Author's note: minna-san.. doumo.. akhirnya author update chapter 13 ^^ karena chapter ini pendek, mungkin author bakal update hari selasa atau rabu ya ^^. Jadi .. gimana ceritanya sejauh ini? Yah, author seneng sih.. review dari pada readers positif ^^ jadi.. bolehlah ya ceritanya.. pls read and review :) kritik dan saran sangat diterima

Special thanks to: Dewi15, KyraAkaKuroLover, Yuna Seijuuro, dan Flow. L . Juga makasih banyak buat para readers ^^ douzo..


Chapter 13

"Mm.." erangan kecil keluar dari mulut Kuroko pagi itu. Ia tidak menyalakan AC namun sepertinya udara di luar masih dingin, membuat tubuhnya hampir membeku. Kuroko kembali menarik selimutnya hingga ke atas kepalanya. Udara di luar dingin dan di dalam kasurnya hangat, tentu saja perbedaan suhu ini membuat Kuroko jadi malas bangun. Tiba-tiba jam weker biru di meja kecil samping kasur itu berbunyi nyaring. Kuroko pun sontak langsung terbangun karena kaget mendengar suara jam weker yang berada persis di samping telinganya.

"Uuh.. untung aku ini tidak jantungan.." gerutu Kuroko. Sambil mematikan jam weker yang berbunyi, Kuroko mengusap kedua matanya. Kuroko menyingkap selimut biru tebal miliknya lalu melangkahkan kaki menuju jendela kamar. Ia membuka korden jendela kamarnya, menikmati pemandangan jalan di depan apartemen. Kuroko lalu mengambil handuknya dan pergi mandi. Memang sekarang sudah bulan Maret, tapi udara di luar masih saja sedikit dingin. Tapi sedikit bagi orang rata-rata adalah sangat bagi Kuroko yang tubuhnya lemah dan gampang sakit. Setelah mematikan keran shower, Kuroko keluar dari kamar mandi dan memakai seragam Teiko nya. Kemeja biru muda, celana hitam, dasi hitam, dan jas putih dengan logo Teiko dipakai Kuroko dengan rapi, ia lalu berjalan menuju ke cermin.

'Ini… terakhir kali aku memakai seragam Teiko…' ujarnya di dalam hati saat bercermin. Manik birunya menangkap pantulan dirinya di cermin. "Ah, sembab lagi.." ujar Kuroko sambil memegang kedua matanya yang merah dan sembab itu. Yah, bagaimana tidak sembab bila semalam ia menangis lagi? Kuroko membasahi handuk kecil dengan air lalu mengompres matanya. Setelah sembab di matanya hilang, Kuroko mengambil tas sekolahnya dan tidak lupa memakai syal. Ia lalu langsung berangkat ke sekolah. Setelah berjalan beberapa menit, ia akhirnya sampai di sekolah. Kuroko melangkahkan kakinya menuju ke auditorium, tempat dimana wisuda akan dilaksanakan. Ia mencari tempat duduk kelasnya, 3-1.

"Tetsuyacchi!" Kise yang menyadari kehadiran Kuroko berteriak sambil melambaikan tangannya dari tempat duduk. Kuroko membalas lambaian tangan Kise dan berjalan mendatanginya.

"Ohayou, Ryouta-kun.." sapa Kuroko.

"Ohayou, Tetsuyacchi! Bagaimana tidurmu?"

"Yah.. nyenyak.." tidak. Sama sekali tidak nyenyak. Kuroko berbohong. Ia bermimpi buruk, namun berbohong supaya Kise tidak menanyainya macam-macam. Kuroko lalu duduk di samping Kise dan meletakan tasnya di bawah bangku. Wisuda akan dimulai pukul 8 pagi, dan sekarang masih pukul 7 pagi. Auditorium belum ramai, belum banyak siswa yang sampai di auditorium. Kuroko lalu mengeluarkan ponsel birunya dari saku lalu memainkan ponsel itu karena bosan. Tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk. Kuroko membuka pesan masuk itu dan membacanya.

"Ah, Ryouta-kun.. aku permisi dulu. Ada sedikit urusan."

"Urusan? Baiklah.. cepat kembali, ya.."

"Iya, Ryouta-kun.."

Kuroko berdiri dan melangkahkan kaki keluar auditorium besar milik Teiko itu menuju ke tempat yang dimaksud dalam pesan. Ia menyusuri koridor sekolah yang masih sepi. Angin semilir berhembus menemaninya berjalan hingga akhirnya ia sampai di halaman belakang sekolah, tempat yang dimaksud. Kuroko mencari-cari sosok yang memanggilnya ke halaman belakang. Setelah manik birunya menangkap sosok itu, Kuroko memanggilnya.

"Aomine-kun.."

Orang yang dipanggil pun menoleh "Ah, Tetsu.."

"Ada apa memanggilku ke sini?"

"Ah, yah.. hanya sekedar… berbicara."

"Tentang apa?"

"Ehm.." Tampaknya Aomine bingung dan mulai menggaruk kepalanya.

"Bila tidak penting sebaiknya aku kembali, diluar sini terlalu dingin." Kata Kuroko, mulai melangkahkan kaki untuk kembali ke auditorium.

"Tunggu!"

Kuroko menghentikan langkahnya dan menoleh ke Aomine, menunggu pertanyaan. "…"

"Itu.. apa benar, kau putus dari Akashi?"

Kuroko kaget, bagaimana bisa berita ia putus dengan Akashi tersebar. "… Iya.. benar."

"Kenapa?"

"Kau tidak perlu tahu, Aomine-kun."

"Tapi aku.."

"Gomen, Aomine-kun. Aku harus kembali sekarang. Ryouta-kun akan khawatir jika aku tidak kembali sekarang." Ujar Kuroko dengan wajah datar.

Aomine bingung "Eh? Ryouta-kun?"

"Kise Ryouta-kun, Aomine-kun. Apa kau lupa dengan sahabatmu?" tanya Kuroko

"Nng.. tidak…"

"Lalu, kenapa?"

"Tunggu! Kau.. pacaran dengan Kise?"

"Iya, aku pacaran dengan Ryouta-kun. Apa ada yang salah?"

"Tentu saja, kan? Aku dengar kau baru putus dari Akashi lalu sekarang kau sudah pacaran dengan Kise?"

"Mengapa itu salah?"

"Tetsu, jangan bilang kau memutuskan Akashi untuk Kise."

Kuroko bingung harus menjawab apa, sehingga lebih memilih untuk tutup mulut. "…"

"Jadi.. benar?!"

Kuroko langsung mendongak dan menyangkal perkataan Aomine "Tidak, bukan—" itulah rencana awalnya sebelum kepalan tangan Aomine mendarat di pipi kirinya. Kuroko jatuh ke bawah. Ia memegangi pipi kirinya yang baru saja dipukul oleh Aomine.

"Aku tidak menyangka kau seperti itu, Tetsu."

"…"

"Ku pikir kau ini orangnya setia. Ternyata tidak. Aku salah berteman denganmu."

"Aku tidak…"

"Tidak apa, Tetsu?!" Aomine geram.

"…" Air mata mulai jatuh membasahi pipi Kuroko.

Ternyata, dari tadi Murasakibara dan Midorima pun mendengarkan obrolan mereka. Murasakibara lalu berkata, "Aku tidak menyangka Kuro-chin seperti itu.."

Hati Kuroko tambah sakit. Dipermainkan oleh Akashi, kini ditambah Aomine dan Murasakibara yang salah paham padanya. Apa ia terlihat seperti orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain? Apa ia terlihat seperti seorang penghianat?

"Murasakibara, Midorima, ayo pergi" ajak Aomine pada kedua temannya.

Midorima tak menjawab dan Murasakibara pergi mengikuti Aomine menuju ke auditorium. Midorima lalu mengarahkan pandangannya ke arah Kuroko. "Kau, baik-baik saja?"

Kuroko lalu mendongakan kepalanya. "Midorima-kun.."

Midorima menghela nafas lalu menjawab Kuroko, "Sekarang kita ke ruang kesehatan saja, sambil mengobati lukamu kau bisa menceritakan semuanya padaku."

"Ha'i, arigatou, Midorima-kun." Kuroko lalu berdiri dan mengekor Midorima menuju ke ruang kesehatan. Midorima membuka pintu putih itu lalu mempersilakan Kuroko masuk duluan dan menutupnya kembali. Kuroko duduk di salah satu kasur dan menunggu Midorima mencari obat yang dibutuhkan.

"Jadi, Kuroko. Apa benar kau putus dari Akashi untuk Kise?"

"Menurut Midorima-kun, aku ini… apa terlihat seperti seorang yang suka mempermainkan perasaan orang lain?"

"Hm? Entahlah.. jawab saja pertanyaanku."

"Akan kuceritakan padamu, Midorima-kun. Semuanya, yang sebenarnya. Aku harap dengan begini salah paham bisa dihentikan."

"Baiklah, mulai cerita."

"Benar, aku putus dari Akashi-kun. Tapi itu bukan karena aku memilih Ryouta-kun dibanding Akashi-kun."

"Lalu kenapa kau berpacaran dengan Kise? Bukankah itu berarti kau mempermainkan perasaannya? Berpacaran dengannya namun tidak suka padanya."

Kuroko tersenyum tipis lalu menjawab, "Itulah.. yang terjadi padaku, Midorima-kun."

"Hah? Maksudmu?" Midorima tampaknya bingung dengan maksud perkataan Kuroko.

"Akashi-kun.. tidak suka padaku. Aku ini hanya alat bagi Akashi-kun, supaya tim basket Teiko bisa menang." Ujar Kuroko sambil menundukan wajahnya.

"Hah?!" Midorima pun terkejut.

"…." Kuroko menundukan wajahnya.

"Maksudmu.. Akashi.. tidak serius padamu?"

"Iya, dan hari itu Ryouta-kun yang menghiburku. Ia memintaku jadi pacarnya."

"Dari mana kau tahu Akashi mempermainkanmu? Jangan-jangan itu hanya rumor."

"Hm.. aku percaya telingaku ini tidak salah dengar, Midorima-kun." Kata Kuroko.

"Kuroko.."

"Ah, kita harus ke auditorium sekarang, Midorima-kun. Nanti kita terlambat."

"Kau tahu, Kuroko.."

"Hm?"

"A..aku tidak keberatan bila kau berbagi ceritamu padaku." Kata Midorima sambil membuang muka dan membetulkan letak kacamatanya, ia tidak terbiasa memberikan perhatian pada orang lain.

Kuroko terkejut namun ia akhirnya tersenyum. "Arigatou, Midorima-kun. Aku harap aku bisa menyelesaikan salah pahamku dengan Aomine-kun dan Murasakibara-kun."

Mereka berdua pun keluar dari ruang kesehatan dan berjalan menuju ke auditorium, karena sebentar lagi acara wisuda akan dimulai. Kuroko melangkahkan kaki menuju tempat duduknya tadi di samping Kise.

"Tetsuyacchi?! Wajahmu.. kenapa?"

Kuroko memegang pipi kirinya yang tadi dipukul Aomine dan menjawab, "Ini? Hanya 'salam perpisahan' lulus SMP, Ryouta-kun."

"Haah? Jangan bercanda."

Kuroko hanya tersenyum tipis. Saat itu, Aomine lewat di depan bangku mereka dan memandang Kuroko dengan sinis. "Ah, aku malas duduk disebelah sini… ada penghianat.." ujarnya sambil memandang Kuroko. Kuroko tidak memandang Aomine dan menundukan wajahnya. Merasa ada yang aneh, Kise berdiri dan menghampiri Aomine.

"Aominecchi! Apa yang kau katakan pada Kurokocchi?!" gertak Kise.

Aomine pun membalikan badannya dan menjawab, "Aku hanya berbicara fakta, kok. Aku tak sudi duduk dengan seorang penghianat."

"Siapa yang penghianat?!"

"Sudah jelas bukan. Dia…" kata Aomine sambil menunjuk Kuroko yang sedang duduk.

Kise menarik kerah baju Aomine. "Kau!"

Tiba-tiba Kuroko berdiri dan menghampiri Kise. "Ryouta-kun, sudah.. acara wisuda sudah mau mulai. Jangan bertengkar disini."

Kise mendengus, "Hmph.. ya sudah." Mereka berduapun kembali ke tempat duduk dan menunggu kepala sekolah memberikan pidato pembuka. Aomine pun berlalu dan duduk di bangku kelasnya.


.

.

.


Acara wisuda pun selesai. Kuroko buru-buru mengambil tasnya dan pergi meninggalkan auditorium. Berkat misdirection nya, ia bisa langsung keluar dan menghindari semua orang yang ia kenal. Kuroko menghela nafas, bagaimapun caranya ia harus menghentikan salah paham anta dirinya dengan Aomine dan Murasakibara. Kuroko berjalan menyusuri halaman sekolah yang kosong. Ia duduk di salah satu bangku kayu yang ada. Menikmati sebentar pemandangan yang menenangkan hati yang sebentar lagi tak bisa ia lihat di Seirin. Kepalanya menengadah ke atas, memperhatikan awan putih yang bergerak dan langit yang biru.

"Tetsuya.."

Kuroko menoleh ke belakang "Sei-kun.."

Siang itu, Kuroko sedang duduk sendirian di halaman belakang sekolah yang agak terpojok dan jauh dari gedung sekolah. Ia sedang duduk di bangku kayu bercat coklat sambil menikmati angin semilir yang berhembus dan langit biru yang cerah.

"Kau sedang apa sendirian di sini, hm?"

"Aku sedang menikmati pemandangan di sini, Sei-kun."

"Ah.. souka?"

"Sei-kun sendiri ke sini ada apa? Tumben sekali.."

"Aku mencarimu, Tetsuya."

"Mencariku? Ada apa?"

"Aku mau mengajakmu makan siang bersama."

"Ah, baiklah."

"Makan di sini mau? Sambil menikmati pemandangan." Tanya Akashi

"Umn, mau.." jawab Kuroko sambil menganggukkan kepalanya.

Mereka berdua duduk di bangku kayu itu bersebelahan, lalu Kuroko menyerahkan bento buatannya pada Akashi.

"Ini apa, Tetsuya?"

"Bento" jawab Kuroko dengan wajah datarnya seperti biasa.

"Aku tahu.. tapi maksudmu apa?"

"Untuk Sei-kun..aku membuatkannya.."

Mata Akashi membulat karena terkejut, namun ia tersenyum. "Arigatou na, Tetsuya…"

"Um.."

"Ah, kau bisa menjadi istri yang baik untukku, hm, Tetsuya?"

Wajah Kuroko langsung merah seketika "E..eh?"

"Kenapa? Kau tidak mau?"

"Bu..bukan beigtu.. tapi.. Sei-kun tiba-tiba saja…"

"Heh.. wajahmu kawaii, Tetsuya.."

"Uuh.. Sei-kun.."

Akashi lalu tiba-tiba mencium Kuroko yang sedang mengerucutkan bibirnya akibat ngambek plus malu dengan ucapan Akashi.

"Sei-kun.. aishiteru yo."

"Aishiteru, Tetsuya.."

Kuroko tersenyum pahit mengenang memori mereka berdua. Memorinya dan Akashi. Setiap hari semenjak dirinya putus dengan Akashi, memori dirinya dan Akashi selalu terputar kembali. Membuat hati Kuroko tambah sakit. Kenangan manis itu, semua bohong. Perlakuan spesial dari Akashi itu, semua palsu. Kuroko kembali menitikan air matanya. Sudah tak terhitung lagi berapa kali Kuroko menitikan air mata semenjak dirinya tahu Akashi hanya memperalatnya. Ia masih mendongakan wajahnya ke atas, memandangi awan putih dan langit biru.

"Sei-kun.."

.

.

.

TBC