Author's note: Ya~ sesuai janji ya.. author update hari Rabu ^^ gimana sejauh ini? apa bagus ? ada yang nungguin lanjutan cerita ini? :p ya udah deh.. tolong review nya ya .. kritik dan saran sangat diterima
Chapter 11
Jam weker yang nyaring membangunkan Kuroko pagi itu. Hari ini adalah hari Sabtu yang artinya hari libur. Biasanya, Kuroko akan kembali tidur di hari Sabtu hingga siang. Namun, karena hari ini punya janji dengan 'pacarnya' itu, Kuroko mau tidak mau harus bangun. Kuroko menyingkap selimut yang ia gunakan untuk tidur lalu mengambil handuk dan langsung mandi. Jam sudah menunjukan pukul 9.30. Kalau ia tidak siap-siap sekarang, ia bisa telat dan bisa-bisa Akashi mengamuk padanya. Sudah cukup tubuhnya penuh luka.
Selesai mandi, Kuroko hanya sempat minum segelas susu yang dihangatkan sebentar karena jam sudah menunujukan pukul 9.45, artinya ia harus segera berangkat. Waktu yang diperlukan untuk sampai ke taman dekat sekolahnya adalah 15 menit. Kuroko berlari kecil, mempercepat langkahnya supaya tidak terlambat. Kuroko sampai di taman tepat pukul 9.58. Ia duduk di bangku taman, menunggu Akashi sambil mengembalikan nafasnya yang terengah-engah akibat berlari. Tepat pukul 10, Akashi datang. Kuroko berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Akashi.
"Sei-kun.."
"Tetsuya.."
"Ada apa memanggilku ke sini?" tanya Kuroko.
"Ayo kencan."
"Kencan? Ke mana?"
"Hm.. aku punya tempat yang akan ku tuju. Ikut aku.."
'Sei-kun bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.' Gumam Kuroko dalam hati. Namun ia tetap mengikuti Akashi. "Baik, Sei-kun."
Akashi menuntun Kuroko, berjalan menyusuri kota hingga akhirnya sampailah mereka di stasiun. Kuroko yang bingung pun bertanya pada Akashi.
"Stasiun?"
"Ya. Kita akan ke Kyoto."
"Kyoto?!"
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Akashi dengan nada yang mengintimidasi.
"Bu..bukan.. tapi.. kenapa tiba-tiba.."
"Diam dan ikut saja."
Kuroko pun memutuskan untuk diam, daripada membuat Akashi marah, bahaya jika dia mengamuk sekarang. Bukan hanya dirinya, bisa-bisa orang lain di stasiun kena amukan Akashi yang mengerikan itu. Akashi lalu membeli dua tiket ke Kyoto, dan langsung masuk ke kereta. Sampai di Kyoto, Kuroko kembali bertanya.
"Kita mau kemana, Sei-kun?"
"Rakuzan."
"Rakuzan… ah, sekolah pilihan Sei-kun?"
"Bukan pilihanku, pilihan kita."
"Kita?"
"Ya. Kita, aku dan kau."
"Tapi.. aku sudah memutuskan untuk sekolah di Seirin."
Akashi tampaknya kesal dengan pilihan Kuroko lalu menjawab, "Seirin? Apa bagusnya sekolah itu? Kau lebih baik bersamaku di Rakuzan. Mereka punya tim basket yang bagus dan kuat."
"Tidak terima kasih, Sei-kun. Aku akan tetap lanjut SMA di Tokyo." Ujar Kuroko sambil menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju.
"Kau mau membantahku, Tetsuya?"
"…"
"Kau membantah pacarmu yang absolut ini?"
"Sei-kun.."
"Apa?" Akashi tampaknya sudah mulai marah dan emosi dengan sikap Kuroko.
"Aku.. mau kita putus."
Akashi terkejut sejenak, namun ia segera mengembalikan ekpresi datarnya "Hah? Apa?"
"Aku mau kita putus, Se— Akashi-kun."
"Putus? Kenapa? Sebutkan alasanmu."
"…."
"Jika kau tidak punya alasan untuk putus, maka aku tidak akan mau putus. Aku akan putus darimu jika alasan yang kau berikan itu masuk akal." Jawab Akashi.
"Aku, sudah muak. Akashi-kun hanya memperalatku, Akashi-kun tidak serius padaku. Akashi-kun hanya menjadikanku alat untuk membuat tim basket Teiko menang, tidak lebih. Ya kan, Akashi-kun?" Kuroko berujar sambil menundukan wajahnya
"Hah? A..apa yang kau bicarakan, Tetsuya?"
"Akashi-kun tidak perlu pura-pura. Aku sudah tau semua. Aku mau kita putus."
Akashi lalu menjawab dengan nada dingin, "Begitu? Baik. Terserah kau saja, Tetsuya."
"…."
"Lagipula aku sudah bosan denganmu. Pasti ada ganti dirimu di klub basket Rakuzan. Sayounara, Kuroko Tetsuya." Akashi berlalu, meninggalkan Kuroko sendirian dan pergi ke Rakuzan.
Kuroko jatuh terduduk di tanah. Kata-kata yang diucapkan Akashi barusan menusuk hatinya. Air mata membanjiri wajahnya yang penuh perban putih. Kuroko menangis dalam diam, seolah tak ingin menyaingi suara berisik rintikan air hujan yang kini jatuh membasahi bumi. Dengan suara serak dan penuh kesedihan, Kuroko berbisik, "Sayounara, Sei-kun.. aishiteru yo..." Hujan turun begitu deras, air hujan yang jatuh itu menyembunyikan air mata Kuroko yang mengalir.
Tak mau berbasah-basahan lebih lama lagi, Kuroko bangkit dan melangkahkan kakinya. Entah kemana ia melangkah, yang penting ia bisa berteduh terlebih dahulu sebelum sakit. Setelah berjalan dibawah guyuran hujan yang deras, Kuroko menemukan halte bus. Ia pun membawa kedua kakinya ke halte itu untuk berteduh, menunggu hujan sedikit reda sebelum kembali ke Tokyo. Untung saja ia membawa cukup uang untuk membeli tiket kereta ke Tokyo. Tiba-tiba pandangan matanya gelap dan Kuroko pun terjatuh ke tanah.
.
.
.
"Ugh.." Kuroko berusaha membuka kedua kelopak matanya yang terasa begitu berat. Begitu matanya terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih. Kuroko berusaha untuk duduk, namun sakit di kepalanya, membuat Kuroko mengurungkan niat untuk duduk. "Ittai..". Kuroko kembali merebahkan kepalanya di atas bantal yang empuk itu. "Aku.. dimana ya.."
"Kau dihotel-ssu." Begitu mendengar suara yang familiar, tak peduli dengan sakit di kepalanya, Kuroko langsung duduk di atas kasur.
"Kise-kun?!"
"Yaa.. Kurokocchi" Kise menyapa Kuroko yang terkejut sambil melambaikan tangannya. Kise yang duduk di ujung tempat tidur itupun berdiri dan berjalan menghampiri Kuroko.
"Kurokocchi tiduran saja, kau demam-ssu.." kata Kise sambil membantu Kuroko kembali tiduran
"Ah.. arigatou, Kise-kun."
"Lalu, Kurokocchi.."
"Ya, Kise-kun? Ada apa?"
"Kenapa kau ada di Kyoto?"
"Kise-kun sendiri kenapa di Kyoto?" tanya Kuroko sambil memalingkan wajahnya ke arah Kise.
"Aku tadi ada pemotretan di Kyoto-ssu, Kurokocchi."
"Oh.. Sou desuka?"
"Umn.. Lalu, Kurokocchi?"
"Tadi aku ke sini diajak Akashi-kun."
"Eh?" Kise langsung membulatkan kedua matanya. Sambil melipat kedua tangannya di depan dada, Kise bertanya menggunakan nada yang terdengar ia tidak suka— benci bahkan dengan nama orang itu, "Mau apa dia denganmu, Kurokocchi?"
"Tadi Akashi-kun akan membawa ku ke Rakuzan."
Kise menaikan sebelah alisnya. "Rakuzan?"
"Akashi-kun bilang, bahwa aku harus masuk Rakuzan bersamanya."
"Eh?! Lalu? Apa kau menerima?" Kise mulai panik.
"Tidak. Aku sudah berencana masuk Seirin, jadi aku menolak tawaran –yang lebih pantas disebut perintah itu— dari Akashi-kun."
"Apa.. dia marah, Kurokocchi?"
"Tentu saja, Kise-kun."
"Ugh.. apa dia melukaimu lagi, Kurokocchi?"
"Tidak."
"Untunglah..ah, lalu.. biasa kau memanggilnya dengan 'Sei-kun', kenapa kembali memanggil marga?"
"Karena… aku sudah putus dari Akashi-kun. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa, Kise-kun."
"Eh? Putus?! Siapa yang minta putus?"
"Aku yang minta putus, Kise-kun. Aku.. sudah tidak sanggup. Mungkin kalau Akashi-kun hanya mempermainkanku tidak apa-apa, tapi.. ia.. melukaiku, ia.. mulai bersikap egois. Aku tidak bisa lagi, aku sudah tidak sanggup kalau harus berpura-pura bahagia dan tersenyum di sampingnya."
"Kurokocchi.. mungkin.. putus darinya lebih baik untukmu. Aku takut, jika kau masih berpacaran dengannya, kau bisa hancur kapan saja ..."
"Kise-kun.. arigatou.."
Tiba-tiba tak Kuroko duga, Kise menarik lengannya dan mencium bibir pink miliknya. Ciuman yang diberikan Kise berbeda dengan Akashi. Ciuman manis yang lembut, ciuman yang hanya sekedar menyapukan kedua bibir mereka. Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Kise membuka pembicaraan.
"Kurokocchi, aku suka padamu-ssu.. jadilah pacarku."
"E..eh? Ki..Kise-kun.." seketika itu juga wajah Kuroko pun merah padam.
"Kurokocchi.. jawablah.. aku.. serius.."
"Umn.. aku tidak bisa."
"Kenapa?" Kise bertanya dengan wajah kecewa.
"Kalau aku berpacaran dengan Kise-kun, Kise-kun akan terluka. Karena jauh, jauh di dalam hatiku, masih tersimpan perasaanku pada Akashi-kun. Aku tidak mau membuat Kise-kun terluka."
"Kurokocchi… aku tahu, aku tahu kau masih belum bisa melupakan dia."
"Kise-kun.."
"Kumohon.. aku.. akan membuatmu melupakan dia."
"Kise-kun.. umn.. baiklah.. a..aku mau.."
"Honto?!" tanya Kise dengan mata berbinar-binar.
Kuroko mengangguk, tanda mengiyakan "Umn.."
"Hyaa, suki yo, Kurokocchi.." Kise berujar sebelum akhirnya kembali membungkam bibir pink Kuroko. Kali ini, ciuman yang diberikan Kise lebih agresif dari ciuman pertama yang diberikannya. Kise menjilat bibir pink Kuroko. Kuroko yang kaget membuka mulutnya. Kise lalu memasukan lidahnya ke dalam rongga mulut Kuroko, menginvasi setiap sudut mulut nya. Saliva lolos dari sudut bibir Kuroko.
"Nmh.. Kise-kun.."
"Kurokocchi.."
Kise pun melepaskan tautan bibir mereka karena Kuroko memerlukan pasokan oksigen. Nafas mereka berdua terengah-engah.
"Nee, Kurokocchi.."
"Iya, Kise-kun? Ada apa?"
"Panggil namaku.." kata Kise sambil tersenyum
"E..Eh? Ta..tapi.."
"Ayo, aku akan memanggilmu Tetsuyacchi!"
"Umn.. Ry..Ryouta-kun.." Kuroko menengok ke arah Kise dengan wajah moe nya yang dimiringkan ke kanan.
"Tetsuyacchi kawaii!" Kise langsung memeluk Kuroko yang duduk di atas kasur.
"Ryouta-kun…" Kuroko membalas pelukan Kise walaupun menurutnya pelukan Kise itu terlalu erat.
"Ah, Tetsuyacchi.. ngomong-ngomong.." Kise mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius.
"Iya?"
"Kenapa kau bisa sampai pingsan? Bagaimana kalau tadi aku tidak lewat?"
"Ah, aku sepertinya kedinginan, tadi aku kehujanan, Ryouta-kun.."
"Mou.. berhati-hatilah… jangan sampai kau hujan-hujanan lagi.."
"Arigatou, Ryouta-kun.." Kuroko tersenyum tipis membalas Kise.
"Ah, aku akan buatkan bubur untukmu. Tetsuyacchi bisa tidur dulu. Nanti aku akan bangunkan kalau sudah jadi."
"Arigatou gozaimasu." Kuroko lalu kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur, menghilangkan pening di kepalanya. 'Ryouta-kun baik, ya..' Setelah itu, Kuroko pun terlelap.
.
.
.
"..cchi..Tetsuyacchi.."
"Nggh?" Kuroko merasa ada yang memanggil namanya, ia pun bangun. "Ryouta-kun?"
"Ayo makan, lalu kau harus minum obat." Ujar Kise sambil meletakan nampan berisi bubur, minum, dan obat di atas meja samping tempat tidur.
Kuroko pun membalas sambil mengusap kedua matanya "Mnnh.. iya.."
Kise pun membantu Kuroko untuk duduk, takut-takut ia masih pusing. "Apa masih pusing, Tetsuyacchi?"
"Mmh? Tidak, Ryouta-kun. Sudah mendingan."
"Aah.. syukurlah.. kalau begitu sekarang aku suapi, ya?"
"Eh?" Seketika itu juga wajah Kuroko langsung merah.
"Mau disuapi pakai sendok atau lewat mulut, hm?" tanya Kise sambil menggoda Kuroko.
"Eh.. A..aku makan sendiri saja.." Kuroko menundukan wajahnya yang merah karena malu.
"Tidak boleh. Orang sakit harus duduk manis, aku akan menyuapi mu."
"Pa..pakai sendok ya.." jawab Kuroko dengan gugup.
"Tentu saja, apa kau mengharap yang lebih, Tetsuyacchi?"
"Ukh.. Ryouta-kun no baka." Kuroko menggembungkan kedua pipinya.
"Eh? Hidoiii.." Kise pura-pura merengek. "Jaa, buka mulutmu.." kata Kise setelah meniup bubur yang masih panas itu.
Kuroko pun menurut dan membuka mulutnya. "Aaa." Kuroko memakan bubur itu dengan Kise menyuapinya. Sendok per sendok, Kise menyuapi Kuroko hingga akhirnya bubur itu habis.
"Aah.. aku kenyang.." ujar Kuroko sambil mengelus perutnya.
"Heheh.. apa enak, Tetsuyacchi?"
"Hm.. tidak." Jawab Kuroko dengan wajah datarnya sambil menengok ke arah Kise.
"Eh? Tidak enak?!"
Melihat reaksi Kise pun Kuroko terkekeh "Pfft.. ahaha.. enak kok, aku hanya bercanda. Arigatou, Ryouta-kun."
"Mou.. aku kira benar-benar tidak enak." Kise pun mencubit pipi Kuroko.
"Umh.. Ryouta-kun.. jangan dicubit.."
"Habis.. Tetsuyacchi terlalu kawaii.."
Kuroko yang mendengar kalimat itupun langsung blushing saking malunya. "Uuh.."
"Ah, Tetsuyacchi, malam ini sebaiknya kau menginap bersamaku. Besok kita pulang bersama-sama saja, bagaimana? Lagipula ini sudah jam 10, kereta ke Tokyo juga sudah tidak ada."
"Hm.. mungkin lebih baik begitu.."
"Jaa, aku akan menemanimu tidur." Kata Kise.
"Eh? Umn.. ba..baiklah.."
"Eh? Tetsuyacchi? Kenapa wajahmu merah? Kau mengharap sesuatu, hm?"
"Ti..tidak!" Kuroko langsung menyangkal pernyataan Kise dengan wajah yang begitu merah.
Kise lalu membereskan mangkok bubur tadi setelah membantu Kuroko meminum obatnya. Ia lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidur, kemudian masuk ke dalam selimut dan menemani Kuroko tidur.
"Oyasumi, Tetsuyacchi.."
"Oyasumi, Ryouta-kun."
Mereka berdua pun terlelap, memasuki alam mimpi. Mimpi indah yang sudah lama tidak dirasakan oleh Kuroko.
.
.
.
TBC
