Author's note: doumo.. akhirnya udah seminggu ( atau lebih?) dan.. author update lagi.. sebentar lagi fanfic ini bakal selesai =_= ga nyangka deh.. author kira.. mulai akhir-akhir ini kan sudah buat bosen.. dan ternyata masih ada yang mau nyempetin waktu review ;A; .. makasih banyakkkk..
Special thanks to: Dewi15, YuuRein, Hotori Nana, Flow.L, outofblue, Yuna Seijuurou, , dan silent readers. Arigatou gozaimasu!
Chapter 20
Pemuda bersurai biru itu sampai di Tokyo pukul 11.30 malam. Jalanan sudah sepi, jarang ada orang maupun kendaraan yang lewat. Kuroko merasa, mencari taksi akan memakan waktu yang lama, ia pun memutuskan untuk berjalan kaki ke apartemennya. Angin bertiup lumayan dingin malam ini, atau mungkin.. hanya perasaannya saja? Kuroko mengencangkan jaket yang ia kenakan. Di tengah perjalanan, ia melewati restoran favoritnya, Maji Burger. Ia berhenti sebentar di depan toko itu.
'Sudah lama.. aku tidak kesini..' batin Kuroko. Ia memperhatikan Maji Burger dari luar beberapa saat. Kuroko akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam, hendak membeli segelas vanilla shake yang ia rindukan. Kuroko membuka pintu kaca itu dan masuk ke dalam lalu langsung memesan minuman. Ia duduk di salah satu sofa dekat jendela yang menghadap ke jalan utama. Kuroko meletakkan tas yang ia bawa di bawah, di samping sofa lalu menyesap minuman favoritnya itu. Rasa manis vanilla yang familiar terasa di lidahnya, rasa yang begitu ia rindukan. Rasa manis tepatnya yang ia rindukan, makanan yang biasa ia makan hambar, bukan karena tidak ada garam. Kuroko melamun, pandangannya kosong ke arah meja sambil menyesap minumannya. Ia lalu mengalihkan pandangan keluar begitu mendengar suara air.
"Ah, hujan.." Kuroko memperhatikan jalan diluar yang sudah sepi karena sekarang hampir tengah malam. Air hujan turun dengan deras, membasahi jalanan serta kaca jendela Maji Burger. Kuroko mengamati butiran air yang meluncur di kaca jendela, entah mengapa ia melakukan hal itu. Kuroko kembali mengalihkan pandangannya ke dalam, menatap meja di depannya sambil menyesap vanilla shake yang tinggal setengah. Ia terdiam sebentar, lalu menghela nafas panjang beberapa kali.
"Ah.. sepertinya aku tidak bisa pulang sekarang.." Kata Kuroko sambil memperhatikan hujan yang turun semakin deras. Ia pun memesan vanilla shake lagi, mengganti vanilla shake nya yang sudah habis ia minum. Untung saja Maji Burger sedang sepi, Kuroko sedang tidak ingin diganggu siapapun, termasuk keramaian. Kuroko duduk sambil terus menunggu hujan berhenti, paling tidak sedikit reda.
"Tetsuya.."
"Ya, Sei-kun?"
"Di luar sepertinya hujan deras. Apa kau mau langsung pulang atau menunggu sebentar?"
Kuroko tampak berpikir. "Lebih baik aku menunggu dulu supaya hujan sedikit reda."
Akashi lalu tersenyum kemudian ia duduk di samping Kuroko. Mereka berdua baru saja selesai mengganti baju setelah latihan rutin basket. Tinggal mereka berdua saja di gym, dan tampaknya di luar hujan deras.
"Jaa, aku akan menemanimu.." ujar Akashi.
Kuroko menoleh dengan wajah merah. "Eh? Jangan, Sei-kun.. lebih baik Sei-kun pulang saja terlebih dahulu.. nanti Sei-kun pulang terlalu malam.."
"Kenapa? Apa kau.. tidak suka kutemani?"
"Bu..bukan begitu.. tapi.."
Akashi tak sabar menunggu jawaban Kuroko. Ia tiba-tiba menarik tangan Kuroko dan dengan cepat mencium bibir pink milik Kuroko.
"Sei-kun?!" wajah Kuroko sukses dibuatnya merah padam hingga ke telinga.
"Ada apa, Tetsuya?" Akashi mengeluarkan smirk andalannya yang membuat siapapun akan luluh.
"Uuh… Sei-kun licik…" Kuroko menundukan wajahnya yang merah padam semerah rambut Akashi. Akashi mengelus surai Kuroko dengan lembut dan penuh kasih sayang, membuat wajah Kuroko semakin merah.
Kuroko melamun. Ia kembali teringat memori itu, salah satu memori manis di ingatannya. Memori dimana mereka sedang menunggu hujan deras yang tak kunjung berhenti setelah latihan basket rutin. Akhirnya membuat mereka berdua harus berlari di tengah hujan berdua, hanya dengan pelindung jas milik Akashi. Akashi pun tidak bisa pulang dan menghabiskan malam di tempat Kuroko yang akhirnya sakit demam karena kehujanan. Akashi pun membolos sekolah demi merawat Kuroko di rumah, memori itu membuat Kuroko tersenyum tipis. Naïf, ya ia terlalu naïf saat itu, berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Kuroko terlalu terlarut dalam pikirannya hingga ia tak sadar hujan sudah berhenti. Ketika keadaan sudah sangat sunyi, Kuroko sadar dari lamunannya, ia menoleh ke arah kaca jendela.
"Ah, sudah berhenti.. aku akan pulang sekarang.." Kuroko berdiri, ia mengambil dua gelas kosong bekas vanilla shake nya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia lalu mengangkat tas berisi barangnya dan melangkahkan kaki keluar Maji Burger. Air hujan yang menggenang di jalan membuat suara riak kecil begitu diinjak oleh Kuroko. Beberapa menit berjalan, Kuroko sudah sampai di apartemennya. Ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu apartemennya lalu masuk ke dalam. Kuroko langsung meletakkan barang-barangnya di kamar kemudian mandi. Begitu selesai mandi, Kuroko melihat ke arah jam yang digantung di dinding kamarnya. Pukul 1 pagi. Kuroko buru-buru memakai piyama nya dan pergi tidur.
"Sei…kun.."
.
.
.
Pemuda itu duduk dalam diam. Matahari sebentar lagi akan terbenam di barat. Pandangan mata pemuda itu kosong, tampaknya ia sedang melamunkan sesuatu, ada hal yang sangat mengganjal pikirannya. Beberapa kali ia menghela nafas panjang.
"Sei-chan?"
Panggilan itu sukses membuatnya sadar dari lamunan. Pemuda yang dipanggil Sei-chan itu menengok ke belakang, ke arah suara. "Reo? Ada apa?"
Mibuchi melangkahkan kakinya, mendekat ke arah sang kapten. "Sedang apa di sini?"
Pemuda bersurai merah itu mendengus."Bukan urusanmu. Lagipula kenapa ke sini?"
"Aku mencarimu, sebentar lagi makan malam."
"Oh. Begitu." Pemuda pemilik nama Akashi Seijuuro itu menjawab dengan cuek.
Mibuchi menghela nafas, ia lalu bertanya. "Ada apa lagi, Sei-chan?"
Akashi menengok ke arah Mibuchi. "Apanya?"
"Kau ada masalah lagi?"
Akashi membuang muka. "Hmph, kau tidak perlu tahu urusanku."
Mibuchi kembali menghela nafas. Memang, kaptennya ini sangat keras kepala, susah sekali untuk diajak berdiskusi. "Ya sudah, lebih baik kau nanti muncul saat makan malam ya. Ingat itu, Sei-chan."
"Ya, ya.." Akashi membalas Mibuchi dengan malas-malasan. Mibuchi lalu membalikkan badan kemudian melangkahkan kakinya kembali ke dalam penginapan. Mereka berencana akan menginap 4 hari 3 malam untuk latihan.
Akashi mendongak ke atas, menatap langit senja yang berwarna oranye. Burung-burung sedang terbang berputar, kembali ke sarang masing-masing. Dia diam dan terus memandangi langit serta awan yang masih ada bergerak tertiup angin.
"Sei-kun…"
"Ya, Tetsuya?"
"Kenapa.. kau memilih aku jadi pacarmu?" Kuroko memandang wajah Akashi dengan penuh rasa heran.
Sore itu, mereka sedang duduk di bangku kayu bercat coklat tua di taman kota. Kebetulan taman kota sedang sepi, jadi hanya ada mereka berdua. Akashi dan Kuroko duduk berdampingan. Akashi diam sebentar begitu mendapat pertanyaan tak terduga dari Kuroko. Ia tak pernah memikirkan jawaban dari pertanyaan ini.
"Hm.. kenapa ya…"
"Kenapa, Sei-kun?"
"Mungkin karena…"
"Karena?"
"Aku suka Tetsuya.." kata Akashi sambil tersenyum ke arah Kuroko.
Kuroko pun sukses dibuat blushing karena pernyataan Akashi barusan. Wajahnya merah padam. Kuroko menundukan wajahnya yang sangat merah, bahkan hingga ke telinga. "Uugh.. Sei-kun.. curang.."
Akashi terkekeh kecil melihat kelakuan kekasihnya. "Kenapa aku bisa curang, Tetsuya?"
"Ha..habisnya.."
Akashi tersenyum. "Aishiteru yo, Tetsuya.."
Kuroko dengan wajah yang masih merah padam mendongak lalu menengok ke arah Akashi. "Bo..boku mo.. Sei-kun.."
Akashi meraih tangan Kuroko yang diletakkan di bangku kayu. Akashi menggenggam tangan Kuroko dengan erat. Mereka menghabiskan waktu mereka berdua seperti itu hingga malam menjelang, di tengah kesunyian, saling menikmati eksistensi masing-masing.
Akashi merasakan ada yang sakit. Ada yang sakit pada bagian dadanya. Akashi memegangi dadanya . Memori itu membuat hatinya serasa ditusuk pisau berulang kali.
"Apa..ini.." Akashi terus memegangi dadanya.
'Heeh… bagaimana, hm?'
Akashi mendecakkan lidahnya. Lagi-lagi suara itu. Ia lelah, setiap hari suara di kepalanya itu akan muncul di saat yang tidak tepat dan akan mengganggunya. Lebih tepatnya, tidak ada waktu yang tepat untuk suara itu untuk keluar.
'Apa lagi?!'
'Hei, calm down..'
'Bagaimana aku bisa tenang kalau kau muncul lagi, hah?!'
Suara itu menghela nafas. 'Hei, kau tidak tahu ya? Suara ku, aku ini adalah bagian dari dirimu.'
'Hah?' Akashi menaikkan sebelah alisnya.
'Ya, aku ini bagian dari dirimu.'
'Terserah kau sajalah.'
'Jadi…'
'Apa maumu?'
'Bagaimana, Seijuuro?'
'Hah? Apanya yang bagaimana?'
'Tetsuya. Perasaanmu. Perasaannya. Dan Kau. Bagaimana?'
Akashi diam, ia tidak segera menjawab pertanyaan dari suara itu. Bagaimana mau menjawab kalau dia tidak tahu jawabannya. '…..'
'Jawab.. ayo, jawab…'
Akashi mendecakkan lidahnya. 'Diamlah'
'Bukankah sakit, Seijuuro?'
'…'
'Sakit bukan, kehilangan sesuatu yang berharga?'
"Kehilangan? Siapa yang kehilangan?'
'Tentu saja kau.' Suara itu mengejek Akashi.
'Aku ? aku tidak kehilangan apapun, dan lebih baik kau diam saja.'
'Haah.. dasar bodoh, lanjutkan saja permainan konyol mu itu.'
Akashi masih melamun di halaman penginapan. Sesekali menghela nafas. Ia kemudian berdiri lalu melangkahkan kedua kakinya, menuju ke dalam penginapan. Akashi berjalan menyusuri koridor panjang di penginapan itu. Ia masuk ke salah satu ruang yang ia gunakan untuk menginap bersama teman-teman satu timnya. Akashi duduk di lantai, didepannya ada meja kecil yang terbuat dari kayu berawarna coklat. Ia membaringkan kepalanya di atas meja itu lalu memejamkan kedua matanya. Pikirannya kacau. Ia sudah tidak dapat berpikir dengan jernih lagi. Tiba-tiba pintu kamar itu dibuka. Akashi langsung menengok ke belakangnya.
"Ada perlu apa, Reo?"
Orang yang dipanggil Reo itu menutup pintu kamar sebelum menjawab pertanyaan dari kaptennya. "Sei-chan.."
"Hm?"
Mibuchi menghela nafas. "Bagaimana pun juga aku tidak bisa tenang bila kau tidak memberitahuku masalahmu."
Akashi diam. Haruskah ia memberi tahu anggota tim basketnya itu? Tidak, tidak boleh. Ia bisa-bisa dijadikan bahan ejekan oleh teman-temannya itu. "Kenapa kau mau tahu, Reo?" Tanya Akashi.
"Yah, aku khawatir saja denganmu, Sei-chan."
Akashi tersenyum pahit. "Hmph, kau khawatir? Tidak perlu." Jawab Akashi ketus. 'Khawatir? Untuk apa khawatir padaku..' batin Akashi.
Mibuchi terdiam. Ia harus berbicara apa lagi untuk meyakinkan kaptennya itu untuk menjawab pertanyaannya. "Tapi, Sei-chan.."
"Apa lagi, Reo? Kau mau ikut campur masalahku ?" Ia menaikkan nada bicaranya, mulai kesal.
Mibuchi terdiam kembali. Ia menundukkan kepalanya dan mengepalkan tangannya. "Tidak. Gomen.. kutunggu kau di ruang makan." Mibuchi melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu. Setelah pintu geser ditutup, Akashi menghela nafasnya kemudian kembali meletakkan kepalanya di atas meja.
"Apa yang kulakukan, sih?" Akashi mendecak kesal. Entah sejak kapan, mungkin sejak melihat Kuroko dan Kise saling memanggil nama depan, dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ditusuk pisau belati berulang kali, sungguh sulit untuk bernafas. Akashi memejamkan kedua matanya, berusaha menenangkan dirinya. Namun gagal. Ketika ia memejamkan matanya, hanya ada Kuroko yang terlintas dalam benaknya.
"Sei-kun!"
"Sei-kun?"
"Sei-kun, ayo kencan!"
"Sei-kun.. ada apa?"
Akashi membuka kedua kelopak matanya. Ia memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong. Tanpa ia sadari air mata membasahi kedua pipinya. Ia menangis terisak. Masa bodoh dengan prinsipnya yang selalu benar atau seorang Akashi tidak boleh menangis. Ia hanya mau Tetsuya-nya kembali. Itu saja, tidak lebih. Meskipun artinya membuat semua orang di dunia menjadi musuhnya, bila ia punya Tetsuya dalam pelukannya, semua cukup. Memeluk Tetsuya adalah sebanding dengan dihormati seluruh orang di dunia menurut Akashi. Beberapa kali ia mencoba menghapus air matanya, namun tetap saja air matanya itu keluar, tidak bisa berhenti.
"Tetsuya.."
.
.
.
TBC
