Title: A Man's First Love

Rating: M

Cast: Jung Yunho, Kim Jae Joong, Han Hyo Joo, Go Ara

Genre: Drama

Chap: 2B/?

Author: Blueberrymilkshake

Request and idea story: Yunjae_married aka yunjaekisses aka Lia

Disclaimer: Yunjae saling memiliki, tulisan punya saya dengan storyline dari Lia ketika saya openTake Request dari Forum TVXQ Indo

WARNING: YAOI YUNJAE, MATURE. Tolong bersikap terbuka untuk menyikapi cerita ini. Mohon di baca dengan sangat kepala dingin dan dengan pemikiran terbuka. FF lama Tahun pembuatan 2010.

Chapter 2B

Gunung Bhukan

Jae Joong terbangun ketika bunyi alarm yang ia pasang berbunyi dengan keras di atas meja nakas. Setelah pembicaraannya dengan Yunho tiga hari lalu di caffe Rainbow yang singkat tentang pertanyaan akan medan gunung Bhunkansan itu, persiapan dalam perkemahan ke gunung tersebut sangatlah padat dan bagai neraka saja rasanya. Tak ada waktu istirahat bagi mahasiswa dan mahasiswi yang tergabung dalam UKM yang menjadi team perkemahan. Namun disebabkan kemarin hujan deras sekali dengan dinginnya seakan meremukkan tulang belulangnya, di sertai tubuhnya juga memerah dan bengkak yang berarti alergi dingin menyebalkan itu kambuh, Jae Joong terpaksa mengistirahatkan diri seharian penuh dikamar setelah meminum obat yang selalu di sediakan olehnya untuk berjaga-jaga kalau alergi dingin itu kambuh. Hyoo Joo sengaja tak ia hubungi, sebab wanita itu pasti khawatir dan akan mengesampingkan kesibukan kampus yang begitu menyita perhatiannya untuk menjaga Jae Joong. Akan tetapi, alasan terbesar tak menghubungi Hyo Joo kemarin agar pihak rumah atau keluarga mengetahui ia akan ikut pergi berkemah.

Jae Joong sadar bahwa ia seharusnya tak bersikap manja dengan tetap meringkuk di kasur kemarin siang di saat semua kawan tengah dalam keadaan sibuk, apalagi pihak UKM Hipala dan Dancing sebagian sudah ada di lokasi menyiapkan semua perlatan kemah dari memasangi penerangan menggunakan lampu dari minyak tanah, membangun tenda yang di dapat dari mahasiswa dan mahasiswi, walau beberapa dari semua ada peralatan dari inventaris Hipala, kemudian pihak acara berinisiatif ada jurit malam dan tengah menentukan 4 rute jurit malam beserta membuat rute seperti peta dimana nantinya akan di bagikan kepada mahasiswa mahasiswi peserta jurit, terakhir mereka menyiapkan tempat api unggun untuk dilaksanakannya talent show dipembuka acara malam pertama di gunung tersebut. Namun apa yang harus ia lakukan kalau nantinya alergi dingin itu malah membuat tak bisa datang keesokan hari?

Hujan kemarin sangat berdampak hebat bagi kulit sensitivenya terhadap cuaca dingin, ia tak ingin besok tak dapat pergi dikarenakan demam tinggi jika memaksakan datang pada briefing akhir dari sehari sebelum keberangkatan khusus panitia yang tentunya adalah team UKM untuk gunung Bhukan dan ketua dari komisi C dari BEM sebagai pengawas. Bila ia pergi pasti Hyo Joo tahu ia kambuh sakit alergi dinginnya, umma pasti tahu dari Hyoo Joo bahwa ia akan pergi ke gunung Bhukan, itu alamat tidak ada izin pergi. Sebagai seorang yang penurut ia tak akan mungkin mengecewakan umma nya oleh sebab itu Jae Joong memilih tidak datang kemarin daripada akan membuat keinginannya pergi ke gunung untuk pertama kali dalam hidup batal dan alergi yang ia sembunyikan dari siapapun kecuali Hyo Joo dan orang tuanya di ketahui orang banyak. Cukup sudah ia di kasihani oleh teman-teman semasa Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas-nya hanya karena alergi dingin itu. Untuk itu ia bersekolah di Universitas Shinki ini, dimana tak mungkin ada yang tahu tentang dirinya. Biaya untuk sekolah di sini memang sangat tinggi sekali, hanya orang-orang kaya atau mendapat beasiswa saja dapat bersekolah disini. Apalagi Universitas Shinki memakai sistem jumlah target mahasiswa yang masuk kemari, meski ada kampus expo, itu tidak berpengaruh banyak terhadap penambahan target mahasiswa. Beruntung nilai akademik Jae Joong sewaktu SMA sangat bagus, membuat ia bisa mendapat beasiswa.

Jae Joong menggeliat pelan masih mengantuk. Maklum saja, pengaruh obat untuk alerginya yang ia minum mengandung penenang sehingga membuat ia susah membuka mata. Ketika Jae Joong berusaha melirik ke arah jam wekernya ia menggeram pelan ketika tahu bahwa angka jam yang terlihat di alarm jam weker sudah sangat terlewat setengah jam untuk para panitia berkumpul. Jae Joong pun dengan amat terpaksa membuat matanya terbuka dan bergegas beranjak dari ranjang, segera membersihkan tubuhnya untuk bersiap-siap berangkat. Beruntung ia sudah mempersiapkan bawaannya ke gunung Bhukan begitu pengumuman yang di buat sekretaris Hipala Go Ara selesai di pasang di mading universitas. Jadi ia tak perlu terburu-buru memasukkan persiapan kemahnya ketika waktu sudah sangat terlewat seperti ini! Dengan susah payah ia berlari sambil menggeret barang bawaannya yang cukup untuk di bawa oleh dua orang itu menuju mobil sport bututnya. Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Jae Joong segera melajukan mobil menuju Universitas Shinki untuk bergabung dengan teman-teman panitia team gunung Bhukan. Sesampai di parkiran kampus, Jae Joong melihat bus milik kampus yang telah berjejer dua hari lalu sudah berkurang sangat banyak dari hitungan bus sebelum ini. Pasti sebagian sudah berjalan membawa mahasiswa menuju pelabuhan untuk menyebrang menuju Je Ju island dimana gunung Hallasan berada dan juga menuju Chungcheong Selatan yakni dimana gunung Seongjusan berada. Sial! Apakah bus milik tim nya juga sudah berangkat semua? Semoga saja masih ada satu dua bus milik tim nya!

Raut wajahnya sudah terlihat panik, memang sekarang masih banyak mahasiswa yang tergabung di tim menuju Chungcheong selatan sebab Jae Joong mengenali beberapa anggota UKM Teater yang mengikuti Persekutuan Doa masih mengatur mahasiswa yang akan menuju gunung Seongju. Namun sepanjang ia edarkan pandangan ke penjuru lapangan parkir perkuliahan tak melihat timnya satupun. Tumpah ruah mahasiswa ini yang membuat Jae Joong kesulitan mencari mereka. Jae Joong segera membuat tanda salib dengan cara menaruh tangan ke kepala lalu turun ke dada dan pindah ke bahu kanan dan kiri lalu mengatup menutup mata berdoa semoga team nya masih tersisa sebab, bila semua tidak ada maka Jae Joong akan sangat kecewa. Bisa saja ia berangkat sendiri ke gunung Bhukan namun, ia tidak tahu lokasi yang di pilih Geun Seuk dan Jae Jin kemarin tepatnya di mana. Ditengah kepanikan itu, mata Jae Joong menangkap sosok tegap yang pernah membuat ia harus berdoa sepanjang malam hanya karena melihat sebuah ciuman pria itu dengan wanita ketika tengah mengunjungi sekretariat Hipala. Entah kenapa Jae Joong merasa ia beruntung kali ini.

"Permisi...Permisi semuanya...,'" Ujar Jae Joong pada mahasiswi yang tengah berdiri menghalangi jalannya sambil menyunggingkan senyum manis. Gadis itu begitu melihat bahwa yang tengah menyapa agar memberi jalan adalah Jae Joong langsung tersipu malu dan menyingkir. Tidak hanya gadis itu yang menyingkir, sepanjang ia tengah menggeret koper besarnya berjalan menuju ketua Hipala yang tengah bersandar di pohon dengan ujung sepatu kets khusus untuk panjat itu di ketuk-ketukkan ke tanah, mahasiswa dan mahasiswi memberi jalan kepadanya. Mungkin mereka berpikir sungguh surga dapat melihat dua orang tertampan di kampus tengah bertemu atau kesopanan Jae Joong yang sangat terkenal membuat Jae Joong mudah melewati lautan manusia yang begitu padat di komando oleh para ketua tim masing-masing.

"Jung Yunho –sshi...," Yunho yang tengah menundukkan kepala sambil mengetuk ujung sepatu kets itu segera menengadah ketika melihat sosok yang memang di tunggu sedari tadi oleh tim gunung Bhukan telah datang dengan tampang tanpa dosanya. Apakah pria ini tidak pernah tahu bahwa acara ini sangat menguras emosi jiwa maupun tubuh secara kasat mata? Keterlambatan pria itu sangat menghambat jalannya keberangkatan kali ini. Saat ini seluruh bus kampus yang memberangkatkan tim mereka sudah berangkat semua, tinggal tim dari gunung Hallasan saja yang tertinggal sebab mereka tengah menunggu jam kedatangan kapal penyebrangan ke Je Ju nya!

Sebenarnya Yunho tak ingin menunggui pria sok alim dengan wajah layaknya wanita ini untuk datang. Persetan pria sok alim itu mau ikut atau tidak ke acara ini toh tidak akan juga berpengaruh pada hidup Yunho. Namun ia teringat ketika membaca kemarin di selebarann itu, yang tidak akan mengikuti acara kali ini tidak akan lulus tiga mata kuliah meski nilainya bagus juga. Yunho memang tidak pernah mengenal Jae Joong secara mendalam namun siapa yang tak tahu bahwa Kim Jae Joong adalah peraih beasiswa dan ketua KKK? Kalau para dosen atau dekan tahu bahwa pria bernama Kim Jae Joong tidak ikut ke acara ulang tahun Universitas Shinki di sebabkan di tinggal oleh tim nya, maka itu merupakan neraka buat mereka semua.

Tadinya Hyo Joo tunangan pria sok alim ini yang akan menunggui kedatangannya. Akan tetapi, mengingat medan yang sangat menyulitkan untuk orang tidak berpengalaman dalam bidang panjat tebing atau olahraga ekstrim, maka teman-teman lain menunjuknya untuk menunggu Jae Joong. Jadi dengan berat hati ia yang menunggu disini sejak tiga puluh menit keberangkatan bus mereka, walau sangat tidak menyukai menunggui pria kecewek-cewekkan sok alim itu. Andai kata matanya bisa di segarkan dengan gadis-gadis sexy mungkin tak pernah ia merasa bosan akan tetapi semua gadis disini merupakan kualitas level bawah membuat tak nafsu untuk mencari pengganti Boa yang baru saja ia campakkan dua hari lalu. Sebenarnya waktu berpacaran dengan Boa belum habis, namun kalau ia tunda maka ketika pulang dari gunung Bhukansan, Yunho tidak dapat menggaet mangsa gadis lain yang telah ia incar dalam kamus wanita cantiknya.

"Mianhae aku terlambat. Apakah tim kita sudah berangkat semua?" Tanya Jae Joong dengan nada paling sopan dalam pertanyaan itu membuat Yunho mendecakkan lidah dengan pertanyaan Jae Joong. Dia pikir dengan terlambat tiga puluh menit atau bisa dikatakan satu jam untuk teman-teman mahasiswa berkumpul disini, maka semua akan menunggu kedatangannya? Belum lagi pria ini tak datang ketika briefing kemarin! Padahal kemarin ada penambahan apa-apa yang harus di bawa oleh tim panitia. Yunho mengamati pakaian yang di kenakan pria itu kemudian beralih ke koper yang di bawa Jae Joong. Hei...apakah dia pikir berkemah itu sama dengan bepergian menuju luar kota atau luar negri, sampai-sampai kopernya sebesar itu dan berpakaian t-shirt putih di kombinasi dengan luaran kotak-kotak berwarna merah dan celana panjang kedodoran dengan bahan jeans? Lalu Jae Joong juga tengah memanggul tas ransel yang entahlah apa saja isinya itu.

"Jae Joong –ssi,apa isi koper dan ransel yang kau bawa itu? Apa tidak terlalu banyak untuk tiga hari berkemah di gunung?"

Jae Joong terlihat terkejut dan tidak nyaman ketika Yunho bertanya tentang barang bawaan yang sangat banyak itu. Memang apa salahnya ia bertanya tentang isi koper dan ransel itu? Saat ini mereka tidak tengah menggunakan bus untuk pergi ke gunung Bhukan melainkan menggunakan motor miliknya yang biasa di pergunakan untuk kegunung. Kalau memang koper itu isinya tidak berguna, lebih baik tak usah dibawa daripada pria itu tak dapat menentengnya dalam perjalanan menuju gunung tersebut. Gunung Bhukansan bermedan sulit untuk di tembus menggunakan mobil untuk bulan-bulan ini, sebab di saat ini musim gugur seperti ini pastinya lokasi disana begitu licin dengan curah hujan kecil. Temperature nya memang kalau malam di beberapa lokasi yang tentu saja jauh dari perkemahan mereka, dinginnya sangat tinggi. Tak jarang di bagian lokasi terdingin itu, akan turun hujan salju. Tapi itu tak mungkin terjadi sekarang untuk hujan salju itu. Menurut badan meteorologi yang Yunho cari kemarin setelah briefing bersama para timnya, hujan salju tak akan datang untuk diminggu akhir ini, tapi untuk bulan kedepan mungkin saja begitu melihat arah pergerakan angin tidaklah terlalu besar. Lagipula gunung Bhukan tingginya 836,5 meter di atas permukaan air laut, setidaknya tidak seberbahaya gunung Hallasan di Je Ju.

"Semua ini adalah pakaian dan alat berkemah milikku, Yunho –ssi." Jawab Jae Joong dengan sedikit mengatasi kegugupan ketika mengatakan kalimat itu. Tak mungkin Jae Joong mengatakan bahwa koper itu berisikan bedcover yang tidak terlalu tebal di bawanya khusus malam hari bila keadaan cuaca menjadi lebih dingin. Meski Yunho kemarin mengemukakan kepadanya bahwa derajat dingin di Gunung Bhukansan tidak membuat orang mati, tapi bagi dia pasti sangat berbeda suasana itu! Membawa bedcover saja ia harus pikir-pikir ulang apakah ini sangat cocok di bawa kesana? Tapi mungkin saja bukan ini di perlukannya!

"Di tas yang mana kau letakkan obat-obatan dan keperluan perkemahanmu?" Tanya Yunho lagi sambil bersedekap tangannya di dada. Kalau barang-barang itu tidak ada di dalam koper, maka ini akan memperlambat perjalanan ke gunung Bhukansan. Dengan medan seperti itu, hanya menggunakan kendaraan bermotor maka akan dapat menaklukkan perjalanan tanpa susah-susah berjalan kaki menuju tempat kemah mereka. Salah satu kenapa ia tadi tidak memperbolehkan Hyo Joo menunggui pria sok alim ini sebab tentu akan lebih menghambat proses acara ulang tahun tiga tempat ini. Acara api unggun nanti pihak tim gunung Bhunkansan akan saling berinteraksi dengan semua tim dua gunung berbeda. Kalau harus menunggui wanita bernama Hyoo Joo dan pria sok alim Kim Jae Joong ini, maka bisa-bisa lebih memakan waktu. Lagipula wanita bernama Hyoo Joo itu tahu apa dengan lokasi ini kecuali dia dan teman-teman yang kemarin pergi mengantar alat-alat kemah lalu kembali kemari hanya untuk mengatur mahasiswa dan mahasiswi yang akan berangkat ke gunung Bhunkansan.

"Aku menaruhnya di tas ranselku. Apa ada masalah Yunho-ssi?" Jae Joong bertanya sekarang, sebab ini menurut Jae Joong sudah amat pribadi pertanyaan kakak tingkatnya ini. Memang kenapa dengan bawaannya? Dia hanya membawa bedcover atau bisa di sebut selimut tebal hanya untuk diri sendiri, walau tidak ada yang menyuruh membawa semua itu bukankah hanya mengatasi alergi dingin itu. Tapi satu lagi, ia tak ingin di kasihani orang seperti dulu. Tak akan ia mengatakan bahwa didalam kopernya ada bed cover kalau itu yang ingin di ketahui Yunho/

"Kalau begitu kembalikan saja koper mu ke dalam bagasi mobilmu. Aku rasa juga tak perlu sebanyak itu kau membawa pakaian."

"Ta-ta-tapi Yunho-ssi... inii hmm,.."

"Tolong Jae Joong –sshi! Apa kau pikir dengan keterlambatanmu maka jadwal keberangkatan bus akan di tunda? Bus tim kita sudah berangkat semua. Hanya ada aku yang menunggumu disini kau tahu!"

Yunho sekarang memuntahkan kekesalan nya sedari tadi menunggu kedatangan pria sok alim Kim Jae Joong. Mendengar nada bentakan itu Jae Joong menjadi tercekat, memang dia salah telah tidak datang tepat waktu sehingga membuat orang ini menungguinya. Akan tetapi semua yang ada di dalam kopernya adalah nyawa seorang Kim Jae Joong untuk tetap hidup 3 malam di gunung yang dingin.

"Semua ini barang bawaanku Yunho-sshi aku mohon untuk bisa ku bawa." Jae Joong sekarang berwajah serius dan sangat berharap untuk di bawa. Di pandang wajah keras pria yang kini tengah marah itu untuk mencari kelunakan dan membuat nya dapat membawa koper. Merasa di pandangi dengan wajah serius dan permohonan bagai angel, membuat Yunho menghembuskan nafas panjang,

"Kau tak lihat apa yang kubawa? Kita ke sana akan menggunakan motorku, dan kau pikir gunung itu seindah lukisan?" Yunho mengangkat tangan dan menyapu rambut di dahinya menuju kebelakang sebelum ia menjelaskan kembali pembicaraannya.

"Jalannya tidaklah semulus jalan raya, tapi begitu terjal dan kontur tanah juga licin di musim seperti sekarang. Bus saja hanya bisa mengantar teman-teman kita di bagian lokasi yang sudah terbangun untuk area wisata, tapi selebihnya mereka berjalan kaki. Koper sangat tidak cocok di bawa ke gunung Jae Joong-sshi!"

Mendengar alasan Yunho sekarang Jae Joong mengerjap-erjapkan mata. Well, begitukah gunung itu? Maklum saja, ia memang sering melihat di majalah atau belajar tentang letak geografisnya tapi tidak pernah tahu medannya seperti apa. Jae Joong menjadi sangat malu sekarang telah memaksakan sesuatu seperti ini pada orang tak di kenalnya. Dan tadi bukankah Yunho mengatakan naik motor! Kenapa tidak bilang dari tadi saja kendaraan itu, malah berbelit-belit. Kalau sudah tahu alasannya, mungkin ia tak akan memohon untuk membawa serta kopernya. Jae Joong tahu kalau naik motor ia juga akan kesusahan membawa kecuali dengan mobil yang ia kendarai.

"Mian Yunho-sshi, kau benar. Koper tidak cocok untuk dibawa tapi bukankah kita bisa naik mobilku kalau kau mau." Tawar Jae Joong, sebab dengan naik mobil bukankah bisa cepat sampai ke tempat tujuan. Jae Joong sangat ingin melihat panorama gunung itu dengan nyata. Setelah pembicaraan waktu itu dengan Yunho terakhir kali, ia memang sempat men-searching lewat website tentang gunung Bhukansan yang indah.

"Naik mobil tidak bersentuhan dengan alam. Kau pikir kenapa aku ada disini menungguimu kalau bukan karena lebih suka naik motorku?"

Yunho dengan cepat mengamit ransel yang ia taruh di samping kakinya dan memakai di punggung. Dengan cepat ia berjalan mendahului Jae Joong menuju motor kebanggaan yang ia pakai untuk ke gunung tentu saja. Tak perlu berdebat panjang lebar lagi dengan Jae Joong. Sekarang terserah pria cantik sok alim itu mau ikut motornya atau tidak. Jae Joong sepertinya harus mengalah, ia pun menaruh kembali kopernya ke dalam bagasi mobil dan Yunho sudah berada di dekat mobil Jae Joong dengan motornya. Jae Joong segera naik ke motor Yunho setelah memencet tombol pengunci.

Perjalanan menuju gunung Bhunkansan dengan mengendarai motor cukup membuat Jae Joong sedikit dingin dengan angin yang begitu menerpa kulit wajanynya. Tapi ini merupakan perjalanan ke gunung pertama kali jadi rasa dingin itu sepertinya terabaikan hanya karena sebuah perasaan bahagia menyelimuti hati sebab akhirnya ia dapat melihat gunung asli untuk pertama kali dalam hidupnya. Jae Joong sangat bersyukur bisa pergi untuk melihat gunung secara nyata, alam indah yang dibuat oleh Tuhan pencipta seluruh alam semesta!

0o0o0o0o0o0o0oYUNJAE0o0o0o0o0o0ooo0o

Motor yang Yunho kendarai akhirnya sampai di gunung Bhunkansan satu setengah jam kemudian. Tak perlu waktu selama itu sebenarnya untuk sampai dengan kendaraan kebanggaannya itu bila ia sendirian. Yah...Harusnya bisa lebih cepat sampai setengah jam lalu, namun di sebabkan pria sok alim itu mencengkeram ranselnya begitu kuat membuat beban berat di punggung Yunho begitu terasa, ia tidak melajukan motornya. Ini juga demi keselamatan orang yang dibawa juga, mau tak mau bila biasa ia memakai speedometer hingga 80 km/jam, sekarang harus di bawah itu. Dan sekarang ia sudah memarkir motornya di bagian kawasan wisata dari gunung Bhukansan. Bus Universitas Shinki juga sudah ada disana semua dengan tanpa mahasiswa dan mahasiswinya tentu saja sebab pasti mereka sudah masuk ke kawasan kemah mereka.

Yunho membuka resliting bagian terdepan dari ranselnya kemudian mengeluarkan dokumen berupa surat-surat izin dari perhutanan untuk di berikan kepada petugas jaga yang ada di pos satu nanti. Yunho memberikan satu kertas izin masuk ke dalam kawasan kemah ke Jae Joong yang berdiri di belakangnya tanpa banyak bicara tentu saja. Sangat malas berbicara dengan Jae Joong dari insiden keberangkatan tadi. Andai Jae Joong bukan salah satu orang penting dalam tim, tak perlu susah-susah ia menunggui dan tak perlu pula berdebat kepada pria itu antara membawa koper atau tidak tadi. Jae Joong menerima dengan diam pula, lagipula dia lebih tertarik dengan hawa dan udara bersih di sini. Seharusnya dari dulu ia punya keberanian untuk pergi sendirian ke gunung terdekat.

"Jae Joong –ssi, apakah kau akan tetap berdiri di sana!" Yunho berteriak dua meter dari tempat Jae Joong berdiri, Yunho sedikit menggelengkan kepala melihat jauhnya pria itu, kalau saja tadi Hyoo Joo yang bersama pria sok alim itu mungkin sampai ke perkemahan ketika api unggun di nyalakan, itu pun kalau tidak ditambah dengan tersesat di jalan. Bagi yang tidak mengetahui medan gunung dan juga tak memiliki kompas, pastinya akan tersesat. Yunho yakin Jae Joong maupun Hyoo Joo pasti tidak memiliki kompas. Jae Joong pun tersadar kalau ia sudah jauh tertinggal ketika ia asyik dengan pemandangan sekitar.

Oh tidak, ia membuat teman setim nya ini marah lagi. Setelah berlari kecil akhirnya mereka pun berjalan bersama atau bisa di katakan Yunho lah yang berjalan di depan menuju pos satu dengan Jae Joong yang berjalan mengekor di belakang. Jae Joong terlihat mengatur nafas ketika sampai di pos satu sebab ternyata untuk masuk pos satu mereka harus berjalan naik ke atas jalanan yang cukup panjang dan menanjak, mungkin ada 3 km jaraknya. Sempat terpikir kenapa tidak menggunakan motor saja kalau perjalanannya begini jauh? Tapi seketika ia ingat bahwa perjalanan kesini memang tidak gampang. Banyak kerikil, bebatuan, dan kontur tanah yang licin. Motor milik Yunho tak mungkin bisa membawanya kalau dengan medan seperti ini. Okay..kesabarannya saat ini bukankah tengah di uji!

Setelah nafasnya yang sedikit menderu berhasil ia atasi, Jae Joong memegang kedua lutut kakinya yang sedikit pegal dan sedikit memijat. Berjalan ditikungan panjang, menanjak dengan bebatuan, dan tanah yang liat, tentu saja ini begitu membuat Jae Joong cukup lelah. Hei... ingatkan bahwa dia bukanlah seorang olahragawan, tentu saja membuat tenaganya banyak terkuras! Selama ini kalau ada kegiatan retret KKK tidak pernah mencari lokasi terbuka dengan medan sulit seperti ini, ia lebih memilih mencari semacam villa kecil atau menggunakan sarana kampus sebagai alat untuk retret.

Yunho yang sudah sampai di depan pos satu terlebih dahulu darinya telah memberikan surat izin yang sudah di persiapkannya. Melihat Yunho sudah memberikan kertas izin itu membuat Jae Joong menghentikan sesi istirahatnya dan segera berlari memberikan kertas miliknya juga. Kalau ia tetap beristirahat bisa-bisa Yunho akan meninggalkannya. Setelah petugas membaca kertas surat dokumen itu resmi dan memang sebelumnya sempat ada mahasiswa dari Universitas Shinki dua jam an lalu melewati pos mereka, kedua orang itu akhirnya di perbolehkan masuk tanpa membayar tentu saja sebab hal seperti pembayaran sudah di lakukan pihak tim mereka beberapa hari lalu setelah mendapatkan dana dari yayasan mereka. Yunho merogoh kantung celana panjang nya berbahan kain mengambil kompas sambil terus berjalan meninggalkan Jae Joong. Dengan susah payah Jae Joong berlari lagi dan lagi mengikuti Yunho yang cepat sekali berjalan.

"Yunho-ssi, kap-an ki..kita sam-paiii ke perkemahannn?" Tanya Jae Joong dengan nafas memburu lagi. Hei...setelah dari tadi berjalan kemudian berlari dan berjalan lagi tanpa berbicara dan tiba-tiba pria tampan itu berhenti dan melihat kompasnya di tengah hutan. Jangan bilang kalau mereka tersesat. Ini baru hari pertama ia berkemah dan belum juga bergabung dengan teman-temannya, haruskah tersesat dengan Yunho? Bukankah ia belum membuat dan melihat api unggun pertamanya di sebuah gunung, tempat di mana ia tak pernah mengikuti kalau sekolahnya dulu melakukan kegiatan di luar sekolah?

"Sebentar lagi juga sampai. Tinggal berjalan mengikuti jalan yang itu tiga kali putaran maka kita akan sampai." Tunjuk Yunho dengan mantap ke arah sebelah kanan dimana ada sebuah jalan lurus yang tentunya di sebelah kiri dan kanan jalan tersebut banyak sekali pohon-pohon besar. Apakah pria sok alim itu berpikir bahwa ia bermaksud untuk mensesatkankannya? Selama ada kompas dan juga peta kecil yang ia punyai dan selalu di bawanya tak akan ada kata tersesat di kamus Yunho. Bisa di katakan dua alat itu merupakan salah satu peralatan penting di gunung yang tak akan Yunho tinggalkan. Tak pernah ia meninggalkan barang-barang ini selama akan pergi ke alam bebas.

"Tiga putaran itu apakah sama dengan seperti tadi kita naik ke pos satu?" Jae Joong bertanya lagi namun sekarang ia sudah dapat mengatur nafasnya dengan baik. Yunho terlihat menganggukkan kepalanya dan berdehem tanda mengiyakan pertanyaan Jae Joong!

Gila, Yunho masih bisa berbicara dengan baik tanpa kehilangan nafas satu kalipun, dan hei...kenapa juga keringat di tubuhnya tak sebanyak Jae Joong? Pria itu manusia atau bukan? Oh Tuhan, apa yang ada di pikirannya ini? Dia sudah sedikit mengatai ciptaan Tuhan paling sempurna di dunia, yakni Manusia! Cepat-cepat Jae Joong membuat salib lagi dengan menaruh tangan di kepala. Turun ke dada lalu ke kiri dan kanan bahu.

"Iya. Apa ada yang salah? Ckckck..." Yunho menghadap kebelakang dan melihat apa yang di lakukan oleh Jae Joong? Ternyata orang ini benar-benar berpikir jelek terhadapnya sehingga melakukan doa seperti itu. Kalaupun ingin mensesatkan anak orang, mending juga dengan wanita yang indah daripada dengan dia. Memangnya laki-laki dapat memuaskannya apa? Bagaimanapun ia masih menyukai dada wanita yang montok dan kenyal berada dalam belaiannya telapak tangannya!

"Kita bisa istirahat dulu sebentar, aku sudah tak tahan berjalan. Dan..demi Tuhan Aku haus sekali Yunho-ssi dan tak membawa air mineral karena air mineral aku simpan di koper yang ada di mobil." Jae Joong sedikit meminta sedikit kebaikan pada Yunho. Memang benar ia sangat lelah dan haus. Air mineral memang ia simpan di koper, membuat terlihat bodoh saja sekarang. Di gunung begini mana ada orang berjualan kecuali di dekat pos satu tadi. Jae Joong sedikit menyesal, kenapa tadi ketika di pos satu tidak membeli air mineral barang satu botol. Akan tetapi kalau ia membeli air mineral ketika di pos satu, dia akan kehilangan jejak Yunho yang berjalan cepat. Padahal, pria itu tengah membawa tas ransel besar di punggung.

"Kau ini cerewet atau kau ini pabbo Jae Joong-ssi?Disana itu bukankah ada air?"

Jae Joong melihat kearah yang di tunjukkan oleh Yunho yakni sebuah keran air yang di buat oleh warga di kaki bukit untuk mengairi tanaman holtikultura yang di tanam dan di beri plastik agar tidak terkena air hujan berlebih yang membuat mati tanaman tersebut. Jae Joong mengeryitkan dahi tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh pria ini. Keran air kecil yang dimana didepannya ada tumbuhan holtikultura atau bisa di katakan tanaman yang sengaja di buat oleh manusia bukan? Jae Joong tahu itu tumbuhan yang dapat di masak ketika ia mendekat dengan keran air, sebab hidup sendirian di apartemen membuat ia harus bisa memasak. Tak mungkin juga meminta umma mengirimkan makanan sudah jadi tiap bulan bukan? Walau ia mempunyai tunangan secantik Hyo Joo, Jae Joong terkadang tak tega tangan halus itu harus memasak.

"Apakah air ini Yunho-ssi?"

"Kau pikir dari mana kita mendapatkan air mineral kalau bukan diambil dari pegunungan!"

Tapi permasalahannya bukankah air ini belum mengalami tahap filtrasi? Walau begitu Jae Joong tetap berjalan ke arah keran itu dan memutarnya. Air sedingin es begitu terasa ketika tangannya di tengadahkan ke arah air yang mengalir. Jae Joong langsung memasukkan tangannya ke dalam saku celana jeansnya. Beberapa detik kemudian rasa itu menghilang, mungkin karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh dan berkeringat, jadi rasa dingin itu dengan cepat menghilang. Jae Joong mencoba untuk meminum air itu lagi tapi pikiran bahwa air itu mentah dan belum mengalami tahap filtrasi membuat nya ragu.

"Yunho-ssi...apakah air ini benar-benar bisa di minum?!" Jae Joong bertanya ke arah Yunho berdiri untuk ia merasa yakin bahwa tidak akan apa-apa meminum air mentah itu. Yunho mendekati Jae Joong yang sedikit ragu untuk memasukkan air kedalam mulutnya pada sebuah keran air yang tengah mengalir dengan air yang sedingin es. Yunho membuka keran yang satunya dan menengadahkan air ke telapak tangan lalu memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Setelah itu ia menutup kerannya dan menghapus air di pinggiran mulutnya dengan punggung tangan.

"Aku sudah minum air ini dan tidak mati bukan? Apa yang kau takutkan? Selama ini aku sudah meminum banyak air mentah di gunung tapi masih hidup sampai sekarang. Cepat minum, teman-teman pasti sudah menunggu di atas sana!" Yunho berkata dengan tegas, ia memang tak ingin banyak membuang-buang waktu. Sebenarnya kalau pria sok alim itu tidak lambat, sudah dari tadi ia sampai. Melihat Yunho ingin ia cepat, Jae Joong pun akhirnya meminum air gunung yang dingin itu. Ketika telapak tangannya menyentuh air yang dingin itu Jae Joong seperti merasakan ribuan jarum menusuk hingga bagian tulang belulangnya kembali namun di tahan. Setelah beberapa detik ia tetap menengadahkan air, rasa dingin itu menghilang Jae Joong tersenyum. Dengan cepat ia memasukkan air itu kedalam mulutnya. Begitu segar ketika masuk kedalam mulut dan di teguk menuju kerongkongannya yang membutuhkan air. Rasanya sama dengan air mineral yang ia minum selama ini dan memang benar apa yang baru dikatakan oleh Yunho bahwa tidak akan mati meminum air sesegar ini!

Setelah selesai minum air dan beristirahat sekitar lima menit hasil dari permintaan memelasnya pada Yunho, mereka pun meneruskan kembali perjalanan yang sempat tertunda dan setelah perjalanan yang memang dianggap oleh Jae Joong bagai neraka, mereka pada akhirnya sampai di perkemahan tersebut. Terlihat spanduk Universitas Shinki disana sebagai tanda atau bisa dikatakan seperti gerbang masuk perkemahan mereka membuat senyum mengembang di bibir Jae Joong. Mengingat dalam perjalanan sampai ke sini, Jae Joong melihat banyak spanduk sejenis sepanjang ia naik gunung sebagai tanda tempat kemah juga namun tentu saja spanduk itu bukanlah milik Universitas Shinki, melihat spanduk Universitas sendiri berada disana tentu ia senang. Perjalanan panjang berakhir, ia sekarang sangat ingin duduk di tenda dan menyimpn ransel besar di punggungnya ini!

Yeah... rasa senang itu memang di sebabkan ia sangat ingin duduk atau beristirahat. Setelah berhenti dari minum air tadi, Yunho terus saja berjalan dan tak ingin berhenti sekalipun membuat ia begitu kelelahan. Kaki, lutut dan punggung yang dimana ia memanggul ransel, sungguh tegang dan berat rasanya. Jae Joong sedikit malu sekarang ketika mengingat tadi ia sedikit memaksa Yunho agar membawa kopernya serta. Memang benar kata Yunho kalau sangat tidak tepat membawa koper ke gunung. Entah apa yang terjadi kalau ia membawa koper. Tanah yang di tumbuhi rerumputan disekitarnya, terasa licin di sebabkan air embun cuaca pegunungan yang mendingin semalam. Beberapa kali ia hampir saja terpeleset tapi tertolong dengan pepohonan di sekitarnya. Apa jadinya kalau ia harus membawa barang selain ransel. Begitu mereka berdua telah sampai, suara teriakan membahana di tempat perkemahan mereka. Itu tak lebih dari pesona Yunho yang begitu menarik dan memberi senyum terbaik buat mahasiswi yang bagai oase di tengah gurun. Tapi tentunya tak semua mahasiswi yang seperti itu, liat saja seorang gadis dengan rambut sebahunya tergerai indah tengah berlari mendatanginya.

"Oppa kau terlihat lelah sekali. Oppa mianhae, tidak menunggumu. Tadi aku ingin tapi ketua Hipala Jung Yunho-ssi mencegahku, alasannya karena aku tidak tahu medan gunung. Jadi dialah yang menunggu. Apakah dia baik-baik denganmu oppa?" Hyo Joo terlihat khawatir ketika berdiri di hadapannya. Yeah, gadis yang berlari tadi itu tentu saja tunangannya! Wajah gadis itu sepertinya merasa bersalah tak menungguinya datang. Jae Joong jadi ingin memeluk untuk menenangkan gadis itu namun banyaknya pasang mata memandang membuat ia tidak melakukan hal itu. Lagi-lagi kesopanan yang menjadi halangan untuk memberi perhatian gadisnya.

"Aku tak apa-apa Hyo Joo, hanya ingin duduk saja dan kau tak boleh berpikir begitu tentang Yunho-ssi." Jae Joong mengemukakan apa yang ia pikirkan tentang Yunho dengan cepat, nafasnya sudah ia atur sebelum berbicara agar Hyoo Joo tidak khawatir sekali kalau ia sangat lelah. Meski memang ia tak suka dengan Yunho sebab pria itu sangat galak, dalam perjalanan naik ke tempat perkemahan dapat merasakan bahwa Yunho sengaja berjalan lambat agar Jae Joong tidak jauh tertinggal dari jalan yang mereka lalui.

"Mianhae oppa, aku hanya khawatir padamu." Hyo Joo menunduk terlihat sedih, Jae Joong jadi tidak tega melihat kemurungan gadis yang menjadi tunangannya itu. Jae Joong pun mengangkat tangannya dan menyentuh dan mengelus lembut wajah Hyoo Joo yang menunduk hingga sejajar dengah jarak pandang Jae Joong. Dia menggeleng dan memberi senyuman manis terhadap tunangannya itu membuat rasa sedih gadis itu menguar tatkala melihat senyum Jae Joong yang mungkin bagai malaikat itu. Tak hanya Hyoo Joo, mahasiswi dan mahasiswa yang melihat iri pada awalnya terhadap Hyoo Joo sekarang terpana melihat senyum malaikat dari Jae Joong yang memang merupakan favorit siapapun itu.

" Tidak apa-apa Hyoo Joonie~." Sekarang Hyoo Joo mengangguk sambil tersenyum malu. Tentu saja, Jae Joong sangat jarang sekali sedikit mesra di hadapan orang banyak. Mungkin bagi orang apa yang di lakukan Jae Joong sangat biasa, tapi bagi Hyoo Joo ini sudah sangat luar biasa. Sebagai pria yang sangat menjunjung nilai agama dan etika, Jae Joong mengangkat wajah dan mengusap lembut itu sangat luar biasa untuk seorang Han Hyoo Joo! Walau sekarang tangan itu sudah tak ada di wajahnya, namun itu merupakan kegembiraan tersendiri untuknya.

"Akh iya, di mana tenda untuk panitia?"Yeah..lebih baik ia duduk dulu di tenda sebentar. Kakinya sudah sangat pegal, dan ingin sekali dapat duduk barang sebentar setelah itu membantu kawan-kawan yang sepertinya tengah membuat menara dari kayu untuk di buat api unggun. Memang kemarin sudah mempersiapkan kayu bakar teman-teman dari anggota Hipala, tapi kayu tersebut belum mereka bentuk.

"Ah..iitu..hummm?" Hyoo Joo terlihat gugup sekarang menanggapi pertanyaan Jae Joong. Pria cantik itu mengernyitkan dahi, memangnya kenapa dengan tenda untuk para panitia itu? Bukankah kemarin lalu Geun Seuk, Jae Jin dan teman-teman Hipala lainnya sudah membuat tenda panitia terlebih dahulu sebelum membangun separuh untuk mahasiswa dan mahasiswi yang datang sekarang? Kalau ia bisa lihat sekarang ini ada beberapa mahasiswa yang di bagi per group membuat sendiri tenda mereka, walau ada yang masih di bantu pengarahannya oleh panitia dari pihak hipala.

"Ada apa Hyoo Joonie?" Jae Joong sekarang sedikit bingung dengan air muka Hyoo Joo yang takut mengatakan tentang tenda panitia itu. Oh Tuhan, ada apa lagi sekarang?

"Aku..."

"Dengan siapa?" Jae Joong sekarang mendesak untuk di beritahukan. Saat ini ia merasa penasaran dengan yang tengah akan di katakan oleh Hyoo Joo. Tiba- tiba seorang gadis menghampiri mereka berdua. Jae Joong tahu siapa dia sebab memang wajah gadis yang ia ketahui dan kenal hanyalah Hyo Joo dan gadis dari UKM Hipala Go Ara.

"Kita bertiga akan satu tenda Jae Joong oppa. Humm...tapi kita masih setenda juga dengan Heechul oppa sebagai wakil BEM, Kondom oppa, Geun Seuk dan Jae Jin." Gadis bernama Go Ara itu menyelutuk ketika telah berdiri di sampingnya dan Hyoo Joo. Awal Jae Joong belum dapat mencerna apa yang di katakan gadis itu, mungkin karena faktor ia kelelahan namun begitu mengerti bahwa satu tenda dengan wanita?

"MUOOT!" Jae Joong berteriak keras sekarang. Apa dia tidak salah mendengar bahwa gadis dari UKM Hipala itu tadi mengatakan setenda bertiga, Ahniyaa...bukan bertiga tapi sebenarnya bertujuh. Tapi..tapi...kenapa harus dua gadis ini setenda dengan mereka? Itu tidak benar! Menurut hukum agama wanita dan pria tidak boleh satu ruangan tertutup walau sebenarnya tenda itu bukan ruangan tertutup tapi tetap saja mereka tidur bersama wanita. Oh siapa yang nengatur hal ini? Demi Tuhan, apakah ia harus tidak tidur untuk tiga malam ini di tenda?

Oh itu tentu bisa saja asal dunia malam di gunung tidaklah dingin. Sekarang saja kabut sudah mulai menutupi pandangan! Beruntung ia baru saja melakukan perjalanan jauh sehingga rasa dingin itu belum ia rasakan. Oh, alergi dinginnya bagaimana kalau ia tidak tidur di tenda? Jae Joong memegang dahinya seperti orang sakit kepala sekarang! Beberapa pasang mata yang tadinya sudah tak melihat kearah mereka sekarang melihat lagi. Teriakan Jae Joong yang keras itu mengundang mereka untuk melihat kearah mereka dan banyak yang saling berpandang-pandangan bertanya-tanya masalah apa yang membuat pria alim yang penyabar itu menjadi berteriak sehisteris itu!

Yunho yang tengah membaringkan diri di tenda panitia untuk tidur beberapa menit bangun kembali akibat teriakan Jae Joong. Terlihat ia begitu gusar sebab sesi istirahatnya harus tertunda. Apakah ia tak boleh beristirahat barang sebentar? Baru saja ia memejamkan mata untuk beristirahat, dia sudah terbangun. Memang Yunho termasuk orang yang dapat cepat memejamkan mata bila membaringkan kepalanya sebentar tapi ia juga termasuk orang yang mendengar berisik sedikit bisa cepat terbangun. Kesal meliputi hatinya sebab yang mengganggu sesi tidur kali ini tak lain dan tak bukan pria sok alim berwajah seperti wanita itu! Geun Seuk yang lagi sibuk membuat kompor dari spirtus untuk membuat minuman hangat di saat cuaca mendingin menengok ke arah Yunho.

"Kau terlihat kesal sekali Kondom hyung?" Tanya Geun Seuk ketika melihat raut wajah ketua Hipala itu begitu terlihat kesal. Apakah karena teriakan Jae Joong hyung yang membuat Yunho kesal? Memang Yunho orang yang akan marah kalau sesi istirahatnya terganggu. Yunho sebenarnya orang yang sangat kuat tidak tidur. Dia bisa tidak tertidur dalam dua hari penuh kalau tengah bekerja sebagai ketua Hipala. Geun Seuk tahu sekali, tiga hari dalam mempersiapkan perkemahan ini, pria itu lebih lelah darinya atau semua anggota Hipala. Tanpa ada Yunho, mungkin tenda-tenda sekarang tidak berdiri. Yeah, selain ia mengantar properti Yunho harus menuju ke bagian izin perhutanan dan lain sebagainya. Seharusnya itu adalah tugas Kim Jae Joong yang meminta izin dari pihak perhutanan, namun pria itu malah tidak datang kemarin, dan pagi ini orang itu juga terlambat datang! Tentunya istirahat sekarang begitu berarti buat Yunho, tapi ia terbangun di sebabkan teriakan terkejut orang yang membuat lelah.

Tapi, keterkejutan Kim Jae Joong bukanlah tak memiliki alasan. Geun Seuk juga sadar sekali bahwa tidur satu tenda dengan wanita, itu hal yang tidak biasa bukan buat Kim Jae Joong atau UKM selain Teater dan Hipala. Hal yang sangat wajar bagi mereka bukankah tidak begitu dengan orang lain? Apalagi Kim Jae Joong adalah pria yang begitu alim, sopan santunnya begitu membuat siapa saja tertarik. Pria maupun wanita akan terpikat dengan senyum dan kebaikannya! Kemarin sewaktu Yunho mengutarakan bahwa tenda yang sekarang Geun Seuk buat untuk menjerang air panas ini akan di buat untuk panitia lain dan yang tertutup untuk mereka bertujuh, ia berpikir pasti masalah ini akan muncul.

"Ada masalah apa lagi dengan pria bernama Kim Jae Joong itu?" Yunho bertanya dengan pelan namun berisi makna bahwa ia sangat kesal sekali. Geun Seuk terlihat menghembuskan nafas panjang. Awalnya ia tak ingin menjawab tapi pandangan tajam Yunho membuat ia mengalah.

"Sepertinya Kim Jae Joong-ssi tak ingin bila harus satu tenda dengan wanita dan tidak setuju. Aku bilang apa kemarin hyung? Pasti dia tidak akan setuju dan mau tidur setenda dengan wanita." Gaeun Seuk menjelaskan dengan amat terpaksa. Untuk anggota dari Teater dan UKM lain yang juga ada merangkap jadi anggota Hipala mungkin dapat mentolerir pembagian ini. Tapi kalau UKM KKK semacam Jae Joong, mungkin akan bermasalah.

"Hanya tidur saja cerewet sekali. Lagipula belum tentu kita bisa tidur di saat padatnya acara." Sambi berkata seperti itu Yunho berdiri dari duduknya dan menghampiri Jae Joong, Hyoo Joo dan Ara yang sepertinya menjelaskan masalah ini. Tapi yang membuat ia kesal bahwa seluruh mahasiswa sepertinya sekarang tengah terfokus dengan ketiga orang itu. Apakah begitu berdosanya harus tidur setenda dengan wanita? Toh para wanita akan di beri batasan dengan mereka yang para lelaki. Kalau mereka bersama anak-anak dari Teater, tak akan ada yang kaget. Mereka sudah menganggap satu keluarga.

"Ada apa lagi? Sudahlah Jae Joong-ssi duduk sana di tenda. Bukankah sedari perjalanan kau mengoceh capek dan minta istirahat?" Ujar Yunho dengan sedikit sarkatis. Memang, pria itu sedari perjalanan berisik meminta istirahat. Sekarang sudah sampai kenapa harus meributkan setenda dengan wanita?

"Yunho-ssi, apakah tak ada tenda lain? Aku tidak bisa tidur dengan wanita! Berbagi dengan mahasiswa lain juga tak mengapa." Jae Joong mentegaskan masalah ini. Memang benar, dia tidak bisa bila ada wanita tidur disampingnya bila bukan seseorang yang menjadi istri. Bagi Jae Joong, wanita itu bukan mainan atau apa lah itu namanya. Lagipula, itu merupakan perbuatan dosa yang di benci oleh Tuhan-Nya.

"Oh kau tak bisa tidur dengan wanita tapi dengan pria bisa? Apa kau gay Jae Joong-ssi?" Balas Yunho membuat semua orang disekitar mereka tercengang dengan perkataan Yunho tersebut. Go Ara saja sampai melotot ketika Yunho yang bisa dikatakan sunbei- nya berkata seperti itu. Tidak ada satupun orang akan berkata bahwa Jae Joong seorang gay! Dia adalah pria baik-baik yang menjunjung nilai agama. Pria sopan yang berpegangan tangan dengan tunangannya saja masih malu-malu, bahkan ketika tadi mengusap wajah Hyo Joo pasti ia berpikir ribuan kali untuk melakukan hal itu. Dan, sebenarnya perkataan Yunho sangatlah keterlaluan.

"Apa kau tak pernah membaca alkitab dengan benar Yunho-ssi?" Jae Joong menarik nafas untuk meredam emosi yang akan termunculkan, mengalah adalah jalan terbaik. Dengan tenang Jae Joong berjalan menuju tenda yang memang sudah tertulis namanya disana. Semua mahasiswa termasuk dua wanita yang ada di samping Yunho tengah melihat dengan sedikit rasa marah. Kalau mereka adalah Jae Joong, mungkin sudah menonjok wajah pria itu tak perlu mengatakan tentang alkitab atau mengalah dengan pergi ke tenda mengakhiri dengan semudah itu. Merasa di pandangi dengan aneh Yunho merasa bingung. Apakah ada yang salah dari perkataannya tadi?

"Ada apa? Ada yang salah dengan perkataanku barusan?" Ara menggeleng-gelengkan kepala melihat orang yang diam-diam di sukainya ini sangat tidak sensitive. Akh...tentu saja tidak sensitive, kalau saja sensitive maka sudah tahu lama pria itu kalau ia menyukainya. Tapi begitulah Yunho, perkataan tak pernah di kontrol dulu. Asal terpikir diotak, ia akan mengatakan semuanya tanpa ada filtrasi lagi. Orang yang tak terbiasa mungkin akan menghindari atau tidak akan mendekat lagi. Hyoo Joo saja sekarang menatap dengan tangan yang seakan ingin di pukulkan ke arah wajah Yunho. Ara yang merasa bahwa Hyoo Joo akan meledak mencari cara agar wanita itu tak memukul Yunho. Saat ini tengah ada acara perkemahan guna memperingati hari ulang tahun Universitas Shinki, kalau ada keributan akan mengurangi nilai lomba ini. Yeah..., dokumenter yang di buat oleh Heechul yang merupakan tim penilai dari BEM dan BLM.

"Unniie..lebih baik kita melakukan pekerjaan panitia. Dimana kertas acara kita unnie?" Ara langsung mengajak wanita itu mempelajari acara perkemahan. Ara mengenal sifat Hyoo Joo sebab wania itu saudara sepupunya, tentu ia mengetahui bagaimana sifat wanita satu itu. Memang, semua orang di kampus Shinki tak ada yang tahu mereka saudara sepupu bahkan Jae Joong yang merupakan tunangan sepupunya itu saja belum mengetahui hubungan persaudaraan mereka. Alasan Ara meminta bantuan Jae Joong saat itu di tangga kampus Shinki ketika rapat BEM dan BLM , tentu di sebabkan Ara tahu persis Jae Joong akan membantunya. Ara cukup sedikit tahu sifat Jae Joong dari cerita sepupunya, jadi ia juga sangat kaget dengan perkataan Yunho barusan.

"Ahh...ne." Jawab Hyo Joo seakan ia tersadar dari amarah dan mengetahui sekarang tengah berada acara kampus. Saat ini pasti Jae Joong tengah menenangkan pikirannya, dan kalau marah dan membuat keributan disini maka itu tak baik untuk para mahasiswa yang tengah memperhatikan mereka semua. Saat ini harusnya fokus dengan apa yang menjadi prioritas utama mereka ada disini.

Melihat para gadis itu menghindarinya, Yunho hanya mengangkat kedua bahunya. Pria itu kembali ke tenda di mana Geun Seuk tengah memasak air dan kembali membaringkan tubuh di tenda milik panitia lainnya. Yunho ingin melanjutkan sesi istirahatnya sejenak sampai para panitia kembali ke tenda ini. Geun Seuk yang melihatnya tidur-tiduran hanya bisa diam tak bersuara.

Andai ada banyak panitia disini, Geun Seuk tak akan diam membisu. Sebagian dari panitia selain yang berada disini tentunya, sekarang tengah mencari kayu bakar, ada yang bertugas mengambil air untuk di masukkan ke dalam galon-galon yang sudah kosong. Tentu saja, para mahasiswa yang ada disini kelelahan dalam perjalanan kemari sehingga menghabiskan tiga galon. Geun Seuk melihat kearah tenda yang dimana Jae Joong tengah berada. Dia hanya menatap tenda yang akan menjadi tempat mereka tidur nanti dengan hembusan nafas berat. Geun Seuk mengerti perasaan pria itu. Sang kekasih atau tunangannya juga tidur disana, siapapun juga tidak bisa bukan? Geun Seuk menoleh ke arah ketuanya itu yang dimana sekarang mungkin sudah tidur terlelap. Yeah...Yunho seakan tak ingin memikirkan apapun kali ini termasuk kejadian yang baru ia lakukan. Sekarang yang terpenting adalah istirahat sejenak sampai waktu tugasnya datang!

TBC

saengil chuka hamnidha untuk Nicky so sweet aka Gexnicky. khusus ultah nya aku langsung update chap 2C.

rilisssssssss...

oh iya kalau masih menarik akan ku teruskan sampai chapter 3.

terima kasih yang udah memberi review.