Author"s note: ya~ minna-san .. author balik.. akhirnya bentar lagi fanfic ini selesai .. (batin, ini fanfic ancur deh) ya ga sih? ancur ya? menurut author sih.. ancur.. ._. tapi sudah begini dari awal jalan ceritanya.. BTW, besok author bakal update Secret Love, bagi yang nunggu... silahkan.. setelah itu author mau semi-hiatus dulu... banyak tugas.. minggu depannya lagi author bakal update :3 jadi, silahkan ditunggu yah..

Special thanks to: Flow. L yang selalu setia membaca dan mereview cerita author, Dewi15 yang dengan setia baca cerita gaje ini dan review, dan Hotori Nana yang suka sama fanfic ini dan mau review ;A; arigatou minna... silent readers juga..

douzo...

*kabur*


Chapter 18

Kagami menyenderkan tubuhnya di dinding dan mencoba mendekatkan telinganya ke arah dua orang itu, Kuroko dan Kise. Ia tidak mau disebut menguping, sebut saja mendengarkan pembicaraan orang lain.

"Kurokocchi.." Kise memanggil Kuroko dengan nada sedih.

"Ah, apa kita pernah kenal sebelumnya ?" Tanya Kuroko dingin.

Tubuh Kise menegang. Ia merasakan, jelas ada yang salah dengan kedua manik biru itu. Tatapan matanya begitu dingin dan menusuk. "Ku..Kurokocchi.. ayolah.. jangan bercanda.."

"Aku tidak bercanda. Kau siapa?"

"Kurokocchi! Jangan bilang kau lupa padaku?! Kise Ryouta!"

Dengan wajah seolah-olah ingat akan sesuatu, ia menjawab, "Ah, Kise-san?"

"-san? Kenapa kau memakai –san? Apa.. kau masih marah padaku, Kurokocchi?"

"Eh? Apa yang kau bicarakan, Kise-san? Kita baru kenal, bukan?"

Mata Kise membulat. 'Apa..yang dia katakan ?' Kise mengepalkan kedua tangannya di samping. Ia menundukan kepalanya, surai kuning itu menghalangi matanya.

"Ada apa, Kise-san? Apa ada perlu denganku?"

Kise lalu mengangkat wajahnya. "Kurokocchi! Kau ini kenapa, sih?!" Kise mulai kesal. Ia menaikkan nada bicaranya.

"Aku? Tidak ada yang salah denganku. Mungkin malah kau yang kenapa-kenapa, Kise-san." Jawab Kuroko tenang.

"Apa maksudmu?! Apa kau masih marah padaku soal beberapa minggu lalu?"

"Beberapa minggu lalu? Ada apa, ya? Kita baru kenal hari ini, kan? Aku belum pernah berbicara denganmu, Kise-san. Apa kau sedang amnesia?" kembali ia gunakan kata amnesia pada 'temannya'.

Kesabaran Kise habis. Ia langsung berteriak sehingga menarik perhatian beberapa orang yang sedang lewat di jalan itu. "Kurokocchi! Kau ini kenapa?! Kau bahkan tidak memberi kabar apa-apa padaku!"

"Kenapa aku harus memberi kabar padamu, Kise-san?" Kuroko memandang wajah Kise dengan datar.

Kise terdiam. "Karena…aku khawatir padamu-ssu.."

"Khawatir? Kenapa kau khawatir dengan orang yang kau tidak kenal?"

"… Kurokocchi, aku…"

"Sumimasen, Kise-san. Aku harus pergi, aku sibuk. Sebaiknya kau juga cepat pulang. Permisi." Kuroko lalu pergi meninggalkan Kise yang sedang menundukan kepalanya sendirian di jalan. Kagami yang sedari tadi melihat hal itu mendatangi Kise.

"Oi, Kise."

Kise mendongak, ia lalu menoleh ke arah suara. "Kagamicchi?"

"Kise.."

"Kagamicchi sedang apa di sini?"

Kagami langsung diam. Apa harus dia berbicara jujur kalau dia mendengarkan obrolannya dengan Kuroko? Ah, masa bodoh, katakan saja dengan jujur. "Aku mendengarkan obrolanmu dengan Kuroko." Jawab Kagami.

"Eh? Kau.. dengar semua?"

"Ya. Ehm, lebih baik kita cari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara. Aku ingin berbicara berdua denganmu. Bagaimana kalau di Maji Burger?" tawar Kagami.

"Boleh-ssu.."


Kuroko melangkahkan kakinya menuju ke apartemen. Udara sudah lumayan hangat, jadi ia tidak perlu menggunakan syal ataupun sarung tangan. Ia sedang berjalan trotoar, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.

"Oi, Kuroko.."

Kuroko lalu menoleh dan mendapati Midorima sedang duduk di gerobak yang ditarik oleh sepeda bersama Takao.

"Ah, Midorima-kun, Takaou-kun, doumo.." Kuroko menyapa mereka berdua. Mungkin, bagi Kuroko hanya Midorima dari anggota Kiseki no Sedai yang masih ia akui sebagai kenalannya— bukan, mungkin.. temannya.

"Kuroko, kau sedang apa?" Tanya Takao.

"Hm, aku mau pulang, Takao-kun."

Midorima tahu, ada yang salah dengan Kuroko. Terakhir ia ketemu Kuroko saat wisuda, ia tidak sedingin ini. Walaupun wajahnya terkesan datar seperti biasa, tapi ia bisa merasakan ada yang berbeda dengan Kuroko. "Kuroko, bisa kau ikut dengan ku ? Ada yang ingin kubicarakan." Kata Midorima.

Kuroko tampak berpikir sebentar lalu menjawab, "Baiklah."

Midorima turun dari gerobaknya sambil membawa lucky item. "Takao, kau pulang saja duluan. Aku sepertinya akan lama."

"Hm, baiklah, Shin-chan~ Jaa na, Shin-chan, Kuroko!" Takao lalu kembali mengayuh sepedanya setelah melambaikan tangan pada Midorima dan Kuroko.

"Jadi, ada apa, Midorima-kun?"

"Kuroko, sebenarnya… ada apa? Apa masalahmu tambah buruk?"

Kuroko menundukan kepalanya, membuat Midorima menjadi bingung. "Kuroko, oi.. ada ap—" Midorima tidak jadi melanjutkan kalimatnya, ia terlalu terkejut. Bagaimana tidak, Kuroko malah tersenyum— tidak, dia tertawa.

"Ahahahahaha…ahahaha….hahahaha.." Kuroko tertawa dengan lepas sambil memegangi perutnya. Setelah beberapa menit tertawa, Kuroko berhenti lalu memandang Midorima. "Sayangnya kau salah, Midorima-kun."

"Eh?" Midorima sedikit takut dengan kelakuan temannya ini. Kenapa? Ia belum pernah melihat Kuroko tertawa lepas seperti itu. Bukan, bukan karena ia tertawa lepas, tapi.. ia tertawa lepas karena masalahnya.

"Kau salah. Masalahku sudah selesai. Masalahku hilang, Midorima-kun! Aah… setiap hari mimpi buruk.. setiap hari memandang dunia hitam putih… bukankah itu indah, Midorima-kun?"

Midorima terdiam. Ia lalu memandang Kuroko dan menyadari suatu hal. "Kuroko, sejak kapan kau memakai gakuran dengan model terbuka? Lalu.. kenapa kau menindik telingamu itu?" Tanya Midorima.

"Ah, ini? Karena aku suka, Midorima-kun. Aku sudah bosan menjadi anak baik. Anak baik itu selalu disakiti dan ditindas. Karena itu, aku menjadi anak nakal, karena anak nakal selalu menang." Ujarnya dengan bangga.

Midorima terpaku. Ia tidak menyangka Kuroko akan mengeluarkan jawaban seperti itu dari mulutnya. Midorima diam, ia bingung harus menjawab seperti apa.

"Midorima-kun? Ada apa?"

Midorima lalu berdeham sedikit. "Kuroko, serius.. kau.. kenapa? Apa ini.. gara-gara Akashi-nodayo?"

Kuroko meletakkan jari telunjuknya di dagu dengan pose berpikir. "Hm.. tidak? Kurasa…atau iya? Entahlah.." Kuroko menjawab sambil terkekeh.

"Kuroko, aku tau.. masalahmu itu tidak gampang. Tolong, kumohon jangan begini." Midorima berucap, ekspresi wajahnya sedih.

"Kenapa?"

"Semua khawatir dengamu"

"Semua? Siapa yang kau maksud? Aomine-san ? Murasakibara-san? Kise-san? Kagami-san? Midorima-kun? Sei-kun?"

Midorima kembali terdiam. "Sejak kapan kau memanggil mereka dengan –san?"

"Eh? Sejak dulu tentu saja." Jawab Kuroko santai.

Midorima menaikkan sebelah alisnya "Hah?"

"Iya, sejak dulu Midorima- san" Kuroko mengganti –kun dibelakang nama Midorima menjadi –san."

"Kenapa.. kau mengganti suffix nama kami?"

"Karena aku mau, Midorima-san."

"Kuroko… kau.. tolong jangan begini."

"Ah, Midorima-san, aku harus pulang. Ini sudah malam. Kau juga sebaiknya pulang, rumahmu jauh, kan? Aku permisi, Midorima-san." Kuroko lalu meninggalkan Midorima berdiri sendirian di jalan, menganga. Ia tak menyangka Kuroko menjadi seperti ini setelah putus dengan Akashi.

'Apa putus dengan Akashi membuat dia jadi gila-nodayo?' batin Midorima. Ia lalu menggelengkan kepalanya, dan memandang Kuroko yang berjalan menuju ke apartemennya sebelum akhirnya ia sendiri membalikkan badan dan pulang ke rumah.


.

.

.


"Begitulah." Kagami mengakhiri ceritanya.

Kise terkejut dengan cerita Kagami. Ia hanya bisa terdiam. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di Maji Burger, dengan makan malam masing-masing dibiarkan begitu saja hingga dingin.

"Jadi.. Kurokocchi juga begitu terhadapmu, Kagamicchi?"

"Yah, begitulah. Aku sempat coba berbicara dengannya…"

"Lalu, bagaimana-ssu?"

Kagami lalu menggelengkan kepalanya yang sedang ia tundukan. "Dia… sepertinya benar-benar terpuruk."

Kise menghela nafasnya. "Haah.. lalu.. bagaimana ini.."

"Entahlah…" Kagami menyenderkan tubuhnya di sofa. Tiba-tiba seseorang masuk dan menyapa mereka berdua.

"Kise? Kagami?"

Kise dan Kagami langsung menoleh ke sumber suara. "Midorimacchi/ Midorima?!" Mereka berdua kaget melihat Midorima.

"Kalian berdua sedang apa? Kencan?"

"BUKAN!" Kise dan Kagami berteriak.

Midorima lalu mencibir mereka, "Hmph, aku hanya bercanda, bodoh."

Kise dan Kagami mendengus kesal. Midorima lalu duduk di sofa yang kosong bersama mereka setelah memesan minuman untuk dirinya. Midorima menyesap minuman yang ia pesan barusan dengan tenang sambil menata kalimat di kepalanya.

"Jadi… ada apa denganmu kesini, Midorimacchi?" Kise yang pertama membuka percakapan.

Midorima menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke Kise. "Aku hanya kebetulan lewat. Tidak biasanya kalian berbicara, jadi aku masuk. Lagipula aku mau membeli minum." Jelas Midorima.

"Hm… tumben kau pulang sendiri? Mana Takao dan gerobakmu ?" Tanya Kagami.

"Tadi, aku pulang bersama Takao. Tapi, aku ketemu Kuroko dan aku mengobrol sebentar dengannya."

Kise dan Kagami membulatkan mata mereka. Kise lalu berinisiatif bertanya. "Midorimacchi, bagaimana… dengan Kurokocchi-ssu?"

"Ah, yah… begitulah. Sepertinya..ada yang salah-nodayo.." jawab Midorima sambil memandangi minumannya.

"Sudah kuduga.. pasti ada sesuatu yang salah dengan anak itu." Kata Kagami sambil menyenderkan tubuhnya di sofa. "Apa kalian tahu sesuatu?" Tanya Kagami.

Begitu mendengar pertanyaan Kagami, Kise dan Midorima langsung menegang. Tahu ada yang salah dengan kedua temannya, ia mencoba bertanya. Kagami mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya ia lipat di atas meja.

"Jadi.. ada apa sebenarnya?" Kagami bertanya dengan tatapan menyelidik.

Kise dan Midorima masih diam, tidak berencana menjawab pertanyaan Kagami. Kagami masih menunggu jawaban mereka. Mereka bertiga diam, tidak ada yang memulai percakapan.

"Oi, Kise.. Midorima.. jawablah."

"Nee, nee, Midorimacchi.."

Midorima lalu menoleh ke arah Kise. "Apa?"

"Apa.. lebih baik kita memberitahu Kagamicchi?"

Midorima menghela nafas lalu menjawab, "Entahlah. Apa bagus memberitahu masalah pribadi Kuroko pada orang lain?"

"Uh.. aku tidak tahu. Aku merasa jika orang lain tahu Kurokocchi bisa marah…"

Kagami memperhatikan temannya berdebat sedari tadi. Tiba-tiba ia tersadar. "Ah, Kise.. kau kenapa memanggil Kurokocchi lagi?"

Kise menoleh ke arah Kagami. "Ah? Eh… ini.. kami..putus." jawab Kise ragu.

Midorima dan Kagami kaget. "Putus?! Kenapa bisa?" mereka berdua bertanya berbarengan.

"Yah, ceritanya panjang."

Kagami lalu kembali ke topic utama. "Lalu, ada apa dengan masalah Kuroko?"

Midorima menghela nafas. "Kau akan kuberitahu dengan satu syarat."

"Syarat apa?" Kagami mulai penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Midorima.

"Kau, tidak boleh memberitahu masalah ini pada siapapun. Termasuk anggota Seirin. Hanya kau dan Kiseki no Sedai yang tahu."

Kagami tampak berpikir sebentar. "Hm.. baiklah."

Midorima dan Kise berpandangan sebentar lalu mengangguk. Midorima lalu berdeham sedikit sebelum memulai ceritanya.

"Kau, pernah dengar tentang Akashi Seijuuro?"

Mata Kagami membulat. "Akashi Seijuuro? Kapten.. Kiseki no Sedai?"

"Ya, dia mantan kapten kami." Midorima berhenti sebentar lalu melanjutkan kalimatnya. "Sekaligus mantan pacar Kuroko."

"Mantan pacar?!" Kagami terkejut.

"Ya, mantan pacar."

"Lalu.. kenapa mereka putus?"

Tampak Kise menundukan wajahnya dengan ekspresi sedih seperti hendak menangis. Midorima melanjutkan cerita. "Kuroko.. mendengar obrolan yang seharusnya tidak ia dengar."

"Obrolan? Obrolan apa?"

"Kise, kau beritahu dia. Kata Kuroko yang mengobrol dengan Akashi adalah kau, ya kan?"

Kise mendongak, wajahnya sedikit kaget. "Ah, ya. Jadi, waktu itu Kurokocchi mendengar aku dan Akashicchi mengobrol di kelas kosong. A..akashicchi…" Kise berhenti sebentar. Wajahnya sudah lumayan basah dengan air mata.

"Biar aku yang melanjutkan ceritanya, Kise.." Midorima menawarkan bantuan pada Kise.

"Tidak usah, Midorimacchi.. biar aku saja-ssu.." Kise menenangkan dirinya sedikit sebelum melanjutkan ceritanya. "Obrolan itu adalah… tentang.. Akashicchi yang mempermainkan Kurokocchi."

"Eh? Mempermainkan?"

"Iya, Akashicchi… menyatakan perasaannya untuk mengikat Kurokocchi masuk tim basket. 'Dia' menggunakan Kurokocchi agar tim basket menang." Kise kembali menundukan wajahnya yang masih basah dengan air mata.

Kagami diam mematung. Ia tak menyangka, ternyata selama ini Kuroko dipermainkan oleh mantan kaptennya sendiri. Siapa yang tidak sakit hati bila dipermainkan. Lebih lagi kalau sudah terlanjur mencintai orang itu. "Lalu.. bagaimana?" Tanya Kagami

"Kurokocchi sudah terlanjur jatuh cinta pada 'dia'. Jadi… Kurokocchi bertahan walaupun hanya sebentar hingga akhirnya, 'orang itu' melukai Kurokocchi secara fisik."

"Fisik? Maksudmu Kuroko dipukuli, begitu?"

Midorima menggeleng. "Bukan, tapi dengan gunting-nodayo."

Kagami hanya bisa diam. Dia memproses kalimat yang baru saja dilontarkan Midorima. Gunting? Apa dia tidak salah dengar? Segila apa Akashi Seijuuro hingga melukai Kuroko?. Kagami terus diam, ia bahkan tidak bisa merespon apa-apa, terlalu shock.

Tiba-tiba Midorima menambahi lagi. "Lalu.. yang kudengar, setelah putus dari Akashi, Kuroko pacaran dengan Kise. Begitukah, Kise?"

Kise menoleh ke arah Midorima. "Dari mana kau tahu itu, Midorimacchi?"

"Saat wisuda, aku dan Murasakibara sedang berjalan ke auditorium. Di tengah perjalanan, aku melihat Kuroko dan Aomine di halaman belakang. Kami berdua mendekat, dan saat itulah kami berdua mendengar semua obrolan Kuroko dan Aomine."

"Obrolan apa, Midorimacchi?"

Midorima menunduk sebentar, memandangi minumannya. "Aomine.. menyangka bahwa Kuroko putus dengan Akashi karena memilihmu, Kise."

Kise membulatkan matanya. "Hah?! Jadi..jadi.." Kise teringat bahwa saat itu Kuroko sempat dikata-katai oleh Aomine. Jadi, ia dikucilkan hanya karena salah paham ini?!

"Aomine.. lalu memukul Kuroko. Kuroko berusaha menyangkal, tapi.. Aomine…" Midorima diam, memandangi minumannya yang sudah habis.

Kise mendecakkan lidahnya. "Ck, Ahominecchi. Apa dia kira Kurokocchi orang yang seperti itu?! Dasar baka!" Kise memaki-maki Aomine. Kise menundukan kepalanya. Ia jadi merasa bersalah, karena ia mengajak Kuroko pacaran.. Aomine malah salah paham dengannya.

"Begitu juga dengan Murasakibara." Lanjut Midorima.

"Hah? Murasakibaracchi?"

"Iya, dia ikut salah paham." Jelas Midorima pada Kise.

Meja mereka kembali diam. Kagami yang sedari tadi hanya mendengarkan obrolan itu diam saja. Ia kesal, bagaimana tidak? Orang yang tidak bersalah justru dikucilkan. Ia menjadi ikut sedih dan merasa bersalah. Ia sempat membentak Kuroko, padahal Kuroko sedang punya masalah yang bisa dibilang.. rumit.

Tiba-tiba Kagami memulai pembicaraan. "Lalu.. bagaimana.. apa yang harus kita lakukan?"

Midorima mengangkat wajahnya. "Sepertinya.. untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan."

Kise memandang keluar jendela, hujan turun membasahi kaca jendela Maji Burger. Kise menopangkan dagunya di atas tangan kanan sambil memandangi butiran air yang meluncur di kaca jendela, pikirannya melayang entah kemana.

'Kurokocchi…'

.

.

.

TBC