Author's note: yo! minna-san~ author balik. gomenne baru update hari ini ._. ( biasa.. author kan males ) /ditimpuk sendal/ oke, langsung aja.. bagi yang mau baca... daaaan.. akhirnya satu chapter lagi! chap 22 fic ini selesai /nangis bahagia/ douzo..

Special Thanks to: Dewi15, outofblue, , Koru Kyoshiro, dan Kurotori Rei. Serta para silent readers, dan yang mau follow dan fav fic ini. Arigatou ^0^


Chapter 21

Pemuda bersurai baby blue itu duduk dalam diam. Ia belum mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Kedua manik secerah langit musim panas itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, tampaknya ia sedang melamun. Sudah lewat beberapa hari sejak ia 'pulang' dari training camp nya. Senpai dan teman-temannya mengirim banyak SMS, menanyakan mengapa ia pulang terlebih dahulu. Kuroko hanya mengabaikan SMS itu dan malah mematikan ponselnya selama 3 hari terakhir ini, belum menyentuhnya sama sekali. Ia melirik jam yang digantung di dinding ruang tamunya. Pukul 7 malam. Kuroko menghela nafas sebelum berdiri dari posisinya dan melangkahkan kaki ke kamar. Ia mengambil jaketnya, hendak pergi keluar mencari udara segar. 4 hari terakhir sejak ia pulang hari training camp ia sama sekali belum keluar dari apartemennya. Ia memakai sepatunya dan kemudian mengunci pintu apartemen sebelum pergi. Ia tidak punya tujuan, yang jelas sekedar jalan-jalan mencari udara segar.

Kuroko melangkahkan kakinya, menyusuri jalanan kota Tokyo yang ramai. Lampu-lampu menerangi trotoar jalan. Berbagai macam orang berlalu lalang. Ada yang bersama pacarnya, atau bersama keluarganya, ada juga yang bersama teman kerjanya. Sesekali ia melirik ke kanan dan kiri, mencari sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Ia terus melangkah, belum menemukan sesuatu yang menarik sama sekali. Di tengah perjalanan, maniknya menangkap sebuah taman. Taman kecil yang dipenuhi dengan bunga-bunga dan tumbuhan lain. Kuroko melangkahkan kakinya ke taman itu. Ia duduk di sebuah bangku kayu sambil menikmati pemandangan taman disekitarnya. Ia kemudian mendongak ke atas, memandang langit.

"Indah.." gumamnya. Langit Tokyo malam itu cerah, ia bisa melihat bintang-bintang serta bulan. Sangat indah, setidaknya ia bisa melupakan perasaannya yang kacau sejenak dengan melihat pemandangan ini. Ia memejamkan matanya sambil terus mendongak ke atas. Berbagai memori terputar ulang di benaknya. Memori manis bersama Akashi, memori mereka bertengkar, memori Akashi member sebuket bunga mawar merah, persis 15 tangkai. Memori Kuroko bertengkar dengan temannya, memori saat wisuda, saat dia dipukul Aomine. Memori ia putus dengan Akashi, memori ia mulai pacaran dengan Kise. Semua terputar di dalam benaknya, tanpa sadar air mata mengalir menuruni kedua pipinya. Kuroko tersenyum pahit. Ia kembali membuka matanya, menghapus air mata yang membasahi wajahnya sebelum memutuskan untuk beranjak dari taman itu. Kuroko berdiri, ia hendak melangkahkan kaki namun ia mengurungkan niatnya begitu sebuah tangan menarik jaketnya sedikit kasar dari belakang. Ia menatap ke belakang, matanya terbelalak begitu melihat sosok itu.

"Yo… Kuroko Tetsuya.."

"Kau.."


.

.

.


Pemuda itu duduk sendirian di sudut café. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Ia mengangkat gagang cangkir yang diletakkan didepannya. Meminum isinya, secangkir milk tea hangat. Wajahnya menunjukan perasaannya sekarang, gugup. Semua tertulis di ekspresi wajahnya dan gerak-geriknya yang sedari tadi melihat arloji yang ia pakai, sesekali melihat ke ponselnya, di menit berikutnya ia melirik ke luar jendela. Begitu mendengar bel kecil di pintu berbunyi, ia berdiri dan melihat ke arah pintu, melihat orang yang masuk. Ia kembali duduk dan menundukan kepalanya begitu mendapati itu bukan orang yang dia cari.

"Oi, Kise."

Panggilan itu membuatnya sedikit kaget. Orang yang dipanggil Kise itu mendongakkan kepalanya.

"Ah, Kagamicchi, Midorimacchi.. akhirnya kalian datang juga.."

Kagami menarik kursi dan duduk di samping Midorima. Seorang pelayan datang sambil membawa menu. Midorima dan Kagami melihat-lihat daftar menu sebelum menentukan pilihan mereka. Kagami memesan secangkir earl grey sedangkan Midorima memesan secangkir darjeeling tea hangat.

" Jadi, ada apa?" Kagami bertanya pertama.

Kise menunduk kembali. "Aku.. mau minta tolong pada kalian-ssu.."

"Minta tolong?" Midorima menaikkan sebelah alisnya.

Kise mengangguk sedikit. "Aku.. mau meluruskan salah paham Kurokocchi dengan Aominecchi dan Murasakibaracchi."

"Ah, itu.." Kagami menjawab.

Midorima menyenderkan tubuhnya di kursi lalu bertanya. "Kenapa?"

Kise mendongak. Bukankah pertanyaan Midorima itu sedikit aneh? "Apa maksudmu dengan kenapa, Midorimacchi?"

"Sesuai dengan pertanyaanku. Kenapa kau ingin melakukan itu?"

"Bukankah sudah jelas? Aku ingin menghentikan salah paham ini!" Kise sedikit menaikkan nada bicaranya.

"Kise, bisakah kau tidak menaikkan nada bicaramu?" Midorima memandang Kise sedikit tajam. Kagami sedari tadi diam sambil memandangi kedua temannya yang sedang bertengkar ini.

"Midorimacchi!"

Midorima menghela nafas. "Kalau begitu kuganti pertanyaanku."

"Hmph, apa?" Kise melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kenapa, kenapa kau baru melakukan ini sekarang?"

Kise terdiam. Tangannya yang tadi terlipat di depan dada ia turunkan, di samping tubuhnya. Kagami ikut diam tertegun. Benar juga, kenapa tidak ia melakukan ini sejak dulu.

"Kenapa kau baru melakukan ini sekarang ketika Kuroko sudah berantakan?" Midorima bertanya dengan tenang namun memberikan penekanan di setiap ucapannya, menyindir Kise.

Kise berusaha membuka mulutnya, namun tidak ada suara keluar dari mulutnya. Ia kembali menutup mulutnya. 'Kenapa.. aku tidak melakukannya dari dulu?' Kise mulai membatin. Ia mencengkram sandaran tangan pada kursi.

Midorima menghela kembali menghela nafas. Kemudian, ia mengeluarkan ponselnya yang berwarna hijau. Ia tampak mengetik pesan sejenak. Setelah selesai, ia menutup ponselnya dan memandang Kise serta Kagami.

"Aku sudah mengirim pesan pada Aomine dan Murasakibara untuk datang ke sini. Lebih baik, kau bisa menjelaskan semuanya pada mereka, Kise. Aku dan Kagami hanya akan membantumu."

Kise tersenyum tipis. "Arigatou, Midorimacchi.."

Ketiga pemuda itu duduk bersama, dengan sabar menanti dua orang lainnya yang mereka undang. Sudah lewat 30 menit sejak Midorima mengirim pesan pada dua orang itu. Mereka mulai tidak sabar. Kagami mendecakkan lidahnya.

"Kemana sih, dua orang itu, teruatama si Aho itu?!"

"Siapa yang Aho, hah, Baka?"

Kagami menengok ke belakang. "AH! Ahomine!"

"Siapa yang kau panggil Ahomine?!"

"Bisakah kalian diam? Kita di dalam café. Jaga sikap sedikit."

Aomine dan Kagami pun berhenti. Aomine duduk di samping Kagami sedangkan Murasakibara duduk di samping Kise. Setelah memesan minum, Aomine memulai pembicaraan mereka.

"Jadi, ada apa memanggil kami ke sini?"

Kise membalas pertanyaan Aomine. "A.. begini.. Aominecchi.."

"Hm? Apa?"

"Aku.. ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan kalian."

"Apa itu, Kise-chin?"

"Ini tentang.. Kurokocchi-ssu.."

"Hah? Dia? Apa lagi dengan dia?" Tanya Aomine. Tampaknya, Aomine masih belum lupa dengan kejadian saat wisuda itu, ia tidak mau memanggil nama Kuroko seperti dulu.

Kise menarik nafas. "Sebenarnya… Kurokocchi itu tidak mempermainkan Akashicchi. Kalian salah paham-ssu."

Aomine diam. Ia tampak mencerna kalimat Kise. "Hah? Jangan bercanda. Kau ikut menghancurkan hubungan Tetsu dan Akashi, kan?"

"A..aku tidak.."

"Tidak apa, Kise?" Aomine bertanya dengan penekanan pada tiap kalimat yang ia ucapkan.

"Aku akan bertanya pada kalian satu hal." Kagami buka suara.

Aomine menoleh ke arah Kagami. "Apa?"

"Apa menurutmu, Kuroko adalah orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain?"

Aomine diam. Sejenak ia tampak berpikir, ragu kelihatannya. "Orang, tidak bisa dinilai dari luar, Kagami."

"Kalau begitu, apa yang sebenarnya, Kise-chin?" Murasakibara mulai ikut dalam obrolan.

"A.. akan kuceritakan yang sebenarnya pada kalian." Kise menundukkan kepalanya.

Aomine mendengus. "Hmph..cepat cerita."

"Kurokocchi tidak mempermainkan Akashicchi. Namun, Akashicchi yang mempermainkan Kurokocchi."

Aomine terbelalak, ia menegapkan posisi tubuhnya yang tadi bersandar di kursi. "Hah? Apa maksudmu?"

"Seperti yang sudah kukatakan, Aominecchi.. Kurokocchi yang dipermainkan."

"Bagaimana… kau bisa tahu itu?" Aomine bertanya.

Kise mendongakkan wajahnya, menatap Aomine dengan wajah serius. "Karena.. aku, adalah lawan bicara Akashicchi."

"Lawan bicara .. apa?"

"Saat itu, aku bertanya tentang perasaan Akashicchi pada Kurokocchi, dan disitu semua terbuka. Akashicchi.. dia..dia.." Kise mulai menangis, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Akashi bilang dia menggunakan Kuroko sebagai alat, agar tim basket Teiko menang." Lanjut Midorima.

"Hah?!" Aomine berdiri, ia menggebrak meja di depannya. "Kau berbohong, kan?!"

"Aomine, tolong .. jangan buat keributan.." Kagami menyuruh Aomine untuk kembali duduk agar mereka dapat kembali melanjutkan pembicaraan mereka. Aomine pun duduk, ia menyandarkan tubuhnya di kursi.

"Itu bohong." Murasakibara menimpali tiba-tiba.

Kise menggeleng. "Aku tidak bohong, Murasakibaracchi.."

"Kalian pasti bekerja sama untuk membohongi kami, kan?" Tanya Aomine sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Tidak, Aominecchi. Aku serius."

Aomine memejamkan matanya sambil memijit batang hidungnya dan menghela nafas. "Lalu.. apa?"

"Apa.. kau pernah melihat Kurokocchi ke sekolah dengan perban? Sekitar.. wisuda?"

"Ah, aku pernah.. sekilas aku lihat di.. lehernya?" Murasakibara ikut menambahi.

"Itu karena Akashicchi."

Aomine langsung membuka matanya. Ia menengok ke arah Kise. "Hah? Karena.. Akashi?"

Kise menunduk, ia lalu mengangguk. "Iya.. dengan gunting.." seolah mengerti temannya hendak bertanya 'kenapa' . "Tidak hanya di leher. Di tangan, kaki, paha, perut, dan pipi.. sepertinya Kurokocchi menutupinya dengan concealer."

Aomine menatap Kise tak percaya. Ia kehabisan kata-kata.

"Lalu, Aominecchi.. soal salah paham Kurokocchi denganmu.. aku mau meluruskannya sekarang.. Murasakibaracchi juga.."

"Mhm.." Aomine menggumam.

"Kurokocchi putus dengan Akashicchi di Kyoto."

"Eh, mereka putus di Kyoto?" Midorima bertanya.

Kise menoleh ke arah Midorima. "Kau.. tidak tahu, Midorimacchi?"

Midorima menggeleng. "Aku memang tahu Kuroko putus dengan Akashi, tapi aku tidak tahu mereka putus di Kyoto-nodayo.."

"Kenapa di Kyoto?" kini giliran Aomine bertanya.

"Saat itu, Kurokocchi diajak Akashicchi ke Kyoto, ke Rakuzan. Akashicchi menyuruh Kurokocchi masuk Rakuzan."

"Lalu?"

"Kurokocchi menolak. Saat itu juga, Kurokocchi minta putus dengan Akashicchi. Kurokocchi pingsan di halte karena kedinginan, ia kehujanan. Kebetulan aku lewat situ selesai pemotretan di Kyoto, jadi aku bawa Kurokocchi ke hotel tempat aku menginap-ssu. Nah, waktu itu.. aku.. yang mengusulkan Kurokocchi menjadi pacarku." Kise menunduk selesai bercerita.

Aomine dan Murasakibara terdiam. Mereka sudah salah paham pada Kuroko. Padahal disini, ia adalah korbannya. Justru ia yang mendapat perlakuan tidak adil. Aomine menundukkan kepalanya, ia mencengkram tangan kanannya yang ia gunakan untuk memukul Kuroko saat wisuda. Begitu juga dengan Murasakibara, ia menundukkan kepalanya.

"Sedang apa kalian?"

Suara familiar itu membuat mereka semua menengok. Disitu, berdiri seorang pemuda yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada, berdiri dengan begitu angkuhnya dengan kemeja abu-abu dan celana hitam.

"Akashi/ Aka-chin/ Akashicchi?!"

Yang dipanggil diam saja, tidak tertarik.

"Kenapa ada di Tokyo?!"

Akashi menoleh ke arah Kise. "Aku ada urusan di Tokyo." Jawabnya santai.

"Urusan apa?" Tanya Murasakibara yang mungkin paling polos, tidak bisa membaca situasi.

"Hmph, urusan dengan ayahku. Kau tidak perlu tahu."

Tiba-tiba Kagami merasa ponselnya bergetar. Ia mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk.

["Moshi-moshi, Coach?

"Kagami-kun?"

"Ha'i?"

"Apa kau tahu Kuroko-kun di mana?"

"Mhm, tidak.."

"Mou.. anak itu.. sudah membolos latihan.. susah ditemui pula.."

"Ada apa, coach?"

"Hem? Aku tidak bisa mengontak Kuroko-kun.."

"Ah.. kalau begitu nanti akan kuberitahu kalau bisa .."

"Ah, arigatou ne, Kagami-kun.."

"Hng.."

"Jaa.."]

Kagami menutup teleponnya. Merasa dipandangi oleh teman-temannya ia buka suara.

"A..ada apa memandangi ku?"

"Itu pelatihmu, Taiga?"

"Ya. Ada apa?" Kagami menjawab cuek, ia tidak akan berbaik hati pada siapapun yang telah menyakiti sahabat baiknya.

"Ada apa memangnya, Kagamicchi?"

"Hm.. coach mencari Kuroko.."

"Mencari? Memang kenapa-nodayo?" kini giliran Midorima bertanya.

Kagami menghela nafas. "Kalian tidak tahu soal dia, ya?"

"Tahu soal apa, Kagamicchi?"

"Beberapa minggu terakhir, Kuroko sering membolos latihan basket. Kalaupun datang, ia hanya duduk di bangku dengan alasan sakit. 1 jam kemudian, dia pasti akan pamit pulang dengan alasan ada keperluan. Kau juga tahu dia berubah, ya kan, Midorima?"

Midorima menoleh ke arah Kagami. "Yah.. begitulah.."

"Berubah.. maksudmu sikapnya yang dingin itu-ssu?"

Midorima dan Kagami menggeleng. "Sikap satunya.."

"Sikap satunya? Yang mana-ssu?"

"Berandalan."

Kise membelalakkan matanya. "Hah? Kau yakin, Kagamicchi?"

Kagami menunduk. "Kuroko.. dia.. selain sering bolos latihan basket, dia juga sering bolos pelajaran. Mungkin ia masuk ke kelas hanya sekitar 1 atau paling banyak 2 pelajaran. Itupun hanya pelajaran sastra dan matematika. Biasanya dia membolos di atap sekolah."

"A..aku tahu Kurokocchi menindik telinga dan mengubah cara pakai gakurannya.. kukira dia.. hanya ingin ganti suasana.. tapi.. sampai jadi berandalan.." Kise menundukkan kepalanya.

"Ah, dan juga.." Kagami melanjutkan ceritanya.

"Dan juga?" Midorima dan Kise bertanya bersamaan.

"Beberapa kali aku bertemu dia di gerbang sekolah dengan luka. Bahkan dengan luka masih mengalirkan darah dan baju berantakan. Lumayan parah, kau tahu?"

Semua orang di sana kecuali Kagami dan Midorima membelalakkan mata mereka, tak percaya dengan perubahan sikap teman mereka. Aomine, Murasakibara, Kise, Midorima, termasuk Akashi bahkan, semuanya diam. Mereka tidak menyangka sikap Kuroko bisa berubah 180 derajat. Aomine lalu membuka pembicaraan lagi.

"Memangnya, Tetsu susah ditemui, Kagami?"

"Yah.. sejak pulang, ehm.. tepatnya membolos sih, dari training camp kemarin.. dia belum memberi kabar. Sepertinya, ia mematikan ponselnya."

"Kau yakin?"

Kagami menaikkan sebelah alisnya. "Hah?"

"Tadi aku melihat Tetsu.."

Kagami langsung berdiri. "Di mana?!"

Aomine sedikit terkejut. "Tadi.. dalam perjalanan ke sini.. aku melihat dia sama beberapa orang murid .. Fukuda Sougou."

Akashi membelalakkan matanya. "Fukuda.. Sougou?!"

Murasakibara, Kise, Aomine, Midorima, serta Kagami menoleh ke arah Akashi yang tiba-tiba meninggikan nada bicaranya.

"A..ada apa, Akashicchi?"

"Kau tidak tahu tentang Fukuda Sougou?!"

Kise menggeleng pelan. "Kenapa.. memangnya?"

"Fukuda Sougou, sekolah tempat para berandalan! Kau tahu, Haizaki Shougo masuk ke sana!" Begitu selesai menjelaskan sekolah Fukuda Sougou, Akashi langsung berlari secepat mungkin keluar tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya. Kise langsung menyusul Akashi, ia berlari keluar.

'Tetsuya..Tetsuya.. tolong.. tolong.. jangan..' Akashi panik, ia berlari menyusuri jalanan kota Tokyo untuk mencari Kuroko. 'Tolong… jangan..'

.

.

.

TBC