Chapter 5 : Minato and The True of Team Zero
Kalian akan kami bentuk kedalam Tim Zero, dan besok kalian akan memulai tesnya" kali ini Danzo yang menjawab.
"Tim Zero? Apa itu? Aku belum pernah dengar" kali ini Lisa yang tadi diam mulai bicara.
"Kalian akan tahu besok, dan bersiaplah untuk tes besok..." kata Hiruzen. "Sampai jumpa" lanjutnya.
Dan ketiganya pun mengangguk sebagai tanda setuju. Kemudian Hiruzen dan Danzo menghilang dengan shunshin mereka. Setelah itu ketig siswa Akademi itu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju kerumah.
Minato and True of Team Zero
Terlihat seekor rubah berukuran raksasa sedang terlilit oleh rantai - rantai berpijar dari dalam tanah. Dihadapannya seorang wanita berambut merah mengendalikan rantai tersebut. Membuat pergerakan sang rubah terkekang, walaupun terus berontak, ia tak bisa berbuat apa - apa. Hanya mata merahnya menatap tajam wanita yang ada didepannya, ia mengaum melepaskan gelombang suara angin yang dapat menyingkirkan apapun yang didepannya namun itu tak berpengaruh pada sosok wanita dihadapannya. Seorang yang memiliki tekad dan cinta juga rasa untuk berkorban.
"Kyubi, aku tak ingin melakukan ini padamu, namun aku juga tak bisa membiarkanmu menghancurkan desaku" kata wanita tersebut dengan nafas berat.
Terlihat ia kini kelelahan karena tekanan kekuatan dari sang Kyubi yang begitu kuat membuat ia harus mengeluarkan cairan merah kental dari sudut bibirnya. Ia sadar bahwa waktunya tak lama lagi.
Membuat segel tangan yang rumit ia mencoba merapal teknik ninja yang ia miliki.
Funjutsu : Shiki Fuujin
Kini terlihat sosok astral memiki topeng mengerikan berada di balik punggungnya. Mencoba memasukan tangannya kedalam tubuh Kushina, dan sedetik kemudian ia menarik tangannya bersama chakra merah diikuti tubuh Kyubi yang mengecil.
Lalu datanglah seorang pria bersurai pirang datang bersama seorang bayi berambut hitam digendongannya.
"Minato, bagaimana keadaan Naruto, Menma dan Shizune?"tanya Kushina kepada Minato yang baru saja datang.
"Mereka baik saja dan aku membawa Menma agar dia menjadi Jinchuriki selanjutnya" kata Minato serius.
"Ap-apa maksud mu Minato, Shizune pasti marah jika kau melakukan hal itu" kata Kushina yang sebenarnya marah, namun ia tak bisa membentak Minato karena keadaannya sekarang.
"Aku akan menjadikannya Jinchuriki agar ia menjadi pahlawan bagi desa ini, dan untuk Shizune ia tidak marah" jawab Minato dengan serius.
'Jadi kau benar - benar tidak mencintaiku Minato dan kau melakukan ini agar anak Shizune menjadi pahlawan, bahkan kau tak memperdulikan keadaanku yang seperti ini' batin Kushina dengan miris.
"Baiklah sekarang aku akan menyegel setengah Kyubi kedalam tubuh Menma, tolong pertahankan rantaimu agar Kyubi tidak lepas" kata Minato kepada Kushina dengan serius dan di jawab anggukan oleh Kushina dengan senyum mirisnya.
Fuinjutsu : Hakke Fuin
Terciptalah altar dengan lilin dan bayi yg ada didalam keranjang dengan kanji rumit dan lingkaran diperutnya. Kemudian terhisaplah Kyubi yang terlilit rantai kedalam perut si bayi yang bernama Menma.
Seketika itu jatuhlah Kushina ke tanah karena kehabisan chakra. Minato pun mengampirinya bersama Menma yang ada di gendongannya.
"Bagaimana keadaanmu Kushina?" Tanya Minato.
"Seperti yang kau lihat, sebentar lagi aku akan mati" jawab Kushina dengan wajah lelah tak lupa dengan senyum getir dan darah yang ada di bibirnya. Ia memandang Minato dengan wajah sedih, begitupun Minato. Entah sebuah rasa aneh masuk ke dalam relung hatinya. Sebuah rasa yang ia tolak selama ini kepada wanita didepannya.
"Minato, aku punya permintaan kepada mu" kata Kushina.
"Permintaan apa Kushina?" Jawab Minato.
"Tolong jaga dan cintai Naruto seperti kau menjaga dan mencintai Menma dan Shizune, tolong rawat dia dengan kasih sayang...uhuk" perkataan Kushina terhenti karena darah yang ia keluarkan dari bibirnya .
"Tolong cintailah ia Minato, walaupun ia adalah anak dari kesalahan kita berdua dimasa lalu namun ia juga anakmu,darah dagingmu dan buah cinta kita, walaupun hubungan kita terjalin tanpa cinta darimu namun tolong cintai ia Minato...hiks...hiks...kumohon Minato, hanya itu yang kuminta darimu...tolong cintai ia dan jangan kau perlakukan ia seperti kau...memperlakukan ku" dan itulah kata - kata terakhir dari Kushina, sementara itu Minato hanya diam dengan raut wajah sedih, tak terasa air mata mengalir dipipinya.
"Aku akan melakukannya Kushina, dan maafkan aku" kata Minato dengan lirih.
Konoha, 06.00 AM
Minato POV
Aku terbangun dengan keringat dingin mengalir dari pori - pori tubuhku, terasa begitu sakit pada dadaku. Aku bertanya pada diriku kenapa ini terjadi padaku. Tapi aku sendiri sebenarnya sudah tahu apa yang menyebabkan aku seperti ini.
Mimpi itu, ya mimpi itu...sebuah mempi buruk yang sebenarnya tak ingin aku lihat. Sebuah mimpi yang mengingatkan aku tentang kejadian suram dimasa lalu. Kejadian ketika aku baru - baru saja menjadi Hokage. Kejadian yang membuatku harus kehilangan orang yang aku sayangi yaitu istri pertamaku, Kushina.
Aku dan Kuhina sebenarnya menikah karena sebuah kesalahan ketika aku mabuk dan menghamilinya. Tentunya hal itu tak pernah kami inginkan karena aku sudah bertunangan dengan anak Tsunade Senju yaitu Shizune Senju. Padahal sebentar lagi kami akan menikah dan tentu Shizune juga sedang mengandung anak ku. Akhirnya kami menikah secara diam - diam. Dan yang diketahui oleh penduduk adalah pernikahan ku dengan Shizune yang diadakan dengan meriah, sementara itu ketika dengan Kushina hanya beberapa orang yang tahu. Mengetahui hal itu (kehamilan Kushina karena aku) membuat Tsunade marah besar kerena ia menganggap bahwa Kushina ingin merebut ku dari Shizune karena mengingat dulu aku dan Kushina pernah menjalin hubungan khusus sebelum aku bertunangan dengan Shizune, karena aku lebih mencintai Shizune daripada Kushina.
Dan malam itupun tiba, ketika Kyubi lepas dari segel Kushina mengingat ia adalah Jinchuriki Kyubi. Saat itu juga datang seorang bertopeng yang mengaku sebagai Uchiha Madara dan aku berhadapan dengannya. Sementara Kushina mengahadapi Kyubi seorang diri, aku sebenarnya ingin menolongnya namun aku harus lebih dulu mengalahkan orang bertopeng tersebut. Dan memindahkan Shizune yang pingsan, anak Shizune (Menma) dan anak Kushina (Naruto) ke tempat yang lebih aman.
Ketika aku selesai menangani Uchiha Madara, kemudian aku menuju tempat Kushina bersama Menma, agar ia menjadi Jinchuriki selanjutnya dan menjadikan ia seorang pahlawan karena aku tahu jika Bijuu yang diambil dari Jinchurikinya, maka Jinchuriki tersebut pasti akan mati, untuk itu aku menjadikan Menma sebagai Jinchuriki.
Namun betapa kagetnya aku ketika sampai disana, karena yang kulihat bukan lagi rubah raksasa melainkan rubah seukuran harimau. Dan aku melihat juga dibelakang Kushina ada sosok dewa kematian yang sepertinya menarik sesuatu dari tubuh Kushina. Akhirnya aku tahu bahwa ia melakukan jurus itu. Sebuah teknik penyegelan yang mempertaruhkan nyawa si pengguna.
Akupun mendekatinya dan mengatakan bahwa aku akan menjadikan Menma sebagai Jinchuriki selanjutnya. Awalnya ia tidak setuju karena kasihan kepada Menma, namun aku bersikeras sehingga ia mengalah. Akupun menyiapkan altar pengorbanan untuk menarik Kyubi kedalam tubuh Menma, aku tahu bahwa Kyubi hanya setengah karena ukurannya mengecil.
Akhirnya aku berhasil menyegel Kyubi dan aku melihat keadaan Kushina. Sebuah rasa yang dulu aku miliki kepadanya muncul kembali, perasaan sayang dan cinta. Aku menghampirinya dan berusaha menolongnya walaupun tak bisa. Saat aku mendekat dengannya ia tersenyum, sebuah senyum kecut dan miris yang membuatku terasa sakit. Sebelum ia meninggal ia berpesan kepada ku agar aku menjaga Naruto dengan cinta dan merawatnya. Akupun mengangguk dan akhirnya iapun meninggal.
Kini sudah tiga belas tahun sejak saat itu dan sudah satu bulan aku selalu memimpikan malam itu. Akhirnya akupun sadar bahwa aku menelantarkan Naruto dan membuangnya, aku tak bisa menepati janjiku kepada Kushina.
Betapa bodohnya aku dulu, mendengarkan perkataan para tetua Konoha dan juga Tsunade yang tidak menyukai keberadaan Naruto dalam keluarga kami. Dan juga karena keadaan Naruto yang tak punya chakra membuatku malu dan memutuskan untuk membuangnya keluar desa, namun hal itu dilarang oleh Sandaime. Tapi tekadku tetap bulat, dan aku hanya akan menyayangi Menma karena menurut Jiraya-sensei, Menma adalah anak dalam ramalan. Akhirnya setelah perdebatan yang alot, aku tidak membuang Naruto keluar Konoha , namun aku tetap mengusirnya dari Mansion Namikaze dan Sandaimelah yang merawat Naruto selama ini, bukan aku.
Sebenarnya saat aku mengusir Naruto, Shizune melarangku karena aku tahu bahwa ia menyayangi Naruto seperti halnya ia menyayangi Menma. Namun karena aku yang telah gelap mata tetap saja membuangnya, membuang darah dagingku sendiri.
Jika aku diberi kesempatan, aku ingin mengulang waktu. Menjadi ayah yang baik bagi Naruto dan menjaga juga menyayanginya. Namun aku tahu, saat ini ia pasti sangat membenciku.
Minato POV end
Setelah merenungi kesalahannya dimasa lalu, Minato mandi dan berganti baju kemudian turuna untuk sarapan.
"Selamat pagi Minato-kun" sapa seorang wanita berambut hitam yang sedang menyiapkan makanan dimeja makan.
"Selamat pagi juga Shizune-chan, dimana Menma-kun, apa dia belum bangun lagi?" Jawab Minato sekaligus bertanya kepada istrinya.
"Menma nii-chan tadi buru - buru berangkat tou-san, katanya hari ini ia akan memukai ujian genin sampai - sampai ia lupa sarapan, untung tadi kaa-chan sudah menaruh bekal di tas Menma nii-chan" kali ini bukan Shizune yang menjawab, melainkan seorang anak kecil berambut merah maroon.
"Ah begitu ya...baiklah ayo kita sarapan" kata Minato yang mulai makan diikuti Shizune dan Mito.
Acara makan mereka diselingi dengan canda tawa dan wajah ceria, namun dibalik itu semua Minato sebenarnya sedang gusar. Akhirnya acara makan pun selesai diikuti Mito yang pergi ke Akademi.
Keheningan tercipta setelah Mito pergi. Shizune yang biasanya setelah sarapan langsung membersihkan sisa makanan dan noda dimeja kini hanya duduk diam menatap Minato. Semenatar Minato sendiri hanya mematung menerawang keatas.
"Ada apa denganmu Minato-kun?" Tanya Shizune penasaran.
"Hah...hari ini akan ada tes untuk tim Zero, tim genin elit Konoja" jawan Minato.
"Lalu kenapa? Apa ada yang salah dengan hal itu?" Tanya Shizune lagi.
"Naruto... Ia masuk tim Zero ..." perkataan Minato terhenti, ia mengambil nafas dalam untuk mengatakan semuanya.
"...Aku merasa bersalah telah membuangnya, satu bulan ini aku selalu bermimpi tentang penyerangan Kyibi dan orang bertopeng tempo dulu...dan sepertinya mimpi itu menegurku karena telah menelantarkan Naruto" kata Minato dengan wajah sedih.
"Yah itu memang kesalahan kita dulu, namun mau bagaimana lagi? Nasi telah menjadi bubur Minato-kun kita berharap saja bahwa Naruto bisa memaafkan kita" jawab Shizune berusaha menenangkan suaminya.
"Ya semoga saja" jawab Minato yang kemudian pergi menuju Kantor Hokage, tak lupa memberi salam kepada Shizune dan mengecup keningnya.
Skip Time : Hokage Room
Terlihat didalam ruangan Hokage terdapat tiga orang yang sedang berdiskusi membicarakan sesuatu hal yang serius, terlihat dari raut wajah mereka. Tiga orang itu adalah Yondaime Hokage, Sandaime Hokage dan Shimura Danzo.
"Apakah benar mereka layak untuk menjadi Tim Zero, Sandaime?" Tanya Minato kepada Hiruzen.
"Aku tidak pernah salah melihat potensi seseorang begitupun dengan Danzo, kami sangat yakin bahwa mereka sangat layak untuk menjadi Tim Zero" jawab Hiruzen.
"Kau tak usah meragukan mereka Minato, kalau kau tidak percaya kau bisa baca laporan ini..."kata Danzo sambil menyerahkan sebuah gulungan kepada Minato. "...informasi ini aku dapatkan dari orang kepercayaanku sekaligus mata - mata terbaik di divisi ku" lanjutnya.
Minatopun mengambil gulungan tersebut kemudian membacanya, membaca sebuah laporan yang tak bisa ia percaya. Dengan wajah serius ia terus membaca laporan tersebut, dan hampir membuat otak jeniusnya menjadi blank. Ia kemudian menutup gulungan tersebut dan menaruhnya diatas meja.
"Sulit di percaya kalau..." perkataannya terhenti tatkala sura pintu diketuk sampai ke indra pendengarannya.
Tok...tok...tok...
"Masuk" kata Sandaime saat mendengar pintu diketuk.
Tiga orang lebih tepatnya anak - anak berusia kira - kira tiga belas tahun masuk kedalam ruang Hokage. Yang pertama adalah anak berambut merah berantakan, kemudian seorang anak laki - laki berambut hitam pendek dan yang terakhir adalah anak perempuan berambut hitam dan berkacamata.
Hiruzen mempersilahkan mereka untuk duduk disofa berhadapan dengan ketiga orang pemenang posisi penting di Konoha. Sementara Minato hanya diam menunggu mereka datang namun pandangannya fokus pada seorang berambut merah yang ia buang dulu, yaitu Naruto.
Mereka duduk saling berhadapan. Hiruzen menginterupsi agar Minato dan Danzo untuk diam terlebih dahulu karena ia ingin menyampaikan sesuatu yang sepertinya sangat penting kepada ketiga anak dihadapan mereka.
"Kalian tahu kenapa kalian dipanggil kesini?" Tanya Hiruzen yang dijawab anggukan kompak oleh ketiga anak dihapannya.
"Kita akan mulai tesnya, namun sebelum itu-" perkataan Hiruzen terhenti saat Naruto memotongnya.
"Ayolah jiji, aku sudah tidak sabar memulai tesnya" kata Naruto malas.
"Setidaknya biarkan Sandaime-sama menyelesaikan perkataannya baka" kata Lisa dengan wajah datar dan hanya melirik Naruto saja.
"Sudahlah jangan ribut, kasihan Sandaime-sama kalau kalian ribut" kini Sai berbicara menasehati kedua rekannya tersebut, tak lupa dengan senyum palsu tersungging dibibirnya.
"Ehem...baiklah akan aku lanjutkan..." Hiruzen berdehem sekaligus melanjutkan kata - katanya yang tadi dipotong oleh Naruto.
"...Akan aku ceritakan sedikit tentan Tim Zero atau Tim 0" kata Hiruzen serius.
"Tim Zero sebenarnya adalah tim genin khusus yang di bentuk dari sekumpulan atau satu orang genin, dari generasi pertama yang dibentuk oleh Shodaime-sama yaitu Senju Yamamoto dan Uchiha Utake, kemudian ada Sousuke Aizen lalu Benzi Zakura setelah itu terjadi kekosongan di Tim Zero karena dianggap bahwa tidak ada tim yang spesial yang mampu memback up tim lain dan melakukan misi ekstrim dengan status genin, bisa dianggap bahwa kemampuan para genin selanjutnya rata - rata, tak ada yang menonjol..." Hiruzen mengambil jeda.
"...namun setelah perang dunia Shinobi ketiga terdapat bibit unggul yang menjadi Tim Zero, dan tim itu terdiri dari Uchiha Shisui dan Uchiha Itachi, namun tim itu tidak bertahan lama karena mereka memilih untuk menjadi ANBU..." Hiruzen berhenti menatap ketiga bicah didepannya, ia terkejut sekaligus sweatdrop saat melihat kelakuan bocah - bocah didepannya. Lihat saja Naruto malah memasang wajah malas sambil menguap, Lisa yang hanya memasang wajah datar dan Sai yang senyumnya seperti orang gila.
Hiruzen membuang nafas lelah kemudian meneruskan perkataannya. "Untuk itu aku aku akan membentuk kalian menjadi Tim Zero selanjutnya agar kalian bisa memback up tim genin lain dalam misi yang berbahaya dan kami juga sudah tahu kemampuan kalian jadi kalian tidak boleh protes".
"Maaah, baiklah aku sudah mendengar semuanya dan aku juga setuju begitupun dua bocah disampingku, jadi kapan tesnya? Aku tidak sabar" kata Naruto menyeringai.
"Baiklah, kita akan menuju tempat tesnya diadakan" balas Hiruzen.
Kemudian mereka semua berdiri dan meninggalkan ruangan untuk menunu tempat ujian yang akan dilakukan calon anggota tim Zero.
Skip Time : Exam Place
Mereka semua kini sudah sampai didepan sebuah training ground yang luas yang berada dibawah kantor Hokage. Bisa dilihat disana bahwa mereka telah ditunggu olah satu batalion ANBU Konoha. Bisa dilihat bahwa calon anggota Tim Zero terlihat biasa saja seakan pemandangan didepan mereka sudah biasa dilihat.
"Kalian akan melawan satu batalion ANBU ini dan merebut dua kartu emas yang ada dibalik topeng mereka, dan diantara mereka terdapat nuga satu kartu hitam. Dimana siapa yang akan mendapatkan kartu hitam tidak boleh mengikuti ujian genin selamanya dan yang mendapatkan kartu emas akan masuk kedalam Tim Zero, untuk itu kalian akan berebut dua kartu tersebut untuk menjadi Tim Zero dan dengan otomatis kalian harus menghancurkan atau merebut topeng ANBU yang mereka kenakan untuk mengetahui dimana kartu - kartu tesebut dan siapapun yang mendapatkan kartu hitam ia akan memperoleh hukuman yang aku katakan tadi, kalian tidak bisa mundur sekarang jadi kalian tidak punya pilihan lain selain mengikuti tes ini, apa kalian paham" kata Hiruszen kepada tiga bocah didepannya dan dijawab anggukan oleh mereka bertiga yang membuat Hiruzen tersenyum karena merasa mereka sudah tahu apa maksud ujian ini.
Kini Hiruzen, Minato dan Danzo melakukan shunsin kebalkon yang ada di samping ataa training ground tersebut meninggalkan Naruto, Lisa dan Sai yang kini berhadapan dengan satu batalion ANBU tersebut.
In Academy Place
Sementara di Akademi kini terlihat bahwa para murid akan melakukan tes kelulusan mereka untuk menjadi Genin. Mereka harus, melempar Shuriken, dan Kunai, melakukan Bunshin no jutsu, Kawarimi, Henge dan juga salah satu jurus yang mereka kuasai. Dengan juri Umino Iruka dan beberapa guru Akademi Ninja.
"Baiklah sekarang giliran pertama, Namikaze Menma" kata Iruka memanggil Menma untuk maju.
Menma kemudian maju dan melakukan segala macam yang harus dilakukan untuk lulus Ujian Genin tersebut. Setelah selesai giliran Menma kemudian Sasuke dan dilanjutkan dengan seluruh peserta ujian Genin. (Oke...aku malas untuk menulis bagaiman ujian genin berlangsung karena para reader udah bisa bayangin sendiri dengan kemampuan menma dan sasuke tentu mereka menjadi yg nomor satu, begitupun dengan yang lain). Namun dari banyaknya siswa yang mengikuti ujian Genin ada beberapa yang menyadari bahwa tiga orang siswa Akademi tidak ikut ujian. Namun kebanyakan tidak menyadari dan tidak peduli bahkan ada yang mengolok - olok tiga siswa yang saat ini tidak terlihat.
Back to Naruto and other Places
Kini terlihat deru nafas para ANBU dan calon anggota tim Zero menghiasi training ground bawah tanah Kantor Hokage. Terlihat dari mereka sudah banyak yang pingsan dan hanya menyisakan lima ANBU yang masih berdiri lengakp dengan topeng mereka. Sampai saat ini juga calaon anggota tim Zero belum juga mendapatkan kartu Emas ataupun kartu Hitam.
"Hmmmm...rupanya kalian hebat juga, mampu menghindari kombinasi serangan dari kami bertiga, walaupun kedua teman ku ini sudah ngos - ngosan" kata Naruto dengan wajah agak letih namun tetap tegak berdiri. Sementara disampingnya berdiri Sai dan Lisa yang agak ngos - ngosan.
"Hah...hah...hah... ini karena kau yang menyuruh kami untuk tidak langsung menyerang lima ANBU itu...hah... dan malah menyuruh kami untuk bersenang - senang...hah" kata Lisa dengan wajah lelah.
"Bagimu yang memliki stamina lebih besar itu tak masalah Naruto-san, tapi itu menjadi masalah untuk kami" kata Sai dengan wajah meringis menahan sakit ditangan kirinya.
"Emmm...iya - iya ini salahku, dan bagaimana kalau sebagai permintaan maaf aku yang akan mengalahkan mereka, bagaimana? Kata Naryto sambil melirik kedua rekannya.
"Terserah" kata Lisa dan disuusl anggukan oleh Sai. Kemudian mereka duduk di tempat mereka berdiri tadi.
"Baiklah, kini aku sendiri yang akan menghadapi kalian" kata Naruto sambil mengacungkan tanto yang tadi ia rebut dari salah satu ANBU saat pertempuran. Ia tersenyum menyeringai melihat kegugupan dari lima ANBU didepannya dan wusssssh... Ia menghilang.
Muncul dibelakang ANBU bertopeng harimau (tora) kemudian mengayunkan pedangnya dengan energi angin menyelimutinya namun masih bisa ditahan oleh tora menggunakan tantonya.
Trang...kraaaak
Namun tanto milik tora harus retak dan hancur saat bersentuhan dengan tanto Naruto. Torapun menjaga jarak dengan melompat kebelakang dan dari samping Naruto muncul bola api besar dari kirinya dan dari sebelah kanannya muncul bebatuan sedang yang siap melumat dan membakarnya.
BLAR
Kedua jutsu itu saling beradu namun tak dapat melukai Naruto karena ia melompat keatas sebelum kedua jutsu itu mengenainya, namun naas bagi Naruto karena diatasnya kini ada ANBU lain bertopeng kucing (Neko) yang siap mengeluarkan Jutsunya.
Katon : Endan
Jutsu api tersebut melesat menuju Naruto yang masih berada diudara. Namun dengan sigap ia menghalaunya dengan tangan seperti menyapu sesuatu, dan dari sapuan tangannya muncul angin yang langsung menghilangkan api tersebut.
Tap
Naruto kini mendarat dengan mulus namun sederik kemudian ia menghilang dengan tanah yang retak dsn muncul didepan ANBU Neko dengan tangan yang sudah menjadi hitam pekat untuk memukul topeng Neko, Neko yang tidak siap hanya membelalakan matanya sebelum suara ropeng hancur terdengar dan rasa sakit diwajah ia rasakan.
Tap...
Naruto mendarat memandang dengan tampang bosannya kepda empat ANBU didepannya. Satu kartu emas ia dapatkan dari Neko.
Wussshhhhh
Ia kembali menghilang dan kini sudah berada di depan ANBU monyet (Saru). Dengan gerakan yang sulit dibaca dan aneh ia terus memukul dan menendang ANBU Saru menggunakan Kecepatan dan Hakinya. Tak butuh waktu lama, Saru kini tak bisa bangkit lagi.
Ia memandang tiga ANBU didepannya sejenak. "Aku sudah bosan main - main, saatnya serius" dan dengan selesainya kata - kata Naruto tersebut ia menghilang.
Skip : 15 Minutes Later
Kini kita lihat tiga ANBU tanpa topeng mereka sedang tak sadarkan diri didepan anak kecil berumur tiga belas tahun, berambut merah yang sedang memandang tiga kartu ditangannya, dua kartu emas dan satu kartu hitam.
"Tes sudah berakhir, jadi kami yang menang kan?" Tanya Naruto sambil melihat le atas tempat Hiruzen dkk berada.
Wush
Hiruzen, Minato dan Danzo kini berada di depan Naruto yang kini bersama Sai dan Lisa yang baru saja beranjak dari istirahat mereka.
"Tes memang sudah berakhir, namun hanya Naruto saja yang ber-" perkataan Hiruzen terhenti saat Naruto memotongnya terlebih dahulu.
"Jangan bodohi kami Jii-san, kami tahu apa arti dari semua tes ini jadi..." Naruto mengentikan perkataannya dan menganggkat letiga kartu disepannya kemudian dengan satu jari ia melapisi dengan anginnya dan memotong ketiga kartu tersebut. "...kami tak butuh kartu ini karena yang terpenting adalah kekompakan, rasa percaya dan ikatan yang kami miliki" Naruto meneruskan perkataannya.
Hiruzen tersenyum mengetahui bahwa ia tidak salah pilih sementara Minato terlihat kaget dan Danzo? Ia tetap tenang seperti biasa.
"Besok kalian berkumpullah di training ground 0 di sebelah selatan Shi no Mori, besok kalian akan bertemu Jounin pembimbing kalian. Karena walaupun kalian tim elit, kalian tetaplah masih genin" kata Hiruzen yang dijawab anggukan oleh ketiga anggota tim Zero.
"Sekarang kalian boleh bubar" kata Hiruzen lagi dan tim Zero pun meninggalkan tempat tes mereka.
"Kau lihat kan Minato betapa hebatnya mereka, sudah ku bilang kan bahwa aku dan Danzo tidak salah pilih...hahahaha" kata Hiruzen kepada Minato yang kini hanya melihat bekas tempat tes tim Zero diadakan.
"Ya anda benar Sandaime, terutama Naruto, dia sangat mengagumkan" balas Minato dengan senyum kecut.
"Aku tahu perasaanmu Minato, suatu saat Naruto pasti akan memaafkanmu" Kata Danzo menenangkan Minato. Danzo tahu bahwa kini Minato telah berubah, hanya melihat dari ekspresi dan tatapan matanya saja ia sudah tahu, pengalaman menjadi Ninja berpuluh - puluh tahun memberikannya banyak pelajaran, salah satunya adalah mengetahui bagaimana diri seseorang hanya melalui tatapan mata dan ekspresi.
"Ya semoga saja begitu" jawab Minato masih dengan ekspresi sedih.
TBC
Akhirnya selesai juga nih fic.
Thanks Bwt yg follow, Favorit fan Review.
Jujr ja nih aku mnta maaf krn gak bisa update cpt...
Dan yg review udh aku bls lwt PM.
Don't Forget : REVIEW MINNA
