Disclaimer: Ryohgo Narita (the writer of original story) and studio Shuka
This story's plot is originally mine, but all characters are not.
Warning : Sho-ai/Yaoi (i'm not sure if there will be sexual content in the future)
Please enjoy...
CHAPTER 2
Setelah acara pewarisan selesai, Shizuo langsung beristirahat di kamarnya. Acara seperti itu bukan berarti ia langsung akan mewarisi posisi ayahnya yang saat ini merupakan pemimpin keluarga Heiwajima. Dirinya saat ini baru saja berusia 17 tahun.
Keluarga Heiwajima merupakan salah satu keluarga terpandang di Ikebukuro dan anggota tetap dewan kota yang terdiri dari lima keluarga.
Shizuo melepas jas hitam yang dipakainya dan menggantinya dengan yukata. Dirinya lebih memilih pakaian yang ringan dan simpel seperti yukata untuk dipakai sehari-hari. Tapi, karena Tom selalu ribut untuk menyuruhnya memakai kemeja ketika diluar rumah, ia tidak punya pilihan lain selain menurut.
Kemudian ia menggeser shoji, pintu yang menghubungkan kamarnya dengan sebuah halaman dengan kolam ikan kecil. Ia kemudian duduk di patio depan kamarnya itu. Ia mengeluarkan pipa cerutu dan mulai membakarnya. Lalu menghisap pelan pipa tersebut. Ia hanya bisa menikmati kegiatan itu hanya di tempat sepi, terutama tidak di depan Tom. Yang pasti dirinya akan mendengar ceramah panjang-lebar dan pipa cerutunya akan disita. Saya melarang anda merokok sampai anda berumur 20 kata Tom dahulu saat ia menanyakan tentang cerutu.
Shizuo menghembuskan asap putih dari mulutnya. Ia kembali teringat kejadian di Shōfu. Lalu ia memandang tangan kanannya.
Aku belum pernah melihat mata seperti itu. Aneh sekali pikirnya sambil membayangkan kembali wajah laki-laki tersebut. Siapa dia?
"Izaya, sedang apa kau disana?" tanya seorang perempuan beryukata biru sambil mendekati laki-laki yang sedang berjongkok di pinggiran kolam besar yang ada di halaman tersebut.
Yang dipanggil menoleh perlahan, memperlihatkan mata dengan iris merah. "Tidak ada." Jawab Izaya.
"Hhh, kalau begitu pergilah bantu Haruna-chan. Dia sedang kewalahan menerima pengunjung di depan." Kata Namie. Saat dirinya akan berbalik, tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh, tadi Shiki-san memberikan pesan kepadamu, katanya malam ini ada pemeriksaan."
Izaya menegang begitu mendengar kata 'pemeriksaan'. Ia tidak suka.
"Baiklah." Jawab Izaya sambil berlalu.
"Irasshaimase, okyakusama." Sapa seorang gadis berambut coklat panjang sepinggang.
Sang tamu hanya mengangguk kecil dan ia diarahkan menuju tempat duduk yang ada dipojok ruangan tersebut.
"Hari ini saya, Haruna akan menemani anda, tuan." Ucap gadis tersebut. "Anda ingin minum sake atau..."
"Ocha." Jawab sang tamu dengan cepat.
Saat Haruna sedang menuang teh ke cangkir tamu di depannya, Izaya menghampiri perlahan tanpa memperhatikan tamu yang sedang dilayani gadis tersebut.
"Haruna-san, sepertinya disini kekurangan orang. Ada yang bisa saya ban...tu...?" Ah, dia!
Izaya terkejut setelah ia melihat betul tamu itu. Tapi, tidak hanya Izaya, tamu tersebut juga sama terkejut setelah melihat kedatangan Izaya. "Kau yang kemarin!" Seru tamu tersebut.
Entah kenapa Izaya merasa dalam masalah ketika bertemu kembali dengan tamu yang tak lain adalah Shizuo.
"Tak kusangka akan bertemu lagi." Ujar Shizuo sambil berdiri mendekati Izaya. "Kau...pelanggan disini?"
Izaya berjalan mundur selangkah menjauhi Shizuo yang jaraknya terlalu dekat. "Tidak, saya bekerja disini."
"Eh, aku baru tahu di tempat ini juga memperkerjakan laki-laki." Kata Shizuo.
"Dia hanya membantu sebagai petugas bersih-bersih di tempat ini, tuan." Jelas Haruna yang sedari tadi memperhatikan dua pemuda tersebut.
"Ooh." Shizuo hanya manggut-manggut. "Siapa namamu?" Tanya Shizuo pada Izaya.
Izaya menunjuk dirinya dengan muka heran, maksudnya memastikan bahwa yang ditanya bukan dirinya.
"Iya, kamu." Jawab Shizuo atas pertanyaan isyarat Izaya.
"Ori—" Izaya terdiam sebentar menyadari sesuatu, "Izaya!" sambungnya dengan cepat.
"Ori Izaya?" Tanya Shizuo.
"Tidak, hanya Izaya." Jawab pemuda dengan iris mata merah tersebut.
Shizuo tiba-tiba mengambil sebelah tangan Izaya dan berkata, "kalau begitu Izaya, hari ini kau yang menemaniku!"
"Ha?"
"Maaf, Haruna-san, tapi hari ini aku ingin dia yang menemaniku." Ucap Shizuo.
Haruna terlihat berpikir sebentar. "Dia hanya pekerja sambilan disini, jadi dia hanya bisa menemani anda disini saja, tuan."
"Baiklah, tentu saja." Balas Shizuo bersemangat. Sementara Izaya hanya bisa melongo dan pasrah saat dirinya ditarik untuk duduk bersama sang tamu. Pemuda berkulit putih sedikit pucat tersebut hanya bisa melirik Haruna, teman kerjanya itu pergi menyambut pengunjung lainnya.
"Jadi, Izaya..." kata Shizuo membuka percakapan. "Apa kau baru bekerja disini?"
"Tidak, saya sudah lama bekerja disini." Jawab Izaya.
"Benarkah? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya selain kemarin."
"Karena saya jarang sekali berada di bagian depan rumah saat ada pengunjung."
Shizuo menatap wajah Izaya dengan seksama sejak percakapan dimulai. Dirinya sangat mengagumi warna iris kedua mata pemuda di hadapannya. Tapi sebaliknya Izaya merasa tidak nyaman dipandangi terus menerus oleh Shizuo. Ia merasa seperti seseorang berusaha membuka dirinya dan melihat ke dalam pikirannya. Sehingga ia hanya bisa menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya pada cangkir teh di sebelah kirinya.
"Aku baru kali ini melihat orang sepertimu." Ujar Shizuo. "Maksudku, aku tidak pernah melihat orang dengan mata merah sepertimu."
Izaya tersentak. Entah kenapa rasa khawatir menyusup perlahan ke dalam dirinya. "Ha ha, apa aku aneh?" Izaya berusaha untuk terdengar tenang.
"Jangan salah paham," balas Shizuo. Jari-jari tangan kanan Shizuo menyentuh lembut dagu laki-laki yang bertubuh lebih kecil darinya. Pemuda berambut cokelat keemasan itu mengangkat perlahan wajah Izaya sehingga keduanya saling bertatapan. "Aku menyukai warna matamu. Indah seperti permata."
Izaya hanya tertegun mendengar kata-kata tersebut. Belum pernah ia mendengar pujian dari orang yang pernah bertemu dengannya. Kedua kelopak yang menutupi setengah iris merah itu perlahan membuka lebar. Sementara, Shizuo tersenyum melihat hal tersebut. "Kawaī."
"O—ore wa kawaī janai!" seru Izaya sambil mengibaskan tangan Shizuo yang berada di wajahnya yang memerah karena komentar tersebut.
"Ah, gomen. Aku tidak bermaksud menyinggungmu." Ucap Shizuo menyadari perbuatannya, pipinya sedikit bersemu merah. Ia tidak sadar melontarkan kata seperti itu. Sebenarnya ia hanya ingin memuji.
Suasana menjadi agak canggung. Keduanya berusaha mengalihkan masing-masing pandangan pada gelas tanah liat berisi teh di atas meja di hadapan mereka.
"Ano, kalau tidak menganggu waktumu, aku ingin lebih banyak berbicara denganmu." Kata Shizuo.
"Um, tentu saja. Silahkan."
"Tidak disini," ucap Shizuo lagi, "Aku ingin berbicara sambil berjalan di luar."
Izaya tampak berpikir sebentar. Ia ragu kenapa laki-laki yang baru saja ia kenal mengajaknya pergi dan apakah Shiki-san memberikannya izin dan dirinya juga merasa canggung karena ia hampir tidak pernah keluar dan belum pernah pergi ke luar dari rumah tersebut bersama dengan orang lain kecuali bersama Namie atau Shiki-san. Namun, ada terselip perasaan senang di hatinya karena dapat berjalan-jalan keluar.
Lagipula, Shiki-san tidak akan mengizinkan kalau aku keluar dengan orang yang tidak dikenalnya batin Izaya.
"Bagaimana?" tanya Shizuo menyadarkan Izaya dari pikirannya.
"Saya...tidak tahu apakah Shiki-san mengizinkan." Jawabnya pelan.
"Aku akan coba menanyakannya." Ucap Shizuo sambil berdiri. Ia berjalan menuju Shiki-san, pria pemilik tempat itu, yang sedang duduk bersama beberapa perempuan dan pria paruh baya yang merupakan pengunjung tempat tersebut.
"Suimasen, Shiki-san." sapa Shizuo.
"Ooh, kau Shizuo! Ada apa?" tanya Shiki.
"Aku ingin mengajak Izaya berjalan-jalan sebentar. Apakah aku boleh membawanya keluar?"
Shiki diam sambil menyeruput sake dari cangkir kecil di tangannya. Matanya kemudian mengarah ke tempat Izaya yang ada di seberang depan. Ketika pemuda bermata merah tersebut menyadari bahwa Shiki sedang menatapnya, ia buru-buru menundukkan kepalanya.
"Hoo, aku tidak menyangka tuan muda Heiwajima tertarik pada laki-laki. Dia disini bukan untuk hal itu, Shizuo." Kata Shiki memandang kembali Shizuo.
Shizuo sedikit terkejut mendengar ucapan Shiki tapi ia tidak tersinggung, dirinya cukup mengenal karakter salah satu orang penting di kelompok Awakusu itu.
"Tenang saja. Aku hanya mengajaknya keluar sebentar." Balas Shizuo sambil tersenyum simpul.
Shiki hanya mengangguk kecil dan kembali berbicara dengan para tamunya. Lalu, Shizuo kembali ke tempat Izaya dan mengajaknya berdiri.
"Baiklah, Shiki-san sudah mengizinkan." Kata Shizuo sambil memegangi pergelangan tangan Izaya kemudian mengajaknya keluar.
"Chotto— anata!"
_To be Continued_
Author's note:
Konbawa minna!
Long time no see (?) #grinning innocently
I'm sorry for such an it's-been-forever update meaning slow update :(
So, please bear with me and give me support by...
Reviews, please! ^,^
