuk mencari tempat berkemah yang tepat bersama anggota baru lainnya biar nanti para UKM lainnya menyusul esok hari dalam pemasangan tenda untuk post para panitia begitu izin telah tembus. Biasanya juga tak susah, mengingat dana yang di keluarkan oleh kampus juga lumayan besar untuk tiap team ketika ia membaca kertas yang di berikan Jae Joong. Akh, baru ingat dia kalau pria sok alim itu menanyakan tentang medan gunung Bhukan seperti apa!

"Memangnya kau tak pernah berkemah selama ini? Bukankah gunung Bhukan begitu terkenal di Korea? Tentunya kau tahu bagaimana seluk beluknya. Kau pasti pernah kesana bukan?"

Pertanyaan yang sontak membuat Jae Joong bingung menjawabnya. Tak mungkin ia mengatakan tak pernah kegunung karena alergi cuaca dingin yang ia idap dengan pria bernama Jung Yunho diketahuinya lewat berita yang santer terdengar di kampus bahwa pria itu adalah seorang yang bereputasi buruk meski sangat berbakat dalam kepemimpinan. Terbukti sekali dari ia mengkoordinir teman-temanya sangat cemerlang. Bahkan ia dapat berpikir dengan cepat untuk membaca lokasi yang bagi Jae Joong sangat minim beritanya akan derajat dingin gunung tersebut

Sebenarnya ia ingin sekali dahulu ikut acara perkemahan di saat masih duduk di sekolah dasar, menengah dan atas. Tapi umma tak pernah memberi izin akan hal itu. Namun sekarang ia sudah kuliah dan seorang pria dewasa, tak mungkin selalu dalam perlindungan umma. Bukankah ia juga sudah bertunangan? Berarti sudah siap untuk membina keluarga dan resiko ini harus ia lewati sebagai pria yang nantinya akan menjadi kepala keluarga.

Melihat kediaman Jae Joong yang seperti itu, Yunho hanya bisa menebak bahwa Jae Joong memang benar-benar tidak tahu. Hei..ini sungguh menggelikan sekali! Seorang pria yang tampan seperti Kim Jae Joong dan mmbuat gadis-gadis di caffe ini menahan nafas memandanginya tak pernah berkemah dan tidak pernah ke salah satu gunung yang merupakan devisa negara? Yunho mendecakkan lidah atas kesimpulan yang ia dapat tentang pria sok alim ini.

"Gunung Bhukan berbukit-bukit tapi lumayan hangat cuacanya di musim panas. Kalau musin gugur seperti ini cuacanya dingin namun tidak akan membunuh kita."

Jae Joong menarik nafas lega atas jawaban yang ia terima dari Yunho. Jae Joong cuma bisa berdoa semoga saja alergi dinginnya tak kambuh disana dan semoga saja team work mereka bisa berjalan dengan baik dan tak kalah dengan team lain yang juga pada hari itu ikut merayakan di gunung lain. Yah..semoga tidak akan ada kejadian buruk seperti ketika ia masih kecil dulu.

TBC

Terima kasih sudah membaca.

untuk teman-teman yang merasa familiar sama ff nya, iya saya orang yang sama ne

Untuk yang ga suka, sekali lagi saya tidak bermaksud untuk menistakan agama. tolong di baca bener-bener storyline FF ini bagaimana okay. Sepanjang FF ini pernah saya publish, mereka tidak mempermasalahkan loh, walau storyline nya seperti ini. Lagipula ini adalah Request dari seorang author FF Yunjae dulu.

Aku bermaksud membuat ini untuk kado Nickey So Sweet. Tapi Just Us juga iya sih yah, tanggal 13 an atau 14 insyaallah untuk Just Us saya lanjut. kalau tidak ada halangan yang namanya mood saya turun. Jadi, saya mohon untuk tidak mencari masalah terlebih dahulu dalam keadaan riskan ini. soalnya saya dalam tekanan untuk membuat FF yang mungkin akan berdampak pada sikap yang kurang baik, padahal saya tidak bermaksud untuk itu. kalau saya salah-salah kata, maaf ne.

masih mau lanjut? chap 2C aku sudah selesai edit, chap 3 masih belum selesai edit. masih mau aku lanjutkan tidak sampai 2C?