Author's note: Minna-san~ akhirnya author update ^^ Bagaimana ceritanya sejauh ini? Silahkan memberi masukan untuk author, kritik dan saran sangat diterima. Thank you to Flow .L, pembaca setia author ^^ ( ciaelah.. GR), lalu ada , Yuna Seijuuro, VandQ, Hanamiya Makoto, dan hiori mioshi. Terima kasih banyak sudah membaca ff author ^^ walaupun ceritanya kurang menarik, dan sekali update kok pendek ya? Tapi makasih banyak sudah menyempatkan diri membaca ff ini ^^ arigatou! Douzo…


Chapter 8

"KUROKOCCHI!" Teriakan Kise menggema di koridor sekolah siang itu. Mereka sedang makan siang bersama, namun kali ini Kuroko tidak ikut makan bersama anggota Kiseki no Sedai yang lain.

Kuroko yang merasa namanya dipanggil seseorang pun menengok. "…" Dia hanya diam dan memperhatikan Kise yang sedang berlari ke arahnya.

"Kurokocchi…"

"Kise-kun, doumo."

"Kenapa..hah..kau..hah..tidak..ikut..hah..makan siang..bersama..hah.." ujar Kise sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah setelah berlari.

"Hm… tidak apa-apa." Jawab Kuroko dengan cuek.

Tampaknya Kise tau ada yang salah dengan Kuroko. Ia pun mencoba bertanya pada Kuroko. "Kurokocchi.. ikut aku, ada yang mau kubicarakan."

"Hm? Baiklah." Setelah mendapat jawaban dari Kuroko, Kise mengajak Kuroko ke halaman belakang sekolah untuk berbicara.

"Ada apa, Kise-kun?" Kuroko langsung melontarkan pertanyaan pada Kise saat mereka sudah sampai di halaman belakang sekolah.

Kise menghentikan langkahnya dan melepaskan gandengan tangannya dari Kuroko, lalu hening sejenak sebelum akhirnya ia berbicara. "Anou.. ini soal.. Akashicchi.."

"Akashi-kun? Ada apa dengannya?" Kuroko menjawab dengan santai dan tenang, tak ingin terlihat lemah dan tersakiti di depan orang lain terutama anggota Kiseki no Sedai.

"Anou.. itu.."

"Berbicaralah dengan jelas, Kise-kun."

"Ehm.. bagaimana aku harus menyampaikannya.." Kise menggaruk kepalanya, ia bingung bagaimana harus merangkai kalimat yang tepat untuk diucapkan.

"Kalau kau tidak berbicara dengan jelas, aku tidak bisa mengerti, Kise-kun." Kata Kuroko dengan wajahnya yang datar seperti biasa.

"Ugh.. aku tidak tahu harus mulai dari mana.."

"Kise-kun, bila tidak ada yang mau dibicarakan, lebih baik aku pergi saja. Shitsuresimasu ( permisi) ."

"Agkh.. Kurokocchi.." Kise berusaha menjangkau Kuroko namun gagal, ia sudah pergi terlebih dahulu. "Aah.. aku memang payah.." ujar Kise pada dirinya sendiri.


.

.

.


Flashback

Kuroko merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Ia mengambil ponsel biru muda itu dan membuka pesan masuk yang ada. 'Dari Sei-kun..' gumamnya.


[From: Sei-kun

Subject: none

[Pulang sekolah nanti kutunggu di halaman belakang gym. Jaa na..]]


Akashi meminta Kuroko datang ke halaman belakang gym pulang sekolah nanti, seperti yang dikatakan Akashi kemarin, ia akan mengajak Kuroko kencan.

'Kencan? Omong kosong.' Ujar Kuroko dalam hatinya. Kuroko pun menutup ponsel birunya itu dan memasukannya kembali ke dalam saku celana. Ia lalu berjalan menuju ke lokernya untuk mengambil buku kemudian pergi ke kelas selanjutnya, kelas matematika.

Flashback End

Kuroko memasukan buku catatan matematikanya ke dalam tas dan memberekan alat tulis yang berserakan di atas meja. Bel pelajaran terakhir sudah terdengar, guru matematika yang mengajar menyudahi pelajaran matematika dan pergi meninggalkan kelas. Matematika kebetulan adalah jam pelajaran terakhir Kuroko. Setelah semua buku dan alat tulis beres, Kuroko menutup tasnya dan membawanya pergi meninggalkan kelas. Ia melangkahkan kaki menuju ke halaman belakang gym untuk bertemu dengan Akashi sebelum pergi kencan. Kuroko menyusuri koridor sekolah yang penuh sesak oleh siswa Teiko, ketika itu ia melihat Akashi sedang berjalan disampingnya ada Kise. Mereka berjalan lurus melewati beberapa ruang kelas hingga akhirnya berbelok di salah satu lorong yang sepi dan jauh dari jangkauan siswa Teiko. Kuroko berlari kecil menyusul mereka, merasa bahwa mereka akan berbicara mengenai dirinya lagi seperti kemarin pulang sekolah. Setelah dekat lorong, Kuroko menurunkan kecepatan berlari nya dan mencari posisi yang dekat untuk mendengarkan obrolan mereka namun tersembunyi agar tidak ketahuan oleh Akashi maupun Kise.

"Ada apa, memanggilku, Ryouta?"

"Aku mau berbicara dengan Akashicchi."

"Cepatlah kalau begitu. Aku akan kencan dengan Tetsuya."

"Kencan?" Kise menaikan sebelah alisnya, tanda keheranan. "Kenapa kau kencan dengan Kurokocchi jika kau tidak benar-benar menyukainya?"

"Supaya ia tidak curiga ataupun bosan berpacaran denganku. Bahaya kan, jika ia bosan?" jawab Akashi dengan senyum licik di wajahnya.

"Akashicchi! Kau.. lagi-lagi.. aku muak.. dengan apa yang kau katakan."

"Kenapa harus muak, Ryouta?"

"Tch.. Akashicchi kau tidak punya perasaankah?"

"Tentu punya, Ryouta..apa yang membuatmu berpikir aku tidak punya perasaan, hm?"

"Apalagi kalau bukan perlakuan mu pada Kurokocchi sekarang, hah?!" ujar Kise sedikit membentak Akashi, tak ada keraguan di wajah Kise saat membentak Akashi, seakan-akan ia tidak takut membuat Akashi marah.

"Ah ya, Ryouta."

"Apa?"

Kuroko sudah merasa cukup. Ia tidak mau melanjutkan mendengarkan obrolan mereka yang hanya akan menyakiti hatinya. Sebelum mendengar apa yang mereka obrolkan selanjutnya, Kuroko sudah berlari ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah mencuci muka, Kuroko berjalan ke arah halaman belakang gym, menunggu Akashi yang sedang berbicara dengan Kise di lorong itu. Setelah kira-kira 10 menit menunggu, Akashi pun datang.

"Tetsuya.."

Kuroko menengok lalu menyapa Akashi yang melambaikan tangannya "Ah, Sei-kun.."

"Ayo, pergi sekarang."

"Ah, Sei-kun.. aku harus pulang pukul 4."

"Kenapa?" sepertinya mood Akashi memburuk setelah mendengar jawaban Kuroko.

"Anou.. aku ada urusan sedikit."

"Tidak. Kau tidak akan boleh pulang sebelum aku bilang boleh."

"Tapi.."

"Sekali tidak, kubilang tidak, Tetsuya." Akashi sedikit meninggikan suaranya.

Kuroko pun mengurungkan niat untuk membantah Akashi lebih jauh. "Baik, Sei-kun."

"Bagus, kau tidak boleh membantahku. Sekarang ayo kita pergi kencan." Ujar Akashi sambil menawarkan tangannya pada Kuroko. Kuroko pun menyambut uluran tangan Akashi, mau tidak mau… daripada ia kena masalah, ya kan?


.

.

.


Suara burung di luar dan cahaya matahari yang mengintip dari sela korden membangunkan Kuroko. Ia menyibak selimut tebal warna biru itu lalu berjalan ke arah kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya dan memakai seragam sekolah, Kuroko berjalan kea rah dapur untuk memasak sarapan. Ia mengambil roti tawar dan memasukannya di toaster lalu mengambil telur untuk memasak scramble egg. Sambil memasak, memorinya akan kencan dengan Akashi kemarin terputar kembali.

Flashback

"Tetsuya" Akashi memanggil Kuroko. Sore itu, mereka berdua berjalan-jalan mengitari kota Tokyo sebelum akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah taman yang sedang sepi.

"Ya, Sei-kun?"

"SMA… kau masuk ke mana ?"

"Hm.. entahlah, Sei-kun."

"Bagaimana kalau kau masuk ke SMA yang sama denganku?"

'Supaya kau bisa menggunakanku, ya kan, Sei-kun?' ujar Kuroko dalam hati. "Di mana, Sei-kun?"

"Rakuzan di Kyoto."

"Kyoto? Jauh sekali.." Kuroko berujar sambil mendongakan kepalanya menatap langit senja.

"Bagaimana menurutmu?" kalimat yang seharusnya keluar dari mulut Akashi adalah pertanyaan, namun Kuroko mendengarnya sebagai sebuah perintah yang wajib dilaksanakan.

Kuroko hanya bisa menjawab dengan satu kata. "Mungkin.."

Flashback End

Kuroko meletakan scramble egg yang ia buat di atas piring disamping roti tawar. Kuroko mengambil karton susu di dalam kulkas dan menuangkan susu ke dalam gelas yang ia ambil. Kuroko lalu duduk di kursi dan menyantap sarapannya sebelum akhirnya berangkat ke sekolah.

'Aah.. udara nya masih dingin..' Kuroko merutuki dirinya yang meninggalkan sarung tangan di atas tempat tidur. Kini tangannya kedinginan. Kuroko pun mendekatkan kedua tangannya ke mulut dan menghembuskan nafas, mencari sedikit kehangatan bagi tangannya. Kuroko berjalan menyusuri kota Tokyo yang ramai dengan pejalan kaki walau udara bulan itu dingin. Akhirnya Kuroko pun sampai di sekolah. Hari ini, sepertinya ia sedikit terlambat. Biasanya, ketika ia sampai di sekolah, koridor masih sepi berbeda dengan hari ini, koridor sudah mulai ramai oleh murid Teiko dan bersenda gurau dengan teman-teman mereka.

Kuroko membuka pintu geser warna putih yang memisahkan koridor sekolah dengan ruang kelasnya. Ia masuk ke dalam kelas dan kembali menutup pintu itu lalu berjalan ke arah bangkunya. Manik biru Kuroko mengangkap sosok Kise yang sedang duduk diam di bangku dekat jendela, persis di depan bangkunya.

'Tumben, hari ini Kise-kun duduk diam di kelas. Biasanya pagi-pagi begini dia main basket on-on-one sama Aomine-kun..' batin Kuroko heran, ia pun menyapa Kise. "Kise-kun.. ohayou gozaimasu."

Kise yang merasa dipanggil menoleh kebelakang dan membalas sapaannya "Ah, ohayou, Kurokocchi.."

"Tu— Kise-kun?!" Kuroko tidak bisa melanjutkan kalimat yang akan ia ucapkan pada Kise. Alangkah terkejutnya ia, begitu melihat Kise. Wajah atau lebih tepatnya pipi kanan hingga leher ditutup perban putih. "Ada apa denganmu, Kise-kun?"

"Ah, ini? Hanya tergores sedikit, Kurokocchi.." jawab Kise sambil memegang perbannya.

Bel pelajaran pertama berbunyi, namun Kuroko tidak memeperdulikan bel itu. Guru pengajar masuk dan Kuroko lansung menarik tangan Kise setelah diijinkan keluar dengan alasan membantu Kise mengganti perbannya. Bukan ke ruang kesehatan, Kuroko menarik tangan Kise ke halaman sekolah yang agak jauh dari gedung.

"Kurokocchi…ada apa?"

"Kise-kun.." Kuroko membalikan badannya yang tadi membelakangi Kise.

"Ada apa, Kurokocchi? Lebih baik kita kembali ke kelas sebelum—"

"Kise-kun!"

Mendengar Kuroko meninggikan suaranya, Kise tidak jadi menyelesaikan kalimatnya. Tidak biasanya Kuroko meninggikan nada bicaranya bila hal itu tidak penting. "…"

"Ada.. apa dengan wajahmu, Kise-kun?" tanya Kuroko dengan wajah khawatir.

"Tadi aku sudah bilang.. tergores.."

"Tergores apa, Kise-kun?" tanya Kuroko sambil memberikan tatapan menyelidik pada Kise.

"Anou.. ranting pohon.."

"Jangan bohong, Kise-kun." Ucap Kuroko dengan wajah yang begitu serius.

"Aku.. tidak bisa bohong padamu, ya.. Kurokocchi.." ujar Kise sambil tertawa kecil.

"…"

"Baiklah.. akan kuberitahu.."

Flashback

Kise dan Akashi sedang berbicara di lorong sunyi itu setelah menyelesaikan pelajaran terakhir. Siang itu, Kise ingin memastikan suatu hal pada Akashi, namun.. saat itulah Akashi mengalihkan pembicaraan.

"Ah ya, Ryouta."

"Apa?"

"Kudengar.. kau memberitahu Daiki soal obrolan kita ini, hm?"

"Hah?" Kise mulai panik dan takut, ia tahu konsekuensinya jika membuat Akashi marah. "Darimana kau mendengarnya?"

"Daiki yang memberitahuku."

'Awas kau, Ahominecchi!' Kise mengutuki Aomine di dalam hati gara-gara memberitahu Akashi. "Ah, begitukah?" namun jawaban yang ia berikan pada Akashi tentu berbeda.

Akashi mulai kesal dengan reaksi yang ditunjukan oleh Kise. Ia pun memasang tampang yang sangat serius. "Jadi.. Ryouta.."

"A..ada apa?" Kise sebenarnya takut, namun ia tidak mau terlihat gemetar dihadapan Akashi, orang yang menyakiti Kuroko.

"Kau tahu kan konsekuensi membuatku marah, Ryouta."

"…" Kise memalingkan wajahnya.

"Hoo.. sekarang kau memilih untuk diam, hm?"

"…"

"Terlambat untuk minta ampun, Ryouta."

"Hmph.. aku tak sudi meminta ampun darimu, Akashicchi." Ujar Kise sambil tersenyum mencibir.

"Begitukah, Ryouta? Bagus, berarti kau sudah siap menerima konsekuensinya, kan?"

"…"

Kise memutuskan untuk mengunci mulutnya rapat-rapat bahkan ketika Akahsi menggores wajah mulusnya itu dengan gunting merah yang selalu ia bawa. Darah menetes dari pipi dan leher Kise. Akashi menorehkan beberapa goresan sebelum akhirnya berhenti karena bosan. Ia membuang gunting merah itu sembarangan, melemparkannya tanpa memperdulikan ke mana jatuhnya.

"Ah, aku bosan. Dan Ryouta, kuperingatkan kau untuk tidak membocorkan ini, pada siapapun. Pada siapapun dan maksudku termasuk Tetsuya."

"…" Kise tersungkur di bawah sambil memegangi wajahnya. Pipi dan lehernya yang putih mulus itu mengalirkan cairan merah yang bernama darah dengan lumayan deras, membuat rumput di bawah ternodai warna merah.

"Jika kau berbicara satu kata pada Tetsuya tentang ini, bisa kupastikan kau tidak akan bisa berbicara lagi. Mengerti?" Akashi mengancam Kise supaya tutup mulut soal pembicaraan mereka. Setelah itu Akashi pergi meninggalkan Kise yang tersungkur di bawah memegangi wajahnya.

"Akashicchi, jangan sampai kau menyesal."

Akashi yang hendak pergi berhenti dan membalikan badan begitu mendengar pernyataan Kise. "Menyesal? Untuk apa? Aku selalu benar, dan aku absolut.. aku tidak pernah menyesal akan keputusanku. Apapun itu."

"Jangan menyesal kalau aku merebut Kurokocchi darimu. Aku tidak akan segan merebutnya darimu."

"Heeh.. merebut? Lakukan saja kalau kau bisa. Dia.. Tetsuya itu terlalu cinta padaku, kau tahu? Seperti orang bodoh saja.." Akashi pun berlalu meninggalkan Kise sendirian.

"Tch.." Kise mendecih kesal, bagaimanapun caranya, ia akan merebut Kuroko.

Flashback End

"Kise-kun.."

"…"

"Gomenne.."

"Kurokocchi kenapa minta maaf? Kan aku yang membocorkan obrolan rahasiaku dengan Akashicchi.." Kise berharap-harap Kuroko tidak mengerti obrolan mereka. Kise hanya memberitahu Kuroko bahwa ia membocorkan kepada Aomine pembicaraan rahasia antara dia dan Akashi, tidak termasuk merebut Kuroko atau apa yang dilakukan Akashi.

"Gomen, Kise-kun. Aku.. aku tahu obrolan yang kau maksud itu." Ujar Kuroko sambil mengalikan pandangannya dari Kise.

"Eh?"

.

.

.

TBC