Chapter 4
Pagi-pagi pukul setengah 6, seluruh anggota Kiseki no Sedai sudah bangun. Mereka mencuci muka dan menggosok gigi mereka. Selesai cuci muka dan gosok gigi, mereka langsung memulai latihan mereka. Latihan pun selesai pukul 11 siang. Mereka mandi lalu makan siang. Setelah selesai makan siang, mereka kembali melanjutkan latihan mereka. Begitulah rutinitas mereka selama seminggu saat training camp. Besok, training camp mereka selesai jadi mereka akan pulang ke rumah masing-masing. Malam ini, mereka tidur cepat karena akan pulang pagi-pagi pukul 7.
"Oyasumi, minna"
"Oyasumi"
"Oyasumi, minna-san."
"Oyasuminasai."
"Oyasumi."
"Oyasumi."
Mereka semua pun masuk ke kamar yang sudah ditentukan dan langsung tidur, namun tidak halnya dengan Akashi dan Kuroko.
"Akashi-kun.."
"Hm? Ada apa, Tetsuya?"
"Apa… kau sedang marah?"
"Marah? Pada siapa?"
"Entahlah. Soalnya, aku lihat beberapa hari ini saat training camp Akashi-kun selalu memasang wajah seolah-olah sedang marah."
"Hm… tidak juga.."
"Benarkah?"
"Ya, apa kau meragukanku, Tetsuya?"
"Tidak, Akashi-kun."
"Lebih baik sekarang kita tidur. Besok kita harus bangun pagi."
"Ha'i, Akashi-kun."
'Hm.. aku harus lebih hati-hati.' Ujar Akashi dalam hatinya. Mereka pun lalu tidur.
.
.
.
.
.
Musim panas sebentar lagi selesai. Kuroko sedang menyelesaikan PR musim panas terakhirnya. Besok sore, Akashi mengajaknya dan Kiseki no Sedai untuk pergi ke festival musim panas yang ada di kuil dekat rumah Kuroko dan semuanya diwajibkan memakai yukata yang merupakan usul dari Kise.
Flashback
Siang itu, mereka berkumpul di restoran cepat saji, Maji Burger. Sekedar berkumpul saja karena bosan. Kise tiba-tiba berdiri.
"Nee, minna, bagaimana kalau kita ke festival musim panas lusa?"
"Festival?" tanya Aomine
"Iya-ssu! Di dekat sini ada kuil. Bagaimana kalau kita ke sana?"
"Hm.. asal ada makanan aku mau." Balas Murasakibara
"Aku sih terserah kalian-nodayo."
"Sepertinya menarik. Bagaimana, Akashi-kun?"
"Hm.. boleh juga. Karena tampaknya itu ide bagus.. jadi mengapa tidak?"
"Yosh! Kalau begitu semua wajib memakai yukata, ya-ssu!"
"Hoo.. kau memerintahku, Ryouta?"
"E..eh.. bu..bukan begitu maksudku, Akashicchi.." jawab Kise sambil gemetar melihat kapten mereka yang sudah mengeluarkan aura hitam tidak enak.
"Sudahlah, Akashi-kun. Lagipula, itu ide bagus menurutku."
"Hm? Baiklah. Karena kau berkata begitu, Tetsuya."
'Arigatou… Kurokocchi…" ucap Kise dalam hati sambil mengeluarkan air mata ( pura-pura )
"Ah. Tapi aku tidak punya yukata." Kata Kuroko
"Kau tidak punya? Kenapa? Apa kau tidak pernah pergi ke festival?" tanya Aomine
"Hm.. aku tidak punya teman, jadi aku tidak pernah pergi." Jawab Kuroko dengan wajah datar.
"Jaa, Aku akan membelikannya untukmu, Tetsuya."
"Eh? Jangan, Akashi-kun. Aku bisa membelinya sendiri."
"Aku tidak terima penolakan apapun."
Flashback End
"Haah.." Kuroko menghela nafas. 'Kenapa Akashi-kun harus membelikannya untukku, sih? Aku kan tidak mau merepotkan Akashi-kun.' Gumam Kuroko dalam hati. Akashi membelikannya sebuah yukata yang sangat cantik. Yukata warna putih, dengan motif pohon sakura warna hitam. Kuroko juga begitu terpesona dengan yukata cantik ini ketika Akashi mengantarkannya ke rumah Kuroko. Tak Kuroko ketahui, perasaan cintanya sendiri pada Akashi mulai tumbuh. Kuroko menutup PR yang baru saja ia selesaikan. Ia membereskan semua buku-bukunya yang berserakan lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah makan malam, membereskan rumah, dan berganti baju, Kuroko langsung tidur.
"Jangan melakukan hal yang tidak perlu!"
"E..eh…"
"Apa kau mau melawanku?!"
"Ti..tidak…"
"Bagus" orang itu tersenyum— atau lebih tepatnya menyengir, senyuman sadis terlihat di mulutnya namun Kuroko tidak bisa melihat wajah orang itu.
Kuroko terbangun dengan nafas -lagi orang misterius itu muncul dalam mimpinya. Padahal, sudah beberapa minggu ia tidak bermimpi buruk. Kini, mimpi buruk yang membuatnya insomnia itu kembali lagi.
"Haah.. kenapa aku dapat mimpi seperti itu, sih? Lagipula, siapa orang itu.." tanya Kuroko pada dirinya sendiri. Daripada berlama-lama memikirkan mimpinya, Kuroko langsung turun dari tempat tidurnya lalu mandi.
Akhirnya, sore pun tiba. Pukul 5 sore, Kuroko serta anggota Kiseki no Sedai sudah janjian di depan kuil. Satu jam sebelumnya, Kuroko pun bersiap-siap. Ia belum pernah memakai yukata sendirian, jadi ia butuh waktu yang banyak untuk memakai yukata. Kuroko berhasil memakai yukata yang diberikan Akashi dengan waktu 45 menit. Kuroko lalu melihat pantulan dirinya di cermin, memastikan semua sudah sempurna. Ia pun mengambil ponselnya dan pergi menuju ke kuil yang memakan waktu 10 menit.
Sampai di depan kuil, ternyata semua anggota Kiseki no Sedai sudah datang. Kise dengan yukata kuning nya, Aomine dengan yukata biru tua garis putih, Midorima dengan yukata hijau polos, Murasakibara dengan yukata ungu, serta Akashi dengan yukata merah motif pohon sakura warna hitam.
"Ah, minna-san. Apa aku telat? Sumimasen."
"Tidak, Tetsuya. Kau tidak telat."
Tiba-tiba saja Kise langsung menerjang Kuroko. "Hiyaaa… Kurokocchi kawaii !" serunya.
"To..long.. lepaskan, Kise-kun. Aku tidak bisa bernafas."
"Ah! Gomen gomen!"
Mereka berenam pun masuk ke festival di kuil itu. Murasakibara menyinggahi semua stand yang menjual makanan sehingga Midorima dapat tugas untuk menyeret Murasakibara. Mereka semua menghabiskan waktu di kuil itu berjam-jam. Mereka mencoba berbagai permainan yang ada. Tak lupa canda tawa yang menghiasi kebersamaan mereka. Karena terlalu asyik bermain, mereka lupa waktu. Pukul 10 malam mereka baru selesai bermain dan pulang karena sudah terlalu lelah.
"Ah, Kurokocchi, biar aku yang mengantarmu-ssu"
"Tidak usah, Kise-kun. Nanti kau pulang terlalu malam."
"Tidak apa. Kita kan berjalan searah, nanti aku pulang naik kereta."
"Ah, terserah Kise-kun saja kalau begitu."
"Jaa, minna-san.. hari ini.. arigatou gozaimasu. Aku dan Kise-kun pulang dulu" Ucap Kuroko
"Jaa na, Tetsu."
Setelah mengucapkan salam pada teman-temannya, Kuroko dan Kise berjalan berdampingan. Mereka bercanda dan tertawa. Senyum manis Kuroko pun dapat mereka lihat dengan jelas sebelum akhirnya mereka berdua menghilang dibalik belokan jalan.
"Tch.. Ryouta."
Tiga anggota Kiseki no Sedai lain bisa mendengar Akashi mendecih dengan jelas. Namun mereka tidak berani berkomentar apa-apa, takut kapten mereka akan marah.
"Jaa, Akashi aku pulang dulu."
"Um.. aku juga"
"Aku juga mau pulang, Aka-chin."
"Ya." Jawab Akashi singkat. Nampaknya ia bad mood gara-gara melihat Kuroko tersenyum pada Kise.
.
.
.
Libur musim panas telah usai. Hari ini, seluruh siswa Teiko kembali masuk sekolah. Tak berbeda dengan Kuroko dan anggota Kiseki no Sedai yang lain. Pulang sekolah, mereka juga masih mengadakan latihan basket seperti biasa. Bedanya, kali ini Akashi melipat gandakan latihan mereka akibat sedang bad mood. Seluruh anggota Kiseki no Sedai termasuk Kuroko pun harus pasrah atas menu latihan yang mereka dapat, daripada mereka protes bisa-bisa bukannya dikurangi malah menu mereka ditambah lagi oleh Akashi. Mereka selesai latihan pukul 7 malam. Kuroko mengambil handuk putih miliknya yang ia letakan di atas bangku. Ia mengelap peluh yang membasahi wajah serta tengkuk lehernya. Lalu ketika sedang minum, manik birunya menangkap sosok kapten mereka, Akashi Seijuuro yang sedang duduk di bangku dengan wajah cemberut. Setelah mengumpulkan keberaniannya, Kuroko mendatangi Akashi.
"Akashi-kun."
"Ada apa?"
"Apa kau sedang bad mood?"
"Yah."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Kalau kau bercerita siapa tau aku bisa membantumu."
"Hm.. tidak usah."
"Kau yakin?"
"Ya. Lebih baik kau pulang, ini sudah malam."
"Baiklah, Akashi-kun."
Kuroko lalu mengambil handuk serta botol minumnya dan berjalan menuju loker. Ia mengganti baju nya dengan seragam sekolah lalu mengambil tas, membereskan barang-barangnya, dan pulang ke rumah. Ia tak mau memperpanjang perdebatannya dengan Akashi yang bisa berujung pertengkaran.
.
.
.
TBC
