Title: A Man's First Love
Rating: M
Cast: Jung Yunho, Kim Jae Joong, Han Hyo Joo, Go Ara
Genre: Drama
Chap: 2C/?
Author: Blueberrymilkshake
Request and idea story: Yunjae_married aka yunjaekisses aka Lia
Disclaimer: Yunjae saling memiliki, tulisan punya saya dengan storyline dari Lia ketika saya openTake Request dari Forum TVXQ Indo
WARNING: YAOI YUNJAE, MATURE. Tolong bersikap terbuka untuk menyikapi cerita ini. Mohon di baca dengan sangat kepala dingin dan bacalah dengan pemikiran terbuka.
Chapter 2C
Tersesat, Alergi Muncul, Ide Gila
\
Hari semakin petang dan sudah menunjukkan pukul tujuh malam, waktunya untuk melaksanakan jadwal tertulis yang telah di buat secara kilat oleh Yunho dan timnya beberapa hari ini di Seoul. Jadwalnya kali ini ialah talent show, dan tugas mereka tentu berusaha memeriahkan acara tersebut sesuai rapat mereka yang terbilang sangat pendek untuk sebuah acara perlombaan dengan fakultas lain. Well…, walau pegunungan ini tanpa penerangan, janganlah berpikir sekarang pukul tujuh malam bahwa keadaan di sini gelap gulita. Tentu saja seperti perkemahan pada umumnya, tempat ini ada api unggun yang menyala, tim juga memasang lampion disekeliling area kemah, mempersiapkan lampu darurat yang menggunakan baterai pun ada. Yeah benar, walau hutan belantara sebagai latar belakangnya untuk melaksanakan talent show, tetapi tempat yang biasa gelap gulita ini terlihat terang, bila di bandingkan dengan penjual kaki lima yang ada di setiap sudut distrik Gangnam mungkin tak kalah terang. Perlu untuk di garis bawahi apa yang ada disini semua telah di buat dengan waktu singkat, berterima kasihlah pada anak-anak Hipala yang memang telah terbiasa mengerjakan hal yang waktunya sedikit dalam tempo singkat dengan hasil jadi begitu indah! Talent show kali ini, tak akan kalah dengan yang di buat oleh fakultas lain yang berada di dua tempat gunung di Korea Selatan.
Sekarang para mahasiswa dan mahasiswi dari empat fakultas yang tergabung dalam tim Gunung Bhukan, kini tengah berjejer menjadi tujuh group. Tujuh group ini masing-masing akan menampilkan kebolehannya dalam hal apapun entah itu menari, melakukan drama pendek, menyanyi dengan group. Tentunya talent show itu semua menggunakan peralatan seadanya seperti gitar, gendang, alat musik tradisional seperti gayageum yang memang di miliki oleh fakultas seni di Shinki. Ingatlah bahwa tempat ini adalah hutan yang mana akan jarang di temukan listrik di area perkemahan, jadi sangat wajar mereka memakai barang dari zaman dahulu kala saat listrik belum ditemukan yakni alat tradisional, gitar, alat musik tiup seperti harmonika, pianika dan lain sebagainya. Keadaan penerangan seadanya ini sungguh berbeda untuk bagian pos penjaga hutan, di mana penerangan lampu listrik sudah tersedia. Yeah, tentunya itu berada berkilo-kilometer dari tempat outbound mereka, kalau tidak sangat jauh pria cantik alim yang sangat disukai para gadis di Shinki itu tak akan mengeluh lelah ketika harus ke perkemahan ini tadi siang.
Kim Heechul selaku dokumenter kali ini, ia seperti benar-benar berperang dengan keinginannya mengabadikan tempat talent show indah sebelum berubah menjadi pemandangan berantakan keesokan harinya atau hanya sekedar mengambil gambar panitia yang tengah rapat dengan fokus Jung Yunho sang raja pematah hati wanita setelah sebelumnya meniduri mereka, atau pada Kim Jae Joong Pangeran tampan cenderung manis yang alim dengan tunangannya yang cantik dan lembut Han Hyo Jo. Tapi sekali lagi ia harus berhemat dengan lampu baterai selaku penerangan untuk pengambilan gambar terpenting, yakni talent show. Oleh sebab itu ia mengabadikan bagian penting_penting ini dengan handicame-nya khusus untuk dark light, ia juga menyediakan banyak baterai untuk mengantisipasi hal ini. Sungguh tidak elite bukan, ketika dalam masa pengambilan gambar untuk lomba, baterainya habis ditengah pertunjukan. Bisa-bisa ia kena cincang oleh panitia meski ia sebenarnya salah satu juri dari pihak BEM dan BLM tentu saja.
Terlihat sekarang para mahasiswa yang tadi sudah terbagi dalam group, semua tengah berlatih dengan serius. Walau demikian, meski sudah di bagi per group latihan mereka berada dalam pengawasan komando panitia yang di tugaskan menjadi pemimpin tiap-tiap group. Talent show ini wajib mereka lakukan sebab semua termasuk lomba dalam acara ulang tahun Universitas Shinki yang biasanya adalah lomba stand bazar antar fakultas. Hanya tahun ini ulang tahun itu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dan sungguh di terima baik oleh BEM dan BLM yang memang merasa pertunjukkan ulang tahun kampus monoton tiap pergantian tahun. Oleh sebab itu bagaimana memeriahkannya, tugas panitia inti yang di tunjuk oleh ketua BEM dan BLM-lah patokannya. Karena thalent show ini merupakan lomba, hal ini juga dilakukan oleh dua tim lainnya di Gunung Hallasan dan Gunung Songjusan. Diantara beberapa group yang terbaik tentu saja akan mendapatkan hadiah dari Universitas berupa beasiswa, yang tidak menang setidaknya mendapat nilai lulus mata pelajaran inti tiap fakultas yang tentu sangat jarang mahasiswa dan mahasiswi yang lulus dengan nilai sempurna kecuali pemegang beasiswa. Hei... Siapa yang tidak menginginkan beasiswa disaat perkuliahan semakin besar biayanya? Siapa yang tak ingin mendapat nilai kuliah yang lumayan bagus? Apalagi Universitas Shinki adalah perkuliahan elite yang biayanya sangat besar di bandingkan Universitas lainnya dan tingkat kesulitan pembelajarannya merupakan kelas tinggi! Untuk masalah biaya pendidikan, siapa yang tak tahu bahwa Korea sangatlah termahal bila di bandingkan negara-negara besar di dunia. Adanya program beasiswa untuk mereka yang tidak seberapa pintar meski mampu membayar berapapun, bukankah hal ini sangat menguntungkan!
Lalu bagaimana dengan panitia inti yang bertugas untuk membuat acara ini? Apakah mereka wajib melakukan talent show juga? Mereka tentu tidak akan mendapat beasiswa itu, hanya saja setidaknya mereka di beri kelulusan semua mata pelajaran di semester ini sebab, sebagian besar mereka memang orang-orang yang memiliki kepintaran diatas mahasiswi dan mahasiswa Shinki lainnya. Di sini mereka juga di haruskan mengikuti kepanitiaan, kalau tak ingin beasiswa di cabut atau tidak lulus di beberapa mata kuliah inti. Hal inilah yang membuat Jae Joong mau mengikuti acara. Lagipula keinginan terbesarnya berkemah bisa terlaksana, sebelum ia menikahi Hyo Joo tahun depan dan menyelesaikan skripsi.
Banyaknya para mahasiswa pintar, maka banyak pula mahasiswa abadi di Shinki, dengan diberi nilai mutlak kelulusan untuk mereka mengikuti acara ini, bukankah bisa memudahkan mereka lebih cepat menyusun skripsi di tahun ini! Pernyataan dekan tertinggi akan nilai kelulusan mutlak merupakan sebuah angin segar tentunya, terutama untuk Jung Yunho yang dimana di tahun ini terakhir ia dapat menyandang NIM( Nomor Induk Mahasiswa) untuk tahun mahasiswa 2007. Bila tahun ini ia tak lulus empat SKS, Jung Yunho harus rela mengganti NIM-nya untuk 2014, mengulang ke semester satu untuk mengikuti beberapa mata kuliah yang tidak ada di tahun nya dahulu ketika pertama kali memasuki kuliah. Itu sungguh tidak menyenangkan bukan? Sekarang saja ia harus mengikuti kuliah bersama para hobaenya. Menjadi panitia kali ini pun ia ikuti sebab, begitu sangat menginginkan kelulusan sempurna pada nilainya tanpa memikirkan hasil ujian akhir yang mungkin nanti mendapat C- lagi. Hei, ia tak akan mengulang sampai 3 kali kalau nilainya tidak lebih tinggi dari itu! Jadi ini adalah satu-satunya penyelamat agar bisa menuliskan skripsinya! Dikarenakan itulah rapat seminggu lalu Yunho sangat bersungguh-sungguh bekerja keras padahal untuk acara seperti ini ia biasanya sangat malas. Bukankah lebih asyik ia bermain dengan wanita, menjajakan barang narkobanya kepada para pelanggan diskotik dan mahasiswa Shinki yang memang suka bersenang-senang. Hanya saja, ia ingin lulus tahun ini! Sedikitnya ia punya rasa malu dengan keluarga, dimana mereka adalah tokoh masyarakat yang cukup disegani.
Untuk panitia yang melakukan unjuk kebolehan tidak kesemua panitia inti yang melakukan, maximal dua sebagai perwakilan yang nanti akan di nilai pihak dekan untuk talents show terbaik kategori panitia. Dalam acara ini ada pengawas dari pihak BEM dan BLM yang disini bertugas memvideokan kegiatan ini. Untuk Gunung Bhukansan, Heechul sebagai pihak BEM dan BLM yang bertugas untuk bagian tersebut. Saat ini tim panitia inti yang terdiri dari Yunho, Jae Joong, Junsu, Yoochun, Jae Jin, Geun Seuk, Hyoo Joo dan Ara mereka tengah berdiskusi duduk membentuk lingkaran untuk memilih diantara mereka siapa yang akan mengikuti acara talents show tersebut. Dari suara terbanyak mereka semua sepakat memilih Yunho dan Jae Joong saja yang menjadi perwakilan menyanyi. Jujur saja, Yunho tidak suka harus berurusan dengan pria yang dianggapnya sok alim itu untuk sekian kalinya. Entah kenapa ia berpikir, akan menjadi apa nanti pertunjukan nya. Mengingat Jae Joong orang yang terkenal akan kamus berjalan lagu-lagu gereja, ia merasa lagu yang di pilih oleh manusia sok alim dan wajah seperti perempuan itu pasti lagu-lagu gereja. Yunho menjadi bergidik ngeri, bila ternyata pikirannya benar bahwa pilihan lagu Jae Joong benar-benar lagu gereja. Oh demi apapun itu, dia menyesal sudah menunggui Jae Joong yang telat datang. Seharusnya ia meninggalkan saja orang ini di kampus tadi pagi sehingga tidak terjebak dalam situasi menyanyi dengan pemuda yang membuat iritasi di seluruh tubuhnya! Jae Joong yang melihat Yunho bergidik dan seperti menggeleng-gelengkan kepala merasa bingung dengan sikap ketua Hipala tersebut. Ada apa? Apakah ada yang salah dengan dirinya sehingga terkesan tidak suka? Haish…Jae Joong tak habis pikir! Apakah Yunho ingin melakukan talent show sendirian? Atau pria itu masih menganggap aneh permintaan dirinya yang tidak menginginkan wanita tidur dalam satu tenda dengan pria! Tenda itu tertutup, dan reputasi Jung Yunho yang selama ini di ketahui secara publik olehnya selalu buruk. Dia hanya tidak ingin terjadi hal tidak senonoh dalam tenda kecil itu. Demi Tuhan, ia tidak bisa dengan situasi bersempit-sempitan dengan adanya wanita. Hei, bukankah mereka semua pria normal yang memiliki hasrat lelaki? Selama ini Jae Joong dapat mengendalikan hal itu, namun ia tak yakin bila harus di hadapkan dengan situasi seperti itu!
"Apakah harus Jae Joong -ssi dan Aku? Kenapa tidak Junsu saja yang berduet denganku untuk acara ini huh?"
Setelah cukup berdiam diri akhirnya Yunho mengemukakan keberatannya berduet dengan Jae Joong, meski nanti ia yang banyak mengambil aransemen lewat gitar, kenyamanan antara mereka harus di prioritaskan. Sudah bukan rahasia lagi kalau Junsu adalah mahasiswa fakultas Seni dan kemampuan menyanyinya sangat bagus. Dia bahkan merupakan seorang penyanyi solo dalam paduan suara Universitas maupun di UKM Persekutuan Doa Agama Kristiani yang di bina oleh Jae Joong sebagai ketua. Daripada ia harus menyanyi lagu gereja nantinya dengan Jae Joong, lebih baik Yunho memberi pertanyaan yang kurang lebih tak menyetujui pilihan suara terbesar para panitia inti. Bisa di bayangkan, jika bernyanyi dengan Junsu, bisa di pastikan yang akan di pilih pemuda imut di sukai oleh Yoochun, bukanlah lagu gereja. Menurutnya, ini adalah ide terbaik! Junsu suaranya lebih jernih, sangat cocok dengan warna suaranya yang bariton ini. Yeah walau cara bicara pria bernama Junsu itu sedikit terdengar seperti dolphin terperangkap dalam jaring, suaranya sangat bagus. Oh, ayolah tolong untuk mengiyakan usul nya ini. Sungguh ia tak ingin menyanyi lagu gereja. Cukup sudah masa kecilnya di habiskan sebagai penyanyi latar paduan suara gereja, sekarang ia bukanlah anak-anak yang tak tahu akan dosa yang sangat menyenangkan. Jung Yunho yang sekarang sangat berbeda!
"Tidak bisa begitu Kondom ya~, Junsu harus mengambil pesanan makanan untuk para peserta di kaki gunung bersamaku dan lima orang yang lain. Kau tahu bukan, jaraknya jauh dari tempat ini dan aku yakin semua yang berada disini semua sudah sangat kelaparan."
Yoochun menjawab dengan mata yang sedikit menusuk ke arah Yunho. Baginya ide Jung Yunho kali ini sedikit membuat Yoochun jengkel, sebab kapan lagi ia bisa mendekati Junsu. Sebenarnya ia sudah cukup kesal sejak siang tadi, ketika dengan kasar mengatakan Jae Joong seorang gay. Hei, Jae Joong adalah pria normal menurut pandangannya! Hanya ia menyukai pria imut bernama Kim Junsu, ucapan Yunho ketua Hipala yang juga sahabatnya itu seakan tengah mengejek orientasi seksualnya. Setelah berkata demikian Yoochun berdiri dari lingkaran diskusi yang mereka buat agar segera pergi sambil tangannya mengkode Junsu untuk mengikuti, sebab lima orang lain yang mereka tunjuk telah datang. Melihat itu dengan malas Junsu ikut berdiri dan mengikuti Yoochun yang beranjak pergi. Makanan yang di ambil memang tidaklah sedikit, kalau hanya berdua saja tentu tak akan cukup waktu membawa makanan yang berjumlah ratusan. Junsu benar-benar sangat enggan pergi, ia tadi sudah cukup senang dengan ide Yunho yang menginginkan bernyanyi. Wajahnya sudah terlihat gembira mendengar gagasan tersebut. Alasan kenapa ia senang, tentu saja bisa terbebas dari Park Yoochun yang selalu mengganggunya, lebih asyik ia menyanyi daripada berjalan turun gunung mengambil makanan, walau ketika naik gunung nanti mereka akan menggunakan ATV yang di sediakan disana. Ya memang harus menggunakan kendaraan ini sebab bawaan mereka sangat banyak. Tapi dengan cepat pria kekurangan rambut terutama di area dahi itu menghempaskan kebahagiannya ke taraf paling rendah dengan mengemukakan tugas nya untuk mengambil makanan. Bibir mungilnya mengerucut sebal sepanjang berjalan turun gunung. Andai saja makanan itu tak berjumlah ratusan! Ini saja masih di bantu oleh pekerja rumah makan dari tempat panitia memesan makanan. Untuk kelima mahasiswa tadi, tentu mendapat kompensasi latihan group sebab membantu mengambil makanan.
Melihat kepergian mereka, Yunho hanya dapat mendengus kesal sebab idenya agar tidak harus bernyanyi dengan Jae Joong pupus sudah ketika melihat Junsu beranjak pergi bersama Yoochun dan kelima orang yang di maksud. Oh nasib, kenapa sial sekali hari ini! Semua terjadi disebabkan satu orang yang bernama Kim Jae Joong. Jae Jin tentu menjadi MC bersama Geun Seuk, walau mereka bisa saja menyanyi dan bermain alat musik, yang menjadi MC siapa kalau bukan mereka berdua? Mengharapkan 'Panci' Go Ara menjadi MC? Menyanyi saja si 'Panci' Go Ara, di pastikan baru mengeluarkan suara satu bait, langsung di coret sebagai pemenang! Suara Ara tak lebih dari kaleng rombeng yang bunyinya memekakkan telinga atau kalau boleh kasar 'cempreng' dan fals untuk di dengar dan cukup membuat orang bisa jatuh pingsan. Ibaratnya adalah tokoh Giant dalam anime Jepang terkenal Doraemon, itulah suara Ara. Kalau Hyo Joo, ia tak ingin di pikir mencari perhatian gadis yang merupakan tunangan pemuda berwajah wanita itu mengingat reputasinya selama ini! Menurut Yunho, tunangan Jae Joong ada dalam tipe wanita yang berhubungan seks maka komitmennya menikah. Tipe wanita yang sangat di hindari oleh Yunho. Satu hal lagi, wanita itu juga buruk dalam menggoda pria alim seperti Kim Jae Joong itu! Lihat saja tubuhnya yang lurus seperti papan cucian tradisional itu membuat jengah, dan yah pantas saja pemuda sok alim Kim Jae Joong itu belum menyentuhnya! Kenapa ia bisa yakin kalau wanita itu masih belum tersentuh lelaki itu? Seorang wanita akan terlihat lebih dewasa bila sudah tersentuh oleh orang yang disukai dan aura kewanitaannya semakin matang. Namun lihat saja wanita itu? Terlihat begitu sopan, walaupun matanya begitu liar mengharapkan sentuhan lebih dari genggaman tangan yang di lakukan Kim Jae Joong saat ini.
"Baiklah, mana gitar yang kau bawa Jae Jin ya?" Yunho pun terpaksa mengalah dan menuruti keputusan semua panitia. Satu melawan hampir sebagian panitia, mau tak mau harus menuruti. Waktu untuk belajar menyelaraskan duo hanya kurang lebih satu jam dari sekarang. Terlihat para panitia yang lain juga mulai beranjak mengambil posisi mereka untuk menjalankan tugas masing-masing. Kalau tahu begini, ia tidak usah saja menyuruh Ara membagi tugas. Sehingga semua berjalan sesuai keinginannya. Entah kenapa ia ingin mengemukakan ego terbesarnya kali ini. Tapi, kerja sama sangat di perlukan ketika semua ini berlaku untuk kepentingan banyak orang.
"Ada hyung, sebentar aku ambilkan."
Jae Jin tersenyum sambi berdiri dari duduknya untuk mengambil gitar yang ia letakkan di dalam tenda mereka. Jae Joong yang duduk berseberangan dengan Yunho hanya memandang datar, bagaimanapun Jae Joong bisa menebak kalau Jung Yunho tidak suka berduet dengannya. Bagaimanapun mereka harus bekerja sama, suka atau tidak. Jae Joong yang harus mempertahankan beasiswa dan Yunho harus mengikuti serangkaian acara agar bisa menyusun skripsi tahun ini.
Geun Seuk yang merasa kedua orang ini butuh berbicara dan berlatih dengan sendirinya beranjak dari duduk di ikuti dua gadis yang sejak tadi masih setia duduk di sebelah kedua pria menawan itu. Dengan begitu genggaman Hyoo Joo terlepas dari kekasih atau tunangannya itu dan ia mengikuti Ara yang harus bertugas mengecek segala persiapan. Sedangkan Geun Seuk berjalan kearah Heechul yang tengah mengambil gambar para mahasiswa dan mahasiswi yang tengah mempersiapkan performa mereka. Mereka terlihat bersungguh-sunggh, mengingat hadiah yang di berikan pihak fakultas sangat menggiurkan siapa pun mahasiswa di Shinki. Geunsuk pun berpikir ia harus membaca sekali lagi kertas berisi tajuk seluruh acara talents show dan mempelajarinya. Dia tersenyum pelan ketika ekor matanya melirik dua orang yang masih berdiam diri. Tapi pria manis itu yakin, performa panitia tak akan kalah bila di bandingkan dengan panitia lain di dua gunung lainnya.
0-YunJae-0
Sungguh sebenarnya Jae Joong ingin cepat menyelesaikan latihan. Dia tidak pernah tahu, cuaca pegunungan di malam hari begitu sangat dingin menusuk. Bahkan pakaian empat lapis dan penutup telinga yang ia pakai tidak membantu. Jae Joong ingin meminum obat anti alergi sebelum tubuhnya muncul ruam-ruam merah. Saat ini ia ingin segera berlari menuju tenda mengambil obatnya. Sedari tadi ia sudah sangat gelisah! Tapi, Yunho sang partner bernyanyi nya itu tengah melamun saja tanpa memulai latihan lagu yang akan di nyanyikan apa!
Oh...Ini sudah hampir dua puluh menit sejak Geunsuk berdiri dari duduknya mempelajari tajuk acara, Jae Jin sudah memberikan pada Yunho gitar yang tadi di minta, namun Yunho kepala Hipala itu diam tanpa membuka suaranya akan tetapi tangannya memetik gitar nya mencari-cari nada dasar saja. Hal ini membuat Jae Joong menghembuskan nafas, sebenarnya ia pikir pria itu tengah mencari ketinggian suaranya. Tapi setiap ia akan membuka suara untuk vocal-nya, pria itu sudah mengubah nada dasarnya lebih rendah. Sebenarnya lagu ini seperti apa? Bukan berarti ia tidak bisa nada tinggi atau rendah, ia bisa menyelaraskan nada. Bahkan ia bisa saja berlatih sepuluh menit untuk menyelaraskan nada lagu yang di buat Yunho hanya saja ia tak tahu lagu apa yang akan mereka nyanyikan. Hei, kalau masalah bernyanyi, memang ia tak kalah dengan Junsu. Sejak kecil ia memang sudah belajar bermusik, di gereja tentunya. Gereja tempat ia berkumpul dengan para jemaat yang lain, ada sebuah perkumpulan untuk bermusik dan ia banyak belajar disana. Untuk menyanyi lagu apapun itu, ia tentu tak akan mendapat kesulitan. Akan tetapi, saat ini kebutuhan meminum obat anti alergi itu juga perlu atau ia akan menderita gatal-gatal dan imbasnya tak bisa menyanyi! Oh Tuhan, beri kesabaran untuk menghadapi pria satu ini dan tolong penyakit alergi dingin yang menyiksa itu tidak datang sekarang.
"Yunho- ssi, kita sebenarnya akan menyanyikan lagu apa? Apakah Kau sudah mempersiapkannya? Sedari tadi kau mengubah nada dasar terus. Belum juga aku mengeluarkan suara untuk menyesuaikan tinggi nada, kau sudah mengganti yang lebih rendah. Tolong beritahu aku apa lagunya, waktu kita sempit."
Jae Joong yang diam akhirnya berinisiatif bertanya pada Yunho dan mengemukakan pikiran yang berkecamuk di kepala, tentu dengan nada halus dan sabar walau sebenarnya ia tidak sabar. Waktu begitu sempit dan ia juga harus meminum obatnya. Yunho yang merasa namanya di sebut mengerjapkan kedua mata. Seakan tersadar dari apa yang ia lakukan. Dia tadi cukup bingung, memikirkan lagu gereja yang di hafalnya. Sehingga tanpa sadar mengganti-ganti kunci nada gitarnya tanpa tahu bahwa Jae Joong ternyata menyesuaikan nada yang di petiknya asal itu.
"Kau bertanya apa tadi Jae Joong -ssi?" Apa Yunho tengah melamun huh? Sehingga pertanyaannya tidak di dengar dengan baik.
"Lagu apa yang kau siapkan sehingga nada dasarnya kau ubah-ubah terus?" Jae Joong mempersingkat dan memperjelas saja pertanyaannya.
"Aku tidak menyiapkan lagu apapun. Hanya memetik asal mengingat nada lagu gereja. Aku bukan kau yang 'alim' Kim. Ku dengar kau kamus berjalan lagu gereja."
Yunho sengaja menegaskan kata alim dalam kata-katanya. Demi apapun, ia sungguh tidak suka bila harus berhadapan dengan manusia yang orang bilang alim, berilmu agama atau apalah namanya namun di balik itu mereka juga kadang menghardik sang istri atau bermain tangan hanya untuk menghukum kenakalan anaknya padahal dalam kitab di ajarkan kasih sayang dan bukan kekerasan. Menurut pandangan Yunho, Jae Joong itu tak ubahnya manusia-manusia tersebut, yang di luar tampak alim namun dalamnya sama saja dengan pendosa. Tapi apa memang segala persepsinya benar? Sepanjang ia beinteraksi dari pagi hingga sekarang, Jae Joong tampak santun. Tidak ada yang membuat satupun pemikirannya terlihat dari diri Jae Joong. Lantas apa yang salah? Entahlah, Yunho merasa Jae Joong terlalu lurus. Tak pernahkah pria itu memiliki nafsu terhadap tunangannya yang cantik itu? Sex adalah kebutuhan, apa ia memang tak butuh itu huh?
Jae Joong memutar bola mata jengah. Memang benar ia yang menyiapkan setiap minggu lagu kebaktian acara KKK dan memang benar itu adalah panggilan Jae Joong di kalangan mereka yakni kamus berjalan lagu gereja. Dia memang memiliki lagu-lagu itu lengkap, karena sudah bermusik di gereja sedari kecil hingga saat sekarang ini. Jae Joong juga sering menjadi menyanyi solo di gereja tapi, bukan berarti ia tak menghargai musik bergenre lain dan menyukai lagu pop Korea yang lagi trend atau lagu berbahasa Inggris. Bukan berarti ia yang taat beragama, tidak menyukai hal yang disebut kebebasan. Ia hanya seorang penurut, mungkin.
Jae Joong merogoh kantung celananya mengambil list lagu yang tadinya di persiapkan untuk Junsu yang bersuara lembut. Jae Joong memang sepemikiran dengan Yunho kalau Junsu yang akan di pilih, akan tetapi entah kenapa seluruh panitia malah menunjuk dirinya dan Yunho yang harus tampil. Yeah, mungkin semua di sebabkan mereka mendapatkan tugas yang sama sulitnya. Hei, menampilkan sesuatu yang menarik dan mendapatkan nilai dalam perkuliahan, siapa yang tidak ingin? Oleh sebab itu siapapun dengan hati rela mengikuti acara yang memang baru pertama kali di lakukan oleh kampus Shinki. Jae Joong sendiri sangat senang, pertama kali ia bisa melihat gunung. Walau ia harus memakai pakaian berlapis empat untuk menahan dingin yang menusuk tulang. Jae Joong sungguh merasa senang.
Untuk lagu yang ia persiapkan, tidak semua berasal dari negara Korea. Jae Joong cukup menyukai lagu-lagu luar negri. Kalau orang melihat apa yang ada dalam list lagu di ponsel miliknya, mungkin akan sedikit heran, sebab lagu-lagu dalam ponsel itu sangat tidak mencerminkan image yang di ketahui oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi kampus yakni kamus berjalan lagu-lagu gereja. Bahkan kekasih sekaligus tunangannya Hyo Joo tidak mengetahui bahwa ia menyukai lagu-lagu rock luar negri seperti Musk, Evanesence, Bon Jovi. Tentu saja, walau mereka bertunangan Jae Joong masih belum bisa berbagi seluruh rahasia dan bagi kedua pasangan yang sudah bertunangan itu, kenyamanan adalah segalanya. Sehingga, mereka tidak pernah saling memeriksa isi ponsel masing-masing.
"Ini aku sudah mempersiapkan lagu. Kau tenang saja, tak ada lagu yang kau maksud. Walau itu adalah citraku di mata mereka, bukan berarti aku tidak mengetahui lagu-lagu yang sedang trend dan disukai anak muda seperti kita dan menyanyikannya."
Pria cantik itu menyodorkan kertas putih berisikan list lagu-lagu yang ia sukai. Hal ini pula seakan menjawab kegundahan dan kekhawatiran Yunho yang merasa bahwa yang akan dinyanyikan lagu itu. Jae Joong tak menyalahkan Yunho kalau pria itu berpikir demikian sebab, dia sendiri sebenarnya yang membuat image itu terhadap para mahasiswa maupun mahasiswi di Shinki. Namun, ia tetap seseorang yang juga menyukai lagu-lagu biasa walau itu dilakukannya secara diam-diam. Mungkin inilah sisi liarnya yang mungkin tak di sadari oleh Jae Joong sendiri.
Yunho pun menyeringai ketika Jae Joong mengungkapkan apa yang menjadi kegundahannya. Dia mengambil kertas yang di sodorkan oleh Jae Joong itu. Lagu-lagu yang di pilih Jae Joong sungguh beragam dan semua menarik. Diantara lagu-lagu itu ada lagu lama Evanesence yang berjudul Bring Me To Live. Entah kenapa Yunho ingin menyanyi lagu lama itu. Seperti mengingatkan ia pada sebuah gambaran dimasa kecilnya dulu tentang memberikan kehidupan kedua.
"Aku memilih lagu Evanesence ini. Aku cukup menghafal lirik nada dan lagunya. Lagipula sesuai dengan perkuliahan kita yang memang berbasis bahasa ingris. Apa kau hafal lagu barat ini, dan pengucapannya apa kau bisa? Disini banyak kata-kata sulit diucapkan." Ujar Yunho dengan nada bicara seakan-akan merendahkan pria itu. Sebodoh-bodohnya ia dengan perkuliahan yang ia ambil, untuk pengucapan bahasa inggris yang di dianggap susah untuk lidah orang Korea ia cukup bagus. Oleh sebab itu ia tak pernah mengulang mata kuliah public speaking, pronounciation, yang merupakan salah satu mata kuliah wajib.
"Aaahh, kau tak perlu khawatir Yunho ssi. Kebetulan aku cukup menghafalnya di luar kepala, dan pronoun-ku untuk lagu ini cukup baik, mengingat itu lagu kesukaanku."
Jae Joong mengucapkan dengan percaya diri dan senyum lembut, membuat Yunho sedikit tidak percaya. Akan tetapi sesuai dengan apa yang memang Jae Joong katakan, pria itu benar-benar bagus pengucapan lagu ini membuat Yunho mendecakkan lidah kesal. Oh jangan lupakan Jung, kalau Kim Jae Joong adalah penerima beasiswa Shinki. Otaknya cukup cerdas hanya untuk hal satu itu. Yeah, bahkan kelewat bagus! Jae Joong sangat baik dan fasih menyanyikannya di latihan maupun saat performa. Kombinasi yang mereka lakukan begitu harmonis. Yunho pun cukup handal dalam mengucapkan rapper inggris di sana. Padahal latihan hanya tiga puluh menit. Well, sepertinya mereka akan berhasil dan memenangkan hadiahnya sebagai performa terbaik para panitia.
0-YunJae-0
IS REAL
Hari sudah semakin sore atau mungkin sekarang sudah malam? Entahlah, Yunho bahkan tak tahu sekarang tengah pukul berapa. Berada di tengah-tengah hutan yang begitu rapat di pegunungan tanpa melihat matahari lagi bukankah sama saja dengan malam? Beberapa hari ini serba sial untuk pria hebat seperti Jung Yunho. Setelah hari pertama acara untuk ulang tahun Universitas Shinki yang tahun ini berbeda yakni pergi berkemah di berbagai gunung di Korea, Jung Yunho harus menunggui pria bernama Kim Jae Joong di sebabkan pria yang juga merupakan salah satu tim panitia terpenting terlambat datang sehingga merelakan dirinya untuk mau membonceng naik motor kesayangannya dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan ke Je Ju dengan pria sok alim Kim Jae Joong. Tentu, ia sangat menyukai alam dan angin yang berhembus melewati kulitnya, itulah yang terbaik namun tidak untuk kesialan yang didapatnya di sebabkan Kim Jae Joong. Tak cukup dengan hal itu saja, malamnya ia harus performa dengan pria itu menyanyi. Walau untuk menyanyi untuk performa panitia, walau terbilang sukses dan cukup membuat ia senang, namun Dewi Fortuna seakan enggan untuk bersua kembali dengannya kali ini! Kesialan beruntun terjadi lagi sekarang!
Hal ini bermula dari semalam di mana tenda yang harusnya mereka pergunakan bersama, di kuasai oleh para dua gadis itu yang sangat begitu lelah. Siapa lagi kalau bukan Ara anggota Hipalanya sendiri dan Hyo Joo tunangan pria yang sekarang ada beberapa meter di belakangnya. Sebenarnya semua bisa saja masuk dan tidur nyenyak kalau pria itu menyuruh semua pria tidak boleh memasuki tenda untuk tidur sebab para gadis ada di dalam.
Yeah, pria sok alim itu benar-benar bersikeras dan menegaskan tak ada yang boleh tidur di dalam. Lagipula api unggun masih menyala, lebih hangat berada di luar katanya. Alhasil teman-temannya menyetujui, sebab memang lebih hangat di luar, masih ada sisa api unggun yang menyala. Lagipula tidak bagus bila mereka tertidur di saat api masih menyala, apalagi mereka berada pada hutan pegunungan.
Semua yang tidak ingin tidur itu akhirnya bergabung dengan anak-anak yang masih terjaga. Se-teko plastik besar berisi kopi panas yang di buat Geunsuk untuk semua pria disana, rokok kretek yang memang di bawa beberapa para mahasiswa di keluarkan dari kantong celana dan dibagikan kepada yang memang suka merokok, tak lupa beberapa bungkus kacang kulit menjadi teman pengantar bercerita hingga pagi menjelang pun ada. Tapi Yunho yang memang lelah ditengah-tengah akhirnya tertidur dan ia juga terbangun dengan telat. Anggota panitia yang lain sepertinya membiarkan saja ia seperti itu. Well, kalau di bandingkan yang lain, Yunho mungkin yang terlelah. Dengan meminum obat-obat terlarangnya itu, mungkin yang membuat ia terlihat selalu prima. Tidak sedikit dari mereka yang tahu Yunho memiliki barang-barang haram tersebut, jadi membiarkan seseorang yang lelah itu untuk menikmati tidur, sementara mereka melanjutkan acara pagi ini. Pasti pria itu tidak membawa barang itu sekarang. Bagaimanapun, Yunho memang pemakai tapi ia bukan pecandu, ia hanya menggunakan disaat-saat ia perlu bergadang atau berniat mencari mangsa untuk di jerumuskannya terhadap obat-obatan tersebut. Akan tetapi tidak harus Kim Jae Joong yang di tinggal untuk menungguinya bukan! Jae Joong mengatakan kalau acara selanjutnya berubah tempat dan peta ada pada pria sok alim itu.
"Sial! Sial! Sial! Napeun sekyaa!"
Teriakan berupa umpatan keluar dari mulut pria bernama Jung Yunho itu. Oh sungguh ia ingin mengkebiri pria bernama Kim Jae Joong itu, kenapa ada orang yang memiliki otak encer dalam pelajaran namun sangat pabbo dalam membaca peta itu. Apa bisa ia di sebut pria kalau cara bertahan hidup di alam liar pengetahuannya nol. Yeah, setelah ia memeriksa peta yang di beri oleh para panitia ke Jae Joong mata Yunho yang sipit itu di paksa melotot. Itu sebabnya ia merasa berputar-putar saja. Rupanya mereka telah salah jalan. Peta ini tak sama dengan keadaan sekeliling. Di perparah ia tak membawa perlengkapan gunungnya yang bagai nyawa kedua itu. Kalau ia tak salah perhitungan, ini adalah bagian terdingin dari pegunungan.
Oh yeah, tentu untuk anak Hipala sepertinya perlengkapan di gunung tentu wajib selalu di bawa serta di bila ke gunung seperti kompas, tali temali, dan lain sebagainya. Namun semua tertinggal di dalam tenda hanya karena tidak diperbolehkan tidur dalam tenda yang di mana ada para gadis, beruntung ia membawa sebotol air mineral. Maka tak terbayang bukan bagaimana kesalnya pria tampan itu ketika mengetahui kompas tak ada dan pria sok alim Kim Jae Joong itu sudah sangat bisa di tebak tidak memiliki benda itu? Sebagai salah satu ketua tim inti acara ulang tahun Shinki harusnya Jae Joong tahu bahwa membawa pakaian terlalu banyak tak harus di lakukan pria cantik itu. Peralatan berkemah dan alat-alat pendukunglah yang sangat di perlukan!
Yeah, Yunho teringat dengan bawaan Jae Joong yang membuatnya menyuruh pria itu meninggalkan koper di dalam mobil sporty butut milik pria itu. Tentu saja ia harus melakukan itu, memangnya harus bagaimana membawa koper kalau kendaraan yang di pergunakan adalah motor khusus untuk di gunung? Hah, entah kenapa ia sangat kesal sekarang. Di pegunungan yang paling terdingin ini ia tak tahu jalan pastinya sebab mereka para anggota Hipala memang jarang juga untuk memasuki wilayah ini. Yunho berpikir sepertinya ia akan sering-sering untuk memasuki wilayah ini untuk para anggotanya nanti.
"AaaaaaKhhhh...!"
Yunho berteriak frustasi kembali, mengacak rambut, dan kemudian tangan mengusap wajahnya. Pada akhirnya mereka berdua terjebak dan hanya berputar-putar di gunung, jalanan berbukit terjal, dipenuhi dengan pohon-pohon besar disekelilingnya tanpa menemukan jalan yang menjadi penyebab kesalahan fatal itu. Aahhh, bagaimana bila hujan akan turun? Atau lebih parahnya adalah turun salju. Walau masih ada dua bulan lagi masuk musim salju, tapi daerah ini sangat minim di jadikan lokasi untuk berkemah ataupun acara outbound seperti yang di lakukan panitia yang mengubah tempat jalan-jalan hari ini. Tentu di bulan-bulan sekarang ini kontur tanah menjadi licin bila basah terkena air hujan, dan dataran yang cukup terjal pasti akan membuat mahasiswa dan mahasiswi yang tidak pernah mengenal bertahan hidup di gunung, mungkin dapat celaka dengan terpeleset atau lebih parah terjadi kecelakaan yang lebih tidak diinginkan yaitu kematian. Oleh sebab itu panitia mungkin mengubah tempat semula.
Tapi di balik itu semua, tempat ini kadar dinginnya melebihi tempat mereka berkemah sehingga di musim sekarang, bisa saja turun hujan salju. Tapi sekali lagi ini hanya menurut prediksinya bahwa mereka ada di tempat terdingin dan masih dua bulan lagi salju turun bila memang benar mereka berdua ada di tempat terdingin itu. Disini, musim salju bisa sebulan lebih cepat ketimbang tempat daerah pegunungan mereka berkemah. Tapi anehnya meski salju lebih dahulu turun, tidaklah setiap hari hujan salju. Tergantung tingkat dingin atmosfir di sini. Yunho pun menyandarkan badannya di salah satu pohon besar. Matanya terbuka, kepala menengadah ke atas cakrawala yang semakin gelap saja. Sungguh baik sekali Dewi Fortuna kali ini aniya! Membuat Jung Yunho berpikir, permainan keberuntungan pada dirinya begitu manis sehingga harus mendapatkan kesialan beruntun dulu. Pastikan beri keberuntungan melimpah padaku setelah ini huh! Itu yang terucap dalam hati Yunho di kala kesialan demi kesialan menimpanya.
Jae Joong yang mendengar teriakan kefrustasian dan segala umpatan Yunho untuk kesekian dimana ia berdiri berjarak satu meter di depannya ini hanya bisa diam, dan ketika melihat pria itu bersandar pada sebuah pohon besar disini, gurat wajah lelah itu begitu kentara sekali. Oh yeah, ia tahu ini semua karena kesalahannya membaca peta. Sehingga sejak tadi mereka berjalan di tengah kabut hutan pegunungan ini, ia tak berani mengucap kata atau berbicara yang tentu bisa jadi membuat Yunho marah meledak-ledak! Dia tadi sudah berpikir bahwa jalan yang ia tempuh sudah benar, Jae Joong melihat para tim berjalalan ke arah kanan ketika ia bertugas menunggu Yunho yang masih tidur. Harusnya Jung Yunho menyalahkan pemberi peta aniya? Bukan dirinya huh! Peta itu sebenarnya secarik kertas corat coret yang membentuk peta buatan tangan, bukan peta dari pabrik sehingga ia tak tahu kalau sudah berbelok ke jalan yang salah. Hah, sebenarnya ia ingin berteriak dingin saat ini, pengaruh obat alerginya sudah hilang entah beberapa jam yang lalu. Ruam-ruam juga sudah keluar mungkin di tubuhnya sebab ia merasakan sedikit gatal. Tapi setidaknya reaksi alergi ini tidak sampai ketahap seluruh badan kaku dan sesak nafas. Ataukah semua itu belum, hanya tinggal menunggu waktu saja. Karena saat ini rasa gatal itu sedikit demi sedikit berubah menjadi nyeri di tulang. Bahkan pakaian yang ia kenakan sejak semalam sebab ia hanya sempat mengganti pakaian dalam dan celana panjangnya tadi. Tapi apa mau di kata, pria sangar penjahat para wanita itu sudah terbangun dari tidurnya. Alhasil pakaiannya ini tak mampu melindungi hawa dingin. Ya Tuhan, apakah ia akan mati kali ini? Dia sungguh tak berani untuk mengungkapkan betapa menderitanya penyakit alergi dingin ini, sebab pasti pria bernama Jung Yunho itu tak mau direpotkan oleh Jae Joong. Akan tetapi dingin ini menyiksa sekali.
"Yunho ssi...,"
Jae Joong sudah tidak tahan, ia harus mengatakan apa yang ia rasakan. Kalau tidak, mungkin ia sudah menjadi mayat esok hari. Walau ini terkesan hiperbola, namun Dokter memang sudah mengatakan bahwa ia akan tergantung dengan obat itu. Pernah ia tidak ingin minum obat itu, alhasil ia harus menginap dirumah sakit.
"Kalau kau bertanya apakah kita bisa keluar dari sini, jawabannya tidak. Aku tidak membawa kompas sebagai arah mata angin. Kita hanya bisa menunggu." Ujar Yunho memotong perkataan Jae Joong. Pasti pria itu akan menanyakan itu huh! Sungguh Yunho cukup jengah, pria itu sedikit-sedikit memeluk tubuhnya sendiri sedari tadi. Walau ia kesal pada Jae Joong, cukup ia tahu pria itu tengah mengeluh dingin. Memang saat ini begitu dingin, salahkan saja ia memakai pakaian seperti itu ke gunung atau salahkan dia karena tidak mendatangi rapat BEM. Bukankah pria itu sudah tahu, acara ulang tahun perkuliahan tahun ini berbeda seperti tahun biasa, pria itu seakan meremehkan sejak pertama kali.
"Inilah perlunya kau datang rapat Jae Joong ssi. Kalau terjadi hal seperti ini, kita bisa kembali bila memiliki kompas. Tapi apa? Kau bahkan mungkin tak membawanya!"
Yunho akhirnya memuntahkan kekesalan atau mungkin kesialan bertubi-tubinya yang telah menumpuk kepada Jae Joong. Bagaimanapun ia tidak suka dengan kinerja Jae Joong sebagai panitia yang menurutnya tidak profesional disini. Sungguh kalau misal ia memiliki sifat terjahat, ia sudah membunuh pria sok alim itu.
"Mi...Miannhhae.."
Jae Joong berusaha untuk berbicara. Sialnya, tubuhnya sedikit menjadi kaku sekarang. Tentu udara ini begitu dingin, dengan melihat nafas yang ia keluarkan terlihat beruap ketika ia mengucapkan kata permintaan maaf tadi, atau hanya sekedar mendesahkan nafas, ia sangat-sangat sadar bahwa dingin di tempat ini melebihi tempat outbound mereka. Jae Joong berharap ini bukanlah awal dari merubah hujan menjadi kristal-kristal salju. Kalau tidak, ia akan mati kedinginan.
"Apa gunanya permintaan maafmu sekarang? Apa kau pernah membaca tentang gunung ini bahwa di bagian selatannya gunung Bhukan, ada masa-masa ditutup umum untuk para pendaki amatiran. Kau bukanlah seseorang yang pabbo, Kim Jae Joong. Pegunungan Korea selalu dituruni hujan salju lebih cepat."
Sekarang apa yang di katakan Yunho sedikit kasar. Matanya nyalang memandang Jae Joong yang berdiri tak jauh dengannya dengan wajah seperti orang pesakitan. Dan, entah bagaimana sebuah butiran putih yang menyerupai kapas, terjatuh dari angkasa tepat diujung hidung mancung pria berwajah androgini dan sok alim itu. Sial.
"Ti-tidak. Salju..."
Jae Joong membelalakkan kedua bola matanya sekarang. Salju adalah musuhnya. Melihat reaksi Jae Joong membuat Yunho tersenyum remeh kepada pria sok alim itu. Sepertinya pria itu sekarang sadar, kenapa ia bisa sefrustasi terhadap kesalahan fatal pria cantik yang sok alim itu.
"Kau sudah sadar kesalahanmu? Kita berada di gunung bagian selatan. Dan sialnya aku dan kelompok Hipala kampus Shinki tidak pernah menjelajah kemari. Hanya senior-senior pendiri yang berani kemari. Itu pun mereka melakukan latihan fisik yang benar-benar eksktrim."
Yunho mendekati Jae Joong pria sok alim itu. Bagaimanapun juga, ia sedikit tidak tega ketika ia melihat ada sinar ketakutan terlihat pada mata pria itu. Sebenarnya wajar saja hal itu terjadi, tapi saat ini Yunho membutuhkan kerja sama pria itu untuk mencari tempat berlindung sebelum hujan salju menjadi deras.
"Kau itu pria bukan? Jangan berwajah seakan kita akan tamat disini. Kajja, kita cari pondok kecil disini. Aku harapkan itu ada."
Jae Joong menarik nafasnya. Well, walau ia merasakan jari-jari tangannya kaku, ia harus bertahan, paling lama satu jam mungkin. Betul apa yang di katakan oleh Yunho. Dia adalah pria dan tentu saja ia tidak ingin tamat disini. Hei, bukankah ia juga belum menikahi tunangannya, Hyo Joo. Dia harus melawan alergi dingin ini. Harus!
0o0o0o00o0o0o0o0o00YunJae IS REAL 0o0o00oo0o0o0o0
Setelah hampir berputar mungkin ada setengah jam, Yun Ho melihat ada sebuah gubuk. Tidak terlalu buruk, setidaknya mungkin ada sebuah tempat untuk bermalam disana. Kalau ia lihat, sepertinya ini adalah istal kuda. Yun Ho memang pernah mendengar kalau di beberapa gunung di Korea memang ada pengembang biakan kuda. Tapi mungkin sekarang kuda itu sudah di bawa turun, kalau melihat tidak adanya satu pun kuda disini. Yah, setidaknya ia bisa menghangatkan tubuh daripada mati kedinginan di gunung. Yunho cukup merasa beruntung di tengah kesialan sebenarnya, ia dan Jae Joong tidak tersesat ke bagian paling terjal dari gunung Bhukan. Saat ini tubuhnya sudah sangat kedinginan, seluruh pakaiannya basah karena salju.
"Sepertinya istal tua ini tidaklah buruk."
Yun Ho mencoba berkeliling dan ia menemukan tempat yang sedikit lumayan bersih, sepertinya sebuah kamar tempat bermalam pekerja sebab di dalam ada seperti tempat tidur terbuat dari kayu dan rotan. Tinggal mencari sedikit jerami untuk membuatnya sedikit empuk dan mungkin kayu untuk perapian dan selimut. Semoga saja ada dalam lemari tua yang juga ada dalam ruangan itu.
"Hei Kim, bantu aku mencari sesuatu yang dapat di bakar untuk kita menghangatkan diri."
Yunho mencoba berbicara pada Jae Joong yang ia tahu ada di belakangnya. Sebenarnya ia sudah tidak tahan dengan dingin dan kalau bisa ia menanggalkan pakaian basahnya dan membungkus tubuh dengan selimut. Seperti itu saja sudah cukup, daripada ia tidak berpakaian. Namun, ia tidak mendengar suara langkah kaki Jae Joong yang tengah berlari untuk mulai mencari apa yang tadi diperintahnya. Yun Ho mendecakkan lidah kesal. Sebenarnya ia bisa melakukan sendiri. Tapi, itu akan mengenakkan Jae Joong kalau begitu. Bukankah mereka tersesat ini juga tak lain karena kesalahan pria itu huh? Mengingat pria itu sepertinya pengetahuan minim akan keadaan seperti ini.
"Ya...kalau kau tak ingin kita mati membeku kau harusnya memban..."
Yun Ho menghentikan kalimatnya ketika ia menengokkan kepala tidak melihat Jae Joong di belakangnya. Ia pun keluar ruangan kecil itu dan betapa ia sangat terkejut ketika melihat Jae Joong yang terbaring dengan tertelungkup di depan pintu masuk istal. Di lihat darimanapun, sepertinya pria itu memang tengah pingsan. Segera ia berlari untuk melihat keadaan pria itu. Bagaimanapun juga, dalam keadaan kedinginan, tidak boleh tertidur begitu saja. Akan sangat berbahaya. Yun Ho berjongkok dan membalikkan tubuh Jae Joong yang tertelungkup itu. Sekarang yang ada dalam pikirannya, ia sangat khawatir dengan keadaan pria sok alim ini kalau-kalau sudah terlambat menolong. Pria ini tidak boleh kehilangan nyawa disini. Seketika jiwa pecinta alamnya muncul ke permukaan.
"Kim Jae Joong, kau tidak apa-apa? Hei... Bangunlah."
Yunho menepuk-nepuk pipi Jae Joong sedikit keras, agar ia terbangun, tak peduli nantinya kulit pucat itu berubah merah, dengan bekas tamparannya tercetak. Tidak perlu ia meneliti dengan seksama, pria ini bagitu dingin seluruh badannya, nafas bahkan lemah. Bahkan bibirnya sudah sangat membiru. Yunho tidak menggosok-gosok tangannya ke tangan Jae Joong, karen menurut pandangannya ini kemungkinan hipotermia, kalau ia melakukan hal itu akan memicu darah ke jantung, dan itu akan sangat berbahaya untuk nyawa Jae Joong. Hanya bisa ia melepas sepatu kets milik Jae Joong yang basah.
"Ya..Kim Jae Joong kau mendengarku? Jawab aku kalau kau mendengarku. Kau tidak boleh tertidur."
Entah kenapa ia sedikit panik sekarang. Dia memang tidak menyukai Jae Joong dan masih kesal padanya. Pria ini selalu saja menguji batas kesabarannya. Namun, ia tidak mengharap pria itu kehilangan nyawa. Tidak, disaat mereka berdua yah bisa di katakan sedang kecelakaan terpisah dari teman-teman yang lain saat ini. Jae Joong samar mendengar Yun Ho tengah berbicara padanya, ia masih memiliki kesadaran. Sungguh otaknya ingin ia tertidur. Tapi sepertinya pria itu panik. Dia juga merasakan pipinya di pukul-pukul namun entah ia tidak merasa sakit.
"Hhhhhh..."
Sebuah lirihan suara yang lemah keluar dari bibir Jae Joong, hanya itu yang dapat ia lakukan sebagai jawaban bahwa ia masih sadar. Tubuhnya memang serasa membeku, membuat ia susah menjawab. Namun yeah, kehangatan dari gosokan tangan Yun Ho di tangan dan kakinya yang terasa beku membuat ia bisa membuka mata walau masih terlihat sayu.
Dengan tenaganya yang hampir di ambang batas ia mencoba bangkit. Sisi ego seorang pria yang ada di dalam dirinya membuat Jae Joong berusaha kuat. Sementara itu Yunho sedikit lega ketika mendengar suara meski hanya lirihan pelan, ia juga merasakan pergerakan Jae Joong yang akan bangkit, segera ia membantunya. Jae Joong kembali memejamkan mata kembali, memang terasa berat untuk kelopak matanya terbuka ketika ia sudah bisa duduk.
"Kim Jae Joong, tubuhmu dingin sekali. Aku akan menggendongmu dan menidurkan mu di tempat tidur rotan ruangan sebelah istal. Kau lingkarkan tanganmu ke leherku. Kau bisa bukan? Kalau bisa, mengangguklah atau gerakkan anggota tubuhmu yang bisa kau gerakkan."
Yunho bertanya pada Jae Joong lagi ketika pria itu memejamkan mata. Tentu, ia lakukan ini agar pria itu tetap dalam keadaan sadar. Jae Joong pun menurut dengan mengangguk. Segera Yun Ho membalikkan badan sehingga punggung yang lebar itu terpampang oleh Jae Joong. Jae Joong merespon dengan bergerak lemah namun ia mengerti maksud Yunho yang akan menggendongnya di punggung pria yang memiliki ketampanan berkulit kecoklatan tersebut. Pria cantik itu dengan perlahan menglingkarkan kedua tangannya ke leher Yunho yang tengah berjongkok agar ia bisa di gendong ala piggy bag.
Yunho harus segera membuat hangat tubuh Jae Joong. Melihat gejala yang ada dalam diri Jae Joong, pria ini sepertinya terkena hipotermia dan bila tidak ia tangani segera apalagi mereka ada di alam sebelum di tangani pihak medis, pria itu bisa kehilangan nyawa. Setelah merasa tangan pria itu melingkari lehernya, Yun Ho berdiri. Merasa sangat terkejut dengan bobot tubuh pria ini. Ringan, tubuh pria ini begitu ringan dalam gendongannya. Sehingga ia bisa berlari menuju tempat tidur dari rotan dan segera membaringkan tubuh Jae Joong.
"Kau tidak boleh tertidur, kau pria yang kuat Kim Jae Joong. Bayangkan saja hal menyenangkan, tunanganmu yang tengah tersenyum padamu mungkin."
Dengan memaksakan diri, Jae Joong berusaha membuka matanya meski hanya tatapan sayu, keinginan untuk tertidur sangat besar. Tapi kata-kata Yun Ho membuat ia berusaha untuk matanya tetap terbuka. Entah kenapa Jae Joong merasa dejavu dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Yun Ho sepertinya berlari meninggalkannya hanya untuk menuju ke lemari tua mencari selimut, dan pria itu memang menemukannya. Walau terlihat kumal, tapi mungkin dapat membantu Jae Joong menghangat.
"Aku akan melepas bajumu yang basah Kim."
Yunho meminta izin untuk melepas pakaian pria yang menurut Yun Ho sudah sangat kedinginan. Jae Joong hanya menjawab dengan anggukan saja, tubuhnya terasa bergetar dan sedikit kaku. Sungguh susah mengeluarkan suara. Hanya desisan mungkin yang bisa ia keluarkan dari mulutnya, tanda bahwa dalam dingin ia masih tersadar. Yun Ho segera melepas baju Jae Joong yang berlapis-lapis. Cukup terkejut, ia pikir Kim Jae Joong hanya memakai pakaian yang menurutnya tipis dan hanya selapis saja. Akan tetapi rupanya, ia memakai berlapis. Sungguh, ini sangat tak terduga. Seperti pria ini tidak tahan dengan rasa dingin saja, sampai menggunakan berlapis-lapis pakaian.
Setelah selesai melepas pakaian bagian atas, Yunho sekarang menuju celana jins yang di pakai oleh Jae Joong. Ada keraguan ketika ia akan membuka pengait, lalu melepaskan celana yang memang sudah basah kuyup. Tapi bukankah mereka sama-sama pria? Hal ini sesuatu yang biasa bukan? Ditepis keraguan itu dan ia dengan cepat membuka pengait dan restlitingnya itu hingga tinggal celana dalam yang berupa boxer saja.
Tubuh pria bernama Kim Jae Joong ini sungguh sangat mulus seperti wanita. Pada umumnya pria akan memiliki bulu meski halus di sekitar dada, kaki, atau pada lipatan bawah pada lengan dan Kim Jae Joong tidak ia lihat tanda-tanda bulu yang merupakan salah satu faktor seseorang mengatakan kau benar-benar pria. Kulitnya juga putih pucat. Yunho sadar ia sedang mengamati hal yang selama ini mungkin tersembunyi dari Kim Jae Joong. Entahlah, sebagai pria ia sangatlah menakjubkan, wajahnya tidak bisa hanya dikatakan tampan namun cantik. Kalau saja dada nya tidak bidang namun ada dua buah payudara yang ranum, mungkin Yun Ho sudah menidurinya tanpa banyak berpikir. Otot perut six pack-nya di pinggang yang kecil itu sebenarnya dambaan banyak wanita, bahkan kulit tubuhnya terlihat indah sebagai seorang pria. Mungkin ini yang menjadi keraguannya untuk melepas boxer Jae Joong. Segera ia menutup selimut ke perut dan melepas boxer Jae Joong. Yun Ho juga menutup kepala Jae Joong dan hanya terlihat wajah pria itu.
"J-Ju-ung,"
Jae Joong harus berbicara sekarang akan apa yang terjadi pada tubuhnya. Kalau ia diam saja, Yun Ho tak akan mengerti apa yang akan terjadi padanya. Sebelum pikirannya yang masih jernih belum hilang. Jae Joong memberikan isyarat untuk mendekat.
"Apa masih dingin? Apa kau bisa bertahan bila aku mencari sesuatu yang bisa di bakar agar kita menjadi hangat?"
Di saat cuaca seperti ini, susah mencari kayu untuk di bakar, kayu pasti tertimbun salju dan pasti susah untuk di bakar. Bisa saja ia membuat kayu yang basah di keringkan dahulu tapi keadaan Jae Joong tidak memungkinkan ia tinggalkan lama-lama. Otaknya berpikir apakah yang bisa ia bakar tanpa meninggalkan pria yang tengah mengigil di atas ranjang terbuat dari rotan itu. Di tengah kebingungan tiba-tiba ia melihat jerami, tidak banyak hanya segenggaman tangan mungkin, di dekat lemari ketika mencari selimut untuk Jae Joong. Pasti makanan kuda itu mungkin ada di istal ada. Melihat keadaan tempat istal ini yang sepertinya terlihat masih terawat, walau sangat tua, kemungkinan tempat ini masih di pergunakan. Bisa jadi kuda disini di pindahkan sementara, dikarenakan cuaca disini tidak bagus.
"Y-Y-Yunhoo.."
Jae Joong mencoba bangkit dari tidurnya namun tidak bisa. Nafasnya tiba-tiba sesak seakan batu besar menghimpit dadanya, hal ini membuat nafasnya terputus-putus. Oh sebenarnya ia ingin mengatakan kalau ia seorang penderita dingin akut. Sehingga dingin sedikit saja, ia bisa hipotermia. Tapi, nafas yang tersengal-sengal ini membuat Jae Joong tak bisa mengatakan.
"Ada apa? Apa yang ingin kau katakan Kim? Pelan-pelan saja. Jangan banyak bergerak. Apa kau butuh air?"
Yun Ho menggelutuk sekarang. Sebenarnya Yun Ho juga merasa ia kedinginan, namun Jae Joong sepertinya merupakan prioritas utama sekarang. Apalagi baju nya juga sudah basah hingga dalamannya. Namun keadaan Jae Joong yang seperti ini membuat ia panic. Apalagi pria itu sekarang mulai susah untuk bernafas.
"Oh sit!"
Yun Ho segera duduk di sebelah ranjang kayu itu dan tanpa pikir panjang ataupun memikirkan akibatnya segera membantu dengan CPR. Memberikan oksigen mulut ke mulut. Menyentuhkan bibir tebalnya ke bibir membiru yang kenapa begitu sangat lembut bagaikan madu. Untuk sesaat ia hampir terlupa dengan cara CPR ketika merasakan kelembutan madu dan karamel menjadi satu saat bersentuhan bibir, namun sebuah erangan yang tentu sebuah desisan dingin, keluar dari mulut Jae Joong menyadarkan kembali dengan menyalurkan oksigen dari mulutnya.
Sebenarnya Jae Joong cukup terkejut dengan tindakan Yun Ho. Ia ingin marah, tapi bagaimana bisa? Ini hanya salah satu tindakan pertolongan pertama terhadap orang yang tengah susah bernafas akibat gejala hipotermia. Terlihat Yun Ho tidak menggosok-gosokkan tangan dan kakinya untuk membuat hangat. Tentu, hal ini beresiko memicu kinerja jantung atau serangan jantung mendadak yang membahayakan nyawanya. CPR yang dilakukan Yun Ho cukup membuat ia bisa tenang untuk bernafas, walau entah kenapa ia juga merasakan sebuah kejutan riak-riak panas sedikit ditubuhnya. Lagipula, ia belum sampai hipotermia menengah. Ia masih menggigil, walau merasakan persendian kaku sebab darah yang mendingin di bawah suhu normal manusia pada umumnya.
"Se-sebenarnya...a-aku…. Uhuk...uhuk..."
Jae Joong terbatuk ketika ia akan mengatakan apa yang menjadi penyakitnya selama ini di sela-sela nafasnya yang terputus-putus. Sial, ia susah bernafas lagi. Saat ini ia merasakan panas didalam, walau sebenarnya tubuh ini dingin seperti membeku. Jae Joong tiba-tiba berpikir ingin melepas selimut yang berada di tubuhnya. Ia pun sedikit menyampirkan selimut yang ada di tubuhnya.
"Tidak Jae Joong! Kau harus tetap memakainya. Kau minumlah dulu."
Yunho membuka botol mineralnya yang ia lilitkan pada gespernya, Jae Joong pasti tersedak ludahnya sendiri. Jae Joong meminumnya sedikit dan menarik nafas panjang
"Alergi ddinggiinn"
Yunho membelalakkan mata mendengar kalimat pria itu. Oh, ini sungguh di luar kuasanya. Menurut prediksi Jae Joong belum ketahap berbahaya hipotermia nya, tapi kalau pemilik alergi dingin seperti Jae Joong ini maka sangat rentan menjadi sangat parah. Kalau ia tidak segera memanaskan aliran darah pria itu, akan berbahaya. Apalagi Jae Joong berusaha melepaskan selimutnya.
"Ta-Ta-pii..i-ini. Aarrrrhhghhh"
Yunho segera memakaikan selimut kembali, seperti memaksa sebenarnya tapi ia tidak melakukan kekerasan. Bagaimanapun juga penderita hipotermia tidak boleh di perlakukan kasar, karena dapat berbahaya untuk nyawa pengidap itu sendiri. Yun Ho harus mengikat selimut ini agar ia dapat meninggalkan Jae Joong sejenak untuk mencari jerami untuk di bakar, memanaskan air dari salju untuk mengompres daerah kepala, dada, dan daerah selangkangan Jae Joong agar darah yang dingin menjadi suhu normal.
"Aku akan kembali secepatnya Jae, aku mohon kau tidak banyak bergerak."
Yun Ho berucap seperti itu agar Jae Joong tidak melepas selimut yang ia taruh di bagian perut dan kepala. Namun sayang, Jae Joong sepertinya memberontak terus menerus dengan berusaha melepas. Tenaganya bahkan tidak main-main, membuat Yun Ho kesusahan. Hei, bagaimanapun orang yang tengah kedinginan ini seorang pria sepertinya. Meskipun terlihat seperti wajah wanita huh. Hanya saja ia tidak bisa kasar sayangnya! Tentu pada kasus hipotermia. Bahkan ia sudah berada di atas Jae Joong, tidak menindih. Yunho hanya bertumpu pada kedua lutunya sambil menekan selimut di sisi bahu kanan dan kiri Jae Joong. Sial dengan posisi ini, terbesit dalam pikirannya sekarang. Satu-satunya cara membuat pria itu hangat kembali. Cara terakhir yang ia tahu.
"Kim Jae Joong, aku tahu menurutmu ini pasti gila dan sangat-sangat tidak di perbolehkan. Tapi, kau tahu hanya cara itu yang dapat menyelamatkanmu." Yun Ho mengucapkan dekat dengan telinga pria itu. Berharap mengerti bahwa apa yang ia tawarkan merupakan dosa. Tapi ia tak dapat berpikir apa-apa selain dengan cara ini.
"Aa-ap-apaaa... maksudmuuu... Juuuung Yunhoooo. Uussshhhhhmm"
Jae Joong mencoba berbicara, sungguh ia tidak dapat berpikir apapun sekarang. Entahlah, rasa dingin ini begitu menyiksa tubuhnya. Selimut ini mengganggu, pikir Jae Joong. Oh kenapa Yun Ho tidak memperbolehkan ia membuang selimut ini? Jae Joong sepertinya mulai kehilangan nalarnya. Bahkan Jae Joong lupa akan penyakit yang ia derita. Alergi dingin tidak boleh terkena udara dingin. Selimut tentu membuat ia hangat.
"Menyalurkan dua panas tubuh dengan cara saling menyentuh dan berpelukan. Kau tahu itu bukan"
Jae Joong tetap menggigil, walau begitu ia mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Yun Ho. Hanya saja ia tak mengerti apa maksud Yun Ho. Tentu saja, sepertinya ia sudah mulai kehilangan akal sehat, dan ini merupakan gejala hipotermia menengah.
"A-Aku ti...tidaaakkkk... ..."
Yunho mengangkat tubuhnya dan ia mulai melepas pakaian basahnya dan membuang ke lantai. Memperlihatkan tubuh kecoklatan yang dapat mengundang saliva para gadis kalau ia melakukannya. Tangannya sudah menuju ke celana panjangnya yang juga basah. Tiba-tiba Jae Joong sedikit menghoror ketika mengerti apa maksud Yunho.
"Ya..., aku menawarkan bercinta Jae Joong ssi. Satu-satunya cara terakhir yang terpikir di otakku"
TBC
Well sebenarnya ff ini udah sampai chap 4 tapi masih separuh tulis. Saya akan coba tulis secepat saya bisa. Sekalian sama Just Us chap 5 ne. Masalah apakah saya tanggung jawab, saya berusaha bertanggung jawab dengan yang saya tulis. Terima kasih sudah mengikuti Just Us. Aku ngeluarin ini FF ga da maksud apa-apa. Hanya sekedar untuk bertanggung jawab, karena ff ini kan tinggal 4 chapteran lagi tamat, kenapa ga di publish aja sampai tamat. Oh iya, yang request ini YUNHO BIAS loh yah. dia sampai buat story line karakter Yunho OC banget yah. hahahahha, jadi mohon di bacanya dengan kepala dingin. saya tidak bermaksud menistakan karakter atau agama key. jadilah reader yang berpikir dan menelaah cerita dengan bijak. tidak melihat dari satu sisi saja. Saya gak marah loh dengan kalian semua. Kritikan apapun itu insyaallah akan saya pikirkan dan telaah. Terima kasih #bow
Menarik? Chap 3 dalam pengeditan, beri waktu ne kalau suka.
SAENGIL CHUKAEYO NICKY SO SWEET
semoga panjang umur ya. kali ini umurmu lebih tua selangkah dari saya #digebukin.
JUST US chap 5, tunggulah di saat ultah ACHY dan juga ULTAH kedua Nicky( menurut akta) ini ultah Nicky kok kayak JaeMa yang punya dua ultah. okeh selamat membaca. INI CHAPTER TERBARU. belum pernah di publish di mana-mana. spesial in FFN.
