Chapter 5
Musim panas sudah lewat dan digantikan oleh musim gugur. Pemuda surai baby blue itu mengencangkan jaket yang ia kenakan sambil menggosokan kedua tangannya karena dinginnya angin yang bertiup.
'Haah.. seharusnya aku membawa syal..' Sesal Kuroko, kini karena tidak membawa syal, angin dingin yang bertiup membuat tubuh lemahnya hampir membeku. Kuroko dan anggota tim basket lainnya baru saja selesai latihan. Ia sekarang sedang menunggu bus di halte. Tampaknya, beberapa hari ini Akashi sedang bad mood sejak mereka pulang dari festival. Porsi latihan mereka pun ditambah . Tidak hanya 1 atau 2 kali lipat, Akashi menggandakan porsi mereka 4 kali lipat. Padahal, latihan biasa saja dapat membuatnya kelelahan, apalagi 4 kali lipat. Akhirnya bus yang Kuroko tunggu datang, ia segera masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk. Untung saja, malam itu bus sedang sepi jadi ia dapat menemukan tempat duduk dengan mudah.
Sampai di rumah, Kuroko langsung masuk ke kamar dan mandi untuk menghangatkan tubuhnya yang hampir membeku akibat menunggu bus di halte terlalu lama. Setelah mandi, ia menyelesaikan semua tugas yang ia dapat dari sekolah. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Kuroko meraih ponsel biru yang ia letakan di atas meja dan membaca pesan masuk.
[From: Akashi-kun
Subject: none
[Tetsuya, apa kau sudah makan malam ini? Kau harus makan yang teratur, sekarang sudah masuk musim gugur. Jangan lupa jaga kesehatan. Ah, besok latihan akan dipercepat. Datang ke gym setengah 4.]]
'Tumben sekali Akashi-kun menanyakan kabarku? Biasa nya isa langsung to the point kalau mengirim pesan.' Gumam Kuroko. Ia pun menutup ponselnya dan bangkit berdiri. Kuroko melangkahkan kedua kakinya keluar kamar. Ia menuruni tangga lalu sampai di bawah, ia memasak makan malam.
'Besok aku akan coba berbicara pada Akashi-kun.' Ucap Kuroko dalam hati sambil makan. Setelah makan, Kuroko langsung membereskan meja makan dan tidur.
Sore itu, suara decitan sepatu basket dan peluit dapat terdengar dengan jelas dari gym first string tim basket Teiko. Sepertinya Akashi masih dalam masa bad mood sehingga menu latihan digandakan menjadi 5 kali lipat. Para anggota Kiseki no Sedai kecuali Kise dan Kuroko tentu tahu alasannya. Akashi sudah bad mood sejak mereka pulang dari festival di kuil. Beberapa hari lalu, Akashi sudah tidak bad mood namun gara-gara kemarin sore ia melihat Kise merangkul Kuroko bad mood nya kembali lagi dan Kiseki no Sedai lah yang harus menanggung imbasnya.
"Istirahat 10 menit" ujar Akashi pada seluruh anggota Kiseki no Sedai. Akashi pun lalu berdiri dari duduknya dan pergi keluar gym.
"Mou.. ada apa, sih dengan Akashicchi? Dia kok bad mood teruss." Protes Kise
"Entahlah, Kise-kun." Balas Kuroko setelah meneguk air minumnya.
'Siapa lagi kalau bukan kau penyebabnya, Kise/ Kise-chin' batin Midorima, Aomine, dan Murasakibara serempak begitu mendengar pertanyaan protes dari Kise.
"Aku akan coba menyusul Akashi-kun."
"Hah? Kau yakin, Tetsu? Akashi sedang bad mood."
"Tidak apa, Aomine-kun. Aku akan coba berbicara dengannya."
"Haah.. ya sudah sana pergilah.."
Kuroko pun langsung berlari keluar gym untuk menyusul Akashi. Ia mencoba mencari Akashi di belakang gym, tempat pepohonan rindah tumbuh. Ia menemukan Akashi sedang duduk di rumput sambil memandang ke atas dengan tatapan kosong.
"Akashi-kun.."
Tampaknya, sapaan Kuroko membuyarkan lamunan Akashi. "Ah, Tetsuya.. ada apa?"
"Anou.. apa aku boleh duduk di sebelah Akashi-kun?"
"Hm? Boleh. Silahkan."
Setelah mendengar jawaban Akashi, Kuroko pun ikut duduk di rumput yang hijau. Setelah duduk, Kuroko tak langsung melontarkan pertanyaan pada Akashi. Ia membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Angin yang bertiup membuat beberapa helai rambutnya dan rambut Akashi melambai-lambai.
"Rambut Akashi-kun bagus, ya?" kata Kuroko tiba-tiba.
"Eh?"
"Eh.. Ah.. anou.. itu.. sumimasen. Aku tidak sengaja.." Tampaknya Kuroko sendiri tidak sadar terhadap apa yang ia ucapkan pada Akashi. Kuroko pun panik dan blushing. Akashi yang melihat reaksi kawaii dari Kuroko terkekeh kecil.
"Lalu, ada apa, Tetsuya?"
"Eh?"
"Kau menyusulku karena perlu sesuatu, kan?"
"Um.. aku.. mau tanya.."
"Tanya apa?"
"Tapi Akashi-kun jangan marah, ya?" Kuroko mulai gugup. Ia bertanya pada Akashi sambil memainkan ujung bajunya.
"Iya, tenang saja. Aku tidak akan marah padamu."
"Aku lihat, sepertinya Akashi-kun sedang bad mood. Ada apa?"
"Tidak juga. Biasa saja." Balas Akashi sambil mengalihkan pandangannya .
"Ta—"
Belum Kuroko selesai berbicara, Akashi membungkam bibirnya dengan ciuman. Butuh waktu beberapa detik bagi Kuroko untuk menyadari apa yang terjadi padanya. Seketika itu juga, wajah Kuroko pun langsung merah.
"A..Akashi-kun.."
"Hm? Ada apa, Tetsuya?" tanya Akashi dengan polosnya seakan-akan tidak terjadi apa-apa
"Ke..kenapa?"
"Apanya yang kenapa? Berbicaralah dengan jelas, Tetsuya."
"Ke..kenapa kau menciumku?" Kuroko berucap sambil menundukan wajahnya karena malu.
"Hm.. Kenapa ya? Kenapa kau tidak mencari tahu sendiri, Tetsuya?" Akashi pun bangkit setelah mengucapkan kalimat yang mengakhiri obrolannya dengan Kuroko sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya ke gym.
"Ayo, Tetsuya.. latihan masih menunggu. Jangan bengong."
"Ha.. Ha'i, Akashi-kun." Kuroko pun ikut bangkit berdiri dan mengekor Akashi menuju ke gym untuk melanjutkan latihan mereka hari itu.
.
.
.
Pagi ini, angin berhembus lebih kencang dibanding hari-hari sebelumnya. Kuroko merapatkan jaket yang ia kenakan dan memasukan kedua tangannya ke saku jaket. Ia merutuki dirinya yang lagi-lagi lupa memakai syal ataupun sarung tangan. Tubuhnya sedikit menggigil, ia memang tidak bersahabat dengan udara dingin sejak kecil. Sampai di sekolah, ia langsung masuk ke dalam kelas untuk menghangatkan tubuhnya. Ia mengambil tempat duduk di pinggir dekat jendela. Kalau-kalau dia bosan, dia bisa melihat pemandangan di luar. Jam pertama adalah Fisika. Kuroko memang kurang suka dengan pelajaran fisika, jadi ia tidak mendengarkan gurunya menerangkan walaupun tetap mencatat.
Akhirnya bel istirahat berbunyi. Kuroko mengambil bekalnya lalu bergegas pergi menuju ke atap sekolah. Kuroko membuka pintu yang membatasi dirinya dan atap sekolah. Angin yang lumayan dingin bertiup menyapa dirinya. Ia pun kembali merapatkan jaket biru nya. Kuroko lalu melangkahkan kedua kakinya untuk mencari tempat untuk makan siang.
"Tetsuya?"
Kuroko yang merasa namanya dipanggil pun menoleh "Ah, Akashi-kun. Doumo."
"Sendirian lagi?"
"Iya. Akashi-kun juga?"
"Hm? Iya. Aku mencari tempat yang tenang untuk sendirian."
"Ah, sumimasen. Sepertinya aku mengganggu Akashi-kun, lebih baik aku mencari tempat lain."
"Tidak perlu."
"Eh?"
"Kalau itu kau, maka tidak masalah." Ujar Akashi sambil tersenyum.
"A..Ah.. arigatou, Akashi-kun."
"Um.."
'Ugh.. Kenapa Akashi-kun harus tersenyum seperti itu, sih?' ujar Kuroko dalam hati. Rupanya, senyuman Akashi dapat memikat Kuroko yang kini sedang blushing dan menundukan wajahnya.
"Ada apa, Tetsuya?"Akashi bertanya setelah melihat sikap Kuroko.
"Ah? A..ah.. tidak ada apa-apa, Akashi-kun."
"Hm…"
Lalu keadaan pun kembali sepi, hanya ada suara sumpit yang beradu dengan kotak makan Kuroko. Tiba-tiba Kuroko memecah keheningan,
"Ah, Akashi-kun tidak makan?"
"Tidak. Aku tidak berselera makan."
"Jangan begitu, Akashi-kun.. nanti kau sakit. Kalau Akashi-kun mau, kita bisa berbagi bekalku."
"Hm.. jadi.. Tetsuya khawatir padaku?"
"Eh.. umn.." Kuroko sedikit mengangguk dengan wajah merah yang ia tundukan.
Akashi pun terkekeh melihatnya namun akhirnya ia memakan bekal Kuroko. "Arigatou, Tetsuya."
"Ah, Tetsuya."
"Ya, Akashi-kun?"
"Pulang latihan basket nanti kau ada acara?"
"Hm..sepertinya tidak ada.." kata Kuroko sambil menaruh telunjuknya di dagu dengan pose berpikir.
"Temani aku pergi, bisa?"
"Eh? Ke mana, Akahsi-kun?"
"Hm.. kemana saja boleh."
"Hah? Maksudnya?"
"Aku hanya mau kencan denganmu, Tetsuya." Ujar Akashi sebelum akhirnya bangkit berdiri
"Ke..kencan? Ja..jangan bercanda, Akashi-kun.. tidak lucu."
"Memang tidak lucu karena aku tidak bercanda. Jaa na, Tetsuya." Akashi pergi setelah melambaikan tangannya dan memberi wink pada Kuroko.
Begitu Akashi kembali ke dalam sekolah, Kuroko hanya bisa menunduk dengan wajah merah dan memaki Akashi yang membuatnya blushing.
'Akashi-kun no Baka' Kuroko terus mengucapkan kata-kata ini dengan semburat merah di pipinya.
.
.
.
Pulang sekolah, Kuroko langsung pergi ke gym. Karena anggota timnya yang lain belum datang, Kuroko pergi ke loker dan berganti baju duluan. Setelah mengganti seragam sekolah dengan kaos dan celana pendek, Kuroko keluar dari ruang loker untuk menunggu anggota tim lain di bangku gym. Namun, begitu keluar pintu ruang loker, sapaan Kise yang kelewat ceria menyambutnya.
"KUROKOCCHI!" Kise berteriak sambil berlari dan memeluk Kuroko yang belum bisa merespon Kise.
"Ryouta." Akashi memanggil Kise dan memberikan tatapan 'jangan-berani-kau-sentuh-Tetsuyaku'. Kise pun langsung melepaskan Kuroko karena melihat tatapan yandere dari sang kapten, Akashi.
"Latihanmu kugandakan 6 kali lipat, Ryouta. Lalu bereskan gym selesai latihan." Kata Akashi dengan santai.
"Eeeeh? Ta—"
"Mau kugandakan 10 kali lipat?"
"Ti..tidak.." Kise pun mengurungkan niatnya untuk protes pada Akashi.
"Bagus. Ayo mulai latihan!" kata Akashi pada seluruh anggota tim nya.
.
.
.
Latihan pun berjalan lancar hingga pukul setengah 5 sore.
"Aka-chin, tumben hari ini selesainya cepat. Ada apa?" tanya Murasakibara sambil mengunyah snack-snack miliknya.
"Hm? Aku mau kencan dengan Tetsuya."
Begitu mendengar jawaban dari Akashi, Kise dan Midorima langsung diam karena kaget. Kuroko pun hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang merah akibat malu.
Sedangkan Aomine.. "Ohok…ohok..ohok.." Aomine tersedak air minumnya sendiri setelah mendengar jawaban Akashi.
"Eh? Kencan? Aku juga mau kencan dengan Kurokocchi-ssu!" protes Kise
"Berisik, Kise. Diam-nodayo." Kata Midorima menanggapi Kise dengan jutek.
"Midorimacchi hidoi-ssu.."
"Tetsuya, aku tunggu kau di luar. Dan Ryouta, jangan lupa hukumanmu. Shintarou, awasi Ryouta." Setelah itu, Akashi pun keluar dari gym.
.
.
.
Kuroko berlari kecil menghampiri Akashi yang menunggunya di depan gerbang sekolah mereka. Sore ini, angin masih bertiup lumayan kencang. Kuroko memasukan kedua tangannya di saku jaket untuk mencari kehangatan.
"Ah, Akashi-kun.. sumimasen.. apa aku lama?"
"Hm? Tidak. Kalau pun lama, jika itu Tetsuya aku tidak keberatan." Ujar Akashi dengan smirk andalannya.
"A..Akashi-kun.. achoo" tiba-tiba Kuroko bersin.
"Tetsuya, apa kau kedinginan?"
"Yah, sedikit, Akashi-kun." Jawab Kuroko sambil menggosok kedua tangannya.
"Tidak sedikit, lihat.. hidung mu merah."
"E..eh?" Kuroko sontak langsung memegangi hidungnya.
Akashi terkekeh melihat kelakuan imut dari Kuroko. " Tetsuya, kau kawaii."
"E..EH?" Kini muka Kuroko sudah semerah rambut Akashi setelah mendengar ucapan dari kaptennya itu.
"Ayo jalan, Tetsuya.."
"Ha'i, Akashi-kun."
Mereka berdua berjalan menyusuri kota Tokyo yang dingin sambil bergandengan tangan. Akhirnya, dalam waktu 15 menit mereka sudah sampai di sebuah toko buku.
"Ah.. aku senang ke sini."
"Benarkah, Tetsuya?"
"Iya. Buku-buku yang dijual di sini bagus, Akashi-kun."
"Hm.. aku baru pertama ke sini."
"Eh? Kalau begitu kenapa Akashi-kun tahu tempat ini?"
"Hm.. menurutmu kenapa, Tetsuya?" jawab Akashi sambil menggoda Kuroko.
"Ugh.. Akashi-kun.. jangan menggodaku.."
"Heh.. gomen.. Aku tau tempat ini karena aku selalu memperhatikanmu, Tetsuya."
"E..Eh?" Seketika itu juga wajah Kuroko langsung merah mendengar bahwa kaptennya, Akahsi Seijuuro selalu memperhatikan dirinya.
"Ayo masuk, Tetsuya."
"Uhmn.."
Mereka pun masuk ke dalam toko buku itu dan berkeliling toko. Mereka berdua sama-sama suka membaca buku, karena itu obrolan mereka pun masuk. Akashi dan Kuroko berkeliling mencari novel keluaran terbaru oleh pengarang favorit mereka. Setelah membayar buku, mereka keluar dari toko. Kuroko berencana untuk langsung pulang namun Akashi melarangnya.
"Tetsuya, kau masih belum boleh pulang."
"Eh? Kenapa, Akashi-kun?"
"Temani aku ke suatu tempat dulu."
"Umn.. baiklah.."
Mereka berdua pun kembali berjalan menyusuri kota Tokyo yang dingin dengan Kuroko mengekor Akashi. Akhirnya, mereka sampai di sebuah taman di pinggir kota Tokyo sehingga sekarang keadaan taman sedang sepi— tidak ada orang malah.
"Jadi.. Ada perlu apa, Akashi-kun?"
"Tetsuya."
"Ha'i?"
"Aishiteru yo. Jadilah pacarku."
"Eh? Ah.. anou.. Akashi-kun.. jangan bercanda."
"Tatap mataku. Apa aku sedang bercanda, Tetsuya?"
Kuroko pun menatap kedua mata heterokrom Akashi dan tidak menemukan keraguan disitu. " Tidak."
"Jadi.. apa jawabanmu?"
Dengan wajah yang sangat merah, Kuroko menjawab " A..aku juga suka Akashi-kun."
Lalu Akashi berjalan mendekati Kuroko dan memeluknya. "Tetsuya.. aishiteru.."
"Boku mo desu, Akashi-kun.."
Akashi pun lalu membungkam bibir pink mungil milik Kuroko dengan ciuman yang lembut dan mesra. Lama-lama ciuman dari Akashi menjadi lebih agresif. Akashi menjilat bibir Kuroko, dan Kuroko membuka mulutnya. Kesempatan ini diambil Akashi untuk memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Kuroko, menginvasi setiap sudutnya. Ciuman mesra Akashi dan Kuroko menimbulkan suara kecapan basah karena lidah mereka yang saling beradu di dalam mulut Kuroko. Akashi pun menyudahi ciuman panas mereka karena Kuroko sudah tidak kuat.
"Haah..haah.. A..kashi-kun.."
"Hm.. salah, Tetsuya.."
"Eh?"
"Panggil aku Seijuuro."
"Se..i-kun.." Kuroko mencoba memanggil nama depan Akashi dengan wajah yang merona.
"Bagus.." Akashi pun kembali memeluk Kuroko dan menciumnya. Malam itu, menjadi malam yang paling berharga bagi Akashi dan Kuroko.
.
.
.
TBC
