Author's note: Ya~ minna-san ^^ doumo... gimana sejauh ini ceritanya? pasti banyak yang mau protes , kok updatenya dikit abnget 1 chpater :v maap deh..
Special thanks to Flow Love, Bona Nano, dan Kuro Kid yang udah review di chapter sebelumnya ^^ douzo.. semoga berkenan
Chapter 9
"Kise-kun.."
Mereka berdua berdiri berhadapan di halaman belakang sekolah. Di situ sepi bahkan tidak ada orang sama sekali karena sekarang sedang jam pelajaran. Kuroko menarik Kise ke halaman belakang sekolah untuk berbicara berdua dengan privat. Angin berhembus membuat surai biru dan surai kuning itu melambai.
"…"
"Gomenne.." Kuroko berucap sambil menundukan kepalanya, membuat ekpresi wajahnya tidak terbaca oleh Kise.
"Kurokocchi kenapa minta maaf-ssu? Kan aku yang membocorkan obrolan rahasiaku dengan Akashicchi.." Kise berharap-harap Kuroko tidak mengerti obrolannya dengan Akashi. "Jangan begitu, Kurokocchi.. kau tidak salah.."
"Gomen, Kise-kun. Aku.. aku tahu obrolan yang kau maksud itu." Ujar Kuroko sambil mendongakan kepala, menujukan pandangannya kepada Kise.
"Eh?" Kise membulatkan kedua matanya. Ia tidak percaya atas apa yang ia dengar. "Kau.. tahu, Kurokocchi?"
"Aku tahu, Kise-kun.."
"Apa itu tentang aku yang memberitahu Aomine soal kelakuan buruk Murasakicchi.. pasti yang itu, ya kan-ssu?" Tanya Kise memastikan sambil tertawa canggung. Berharap semoga Kuroko mengiyakan perkataannya yang mengacau itu.
"Kise-kun.." Kuroko kembali menundukan wajahnya, memandangi rumput di bawah kakinya.
"A..Ada apa.."
"Kise-kun tidak perlu bersusah payah menghiburku. Aku.. aku sudah tahu semua isi obrolanmu dengan Sei-kun.."
"E..eh.. ten..tentang apa yang kau dengar-ssu?" Kise kembali bertanya memastikan. 'Semoga saja bukan soal Kurokocchi yang ia dengar ..' batin Kise dalam hatinya.
"Aku dengar.. obrolanmu dengan Sei-kun tentang aku, Kise-kun.." Kuroko berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku.. aku sudah tahu semuanya. Sei-kun.. tidak cinta padaku.. aku tahu.. Sei-kun hanya memperalatku..aku tahu semuanya, Kise-kun.." Kuroko berujar sambil mendongakan kepalanya. Wajahnya basah dengan air mata. Hatinya sudah terlalu sakit untuk menyimpan semuanya. Akashi sudah menorehkan berbagai luka yang mendalam di hatinya, ia tak sanggup untuk menerima luka lagi.
"Kurokocchi…" Kise mengulurkan tangannya, hendak memeluk Kuroko.
"Kise-kun tidak perlu menghiburku. Aku baik-baik saja. Kise-kun tidak perlu memasang wajah sedih begitu. Jangan sampai masalahku ini membebanimu, Kise-kun." Kuroko memandang Kise dengan senyum palsu, senyum yang dibuat-buat. "Lebih baik kita kembali ke kelas sebelum dimarahi oleh sensei, Kise-kun." Lanjutnya. Kuroko mengajak Kise kembali ke kelas dengan menarik tangannya, namun Kise tak bergerak seinchi pun dari tempat ia berpijak.
"Kise-kun?"
"Kurokocchi…"
"Ayo kembali, Kise-kun.. nanti kita dimarahi.."
"Masa bodoh dengan dimarahi!" Kise tiba-tiba berteriak, tak peduli ada guru ataupun murid yang mendengarnya.
Kuroko pun terkejut dibuatnya, Kise jarang berteriak marah pada orang lain dengan wajah yang begitu serius. "Ki..Kise-kun..jangan berteri—"
"Masa bodoh ada yang mendengarku! Kurokocchi!" Kise kembali berteriak, membuat Kuroko terdiam, bingung harus merespon bagaimana. Tampaknya Kise sudah benar-benar marah.
"Kise-kun.."
"Kurokocchi! Jangan lagi kau bilang kau tidak apa-apa! Kau terluka! Kau terluka gara-gara 'dia'! Kenapa kau masih juga sok kuat, Kurokocchi!" Kise sengaja menggunakan kata 'dia' karena sudah terlanjur dendam dan muak pada Akashi yang mempermainkan Kuroko, seolah-olah tak sudi mengucapkan atau mendengar namanya lagi.
"Kise-kun.. tenanglah.." Kuroko berusaha menenangkan Kise yang mengamuk, namun tidak berhasil.
"Tidak! Aku tidak mau Kurokocchi disakiti oleh 'nya' lagi! Masa bodoh jika 'dia' dengar!" Kise berteriak dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
"Kise-kun.. tolong.. jangan begini.." Kuroko mengulurkan kedua tangannya, menggapai wajah Kise. Kuroko mengelus pipi Kise dengan lembut lalu menghapus air mata Kise dengan jarinya. Tangan Kuroko tak beranjak dari wajah Kise, masih mengelus pipinya untuk menenangkan Kise. "Tenanglah sedikit.." Kuroko berbicara dengan nada yang begitu lembut, perlahan-lahan membuat Kise sedikit lebih tenang.
"Kurokocchi…" kedua tangan Kise menangkup di atas tangan Kuroko yang sedang mengelus kedua pipinya. Kise memejamkan matanya, berusaha menenangkan diri sedikit.
"Kise-kun.. apa sudah lebih tenang?" tanya Kuroko.
"Umn.. sudah-ssu.." Kise menjawab pelan.
"Sekarang, berbicaralah dengan pelan dan tenang. Aku akan mendengarkanmu." Kuroko berucap sambil menunjukan senyumannya yang jarang terlihat orang lain.
"Aku..Kurokocchi... aku tidak mau.. Kurokocchi terluka. Sudah cukup Kurokocchi terluka, aku tidak sanggup melihat Kurokocchi terluka-ssu. Kurokocchi.."
Kuroko melepaskan genggaman tangannya dari pipi Kise lalu menjawab, "Arigatou na, Kise-kun.. tapi aku.. aku tidak apa-apa. Setidaknya untuk sekarang ini aku tidak apa-apa."
Kise menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak.. kau tidak baik-baik saja, Kurokocchi. Kau bisa membohongi orang lain, tapi tidak denganku. Aku tidak bisa berbohong padamu, begitu juga sebaliknya, kau tidak bisa bohong padaku. Kau terluka, kau rapuh. Kurokocchi..kau bisa hancur kapan saja." Ujar Kise dengan wajah sedih, matanya menunjukan bahwa ia.. terluka kah? Sedih? Marah? Semuanya ada dan bercampur menjadi satu.
"Umn… aku tahu.. aku tahu dia hanya memperalatku, aku tahu dia tidak serius padaku. Tapi, Kise-kun.. satu hal.. aku cinta padanya, walau Sei-kun tidak serius, berada di dekatnya sudah cukup bagiku." Kuroko mengalihkan pandangannya ke semak-semak bunga yang tertiup angin.
"Kurokocchi.. kau.. kau terlalu.."
"Naif? Ya, kan?"
"Iya.. kau.. terlalu naïf, Kurokocchi."
Kuroko terkekeh kecil lalu menjawab Kise "Hmh.. jangan salah Kise-kun.. naïf dan bodoh itu beda tipis."
"Maksudmu, Kurokocchi?" Kise tampaknya bingung dengan ucapan Kuroko.
"Dibanding naïf, aku lebih cocok dibilang.. bodoh. Bahkan keledai pun tidak akan jatuh di tempat yang sama 2 kali." Kuroko berbicara dengan tatapan kosong dan mulut yang tersenyum pahit.
"Kurokocchi! Jangan mengatai dirimu bodoh seperti itu!" Kise berteriak lagi.
"Jangan marah, Kise-kun. Aku hanya membicarakan fakta. Fakta mengerikan yang sedang terjadi sekarang ini."
"Kurokocchi… gomen..gomen..gomenne.."
"Kise-kun?! Kenapa meminta maaf?" Kuroko terkejut karena Kise meminta maaf padanya.
"Kalau aku tahu.. 'dia' hanya mempermainkanmu, aku akan mengambilmu lebih dulu."
"Eh? Maksud Kise-kun?"
"Kurokocchi, aku .. suka padamu-ssu." Kise mengarahkan pandangannya kepada Kuroko, wajahnya tampak begitu serius.
"E..eh.. Kise-kun.. tolong jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda."
"Ja— jangan berbohong."
"Kurokocchi. Tatap wajahku. Apa aku bercanda? Apakah aku bisa berbohong padamu?" Kise menatap Kuroko intens dengan kedua manik kuningnya itu.
Adalah sebuah kesalahan Kuroko Tetsuya. Ia memandang wajah Kise. Tak ada keraguan atau ketidakseriusan di wajah tampannya itu "Ti..tidak.."
"Kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin Kurokocchi tahu, bahwa aku, Kise Ryouta suka padamu, dan aku tidak main-main dengan perkataanku." Kise berujar sambil memeluk Kuroko dengan sangat erat, seolah-olah Kuroko akan hilang dari hidupnya.
Kuroko membalas pelukan erat dari Kise "Arigatou na, Kise-kun.."
Setelah diam beberapa menit, Kuroko memecah keheningan diantara mereka. "Kise-kun.. lebih baik kita kembali sekarang sebelum dimarahi."
"Ah.. kau benar. Tapi.."
"Tapi kenapa, Kise-kun?"
"Matamu dan hidungmu merah, Kurokocchi."
"Eh?" Sontak Kuroko langsung memegangi hidungnya.
Kise terkekeh melihat reaksi kawaii dari Kuroko, reaksi yang selama ini baru pernah ditunjukan pada Akashi. "Lebih baik kita beristirahat sebentar di ruang kesehatan, Kurokocchi."
"Eh.. jangan membolos, Kise-kun.."
"Tidak apa-apa.." Kise menjawab Kuroko dengan senyum tipis.
"Baiklah.. sekali ini saja. Selebihnya aku tidak mau membolos lagi."
"Siapp!"
"Tapi.. kali ini Kise-kun pintar juga.. tumben sekali?" Kuroko berkata sambil menggoda Kise yang cengeng
"Kurokocchi hidoi-ssu!"
"Ahaha.. ayo, Kise-kun.."
"Umn!"
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ke ruang kesehatan.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi. Kuroko dan Kise baru saja selesai pelajaran biologi dan sedang membereskan buku.
"Ah, Kurokocchi.. ayo makan bersama-ssu!"
"Iya.." Tiba-tiba ponsel Kuroko bergetar di saku celana. Kuroko mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk. Manik birunya membulat membaca pesan yang ia baca. "Gomen, Kise-kun.. ternyata aku tidak bisa makan siang bersamamu." Kuroko meminta maaf pada Kise setelah memasukan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Apa itu.. dari 'dia'?"
"Eh? Ah.. iya.. gomen.." Kuroko menundukan wajahnya.
Kise menghela nafas lalu menjawab, "Baiklah.. aku bisa makan siang dengan Aominecchi atau Murasakicchi, kok.."
"Honto ni gomen, Kise-kun.." Kuroko tampaknya begitu menyesal, ia merasa telah membuat Kise kecewa.
"Tidak apa-apa, Kurokocchi.. tapi lebih baik kau hati-hati ya.."
"Un.. Arigatou, Kise-kun.." Kuroko lalu mengambil bekalnya dan keluar kelas menuju ke atap sekolah sambil melambaikan tangan pada Kise.
Kuroko berlari kecil, menyusuri koridor sekolah menuju ke atap, tak ingin Akashi marah padanya karena menunggu terlalu lama. Sampai di atas, Kuroko membuka pintu abu-abu yang memisah dirinya dengan atap. Di situ, Kuroko melihat Akashi sedang bersandar pada pagar atap sekolah sendirian. Angin berhembus meniup helaian surai merahnya.
"Sei-kun.." Kuroko memanggil Akashi yang tidak sadar akan kehadiran dirinya.
Akashi yang dipanggil membalikan badannya dan membalas sapaan yang ia dapat "Tetsuya.."
"Tumben Sei-kun berdiri di situ? Biasanya tiap aku kemari Sei-kun sedang duduk ditemani buku bacaan?" tanya Kuroko.
"Tidak perlu basa-basi, Tetsuya." Akashi memandang Kuroko dengan tajam melalui kedua manik heterokrom nya itu.
"Eh?" Kuroko mundur satu langkah, ia takut dengan Akashi. Tampaknya Akashi sedang murka pada dirinya.
Akashi berjalan mendekat ke arah Kuroko. Akashi maju selangkah, Kuroko mundur selangkah. "Tetsuya, jangan menghindar." Kuroko langsung diam di tempat mendengar perintah absolut Akashi dengan nada bicara yang mengintimidasi lawannya.
"S..Sei-kun.."
"Tetsuya. Apa yang kau bicarakan dengan Ryouta berdua tadi pagi?" tanya Akashi dengan tatapan tajamnya.
"Sei-kun melihat kami?"
Flashback
Akashi sedang duduk di bangkunya memperhatikan guru yang menerangkan pelajaran di papan tulis. Walau dirinya terbilang jenius, ia tetap mendengarkan karena ia adalah murid teladan. Tuntutan dari ayahnya agar ia menjadi murid teladanlah yang membuat ia terpaksa mendengarkan guru. Kalaupun ia tidak mendengarkan, nilai ulangannya pun tetap dapat 100. Tiba-tiba ia mendengar suara orang berteriak di luar. Memang yang diteriakan orang itu tidak jelas, namun yang pasti orang itu sedang berteriak marah pada lawan bicaranya. Akashi mengalihkan pandangannya dari papan tulis ke luar jendela, ke arah halaman di lantai satu.
Dari kelasnya di lantai dua, ia bisa melihat dengan jelas siapa orang bersurai kuning itu. "Ryouta? Dengan siapa ia berbicara?"
Akashi mendengar orang itu meneriakan beberapa kalimat kepada pemuda bersurai baby blue. Baby blue?! Akashi menajamkan pandangannya setelah sekilas melihat warna biru. 'Tetsuya?! Apa yang ia bicarakan dengan Ryouta?' Akashi curiga bahwa Kise membicarakan obrolan mereka itu pada Tetsuya. "Tch.. dia sudah kuperingatkan, bukan?" gumam Akashi sambil mendecih pelan. 'Aku akan berbicara pada Tetsuya nanti.' Ujar Akashi dalam hati sebelum kembali memperhatikan pelajaran yang diterangkan.
Flashback End
"E..eh? Ah.. obrolan kami bukan sesuatu yang penting, Sei-kun." Jawab Kuroko ragu-ragu.
Tak Kuroko duga, tiba-tiba Akashi mengeluarkan gunting merah dari saku celananya dan menodongkan gunting itu tepat di leher Kuroko. "Kau.. berani membantahku, Tetsuya?"
"E..eh?"
"Sekarang kau berani melawanku, hm, Tetsuya?"
"S..Sei-kun.. apa.."
"Jadi, sekarang kau mau membantahku, begitu?! Tetsuya?!" Akashi membentak Kuroko yang sudah tersudutkan oleh dirinya dan gunting merah yang diarahkan di lehernya.
"Se..Sei-kun..aku.. aku tidak bermaksud membantahmu.."
"Lalu apa maksudmu, Tetsuya?" Akashi bertanya dengan nada yang dalam, monoton, dan mengintimidasi siapapun yang mendengarnya.
"A..aku.." Kuroko ingin mengucapkan sesuatu namun bibirnya tidak dapat merangkai kalimat. Tatapan tajam dari mata heterokrom Akashi membuat dirinya ketakutan.
"Jawab aku dengan jujur, Tetsuya!" Akashi kembali mengarahkan gunting merah tajam itu ke leher Kuroko.
"…" Kuroko memilih untuk diam daripada ia nanti malah berkata sesuatu yang tidak penting.
"Hoo.. jadi sekarang kau lebih memilih untuk diam, hm Tetsuya?" Akashi menunjukan seringai sadisnya. "Kalau begitu, kau tahu konsekuensi nya, kan, Te~Tsu~Ya?" ujar Akashi sambil terkekeh.
Nada bicara Akashi yang memanggil dirinya itu membuat Kuroko merinding namun ia tetap memilih untuk bungkam, tidak mau membalas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Akashi. Sekarang Kuroko terjebak, tidak bisa pergi kemana-mana ataupun melawan. Tatapan manik heterokrom instens itu membuat nyalinya ciut.
'Apa.. yang harus kulakukan..' Kuroko bingung harus bagaimana.
.
.
.
TBC
