Author's note: Akhirnya update juga .. jadi, gimana ceritanya sejauh ini, minna-san? apa kurang menarik? :v atau bahkan sangat tidak menarik? gomen ya, author update dikit banget per chapter. Karena chapter ini juga pendek banget, author bakal update lagi sekitar hari rabu ya.. ditunggu aja... jaa~ tolong review nya 'v' kritik dan saran sangat diterima. douzo..

Special thanks to Flow L, KyraAkaKuroLover, and Dewi15. Thank you very much for your review ^0^


Chapter 10

Kuroko Tetsuya, pemuda bersurai baby blue itu tersungkur di lantai dingin atap sekolah. Tubuhnya dipenuhi oleh luka menganga yang mengalirkan darah.

Flashback

"…" Kuroko memilih untuk diam daripada ia nanti malah berkata sesuatu yang tidak penting. Tatapan dari manik heterokrom itu begitu mengintimidasinya.

"Hoo.. jadi sekarang kau lebih memilih untuk diam, hm Tetsuya?" Akashi menunjukan seringai sadisnya. "Kalau begitu, kau tahu konsekuensi nya, kan, Te~tsu~ya?" ujar Akashi sambil terkekeh.

"…" Kuroko berdiri, diam tak bersuara sedikitpun.

"Baiklah.. kau yang minta, Tetsuya." Ujar Akashi dengan nada bicara yang monoton. Akashi mengambil gunting merahnya itu dan membukanya sedikit, memisahkan kedua bagian tajam gunting yang terlipat rapat.

"Berubah pikiran, Tetsuya?" tanya Akashi setelah melihat Kuroko yang ketakutan.

"…" Kuroko tetap diam walaupun dirinya ketakutan.

"Tidak? Baiklah.." Akashi menyayat tangan kanan Kuroko yang tidak tertutup oleh seragam.

"Akh.." Kuroko memekik karena sakit di tangannya. Ia menggigit bibirnya dengan kuat supaya tidak berteriak.

"Sakitkah, Tetsuya?" tanya Akashi dengan seringai sadisnya. "Tentu saja sakit, jika kau melawanku.." lanjut nya.

Berkali-kali Akashi menyayat tubuh Kuroko. Berkali-kali juga Kuroko menahan suaranya, menahan sakitnya sayatan yang diberikan gunting tajam Akashi itu. Satu persatu, seragam Kuroko dilepas oleh Akashi. Ia menggunting jas putihnya, lalu menggunting kemeja biru khas Teiko itu, dan dilanjutkan dengan menggunting celana hitamnya hingga sisa setengah paha, membuat paha putih Kuroko terekspos jelas. Dingin angin berhembus membuat Kuroko menggigil. Ini masih bulan Maret, tentu angin yang berhembus masih lumayan dingin.

"Se..Sei-kun.. tolong.. hentikan.."

"Hentikan? Kau memerintahku, Tetsuya?"

"Ja..jangan.. akh! Sakit.. sakit.. Sei-kun.. sakit.. jangan…"

"Hmh.." Akashi hanya tersenyum mencibir melihat Kuroko yang menangis kesakitan akibat perbuatannya.

Akashi menorehkan luka sayatan di tangan, kaki, punggung, leher, dan paha serta betis Kuroko. Tak ada tubuh Kuroko yang bebas dari luka kecuali wajahnya. Setidaknya untuk saat ini. Namun, Akashi kembali menggerakan gunting merah itu. Kini, gunting itu diarahkan ke wajah mulus Kuroko, tidak.. lebih tepatnya pipi Kuroko.

"Jangan.. Se—" Terlambat. Akashi kembali menorehkan sayatan di pipi kanan Kuroko. "Akgh.. Se..Sei-kun.. jangan.." Air mata Kuroko mengalir dari kedua matanya.

"Teruslah menangis, Tetsuya.. aku suka wajahmu yan menyedihkan itu.." ujar Akashi sambil menyeringai, seolah tertawa di atas penderitaan Kuroko, walaupun begitulah faktanya. Akashi menertawai penderitaan Kuroko.

Setelah beberapa menit melakukan hal yang sama, menorehkan luka sayatan pada Kuroko, Akashi akhrinya berhenti. "Aah.. aku bosan. Hmph.." Akashi pun membuang gunting merahnya yang sudah ternodai oleh darah. "Ini akibatnya, Tetsuya. Kau.. jangan pernah sekalipun melawanku. Itupun kalau kau masih mau hidup, Tetsuya." Setelah itu Akashi masuk kembali ke dalam gedung sekolah.

Flashback End

Kuroko yang tersungkur di lantai atap sekolah hanya bisa diam, merenungi apa yang baru saja terjadi. Ia menelentangkan dirinya, memandang langit mendung siang itu. Tiba-tiba, ia teringat mimpi nya.

"Kau… Jangan pernah sekalipun melawanku."

"Déjà vu.." Kuroko menggumam. Ia menutup kedua kelopak matanya sambil merentangkan kedua tangannya. Tak peduli dengan dinginnya angin di bulan Maret yang bertiup, tak peduli akan tubuhnya yang hampir membeku. "Aah.. sekarang.. aku tahu.. siapa orang itu…Sei-kun.." kata Kuroko pada dirinya sendiri. Pandangannya lurus ke atas, namun kosong. Orang asing yang selalu muncul dalam mimpi buruknya. Orang yang selalu mengancamnya. Orang yang menakutkan. Orang itu adalah Akashi sendiri. Manik biru itu redup, tak ada cahaya lagi di dalamnya. Dirinya sudah hancur.

"Sei-kun.." Kuroko meneteskan air matanya. "Kenapa.. aku salah apa… kenapa… dunia tidak adil padaku.." Kuroko menutup matanya dengan tangan sebelah kiri, tak peduli darah yang mengalir dari luka di sekujur tubuhnya itu. Kuroko berdiri setelah mendengar bunyi bel jam pelajaran terkahir. Ia berniat pergi ke ruang kesehatan. Sekarang adalah kesempatan bagus, tidak ada murid di koridor dan guru di ruang kesehatan biasanya sudah pulang. Kuroko memungut potongan-potongan kain seragamnya yang digunting Akashi. Setelah mengumpulkan semua potongan kain itu, dengan tertatih Kuroko melangkahkan kedua kakinya. Ia membuka pintu abu-abu yang akan membawanya kembali ke dalam gedung sekolah. Kuroko melangkahkan kedua kakinya menuju ke ruang kesehatan setelah kembali menutup pintu abu-abu itu.

Ia bersyukur tak ada satupun guru atau murid yang melihatnya. Bisa-bisa dia dibombardir berbagai pertanyaan. Kuroko menggeser pintu putih ruang kesehatan lalu masuk ke dalam. Kuroko mengambil kotak P3K di salah satu lemari dan duduk di atas kasur. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan obat-obat yang ia butuhkan. Dengan perlahan, Kuroko mengobati satu persatu luka di tubuhnya itu. Mendesis beberapa kali adalah wajar, luka yang ditinggalkan oleh gunting itu cukup besar dan lumayan dalam. Alkohol yang ia gunakan tentu menyengat ketika bersentuhan dengan luka menganga itu. Setelah membersihkan lukanya dengan alkohol, Kuroko memberikan obat dan menutupnya dengan perban putih. Cukup banyak perban yang ia gunakan untuk menutup lukanya. Selesai mengobati semua lukanya, Kuroko mengembalikan obat-obat tadi ke dalam kotak dan menutup kotaknya.

Menghela nafas, Kuroko lalu menggumam, 'tidak mungkin aku kembali dengan penampilan seperti ini. Jas ku sudah rusak, kemejaku juga.. apalagi dengan celana seperti ini.. tidak mungkin kan aku kembali..' Kuroko lalu memikirkan suatu jalan keluar. 'Ah, aku akan pulang setelah sekolah sepi. Jadi tidak ada yang melihatku..' Kuroko pun lalu memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi.


.

.

.


Bel pelajaran terakhir selesai berbunyi. Kise yang sedari tadi panik karena Kuroko tidak ada langsung buru-buru membereskan buku pelajarannya dan memasukan buku itu ke dalam tas. Kise berdiri dari bangkunya, meninggalkan tas nya lalu berlari keluar kelas mendahului teman-temannya.

'Kurokocchi.. kau dimana…' Kise berharap tidak ada apa-apa dengan sahabatnya itu. Kise berlari menyusuri koridor sekolah yang ramai oleh murid lain. Saat sedang berlari, ia berpapasan dengan Akashi yang sedang membaca novel di bangku koridor.

"Hei, Kurokocchi di mana?" tanya Kise pada Akashi. Sengaja tak memanggil nama, ia tak sudi mengucapkan nama itu.

Akashi mendongakan kepalanya lalu menjawab Kise, "Hah? Tetsuya? Entahlah." Jawabnya dengan cuek sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke buku yang sedang ia baca.

"Tch.." Kise mendecih lalu kembali berlari menyusuri koridor untuk mencari Kuroko. 'Ah.. mungkin dia di halaman belakang!' Kise lalu berlari ke halaman belakang, tempat favorit Kuroko di sekolah. Nihil, Kuroko tidak ada di halaman. Kise berlari sambil berpikir tempat yang mungkin didatangi Kuroko. 'Ah! Jangan-jangan…' Kise berlari, membawa kedua kakinya menuju ke ruang kesehatan. Begitu pintu putih ruang kesehatan masuk ke dalam penglihatannya, Kise mempercepat larinya dan membuka pintu putih itu dengan lumayan kasar, hampir membantingya.

Kuroko yang kaget terbangun dari tidurnya dan melihat Kise yang terengah-engah akibat berlari. "Ah, Kise-kun.."

"Kurokocchi!" Kise menutup pintu itu dan berlari menghampiri Kuroko.

"Kise-kun.. kenapa lari-lari?"

"Mou.. aku kan khawatir denganmu— eh?! Apa ini.. kenapa.. tubuhmu.. kemana bajumu, Kurokocchi?"

"Eh? Ah.. ini.."

"Kenapa, Kurokocchi? Jawab dengan jujur."

Kuroko terkekeh lalu menjawab, "Lebih baik aku tidak menjawabnya, Kise-kun."

"Eh.. kenapa? Jawab! Kau kenapa, Kurokocchi?" tanya Kise dengan raut wajah yang begitu khawatir.

"Bukankah Kise-kun sudah tahu jawabannya? Kenapa aku terluka? Kenapa aku tidak memakai baju?" tanya Kuroko pada Kise dengan senyum tipis.

"Tch.. pasti karena 'dia' ya kan? Ya kan Kurokocchi?!"

"Tenanglah, Kise-kun.. aku tidak apa-apa."

"Lagi-lagi kau berbicara seperti itu, Kurokocchi.."

"…" Kuroko hanya bisa tersenyum pahit dan diam.

"Gomen.. aku tidak bisa melindungimu, Kurokocchi.."

"Tidak apa-apa.. ini bukan salahmu, Kise-kun.."


.

.

.


"Kise-kun, lebih baik Kise-kun pulang saja dulu."

Kise menemani Kuroko di ruang kesehatan sekolah, menunggu sekolah agak sepi baru dia akan pulang.

"Tapi.. aku mau menemani Kurokocchi.."

"Tidak usah, Kise-kun.. aku baik-baik saja."

"Tidak mau. Aku akan tetap di sini bersama Kurokocchi." Ujar Kise sambil menggembungkan pipi layaknya seorang anak kecil.

"Pfft.. ahahahahaha.." Kuroko yang melihat tingkah Kise tertawa.

"A..apa yang lucu…" wajah Kise pun merah akibat malu ditertawai.

"Gomen, gomen.. habis.. Kise-kun terlalu kawaii.."

"Eh?" Kise mendengar dirinya disebut kawaii oleh Kuroko langsung merah padam. "Uugh.. Kurokocchi kan lebih kawaii.." balas Kise.

"Eh? Ah..Umn.." Kuroko malu akibat dibilang kawaii, menundukan wajahnya yang merah.

"Kurokocchi, kau tunggu di sini, aku akan mengambilkan tasmu lalu kita pulang bersama, ya?"

"Baik, Kise-kun."

Setelah itu Kise melangkahkan kakinya menuju ruang kelas untuk mengambil tasnya dan tas Kuroko. Mereka lalu pulang bersama. Kise meminjami baju olahraga cadangan miliknya yang kebetulan disimpan di loker. Kise berjalan berdampingan dengan Kuroko, menyusuri jalanan kota Tokyo yang dingin dan ramai. Canda tawa menghiasi perjalanan mereka. Kise mengantar Kuroko sampai ke depan apartemennya.

"Jaa, Kurokocchi.. Oyasumi.." Kise melambaikan tangannya pada Kuroko.

Kuroko pun membalas lambaian tangan dan salam Kise, "Jaa, Kise-kun.. arigatou.. oyasuminasai, Kise-kun.." lalu Kuroko masuk ke dalam apartemennya. Kuroko memasak makan malam bagi dirinya sendiri, mandi, lalu siap untuk tidur. Kuroko membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Ia mencoba untuk tidur namun tidak bisa. Beberapa kali ia mencoba menutup mata, namun.. ada perasaan mengganjal dalam hatinya.

Kuroko menghela nafas. "Haah.. aku tidak bisa tidur.. mungkin lebih baik baca novel. Mumpung besok libur.." Kuroko lalu berdiri dan berjalan ke arah rak buku di kamarnya. Setelah mengambil salah satu novel, Kuroko kembali masuk dalam selimut untuk mencari kehangatan. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Kuroko membuka dua pesan masuk.


[From: Sei-kun

Subject: none

[Besok pagi, temui aku di taman dekat sekolah jam 10. Tidak terlambat dan tidak ada penolakan]]

Kuroko menghela nafas membaca pesan dari Akashi lalu beralih ke pesan satunya yang ternyata dikirim oleh Kise.


[From: Kise-kun

Subject: none

[ Kurokocchi, maaf SMS malam-malam. Aku tahu yang akan kukatakan tidaklah penting bagimu. Tapi, akan kuberitahu satu hal. Aku menyukaimu, dan aku, Kise Ryouta akan merebutmu, Kuroko Tetsuya dari Akashi Seijuuro. Aku serius. Jaa.. oyasumi ;)]]


"Kise-kun…" Kuroko memandangi layar ponselnya itu. Air mata kembali meluncur membasahi kedua pipinya. "Kise-kun.. arigatou.. arigatou.." Kuroko menangis mendekap ponselnya. Ia, sudah menentukan sebuah keputusan, dan ia sudah mantap serta yakin dengan keputusan yang ia buat itu.

.

.

.

TBC