Chapter 1

Cahaya matahari yang masuk lewat sela-sela korden mengusik tidur nyenyak Kuroko. Ia pun terbangun. Kuroko duduk di atas tempat tidur dan mengusap kedua matanya, berusaha memfokuskan pandangan. Setelah merasa benar-benar bangun, Ia menyingkap selimut biru muda yang ia gunakan dan melangkahkan kedua kakinya menuju lantai kamar yang dingin. Kuroko mengambil handuknya yang tergantung lalu mandi dengan air hangat. Ia memakai seragam sekolahnya, mengambil tas lalu turun ke bawah untuk sarapan.

"Ohayou, Tetsuya.."sapa ibu dan ayahnya.

"Ohayou, Okaa-san, Otou-san." Balas Kuroko

"Ayo, sarapan.Okaa-san sudah membuatkan roti dan teh untukmu."

"Ha'i, Okaa-san."

Kuroko duduk di sebelah ayahnya yang sedang membaca Koran dan menyesap kopi. Seperti biasa, Kuroko makan dengan tenang.

"Gochisousama" ucap Kuroko setelah menghabiskan sarapannya. Ia lalu mengambil tas sekolah nya dan pergi ke beranda memakai sepatu.

"Tetsuya, sebaiknya kau membawa payung. Sepertinya akan turun hujan." Ujar ibunya.

"Eh? Benarkah? Tapi sepertinya cerah, Okaa-san."

"Okaa-san lihat di ramalan cuaca hari ini, Tetsuya."

"Oh.. tidak usah, Okaa-san."

"Hmm.. baiklah.."

"Ittekimasu"

"Itterasshai, Tetsuya."

Kuroko pun berdiri dan mengambil tasnya. Ia membuka pintu rumah dan melangkahkan kedua kakinya menuju sekolah melewati jalanan Tokyo yang penuh orang yang berangkat kerja dan sekolah. Musim panas di Tokyo memang kadang merepotkan. Suhu yang sudah panas semakin panas, Kuroko menyusuri jalan yang penuh dengan pepohonan rindang di samping jalan. Angin semilir yang berhembus mengurangi suhu panas yang dirasakan Kuroko. Ia berjalan sambil membaca novel yang baru saja ia beli lusa kemarin. Memang jalan yang ditempuh lebih jauh, namun pohon rindang membuat Kuroko lebih nyaman. Tubuhnya yang lemah dan mudah sakit bisa saja pingsan di tengah jalan akibat kepanasan.

Setelah berjalan 20 menit, ia akhirnya sampai di sekolah. Jam baru menunjukan pukul 7 pagi sedangkan sekolahnya masuk pukul 8. Kuroko memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Novel tadi? Sudah selesai ia baca tentunya. Udara dingin di perpustakaan menyambutnya. Ia melangkahkan kakinya menuju salah satu rak berisi novel. Setelah mendapat 3 novel yang menurutnya bagus, Kuroko mencari tempat duduk dengan posisi nyaman yaitu di pojok ruangan. Akhirnya, ia menemukan tempat yang nyaman di pojok perpustakaan. Kuroko duduk dan meletakan tasnya di atas meja. Ia pun mulai masuk ke dalam dunianya sendiri hingga tak sadar ada orang lain yang masuk ke perpustakaan.

"Nee, boleh aku duduk di sini?" tanya seseorang tiba-tiba. Kuroko pun terkejut dan mendongakan kepalanya. Di situ ia melihat seorang pemuda yang tampan yang menawan dengan surai merah dan mata heterokrom scarlet-gold.

"Douzo.." balas Kuroko. Pemuda itu lalu duduk di salah satu bangku dekat Kuroko. Beberapa menit berlalu, tak ada tanda-tanda salah satu dari mereka yang hendak memecah keheningan. Hanya ada suara lembaran buku yang …

"Nee, siapa namamu?" sapa pemuda itu lagi.

"Boku wa Kuroko Tetsuya desu."

"Boku wa Akashi Seijuuro. Yoroshiku."

"Ha'i, Akashi-kun.

Setelah itu, mereka kembali masuk ke dunianya masing-masing. Tak ada obrolan lain di antara mereka. Setelah bel masuk berbunyi, Akashi dan Kuroko sama-sama menutup buku yang mereka baca, mengambil tas, berdiri dan keluar setelah mengembalikan buku yang mereka baca ke tempat semula. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong berdampingan dalam diam namun akhirnya berpisah karena kelas Akashi ada di lantai 2. Tanpa mengucapkan salam perpisahan apapun, Akashi langsung berbelok untuk naik tangga. Kuroko pun juga sama, ia langsung menuju kelasnya tanpa mengucapkan salam perpisahan apapun pada Akashi.

"Jam pertama… matematika.." gumam Kuroko. Ia pun mengambil buku matematika miliknya setelah sampai di kelas. Ia menata buku matematika nya dan alat tulis dengan rapi di atas meja. Kuroko lalu duduk di bangkunya, dekat jendela dan memandang keluar. Guru matematika mereka pun masuk kelas dan mereka langsung memulai pelajaran. Entah mengapa, hari itu rasanya Kuroko sangat malas mendengarkan pelajaran matematika yang merupakan pelajaran favoritnya itu. Saat sedang mencatat, ia tiba-tiba mendengar suara tawa dari luar jendela. Kuroko pun mengalihkan pandangannya dari buku matematika menuju ke luar jendela. Di situ ia melihat Akashi Seijuuro, pemuda yang baru ia kenal tadi siang sedang tertawa sambil bercanda ria dengan beberapa temannya. Rupanya, jam pertama kelas Akashi adalah olahraga. Tanpa sadar, Kuroko memperhatikan Akashi yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Akashi yang merasa diperhatikan seseorang lalu menengok ke arah jendela. Akashi menemukan sosok Kuroko yang sedang memperhatikan dirinya lewat jendela kelas. Akashi pun tersenyum padanya. Kuroko yang melihat Akashi tersenyum padanya langsung blushing seketika dan langsung mengalihkan pandangannya ke papan tulis sambil memainkan bolpen yang ia pegang. Ia malu tertangkap basah sedang memperhatikan Akashi Seijuuro.


Akhirnya, bel istirahat berbunyi. Kuroko membereskan buku pelajaran dan memasukannya ke dalam tas. Ia mengambil bento miliknya dan pergi ke atap sekolah untuk makan siang sendirian. Kuroko berjalan menyusuri koridor yang penuh sesak oleh karena murid-murid Teiko. Akhirnya ia sampai di tangga, ia naik ke lantai dua.. lantai 3.. dan akhirnya atap sekolah. Biasanya, tidak ada anak yang makan di atap sekolah karena mereka selalu makan di taman, jadi Kuroko bisa makan dengan tenang sendirian. Kuroko membuka pintu besi berwarna abu-abu menuju atap sekolah. Angin semilir menyambutnya begitu ia keluar. Kuroko mencari tempat yang nyaman baginya untuk makan siang.

"Kuroko?" tiba-tiba seseorang menyapanya.

"Eh?" Kuroko yang merasa dipanggil menengokan kepalanya ke sumber suara. Manik birunya bertemu dengan manik heterokrom scarlet-gold.

"Doumo" sapa Kuroko.

"Kau sendiri?"

"Ha'i , Akashi-kun. Akashi-kun? Tidak bersama teman-teman?"

"Tidak. Aku.. lebih senang sendirian."

"Sou desuka.."

"Hm.. duduk di sini, Kuroko. Kalau kau tidak keberatan." Ujar Akashi sambil menunjuk tempat kosong di sampingnya.

"Ah.. tentu saja aku tidak keberatan, Akashi-kun." Kata Kuroko sambil duduk di samping Akashi. Kuroko lalu membuka bento nya dan makan dengan tenang. Akashi pun memperhatikan Kuroko yang memakan bento nya. Kuroko yang merasa dipandangi dari tadi menengok kea rah Akashi.

"Akashi-kun? Ada apa? Akashi-kun tidak makan?"

"Hm? Tidak. Aku.. berpikir bahwa sepertinya enak makan bento buatan rumah." Ujar Akashi dengan senyum pahit menghiasi wajah tampannya.

"Ah.. apa Akashi-kun mau?" tanya Kuroko sambil menyodorkan bento nya.

"Kau yakin tidak apa-apa?"

"Hm.. Tentu saja, Akashi-kun.."

"Arigatou, Kuroko."

Siang itu, mereka menghabiskan waktu berdua di atap sekolah sambil berbincang-bincang hingga waktu istirahat selesai. Setelah mendengar bunyi bel, mereka berdua berdiri lalu pergi ke kelas masing-masing. Kuroko melanjutkan 2 pelajaran terkahirnya, biologi dan kimia. Sepertinya mood Kuroko sudah lebih baik sehingga ia memperhatikan pelajaran yang diterangkan oleh guru. Akhirnya, pukul 3 sore pelajaran sekolah sudah selesai. Kuroko segera membereskan buku-buku pelajarannya yang berserakan di atas meja. Ia mengambil tas, memasukan buku ke dalam tas dan pergi ke gym untuk latihan basket. Kuroko membuka pintu menuju ruang loker di gym. Ia memasukan tasnya ke dalam salah satu loker lalu mengganti seragam sekolahnya dengan kaos polos dan celana pendek selutut untuk berlatih basket bersama tim Teiko third string.


Kuroko dan timnya berlatih dari jam 3 sore hingga jam 5 sore. Setelah latihan selesai, para anggota sudah mulai pulang satu persatu. Kuroko tetap tinggal di gym setelah teman-teman satu tim nya pulang. Ia kembali melatih kemampuan basketnya. Lalu ia mendengar suara pintu gym yang dibuka oleh seseorang. Ia pun menoleh ke arah pintu gym. Saat itulah, ia melihat seorang pemuda yang kira-kira seumur dengannya namun lebih tinggi, bersurai kuning sedang mengintip ke dalam gym.

"Anou.. sumimasen.." pemuda berambut pirang itu lalu menengok ke arah Kuroko yang menyapanya.

"Whoa! Aku tidak sadar kau ada di situ." Ujar sang pemuda dengan wajah yang kaget.

"Kau mencari apa?"

"Ah, tidak. Aku pikir jam segini semua sudah pulang."

"Ah, aku sedang latihan."

"Ah... Ore wa Kise Ryouta."

"Kuroko Tetsuya desu"

"Ah, apa kau anggota third string?"

"Iya. Kise-kun?"

"Aku anggota first string."

'Ah, pantas saja aku pernah mendengar namanya.' Batin Kuroko dalam hati.

"Ah, aku harus latihan lagi. Jaa na, Kuroko." Pemuda bernama Kise Ryouta itu berlalu sambil melambaikan tangan pada Kuroko. Setelah itu, Kuroko pun melanjutkan latihannya hingga jam 7 malam. Setelah selesai latihan, ia berjalan ke arah ruang loker sambil mengelap peluh yang membasahi wajahnya dengan handuk. Kuroko mengganti kaos dan celananya dengan seragam Teiko. Setelah merasa semua barang beres, ia mengambil tasnya dan keluar dari gym. Namun, titik-titik air yang jatuh membuat Kuroko mengurungkan niatnya untuk langsung pulang.

"Ah.. hujan.." Ia merutuki dirinya yang menolak untuk membawa payung. Kuroko pun terpaksa menunggu hingga hujan sedikit reda agar ia tidak terlalu basah saat berjalan pulang.

"Kuroko?" Mendengar namanya dipanggil, ia menengok ke belakang.

"Ah.. Akashi-kun? Doumo."

"Kau tidak membawa payung?"

"Tidak, Akashi-kun."

"Mau meminjam payungku?"

"Eh? Tidak usah, nanti Akashi-kun basah. Aku akan menunggu hujan sedikit reda."

"Kalau begitu, mau payungan berdua denganku?"

"Eh?" mendengar tawaran Akashi barusan membuat pipi Kuroko mengeluarkan semburat merah tipis.

"Mau? Setelah mengantarmu ke rumah aku bisa pergi ke stasiun."

"Ti..tidak usah, Akashi-kun. Aku akan merepotkanmu."

"Tidak. Kau sama sekali tidak merepotkanku."

"Ugh.." Karena didesak terus oleh Akashi akhirnya Kuroko menerima tawaran dari Akashi untuk payungan berdua. Mereka berjalan berdampingan di bawah payung yang melindungi mereka dari air hujan. Tak ada yang berusaha untuk memecah keheningan, mereka berjalan dalam diam menikmati keberadaan masing-masing. Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Kuroko.

"Akashi-kun.. hari ini.. terima kasih banyak dan maaf aku merepotkanmu."

"Tidak, kau tidak merepotkanku, Kuroko. Jaa na.."

"Jaa.."

Setelah Akashi menghilang dari pandangannya, Kuroko memegang pipinya yang terasa panas daritadi.

'Ugh.. apa yang kupikirkan, sih?' Kuroko menggelengkan kepalanya dan ia pun lalu masuk ke dalam rumah dan makan malam bersama keluarganya. Setelah itu ia belajar hingga pukul 11 dan langsung tidur.

.

.

.

TBC


Author's note: gimana minna-san, cerita nya sejauh ini? Plot nya belum kelihatan, ya.. silahkan di review bagi yang penasaran 'v' sampai jumpa di next chapter~