Author's note: doumo.. minna-san.. sekarang update chap 17~ selamat menikmati cerita yang gaje dan absurd ini =_=

Special thanks to Dewi15, outofblue, Flow. L, Hotori Nana dan para silent readers.. douzo..


Chapter 17

Kuroko bangun dari tidurnya, dari mimpi buruknya semalam. Ah, ia merasa lebih baik begini daripada mendapat mimpi indah. Apa artinya mimpi indah jika hidupnya sudah hancur? Sudah tidak memiliki arti lagi. Lebih baik terus mendapatkan mimpi buruk dari pada mimpi indah, kebahagiaan semu. Ia sudah muak dengan yang namanya kebahagiaan, ia bahkan berpikir 'Apa itu bahagia? Apakah bahagia itu ada? Bagaimana rasanya?'. Kuroko mulai kehilangan kepercayaan akan kebahagiaan. Ia percaya, kebahagiaan itu tidak ada, setidaknya untuk hidupnya. Ia sudah lupa, rasanya menjadi bahagia, tertawa bersama orang lain, tersenyum bersama orang lain, bahagia karena orang yang ia cintai bahagia, ia sudah lupa akan semuanya itu, tinggal kesedihan di dalam hidupnya. Ia mencintai dunia hitam putih yang ia tinggali sekarang, tanpa warna, tanpa kehidupan. Hanya ada hitam, putih, dan merah yang ia bisa lihat.

Kuroko menyibakan selimut tebal yang menemani tidurnya dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi. Ia keluar dengan handuk putih melingkar di pinggang rampingnya dan handuk putih di kepalanya untuk mengeringkan rambut. Ia berjalan sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, menuju ke dapur. Tidak, dia tidak perlu sarapan. Ia mengambil gelas lalu menuangkan air hangat untuk diminum. Kuroko meneguk air dalam gelas itu hingga habis lalu kembali melangkahkan kaki ke kamar untuk siap-siap ke sekolah. Ia memakai kaus putih di balik seragam gakuran hitam itu. Kemudian setelah selesai berganti baju, ia memakai sepatu dan langsung pergi ke sekolah. Tidak seperti biasa, ia tidak membaca novel favoritnya itu. Ia lebih memilih untuk diam sepanjang jalan, pandangan matanya dingin, bagai tak ingin didekati oleh siapapun. Ia bahkan tak sadar sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kuroko terus melangkahkan kaki, menyusuri koridor lantai satu dan masuk ke kelas. Ia duduk di bangku biasa, dekat jendela. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya.

"Yo, Kuroko." Kagami menyapanya kasual seperti biasa.

Kuroko membalikan badannya. "Ada perlu apa, Kagami-san?". Kuroko sengaja memakai –san dengan Kagami, seolah tidak mengenalnya. Atau mungkin tidak ingin mengenalnya. Ia tak butuh orang lain, ia tidak butuh teman. Ia hanya perlu sendiri di dunia hitam putih kecilnya.

"Kau.." Kagami tidak bisa berbicara apa-apa. Mata biru itu… dingin. Tidak ada kehangatan dan keceriaan seperti biasa. Kagami hanya bisa memandangi mata biru yang dingin bagai es itu. Mata biru yang dingin bagai es, tidak ingin didekati siapa-siapa, membangun tembok disekitarnya agar orang lain tidak bisa masuk. Melindungi tembok itu dengan semak belukar. Membuat seluruh dunia menjadi musuhnya.

"Kuroko..kau.."

"Ada apa, Kagami-san? Bila tidak ada hal penting aku akan segera pergi." Katanya dengan datar.

"A..aku..aku.." Kagami ingin meminta maaf soal kemarin, namun lidahnya kelu. Tatapan mata yang dingin itu mengganggunya, ia jadi tidak nyaman.

"Ah, bila tidak ada yang kau omongkan, aku akan pergi. Permisi." Kuroko lalu bangkit berdiri dan meninggalkan kelas. Kagami memandangi sosok Kuroko hingga akhirnya menghilang dibalik pintu geser putih kelas.

"Haaah.." Kagami menidurkan kepalanya di atas meja sambil menghela nafas. "Ada apa lagi dengan anak itu.." Kagami mengangkat kembali kepalanya lalu menopangkan dagu di tangan kanan sambil melihat keluar jendela. "Sebenarnya.. ada apa sih dengan Kiseki no Sedai itu, anak itu juga.. Kuroko.. tatapan matanya itu.." Kagami kembali menghela nafas. 'Aku harus berbicara dengannya nanti.'. Bel masuk berbunyi, menyadarkan Kagami dari lamunannya. Ia segera mengambil buku pelajaran miliknya dan menghadap ke papan tulis. Ia memandangi tempat duduk di depannya. 'Dia.. membolos.. ya?'

Kuroko duduk di lantai dingin itu. Angin berhembus menerpa wajahnya dan meniupkan helaian surai baby blue nya. Ia merebahkan dirinya dan menutup kedua matanya, menggunakan tangan sebagai bantalan bagi kepala. Ia sedang tidak mood menghadiri pelajaran. Karena itulah, sekarang ia sedang membolos di atap sekolah, menikmati pemandangan kota Tokyo dari atap sekolah dan angin sejuk yang berhembus. Tak peduli, ia sudah tak peduli dengan status nya sebagai siswa teladan Seirin. Ia tidak membutuhkan status itu, toh tak ada keuntungan baginya. Kuroko membuka matanya, memandangi langit dan awan di atas.

'Apa.. warna langit ini? Apa biru? Atau hitam?' Tanya Kuroko dalam hati. Kenapa ia bertanya begitu? Sudah kujelaskan, bukan? Hidupnya tidak punya warna. Ia sudah membuang semua warna kecuali hitam, putih, dan merah. Dunianya mati rasa, ia sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Jatuh? Tidak sakit. Makan? Hambar. Mendapat nilai bagus? Biasa saja. Diejek orang lain? Biasa saja, tidak ada yang istimewa. Bahkan ketika melihat orang lain kesulitan, ia diam saja tak membantu seperti yang biasa ia lakukan. Semua indranya mati rasa, bahkan hatinya juga ikut mati rasa. Kuroko kembali memejamkan matanya. Ia mengantuk, ia pun tidur di atap sekolah.


.

.

.


Bel istirahat berbunyi. Kagami buru-buru membereskan buku pelajaran miliknya dan pergi keluar kelas. Langkahnya tergesa-gesa, bagaimana tidak? Dari tadi Kuroko tidak ikut pelajaran.

'Yang benar saja anak itu? Dia mau membolos seharian atau gimana sih?! Dasar bodoh.' Kagami terus berbicara pada dirinya sendiri sambil berlari di koridor mencari Kuroko. Ia menyesal telah membentak Kuroko kemarin, padahal Kuroko sedang banyak masalah. 'Dia di mana sih? Susah sekali mencari dia?! Terkutuklah Kuroko Tetsuya dan misdirection nya itu!' Kagami mengutuki Kuroko dalam hati sambil berlari.

'Apa dia di.. halaman belakang? Tidak mungkin.. pasti akan langsung ketahuan oleh para guru..ah, tapi siapa tahu saja…' Kagami lalu berlari ke halaman belakang. Namun nihil, Kuroko tidak terlihat di halaman belakang. Kagami berlari lagi kea rah ruang kesehatan. Sama saja, kosong. Kagami sudah lelah, keringat membasahi pelipisnya dan kakinya juga sudah lumayan lelah. Ia terus memutar otak, tempat yang mungkin didatangi oleh Kuroko. 'Ah, mungkin dia ada di atap sekolah?' Kagami berlari kecil menaiki tangga menuju ke atap sekolah. Ia membuka pintu besi itu dan menutupnya kembali, ia mulai mencari sosok Kuroko dan menemukannya di pojok kanan, sedang tidur. Kagami berjalan mendekat ke arah Kuroko lalu mengguncang pundaknya sedikit, membangunkan Kuroko.

"Oi, Kuroko…"

Kuroko menggeliat sedikit namun tidak bangun. "Mmh.." ia mengerang tanda protes, tidak suka dibangunkan.

"Oi, bangun oi.."

"Hm?" Kuroko lalu membuka matanya. Akhirnya bangun juga dia. Kuroko mengusap kedua matanya dengan tangan kirinya. "Hm… ada apa kesini?" Tanya Kuroko cuek. Ia berdiri sambil menepuk-nepuk celananya.

Kagami kembali mematung. Jelas-jelas ada yang salah dengan Kuroko. 'Apa kepalanya terbentur?' Kagami bingung, bagaimana harus menjelaskan pada Kuroko. Salah berbicara sedikit, bisa-bisa Kuroko mengamuk. Bila tatapan bisa membunuh, maka Kagami sudah mati dari tadi. Kuroko memandang dingin Kagami yang sedang berusaha merangkai kalimat untuk diucapkan.

"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu.." kata Kuroko.

Kagami pun sadar dari lamunannya. "Ah, itu.. aku ingin meminta maaf padamu."

"Soal apa, Kagami-san?"

Kagami mendecakkan lidah. "Ck, soal yang kemarin. Apa kau sudah lupa?"

"Kemarin? Bukankah kita tidak pernah kenal sebelumnya, Kagami-san?" Kuroko memandang Kagami dengan tatapan 'apa-kau-gila?' . Ya, Kuroko tidak mau lagi berhubungan dengan orang lain. Ia tidak butuh.

Kagami mulai kesal. "Apa maksudmu?!"

"Hm, seperti yang sudah kukatakan, Kagami-san. Aku ini selalu sendiri, aku tidak pernah berbicara dengan siapapun di sekolah ini."

"Haa? Kau ini.. apa kau me reset ulang memori mu itu, hah?"

"Reset ulang? Jangan bercanda Kagami-san. Mungkin saja kau yang sedang am-ne-si-a, Kagami-san." Kuroko sengaja menekankan kata amnesia itu, seolah mengejek Kagami.

"Kau! Ada apa sih?! Kau begini terus sejak aku membicarakan Kiseki no Sedai?! Ada apa dengan mereka?!"

Kuroko diam. 'Lagi-lagi mereka. Ck, merepotkan saja.' Kuroko membatin.

"Jawab aku Kuroko Tetsuya! Kenapa tidak menjawab, hah?!"

"…." Kuroko mengepalkan kedua tangannya, wajahnya menunduk.

"Pengecut kau! Dasar penakut! Jawab aku!" Kagami mulai berteriak.

Kesabaran Kuroko habis, ia membalas Kagami dengan berteriak juga. "Bisakah kau diam, Kagami-san?! Jangan ikut campur! Mereka dan aku tidak perlu perhatianmu! Kau bisa duduk diam dan manis di dalam dunia mu, tidak usah mengurusi orang lain! Urusi saja dirimu sendiri!"

Kagami terdiam. Ia tidak pernah melihat Kuroko seperti ini sebelumnya. Jadi pasti ada yang salah dengannya, jelas ada yang sedang mengganggu nya. Kagami ikut menundukan kepalanya.

"Kenapa… denganmu.."

"Tidak ada yang salah denganku. Lebih baik kau pergi dari sini, Kagami-san dan berkumpul dengan teman-temanmu itu lalu makan. Aku juga akan pergi dari sini. Kita tidak punya urusan lagi. Permisi." Kuroko lalu melangkahkan kaki, keluar dari atap sekolah. Kuroko membanting pintu besi itu lumayan keras. Membuat bunyinya menggema di dalam bangunan sekolah. Kagami menatap ke arah pintu besi yang baru saja dilewati Kuroko.

"Kuroko…" Kagami hanya bisa menatap dengan wajah khawatir.

Kuroko melangkahkan kaki menuruni tangga, tempat tujuannya adalah kamar mandi. Ia hendak menyegarkan pikirannya dan wajahnya. Sampai di kamar mandi, ia membuka keran wastafel dan membasuh mukanya dengan air dingin yang mengalir. Selesai membasuh mukanya, ia kembali menutup keran air itu, kemudian ia memandangi pantulan dirinya di cermin.

'Aah.. tatapan yang dingin..'

'Hei, Tetsuya..' suara di dalam kepalanya berbicara.

'Ah, kau..'

'Pertunjukan barusan bagus sekali.. aku bangga padamu.'

Kuroko tekekeh. 'Hmh, tentu saja. Sudah kukatakan kepadamu. Pertunjukan yang kuberikan sangat menarik.'

'Benar-benar bagus.. kutunggu pertunjukan mu itu selanjutnya..'

'Hmh, tentu saja.' Kuroko lalu tersenyum— tidak, dia menyeringai menatap bayangan dirinya. Ia menyentuh cermin di hadapannya dengan tangan kanan. 'Kau sungguh menyedihkan, Kuroko Tetsuya..' ujarnya di dalam hati sambil terus memandangi bayangan itu dengan seringai di wajahnya.


.

.

.


Dalam hitungan minggu, sifat Kuroko berubah drastis. Pertama dari dirinya yang manis, lembut, ramah, dan sopan lalu berubah menjadi dingin. Sekarang, bukan hanya dingin, lebih parah dari itu, ia menjadi.. yah, sebut saja berandalan. Ya, berandalan, kau tidak salah membaca kata ini. Beberapa kali ia berkelahi entah dengan siswa Seirin atau siswa sekolah lain. Gakuran hitamnya tidak lagi dikancing, ia membiarkan gakurannya terbuka sehingga kaus putih yang ia pakai dapat terlihat jelas. Ia bahkan menindik telinganya di telinga kanan. Beberapa orang mulai menjauhi Kuroko. Tidak apa, lagipula ia juga tidak peduli. Kuroko memegang perkataannya, ia tidak meluruskan salah paham dengan Aomine atau Murasakibara. Ia tidak meminta maaf dan tidak pernah berbicara lagi dengan Kagami. Ia tidak berusaha mengontak Kise, sama sekali. Kacau, hancur, hidupnya menjadi kacau. Tidak hanya semua itu, Kuroko mulai sering membolos pelajaran dan membolos latihan basket. Lebih sering ia menghabiskan waktu di atap sekolah sampai jam sekolah selesai, ia lebih sering langsung pulang daripada latihan basket, ia berhenti pergi ke Maji Burger untuk sekedar membeli segelas vanilla milkshake. Beberapa kali ia datang ke sekolah dengan baju yang kotor dan berantakan serta luka lebam di wajahnya. Hal itu sukses memancing siswa lain menggosipkan dirinya. Dia sih, cuek-cuek saja, terserah mereka mau berkata apa soal dirinya.

Kagami mulai frustasi melihat kelakuan sahabatnya satu itu yang menurut dirinya mulai abnormal. Ia sering melihat Kuroko datang ke sekolah dengan darah yang sudah mulai mengering. Mulai dari kening, sudut bibir, hingga pipi yang lebam, tak jarang ia temui tangan Kuroko terluka hingga mengalirkan darah. Kuroko sendiri datang dengan cuek, seolah sudah tidak peduli lagi terhadap tubuhnya itu. Beberapa kali juga ia sempat melihat Kuroko keluar dari sebuah gang kecil yang gelap di jalan, ia mencoba masuk ke situ hanya untuk mendapati beberapa siswa dari sekolah lain terkapar di tanah. Sepertinya baru saja Kuroko bertengkar dengan siswa sekolah itu. Sore itu, Kagami baru saja menyelesaikan latihan basketnya. Ia melangkahkan kakinya menyusuri kota Tokyo. Ia berencana untuk mampir ke Maji Burger, membeli makan malam sebelum pulang. Namun, rencananya itu ia tunda karena melihat dua orang yang familiar. Kuroko dan Kise. Kagami berjalan mendekat ke arah mereka dan bersembunyi untuk mendengarkan percakapan mereka.

"Kurokocchi.."

"…."

.

.

.

TBC