Author's note: doumo.. minna-san... author balik.. dan.. sepertinya cerita ini mulai membosankan ya? gomenne... karena dari awal author sudah bikin begini jalan ceritanya.. gomen kalau cerita ini mulai membosankan.. dan author akan selesaiin cerita ini kira-kira masih 6 chapter .. jadi sampai chap 22. Sekali lagi gomen pada para readers yang mulai bosan dg cerita ini :v
Special thanks to: outofblue, Dewi15, Flow.L, Nakako Akanakuro, dan para silent reader lainnya~
Chapter 16
Cahaya matahari masuk dari sela-sela korden mengusik tidur seorang pemuda dengan surai baby blue dan mata senada. Ia menggeliat di dalam selimutnya, ingin melanjutkan tidurnya namun, ia harus pergi ke sekolah. Ia pun lalu membuka kedua matanya, menampakan manik biru yang indah itu kepada dunia. Pemuda bernama Kuroko Tetsuya itu duduk di atas tempat tidur sambil menyesuaikan pandangan matanya yang belum begitu jelas. Ia lalu mengambil jam weker miliknya dan melihat jam.
"Ah, sudah jam segini.." Kuroko lalu bangkit berdiri dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Selesai mandi, ia mengenakan seragamnya. Kuroko membuka korden putih yang menutup jendela kamarnya. Ia berdiri sebentar memperhatikan pemandangan di luar. Cuaca di luar cerah, berkebalikan 180 derajat dari suasana hatinya sekarang ini. Ia menghela nafas sebelum kembali melangkahkan kaki, tidak ingin terlalu berlarut-larut dalam suasana hatinya yang sedang buruk. Kuroko mengambil tas sekolahnya dan tak lupa memasukan ponselnya di saku depan tas. Ia memakai sepatunya dan berjalan menuju sekolah setelah mengunci pintu apartemennya. Udara di luar sekarang sedang hangat. Udara favorit bagi Kuroko, ia tidak kedinginan maupun kepanasan. Angin sejuk berhembus menerpa wajahnya. Seperti biasa, ia menyusuri jalanan kota Tokyo sambil membaca novel yang entah sudah keberapa kalinya ia baca. Sampai di sekolah, Kuroko melangkahkan kaki menuju ke ruang kelas, melewati beberapa siswa dan guru yang ada di koridor sekolahnya. Kuroko membuka pintu geser putih itu dan menutupnya kembali sampai di dalam. Ia duduk di pojok dekat jendela dan melanjutkan kegiatan membaca novelnya, mengacuhkan dunia di sekitarnya. Lagipula, tidak ada yang tahu dia di situ. Sesekali manik birunya menatap pemandangan di luar jendela. Sebentar lagi musim panas, yang artinya libur dan bersantai di rumah. Tapi, arti musim panas berbeda bagi anggota tim basket. Mereka akan mengikuti training camp yang diadakan selama seminggu. Tiba-tiba ia merasa ponselnya bergetar di dalam tas. Kuroko menutup novelnya dan membuka pesan yang masuk.
[From: Ryouta-kun
Subject: none
[Nee, nee, Tetsuyacchi.. nanti sore aku akan datang ke Seirin. Bisa kan? Tunggu aku, ya.. jam 4 aku sampai di sana.. jaa.]]
Kuroko menutup ponsel birunya dan memasukannya kembali ke dalam tas. Ia menopangkan dagunya di atas tangan kanan sambil memperhatikan pemandangan di luar.
"Haah.." Kuroko menghela nafas panjang. Pikirannya kacau.
.
.
.
Kuroko membuka pintu besi abu-abu yang memisahkan dirinya dengan gym Seirin. Ia langsung masuk ke dalam untuk berkumpul dengan para senpai dan temannya yang lain. Hari ini, mereka akan membahas seputar training camp mereka. Tidak perlu berganti baju karena mereka tidak ada latihan hari ini. Begitu semua anggota sudah berkumpul, mereka langsung memulai diskusi mereka.
"Jadi, kita akan menginap selama seminggu di tempat oba-san ku."
"Lalu, tempatnya di mana, coach?"
"Hm.. dipinggir kota. Tepatnya sih bukit. Penginapan milik oba-san ku ada di bukit, di dekat situ ada lapangan serta gym yang bisa dipakai, untuk latihan lain kita bisa menggunakan hutan di sekitar sana." Jelas Aida pada para anggotanya.
"Apa yang perlu dibawa, coach?" celetuk Koganei.
Aida tampak berpikir sebentar lalu menjawab, "Baju… lalu.. handuk.. alat mandi. Yah, alat-alat yang biasa di bawa saat menginap."
"Siap, coach.." mereka semua menjawab.
Setelah itu mereka bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Kagami lalu mendatangi Kuroko. Ia memperhatikan ekspresi Kuroko dari tadi. Tampaknya Kuroko punya masalah, sedari tadi saat diskusi training camp Kuroko hanya diam dan menundukan kepalanya.
"Oi, Kuroko.."
Kuroko menoleh kebelakang. "Kagami-kun."
"Bisa.. bicara sebentar?"
"Bisa, ada apa Kagami-kun?"
Kagami lalu menarik tangan Kuroko. "Tidak enak bicara di sini, lebih baik cari tempat lain."
Kuroko pun diam saja dan mengekor Kagami dari belakang hingga akhirnya mereka sampai di gerbang sekolah yang sudah lumayan sepi.
"Jadi, ada apa, Kagami-kun?" begitu sampai di gerbang sekolah, Kuroko langsung mengutarakan pikirannya.
Kagami membalikan badannya yang sedari tadi membelakangi Kuroko lalu bertanya balik. "Apa kau sedang ada masalah, Kuroko?"
Kuroko menaikan sebelah alisnya dan memiringkan kepalanya ke kanan. "Hah? Maksud Kagami-kun?"
"Beberapa hari ini kau selalu melamun, kau tahu? Tiap aku mengajakmu berbicara kau hanya menggumam saja. Saat pelajaran kau tidak pernah memperhatikan ataupun mencatat. Nilai ulanganmu juga turun drastis. Lalu, wajahmu tadi.. kelihatan sedih. Ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada apa-apa, Kagami-kun." Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah lain, enggan menatap Kagami.
"Apa ada hubungannya dengan Kiseki no Sedai?"
Tubuh Kuroko langsung menegang. "…"
"Jadi benar?" ucap Kagami sambil menghela nafas. "Ada apa dengan mereka?" lanjut Kagami.
Kuroko menundukan wajahnya, tangannya mengepal. "…"
"Oi, kenapa diam saja? Aku ini bicara denganmu." Kata Kagami mulai kesal karena tidak mendapat jawaban dari Kuroko.
"Bukan urusanmu, Kagami-kun. Tolong jangan ikut campur"
"Hah? Tentu saja termasuk urusanku kan?! Jika kau tidak fokus, bagaimana aku bisa bermain basket dengan benar." Ujar Kagami sedikit menaikan nada bicaranya.
Kesabaran Kuroko habis. "Oh. Maaf jika aku mengganggu latihanmu, tuan Kagami." Sindir Kuroko dengan nada bicara sinis. Jarang-jarang ia bisa sinis pada orang lain.
Kagami pun semakin kesal. "Apa maksudmu, hah?!"
"Jika kau hanya mempedulikanku karena basket lebih baik kau tidak perlu dekat-dekat denganku, tuan Kagami!" Kuroko turut menaikan nada bicaranya.
"Oh. Jadi begitu maumu, hah? Baik. Terserah kau saja, aku tidak mau mengurusimu lagi." Ujar Kagami sebelum pergi meninggalkan Kuroko sendirian di gerbang sekolah. Tangan Kuroko mengepal semakin kuat. Kuku-kukunya menancap di tangan yang jelas-jelas akan meninggalkan bekas nanti. Kuroko mendecak kesal.
"Ah, sudahlah.. aku..tidak peduli lagi" Kuroko menggumam pada dirinya sendiri. Tiba-tiba Kise berlari menghambur ke arah Kuroko dari jalan sebelah kirinya.
"Tetsuyacchi!" Kise berlari sambil melambaikan tangannya.
Begitu Kise sampai di depannya, Kuroko bertanya. "Ryouta-kun.. ada apa sebenarnya hari ini ke sini?"
"Mou, aku kan mau mengunjungi mu.. apa tidak boleh-ssu?"
"Ryouta-kun..aku.."
"Hm? Ada apa-ssu?"
"Gomen .. tapi aku.. mau kita putus."
Kise langsung mematung di tempatnya. Begitu juga dengan Kuroko, ia menundukan kepalanya.
"Tetsuyacchi.. apa.. maksudmu?"
"Kau dengar, Kise-kun. Aku mau kita putus." Tegas Kuroko.
"Ke…kenapa.."
"…" Kuroko mengunci mulutnya, tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Tetsuyacchi! Jawab aku!" Kise sedikit berteriak.
"Tolong jangan berteriak, Kise-kun."
Kise mendecakkan lidahnya. "Apa maksudmu dengan kita putus?!"
"Maksudku kita putus." Ujar Kuroko dengan tenang.
"Kenapa?! Apa alasannya?!"
"Tidak ada."
"Padahal aku ini menghiburmu saat kau sedih, lalu begini yang ku dapat?! Kau bahkan tidak mau menyebutkan alasannya!"
"…" Kuroko mengalihkan pandangannya.
"Tetsuyacchi! Jawab aku! Kenapa?!"
"Aku tidak punya alasan apa-apa, Kise-kun. Aku hanya ingin kita putus. Itu saja."
"Tapi kenapa?! Apa aku ini kurang baik bagimu?! Apa kau lebih memilih 'dia' dibanding aku?!"
"Apa jawaban yang kau harapkan, Kise-kun?" Kuroko memandang wajah Kise dengan serius.
"A—pa yang kau maksud."
"Sesuai dengan yang kukatakan. Jika aku menjawab 'ya, aku lebih memilih Sei-kun' bagaimana ? Kau mau apa, Kise-kun?"
Kise menggeram kesal lalu membalas, "Baiklah. Terserah kau saja, Kurokocchi. Aku tidak mau peduli terhadap apapun itu yang behubungan denganmu. Bila kau menyesal jangan lagi meminta tolong padaku."
"…" Kuroko kembali diam, dia enggan menatap wajah Kise yang pasti sekarang sedang terluka. Biarlah dia menjadi peran antagonis di sini, biarlah dia menjadi seorang penghianat, biarkan saja, lebih baik begitu daripada harus terus mengingat luka di hatinya. Kise pun berlari meninggalkan Kuroko sendirian di depan gerbang sekolah. Titik-titik hujan mulai turun membasahi bumi. Kuroko menadahkan tangannya.
"Aah.. aku kehilangan 2 orang berhargaku… lagi.." Kuroko berkata pada dirinya sendiri. Ia menundukan wajahnya dan tiba-tiba.. ia tersenyum— tidak.. ia tertawa. "Ahahahaha… ahaha.." Kuroko tertawa lepas, tak pernah ia seperti itu. Orang-orang yang lewat memperhatikan tingkahnya yang cukup.. aneh itu. "Ahahaha..hahahaha" Ia terus tertawa hingga beberapa menit. Setelah tawanya reda, ia kembali berbicara— di dalam kepalanya, berbicara dengan sebuah suara di kepalanya.
'Bukankah ini lucu?' Kuroko berbicara dengan suara itu, ia memejamkan matanya sambil mengukir senyum di wajahnya.
'Benar, lucu sekali, Tetsuya.. kau menggelikan..'
'Hmph.. kau benar.. aku menggelikan..'
'Kau naïf dan bodoh, Tetsuya..'
'Iya, iya.. kau benar..'
'Pertunjukan bagus. Sekarang mereka semua membenciku. Bukankah itu bagus?' lanjut Kuroko
'Benar, sangat bagus.' Suara itu membalas.
Kuroko tersenyum— bukan, ia menyeringai. "Bodoh sekali. Sekarang dunia menjadi musuhku. Bukankah itu bagus?" ia menggumam sendiri. "Heh, sudahlah.. aku sudah tidak peduli lagi." Kuroko lalu melangkahkan kaki menuju ke apartemennya. Anggap saja ia gila, berbicara dengan suara di kepalanya. Beda dengan Akashi yang tersiksa dengan suara yang mengejeknya, Kuroko malah bahagia, ia ikut mengejek dirinya sendiri. Menghina dirinya sendiri yang menjadikan teman-temannya itu memusuhi dirinya. "Sudahlah, aku tak perlu meluruskan salah paham dengan Aomine-kun dan Murasakibara-kun. Aku juga tidak perlu meminta maaf pada Kagami-kun dan Kise-kun. Tidak ada gunanya." Ujar Kuroko sambil membuka pintu apartemennya. Ia masuk ke dalam, melepaskan sepatunya dan pergi ke kamar mandi. Ia tidak merasa nafsu untuk makan malam. Lagipula, ia sudah kenyang dengan makan siangnya tadi. Selesai mandi, ia mengganti bajunya dengan baju tidur berwarna putih. Kuroko merebahkan dirinya di atas tempat tidur yang empuk itu. Ia menggunakan punggung tangannya untuk menutup kedua matanya.
"Sudahlah.. aku tidak peduli lagi.. dengan apapun yang akan terjadi nanti.." ujarnya sambil tersenyum.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Kuroko langsung terlelap. Masuk ke dalam mimpi buruk seperti biasa. Ah, ia tidak takut lagi dengan mimpi buruk. Ia lebih senang mendapatkan mimpi buruk, karena dia, Kuroko Tetsuya sudah tidak memerlukan hidupnya ataupun mimpi indah. Ia sudah tidak memerlukan warna dalam hidupnya. Kuroko membuang semuanya, semua warna dalam hidupnya. Ia hanya memerlukan warna hitam, putih, dan merah. Kenapa merah? Karena merah.. adalah warna favoritnya. Merah itu surai orang yang ia cintai, merah itu warna sebuket bunga mawar yang diberikan pacarnya, merah itu warna manik kanan orang itu, merah itu warna bibirnya sendiri setelah terus menerus mendapat ciuman manis dari sang kekasih, merah itu warna darah yang mengalir dari lukanya, merah itu.. Akashi Seijuuro, orang yang ia cintai.
'Tetsuya.. berikan aku.. pertunjukan yang lebih menarik lagi..' suara itu kembali.
'Tidak perlu kau meminta, akan kuberikan.. semua pertunjukan bagus..'
'Begitukah?'
'Ya, akan kuberikan semua pertunjukan paling spektakuler yang akan kau lihat dalam seumur hidup.'
'Hmm.. baguslah.. aku menunggumu, Tetsuya..'
'Jangan khawatir. Aku akan membuatmu tertawa bahagia dengan pertunjukanku ini, tenang saja.. aku bisa memastikan bahwa kau akan tertawa terbahak-bahak..'
'Baguslah, aku sudah tidak sabar'
'Tentu saja, karena.. waktunya tidak jauh dari sini.'
.
.
.
TBC
Author's note: gomen~ di sini.. Kuroko berubah drastis ._. harap dimaklumi.. dan.. jangan lempar author, oke? *kabur*
