Author's note: yaa~ domo minna-san.. author balik.. kayaknya ni cerita mulai bikin bosen ya? menurut author sih beberapa chapter belakangan ini sama sekali ga menarik. Gimana menurut readers? dan kali ini author update hari Jumat~ BTW, ada yang nungguin updatean fanfic author 'Secret Love' ga ni? ga ada? ya udah deh ._. kalau ada yang belum baca, silahkan baca ya^^ apalagi yang suka dengan incest AkaKuro. Semoga berkenan . Douzo...
Chapter 15
Pemuda itu bangun dari tidurnya yang tidak nyaman. Ia memfokuskan pandangannya ke penjuru kamar yang masih gelap. Manik heterokromnya menangkap bentuk jam yang tergantung di dinding. Jam menunjukan pukul 4 pagi. Seperti biasa, ia akan terbangun begitu pagi, tidurnya tidak nyenyak. Tempat tidurnya itu terasa sangat dingin, padahal ia sudah memakai selimut yang begitu tebal. Tetap saja, tempat tidurnya itu terasa dingin. Pemuda itu menghela nafas. Ia ingin sekali untuk kembali tidur, namun matanya tidak bisa diajak bekerja sama. Ia baru saja tidur pukul 1 pagi, sekarang pukul 4 pagi sudah bangun. Ia perlu tidur yang lebih lama. Tapi, matanya tidak dapat kembali memejam. Pemuda itu mendecakan lidah karena kesal lalu turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Pintu jati coklat itu dibuka olehnya, ia masuk ke dalam kamar mandinya yang begitu mewah. Di pojok ruangan, ada sebuah bathtub yang besar, di sampingnya berjarak kira-kira 3,5 meter ada sebuah shower, lalu di kanan begitu masuk ruangan ada sebuah wastafel dengan cermin besar dan panjang menggantung di dinding. Lantainya terbuat dari marmer warna hitam dan dindingnya dari marmer putih, menambah kesan elegan pada ruangan kamar mandi itu. Kakinya melangkah ke depan wastafel, menghadap ke arah cermin besar itu. Matanya menatap pantulan dirinya di cermin. Surai merahnya itu berantakan, alisnya mengkerut, dan matanya merah serta kantong mata hitam.
"Haah..kacau sekali.." ujar pemuda itu pada dirinya sendiri sambil menghela nafas. Pemuda bernama Akashi Seijuuro itu lalu membuka keran air wastafel dan membasuh wajahnya, berharap paling tidak sedikit saja wajahnya akan lebih baik. Selesai membasuh wajahnya, Akashi menutup kembali keran air dan memperhatikan bayangan dirinya. Sama saja. Percuma membasuh wajahnya dengan air dingin pukul 4 pagi dini hari. Ia pun melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. Pemuda itu mengganti bajunya dengan celana training dan kaos putih polos. Ya, dia berencana jogging keliling jalan raya jam 4 pagi. Akashi lalu mengambil dan memakai sepatunya kemudian langsung pergi jogging. Ia tidak bisa fokus beberapa minggu ini. Ia terganggu dengan Kuroko yang selalu muncul dalam benaknya. Entah itu saat ia sedang makan atau sedang belajar bahkan saat ia sedang latihan basket, Kuroko akan muncul dalam benaknya sehingga mengakibatkan dirinya seperti sekarang ini, tidak bisa tidur alias insomnia. Setidaknya, jogging bisa membuat pikirannya sedikit tenang dan teralihkan sejenak.
Pukul 6 pagi Akashi memutuskan untuk mengakhiri kegiatan jogging nya. Ia kembali ke rumah dan segera mandi, bersiap untuk pergi sekolah. Ia membuang begitu saja kaos dan celana training nya begitu sampai di kamar mandi, tidak perduli kemana jatuhnya. Akashi membuka keran shower dan mengguyur dirinya dengan air dingin. Selesai mandi, ia berangkat ke sekolah tanpa sarapan, ia tidak berselera makan. Akashi masuk ke dalam mobil hitam mewah miliknya itu dan duduk di bangku belakang. Mobil hitam itu melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota Kyoto yang belum terlalu ramai. Akashi duduk menopangkan dagunya di tangan dan melayangkan pandangan keluar jendela mobil. Orang-orang sedang berangkat ke sekolah dan ada juga yang bersiap untuk pergi kerja. Bosan. Ia bosan. Setiap hari pemandangan yang ia lihat selalu sama. Lebih tepatnya, dunianya mati rasa. Akashi merasa dunianya ini bagaikan dunia mati. Ia hanya dapat melihat warna hitam dan putih, tak ada warna lain yang ia lihat ketika bersama Kuroko di Teiko. Oh? Tampaknya ada sedikit penyesalan di wajah seorang Akashi Seijuuro. Sedikit, hanya sedikit. Pandangan Akashi keluar jendela kosong, tak ada kehidupan di manik scarlet-gold yang indah itu. Setelah kira-kira 45 menit menempuh perjalanan, akhirnya Akashi sampai di sekolah. Ia turun dari mobilnya setelah sang sopir membukakan pintu. Ia berjalan melewati gerbang megah sekolah Rakuzan. Ia terus melangkahkan kakinya di koridor milik Rakuzan tanpa memperdulikan sapaan para murid di Rakuzan yang ingin menyapa ketua OSIS mereka. Akhirnya ia sampai di kelasnya, 1-4. Akashi langsung meletakan tasnya di meja dan pergi begitu saja. Kemana? Tentu saja ke gym. Akashi mengganti seragam Rakuzannya dengan kaos polos dan celana selutut yang ia simpan di dalam loker gym. Ia lalu latihan sendiri di dalam gym.
.
.
.
Nafasnya terengah-engah. Bagaimana tidak kalau ia baru saja berlari memutari bangunan Rakuzan yang tak tanggung-tanggung besarnya sebanyak 40 kali. Pemuda bersurai merah itu duduk di bangku coklat gym dan meminum air dari botol yang ia bawa. Ia tak bisa fokus. Tidak satupun shoot nya masuk ke dalam ring. Ia bahkan tidak bisa dunk, kakinya terlalu lelah untuk melompat tinggi. Pemuda itu duduk sambil mengelap pelipis dan rambutnya yang basah karena keringat. Ia mendecih kesal. Bel masuk berbunyi, dengan malas ia pergi ke loker untuk mengganti seragamnya kembali.
'Aah.. aku lebih baik bolos saja..' batin pemuda itu. Entah sejak kapan, mungkin sejak ia putus dengan Kuroko ia jadi malas datang ke kelas. Ia sangat sering membolos pelajaran. Ah, tapi tidak menjadi masalah bagi para guru karena nilainya yang tinggi. Selesai berganti baju, pemuda itu melangkahkan kaki menuju atap sekolah. Ia duduk menyandar di dinding kemudian memejamkan kedua matanya. Angin semilir berhembus, membuatnya sedikit lebih rileks.
"Sei-kun!" Kuroko melambaikan tangannya pada Akashi.
"Tetsuya?"
"Aku buatkan bento untuk Sei-kun.."
"Arigatou, Tetsuya.." ujar Akashi sebelum mengecup kening sang kekasih.
Siang itu mereka sedang makan siang bersama di atap sekolah. Angin yang sejuk mendinginkan udara panas Tokyo. Ya, musim panas memang merepotkan. Akashi memakan bento yang dibuatkan oleh Kuroko dengan lahap. Kuroko pun hanya bisa tersenyum kecil melihat Akashi.
"Apakah enak, Sei-kun?"
"Tentu saja, karena ini buatan Tetsuya"
Wajah Kuroko pun merah padam setelah mendengar pernyataan Akashi. "Mou.. Sei-kun.."
Akashi lalu terkekeh. "Kau memang calon istri yang baik, Tetsuya.."
"A..Akashi-kun! Jangan menggodaku.."
"Bagaimana kalu aku serius mau menjadikanmu istriku, hm?" goda Akashi
"E..eh.. aku.. tidak..keberatan sih.." Kuroko menengok ke arah lain, enggan menatap Akashi saking malunya.
Akashi tersenyum tipis, ia menicum pipi pacarnya tersayang itu.
Akashi kembali menghela nafas dan mendecakan lidahnya. Lagi-lagi ia teringat memori mereka berdua. Tidak cukupkah dunia menguji kesabarannya? Apakah masih kurang mempermainkan dirinya? Atau ini hukuman dari Kami-sama karena ia mempermainkan perasaan orang lain?.. Agh.. sudahlah.. semuanya terlalu rumit. Akashi mengarahkan pandangannya ke langit. Langit siang itu .. apa warnanya.. biru. Mengingatkan dirinya akan Kuroko. Ya, selain hitam dan putih yang ia lihat ada biru, biru seperti surai dan manik Kuroko Tetsuya.
"Tetsuya.."
Akashi lalu kembali memejamkan matanya sambil tetap mendongak ke atas.
"Apa.. kau benci padaku, Tetsuya?" tersirat kesedihan dalam nada bicaranya. Sepertinya ia memang menyesal membuat keputusan untuk melepas Tetsuya. Tanpa ia sadari, hatinya sudah menjadi milik Kuroko. Seutuhnya. Tanpa ia sadari, seorang Akashi Seijuuro jatuh cinta, jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Tiba-tiba air mata mengalir membasahi pipi kirinya. Akashi menyeka air mata yang jatuh itu.
"Tidak, aku seorang Akashi. Dan seorang Akashi tidak akan pernah menarik ucapannya." Ujar Akashi. Namun.. ada.. keraguankah? di dalam nada bicaranya.
'Kau yakin, Seijuuro?' sebuah suara berkata di dalam kepalanya. Sebut saja ia gila, tapi ia bisa merasakan ada yang berucap seperti itu.
Akashi membalas suara itu. 'Yakin apa?'
'Apa kau yakin.. keputusan mu yang kau sebut absolut itu benar, hm Seijuuro?'
'Haah? Tentu saja, kan? Aku ini absolut, aku tidak pernah salah.'
'Yakin? Kau tidak menyesal ? Ryouta berhasil merebut Tetsuya darimu lho, Seijuuro… satu bukti bahwa kau tidak selalu benar. Bagaimana hm?'
'Diam..'
'Kenapa? Apa kau takut? Sekarang kau menyesal?'
'Diam.'
'Wah..wah.. lihat siapa yang menyesal telah kehilangan Tetsuya-nya..' ejek suara itu.
'DIAM!'
Akashi membuka kedua matanya. Kedua pipinya sudah basah oleh air mata yang mengalir sedari tadi ia berbicara dengan suara itu. Akashi terisak. Kepalanya pening, dadanya terasa sakit dan sesak. Bagaikan orang yang tenggelam. Ia meremas seragamnya di bagian dada yang sakit.
'Kau memang tenggelam, Seijuuro..' suara itu kembali muncul.
'Apa maksudmu?'
'Kau tenggelam.. tenggelam dalam cinta. Tenggelam dalam permainan bodoh yang kau buat sendiri.
'Aah.. begitu rupanya.. aku.. sudah jatuh cinta padanya? Apakah begitu maksudmu?'
Suara itu terkekeh. 'Benar, tuan absolut.'
'Tidak..tidak mungkin aku jatuh cinta. Kalaupun iya, aku tidak akan mau mengakui itu.'
'Oh.. menjaga image mu, hm Seijuuro?'
'Sebut saja begitu.'
'Teruskan saja permainan menjaga imagemu itu hingga kau kehilangan semua yang berharga bagimu, Seijuuro. Kau keras kepala. Tapi, tidak apa-apa.. teruskan permainanmu itu, kau membuatku terhibur, Seijuuro.' Ujar sang suara dengan nada mengejek.
Akashi pun mendecih kesal. Suara di kepalanya itu benar-benar mengganggu dan merepotkan. Ia mengembalikan pandangannya ke arah kota Kyoto dari atas atap itu melalui pagar besi pembatas.
'Bukankah bodoh sekali? Terjebak dalam permainanmu sendiri.. dan sekarang kau tahu kan rasanya tersakiti?'
'Hah? Bodoh? Siapa yang kau sebut bodoh.. aku tidak tersakiti.' Akashi terus keras kepala.
'Begitukah? Hm.. sepertinya tidak. Bagiku kau itu terlihat begitu menyesal.'
'Diam. Kau tidak tahu apa-apa.'
'Hngg.. terserah kau saja, tuan oh sangat absolut. Jangan sampai menyesal jika suatu hari nanti, kau.. akan kehilangan semuanya. Semua yang berharga bagimu.' Ejek suara itu.
'Tch.. diam kau..'
Pandangannya kosong, ia menatap kota Kyoto dari atap dengan tatapan kosong. Kesedihan tersirat di manik heterokrom itu.
"Tetsuya…"
.
.
.
"KURANG 30 PUTARAN! JANGAN BERMALAS-MALASAN!" Teriakan sang kapten iblis, Akashi Seijuuro menggema di gym Rakuzan. Tak tanggung-tanggung hari ini ia membuat latihan basket bagi anggotanya seperti neraka. Bayangkan saja, mereka berlari 150 kali memutari bangunan Rakuzan yang sangat besar dan itu baru pemanasan mereka, menu latihan mereka adalah 300 kali shoot dunk, 200 kali three pointer, 500 kali lay up, 800 kali passing. Bukankah ini yang namanya neraka? Karena Akashi mengganggap mereka terlalu bersantai, Akashi menambah hukuman dan kini mereka harus berlari di dalam gym 70 putaran. Seluruh anggotanya, Mibuchi Reo, Hayama Kotarou, Nebuya Eikichi, dan Mayuzumi Chihiro sudah kepayahan. Peluh membanjiri tubuh mereka dan nafas mereka terengah-engah. Mereka ingin protes, namun jika mereka protes mereka yakin bukannya dikurangi malah menu latihan mereka akan ditambah 5 kali lipat dari yang ini.
Setelah beberapa jam, Akashi membubarkan anggotanya. Ia duduk di bangku coklat panjang di gym itu dan meneliti papan yang berisi kertas-kertas miliknya. Tiba-tiba salah satu anggotanya yang paling berani mendatangi dirinya.
"Sei-chan.."
"Ada apa, Reo?" Akashi membalas sambil terus memandangi kertas di papan itu.
"Bisa temui aku nanti di luar gym?"
Akashi mendongak, memandang wajah Mibuchi. "Ada apa? Apakah tidak bisa kau katakan sekarang?"
"Tidak bisa."
Akashi menghela nafas. "Baiklah. Setelah ganti baju aku akan menemui mu."
"Ya, Sei-chan. Kutunggu.." ujar Mibuchi dengan ceria. Setelah itu Akashi berdiri dan meninggalkan mereka untuk mengganti baju.
"Reo-nee, apa kau tidak takut dengan kapten kita?" Tanya Hayama.
"Hm.. bukannya aku tidak takut padanya.. tapi aku.. merasa ada yang salah dengan Sei-chan." Ujar Mibuchi sambil memandangi pintu ruang ganti loker.
"Hm..hm.. baiklah Reo-nee.. hati-hati lho.. nanti kau kena amukan kapten." Ujar Hayama.
"Ha'i..ha'i.."
.
.
.
"Reo."
Sapaan dari Akashi menyadarkan Mibuchi yang sedang bersandar di dinding luar gym melamun. "Ah, Sei-chan.."
"Jadi.. kau mau bicara apa?"
"Aku mau tanya.."
"Hm? Cepatlah.. aku sibuk.."
'Sibuk apa, Seijuuro? Sibuk merenungi Tetsuya-mu tersayang itu hm?' lagi-lagi suara di kepalanya muncul. Akashi mendecih kecil.
"Apa.. kau punya masalah, Sei-chan?"
"Hah?" Akashi menaikan sebelah alisnya. "Kenapa kau berpikir seperti itu, hm Reo?"
"Tidak.. habis.. kau tampaknya sedang bad mood, Sei-chan.."
"Hmph.. apakah kau mau ikut campur, Reo?"
"Bu..bukannya aku mau ikut campur, Sei-chan. Tapi.. siapa tau aku bisa membantumu." Jawab Mibuchi dengan takut-takut.
Akashi lalu mendengus dan membalas, "Hmh, tidak perlu."
"Apa… kau sedang jatuh cinta, Sei-chan?" Tanya Mibuchi tiba-tiba.
Kedua mata Akashi langsung membulat. "Haah? Jatuh cinta? Apa alasanmu mengatakan aku jatuh cinta, Reo?" ujarnya sambil menengok ke arah Mibuchi.
"Aku melihat beberapa minggu dalam latihan ini Sei-chan.. kurang fokus. Biasa orang jatuh cinta sulit untuk fokus dan juga sering gelisah." Jelas Mibuchi.
'Apa yang kukatakan itu benar, Seijuuro.. kau jatuh cinta..'
'Diam.'
'Tch.. kau tidak seru, Seijuuro..'
"Sei-chan?"
"Tidak Reo. Aku tidak jatuh cinta."
"A..ah.. begitukah? Jika kau bilang yang begitu maka itu benar.. baiklah.. aku pulang dulu, Sei-chan." Ujar Mibuchi. Ia lalu langsung melangkahkan kaki keluar gerbang sekolah.
'Benarkah kau tidak jatuh cinta, Seijuuro?'
'Diam.'
'Hm~hm~ kau tidak mau mengaku… kau terlalu keras kepala, huh?'
'Terserah kau saja.'
'Tch..well, tidak masalah.. kau memberiku hiburan menarik, kok Seijuuro'
Akashi merasa ia semakin gila. Ia bisa mendengar suara itu di dalam kepalanya dengan jelas. Suara itu jelas-jelas mengejek dan mempermainkan dirinya yang sedang bimbang. Akashi mendecakkan lidahnya. Ia kemudian melangkahkan kaki dengan terburu-buru menuju keluar gerbang tempat dimana sang sopir sudah menunggunya dengan mobil hitam. Akashi masuk ke dalam mobilnya dan mobil itu langsung melaju menuju ke kediaman Akashi. Akashi menyenderkan tubuhnya di kursi mobil sambil memejamkan kedua matanya dan tangannya ia gunakan untuk menutup matanya. Ia menghela nafas panjang.
"Haah.. apa-apaan.." Akashi kemudian membuka kedua matanya dan memperhatikan pemandangan jalan kota Kyoto di malam hari. Ia tampak seperti mayat hidup. Tubuhnya ada, namun entah pikirannya melayang kemana. Ia merasa beberapa minggu ini hidupnya begitu kacau. Apakah… dia menyesal sekarang? Tidak— lebih tepatnya tidak mau mengaku kalau ia menyesal.
"Tetsuya.."
.
.
.
TBC
