Author's note: Minna-san~ xixixixi =w= *author dilempar sendal* Oke, cukup.. sekarang serius. Sesuai yang author bilang, author update hari ini~ dan untuk update selanjutnya hari Sabtu minggu depan tapi ya~ karena chapter ini lumayan panjang, walaupun ga sepanjang kereta api *apa deh* bai bai :3

Special thanks to: Dewi15, p.w sasusaku, Flow . L, dan para readers yang selalu sempat membaca ff author ini ;A; arigatou~ douzo.. minna-san...


Chapter 14

Musim sudah berganti. Musim semi menggantikan musim dingin. Bunga-bunga mulai bermekaran. Memberikan warna baru selain putih salju yang terlihat selama musim dingin. Udara pun sudah mulai hangat walau masih sedikit dingin. Tampak seorang pemuda bersurai baby blue melangkahkan kaki menuju sekolah barunya sambil membaca novel bersampul putih. Manik birunya tak pernah meninggalkan novel di genggamannya itu, seakan tak peduli jika ia menabrak seseorang. Ia mengenakan seragam gakuran hitam dengan garis biru ditengahnya, seragam khas Seirin. Akhirnya pemuda bernama Kuroko Tetsuya itu sampai di sekolah barunya. Ia memasukan novel yang sedari tadi ia baca ke dalam tas. Kuroko berjalan menyusuri Seirin, masuk ke dalam gedungnya dan mencari letak kelasnya, 1-4. Setelah menemukan kelasnya, ia masuk ke dalam dan duduk di pinggir dekat jendela seperti tempat duduk lamanya di Teiko. Selama liburan, ia tidak berhasil mengontak Aomine maupun Murasakibara. Tampaknya kedua orang itu sengaja tidak menjawab panggilan telponnya akibat salah paham yang belum beres. Kuroko menghela nafasnya, bagaimanapun ia tidak mau ada salah paham diantara dirinya dan sahabat-sahabatnya.

Bel masuk berbunyi. Wali kelas mereka masuk dan mulai mengabsen mereka satu persatu. Setelah itu langsung masuk ke pelajaran. Tak ada yang baru bagi Kuroko, semuanya sama. Kecuali seragam, sekolah, teman, guru, dan pemandangan sekitar. Kesehariannya membosankan. Beberapa jam lewat, bel pulang sekolah bunyi. Kuroko membereskan bukunya dan pergi ke gym Seirin. Beberapa hari lalu, Kuroko sudah mendaftar ke klub basket Seirin. Ia melangkahkan kakinya dengan sedikit berlari, tak sabar ingin bermain basket. Kuroko pun sampai di gym. Walau gym Seirin tak sebesar gym milik Teiko, gym Seirin masih termasuk bagus dan lumayan lengkap.

Di dalam gym, sudah banyak anggota klub basket yang berkumpul. Sebagai anggota yang baik, Kuroko masuk lalu menaruh tasnya di loker lalu mengganti bajunya dengan kaos dan celana basket. Tak berapa lama, anggota baru klub basket diminta untuk berbaris. Kuroko berjalan, masuk ke dalam barisan bersama anggota lain. Sepertinya, tak banyak yang mendaftar klub basket tahun ini. Pemuda bersurai merah dengan gradasi hitam menarik perhatian Kuroko. Pemuda itu tinggi, kira-kira setinggi Aomine, wajahnya garang, alisnya juga unik. 'Sepertinya ia pemain basket yang hebat' gumam Kuroko dalam hati. Lalu pelatih tim basket Seirin, Aida Riko meminta mereka melepas baju untuk menganalisa mereka masing-masing. Aah.. seperti biasa tak ada yang menyadari kehadiran Kuroko. Ketika namanya dipanggil, Kuroko pun maju dan memanggil sang pelatih. Pelatih tim basket dan anggota klub basket yang lain terkejut akan kehadiran Kuroko. Namun, hal ini juga sudah biasa bagi Kuroko. Begitu selesai menganalisa masing-masing anak, pelatih tim basket Seirin itu mengijinkan semua anggota baru pulang dan besok mereka akan memulai latihan.

Kuroko mampir ke Maji Burger sebelum pulang. Ia rindu meminum vanilla milkshake yang belum ia minum beberapa bulan terakhir, terlalu terpuruk dalam kesedihannya. Ia duduk di salah satu bangku dekat jendela. Tiba-tiba, ketika ia minum pemuda bersurai merah yang tadi ia lihat di klub basket duduk di bangku seberangnya dengan senampan burger yang kira-kira mencapai 20 buah. Kuroko lalu menyapa pemuda itu.

"Anou…"

Tampaknya pemuda itu kaget, ia langsung terlonjak mendengar sapaan Kuroko. "Kau! Kenapa kau duduk di sini?"

"Aku sudah duduk di sini dari tadi sebelummu, Kagami-kun."

"Kuroko Tetsuya, ya?"

"Ha'i, Kagami-kun."

"Hm.. kudengar kau dari Teiko?"

"Iya"

"Apa kau masuk tim basket?"

"Iya, aku anggota reguler."

"Hm.. berarti kau kenal Kiseki no Sedai?"

"Tentu saja, kenal."

"Seperti apa mereka?"

"Hm.. mereka sangat hebat dalam bermain basket. Aku saja selalu kagum saat melihat mereka bermain." Ujar Kuroko.

"Di luar basket?"

Tiba-tiba wajah Kuroko berubah sedih. "Sumimasen, Kagami-kun. Aku… tidak ingin membicarakan hal itu. Aku pulang duluan. Permisi.."

"A..ah.. baik.." Kagami dibuat bingung oleh perubahan sikap Kuroko yang tiba-tiba. Kuroko keluar dari restoran Maji Burger itu dan melangkahkan kakinya ke apartemen. Ia membuang vanilla milkshake nya yang masih sisa sepertiga, sudah tidak nafsu. Gara-gara pertanyaan Kagami tadi, ia malah teringat akan kapten mereka, mantan 'kekasih' nya, Akashi Seijuuro. Kuroko menghela nafasnya lalu mempercepat langkah kakinya, ingin cepat-cepat sampai di apartemen, dia ingin mendinginkan kepalanya.

'Ada apa dengan anak itu?' tanya Kagami dalam hati pada dirinya sendiri. Manik merah tuanya mengikuti sosok Kuroko yang berjalan dengan wajah kusut sebelum akhirnya menghilang di belokan jalan raya yang ramai.

.

.

.

Sinar matahari menerobos masuk dari korden di kamar apartemen Kuroko. Kuroko yang terganggu karena sinar matahari yang silau bangun dari tidurnya. Ia duduk di atas tempat tidur untuk memfokuskan pandangannya dulu sebelum melangkahkan kaki ke kamar mandi. Selesai mandi, ia mengenakan seragamnya lalu mengambil tas dan langsung pergi ke sekolah. Kuroko tidak pernah lagi sarapan semenjak dirinya putus dengan Akashi. Tampaknya putus dari Akashi membuat dirinya tidak nafsu makan. Tubuhnya sudah kecil dan gampang sakit, ditambah tidak makan. Dalam sebulan terakhir ini, beratnya turun hingga hampir 2 kg. Tubuhnya menjadi tambah kecil dan rapuh, kulitnya juga pucat. Ia terlihat seperti orang yang tak bernyawa, raga nya ada, namun entah hatinya pergi kemana.

Kuroko kembali menyibukkan diri dengan membaca novel selama perjalanan ke sekolah. Angin berhembus membuat surai birunya melambai tertiup angin. Pagi itu, jalan di kota Tokyo lumayan ramai, berbagai orang lalu lalang pergi ke tempat tujuan masing-masing. Sampai di depan gerbang sekolah, Kuroko memasukkan novelnya ke dalam tas dan berjalan menuju ke kelasnya. Sampai di dalam kelas, ia duduk dan menopangkan dagunya pada telapak tangan kanan lalu melamun memperhatikan pemandangan halaman Seirin dari jendela. Beberapa detik lewat.. beberapa menit lewat.. diam.. ia terus diam memandangi halaman Seirin yang dihiasi pohon sakura yang sedang bermekaran.

"Tetsuya.."

"Ya, Sei-kun?"

"Sakuranya.. indah.."

"Ya, kau benar, Sei-kun." Ujar Kuroko sambil mendongak ke atas.

Hari itu, Akashi dan Kuroko sedang menikmati bunga sakura di halaman Teiko saat tahun ajaran baru mereka kelas 3. Sekolah pulang lebih cepat karena baru hari pertama, hanya perkenalan saja. Mereka berdua tinggal sebentar di sekolah, kencan di halaman belakang Teiko. Menikmati bunga sakura yang sedang mekar di halaman belakang dan pemandangan indah yang bisa dilihat dari halaman Teiko.

"Tapi, Tetsuya.."

"Ya?"

"Kau lebih indah dan cantik daripada sakura yang sedang mekar ini.." ujar Akashi sambil menatap Kuroko dengan senyuman lembut.

"Sei-kun.." Kuroko pun tersipu malu atas pernyataan Akashi.

"Hm.." Akashi menggumam lalu mulai mengubah posisinya. Ia tiduran di rumput hijau halaman sekolah Teiko dan menggunakan paha kekasihnya sebagai bantal kemudian memejamkan matanya.

"Sei-kun.." Kuroko mengelus surai merah Akashi yang sangat ia sukai itu. Mengelusnya dengan lembut, memberikan seluruh cintanya pada sang kekasih tersayang.

"Tetsuya.."

"Hm? Ada apa?"

"Aishiteru yo.."Akashi berucap sambil terus memejamkan matanya.

"Sei-kun… boku mo… aishiteru yo.."

Mereka menikmati angin semilir yang berhembus. Meniup surai mereka sehingga melambai dengan pelan mengikuti arah angin. Mereka memejamkan mata, menikmati momen kebersamaan mereka dalam diam, saling merasakan eksistensi masing-masing.

"Haaah.." Kuroko kembali menghela nafas. Lagi-lagi ia teringat memori dirinya dengan Akashi. Sulit memang melupakan memori yang ia buat bersama orang yang begitu ia cintai. Bel masuk menyadarkan Kuroko dari lamunannya. Kuroko pun mengalihkan pandangannya dari halaman Seirin ke depan, tempat guru mereka berdiri. Kuroko mengeluarkan buku pelajaran miliknya serta alat tulis. Pelajaran pertama biologi, ia merasa tidak tertarik mendengarkan pelajaran. Kuroko menopangkan dagunya di telapak tangan kirinya, pandangannya ke depan namun kosong, sama sekali tidak memperhatikan. Kagami yang duduk di belakang Kuroko memperhatikan sikap Kuroko dari tadi.

'Kenapa sih dengan dia? Dari kemarin seperti ini terus?' batin Kagami.

.

.

.

Sudah sebulan Kuroko bersekolah di Seirin. Ia sudah terbiasa dengan sekolah barunya dan teman-temannya. Kagami dan Kuroko kini berteman baik. Mereka sering menghabiskan waktu berdua di sekolah. Mengerjakan PR, makan siang, maupun mengerjakan tugas dari sekolah selalu bersama-sama. Kagami merasa nyaman dengan sifat Kuroko yang ramah begitu juga sebaliknya, Kuroko merasa nyaman dengan sifat Kagami yang baik walaupun sedikit tempramen. Namun, satu hal yang mengganjal Kagami adalah, Kuroko sering sekali menghela nafas dan melamun. Sampai sekarang, ketika Kagami bertanya, pasti Kuroko akan mengalihkan pembicaraan. Kagami pun menjadi kesal, namun ada sedikit bagian dari dirinya yang tidak mau mengganggu privasi Kuroko. Bagaimanapun juga, setiap orang punya privasi masing-masing.

Sore itu, seperti biasa, tim basket Seirin berkumpul di gym untuk latihan. Selesai latihan, Aida, pelatih mereka memberikan pengumuman.

"Minna! Musim panas nanti kita akan mengadakan training camp!" seru Aida dengan ceria seperti biasa.

"Dimana, coach?" tanya Kagami.

"Hm.. kita akan menggunakan penginapan milik oba-san ku di pinggir kota."

"Ah.."

Setelah memberi pengumuman itu, Aida membubarkan anggota tim basket dan menyuruh mereka semua pulang. Kuroko dan Kagami berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi.

"Kuroko.."

"Ya, Kagami-kun?" Kuroko menolehkan kepalanya.

"Mau mampir ke Maji Burger? Hari ini aku yang traktir."

"Benarkah?" wajah Kuroko langsung berbinar, artinya ia bisa menghemat uang bulanannya dan bisa mendapat segelas ( atau lebih ) vanilla milkshake yang sangat ia sukai.

"Benar, aku akan mentraktirmu khusus hari ini saja, ya."

"Arigatou, Kagami-kun."

Mereka berdua berjalan menyusuri kota Tokyo. Matahari sudah mulai tenggelam di barat. Akhirnya, mereka sampai di restoran cepat saji favorit mereka. Kagami membuka pintu kaca itu dan mereka berdua masuk ke dalam. Kuroko mencari tempat duduk di dekat jendela yang menghadap ke jalan utama. Kagami memesan burger untuk dirinya sendiri dan vanilla milkshake untuk Kuroko. Sambil menunggu Kagami selesai memesan makanan, Kuroko mengambil novel miliknya dari dalam tas dan membaca novel itu. Ia begitu terserap dalam dunianya hingga tak sadar bahwa Kagami sudah selesai memesan makanan.

"Oi, Kuroko."

Sapaan Kagami membuat Kuroko keluar dari dunianya itu. "Ah, Kagami-kun." Ia menyapa Kagami dengan wajah datarnya seperti biasa.

"Ini.." ujar Kagami sambil menyerahkan segelas vanilla milkshake ukuran jumbo untuk Kuroko. Manik biru itu pun berbinar-binar melihat minuman favoritnya. Sebelum Kuroko bisa menjangkau minuman kesukaannya itu, Kagami menariknya kembali.

"Kenapa diambil lagi, Kagami-kun?"

"Aku punya syarat. Kalau kau mau minum vanilla milkshake ini, kau harus menjawab pertanyaan yang kuajukan dengan jujur."

"Hm, ya terserah.. sekarang berikan aku vanilla milkshake itu.." Kuroko sudah tidak sabar untuk minum vanilla milkshake rupanya, ia harus memenuhi dosis vanilla milkshake hariannya.

"Ini.." Kagami pun menyerahkan vanilla milkshake itu dan langsung diambil oleh Kuroko. Kuroko menyeruput minuman kesukaannya itu dengan wajah bahagia.

"Sekarang, aku mau bertanya."

"Apa, Kagami-kun?" ujar Kuroko sambil terus menyeruput vanilla milkshake jumbo traktiran Kagami.

"Aku menuntut jawaban darimu, aku selalu bertanya tapi kau pasti menghindar. Yah, aku sebenarnya tidak mau mengganggu privasi mu, tapi.. aku bertanya, bagaimana Kiseki no Sedai di luar basket?"

Tubuh Kuroko langsung menegang begitu nama 'Kiseki no Sedai' disebutkan oleh Kagami. Ia berhenti meminum vanilla milkshake nya. Kuroko meletakan vanilla milkshake itu di atas meja, pandangannya sedih. "…"

"Kuroko?" Kagami tambah heran melihat kelakuan temannya satu ini.

"A—" Belum Kuroko selesai berbicara, suara kelewat ceria menyapanya.

"Tetsuyacchi!" Kise yang kebetulan lewat jalan depan itu langsung berlari ke dalam dan menghambur ke arah Kuroko.

"Ah, Ryouta-kun.." Kuroko pun membalas Kise.

'Mereka saling memanggil nama depan.. apa mereka semua sedekat itu?' batin Kagami.

"Ah, Tetsuyacchi, ini siapa?" tanya Kise sambil melirik Kagami dengan manik madunya itu.

"Oh, perkenalkan ini Kagami-kun, dia teman satu kelas dan satu tim ku di Seirin, Ryouta-kun. Kagami-kun, perkenalkan dia… Ryouta-kun.. anggota Kiseki no Sedai sekaligus pacarku." Ucap Kuroko memelankan bagian akhir.

"Kiseki no Sedai? Ah! Kise Ryouta?" tanya Kagami.

"Benar-ssu!"

"Aku Kagami Taiga."

"Kise Ryouta"

Mereka berkenalan sambil menjabat tangan masing-masing. Lalu tiba-tiba Kise merangkul Kuroko.

"Nee, Tetsuyacchi.."

"Ya?"

"Ayo kencan.. kita belum kencan sejak masuk SMA.." rengek Kise.

"Eh? Hm…" Kuroko tampak berpikir sebentar. "Boleh juga. Kebetulan besok tidak ada ulangan." Lanjutnya.

"Horeeee!" Kise berteriak kegirangan, menarik perhatian pengunjung lain.

"Ayo, pergi sekarang, Tetsuyacchi.."

"Ya, Ryouta-kun.."

"Jaa na, Kagamicchi/ Kagami-kun."

"Jaa.." balas Kagami dengan santai. Begitu Kise dan Kuroko keluar dari restoran Maji Burger, Kagami menghela nafas.

"Haah.. lagi-lagi aku tidak mendapat jawabannya. Memang ada apa sih, dengan Kiseki no Sedai di luar basket? Kenapa tatapan matanya sedih? Dan lagi.. pacaran? Mereka berdua?" berbagai pertanyaan muncul di kepala Kagami. Ia mengacak-acak surai merah tuanya itu saking kesalnya.

"Ryouta-kun, kita mau kemana?"

"Hm.. kemana ya?"

"Ah, To—" Kuroko mau mengusulkan tempat kencan mereka. Namun, ia tidak jadi. Kuroko ingin kencan ke toko buku, tapi ia tahu Kise tidak suka membaca buku. Toko buku itu tempat kencan favoritnya bersama Akashi. Wajah Kuroko pun menjadi sendu, ia menatap jalan di bawah.

Kise yang menyadari perubahan sikap Kuroko menghela nafas. "Tetsuyacchi… pasti mau bilang toko buku, kan?"

Kuroko langsung mendongakan kepalanya. "Eh? Kenapa Ryouta-kun tahu?"

"Tentu saja tahu, kan? Aku selalu memperhatikan Tetsuyacchi yang kencan ke toko buku dengan 'dia'" jelas Kise dengan wajah sedih.

Kuroko tak tahu harus menjawab apa. Ia merasa bersalah pada Kise. Kise sudah mengajaknya untuk kencan, tapi ia malah mengingat Akashi. "Gomen, Ryouta-kun.."

Kise tak membalas. Suasana pun jadi canggung. Hanya ada suara kendaraan dan para pejalan kaki yang terdengar. Kuroko lalu memutuskan untuk memecah keheningan diantara mereka.

"Gomen, Ryouta-kun. Aku.. lebih baik aku pulang saja."

".. Iya.. kau juga lelah, kan? Lebih baik kau istirahat." Kata Kise sambil menundukan wajahnya.

Kuroko meninggalkan Kise di depan Maji Burger. Ia melangkahkan kakinya menuju ke apartemen. Beruntung, Maji Burger tidak jauh dari apartemennya. Sampai di dalam, Kuroko langsung mandi untuk mendinginkan kepalanya. Ia sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Akashi mempermainkannya, Aomine dan Murasakibara salah paham padanya, hanya ada Midorima, Kise, dan Kagami yang setia disampingnya. Air mata mengalir membasahi kedua pipi Kuroko.

"Aku.. harus bagaimana.. Sei-kun.." Kuroko menggumam pada dirinya sendiri sambil menangis dibawah guyuran air shower.

.

.

.

TBC