Author's note: Minna-san.. berhubung beberapa chapter dari cerita ini belum masuk ke plot, Author bakal langsung update chapternya. Begitu masuk plot, author bakal update kira-kira per minggu ^^ douzo..


Chapter 2

"Kau… Jangan pernah sekalipun melawanku."

"Ta..tapi.."

"Aku tidak menerima penolakan darimu!"

Gunting tajam itu diarahkan ke tenggorokan Kuroko. Membuat Kuroko menutup mulutnya. Ia hendak protes pada orang yang menodongkan gunting kepadanya. Namun, ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang ini. Mau tidak mau Kuroko harus menuruti perintah orang ini daripada sesuatu yang buruk terjadi padanya.

"Ha'i"

Dengan nafas yang terengah-engah Kuroko bangun dari mimpi buruknya. Ia tak tau apa yang membuat dirinya dapat bermimpi hal seperti itu. Selama ini, ia tak pernah mencari masalah dengan orang lain, lagipula tak banyak orang yang menyadari kehadirannya di manapun itu. Entah di sekolah, toko, restoran, ataupun di jalanan.

"Haah.. Haah.. Mimpi.. macam apa itu.." gumam Kuroko

Kuroko lalu melihat kea rah jam yang menggantung di dinding kamarnya. Ia bangun terlalu pagi pada hari sekolah. Jam baru menunjukan pukul 5 pagi. Tapi, ia sudah tak bisa tidur atau mungkin tidak ingin tidur lagi karena takut bermimpi buruk. Kuroko pun mengambil ponsel biru muda miliknya yang ia letakan di meja kecil samping tempat tidur. Apa yang ia lakukan? Membaca pesan? Tidak.. tentu tidak. Ia tidak punya teman, bagaimana ada pesan masuk? Kuroko membuka internet di ponselnya dan mencari informasi tentang berbagai buku baru. Well, memang tidak penting namun ia bosan karena bangun terlalu pagi. Setelah selesai mencari-cari informasi tentang buku baru, Ia mengambil salah satu novel yang tersusun rapi di rak bukunya dan mulai membaca novel itu sambil duduk di atas tempat tidur. Lembar demi lembar dibalik Kuroko. Ia sudah terhanyut dalam dunianya sendiri. Tiba-tiba jam wekernya berbunyi mengejutkan Kuroko yang sedang asyik membaca novel. Kuroko menengok kea rah jam wekernya.

"Ah.. sudah jam 6.. aku harus mandi" ujar Kuroko sambil menutup novel yang ia baca. Ia lalu turun dari tempat tidur dan membereskannya. Setelah selesai, ia membuka korden kamar, mengambil handuk dan langsung mandi. Kuroko keluar dari kamar mandi dan mengenakan seragam Teiko dengan jas putihnya. Kuroko mengambil tas sekolahnya dan turun untuk sarapan bersama keluarganya. Sampai di bawah, tak ada ucapan selamat pagi dari keluarganya. Ia pun heran.

"Okaa-san? Otou-san?"

Ia mencari kedua orang tuanya mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, dapur, hingga ruang baca. Tak ada sama sekali. Akhirnya Kuroko kembali ke dapur dan manik birunya menangkap sebuah note kecil yang ditempel di kulkas. Ia pun berjalan mendekati kulkas dan mengambil note yang ternyata dari kedua orang tuanya.


Tetsuya, gomenne.. Okaa-san dan Otou-san ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Otou-san dan Okaa-san pergi ke luar negeri. Gomen tidak memberi tahumu, kau tidur terlalu nyenyak semalam. Okaa-san pergi ke L.A dan Otou-san pergi ke Taiwan. Okaa-san dan Otou-san akan pergi selama 2 bulan. Tolong jaga rumah dengan baik, jika kau butuh uang untuk sesuatu, ambilah uang yang Otou-san letakan di laci meja uangnya kurang, hubungi saja Otou-san atau Okaa-san, ne Tetsuya? Honto ni gomen.

Otou-san & Okaa-san


Ah.. begitu rupanya. Mereka harus menyelesaikan pekerjaan mereka yang didapat dari kantor. Kedua orang tua Kuroko memang tak jarang mendapat tugas ke luar negeri untuk menyelesaikan tugas perusahaan yang ada di luar negeri. Kuroko yang membaca note itu pun mengangguk angguk pada dirinya sendiri dan segera membuat sarapan untuk dirinya. Karena memang tidak suka sarapan yang terlalu ribet, ia hanya membuat roti yang di toast dan telur setengah matang. Setelah makan, ia mencuci piringya dan segera berangkat sekolah.

Musim panas masih berlanjut artinya suhu yang panas juga masih berlanjut. Kuroko melepaskan jas pada seragamnya dan mengikat jas putih itu pada bagian pinggangnya. Udara di luar sangat panas, namun ia memerlukan jas itu saat berada di dalam kelas yang terlalu dingin baginya. Perjalanannya ke sekolah lagi-lagi ditemani sebuah novel ringan dan juga pepohonan rindah di pinggir jalan. Selama musim panas, Kuroko selalu lewat jalan ini supaya ia tidak pingsan di tengah jalan akibat kepanasan. Ia sampai di sekolah pukul 8 kurang 12 menit. Artinya, ia tidak punya cukup waktu untuk singgah di perpustakaan. Kuroko pun menghela nafas dan langsung melangkahkan kedua kakinya menuju ruang kelas. Seperti biasa, duduk memojokan diri dekat jendela selalu menjadi pilihan utama Kuroko Tetsuya. Ia tidak suka keramaian, lagipula ia tidak punya teman untuk diajak berbicara.


Tak terasa, pelajaran di sekolah sudah usai. Kuroko pun bergegas membereskan barang bawaanya dan langsung berlari ke arah gym tempat ia biasa berlatih basket bersama rekan-rekan satu tim nya. Seperti biasa juga, Kuroko tinggal di gym hingga larut malam. Namun kali ini berbeda.

"Kuroko?"

"Ah.. Akashi-kun.. doumo.."

"Kau belum pulang? Ini kan sudah jam 7."

"Ah, iya. Aku selalu berlatih basket dulu, Akashi-kun."

"Hm.. sepertinya kau cukup— sangat berbakat untuk masuk ke first string."

"Eh? Tidak mungkin, Akashi-kun. Aku.. selalu ingin menjadi anggota first string tapi.. ketika ada tes aku tidak pernah berhasil masuk dengan kemampuan ku yang terbatas."

"Sou ? Tapi .. aku merasa ada sesuatu yang berbeda tentangmu. Bagaimana kalau aku mengajari mu menjadi spesialis di passing?"

"Passing? Hm.. mungkin itu satu-satunya yang aku bisa lakukan dalam basket, Akashi-kun."

"Bagus kalau begitu. Kau bisa menggabungkannya dengan… hawa keberadaan tipismu?"

"Eh? Bagaimana Akashi-kun tahu? Soal keberadaanku yang tipis."

"Aku dengar dari murid-murid lainnya."

"Ah..sou desuka.."

"Jaa, Kuroko. Besok aku akan melatihmu seusai latihan basket."

"Ha'i, Akashi-kun. Yoroshiku onegaishimasu."

Kuroko mendengar Akashi menggumamkan sesuatu, namun ia tak dapat mendengarnya.

"Akashi-kun, apa kau barusan berbicara sesuatu padaku?"

"Ah? Tidak.. aku berbicara pada diriku sendiri, Kuroko."

"Ah.. Sou desuka.."

"Jaa na, Kuroko."

Mereka pun mengakhiri pembicaraan mereka dan Akashi berjalan keluar gym khusus third string. Kuroko mengembalikan bola basket yang ia pinjam ke dalam keranjang bola lalu berjalan ke ruang loker untuk berganti baju. Jam di ponselnya sudah menunjukan pukul setengah 8 malam. Ia pun buru-buru berjalan keluar gerbang sekolah dan mampir di Maji Burger untuk segelas— atau lebih vanilla milkshake favoritnya. Setelah puas membeli 2 gelas vanilla milkshake ukuran sedang, ia pulang ke rumahnya sambil menyesap minuman favorit yang baru saja ia beli itu.

Sampai di rumahnya, Kuroko langsung meletakan tas sekolahnya di kamar dan turun untuk memasak makan malam. Ia melepas jas seragamnya lalu melipat lengan seragamnya sebatas siku agar tidak basah atau kotor. Kuroko lalu mengambil apron biru muda miliknya dan membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang akan ia masak. Suasana rumah yang sepi sudah menjadi hal biasa bagi Kuroko. Malam itu, Kuroko memasak sup miso dengan ikan panggang dan sedikit salad. Ia meletakan piring dan mangkoknya di atas meja makan lalu makan dengan tenang sendirian. Selesai makan, ia langsung mencuci piring dan gelas yang ia gunakan. Menghela nafas, ia lalu mematikan lampu di lantai bawah dan naik ke atas, ke kamarnya untuk mandi. Karena besok tidak ada ulangan, Kuroko memutuskan untuk langsung tidur. Namun, entah mengapa, ia tidak bisa tidur. Kuroko pun memutuskan untuk membaca novel yang belum ia selesaikan tadi pagi sampai ia mengantuk. Pukul setengah 3 pagi, Kuroko baru bisa tidur setelah menyelesaikan 2 novel ringan. Akhirnya ia pun masuk ke alam mimpi.

"Nee.. Kau.."

"Boku.. desuka?" tanya Kuroko

"Ya… kau."

"?"

"Kenapa.. kau melawanku?"

"Eh?"

"Jangan berani kau melawan perintahku! Atau pun menghianatiku!"

"E..Eh?"

Kuroko pun terbangun setelah mendapat mimpi buruk. Mimpi buruk yang ia dapat hampir sama dengan mimpi buruknya kemarin. Orang yang sama, suara yang sama, nada bicara yang sama. Namun, ia masih tidak bisa melihat wajah orang itu. Orang yang mengancamnya untuk tidak melawan ataupun menghianatinya. Siapa? Ia tak pernah melawan siapapun atau menghianati siapapun. Kuroko pun mencoba untuk tak menghiraukan mimpinya ini.


Sore itu, setelah pulang sekolah atau lebih tepatnya setelah selesai latihan basket, sesuai janji, Akashi melatih Kuroko dalam passing. Akashi puas melihat Kuroko yang melebihi harapannya. Ia dapat menggunakan hawa keberadaannya yang tipis atau lebih tepatnya misdirection di lapangan dan kemampuan passingnya sangat hebat dan pantas untuk masuk ke first string.

"Nee, boleh.. aku memanggilmu Tetsuya?

"Eh? Tentu saja boleh, Akashi-kun. Tapi.. kenapa tiba-tiba?"

"Hm.. tidak apa-apa."

"Sou desuka.."

"Ah, Tetsuya.. pastikan kau ikut dalam test first string yang akan diakan besok."

"Eh? Test.. masuk first string?"

"Ya, benar. Pastikan kau ikut karena aku akan menjadikanmu anggota first string dan aku yakin kalau kau akan masuk."

"Bagaimana kau bisa sangat yakin, Akashi-kun ?"

"Aku yakin karena aku.. tidak pernah salah."

"Eh?"

"Ah, sebaiknya kita pulang sekarang. Hari sudah malam, Tetsuya."

"Ha'i, Akahsi-kun."

Mereka pun menyudahi acara latihan mereka dan pulang ke rumah masing-masing.

.

.

.

TBC