Author's note: Ya~ minna-san.. arigatou buat yang udah review di chapter-chapter sebelumnya ^^ sekarang author udah publish chap 7. Ah, lalu.. author dapat review yang bilang kalau One of Repetition itu yang nyanyi Hatsune Miku. Memang benar yang nyanyi One of Repetition adalah Hatsune Miku, tapi One of Repetition itu ada 2 versi dalam Vocaloid. One of Repetition yang dinyanyikan Hatsune Miku dan Kagamine Rin itu beda lirik, dan kebetulan author suka yang punya Rin. Tapi arigatou buat Hanamiya Makoto yang udah review, author hanya sekedar memberi informasi ya^^ mungkin jarang ada orang yang tahu kalo one of repetition ini punya 2 versi. Sekian author's note nya, douzo...
Chapter 7
'Akashi-kun dan Kise-kun?' Kuroko tak sengaja melihat kedua orang yang jarang sekali terlihat akur itu berbincang-bincang di dalam sebuah kelas yang kosong dan sunyi. 'Apa yang mereka bicarakan?' batin Kuroko. Ia hendak masuk dan menyapa mereka namun perkataan Akashi selanjutnya membuat Kuroko mengurungkan niatnya itu.
"Tetsuya? Ada apa dengan dia, Ryouta?"
'Aku? Mereka membicarakan aku?' batin Kuroko dengan penasaran
"Iya, Akashicchi."
'Aku tak pernah melihat muka Kise-kun serius seperti itu.'
"Maksudmu.. kau menanyakan perasaan ku padanya?"
"Iya."
'Perasaan Sei-kun.. padaku?'
"Hmph.." Akashi terkekeh kecil mendengar pertanyaan dari Kise. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Ryouta?"
"Aku.. ingin tau yang sebenarnya."
"Yang sebenarnya, ya? Hm.. baiklah akan kuberitahu kau.."
Kuroko pun bingung dengan maksud perkataan Akashi. "Yang sebenarnya? maksudnya... apa?"
Aku tidak suka ataupun cinta pada Tetsuya." lanjut Akashi
Mata Kuroko langsung membulat, tanda terkejut 'Eh? A..pa.. kata Sei-kun.. aku.. tidak salah dengar kan?' Kuroko tidak percaya— atau lebih tepatnya tidak mau percaya perkataan Akashi barusan tapi ia tetap berusha mendengarkan lanjutan obrolan mereka.
"Lalu-ssu? Kenapa kau pacaran dengan Kurokocchi bila kau bahkan tidak suka padanya?"
"Kenapa? Karena dia berguna bagi tim basket. Dia itu, tipe orang yang tidak bisa dikekang oleh orang lain, jadi mau tidak mau aku menggunakan cara ini."
'Eh.. jadi.. selama ini… aku hanya dipermainkan oleh Sei-kun? Tidak lebih?' batin Kuroko. Air mata sudah menggenang di pelupuknya. Ia sakit hati atas pernyataan Akashi barusan. Selama ini, ia hanya dipermainkan oleh Akashi.
"APA MAKSUDMU, AKASHICCHI!" Tiba-tiba Kise membentak Akashi.
"Apa maksudku? Bukankah sudah kubilang, maksudku hanya satu. Menggunakan Kuroko karena dia berguna bagi tim basket. Dia itu hanya alatku."
"Akashicchi, Kau..!"
"Kenapa? Ada yang salah? Lagipula, aku sudah mulai bosan dengannya. Aku sudah tak tertarik lagi. Well, mungkin dia masih bisa kugunakan saat SMA nanti di tim basket jika tak ada penggantinya." Ujar Akashi dengan santai.
"AKASHICCHI KAU! BENAR-BENAR TIDAK BERPERASAAN!"
"Kuanggap itu sebagai pujian, Ryouta."
'Aha..haha.. iya juga.. tak mungkin seorang Akashi Seijuuro suka pada Kuroko Tetsuya yang payah ini..' batin Kuroko. Air mata mengalir membasahi kedua pipi Kuroko. Ternyata, selama ini.. selama ini ia hanyalah sebuah alat yang digunakan seorang Akashi Seijuuro untuk membuat tim basket menang. Itu saja, tidak lebih.
Kuroko segera berlari dari koridor itu, bukannya ia takut ketahuan oleh Akashi ataupun Kise, namun hatinya sudah terlalu sakit untuk mendengar kalimat yang akan diucapkan Akashi berikutnya. Serasa disayat berulang kali oleh pisau, begitulah yang sedang dirasakan oleh Kuroko kini. Ia berlari di sepanjang koridor sekolah, tak memperdulikan peringatan guru maupun murid lain yang ada di sepanjang koridor, sekarang yang penting ia sampai di apartemennya. Begitu sampai di apartemen, Kuroko langsung membuka pintu kamarnya dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Kuroko mengangis sekencang-kencangnya. Ia tak menyangka selama ini ia hanya dipermainkan oleh Akashi, orang yang paling ia cintai. Ia menelungkupkan mukanya di atas bantal dan menangis sampai tak bisa mengeluarkan air mata lagi, hingga ia pun terlelap.
Begitu Kuroko bangun, kamarnya sudah gelap. Ia pun mengecek jam dari ponselnya. Ternyata, ia tertidur 4 jam. Ia tidur pukul 3 sore, sekarang sudah pukul 7 malam. Pantas saja kamarnya gelap. Kuroko pun bangkit dari posisinya, melangkahkan kedua kakinya menyusuri kamar untuk mencari saklar lampu. Setelah menyalakan lampu di kamar, Kuroko beranjak menuju kamar mandi hendak mencuci mukanya. Ia melihat pantulan bayangannya di cermin. Rambut biru yang berantakan, mata yang sembab dan merah, hidungnya pun juga merah. Kuroko menghela nafas sebelum mencuci mukanya. Selesai mencuci muka, ia pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Begitulah rencana awalnya, namun tidak jadi karena ponsel birunya itu berdering. Kuroko pun mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari Akashi.
'Dari Sei-kun.. angkat tidak, ya?' Akhirnya Kuroko memutuskan untuk mengangkat panggilan itu supaya Akashi tidak curiga.
["Moshi-moshi."
"Ah, Sei-kun.. ada apa?"
"Ah.. besok? Pulang sekolah?"
"Hm.. bisa.."
"Ha'i.."
"Umn.. Jaa.."]
Setelah memutus sambungan telepon, untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Besok pulang sekolah, Akashi mengajaknya kencan. Sebenarnya, setelah apa yang terjadi tadi siang, ia sedang tidak ingin bertemu Akashi. Namun, jika ia menolak Akashi pasti akan curiga karena Kuroko tidak pernah punya acara lain, mau tidak mau ia harus menyetujui ajakan kencan Akashi. Sebisa mungkin, ia harus bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
'Mungkin, ini akan jadi kencan terakhirku dengan Sei-kun.. setelah itu… aku akan minta putus.' Batin Kuroko. 'Aah.. aku jadi tidak nafsu makan.' Kuroko pun langsung mengambil handuk dan mandi tanpa makan malam karena sudah tidak nafsu makan. Selesai mandi pun, ia menghabiskan waktu dengan membaca novel hingga larut malam sebelum akhirnya tidur.
'Sei-kun…'
.
.
.
Suara burung di luar membangunkan Kuroko dari tidur nya yang (tidak) lelap. Ia baru bisa tidur pukul 3 pagi, dan ia bangun pukul 7 pagi. Ia hanya tidur 4 jam, ditambah dengan acara menangis karena teringat ucapan Akashi. Kuroko menyibakkan selimut biru tebal yang ia gunakan untuk tidur dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Kuroko memperhatikan dengan seksama pantulan dirinya di cermin.
'Tch.. sembab.. harus kuhilangkan, daripada Sei-kun curiga padaku.' Kuroko lalu mengambil handuk yang dibasahi oleh air untuk menghilangkan sembab di matanya akibat menangis agar Akashi tidak curiga padanya. Setelah sembab di matanya hilang, ia langsung mandi lalu keluar kamar menuju ke dapur. Namun, karena tidak nafsu makan, Kuroko membatalkan niatnya untuk sarapan. Kuroko melangkahkan kakinya menuju sekolah tanpa sarapan. Sampai di sekolah, ia meletakan tas di bangkunya dan langsung pergi kembali meninggalkan kelas. Pagi ini, ia tidak ingin bertemu atau berbicara dengan siapapun termasuk anggota Kiseki no Sedai apalagi Akashi dan Kise. Kuroko melangkahkan kedua kakinya menuju perpustakaan, menghindari semua siswa yang ia kenal sebisa mungkin.
Akhirnya, ia sampai di perpustakaan. Pagi ini perpustakaan sangat sepi, hanya ada dirinya dan penjaga perpustakaan yang merupakan siswa kelas 2. Kuroko berjalan diantara rak-rak tinggi berwarna coklat yang diisi dengan berbagai novel. Setelah menjatuhkan pilihan pada satu novel, ia membawa novel itu ke tempat duduk di perpustakaan yang paling pojok lalu mulai membaca lembar demi lembar, menghiraukan dunia disekitarnya sejenak. Karena terlalu terserap dalam dunianya sendiri, ia tak sadar ada orang yang masuk.
"Oi! Tetsu!"
Kuroko menengok setelah dirinya dipanggil oleh seseorang"Ah, Aomine-kun.. doumo.."
"Kau sedang apa?"
"Sedang membaca novel, Aomine-kun." Jawabnya. Lain di mulut lain pula di hati, Kuroko menggerutu di dalam hati karena ia bertemu dengan anggota Kiseki no Sedai. Padahal ia sedang tidak ingin diganggu siapapun. "Aomine-kun sendiri kenapa ke sini? Tumben sekali."
"Aku? Aku mencarimu."
"Mencariku? Ada apa, Aomine-kun? Tidak bisakah ditunda ?"
"Tidak." Jawab Aomine dengan wajah serius.
"Apakah ini sangat penting, Aomine-kun?"
"Ya, sangat penting. Aku mau bertanya."
"Mengenai apa?"
"Kau.. dan.."
"Dan..?"
"Akashi."
Begitu mendengar nama Akashi keluar dari mulut Aomine, Kuroko langsung menegang. "Memangnya kenapa denganku dan Sei-kun, Aomine-kun?" tanya Kuroko, berharap Aomine tidak mengetahui masalah pembicaraan Akashi dan Kise kemarin.
"Ku dengar.. Akashi mempermainkanmu, Tetsu?"
Pertanyaan itu meluncur mulus dari bibir Aomine, membuat Kuroko bingung harus merespon bagaimana. Dengan wajah tenang dan datar seperti biasa, ia menjawab "Bagaimana bisa, Aomine-kun?"
"Aku mendengarnya.."
"Dari siapa kau mendengarnya, Aomine-kun?"
"Kise."
'Tch.. Kise-kun memang tidak bisa tutup mulut, ya?' Kuroko mendecih dalam hati begitu mendengar siapa yang menyebarkan cerita itu.
"Apa kau yakin Kise-kun tidak bohong, Aomine-kun?"tanya Kuroko balik.
"Eh? Ah.. yah.. aku sih selama ini percaya saja, karena Kise bukan tipe orang yang suka bohong."
"Oh.." Kuroko menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari novel walaupun ia tidak membacanya, berusaha bersikap setenang mungkin.
"Jadi, apa itu benar, Tetsu?"
"Hm? Kenapa kau bertanya padaku, Aomine-kun?" Kuroko mengalihkan pandangannya dari novel ke Aomine.
"Entahlah.. kupikir kau tahu."
"Menurutmu, kalau aku tahu hal seperti itu terjadi apakah aku akan masih berpacaran dengan Sei-kun, Aomine-kun?"
"Tentu saja tidak, ya , kan, Tetsu?" tanya Aomine sambil mendongakan kepalanya, menatap langit-langit bercat putih perpustakaan.
'Kau salah, Aomine-kun.. aku.. tetap.. berpacaran dengannya..' batin Kuroko dengan senyum pahit. "Tentu saja, Aomine-kun.." jawab Kuroko dengan wajah datar. Bibir bisa bohong, tapi hati tidak.
"Ah, Tetsu.. aku kembali dulu. Aku hanya ingin bertanya soal tadi padamu. Jaa na.." Aomine melambaikan tangan sambil berjalan menuju pintu perpustakaan. Kuroko hanya membalas lambaian tangan Aomine lalu menunggu Aomine keluar dari perpustakaan. Kuroko mengalihkan pandangannya ke jendela perpustakaan. ' Hm… dipermainkan.. ya? Lucu sekali..' Kuroko berujar dalam hati, seolah mengejek diriya sendiri yang menyedihkan, dengan senyum pahit di wajahnya.
.
.
.
TBC
