Author's note: halo~ minna-san.. gimana cerita author sejauh ini? apa menarik? atau ada bagian yang menurut kalian aneh dan ambigu? atau nggak suka? atau- #authordilemparsendal . Udah deh, langsung baca aja.. ^^ read and review please.. kritik dan saran sangat diterima disini.

Special thanks to: Dewi15, Kuro Kid, outofblue, Flow. L, KyraAkaKuroLover, Yuna Seijuurou, dan Myadorabletetsuya. Berkat para reviewers dan readers semua, author semangat ngetik cerita dan bahagia bgt deh bgitu dpt review ^^ hehe.. arigatou minna~


Chapter 12

"Nmh.." Kuroko menggeliat di atas tempat tidur king size yang empuk itu. AC yang dingin membuatnya kembali menarik selimut hingga sebatas leher. Merasa ada sesuatu yang menggeliat di sampingnya, Kuroko perlahan membuka matanya. Ia berusaha duduk di tempat tidur sambil mengusap kedua matanya yang masih mencoba memfokuskan pandangan. Kuroko menengokan kepalanya ke samping kanan, tempat dimana Kise tidur.

'Ah.. iya ya.. semalam aku menginap dengan Ryouta-kun..' gumam Kuroko dalam hati. Ia memperhatikan wajah Kise yang sedang tertidur dengan seksama. Kulitnya putih, surai kuningnya yang secerah mentari, dan bulu matanya yang panjang dan lentik. Tak salah bahwa ia menjadi model terkenal di Jepang. Kuroko mengelus surai kuning Kise dengan lembut sambil tersenyum tipis.

"Nngh.." Kuroko bangun akibat ada sesuatu atau lebih tepatnya, seseorang membelai surai birunya. Kuroko membuka kedua matanya, menampakan manik biru secerah langit musim panas itu kepada dunia. Butuh beberapa menit untuk Kuroko menyesuaikan pandangannya dengan ruangan sekitar yang familiar itu. Kamar Akashi. Ia sudah sering menginap di rumah Akashi, wajar jika kamar Akashi adalah pemandangan biasa bagi Kuroko.

"Ohayou, Tetsuya.." tiba-tiba Akashi memberikan salam padanya.

"Ah, Ohayou.. Sei-kun.." Kuroko membalas dengan senyum di wajahnya yang manis.

"Mau makan? Sudah kusiapkan sarapan."

"Eh? Ah.. arigatou, Sei-kun.."

Kuroko tampaknya melamun hingga Kise bangun, ia tak sadar. Kise pun beberapa kali berusaha memanggil Kuroko. Setelah yang kesepuluh kali dipanggil, Kuroko baru sadar dari lamunannya.

"Tetsuyacchi?"

"Eh? Ah.. Ryouta-kun.. Ohayou…" Kuroko berucap pada Kise dengan senyum tipis.

"Mou.. kenapa melamun? Apa yang membuatmu melamun?"

Dengan sedikit panik dan menghindari tatapan Kise, Kuroko membalas, "Ah? Bukan apa-apa, Ryouta-kun.."

Kise menampakan wajah sedihnya. "Tetsuyacchi… keingat dia , ya-ssu?"

Perkataan Kise barusan berhasil membuat Kuroko membulatkan kedua matanya. Ia buru-buru mengembalikan ekspresi datarnya dan memilih untuk tutup mulut.

"Haah.. Tetsuyacchi…"

Hanya satu kata yang terlontar dari mulutnya, "..gomen.." Lalu suasana diantara mereka jadi sunyi dan canggung sebelum akhirnya Kise memecah keheningan.

"Mou, baiklah.. aku akan mandi duluan. Setelah itu Tetsuyacchi mandi lalu kita sarapan dan check out terus langsung pulang saja-ssu."

"Baik, Ryouta-kun.."


.

.

.


"Tetsuyacchi, kau bisa turun ke lobby duluan. Aku sebentar lagi selesai membereskan koperku-ssu.."

"Ah, baik, Ryouta-kun.." setelah menjawab Kise yang sedang membereskan kopernya, Kuroko melangkahkan kaki menuju lift. Ia memencet tombol menuju ke lantai bawah. Setelah beberapa menit, pintu lift terbuka.

"Tetsuya?" Suara familiar itu sukses membuat Kuroko tegang. Ia tahu benar siapa pemilik suara itu. Suara yang sangat ia suka, suara milik orang yang ia cintai. Kuroko yang tadi menunduk ke bawah pun mendongak. Manik birunya menatap manik heterokrom di hadapannya. "A..Akashi-kun.." Kuroko tergagap membalas Akashi. Tiba-tiba, Kise datang.

"Tetsuyacchi! Kenapa masih di sin—" Kise tak jadi meneruskan kalimatnya begitu melihat Akashi di dalam lift, yang pintunya masih terbuka.

"R..Ryouta-kun?!" Kuroko terkejut melihat Kise.

"Tetsuyacchi? Ryouta-kun?" Akashi bertanya. Sebelah alisnya dinaikan, tanda ia tak mengerti atau lebih tepatnya bingung dengan panggilan masing-masing.

Kise lalu merangkul Kuroko dan membalas, "Iya, kami berdua pacaran-ssu."

"Pacaran? Kau dan Tetsuya?" Akashi bertanya lagi. Sedangkan Kuroko diam saja, tidak menanggapi, malah memalingkan wajahnya tak ingin menatap Akashi.

"Iya, benar-ssu.."

Akashi pun terkekeh lalu menjawab, "Hmh.. baguslah… sesama orang naïf bisa berpacaran. Aku sudah tidak butuh Tetsuya. Aku sudah menemukan pengganti mu di klub basket."

"…" Wajah Kuroko tetap datar seperti biasa, namun hatinya menangis. Ia sakit hati dengan perkataan Akashi barusan. Tak cukupkah ia melukainya secara fisik, kini juga melukainya secara verbal? Kuroko hampir menitikan air mata. Ia menundukan kepalanya sehingga Akashi dan Kise tidak dapat melihat ekspresi yang ia buat.

"Kau!" Kise pun geram begitu mendengar perkataan Akashi yang ditujukan kepada Kuroko.

"Sudah, Ryouta-kun. Kita lebih baik check out sebelum ketinggalan kereta ke Tokyo." Kuroko berusaha menenangkan Kise, ia menarik sedikit lengan baju Kise dan mengajaknya pergi sebelum terjadi perkelahian.

"… Baiklah. Kita turun lewat jalan lain saja-ssu" Kise pun mendengus kesal dan langsung menarik koper yang ia letakan tadi lalu menggandeng Kuroko untuk turun lewat tangga. Kise tak sudi satu lift dengan orang macam dia. Pintu lift itupun kembali tertutup.


.

.

.


"Tch.. apa yang kulakukan padanya, sih? Dasar bodoh…" Akashi merutuki dirinya sendiri. Oh? Apakah kini seorang Akashi Seijuuro yang absolut sedang menyesali keputusannya? Akashi lalu menggelengkan kepalanya sendiri beberapa kali.

"Tidak..tidak.. aku tidak suka padanya. Seperti orang bodoh saja." Ujar Akashi pada dirinya sendiri. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Akashi memegangi dadanya yang terasa sakit. "Apa… ini.." gumamnya. Akashi yang sedang bersender di dinding lift merosot ke bawah. Ia duduk di lantai dingin lift itu, tak peduli celananya yang akan kotor. Percuma, ia tidak bisa mengehentikan rasa sakit di dadanya itu. Ia duduk di lantai lift sambil terus memegangi bagian dadanya.

"Sakit…" Akashi terus menggumamkan kata-kata 'sakit' pada dirinya sendiri. Akashi memejamkan matanya sambil terus memegangi bagian dadanya yang sakit.


.

.

.


"Ry..Ryouta-kun.."

"…"

"Ittai, tolong lepaskan tanganku."

Kise yang sedari tadi menuruni tangga dengan sedikit berlari sambil menarik Kuroko di belakangnya berhenti melangkah. Masih menggenggam pergelangan tangan Kuroko, Kise berhenti sejenak di tangga. Ia tidak menolehkan wajahnya ke arah Kuroko.

"Ryouta-kun?"

"…"

"Ada apa?"

"…"

"Apa.. kau marah?"

"Tidak. Sudah, lebih baik kita turun sekarang-ssu." Jawab Kise dengan cuek.

"Ah.. ha..ha'i.."

Mereka berdua kembali menuruni tangga tanpa Kise menarik tangan Kuroko. Kuroko pun dibuat bingung. Tampaknya sang 'kekasih' sedang marah. Bisa didengar dari nada bicaranya yang cuek dan jawabannya yang pendek itu. Kuroko lebih memilih diam, daripada ia bertanya macam-macam, Kise bisa saja marah. Sampai di lobby hotel, Kuroko duduk di sofa sambil menunggu Kise selesai check out. Ia tak tahu, dari jauh sepasang mata heterokrom scarlet-gold sedang memandangi dirinya. Mata itu menyiratkan kesedihan, entah apa yang membuatnya sedih.

"Tetsuyacchi.."

"Ah, Ryouta-kun. Sudah selesai?"

"Sudah-ssu.. sekarang kita langsung pulang ke Tokyo saja, ya? Atau Tetsuyacchi mau jalan-jalan di Kyoto dulu?"

"Tidak usah, Ryouta-kun. Kita langsung pulang saja." Kata Kuroko sambil menggeleng pelan.

"Hm.. baiklah, ayo.." Kise berpikir bahwa Kuroko sudah lelah karena perjalanan jauh, namun tidak, bukan itu alasannya. Alasan Kuroko ingin langsung pulang adalah ia takut berpapasan dengan Akashi. Bagaimanapun juga, hatinya masih sakit ketika melihat sosok Akashi Seijuuro. Surai merahnya, mata heterokromnya, caranya berjalan, caranya berbicara, semua membuat Kuroko semakin rindu pada sosok mantan 'kekasih' nya itu. Kuroko memegangi bagian dadanya yang terasa sakit. 'Sei-kun…'


Kise sedari tadi memandangi Kuroko. Kise mencoba mengajak Kuroko untuk mengobrol di perjalanan mereka menuju stasiun, namun tak ada tanggapan yang diberikan oleh Kuroko. Kise pun yang mengoceh langsung berhenti dan memandangi Kuroko. Wajahnya sendu. Manik birunya yang redup itu berair, hendak menangis. Mulutnya memang tidak melengkung keatas maupun kebawah, mulutnya membentuk garis datar. Namun, mata itu jelas menyiratkan kesedihan yang amat mendalam. Kise pun ikut sedih melihat keadaan Kuroko. Ia bisa hancur kapan saja. Melihat Kuroko seperti ini, Kise justru semakin dendam pada Akashi, ia membuat seolah-olah Akashi menjadi sumber dari masalah ini. Memang benar, namun tidak sepenuhnya. Kuroko juga menjadi bagian dalam masalah ini, ia terlanjur jatuh cinta pada Akashi dan menghiraukannya ketika ia dipermainkan oleh Akashi yang sangat ia cintai.

"Tetsuya.."

"Sei-kun.."

"Aishiteru yo, Tetsuya.."

Dengan wajah merah padam, Kuroko membalas, "Boku mo, Sei-kun.. aishiteru yo.."

Akashi memeluk Kuroko dengan erat, lalu menciumnya dengan begitu mesra. Ciuman di tengah hujan salju merupakan hal yang dianggap romantis oleh Kuroko. Merupakan keinginan Kuroko untuk berciuman dengan orang tercinta dibawah hujan salju, dan tentu apapun yang Kuroko inginkan dikabulkan oleh sang kekasih tercinta, Akashi Seijuuro.

"Nee, Tetsuya.."

"Hm?"

"Lanjutan dari ciumannya di apartemenmu."

"E..eh?!" Kuroko pun sukses dibuat blushing karena kalimat barusan.

"Apa.. kau tidak mau?"tanya Akashi

Kuroko menjawab sambil menundukan kepalanya "Umn.. a..aku mau, Sei-kun.."

Akashi tersenyum lalu menggandeng tangan kiri Kuroko. Menggenggamnya dengan begitu erat, seolah-olah tidak ingin melepaskan Kuroko.

"Ayo, Tetsuya.."

"Umn.. Sei-kun.."

Mereka berdua berjalan berdampingan. Bergandengan tangan, menyusuri kota Tokyo yang dingin menuju ke apartemen Kuroko. Berdampingan dibawah guyuran salju putih yang jatuh perlahan dari langit ke bumi, menambah kesan romantis bagi mereka.

"Tetsuyacchi.."

Panggilan dari Kise membuatnya tersadar dari lamunan "Ah, Ryouta-kun?"

"Mou, kau melamun lagi… kau masih memikirkan dia?"

"Eh? Ehm.. yah.." Jawab Kuroko pelan sambil menghindari tatapan mata Kise

"Tetsuyacchi.."

"Ryouta-kun, gomenne.. aku ternyata memang masih suka pada Akashi-kun. Jika kau tidak mau terluka sebaiknya jangan berpacaran denganku. Aku.. jadi merasa buruk. Rasanya aku ini seperti menjadikanmu pelampiasan, dan menggunakanmu untuk mengalihkan kesedihanku." Kata Kuroko, tatapannya sedih.

Sambil menggeleng, Kise menjawab "Hm..mm.. Tidak.. tidak apa-apa. Aku akan membuat Tetsuyacchi melupakan dia dan membuatmu suka padaku-ssu. Aku sudah tahu resikonya-ssu."

"Ryouta-kun.. tapi.. aku merasa bersalah.."

"Tidak perlu merasa bersalah, Tetsuyacchi. Pelan-pelan saja, aku tahu melupakan orang yang kau cintai itu susah."

"Um.. Arigatou, Ryouta-kun." Kuroko tersenyum tipis mendengar jawaban Kise. Karakter Kise yang ceria dan cerah, membuat dirinya sedikit lebih tenang dan merasa dicintai. Namun jauh, jauh di dalam hatinya ia masih menyimpan perasaan cinta untuk Akashi, malah mungkin perasaan itu jauh lebih besar dibanding perasaan cintanya pada Kise, 85% banding 15% kira-kira bila masuk presentasi. Mau disangkal juga tidak bisa. Akashi Seijuuro adalah yang pertama Kuroko Tetsuya, cinta pertama, pacar pertama, orang spesial pertama, orang yang pertama kali menggandengnya selain keluarga, pengalaman pertama, kebahagiaan pertama, memori indah bersama orang lain yang pertama, semua adalah Akashi. Tentu sulit untuk melupakannya.


.

.

.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Kuroko dan Kise sampai di Tokyo. Mereka baru sampai sore hari menjelang malam, akibat kereta yang ditunda beberapa jam, padahal perjalanan Kyoto ke Tokyo saja sudah lumayan lama. Kise mengantar Kuroko sampai ke apartemennya jalan kaki, berhubung apartemen Kuroko tidak terlalu jauh dari stasiun.

"Arigatou, sudah mengantarku, Ryouta-kun."

"Iya, tidak masalah. Ah, Tetsuyacchi.."

"Hm? Ada apa?"

"Jaga kesehatan. Besok kan kita wisuda."

"Ah, kau benar.. tak terasa.. besok kita sudah lulus dari Teiko, Ryouta-kun.."

"Iya-ssu.. aku tidak sabar masuk SMA."

"Ngomong-ngomong, Kise-kun masuk ke SMA mana?"

"Kaijo."

"Ah, Kaijo di Kanagawa?"

"Iya.."

"Ah.. souka…"

"Aku akan sering-sering main ke Seirin, Tetsuyacchi.."

"Tidak usah, nanti merepotkan Ryouta-kun.."

"Tidak, tidak merepotkan karena aku yang mau.." ujar Kise sambil tersenyum.

Kuroko pun ikut tersenyum. "Baiklah.."

"Jaa na, oyasumi Tetsuyacchi.."

"Oyasumi, Ryouta-kun.."

Kise berjalan meninggalkan apartemen Kuroko. Ia melambaikan tangannya ke arah Kuroko dan Kuroko pun membalas lambaian tangan Kise sebelum akhirnya ia menghilang dibalik tikungan jalan. Kuroko menurunkan tangannya yang tadi melambai ke arah Kise. Ia menundukan kepalanya. Memori dirinya dan Akashi kembali terputar di otaknya.

"Jaa na, Tetsuya.."

"Jaa, Sei-kun.."

"Jaga kesehatanmu.."

"Um, tentu saja Sei-kun.."

"Ah, sebelum itu, goodnight kiss untukku, mana?" pinta Akashi yang malam itu hendak pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu dengan Kuroko seharian.

"E..eh?" wajah Kuroko pun merah mendengar permintaan Akashi. "Aku tidak bisa…"

"Tetsuya…ayolah.. aku menunggu.." ujar Akashi sambil mendekatkan wajahnya kepada wajah Kuroko.

"Ugh.." Kuroko pun menyerah. Ia berjinjit sedikit lalu mengecup pipi kanan Akashi.

"Arigatou, Tetsuya.."ucap Akashi sambil tersenyum lembut. "Oyasumi.."

"Oyasumi, Sei-kun. Hati-hati di jalan."

"Umn.." Akashi pun lalu melangkahkan kedua kakinya meninggalkan apartemen itu menuju ke rumahnya.

'Sei-kun.. Aishiteru..'

Air mata mengalir, membasahi kedua pipi Kuroko. Ia berusaha melupakan Akashi namun selalu gagal. Apapun yang ia lakukan mengingatkan dirinya akan Akashi. Ketika ia makan, ia teringat sarapan yang pernah dibuatkan oleh Akashi untuk dirinya. Ketika hendak membaca novel, ia teringat novel favorit mereka berdua yang selalu dibaca bersama. Ketika hendak mandi, Kuroko teringat waktu mereka berendam bersama di bathtub milik Akashi sambil bercanda ria. Ketika ingin tidur, ia teringat belaian lembut dan hangat dari tangan Akashi. Ketika ingin pergi, ia teringat kencannya dengan Akashi. Apapun yang ia lakukan mengingatkan dirinya akan Akashi, mustahil untuk melupakan Akashi, Kuroko terlalu mencintai Akashi. Ia jatuh cinta terlalu dalam pada Akashi, bagai masuk ke dalam lubang yang begitu dalam, tak bisa keluar lagi. Terperangkap dalam lubang yang bernama cinta. Terperangkap dalam permainan yang dibuat Akashi, permainan licik bernama cinta.

Kuroko mengusap matanya yang mengalirkan air mata, ia melangkahkan kedua kakinya masuk ke apartemen. Udara di luar sudah semakin dingin. Ia tidak mau absen saat wisuda besok, jadi ia masuk ke dalam dan segera menghangatkan tubuhnya. Kuroko berdiri dibawah guyuran air hangat dari shower nya. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat itu. Setelah merenung beberapa lama di bawah guyuran air, Kuroko keluar dari kamar mandi lalu memakai baju tidurnya dan langsung tidur. Mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya yang sudah sangat lelah.

'Sei-kun.. Aishiteru..' Setelah mengucapkan kalimat ini, Kuroko pun terlelap, ke dalam mimpi buruknya. Tidak ada Akashi disana, hanya ada ruang kosong yang hampa, dan ia sendirian.

.

.

.

TBC