Chapter 22
Terdengar suara deruan nafas beberapa orang. Paling jelas terdengar, suara nafas milik pemuda bersurai baby blue itu yang terengah-engah. Ia berada di tengah-tengah kerumunan anak Fukuda Sougou yang tersenyum sinis memandangnya.
Flashback
"Yo… Kuroko Tetsuya.."
"Kau.."
"Lama tak jumpa, hm.. Kuroko Tetsuya?"
Kuroko mendecih pelan. Dia sudah tak bisa kabur kemana pun. Ia dikerumuni anak-anak berandalan Fukuda Sougou.
"Mau apa.." Kuroko bertanya sedingin mungkin.
"Hm? Mau apa? Tentu kami mau balas dendam padamu, Kuroko Tetsuya.." ketua mereka, Haizaki Shougo membalas.
Haizaki menjetikkan jarinya, memberi kode pada sang anak buah. Dua anak buah Haizaki memegangi tangan Kuroko, ia tidak bisa berkutik. Kedua kakinya juga diinjak. Haizaki mengambil ancang-ancang dan tiba-tiba memukul Kuroko tepat di wajahnya.
"Ugh.." Kuroko merintih, menahan sakit.
Tak puas sekali hantam. Pemuda bersurai abu-abu itu memukuli wajah Kuroko beberapa kali. Kuroko yang dipegangi hanya bisa pasrah dipukul tanpa perlawanan. Beberapa kali ia merintih menahan sakit. Wajah putih pucatnya bersimbah darah yang mengalir dari sudut bibir serta keningnya. Pipinya mulai membiru. Tak hanya di wajah, beberapa kali Haizaki menendang Kuroko di bagian perut, dan tendangan Haizaki itu tidak main-main, kau tahu? Kuroko membuka matanya, merasa ia berhenti dipukuli.
"Hmh.. menyedihkan.." Haizaki mulai membuka suara.
"…."
"Kenapa diam saja, hm?"
"…"
"Kemana Kuroko Tetsuya yang bisa memukuliku hingga setengah sekarat hm?"
"…." Kuroko masih diam, ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Tch.. jangan diam saja.. tidak seru, tahu?"
"…"
Haizaki menghela nafas. Dia kemudian memandang salah satu anak buahnya dan menangguk kecil, memberi sebuah kode. Tiba-tiba anak buahnya itu mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan terkekeh sinis.
"Mati kau.. Kuroko Tetsuya!"
"Agkh!"
.
.
.
Sedari tadi pemuda bersurai merah itu berlari menyusuri kota Tokyo. Peluh membanjiri tubuh serta paras tampannya. Masa bodoh dengan penampilannya, yang penting sekarang ia harus menemukan Kuroko. Ia berlari sambil menengok ke kanan dan kiri, mencari sosok pemuda dengan surai baby blue. Nihil, dengan emperor eye nya sekalipun, ia tidak dapat menemukan sosok yang ia cari.
Tes!Tes..Tes!
Pemuda itu mendongak ke atas. Air hujan mulai berjatuhan. Perlahan, perlahan hingga akhirnya deras. Pemuda itu berlari kecil untuk berteduh sedikit. Ia melihat bangunan di belakangnya, tempat ia berteduh. Sebuah toko buku tua, huh?
"Sei-kun.. ayolah.."
"Tidak Tetsuya.."
Kekasihnya itu memohon-mohon dengan pipi yang digembungkan. Ia merengek, bersikeras ingin masuk ke toko buku tua itu. Padahal, ia tahu kekasihnya itu sudah lelah seharian kencan dengannya berkeliling kota.
"Hmph.." Kekasihnya itu cemberut. Ia menggembungkan kedua pipinya.
'Hmh, Tetsuya kawaii sekali..' Akashi membatin. Jarang-jarang ia bisa melihat kekasihnya ini ngambek dengan manja dengannya. Akashi lalu terkekeh kecil. "Ya sudah, ini yang terakhir. Setelah itu kita langsung pulang." Ia tersenyum tipis pada kekasihnya.
Wajah kekasihnya terangkat. Mata birunya berbinar-binar. "Um!" Dia mengangguk dengan antusias. Mereka berdua pun masuk ke dalam toko buku itu. Akashi akan melakukan apa saja, apa saja demi sang kekasih tersayang.
Akashi menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia kemudian menepuk kedua pipinya.
"Tidak, ini bukan saatnya untuk memikirkan itu. Aku harus mencari Tetsuya." Akashi kemudian berlari menembus derasnya hujan. Tidak peduli ia akan basah kuyup, sakit sekalipun. Akashi berlari dengan kencang sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari Kuroko.
"Tetsuya!"
.
.
.
"Haah.. haah.." Kuroko terengah-engah. Belum puas Haizaki memukuli wajahnya, menendang perutnya, ia membuat Kuroko berlutut di hadapannya.
"Hmh… wajah yang bagus.. Kuroko Tetsuya." Haizaki memperlihatkan seringainya. Ia kemudian menyingkirkan kakinya dari perut Kuroko. Ia meludahi Kuroko sebelum pergi meninggalkan Kuroko sendirian di gang kecil yang terpojok.
Kuroko dapat mendengar suara tawa Haizaki beserta anak buahnya semakin menjauh. Ia memegangi perutnya yang mengalirkan darah segar kemudian memejamkan kedua matanya. Nafasnya terengah-engah. Penampilannya tak karuan. Surai biru itu berantakan, wajahnya mengalirkan darah dan mulai lebam akibat hantaman, terutama keningnya yang dihantam ke dinding tadi. Lehernya mulai membiru akibat dicengkram terlalu kuat, jangan lupakan perutnya yang berdarah akibat ditusuk. Kuroko menyandarkan tubuhnya di dinding gang itu sambil terus memegangi perutnya. Air hujan membasahi tubuhnya, pakaian yang ia gunakan menempel pada kulitnya, bercampur dengan darah.
"Sei..kun.. tolong.." Air mata Kuroko tumpah seiring dengan jatuhnya air hujan. "Sei-kun.. Sei-kun.." Perlahan Kuroko merasa kesadarannya menurun. Matanya mulai menutup, ia ingin tidur rasanya.. sungguh.. ia mengantuk
Nafas pemuda itu terengah-engah. Ia meletakkan kedua tangannya di lutut, sedikit membungkuk sambil mengambil nafas. Dia berlari kesana kemari mencari Kuroko namun nihil. Ia tidak dapat menemukan pemuda bersurai baby blue itu. Tubuhnya sudah basah diguyur hujan. Dari ujung kepala hingga unjung kaki, basah kuyup. Dingin air menusuk tulang, namun ia menghiraukan itu semua. Sekarang, yang ada di benaknya hanyalah menemukan Kuroko.
'Tetsuya… kau dimana? Tetsuya…'
Pemuda bernama Akashi Seijuuro itu kembali berlari menembus hujan. Tanpa ia sadari, air mata mengalir membasahi wajahnya. Ia begitu khawatir dengan keadaan Kuroko yang entah ada di mana. Bagaimana kalau ia kenapa-kenapa? Bagaimana kalau.. dia tidak bisa bertemu Kuroko lagi? Tidak mau! Tentu saja ia tidak akan mau.
Pemuda bersurai merah itu kembali mempercepat langkah kedua kakinya. Ia menoleh ke kiri, beberapa orang berkerumun sambil berbisik-bisik. Ia mendatangi kerumunan orang itu.
"Sumimasen."
Orang-orang tadi tersentak, membalikkan tubuh mereka.
"I-iya?"
"Apakah kalian melihat seorang pemuda mungil bersurai baby blue di sekitar sini?"
Salah seorang dari mereka menggeleng. "Tidak, kami tidak melihatnya."
"Anoo, sebenarnya ada apa kalian berkumpul di sini?"
"Baru saja beberapa anak Fukuda Sougou lewat. Murid SMA kota ini tentu tahu, murid Fukuda Sougou bukanlah anak baik-baik."
Kedua matanya membulat. "Mereka datang dari mana?" tanyanya cepat, panik.
"E-eh.. dari sana.." seorang murid SMP menunjuk arah yang dimaksud.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Akashi segera berlari meninggalkan kerumunan orang itu. Hujan semakin deras, namun ini tak menghalangi sosok bersurai merah itu untuk mencari orang yang ia cintai. Akashi berlari, masuk ke sebuah gang kecil yang tak akan terlihat dari jalan utama. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, menemukan sosok manusia duduk bersandar pada dinding gang.
"Tetsuya!"
Pemuda yang dipanggil itu membuka kedua matanya, menoleh. "Sei..kun.." suaranya lemah, nafasnya terengah-engah.
Akashi berlutut di samping pemuda itu. "Kau.. tidak apa-apa?"
Bodoh. Pertanyaan bodoh. Kalau ia baik-baik saja, ia sudah ada di apartemennya, dengan selimut dan secangkir teh hangat.
Pemuda bernama Kuroko Tetsuya itu tersenyum lemah. "Aku.. tidak apa-apa.."
Akashi mendecih. Dengan cepat, ia menyingkirkan tangan Kuroko yang digunakan untuk menutup luka tusuknya. Akashi melepas kemeja luaran yang ia kenakan, menutup luka Kuroko dengan kemejanya.
"Sei-kun.. ja..ngan.. nanti.. kotor.."
Akashi mendecakkan lidahnya. "Diamlah, menurut saja padaku."
Akashi kemudian menggendong Kuroko bridal style, berlari menembus hujan.
.
.
.
Enam orang pemuda dengan surai berbeda warna berdiri di depan sebuah ruangan dengan pintu besi. Tangan gemetar, wajah ditundukkan.
Salah seorang, bersurai merah terang berdiri agak jauh dari yang lain. Kedua tangannya mengepal, wajah menunduk. Ia berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuknya.
Pemuda lainnya menggerombol sendiri, mengacuhkan sang pemuda bersurai merah terang. Jelas saja ia diacuhkan setelah apa yang ia perbuat, tidak perlu bertanya pun ia tahu. Tak ada kata-kata diantara mereka, hanya keheningan. Enggan saling membuka pembicaraan, tak ada yang mau memulai.
Tak lama, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter dengan jubah putihnya keluar diikuti beberapa orang perawat yang mendorong tempat tidur pasien, Kuroko Tetsuya. Keenam orang itu langsung mendatangi sang dokter, menunggu berita baik –atau buruk.
Sang dokter tersenyum tipis. "Tenang saja, ia tidak apa-apa. Hanya kehilangan darah dan beberapa luka yang tidak terlalu serius. Dia butuh istirahat dan sekarang di bawah pengaruh obat bius, kalian bisa mengunjunginya besok pagi saat jam besuk." Jelas sang dokter.
Kelima pemuda itu mengangguk, sedang yang seorang menunduk semakin dalam. Kalian sudah tahu siapa orang itu, Akashi Seijuurou. Midorima, Aomine, Kise, Murasakibara, dan Kagami melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit, pulang ke rumah masing-masing tampaknya. Mereka bahkan tak mengucapkan salam pada Akashi, oh jelas ia dibenci sekarang.
"Jangan harap kau bisa lepas begitu saja, Akashi Seijuurou." Kagami berujar penuh kebencian sebelum menyusul teman-temannya.
Akashi tersenyum miris, memandang punggung Kagami yang semakin menjauh. Ia mengarahkan kedua kakinya menuju kamar Kuroko, kamar 411 di lantai 19. Ia membuka pintu geser berwarna putih itu, tak lupa menutupnya kembali. Ia memandang sosok yang terbaring di atas tempat tidur tak sadarkan diri, mesin di sampingnya menandakan ia masih hidup.
Akashi mengambil bangku kecil yang ada di ujung ruangan, ia duduk di samping tempat tidur Kuroko. Perlahan, tanpa ia sadari air mata mulai tumpah. Sungguh, Akashi sudah tidak tahan. Berada di bawah tekanan tuntutan menjadi sempurna, hanya Kuroko sumber kekuatannya, cahayanya, mataharinya. Betapa bodohnya ia, membuang sesuatu yang berharga. Seperti membuang sebongkah berlian yang ia gali susah payah. Akashi menangis, menggenggam tangan kanan Kuroko yang bebas dari selang infus.
….::::****::::….
Kuroko mengerjapkan kedua matanya perlahan, silau.
Silau? Apa dia sudah meninggal dan sekarang ada di surga?
Kuroko berusaha memfokuskan pandangannya, ia melirik ke kanan dan kiri.
"Ini di mana?" gumam Kuroko pelan.
Hal terakhir yang ia ingat adalah sepasang lengan yang hangat menggendongnya.
"Nnh.."
Erangan kecil lolos, Kuroko menoleh ke kanan.
Akashi Seijuurou.
Ah, pantas saja hangat. Kuroko memperhatikan wajah Akashi yang sedang tertidur, sungguh damai dan manis. Kuroko mengelus surai merah lembut bagai kain sutra itu, membuat pemiliknya sedikit risih. Kuroko tertawa kecil, ia tersenyum. Entah mengapa, hatinya terasa damai, hangat, aman, dia merasa nyaman.
"Nn.. Tetsuya?"
Kuroko tersadar dari lamunannya.
"Tetsuya?!"
"Ah, Ohayou, Akashi-kun"
Grep
Akashi merengkuh tubuh mungil Kuroko, terlalu cepat hingga Kuroko tak dapat merespon. Kedua matanya melebar, terkejut dengan perlakuan Akashi yang tiba-tiba.
"Tetsuya.. Tetsuya.. Tetsuya.."
Kuroko merasakan pundaknya basah. Akashi menangis? Kuroko membalas pelukan Akashi, memeluknya erat. Air mata juga membasahi wajahnya.
"Sei-kun.."
Oh, sungguh. Akashi begitu rindu suara merdu itu menyapa indera pendengarannya, memanggil namanya.
"Tetsuya.. maafkan aku.. maafkan aku.. mungkin, aku memang tidak pantas untuk dimaafkan olehmu. Aku sudah keterlaluan."
Kuroko mengangkup wajah Akashi yang basah oleh air mata, menggeleng pelan.
"Tidak, aku sudah memaafkanmu, Sei-kun."
Kembali Akashi menggeleng. "Kau terlalu baik padaku, Tetsuya. Kenapa kau tak caci maki saja aku. Aku pantas mendapatkannya."
Kuroko mengecup kening Akashi. "Sei-kun tidak pantas mendapat caci maki."
"Aku pantas mendapatkannya, Tetsuya."
"Sudahlah, Sei-kun. Semua sudah lewat." Ujar Kuroko tersenyum kemudian mengecup pipi Akashi.
"Tetsuya.. aku mencintaimu.. sungguh.."
Kuroko terdiam, ia sedikit terkejut.
Merasa tak mendapat jawaban, Akashi memandang wajah Kuroko. "Tetsuya?!"
Kuroko menangis, ini tangis bahagia. "Be.. Benarkah?"
"Apakah aku yang absolute ini berbohong, Tetsuya? Mungkin aku berbohong padamu, berkata aku tidak mencintaimu."
"Sei-kun.. hiks.. aku.. juga.. mencintaimu.."
Akashi tersenyum, ia memeluk Kuroko erat. "Tetsuya, aku merindukanmu.."
Kuroko membalas pelukan Akashi sama eratnya. "Aku juga, Sei-kun."
Akashi melonggarkan pelukannya, memandang wajah Kuroko. Perlahan, jarak diantara mereka semakin kecil, semakin kecil, dan akhirnya tidak ada. Akashi mencium bibir mungil Kuroko, penuh cinta dan lembut. Ia melumat bibir pink itu, menjilat bibirnya, meminta izin masuk. Kuroko mempersilahkan, ia membuka mulutnya. Lidah Akashi masuk ke dalam, mengajak lidah Kuroko beradu. Kedua lidah mereka saling membelit, merasakan rongga mulut satu sama lain, sama-sama menari dalam sebuah harmoni.
Kuroko melepas ciuman mereka, butuh oksigen. Benang saliva menghubungan bibir mereka hrus terputus dengan semakin lebarnya jarak di antara mereka.
"Sei..kun.. fuwaa.."
"Ehem."
Suara dehaman menyadarkan dua sejoli yang dimabuk cinta dari delusi mereka. Kuroko dan Akashi menoleh ke arah pintu. Lima orang pemuda dengan surai berbeda warna berdiri di sana, ada yang berkacak pinggang dan melipat tangan di depan dada.
"Pagi-pagi sudah mesra, hm?" sarkas Aomine.
Akashi diam. "…"
"Oi, Akashi, kemari." Ujar Kagami.
Akashi melangkahkan kakinya, mendekati keenam pemuda itu. Sedang Kuroko hanya memperhatikan ketujuh pemuda lain di ruangannya.
Bugh
"Ghh!"
Kagami meninju Akashi, tepat di perut, dengan sangat kuat. Akashi mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya.
"Sei-kun!" Kuroko berteriak kecil, khawatir dengan Akashi.
Akashi hanya memberikan tangan kanannya, menandakan ia baik-baik saja, sedang tangan kiri memegangi perutnya yang akan biru karena memar besok.
Bugh. Bugh
Dua pukulan, di pipi kanan dan di pipi kiri dilayangkan oleh Kise dan Midorima.
"Sei-kun!"
Kuroko memandang cemas Akashi, ia tahu kekuatan teman-temannya, apalagi mereka tidak main-main.
Bugh.
Satu tendangan di perutnya –lagi, oleh Aomine.
"Ghh!"
Bugh.
Satu pukulan terakhir di dagu oleh Murasakibara. Keadaan Akashi kacau, bajunya berantakan, wajahnya berdarah-darah dan memar.
"Sekarang sudah impas." Ujar Kagami.
Akashi memegangi perutnya, sedikit bersandar di dinding putih ruang perawatan.
"Ah.. belum.. masih belum impas, kan? Kalian belum puas memukulku." Ujar Akashi. "Lanjutkan.. nanti saja." Ujarnya lagi.
"Kau benar, Akashicchi. Kami belum puas." Ujar Kise merangkul Akashi, tertawa.
Akashi tersenyum.
"Ah, Tetsu, bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah baik, Aomine-kun. Terimakasih bertanya."
"Cepat sembuh, Kuroko." Ujar Kagami dan Midorima bersama.
"Semoga cepat baik, Kuro-chin."
"Terimakasih banyak, Midorima-kun, Kagami-kun, Murasakibara-kun."
"Semoga cepat sembuh, Kurokocchi!" seru Kise.
"Terimakasih, Kise-kun."
Akashi kembali duduk di bangku, mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah di wajahnya.
"Kau.. tidak apa-apa, Sei-kun?"
Akashi menggeleng. "Aku tidak baik-baik saja, aku perlu dosis Tetsuya harianku." Ujar Akashi manja.
Kuroko tertawa kecil melihat sifat manja Akashi, ia menggeleng kecil.
Akashi memeluk Kuroko.
"Hei! Pasangan disana! Jangan menebarkan aura cinta di rumah sakit!" teriak Kise.
"Kise, kau berisik-nanodayo!" bentak Midorima.
Akashi dan Kuroko tersenyum, teman-temannya seperti biasa, kembali bertengkar.
"Terimakasih sudah menerimaku kembali, Tetsuya." Bisik Akashi di telinga Kuroko.
"Un, aku juga berterimakasih. Sei-kun menyelamatkanku.." Kuroko mengecup pipi Akashi.
"Hm.. kau menggodaku, Tetsuya?"
"E..Eh?! Aku.. aku tidak.."
"Tidak apa, akan kuberikan setelah kau sembuh total." Ujar Akashi, mengecup cuping telinga Kuroko.
"Nnh.."
Akashi mulai, menggigit, mengecup, menjilat, mengisap leher Kuroko, tidak memperdulikan keenam orang lainnya, merasa tidak ada orang.
"Ngh.. Sei-kun.. jangan.. sekarang.. nnh.."
"Hn?"
"Ada.. ngh.. yang lain.. ah.."
"Ehem. Akashi, tolong perhatikan tempat." Ujar Midorima berdeham.
Akashi menoleh. "Kau tidak bisa memberitahuku apa yang harus kulakukan, Shintarou."
Midorima menggeleng. "Kau tidak berubah."
"Aku tidak, kami iya."
"Kami?" Midorima menaikkan sebelah alisnya.
"Kami, Aku dan Tetsuya tentu saja. Kami semakin mesra. Ya, kan, Tetsuya?" ujar Akashi mengecup pipi Tetsuya, Kuroko memerah.
Akashi tersenyum, kembali mencium kekasihnya berulang kali.
"O, Oi! Ini rumah sakit! Pergilah ke Love Hotel!" teriak Kagami kesal.
Pagi itu, rumah sakit diramaikan oleh kehadiran kelima pemuda itu serta Akashi di ruangan Kuroko.
Sungguh, Kuroko bersyukur. Semuanya menjadi lebih baik bagi dirinya, ia bisa bersama orang yang ia cintai.
Owari
Author's note: doumo, minna! Kuhaku balik =w= siapa yang udah nunggu fic ini? angkat kakii! #author dibuang. Oke, jadi.. author melanggar masa hiatus :v lagipula kemarin dapat pencerahan, jadi langsung aja diketik deh chapter terakhir. Gomen, minna.. fic ini ketunda beberapa bulan gomennnn... author belum dapat pencerahan. Terimakasih banyak juga buat semua readers yang menyempatkan diri membaca fic buatan author. Terimakasih juga atas semua support dari readers, jadi author bisa nyelesain fic ini /tebar bunga/ dan, akhir kata.. sampai jumpa di fic lainnya!
Thanks a lot for visiteur, YuuRein, Chio'No'Akuma, outofblue, Kurotori Rei, Dewi15, Ndong-chan, Antares Kuga, miss horvilshy, , , IchiTen-ku, siapaaja, kuro-sukii, Cloverren, songlee, Flow. L, hiroi mioshi, Hanamiya Makoto, VandQ, Kuroi Kanra, Bona Nano, NamikhraKyra, Ritsu Syalalalala, Yuna Seijuurou, p.w sasusaku, Nakako Akanakuro, Hotori Nana, Koru Kyoshiro yang telah review di chapter sebelum-sebelumnya ^-^ para followers, juga yang fav cerita ini, berkat kakak-kakak semua, fic ini bisa selesai. Terimakasih atas dukungannya, minna!
Arigatou gouzaimashita!
