Chapter 19
Matahari belum begitu tampak di ufuk timur. Seorang pemuda bersurai baby blue bangun dari tidurnya. Ia merenggangkan tubuhnya sebentar lalu turun dari tempat tidur dan mengambil bajunya lalu segera mandi. Hari ini, tim basket Seirin akan mengadakan training camp di luar Tokyo, di pinggir kota tepatnya. Pagi-pagi jam 5, Kuroko sudah mandi dan mempersiapkan barang-barang yang ia butuhkan. Kuroko keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ia lilitkan dari pinggang ke bawah dan satu handuk di pundaknya. Ia mengeringkan rambutnya dan berjalan ke arah lemari baju. Kuroko mencari kaos dan celana jeans yang akan ia pakai saat berangkat nanti, lalu tidak lupa beberapa pasang baju untuk dibawa ke penginapan saat training camp. Setelah merasa semua beres, ia mengambil ponselnya dan dimasukkan ke dalam tas. Kuroko mengangkat tasnya itu dan pergi ke sekolah setelah mengunci apartemennya. Anggota tim basket harus berkumpul di sekolah pukul 6 pagi, lalu mereka akan berangkat bersama menggunakan bus.
Kuroko melangkahkan kakinya menuju sekolah. Walaupun ini musim panas, tetap saja berangkat pagi-pagi begini dingin, untung saja ia mengenakan jaketnya. Kuroko mempercepat langkahnya, ingin cepat-cepat menghangatkan tubuh di gym sekolah. Begitu sampai di sekolah, ia segera pergi ke gym. Para senpai dan temannya yang lain sudah berkumpul, tinggal menunggu Kagami saja yang diduga terlambat bangun. Kuroko duduk di bangku coklat sambil menunggu Kagami. Tiba-tiba pintu gym dibuka. Kagami berlari ke dalam.
"Sumimasen, aku terlambat." Ujar Kagami
"Bakagami, kau pikir ini jam berapa, hah?!" Aida Riko memarahi anggotanya. Sebentar lagi bus mereka akan tiba, padahal untuk ke halte perlu waktu 10 menit. Merekapun langsung berlari secepat mungkin ke halte bus sambil membawa tas masing-masing. Sampai di halte, bus mereka sudah tiba, mereka langsung masuk ke dalam dengan nafas terengah-engah.
"Mou, ini gara-gara Bakagami!" ujar Hyuga, sang kapten.
"Sumimasen, captain."
Mereka lalu duduk di tempat masing-masing. Tawa dan canda ria menghiasi perjalanan jauh mereka. Kagami dan teman-temannya bermain kartu, para senpai bermain shiritori, sedangkan Kuroko hanya duduk diam memandang keluar jendela. Sedari tadi, ia tidak bergabung dengan yang lain, ia malas untuk berbicara dengan yang lain. Pandangannya keluar kosong, ia sama sekali tidak menikmati pemandangan diluar. Beberapa kali Kagami mencuri-curi ke arah Kuroko. Kuroko hanya melamun memandang keluar jendela, Kagami khawatir pada Kuroko, namun ia tidak tahu harus bagaimana.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, akhirnya mereka tiba di halte bus di pinggir kota. Dari halte bus ini nanti mereka akan berjalan kaki ke bukit, tempat penginapan berada. Mereka turun dari bus lalu setelah mengecek semua barang ada, mereka segera berangkat ke penginapan. Kuroko berjalan di paling belakang. Daritadi ia diam saja, tidak berusaha membuka pembicaraan dengan siapapun. Sesekali Kagami melirik kebelakang, memperhatikan Kuroko. Ia tampak melamun, pandangan matanya kosong. Akhirnya, merekapun sampai di penginapan.
"Yosh, minna.. sekarang kalian pilih kamar. Satu kamar berlima dan.. ah, karena satu kamar lagi tidak cukup, maka ada yang sendiri. Siapa yang mau sendirian?" Aida Riko langsung memberi instruksi begitu sampai.
Kuroko mengangkat tangan. "Aku, coach."
"Baik, Kuroko-kun sendirian. Sisanya berlima."
"Baik, coach!"
"Bereskan barang kalian. Kita akan latihan setelah makan siang, kalian istirahat saja dulu."
"Siap!"
Mereka lalu membawa tas mereka ke kamar-kamar yang telah ditentukan. Kamar 1 diisi Hyuga, Kiyoshi, Izuki, Koganei, dan Mitobe. Kamar 2 diisi Kawahara, Fukuda, Furihata, Kagami, dan Tsuchida. Terakhir kamar 3, diisi oleh Kuroko sendirian dan tentu saja coach mereka ada kamar sendiri. Kuroko membuka pintu geser dengan gaya Jepang tradisional yang terbuat dari kayu itu dan menutupnya kembali setelah sampai di dalam. Ia meletakkan tasnya di pojok ruangan lalu duduk di depan meja kayu kecil yang disediakan di dalam kamar. Kuroko melipat kedua tangannya di atas meja dan menidurkan kepalanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Mungkin.. tentang Akashi. Kuroko mengangkat kepalanya, ia lalu berdiri dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam tas sedari tadi pagi. Ia memainkan ponselnya sambil menunggu jam latihan, tak lupa ia juga mengambil beberapa novel yang ia bawa untuk mengusir rasa bosannya.
Selesai makan siang, para anggota tim basket langsung berganti baju dan pergi menuju gym di dekat penginapan. Berbeda dengan Kuroko. Kuroko membolos latihan dengan alasan sakit. Ia menidurkan dirinya di atas lantai kamar penginapan yang terbuat dari tatami. Kepalanya menengadah ke atas dengan tangan telentang. Beberapa menit ia melamun, tiba-tiba ia merasa kelopak matanya berat. Kuroko pun tertidur.
.
.
.
Kuroko terbangun. Kedua maniknya berusaha memfokuskan pandangan ke penjuru ruangan yang masih asing baginya. Ia mengambil ponselnya dan melihat jam.
"Ah, sudah jam 7.. yang lain.. pasti masih latihan.."
Kuroko lalu bangkit berdiri dan melangkahkan kaki ke kamar mandi, hendak membasuh wajahnya. Kuroko membuka keran itu dan mengambil air lalu membasahi wajahnya beberapa kali. Setelah dirasa cukup, ia mematikan keran air itu dan keluar dari kamar mandi. Kuroko berencana untuk jalan-jalan di halaman penginapan, mencari udara segar. Kuroko kembali ke kamar untuk mencari jaketnya. Ia mengenakan jaket birunya dan pergi keluar.
Ah, berjalan-jalan di halaman dapat menenangkan pikirannya, setidaknya sedikit. Halaman penginapan itu diisi dengan semak-semak bunga, lalu ada kolam ikan,dan juga hiasan seperti lampu kecil. Angin berhembus meniup surai Kuroko. Kuroko melangkahkan kakinya dan duduk di bangku kayu bercat coklat tua. Ia menyenderkan tubuhnya di bangku itu dan mendongak ke atas sambil memejamkan kedua matanya.
"Hm.."
'Ada apa, Tetsuya?' suara di dalam kepala itu memanggil Kuroko
'Hm? Apanya?'
'Kau bergumam terus, hm?'
'Yah, setidaknya di sini pikiranku sedikit lebih tenang. Aku juga butuh ketenangan kau tahu?'
'Oh~ begitukah?'
'Aku bisa gila kalau di dalam ruangan terus.'
'Bukankah itu bagus?'
'Ah, mungkin saja.'
Kuroko menengok ke arah suara begitu mendengar suara langkah kaki di tanah berbatu halaman penginapan. Mata Kuroko membulat, ia terkejut dengan kedatangan orang itu yang tak lain adalah Akashi Seijuuro. Begitu juga dengan Akashi, ia tak kalah kagetnya dengan Kuroko.
"Ah.. a.." Kuroko berusaha berbicara, namun ia tidak bisa membentuk kalimat. Tak ada kata-kata yang terlintas di otaknya.
"Rupanya kau." Akashi menyahut dengan nada bicara yang cuek dan dingin, membuat Kuroko sedih.
Kuroko menundukan wajahnya, ia takut. Takut jika ia memandang Akashi, ia merasa ia akan menangis.
"Kenapa di sini?" Tanya Akashi lagi.
"Kami sedang training camp." Jawab Kuroko, suaranya sedikit bergetar.
"Kami? Ah.. Seirin mu itu, hah?" balas Akashi dengan nada mengejek.
"Lalu.. Akashi-kun sendiri?"
"Rakuzan, training camp."
"O..oh.."
Lalu sunyi. Obrolan mereka berhenti sampai di situ. Beberapa menit mereka diam, tidak ada yang berusaha memecah keheningan dan memulai obrolan. Tiba-tiba Akashi membuka pembicaraan.
"Kau tahu?" Akashi memulai, membuat Kuroko mengangkat wajahnya. "Kau membuatku muak." Lanjut Akashi.
Kedua mata Kuroko membulat. 'Aku… membuat.. dia muak..' Kuroko membatin dalam hati. Ia kembali menundukan wajahnya.
"Kau itu tidak berguna, bodoh. Ya, kau bodoh. Begitu mudah kau dibohongi oleh orang lain."
"…."
"Satu hal lagi yang membuatku semakin benci padamu."
Kuroko mendongak. "…"
"Kau membuat hidupku kacau ! Aku begitu membencimu! Kenapa kau harus ada?! Merepotkan saja, lebih baik kau menghilang!" Akashi berteriak.
Kuroko terdiam. Kata-kata Akashi terus terngiang-ngiang dalam otaknya. 'Jadi.. ia mau aku menghilang …' Kuroko menitikkan air matanya.
Akashi yang melihat Kuroko menangis, mencibirnya. "Lihat, begitu saja kau sudah menangis.."
Kuroko mengangkat wajahnya yang basah dengan air mata. Ia tersenyum pahit pada Akashi lalu berbicara, "Gomen. Gomen, Akashi-kun. Aku.. tidak tahu kalau eksistensiku membuatmu tersiksa. Lebih baik aku pergi sekarang, begitu lebih baik. Aku tidak mau merepotkanmu lebih banyak lagi. Permisi." Kuroko lalu berdiri dan berlari ke dalam penginapan sambil menangis.
Akashi menundukan wajahnya. Dia meremas tangannya dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tiba-tiba Akashi ambruk, ia jatuh terduduk di bawah.
"Tetsuya… Tetsuya.. Tetsuya.." Akashi terus menyebut-nyebut nama Kuroko dengan air mata membanjiri wajahnya. Ia begitu kesal. Akashi tau, ia sudah jatuh cinta pada Kuroko. Namun, karena harga dirinya itu, egonya itu, ia tidak mau mengakuinya. Begitu ia bertemu Kuroko, otaknya kosong. Ia tidak dapat berpikir dengan jernih, karena orang yang ia cintai ada di depannya.
"Apa yang kulakukan, sih? Bodoh, bodoh, bodoh.." Akashi mengacak-acak surai merahnya Karena terlalu kesal.
"Tetsuya.. apa yang harus kulakukan…" Akashi menyesal. Ia menyesal melepas Kuroko begitu saja, menyesal karena tidak memperlakukan Kuroko dengan sepenuh hati, hingga akhirnya ia sadar, ia telah jatuh cinta. Cinta itu menyiksa, kata Akashi. Atau mungkin, hanya cintanya saja yang menyiksa. Ia menyesal sekarang, akibat permainan liciknya sendiri, perbuatan bodohnya sendiri, ia harus menanggung semua akibatnya. Mau tidak mau. Akashi terus duduk di tanah sambil menangis, tak peduli dengan tatapan orang lain yang sedang menginap di situ.
"Tetsuya.. gomen..gomen.."
Kuroko terus berlari, hingga akhirnya ia sampai di dalam kamar penginapan. Kuroko duduk di bawah, di lantai. Ia menangis, air matanya sudah mengalir deras membasahi wajahnya yang manis. Kata-kata Akashi tadi begitu membuat hatinya sakit, ia sudah tidak tahan lagi. Kuroko lalu memberesi barang-barangnya dan sempat menuliskan surat di sobekan kertas bagi tim Seirin. Kuroko mengambil tasnya dan pergi keluar kamar. Ia mendatangi pemilik penginapan yang sedang berada di dekat pintu keluar.
"Anou, oba-san.."
Orang itu menoleh. "Ah, Seirin. Ada apa?"
"Tolong aku titip ini pada anggota Seirin yang lain." Kata Kuroko sambil menyerahkan sobekan kertas yang ia genggam.
"Ah, baiklah. Kau mau kemana?"
"Aku mau pulang, ada urusan."
"Baiklah.. hati-hati.."
"Arigatou gozaimasu.." Kuroko membungkuk lalu keluar dari penginapan dan berjalan menuju ke halte bus untuk mencari bus ke Tokyo, tidak peduli sudah malam. Kuroko menunggu kira-kira 1 jam di halte bus sampai bus ke Tokyo datang. Kuroko masuk ke dalam bus dan duduk di belakang pojok. Ia melihat pemandangan diluar. Ia memejamkan matanya lalu menghela nafas.
"Haah.. sudahlah.. tidak perlu dipikirkan.." Kuroko lalu kembali memandangi jalan di luar jendela bus. Ia merasa, perjalanan kali ini akan terasa sangat, sangat panjang.
.
.
.
TBC
